[Oneshot] You Can

You Can

Fukube Sanata

Yamada Ryosuke

By: Shield Via Yoichi

 Didedikasikan untuk ultah Clara. Happy birthday, Clara!

Happy reading. 🙂

Yamada menggigit bibir bawahnya, ia masih ingat dengan jelas apa yang ibunya ucapkan kemarin.

 

“Ryo, ibu mau bicara padamu.” ucap ibunya saat satu-satunya anak lelakinya baru saja masuk ke rumah. Bahkan baru satu kakinya yang menginjak lantai rumah dan sebelahnya masih bertengger di luar.

Yamada memiringkan kepalanya heran sambil menatap ibunya, namun ibunya tidak memberi penjelasan apa-apa dan memilih meninggalkan pemilik nama Ryosuke itu. Yamada semakin bingung, ia bergerak cepat masuk ke rumah, membuka sepatunya dan menyimpannya di rak. Lalu segera menghampiri ibunya.

Di ruang tamu, ada ibu dan juga ayah beserta kakak perempuannya—dan suaminya— dan adik perempuannya. Yamada menaikkan alisnya.

“Ada apa ini?” tanyanya.

“Duduk dulu.” kata ayahnya tanpa menjawab rasa penasaran anaknya itu.

Yamada menurut, ia duduk di depan keluarganya. Masih memasang wajah bingungnya.

“Begini,” ibu membuat jeda yang agak lama karena ia melirik anggota keluarga lainnya, seakan-akan meminta jawaban yang pasti karena semuanya mengangguk padanya.

“Ibu akan menjodohkanmu dengan anak gadis dari kenalan ayah.” lanjutnya.

Mata Yamada membesar, “Hah? Kenapa tiba-tiba begini?”

“Ibu lihat kamu terus saja membawa teman laki-laki. Ibu takut anak laki-laki ibu satu-satunya menyimpang.” Ibu menutup wajahnya dengan tangan lalu bersandar pada bahu ayahnya.

“Tapi, bu… Bukan begitu–”

“Ibu tidak mau tahu. Perjodohkan akan tetap dilaksanakan.”

Yamada terdiam di tempat. Ia melihat kakak dan adiknya yang sama sekali tidak membelanya.

 

***

“Oi. Jangan melamun!”

Yamada tersentak saat temannya berteriak di telinganya, “Heh, Daichan. Itu sakit!” Yamada memegang telinganya yang berdengung sesaat.

Orang itu hanya tertawa, lalu mengambil posisi duduk di sebelah pria itu, “Jadi, ada apa?”

Yamada menghela napas, “Orang-orang di rumahku berpikir kalau aku ini homoseksual hanya karena selalu membawamu dan Chinen ke rumah.”

Daiki—Arioka, teman satu grupnya— yang mendengar itu, tertawa dengan keras. Orang yang ditertawakan hanya berwajah masam.

“Berhenti tertawa!”

“Ahahahaha.. Habis, orangtuamu kok lucu sekali! Ahahahaha…” Daiki memegang perutnya yang mulai terasa sakit.

“Mau bagaimana lagi, aku kan satu-satunya anak lelaki di rumah. Lagian, kita kan sering membicarakan si dia.” jelas Yamada, dia memberikan sebuah penekanan pada kata dia di kalimatnya. Senyum malu terlukis sedikit di wajahnya.

Daiki mengangguk, “Miharu-san itu kan? Yang salah satu staff majalah yang sering meng-interview kita itu?”

“Kenapa kau seenaknya memanggil namanya?” Yamada mengangkat alisnya tidak suka.

“Ya, mau memanggilnya bagaimana? Kau tahu kan, marga Sato di dunia ini banyak sekali. Sama seperti margamu itu.”

Yamada pun akhirnya mengangguk setuju. Hening sesaat, Daiki menopang kepalanya dengan tangan, memandangi wajah tampan Yamada.

Yamada yang mulai risih di pandangi memalingkan wajahnya, “A-apa?”

“Hm.. Kau bilang, kau akan dijodohkan.” Yamada mengangguk, “Bagaimana calon istrimu? Apa dia cantik?”

Maa ne.. Aku pun tidak tahu.”

Daiki mengangkat alisnya heran, “Melihat fotonya juga belum?” Yamada menggeleng, “Kalau nama? Pasti tahu dong.”

“Itu juga tidak tahu.” kata Yamada polos. Daiki masih menatap Yamada tidak percaya.

“Wah, aku jadi penasaran.”

Yamada melirik Daiki, “Kenapa jadi kau yang penasaran?”

Daiki hanya tertawa menjawab Yamada.

 

***

 

Yamada merapikan dasinya, melihat pantulan dirinya yang memakai jas. Ini hal biasa dia memakai setelan seperti itu, efek dari pekerjaannya sebagai idola.

“Wah, anak ibu sudah terlihat tampan.” Yamada mengalihkan pandangannya dari cermin menuju pintu dimana kepala ibunya sedang melongok di sana. Yamada tersenyum.

“Ibu..”

“Hm?”

“Bagaimana wajah tunanganku?” tanyanya. Sejak hari pertemuannya dengan Daiki, ia jadi penasaran dengan wajah tunangannya.

Ibunya tersenyum, “Dia cantik, kau pasti suka. Tenang saja.”

Yamada pun lebih memilih untuk menahan rasa penasarannya. Toh, sebentar lagi ia akan melihat gadis itu dan berkenalan dengannya. Walau ia ragu kalau ia akan langsung menyukainya.

 

***

 

Yamada dan keluarga melangkah masuk menuju sebuah restoran mewah bernuansa Eropa. Ayahnya segera mendekati resepsionis, berbincang sedikit lalu memberi aba-aba pada Yamada dan ibunya untuk ikut dengannya.

Selama berjalan sampai tiba di ruangan VIP restoran itu, Yamada Ryosuke hanya diam dan mengamati sekitarnya. Gugup? Sepertinya tidak. Namun, ia tidak tahu harus berbicara apa di saat seperti ini.

Duduk di sebelah ibunya yang sedang melirik jam tangan. Tiba-tiba ibunya menatapnya dengan wajah tersenyum. Kepala Yamada bergerak mundur sedikit.

“Kita datang terlalu cepat, bersabarlah sebentar lagi.”

Alis Yamada sedikit berkerut, namun ia mengangguk pada ibunya.

Benar yang dikatakan ibunya, tak lama sebuah keluarga masuk ke dalam. Seorang gadis dengan setelan kimono menarik perhatian keluarga Yamada. Ia berjalan dengan penuh senyum, membuat Yamada tidak melepaskan pandangannya.

Yamada pikir wajar dia seperti itu, semua pria pasti akan terpesona melihat gadis cantik ada di hadapannya.

“Ah, lama tak terlihat Sanata-chan sudah besar dan semakin cantik.” ucap ibu Yamada tersenyum manis.

Gadis bernama Sanata itu tersenyum malu, “Bibi bisa saja.”

Anak tunggal dari keluarga Fukube itu baru saja lulus SMA di sebuah sekolah asrama, itu yang membuatnya jarang terlihat. Ya, mungkin kalau dia bersekolah di sekolah biasa, ia akan sering berkunjung ke rumah Yamada—karena Yamada ingat orangtuanya sering datang ke rumahnya.

Selama yang lain berbincang-bincang, Yamada lebih memilih diam dan tersenyum jika merasa namanya disebut. Bukan hanya karena Yamada seorang yang sulit berbaur dengan orang baru, tapi dia juga merasa gugup. Bahkan ini lebih gugup daripada saat diwawancarai untuk majalah.

Matanya sesekali melihat Sanata yang sudah akrab dengan orangtua Yamada, seulas senyum tercipta di wajahnya. Namun dia segera sadar dan kembali berwajah normal. Tidak, seorang Yamada Ryosuke tidak mungkin jatuh cinta pada pandangan pertama. Lagi pula, seluruh hatinya sudah diisi oleh Miharu.

 

***

 

Para orangtua sudah meninggalkan tempat itu, yang tersisa hanya Yamada dan Sanata. Canggung, tidak ada yang bersuara. Hanya sedikit curi-curi pandang.

Ne… err..” ucap Sanata menggantungkan ucapannya. Yamada tahu kalau gadis itu sedang bingung untuk menyebut namanya.

“Kau bisa memanggilku dengan namaku.”

Sanata mengangguk, “Ryosuke-san, kenapa kau tidak menolak perjodohan ini?”

“Eh?” Yamada mengangkat alisnya, bingung. Kenapa gadis yang baru saja dia temui ini bisa tahu?

“Aku dengar kau tidak mau dijodohkan denganku.”

Yamada berpikir sejenak, mencari sebuah alasan agar tidak melukai hati Sanata. Namun ia menyerah karena alasan yang tepat tidak terlintas di otaknya, “Aku tidak bisa membantah ibuku.”

Hanya itu. Baiklah, Yamada sekarang terlihat seperti seorang ‘anak mami’. Semoga ini tidak membuat Sanata membencinya. Tunggu, apa peduli Yamada kalau Sanata sampai membencinya? Bukankah itu bagus?

Sanata tertawa kecil mendengar jawaban Yamada, Yamada semakin bingung. Mata Yamada dan Sanata beradu, membuat Sanata berdeham agar ketawanya terhenti.

“Kau orang yang mencintai ibumu ya. Ya, tidak begitu berbeda dengan yang ada di majalah.” Sanata tersenyum lembut.

“Majalah?” tanya Yamada semakin heran.

Sanata mengangguk semangat, “Iya, majalah. Aku selalu melihatmu di majalah-majalah dan membaca semua artikel yang bersangkutan denganmu.”

Mata Yamada membesar, tidak percaya. Apa Sanata seorang penggemarnya?

“Hm… Apa kau—”

“Kalau kau bertanya apa aku ini fans-mu, aku tidak akan menjawab sekarang.” potong Sanata. Yamada tercekat, sementara Sanata tersenyum licik.

 

***

 

“Ibu, tidak bisakah perjodohan ini dibatalkan?” tanya Yamada penuh harap.

Ibunya hanya melirik anak laki-lakinya dengan ekor matanya dan kembali membaca majalah yang ada di tangannya.

“Ibu..”

“Apa yang membuatmu ingin membatalkannya? Apa Sanata kurang cantik?” Yamada menggeleng, “Ya, kalau begitu tidak bisa dibatalkan.”

Yamada berdecak kesal, “Bagaimana bisa aku akan menikah dengan yang tidak aku kenal, bu?”

“Kan pernikahannya masih lama, masih ada waktu untuk saling mengenal, Ryosuke.”

Yamada diam, ia menghela napas. Memang dia tidak jago berdebat dengan ibunya.

 

***

 

Hari ini latihan sudah selesai. Yamada habis-habisan ditegur oleh pelatih karena gerakannya selalu melewati tempo yang telah ditentukan. Berkali-kali harus meminta maaf pada member lain dan berulang kali ia coba sendiri. Semua tampak khawatir padanya, namun tidak ada yang berani mendekat karena di sekeliling Yamada terasa aura yang tidak mengenakkan.

Yamada lebih memilih untuk tidak banyak bicara dan segera meninggalkan ruang latihan, “Otsukare.”

Ia melangkah pergi dengan dihujani oleh banyak mata penasaran. Tapi ia tak peduli.

Baru saja ia sampai di lantai dasar, handphone-nya berdering. Ada semua email.

 

From: Fukube Sanata

Subject: konbanwa

Otsukare~ sudah selesai latihan kan? Masih di gedung agensi? Mau aku jemput?

 

Alis Yamada sedikit berkedut. Gadis yang dijodohkan dengannya sudah menjalankan aksinya. Pendekatan. Tapi Yamada sama sekali tidak ingin mengenalnya, tidak. Membuatnya semakin kesal.

Yamada menyimpan kembali ponselnya dan keluar dari gedung. Belum beberapa langkah, handphone-nya kembali berdering.

Moshi-moshi?” ucapnya sedikit malas.

“Ryosuke-san, aku ada di belakangmu!”

“Eh?” Tubuh Yamada langsung berputar dan melihat Sanata sedang tersenyum padanya, “Kenapa kau disini?”

“Aku… uhm… Lagi jalan-jalan saja sekitar sini.” Yamada menatapnya, satu alisnya terangkat membuat Sanata salah tingkah, “K-kenapa melihatku seperti itu?”

“Tidak.” Yamada membalikkan badannya, melanjutkan langkah yang terhenti. Sanata mengekorinya.

Yamada tidak masalah jalan bersama dengan gadis itu, namun ada banyak paparazzi yang mengikutinya. Bisa gawat kalau besok namanya ada di sebuah majalah dengan sebuah skandal. Bukan hanya manajernya saja yang marah padanya, pihak agensi pun akan menceramahinya. Yamada tidak suka itu.

Setelah berjalan cukup lama dan sudah memasuki jalan yang sepi, Yamada baru membuka maskernya.

“Kenapa?”

Sanata memiringkan kepalanya, “Eh?”

“Kenapa kau tidak menolaknya?”

Mengerti maksud dari pembicaraan Yamada, Sanata mengangguk kecil, “Ah, itu. Kau tahu kan, aku ini anak mereka satu-satunya dan tidak pernah menolak permintaan orangtuaku. Sekali pun aku tidak suka, aku tidak bisa menolaknya.

“Jadi kau memang tidak suka padaku?” tanya Yamada.

“Apa jadinya kalau aku bilang iya dan apa yang terjadi kalau aku bilang tidak? Apa perjodohan ini akan batal kalau aku menjawabnya?” Sanata menjawab pertanyaan Yamada dengan pertanyaan, Yamada terdiam.

“Hei..” suara bariton Yamada memecahkan keheningan setelah Yamada tidak bisa menjawab pertanyaan Sanata.

“Hm?”

“Rumahmu dimana? Biar aku antar kau pulang.”

“Itu…”

 

***

 

Yamada dan Sanata akhirnya sampai di sebuah rumah dengan papan nama yang bertulis Fukube. Wajah Yamada terlihat masam.

“Maaf, Ryosuke-san. Karena aku, kita harus memutar arah.” Sanata menunduk menyesal, “Aku tidak berpikir kalau kau akan mengantarku.”

Yamada mengendus kesal, “Sudah, tidak apa-apa. Omong-omong…”

Sanata mengangkat tubuhnya, “Ada apa?”

“Dari mana kau tahu email dan nomor teleponku?”

“Bibi yang memberikannya.”

Yamada menelan ludah, gerakan ibunya cepat sekali, “Oh, begitu ya.”

“Ryosuke-san tidak masuk dulu?” tanya Sanata.

Yamada menggeleng, “Tidak, titip salam saja dengan orangtuamu.”

Sanata tersenyum, kemudian mengangguk. Melihat itu, dada Yamada sedikit tidak nyaman. Apa ini?, tanyanya dalam hati.

Jyaa, oyasumi.” ucap Yamada, ia melangkah mundur.

“Un. Oyasuminasai, Ryosuke-san.” Sanata tersenyum begitu lembut sambil melambaikan tangannya.

Sial, ada apa ini?, tanya Yamada saat dadanya kembali berdebar-debar melihat senyum Sanata.

 

***

 

Beberapa minggu berlalu, Yamada mulai terbiasa dengan kehadiran Sanata. Tapi ia merasa risih dengan dirinya sendiri. Jantungnya berdebar-debar tidak keruan kalau melihat Sanata tersenyum atau saat memanggil namanya. Sanata juga sudah sering berkunjung ke rumahnya—disuruh ibunya maupun diajak oleh ibu Yamada.

“Yamada-san, kenapa tersenyum sambil melihat ponsel begitu?”

Yamada tersentak, sebuah suara yang sudah lumayan lama tak ia dengar menyapanya.

Hari ini Yamada dan teman-teman satu grupnya ada jadwal pemotretan dan interview untuk majalah bulanan. Hari yang paling Yamada tunggu, karena ia akan melihat Miharu.

“Memangnya saya tersenyum ya, Sato-san?” Yamada bertanya dengan bahasa formal, ia tidak bisa menghilangkan kebiasaan ini saat berhadapan dengan Miharu walaupun sedang tidak wawancara.

Miharu mengangguk, “Iya, dengan wajah yang berbinar.”

Yamada menaikkan alisnya, pasti Miharu sedang berbohong. Pasti ia sedang menggoda Yamada. Mana mungkin Yamada sebahagia itu membaca email dari Sanata.

“Sato-san!” Seorang staff memanggil gadis itu, Miharu mengangguk mengerti.

“Saya permisi dulu.” ucapnya sambil tersenyum. Yamada mengangguk.

Mata Yamada terus mengikuti Miharu sampai gadis itu tak terlihat lagi. Jantungnya kembali berdegup kencang, membuat Yamada tidak nyaman. Jadi sebenarnya ini tanda apa? Jangan-jangan ia membayangkan Miharu selama bersama Sanata?

Yamada menatap ponselnya yang masih menampilkan email dari Sanata.

 

From: Sanata

Subject: Ohayou!

Hari ini interview kan? Awas, jangan sampai keceplosan membicarakan perjodohan kita seperti kau membicarakan pernikahan kakakmu! Hahaha….

 

***

 

“Ryosuke-san!” teriak Sanata sambil melambaikan tangan. Senyum tak pernah hilang di wajah cantiknya.

Yamada tersenyum menyambutnya, tangannya membalas lambaian Sanata. Hari ini mereka berkencan. Seperti biasa, ibu Yamada yang mengaturnya. Baik Sanata maupun Yamada, tidak ada yang menolak. Mereka sudah lelah untuk melakukan itu.

“Jadi, kita akan kemana?” tanya Sanata setelah mendekati Yamada.

Yamada berpikir sesaat, “Menurut rencana ibu, kita akan makan malam di restoran.”

Mendengar itu, Sanata tertawa. Ia menutup mulutnya dengan tangan.

“Ada yang lucu?” tanya Yamada bingung.

Sanata mengangguk, “Kita berkencan tapi ibumu yang mengatur semuanya. Lucu sekali.”

Yamada mendengus geli, “Nah, ayo.” Ia memberikan tangannya pada Sanata. Sanata melihat tangan itu sejenak, kemudian menggengamnya.

“Apa ini disuruh ibumu juga?”

“Sayangnya tidak. Aku bisa repot kalau kau hilang, ahahahaha…” canda Yamada.

Sanata ikut tertawa, tangannya mengeratkan genggamannya. Ia berharap mereka tidak pernah sampai ke restoran, agar tangannya terus digenggam oleh pria itu. Semburat di wajahnya terlihat jelas, untung saja Yamada tidak melihat ke arahnya.

Mereka berjalan dalam diam, tidak tahu harus membahas apa. Mereka sendiri sibuk dengan hati masing-masing dan mencoba untuk menenangkan jantung mereka yang degupannya tidak bisa dikendalikan.

“Ano..” ucap mereka berdua. Mereka saling memandang karena kaget.

“Ryosuke-san duluan saja.”

“Tidak, kau saja duluan.” balas Yamada.

“Tidak apa-apa, bukan hal yang penting.”

Yamada mengangguk, “Ah, sou.. Aku juga.”

Mereka kembali tidak bersuara sampai tiba di restoran yang mereka tuju.

 

***

 

Sebulan mereka berkenalan, Yamada tidak pernah memanggil Sanata dengan namanya, bahkan dengan nama keluarga pun tidak pernah. Sebenarnya Sanata tidak begitu peduli kalau orang lain yang seperti itu, namun berbeda rasanya kalau itu Yamada.

Sanata selama ini menyukai Yamada, sebagai idola pastinya. Saat tahu kalau keluarga Yamada sudah lama dekat dengan keluarga Fukube, Sanata girang sekali. Namun, tak pernah terpikir sampai melakukan perjodohan.

Sanata menentangnya, tapi ia tidak bisa. Ia terlahir sebagai anak yang penurut dan akhirnya hanya bisa mengikuti kemauan orangtuanya.

Ini adalah kencan pertama mereka. Seharusnya sih, berkesan. Tapi kenyataannya… mereka menciptakan keheningan.

Sanata menatap Yamada yang melihat ke arah lain, terlihat kemerahan yang samar di pipinya. Apa dia sedang sakit? Atau udara di restoran ini terlalu dingin?, pikir Sanata polos. Dia tidak berpikir kalau Yamada sekarang sedang mati-matian menahan gejolak di dadanya. Untuk melihat Sanata saja ia tidak sanggup.

“Ryosuke-san..” Sanata berusaha membuka suara. Mata Yamada meliriknya, “Kau bilang kau suka strawberry kan? Kapan-kapan temani aku memetik strawberry ya.”

Sanata bisa melihat mata Yamada yang berbinar-binar saat ia mengucapkan nama buah kesukaan pria itu. Membuatnya terlihat begitu manis.

“Katakan padaku kapan kau akan pergi, aku akan mengatur jadwalku.” ucapnya semangat.

“Sabar, Ryosuke-san. Mungkin masih lama, karena aku juga harus mencari resep masakan olahan strawberry.”

“Eh? Kau mau mencampurkannya ke makanan? Tampaknya seru.”

Dan mereka pun membahas tentang strawberry sampai jam kencan mereka usai.

 

***

 

“Ryosuke-san yakin mau langsung pulang?” Yamada menaikkan alisnya bingung, “Bukannya kau masih penasaran tentang siapa aku? Kenapa aku bisa tahu semua tentangmu?”

“Pasti dari ibu kan?” Sanata menggeleng, “Eh? Jangan bohong.”

Sanata melihat Yamada dengan wajah serius, “Aku tidak bohong.”

“Jadi kau memang fans-ku?”

Sanata tersenyum, “Saa.. kau akan tahu sendiri jawabannya setelah masuk.” Sanata menarik tangan Yamada untuk masuk ke rumahnya.

Ayah dan ibu Sanata menyambut mereka dengan senang. Bagaimana tidak, kedua anak manusia itu akhirnya bisa dekat padahal mereka sama-sama menolak dijodohkan.

Sanata mengajak Yamada mengunjungi kamarnya, Yamada enggan. Dia merasa tidak pantas untuk masuk ke kamar seorang gadis. Namun gadis itu memaksa dan akhirnya Yamada menyerah.

Sanata membuka pintu kamarnya lebar-lebar, mempersilakan Yamada masuk. Poster-poster Yamada menyambut kedatangan si pemilik wajah di poster itu. Mata Yamada melebar melihat sekeliling kamar Sanata.

Yamada tidak bisa bicara apapun lagi setelah melihat kamar Sanata. Kamar Yamada sendiri saja tidak ada poster idolanya, tapi melihat kamar seorang fans seperti ini benar-benar membuatnya kehabisan kata-kata.

“Wah…” Sanata hanya tersenyum geli saat mendengar satu kata itu yang diulang Yamada berkali-kali.

“Jadi sekarang kau tahu jawabannya?”

Yamada mengangguk, “Jujur saja, baru pertama kali aku lihat kamar fans secara langsung. Benar-benar wah.”

Sanata mengibas tangannya, “Ini belum seberapa dengan fans lain. Mereka punya lebih banyak dari ini.”

Yamada hanya mengangguk sambil meletakkan tangan di bawah dagunya. Ia masih kagum. Setelah puas mengamati, Yamada berdiri mendekati Sanata.

“Jadi ini alasan kau menerima perjodohan ini?” tanyanya.

“Hah?” Sanata memandang Yamada, “Memangnya aku pernah bilang aku setuju?”

“Eh?”

“Aku memang menyukaimu, tapi sebagai idola. Aku tidak berpikir kalau seorang idola bersikap sama di kehidupan pribadinya.”

Yamada mengkerutkan dahi, “Maksudmu kami berbohong?”

“Yah… bukan berbohong juga sih, apa ya namanya…” Sanata berpikir, “profesional?”

“Tapi kau percaya kan dengan apa yang ditulis di majalah?”

Sanata duduk di pinggir tempat tidurnya, “Mau bagaimana lagi, kami para fans hanya mengenal kalian melalui artikel itu.”

Yamada melangkah ke arah Sanata, menepuk puncak kepalanya pelan, “Profesional yang diajarkan hanya untuk tidak mencampurbaurkan masalah pekerjaan dan masalah pribadi. Untuk yang lainnya, kami tidak pernah berakting.”

“Tapi kau di TV dengan kau yang bersamaku agak berbeda, atau perasaanku saja ya?”

“Hanya perasaanmu saja. Inilah Yamada Ryosuke, baik di hadapanmu maupun di pekerjaan..” Yamada tersenyum lembut.

 

***

 

Yamada masih bergelut dengan tempat tidurnya saat jam weker berbunyi. Setelah pulang dari rumah Sanata, ia tidak bisa tidur. Jantungnya berdetak sangat kencang, wajah Sanata terus terngiang di pikirannya.

“Apa aku menyukai Sanata?” tanyanya pada diri sendiri.

Pria itu menatap langit-langit kamarnya. Tak berapa lama, bayangan Sanata muncul di sana. Senyum pun muncul di wajah Yamada. Ia seperti orang gila yang tersenyum tanpa sebab. Dan Yamada sekarang yakin, kalau ia memang sudah jatuh hati pada Fukube Sanata.

 

***

 

Musim panas tiba, itu artinya adalah ke pantai dan bikini. Ya, pria mana yang tidak menikmati saat-saat ini. Termasuk Yamada Ryosuke. Salah satu alasan yang membuatnya betah di musim ini adalah melihat gadis-gadis dengan pakaian pendek dan bikini. Meskipun ia tidak begitu suka dengan udara musim panas.

Sebuah pesan masuk ke ponselnya, ia membukanya.

 

From: Sanata

Subject: (no subject)

Musim panas sudah datang! Ayo ke pantai bersama! Kapan kau libur?

 

Yamada sedikit tersenyum. Lalu membalas pesan itu.

 

By: Yamada

Subject: Re: (no subject)

Akan kukabari segera mungkin.

 

Selain alasan tadi, alasan Yamada yang paling utama di musim panas tahun ini adalah menyatakan perasaannya pada Sanata setelah dari pantai.

 

***

Sanata mengkerucutkan bibirnya kesal, Yamada duduk di lantai kamar Sanata. Ia datang untuk minta maaf karena tidak bisa pergi ke pantai.

“Maafkan aku.”

Sanata mengendus kesal, “Kalau tidak bisa ke pantai, kita kesini saja.” Sanata mengeluarkan sebuah selebaran, “Melihat kembang api!”

Yamada melihat Sanata sebentar, senyum sudah terkembang di wajah manisnya. Lalu membaca selebaran itu, melihat tanggalnya dan mengingat jadwalnya.

“Aku usahakan, tapi aku tidak janji.”

Gadis itu menggembungkan pipinya, “Ryosuke-san! Harus janji!” Ia mulai egois. Yamada mengerti kenapa Sanata seperti itu. Selama ini Sanata yang berusaha menyamakan jadwalnya dengan jadwal Yamada. Selain itu, gadis itu juga sepertinya menyukai musim panas.

“Oke, oke. Tunggu aku di sana.” ucap Yamada akhirnya. Ia tidak mau membuat Sanata bersedih.

“Horeeee!” teriak Sanata. Tanpa sengaja ia memeluk Yamada, membuat pria itu terkejut. Di sisi Sanata, ia juga terkejut dengan kelakuannya. Ia segera melepas pelukannya, “Maaf.”

Yamada menggeleng, walau dadanya saat ini sedang sangat ribut. Ia bisa mendengar debaran jantungnya sendiri. Ia melihat Sanata, gadis itu memandang ke arah lain, pipinya memerah. Tangannya meremas ujung bajunya. Apa dia merasakan apa yang kurasa juga?, Yamada tidak tahu.

 

***

 

Jatuh cinta pada idola tidak pernah ada di dalam kamus kehidupan seorang Fukube Sanata selama ini. Sekali pun ia menyukai Yamada Ryosuke, ia hanya tertarik pada perjuangan pria itu untuk terus bisa berkarya di dunia entertainment. Sanata tidak pernah membayangkan dirinya akan benar-benar jatuh cinta pada idola yang terkenal itu. Dekat karena dijodohkan dan saling mengenal satu sama lain, sama-sama menentang perjodohan tapi tidak bisa benar-benar menolak dan menjadi sangat dekat seiring berjalannya waktu.

Bohong kalau Sanata tidak merasa deg-degan di dekat Yamada. Idola yang selalu ia bicarakan dengan teman internetnya, membicarakannya saja sudah membuat Sanata berdebar-debar.

Siapa yang tahu kalau seorang idola bisa terlihat sangat sempurna di depan kamera dengan segala kebaikannya, tapi menjijikkan setelah kamera dimatikan. Itu yang ada di kepala Sanata selama ini, seorang idola selalu mempunyai berbagai topeng untuk ditampilkan di depan fans, menutupi wajah aslinya yang sungguh jelek.

Namun, sejak ia mengenal Yamada secara pribadi, pemikiran itu sedikit demi sedikit pudar di otaknya. Semua gaya bicara, gerak tubuh dan ucapannya sama seperti yang Sanata lihat selama ini di TV. Gadis itu berusaha mencari celahnya, tapi tidak menemukannya. Dan ia sempat kesal dengan Yamada karena terus memakai topengnya. Tanpa ia sadar, ia telah jatuh cinta.

Malam ini mereka akan melihat kembang api, Yamada sudah janji padanya. Walau Sanata tahu kalau pria itu sedang sangat sibuk.

 

***

 

Yamada menatap jam tangannya, masih banyak waktu sampai jam pertemuan dengan Sanata. Tapi dia sedikit gelisah, ia takut datang terlambat dan ternyata Sanata sudah pulang dengan rasa kecewa terhadapnya.

Tidak, bukan waktunya untuk berpikiran buruk. Ia harus fokus.

Berjam-jam berlalu, Yamada masih berada di tempat ia latihan bersama teman-temannya. Karena mereka akan mengadakan konser, mereka harus belajar tariannya jauh-jauh hari agar tidak ada kesalahan saat konser nantinya.

Yamada melirik jam, Sanata pasti sudah banyak mengiriminya email sekarang. Namun, pria utus belum bisa membacanya. Latihan belum usai.

“Baiklah, latihan hari ini selesai. Otsukare!”

Otsukare!” teriak mereka semua.

Yamada langsung mencari tasnya, mencari handphone-nya. Yang lain melihatnya bingung, biasanya Yamada akan mengambil botol air minumnya dulu sebelum mencari hal yang lainnya. Ia bertindak cukup aneh.

“Yama-chan, tidak–”

Belum selesai salah satu temannya bicara, ia langsung memotongnya, “Aku harus segera pulang, otsukare!”

Yamada langsung berlari keluar ruang latihan, mengganti bajunya dan bergegas meninggalkan gedung.

Ia terus berlari dan berlari, tidak peduli sudah berapa banyak orang yang ia tabrak dan memakinya. Bahkan ia lupa untuk memasang masker maupun kacamatanya.

Berkali-kali mencoba menelepon Sanata, tetap gadis itu tidak menjawab.

 

***

 

“Sanata!”

Sebuah teriakan samar memanggil namanya membuat Sanata melihat ke kiri dan ke kanan yang penuh orang-orang. Yang memanggilnya pasti Yamada, ia kenal suaranya. Namun, Sanata tidak menemukannya.

Sanata mengambil ponselnya di tas kecil yang dibawanya. Ia terkejut melihat berapa banyak Yamada mencoba meneleponnya, Sanata mulai mengutuk dirinya kenapa tidak mendengar dering ponselnya. Dia segera menelepon pria itu.

Moshi-moshi, Ryosuke-san..”

“Kau dimana?” Suara lelah Yamada terdengar dari seberang.

“Aku di jembatan.”

“Aku akan ke sana.”

Sanata mengangguk walau Yamada tidak melihatnya, “Un.”

Sanata mendengar suara Yamada semakin jelas, ia melihat ke asal suara. Yamada berhenti tepat di depan Sanata, ia menunduk karena kelelahan. Tidak sadar kalau gadis yang dicarinya sudah di hadapannya.

“Sanata..” panggilnya lemah, napasnya menderu.

“Ryosuke-san?”

Yamada tersentak, dia segera mengangkat kepalanya dan matanya bertemu dengan mata Sanata. Sejenak ia terdiam, melihat gadis itu dari atas sampai bawah.

Dengan yukata berwarna cerah dan rambutnya yang biasa digerai, digulung ke atas. Hiasan rambutnya yang menyempurnakan kecantikan gadis itu.

Jantung Yamada berdetak semakin kencang, wajahnya memanas.

“Ryosuke-san, kau tidak apa-apa?” tanya Sanata.

Yamada mengangguk, “Hanya sedikit lelah.”

Mereka saling memandang dalam diam, ada senyuman tipis di wajah Sanata.

“Aku pikir kau tidak akan datang.”

“Janji harus ditepati kan?” ucap Yamada lalu tersenyum.

Sanata hanya mengangguk dengan cepat, ia berbalik melihat langit yang masih gelap.

“Hei..”

“Hm?”

“Aku–”

Suara ribut dari kembang api yang dilayangkan ke langit menutup suara Yamada. Padahal ia baru saja menyatakan perasannya. Yamada mendecih kesal.

“RYOSUKE-SAN TADI BILANG APA? AKU TIDAK DENGAR.” teriak Sanata. Suara kembang apinya memekakkan telinga.

“TIDAK ADA. BUKAN APA-APA.” jawab Yamada. Ia mengurung niatnya setelah kembang api selesai.

Yamada melihat ke arah lain, matanya menangkap beberapa pasangan sedang berciuman. Membuatnya salah tingkah. Ia melirik Sanata yang ternyata meliriknya juga dan Yamada kembali salah tingkah. Dia memilih untuk fokus untuk melihat indahnya kembang api.

Sanata masih berusaha melirik pria yang ada di sampingnya. Wajahnya bercahaya saat kembang api baru saja meluncur ke langit, membuat Sanata terpana. Ia mendekati wajah Yamada, hendak mencium pipi pria. Tapi, yang terjadi tidak sesuai prediksinya.

Yamada memalingkan wajahnya ke arah Sanata, ingin berbicara. Tapi, ia malah mencium bibir gadis itu tanpa sengaja karena wajah Sanata terlalu dekat padanya. Mata mereka membelalak.

“A-aku tidak bermaksud…” Yamada menggaruk kepalanya, wajahnya mengarah ke arah lain. Begitu juga dengan Sanata.

“Ciuman pertamaku…” ucap Sanata lirih.

“Itu juga ciuman pertamaku.” kata Yamada.

“Hah?” Sanata menaikkan alisnya, “Bohong! Di majalah…”

“Itu semua fanservice…”

Sanata menatap Yamada dalam-dalam, “Seharusnya kan yang menciumku itu pria yang mencintaiku juga.”

“Apa aku tidak bisa?” tanya Yamada pelan.

Entah kenapa Sanata menyeringai, “Oh, kau menyukaiku? Bukan dengan yang itu ya?”

“Itu?” tanya Yamada bingung, “Dari mana kau bisa tahu?”

“Aku punya banyak mata-mata,” ia masih menyeringai melihat Yamada terkejut, “bercanda!”

“Sanata!!!” Yamada mencubit kedua pipi Sanata geram.

Sanata malah memasang sebuah senyum, “Ryosuke-san memanggil namaku!”

“Eh?”

“Biasanya kau memanggilku dengan ‘Hei!’, ‘kau’, begitu. Senangnya~” kata Sanata, “Ah iya, tolong berhenti mencubit pipiku. Sakit.”

Yamada melepaskan cubitannya. Tiba-tiba ia teringat sesuatu, “Ah, aku hampir lupa.”

Sanata mengkerutkan keningnya bingung. Yamada membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu.

“Ini.” Yamada memberi sebuah kotak kecil pada Sanata.

“Apa ini?”

“Buka saja.”

Sanata menurut. Ia membuka kotak itu, ada sebuah cincin di dalamnya, “Apa maksudnya?”

“Mau tidak…” Yamada menarik napasnya sebelum melanjutkan ucapannya, “jadi pacarku?”

“Bodoh, kita kan sudah dijodohkan.”

“Tapi itu bisa saja batalkan?” Sanata menghela napas saat Yamada berkata seperti itu.

“Kenapa? Bukannya kau tidak suka denganku waktu itu?”

Yamada mengambil cincin dari kotak itu, “Sebenarnya aku juga bingung kenapa aku bisa menyukaimu. Satu yang aku tahu, yang bisa membuatku benar-benar jatuh cinta hanya kau, Sanata.”

Sanata tersenyum malu, bagaimana bisa Yamada seromantis itu.

Jadi, apa kau menyukaiku juga?” tanya Yamada.

Sanata mengambil kembali cincin yang dipegang Yamada dan memasukkan ke jarinya, “Sejujurnya aku mau menjawab tidak, tapi hatiku berkata lain.”

Yamada tersenyum bahagia, ia memeluk Sanata. Gadis itu membalasnya, senyuman tidak pernah lepas dari wajahnya.

Beberapa detik kemudian, kembang api raksasa meluncur ke udara, seakan-akan menggambarkan besarnya kebahagian antara mereka berdua.

 End

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] You Can

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s