[Multichapter] Desire Or Love? (Chap 7)

Desire or Love?
By: kyomochii
Genre: Friendship, Romance, Drama
Rating: PG-13
Cast: Ichigo Yua (OC), Kouchi Yugo, Matsumura Hokuto, Morimoto Shintaro (SixTONES), Nakajima Yuto (HSJ), Nakamura Kaito (Travis Japan)
Disclaimer: Semua Cast cowok dalam cerita ini under talent agency Johnny’s & Associates dari berbagai grup yang berbeda, bisa ada, bisa tidak tiap chapternya, tergantung mood author :p
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Melupakan kejadian kemarin malam tidak semudah bayangan Yua. Tidak hanya membayangkannya, Yua masih bisa merasakannya. Pergi ke sekolah tidak membuatnya cukup sibuk untuk mengenyahkan pikiran-pikiran tentang apa yang sudah dia lakukan.

Aku butuh yang manis-manis buat menghilangkan rasa aneh di lidahku, pikiran Yua masih berkelana liar meninggalkan raganya bimbang.

“Abunai, senpai!” Tiba-tiba sebuah tangan berada tepat di depan wajah Yua. Begitu sadar dirinya sudah berjarak tidak lebih 20 senti dari tiang listrik, Yua meringis memandang pemuda di sebelahnya.

“Arigatou, Umin.” Melihat Yua pura-pura menggaruk kepalanya yang tidak gatal, Kaito yakin kalau senpainya itu sedang ada masalah.

“Mau mampir ke café baru dekat stasiun? Kenalanku ada yang bekerja paruh waktu di sana, katanya hari ini hari terakhir ada diskon promosi. Aku traktir deh! Gimana?” Kaito mencoba membujuk Yua agar sedikit melupakan masalahnya.

“Aaaaaah, manga café! Arigatou, Umin.” Yua memilih tempat duduk paling dekat dengan rak manga favoritenya, yang kebetulan kosong. Meskipun tampak senang, Kaito masih merasakan senyuman yang dipaksakan dari bibir Yua. Sesaat kemudian, seorang pelayan menghampiri meja mereka.

“Ah, kamu yang tempo hari…” Belum sempat menawarkan menunya, dua pemuda di seberang Yua dibuat saling berpandangan, tidak mengerti.

“Ichigo-senpai kenal Yuto-kun?” Yua tersenyum malu karena sudah sok kenal dengan orang yang baru ditemuinya satu kali. Sudah pasti pemuda itu tidak akan mengingatnya hanya karena pertemuan singkat mereka.

“Aku tidak sengaja menabrakmu, waktu pertandingan semi final basket kemarin. Gomennasai deshita.” Yua melihat pemuda itu tersenyum dan meminta maaf karena tidak sempat memperhatikan orang yang ditabrak saking terburu-burunya waktu itu.

“Ichigo-senpai, ini kenalan yang aku ceritakan, Nakajima Yuto-kun, kakak kelasku SMP. Yuto-kun, ini Ichigo Yua-san, kakak kelasku SMA.” Kaito berusaha mencairkan suasana canggung di antara mereka.

“Panggil saja aku Yuto.” Yua membalas senyuman Yuto, mencoba seramah mungkin.

Setelah menentukan pesanan, Yuto kembali ke counter pegawai, meninggalkan Kaito dan Yua yang langsung sibuk memilih manga yang ingin dibacanya.

“Senpai, kita tidak ada rencana menginap di sini kan?” Kaito sedikit berseru, kaget, melihat Yua kembali dengan membawa lebih dari 20 manga dalam rengkuhannya.

“Kita bisa kembali ke sini kapan saja, senpai.” Kaito menggoda Yua, gemas melihat wajah merah Yua yang tersipu malu sekaligus merajuk. Yua mengembalikan beberapa manga, menyisakan 5 buah di ujung meja untuk dibacanya.

“Kapanpun senpai mau cerita, aku siap mendengarkan.”

“Cerita apa?” Tidak mengerti maksud Kaito, Yua meletakkan kembali manga yang baru mulai dibacanya dan menatap fokus ke arah Kaito.

“Sepertinya senpai sedang ada masalah, jadi mungkin aku bisa bantu jadi pendengar yang baik.” Kaito menunjukkan wajah polosnya yang terlihat sangat cemas, membuat Yua takut menyalah artikan perhatian Kaito lagi kali ini.

“Aku tidak apa-apa kok, hanya saja semalam aku tidur kepagian gara-gara nonton film. Makanya tadi sedikit tidak fokus.” Tidak sepenuhnya bohong, tapi Yua juga tidak bisa menceritakan yang sebenarnya ke Kaito. Semalaman, setelah lelah memikirkan cara untuk melupakan kejadian bersama Chinen, Yua membongkar semua koleksi DVDnya dan menghabiskan waktu di depan TV sampai terlelap kembali.

“Lagipula, memangnya kamu pacarku? Pake acara jadi pendengar yang baik segala.” Yua berusaha bercanda tapi ekspresi Kaito tetap tidak berubah, masih khawatir.

“Mungkin aku bukan pacar senpai, tapi aku sudah menganggap Ichigo-senpai seperti kakakku sendiri. Tidak apa-apa kalau senpai tidak ingin menceritakan masalahnya padaku, tapi aku tidak suka melihat senyum senpai yang terlihat dipaksakan.”

Kaito terlihat sangat tulus saat mengatakannya, membuat Yua merasa sakit hati namun senang. Mungkin hubungan mereka tidak akan pernah lebih dari sekedar kakak-adik. Yua menghela nafas lega, karena tidak perlu lagi menahan diri. Mulai sekarang, Yua bisa menyayangi Kaito sebagai adiknya dan selalu mendukung untuk kebahagiaannya.

“Ne, Umin. Sebagai kakak yang baik, aku tidak boleh membebankan masalahku ke adikku. Yang perlu kamu lakukan hanya menghiburku setiap aku ada masalah, oke?”

“Baiklah.” Kaito menyerah, melihat Yua tetap berkeras tidak akan menceritakan masalahnya.

“Ngomong-ngomong soal pacar, bagaimana hubunganmu dengan Yuka-chan? Kamu berhasil mengajaknya kencan?” Yua mencoba mengalihkan pembicaraan mereka dari masalahnya.

“Itu cuma gossip kok! Aku masih berteman dengan Yuka, belum lebih.” Meskipun mengelak, terlihat jelas wajah Kaito bersemu merah saat menyebutkan nama Yuka.

“Tapi di akhir pertandingan kemarin, aku melihat kalian sedang berduaan?” Yua memiringkan kepalanya, menyunggingkan senyum menggoda untuk memancing Kaito menceritakan hal yang sebenarnya.

“Waktu itu aku hanya menawarkan untuk mengantarnya pulang. Lagipula, kita baru saling kenal. Mana mungkin tiba-tiba aku mengajaknya kencan? Aku ingin mengenalnya lebih serius, baru akan mengajaknya pacaran saat sudah yakin dengan perasaan masing-masing.”

Mendengar penjelasan Kaito membuat Yua serasa dihantam balok tepat di wajahnya, membuat mata Yua mendadak gelap. Sambil mengkucek matanya yang tidak gatal, Yua memikirkan perkataan Kaito.

Benar, kalau memang serius, gak mungkin tiba-tiba ngajak pacaran padahal belum saling kenal. Yua merasa sangat bodoh menghadapi kenyataan yang seharusnya tidak perlu diingatnya lagi.

“Strawberry crepes dan segelas milkshake untuk Ichigo-san, semangkuk parfait untuk Umin. Silahkan dinikmati pesanan kalian.” Yuto datang membawakan pesanan mereka, menyadarkan Yua dari lamunannya. “Arigatou, Yuto-kun.”

“Postur tubuhnya bagus ya, pantas saja tim sekolah kita kalah.” Yua sengaja bertanya pada Kaito saat Yuto sudah meninggalkan meja mereka.

“Sebenarnya kalau postur, masih kalah dari Jesse-kun dan Hanzawa lho. Kelebihan Yuto-kun tidak hanya di postur dan skill, tapi dia sangat ahli dalam strategi tim. Selama aku berada dalam bimbingannya sebagai kapten basket, aku sangat mengaguminya karena Yuto-kun selalu bisa menonjolkan performa masing-masing individu anggotanya, bukan satu orang saja.” Yua senang bisa melihat Kaito yang bersinar lebih dari biasanya saat membicarakan orang yang diidolakannya.

“Makanya saat SMA aku memutuskan untuk masuk sekolah yang berbeda dengan Yuto-kun agar bisa berhadapan sebagai lawan di pertandingan resmi. Meskipun di pertandingan kemarin aku belum mempunyai kesempatan untuk melawannya, masih ada satu tahun kesempatan bertemu dengannya di pertandingan lainnya.”

“Dia setahun lebih muda dariku?” Yua menarik kesimpulan karena pertandingan musim ini adalah kesempatan terakhir bagi murid angkatannya boleh mengikuti kegiatan olahraga. Sebab setelah liburan musim panas, sebagian besar dari mereka harus sibuk mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi.

“Iya, dia kakak kelasku tepat. Kenapa? Ichigo-senpai naksir ya?” Yua kesal melihat wajah Kaito yang terlihat senang bisa membuatnya salah tingkah.

“Maaf ya, aku gak tertarik pacaran sama cowok yang lebih muda dariku.” Yua menjulurkan lidahnya membalas ejekan Kaito.

Saat membuang muka, tidak sengaja Yua menangkap wajah Yuto yang sedang memperhatikan meja mereka, berjarak tidak jauh. Saat mata mereka bertemu, pemuda itu tersenyum padanya.

Yuto mempunyai senyuman yang manis, wajahnya juga cukup ikemen, postur tubuh bagus, sudah pasti dia cowok yang cukup populer. Bukan berarti Yua tidak tertarik dengan cowok seperti itu. Tapi Yua sanksi untuk tertarik lagi dengan cowok yang lebih muda darinya. Yua memandang Kaito sekilas lalu mulai menghabiskan pesanannya.

Pada akhirnya, tidak satu manga pun yang sempat Yua baca gara-gara terlalu asyik ngobrol dengan Kaito. Setelah berpisah di depan stasiun, Yua sengaja memilih jalan sedikit memutar arah pulang ke rumahnya. Di tengah perjalanan, Yua menemukan ide bagus untuk menyibukkan hari-harinya agar cepat melupakan masalahnya dengan Chinen.

********

“Kamu serius? Ini masih terlalu awal, kita punya beberapa minggu lagi untuk bersenang-senang.” Begitulah reaksi Yugo saat Yua menceritakan rencananya untuk mengikuti bimbingan belajar persiapan ujian masuk pergurun tinggi lebih awal.

“Aku kan gak memaksamu untuk ikut. Aku ingin menyibukkan diriku sendiri. Kamu sibuk dengan pertandingan perfektur, Mirai juga sibuk persiapan final. Kenapa aku gak boleh mengambil kelas musim panasku lebih awal?” Yua sudah bulat dengan keputusannya.

“Baiklah. Kapan kamu akan mulai mengambil kelas?” Yugo menyerah karena tidak bisa memberikan alternatif lain agar sahabatnya itu membatalkan niatnya.

“Nanti sepulang sekolah aku akan mendaftar dan mulai mengambil kelas hari ini kalau bisa. Tempatnya juga gak jauh dari rumah, jadi kamu gak perlu repot-repot mengantar-jemputku.”

“Aku akan menghampirimu kalau aku pulang latihan lebih awal.” Yua memutar bola matanya, jengkel. Selalu saja apapun yang dia katakan tidak pernah didengarkan oleh Yugo.

“Tapi Yuu-chan…”

“Gak ada tapi-tapian.” Yua tahu percuma mendebat Yugo. Mungkin karena selalu bersama sejak kecil, tidak hanya kebiasaan, bahkan sampai sifat mereka banyak yang sama, termasuk keras kepalanya.

Sepulang sekolah, Yua langsung menuju tempat bimbel yang dilewatinya semalam.  Setelah menemui bagian administrasi, ternyata Yua bisa langsung mengikuti kelas hari itu juga. Di dalam kelas, Yua mengenali beberapa anak sebagai teman SMPnya dulu, tapi sayang dia tidak tahu nama mereka. Hampir semuanya berasal dari SMA yang sama. Duduk di bangku paling depan adalah pilihan terbaik supaya tidak perlu canggung saat melewati banyak orang yang tidak dikenalinya.

Rencana Yua sepertinya berjalan sukses. Sudah satu bulan sejak kejadian itu, sekarang Yua dapat menjalani hari-harinya tanpa perlu mengingat Chinen ataupun yang sudah mereka lakukan. Yua juga mulai mempunyai teman baru di tempat bimbelnya.

“Yua-chan, siapa sih cowok yang sering jemput kamu tiap malam itu?” Yua baru saja tiba di kelas saat Shintaro menghampiri mejanya dan menanyakan tentang Yugo.

“Namanya, Kouchi Yugo, sahabatku dari kecil, Morimoto-san. Ada apa?” Yua duduk di tempatnya, tidak menghiraukan Shintaro yang masih berdiri di depan mejanya.

“Sudah kubilang panggil aku Shintaro!” Shintaro selalu protes kenapa cewek-cewek tidak mau berlaku akrab kepadanya.

“Kelihatannya dia cukup populer ya? Kemarin aku melihatnya jalan dengan salah satu cewek populer di sekolah kami. Aku kira dia pacarmu, jadi aku ingin  memastikan mereka tidak berpacaran. Tapi ternyata dugaanku benar, mana mungkin dia berani mengkhianati gadis sekawaii dirimu.” Yua menepis tangan Shintaro yang mencoba menjawil pipinya.

“Jangan ganggu dia, Shintaro. Lagipula bukan hakmu mencampuri urusan mereka, kan?” Seorang pemuda menepuk kepala Shintaro dengan buku, lalu memberikannya ke Yua.

“Sankyuu, catatanmu membantu banget. Kapan-kapan ajari aku ya, soalnya ada beberapa yang masih belum aku paham.” Yua mengambil catatannya dari tangan pemuda itu, mengecek kalau-kalau ada coretan iseng yang dibuatnya.

“Makasih sudah mengembalikannya dalam keadaan tetap bersih, Matsumura-san.” Yua membalas tos Hokuto sebelum dia kembali ke bangkunya.

“Kenapa cuma Hokuto yang boleh meminjam catatanmu sih? Hokuto curang!!!” Sebenarnya Yua hanya mau meminjamkan catatan bahasa inggrisnya saja, dan kebetulan hanya Hokuto yang selalu meminta untuk meminjamnya. Sebab hanya di pelajaran bahasa inggris, Yua merasa percaya diri catatannya bisa diandalkan.

“Ichigo-san, besok sabtu ada rencana belum? Mau belajar bareng di perpustakaan tidak? Ada beberapa soal bahasa inggris yang belum aku pahami.” Hokuto sengaja menunggu Yua di depan gerbang tempat bimbel, sebelum gadis itu pulang.

“Belum ada sih. Oke, nanti hubungi lagi ya.” Yua meninggalkan Hokuto karena Yugo sudah menunggunya di seberang jalan.

“Sudah lama? Gomen, tadi ada ujian dadakan.”

“Enggak kok, baru sampai. Cowok tadi siapa? Kok sepertinya dia sengaja nungguin kamu?” Mendengar Yugo menginterogasinya, Yua merasa ada hal penting yang harus dia katakan daripada menjawab pertanyaan sahabatnya itu.

“Yuu-chan, kamu jalan sama gadis lain selain Mirai?” Yua menghentikan langkahnya.

“Kok kamu jadi balik nanya? Gadis lain siapa?” Yugo mengembalikan pertanyaan Yua.

“Kalau kamu jawab pertanyaanku dengan pertanyaan, kita gak bakal selesai-selesai bahas masalah ini. Oke aku jawab, cowok tadi teman kelas bimbelku, Matsumura Hokuto. Dia memang menungguku karena mengajakku untuk belajar bareng di perpustakaan sabtu ini. Sekarang jawabanmu apa?” Yua menahan diri untuk tidak menaikkan nada suaranya, belum, sebelum mendapat jawaban dari Yugo.

“Aku gak suka sama cowok tadi. Dia cuma memanfaatkan kepintaranmu.” Yugo menatap langsung mata Yua, berharap gadis itu memahami maksud yang ingin dia sampaikan.

“Kenapa kamu gak jawab pertanyaanku? Kamu beneran jalan sama cewek lain selain Mirai?” Yua mulai kehilangan kesabaran, tanpa sadar suaranya terdengar seperti bentakan daripada pertanyaan. Gak ada pilihan lain selain menjawab, batin Yugo.

“Kamu tahu, dari awal aku tidak menyukai Mirai, bukan, aku menyukainya, tapi tidak untuk menjadi kekasih. Aku menyayanginya sama seperti aku menyayangimu, sebagai sahabat. Kalau saja bukan demi kamu, aku gak bakal bertahan, pura-pura menyayanginya dan menerimanya sebagai kekasih.” Yugo mengatakan kalimat terakhirnya dengan nada bergetar, takut-takut salah mengucapkannya. Dipandanginya wajah Yua yang sekarang sudah dipenuhi ekspresi marah dibalik air mata yang sudah membanjiri pipi chubbynya.

“Jadi sekarang semua salahku? Terserah.” Yua berlari sekuat tenaga meninggalkan Yugo yang berusaha mengejarnya. Kalau saja tenaganya tidak habis untuk latihan hari ini, Yugo pasti bisa mengalahkan kecepatan lari Yua. Yua tidak membukakan pintu kamarnya berapa kalipun Yugo berusaha mengetuknya.

Hari sabtu, pagi-pagi, Yua sudah pergi meninggalkan rumahnya menuju perpustakaan, jauh lebih awal dari jadwal janjiannya dengan Hokuto. Yua tidak ingin berbicara dengan Yugo. Tidak sampai dia bisa menenangkan dirinya. Semalaman Yua memikirkan kembali bagaimana kedua sahabatnya bisa berpacaran.

Awalnya Mirai sama dengan gadis-gadis lain yang mengira Yua dan Yugo berpacaran, karena saking dekatnya mereka. Meskipun berpikiran demikian, Mirai tetap menyatakan perasaannya bahwa dia menyukai Yugo dan ingin berteman dengan Yua untuk lebih mengenal Yugo. Dia akan menunggu sampai Yua-Yugo putus, baru maju mendekati Yugo, dengan bekal sudah mengetahui banyak tentang Yugo selama dia dekat sebagai teman mereka.

Meskipun di awali dengan kesalah pahaman, lambat laun mereka menjadi sahabat sungguhan dan Mirai mengetahui bahwa Yua dan Yugo tidak pernah berpacaran. Beberapa kali Mirai melancarkan aksinya untuk mendekati Yugo, namun berakhir dengan jawaban yang sama, “Lebih baik kita berteman saja”. Merasa kasihan melihat Mirai frustasi, yang sempat membuatnya berhenti bermain basket di pertengahan tahun kedua mereka, Yua memanfaatkan “kekuatan persahabatan”nya dengan Yugo untuk membuat Yugo menerima Mirai di pernyataan cinta Mirai pada musim panas tahun lalu.

Memang awalnya karena aku. Tapi bukannya setelah itu Yuu-chan mulai bisa tulus sayang ke Mirai sebagai kekasihnya? Aaaaargh… Yua mengacak-acak rambut sebahunya, berusaha menghilangkan pusing yang menguasai kepalanya.

Tiba-tiba ponselnya bergetar, membuyarkan lamunannya. Dilihatnya jam di layar ponsel menunjukkan pukul 11, satu jam sebelum jam janjiannya dengan Hokuto. Ah, dari Matsumura-san.

 

From: Matsumura Hokuto
Ichigo-san, maaf tiba-tiba teman-temanku mengajak
belajar bareng. Bisakah kita belajar bareng lain waktu?

 

Eh? Belajar barengnya batal? Terus aku ngapain di sini? Kok ada sih orang yang suka membatalkan janjinya dadakan gini!

Karena belum ingin pulang dan bertemu Yugo, Yua memutuskan menghabiskan waktunya di perpustakaan, mencari referensi universitas yang mungkin ingin dimasukinya.

ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s