[Multichapter] Little Things Called Love (#13)

Little Things Called Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 13)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Tanaka Juri, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Jesse Lewis (SixTONES); Ichigo Yua, Kimura Aika, Kirie Hazuki, Mizutani Ruika, Takahara Airin, Matsumura Sonata (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Untitled-1

Padahal Paris hari ini cerah sekali, Hazuki tidak mood untuk keluar dari kamar apalagi mengingat Taiga berada di balik pintu, dan sudah memanggilnya berkali-kali. Hazuki tidak tau lagi harus bersikap bagaimana pada Taiga. Memutuskan bertunangan kan tidak seperti memilih baju apa yang akan dikenakan hari ini? Seenaknya saja Taiga memintanya untuk memutuskan apakah ia akan menikah dengannya atau tidak, itu tidak adil, dan bukan alasan bagus membuatnya merasa tertolak saat ini. That kiss was da*n hot dan Hazuki merasakan kesulitan untuk melupakan setiap detail yang dilakukan bibir Taiga kepada bibirnya, apa yang tangan Taiga lakukan saat menyentuhnya. Walaupun benci mengakuinya, jelas sekali ia menyukainya, menikmati setiap sentuhan Taiga.

“Hazuki… kita harus berangkat sekarang,”

Hazuki bergeming. Masih berani saja Taiga memanggilnya, huft, rasanya ia ingin membuka pintu dan memaki-maki Taiga, tapi sebagian hatinya merasa tidak akan mampu melakukannya. Apa-apaan ini?! Hazuki bahkan tidak menyukai Taiga, yang dia sukai sampai saat ini hanyalah Juri, bukan Taiga, ya kan? Monolog dengan dirinya sendiri menemui jalan buntu, membuat Hazuki merasa tak berdaya.

Hazuki mendengar ponselnya berbunyi, ia mencari-cari keberadaan ponselnya, yang ternyata ada di bawah ranjang. Beberapa pesan dari Hokuto dan Juri, menanyakan keadaannya, bahkan missed call dari Aika, semuanya tak terjawab olehnya. Dua chat muncul, pengirimnya Kyomoto Taiga.

Taiga : Bisa kita bicara? Jangan mengurung dirimu! Kamu belum makan sejak kemarin.

Taiga : Apa yang harus aku lakukan agar kamu memafkan aku?

Hazuki menimbang-nimbang apa yang harus ia katakan pada Taiga, lalu dengan cepat ia mengetik “Go away”. Tak lama balasan pun masuk, “Okay, Aku keluar dulu, makan siangmu ada di tray dekat sofa, makan dulu, aku akan kembali nanti malam.” Hazuki menempelkan telinganya di daun pintu, mencoba mendengar langkah Taiga yang mungkin keluar dari kamar mereka dan sepertinya pemuda itu lakukan dengan patuh.

Saat Hazuki membuka pintunya dengan perlahan, yang pertama kali ia lihat adalah tulisan dengan balon warna-warni di dekat balkon “SORRY”, ia pun melihat berbagai macam ornamen berwarna ungu memenuhi ruangan utama membuat Hazuki tanpa sadar tersenyum. Jadi ini sumber kegaduhan yang tadi dia dengar selama setengah jam lalu, Hazuki ingin mengintip tapi gengsinya mengalahkan keingin tahuannya. Hal gila apa lagi yang dilakukan Kyomoto Taiga, membuatnya kesal, sekaligus tidak bisa tidak memaafkan pemuda itu. Maka Hazuki mengetik pesan baru untuk Taiga, “Aku tidak mau makan malam ditempat murahan ya! Reservasi restoran mewah sana!”.

Taiga membalasnya tak lebih dari sepuluh detik, “Your wish is my command, sunshine,

***

“Kita mau kemana?” Ruika menyalakan radio di mobil milik Jesse karena setelah dua puluh menit berkendara, belum ada tanda-tanda Jesse akan berhenti.

“Ke suatu tempat,” jawab Jesse, pemuda itu tampak muram.

“Kamu tidak menjawabku, tempat itu di mana?”

“Rui, aku rindu kebawelanmu,” dan Jesse tersenyum, walaupun tipis sekali hampir tidak kelihatan jika Ruika tidak memerhatikannya.

Ruika jadi salah tingkah, menyesali bahwa keramahannya mungkin diartikan Jesse sebagai pemberian maafnya, padahal tidak sama sekali. Ruika belum bisa memaafkan pemuda itu. Maka Ruika berpura-pura menikmati lagu yang mengalun dari radio, sesekali menatap keluar jendela untuk membunuh kebosanan.

“Keluargamu baik-baik saja?” setelah keheningan yang cukup lama Jesse akhirnya buka suara.

“Baik-baik saja,”

“Kamu sendiri? Bagaimana pekerjaan barumu?”

Ruika menjawabnya tanpa menatap Jesse, “Lebih kerasan di tempat baru sih, di Lewis Bakery staff nya kebanyakan cewek, kan, kalau di tempatku sekarang banyak cowok gantengnya,” ugh, walaupun ingin terdengar biasa, Ruika malah terdengar seperti ingin membuat Jesse cemburu.

Souka, baguslah kalau kau kerasan di sana,” hening kembali, lama-lama Ruika merasa kantuk menyerangnya. Apalagi lagu dari radio sangat mendukungnya untuk tidur, cuaca di luar pun hujan sehingga akhirnya Ruika memejamkan matanya, Ah sepuluh menit saja, aku ngantuk sekali, ucap Ruika dalam hati.

“Rui,” Ruika merasa bahunya diguncang dengan lembut, ia mengerjapkan matanya, mencoba mengenali pemuda yang kini berdiri di dekatnya, pintu mobil sudah terbuka, “Kau mau aku angkat?”

“Hah?” Ruika masih merasa pusing dan pasrah ketika Jesse, yang sudah berhasil ia kenali, membuka seatbeltnya, membopongnya keluar dari mobil, “Turunkan aku,” ucap Ruika saat mereka sudah berjalan agak jauh tapi Jesse tidak juga menurunkannya.

“Nah, sudah sampai,” Jesse akhirnya menurunkan Ruika dan pertama kalinya akhirnya Ruika bisa melihat dengan jelas dimana mereka.

“Wow!” mata Ruika langsung dimanjakan oleh pemandangan air laut yang terhampar di sepanjang matanya memandang, “Pantai? Yang benar saja!” Ruika meninju pelan bahu Jesse yang disambut cengiran khas dari wajah pemuda blasteran itu, “Gak kurang jauh?!” walaupun protes Ruika dengan hati-hati turun ke pasir putih itu, mereka ada di daerah sebuah restoran dan menurut Jesse mereka sudah punya reservasi di sana.

“Inginnya sih lebih jauh, tapi aku tidak mungkin menculikmu ke luar negri tanpa persiapan matang,” jawab Jesse.

Ruika tak menjawab, matanya masih terpana melihat keindahan laut yang rasanya sudah terlalu lama tidak ia lihat, “Jadi, mau ngobrolin apa sampai harus ke tepi pantai segala?” kini Ruika menoleh, mata Jesse sedang memandang ke lautan lepas.

“Makan dulu deh ya, gimana?”

Malas berdebat, Ruika mengiyakan permintaan Jesse. Sudah terlalu siang untuk makan siang tapi terlalu cepat untuk makan malam. Namun karena sudah terlanjur di sana, Ruika menyerah, padahal bayang-bayang tugasnya sudah siap menghantuinya.

Jesse memesan sebuah meja yang berada di atas pasir pantai, hanya bertemankan penerangan yang minim namun tidak menjadikannya gelap malah membuat kesan romantis dengan lilin-lilin yang memenuhi sekitar meja mereka.

“Serius deh, ngapain sih pake acara romantis-romantisan begini?” tanya Ruika walaupun bersikap defensif tapi senyumnya tak bisa hilang dari bibir gadis itu.

Dan seperti sebelum-sebelumnya Jesse tidak menjawab, membiarkan Ruika dengan tebakan-tebakannya sendiri sementara dirinya sibuk memesan makanan untuk mereka.

“Pesan wine?” Ruika melihat sebotol wine sudah sampai di atas meja mereka, “Kau harus menyetir balik, loh,”

“Aku tidak berencana untuk pulang malam ini,”

Sukses membuat Ruika bungkam, “Aku tadi bilang kan kita hanya sampai sore, ini sudah jam enam dan harusnya kamu mengantarku pulang,” setelah berkata begitu Ruika menyuapkan steaknya ke mulut.

Jesse menatap Ruika, memerhatikan setiap gerakan gadis itu. Caranya mengunyah makanan, caranya mengelap bibirnya setelah minum, dan mata Ruika yang kini tertuju padanya, seakan menuntut jawaban. Jesse sendiri tidak yakin harus mulai dari mana, bagaimana cara menjelaskan semuanya pada Ruika.

“Ada hubungannya dengan Aika-san?” suara Ruika yang bercampur dengan suara ombak jelas mampir di telinga Jesse, bibirnya semakin kelu, “Sudah saatnya memutuskan untuk meninggalkan aku?”

Mata Jesse membesar, seakan ada beban seberat dua ratus pon di atas pundaknya, “Bukan begitu, Ruika,”

“Lalu bagaimana, Lewis-san? Menunggu jelas bukan pilihan jika melihat pertunangan kalian akan berujung pada pernikahan,” anehnya Ruika seakan sudah siap dan tidak seperti sebelumnya Ruika yang sekarang terlihat lebih tenang. Bahkan terlalu tenang membuat Jesse malah panik.

“Lalu aku harus bagaimana? Katakan padaku, Ruika,”

Tidak menjawab, Ruika hanya memandangi Jesse.

Tertunduk, pasir di bawahnya seakan menglok-olok dirinya, “Memintamu menungguku adalah hal paling egois, kadang aku tidak tau lagi bagaimana memintamu tetap disampingku,”

Ruika tersenyum, “Seharusnya Jesse-kun tau jawabannya. Aku pun ingin egois memintamu disampingku, tapi dengan cita-citamu dan ambisimu, rasanya tidak adil jika kau harus melepaskannya. Ambisimu sejak dulu, dan aku hanya batu sandungan kecil yang mungkin saatnya kau singkirkan,” Ruika memperhatikan Jesse yang terisak pelan, baru kali ini ia melihat pemuda itu se-rapuh ini, bahkan menangis, pertama kalinya Ruika melihat Jesse menangis sekeras ini. Maka Ruika beranjak dari kursinya, mengitari meja untuk mendekati Jesse, “Tapi aku tidak pernah menyesal bertemu denganmu,”

Detik berikutnya Jesse sudah menarik Ruika, memeluknya, Ruika balas memeluk pemuda itu, mengalungkan tangannya di leher Jesse sementara pemuda itu merebahkan kepalanya di dada Ruika, terisak memeluk tubuh Ruika dengan posesif.

“Di kehidupan selanjutnya, aku akan menemukanmu lebih dulu dan kita akan bersama tanpa gangguan orang lain, ahahaha,” dan walaupun tertawa suara Ruika bergetar hebat karena tangisnya dan butir-butir air mata yang terus jatuh ke pipinya.

I Love you. You know I do,” kata pertama dari Jesse setelah beberapa saat hanya terdengar suara isakan. Jesse melepaskan pelukannya, berdiri di hadapan Ruika, “You are the best I’ve ever had,” dan kata-kata lampau itu membuat Ruika semakin menangis, detik berikutnya Jesse menyentuh pipi Ruika, mengusap air mata Ruika dengan ibu jarinya, “Gomen,” dan seakan kehilangan kata-kata Jesse mengecup bibir Ruika, kecupan pelan itu berubah jadi pagutan lembut, Ruika tidak menolaknya dia terlalu lelah untuk berdebat mengenai status mereka sekarang. Setidaknya semalam lagi Jesse adalah miliknya, tak peduli mereka akan berpisah besok, Jesse miliknya malam ini.

***

Ketika sore itu Airin keluar dari rumahnya, sudah ada Hokuto menunggunya. Bagaikan mimpi Hokuto tersenyum menyambutnya, biasanya hanya cibiran pedas atau sekedar bilang halo di apartemen Matsumura.

“Ke mana kita hari ini?” tanya Airin. Akhir minggu untuk jalan-jalan, terutama saat Hokuto akhirnya bisa mendapatkan liburannya setelah seminggu penuh bekerja.

“Pertama-tama ke apartemen dulu, aku belum bertemu Ibu,”

Airin agak kaget mendengarnya. Bukan karena ini pertama kalinya ia ke apartemen Matsumura, tapi karena kini statusnya sudah berubah dari sekedar teman adiknya. Tiba-tiba saja Airin merasa sedikit gugupkarena harus bertemu Ibu, atau bahkan Sonata.

Gedung apartemen memang tidak jauh dari rumah Airin, mereka hanya perlu berjalan sekitar lima belas menit. Sepanjang perjalanan Hokuto tidak melepaskan genggaman tangannya, membuat jantung Airin berdetak lebih dari biasanya. Ini hanya pegangan tangan, kau sudah melakukan yang lebih dengannya, bisik hatinya, Airin yakin mukanya sudah merona hanya karena mengingat ciumannya dengan Hokuto malam itu.

“Ai-chan, aku bertanya kamu lebih suka ikan atau daging?”

“Eh?” Airin terperangah, ketahuan melamun oleh Hokuto, “Daging saja, aku lebih suka daging,”

Souka,”

“Kenapa memangnya?”

Hokuto menggeleng, “Tidak kenapa-kenapa, aku memikirkan akan kuajak kau kemana makan siang ini,”

“Gimana kalau… masak saja?”

“Masak?” memang sih bukan hal yang suilit bagi Hokuto, toh dia biasa hidup sendirian, “Kau yakin tidak ingin makan di restoran saja?”

Airin menggeleng, “Biar aku yang memasak untuk Hoku-nii, bagaimana?”

Sisi baru yang Hokuto baru dengar soal Airin, “Memangnya kamu bisa masak?”

“Taruhan aja, kalau masakanku tidak enak, aku akan mentraktirmu! Bagaimana?” Hokuto menjawabnya dengan anggukan.

Tadaima,” Hokuto memencet bel apartemen, tak sampai sepuluh detik wajah Sonata muncul dari balik pintu.

Okaeri Hoku-nii!!” Sonata menghambur ke pelukan kakak semata wayangnya hingga ia sadar ada Airin berdiri di belakang Hokuto, “Eh? Ai-chan?”

“Hey!” sapa Airin dengan canggung, “Kau juga mau ke rumah? Kebetulan sekali!” seru gadis itu lalu tersenyum pada Airin.

“Tidak, dia ke sini bersamaku,” ucap Hokuto, “Ibu di dalam?”

Sonata masih heran dengan ucapan Hokuto tadi, “Bersama? Hah?”

Tanpa menjawab pertanyaan Sonata, Hokuto menarik Airin masuk ke dalam apartemen, gadis itu hanya mengangguk-angguk dan rasanya tidak sabar untuk bertanya pada Airin apa yang sebenarnya terjadi.

“Apa yang terjadi??!!” Sonata menarik Airin ke dalam kamarnya saat Hokuto sedang mengobrol dengan Ibu.

Airin hanya tersenyum.

“Ayolaaahhh..” Sonata mengguncang-guncang bahu Airin, “Kalian…” Sonata memberikan kode dengan membelalakan matanya, seakan meminta penjelasan lebih dari Airin, dan sahabatnya itu menjawab dengan anggukan.

“YA AMPUNNN!!” Soanta menutup mulutnya tak percaya, “Ya ampuunn Ai-chaaannn!!” Sonata memeluk Airin, “Yaaayy!! Akhirnya?”

Airin kembali mengangguk, “Maaf tidak langsung memberi taumu, aku juga butuh waktu untuk meyakinkan diriku bahwa aku tidak bermimpi, ahahaha,”

Dengan cepat Sonata menggeleng, “Aku ikut senang, bilang saja kalau kakakku macam-macam,” Sonata membuat wajah galak, “Aku akan memarahinya,” Airin dan Sonata tertawa.

TOK TOK TOK. Keduanya otomatis menoleh ke arah pintu kamar Sonata.

“Sonaaa… jangan culik pacarku, kita harus pergi sekarang!!” seru Hokuto dari balik pintu.

Senyum Airin otomatis mengembang, Hokuto memanggilnya pacar, ini bukan mimpi, Airin merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya.

***

Sore ini sambil menunggu Taiga menjemputnya untuk makan malam Hazuki memutuskan untuk berenang. Sebagai penghuni president suite mereka mendapatkan kolam renang pribadi yang view nya langsung ke menara Eiffel. Hazuki juga tidak perlu repot membawa baju renang sendiri karena sudah disediakan oleh pihak Hotel.

Ketika menyentuh air dingin itu Hazuki merasa segar, ditambah dengan pemandangan indah, lengkap sudah sorenya. Hazuki berenang bulak balik tanpa jeda selama beberapa menit, tubuhnya merasa agak kaku karena sudah lama tidak digunakan untuk olahraga, ugh pulang ke Jepang dia harus mulai olahraga lagi, pikirnya. Saat Hazuki menyentuh ubin terjauh dari kolam, alangkah kagetnya melihat Taiga berjongkok tepat di depannya.

Baka!” Hazuki mencipratkan air kolam tepat di muka Taiga hingga pemuda itu terjengkang ke belakang, “Dasar hentaiii!! Sana pergi!!” seru Hazuki heboh.

Taiga hanya tertawa-tawa lalu detik berikutnya pemuda itu sudah menceburkan diri ke dalam kolam, dengan pakaian lengkap, “Aku tidak akan melewatkan pemandangan dirimu memakai pakaian renang, hehehe,” ucapnya sambil tersenyum mencurigakan.

Sadar akan bahaya yang bisa menyerang kapan saja, Hazuki menjauhi Taiga, “Sudahlah, kalau begitu aku mau mandi saja,” ucapnya sudah bersiap-siap akan naik dari kolam, tapi dilematis, jika ia naik dari kolam, berarti memberikan akses bagi Taiga untuk melihat tubuhnya, tapi berada satu kolam dengan Taiga sama saja cari mati.

“Kenapa tidak jadi naik?” suara Taiga mempir tepat di telinga Hazuki, dan benar saja pemuda itu sudah ada tepat di belakangnya, dengan gerakan cepat Hazuki mendorong tubuh Taiga menjauh, namun tak lama kemudian Taiga kembali mendekat, membuka kemejanya dan menyampirkannya pada tubuh Hazuki, “Sana cepat naik, aku tidak akan mengintip, ahahaha,” Taiga berbalik dan detik berikutnya Hazuki sudah melarikan diri sebelum Taiga sempat berbalik.

.

“Hazuki, sudah jam enam, ayo berangkat,” suara ketukan di pintu membuat Hazuki buru-buru menggunakan stiletto nya. Dia boleh tomboy tapi dibesarkan dengan tepat oleh keluarga yang tepat membuatnya tidak canggung berdandan seperti sekarang.

Saat Hazuki membuka pintu, betapa kagetnya ia melihat Taiga hanya berpakaian non formal seperti biasanya. Celana jeans, kaos hitam dan kemeja hitam yang sengaja tidak dikancing dengan lengan digulung hingga siku.

“Kok? Kita makan di restoran mewah, kan?” tanya Hazuki bingung.

“Iya, seperti permintaanmu,” kata Taiga santai, “ngomong-ngomong kau cantik sekali,” Hazuki menggunakan sackdress tanpa lengan berwarna ungu tua, dan stiletto hitam yang tampak pas sekali di kakinya.

“Kalau begitu aku ganti baju lagi deh!” namun lengannya keburu ditahan oleh Taiga, “Kita akan telat jika kau ganti baju terus. Ayo berangkat!”

Dugaan Hazuki benar, Taiga membawanya ke le femme, sebuah restoran Prancis yang agak jauh dari hotel mereka. Hazuki mendengar bahwa restoran mewah ini memang dikenal dengan makanannya yang enak, jangan coba-coba datang tanpa reservasi, dijamin kalian hanya akan gigit jari. Semua meja pasti sudah penuh dipesan hari sebelumnya.

Begitu sampai, Taiga membukakan pintu untuk Hazuki, menuntun gadis itu ke dalam restoran tapi kemudian naik satu tingkat ke sebuah ruangan yang agak berbeda dari suasana di bawah.

Taiga mengetuk pintu kayu di depannya, tak lama seorang pria bule menyambutnya, “Taiga-kun!!” oh! Dia bisa berbahasa Jepang.

“Perkenalkan, ini Arnold, dia temanku dan pemilik tempat ini,”

“Oh! Ini yang kau ceritakan di telepon tadi?” Taiga mengangguk. Bahasa Jepangnya terdengar aneh di telinga Hazuki, “Silahkan masuk Kirie-san,” Hazuki mengangguk dan sebelum Hazuki terlalu jauh ia bisa mendengar Arnold berkata, “Pintar juga cari pacar ya, Taiga-kun,” dan Taiga tidak menyanggahnya bahkan malah berkata.

“Bukan dia bukan pacarku, dia calon istriku,” sukses membuat Hazuki ingin menimpuknya jika tidak ingat dia ada di rumah orang.

***

Mata Yua melihat keluar jendela, pemandangan yang tak asing membuat hatinya menghangat. Suara rel beradu dengan roda kereta api entah kenapa selalu menentramkan hatinya, karena dia akan pulang.

“Makasih ya mau ikut pulang,” Yua menoleh, ada Kouchi yang duduk di sebelahnya.

“Aku juga sudah kangen pada Ibu,” ujar Yua, “Yaaahh, sudah hampir setahun lebih aku tidak pulang karena sibuk bekerja dan kuliah, Ibu pasti kesepian,”

“Ada adik-adikmu yang menemaninya,”

“Adikku hanya bisa bikin repot!” seru Yua dengan maksud bercanda.

“Walaupun merepotkan tapi Yua selalu membela mereka, aku ingat wajahmu saat membela adikmu dari berandalan, kau sungguh berani. Yaaa, tapi berani dan bodoh kadang sulit dibedakan!” perkataan Kouchi sontak membuat keduanya tertawa. Kejadian sudah lama sekali. Saat itu Yua sudah SMA dan adik laki-lakinya yang masih SMP diganggu oleh berandalan. Yua menghadang berandalan itu walaupun akhirnya melarikan diri dibantu oleh Kouchi.

Tidak sampai satu jam kemudian mereka sampai di stasiun, biasanya bisa saja sampai di rumah lebih cepat menggunakan taksi tapi keduanya memilih untuk berjalan kaki. Satu persatu bangunan di sana seperti menyambut mereka. Semuanya memiliki kenangan untuk keduanya.

“Itu, tempatmu menungguku setiap pagi sebelum berangkat sekolah,” Yua menunjuk sebuah bangku panjang yang terlihat sudah lapuk, berwarna coklat.

Kouchi mengangguk, “Kalau dipikir-pikir aku ke sini setiap hari selama….” Kouchi melipat tangannya untuk menghitung, “Dua belas tahun? Wooww,” Sekolah mereka dari SD hingga SMA memang satu komplek sekolah sehingga rute mereka selalu sama selama dua belas tahun hingga mereka lulus.

“Sebelum ke rumah, kita beli es krim di Gori-san, yuk!” Yua menunjuk sebuah toko kecil yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. Kouchi mengiyakan dan mereka pun memutuskan untuk makan es krim di taman yang tidak jauh dari toko itu.

Es krim milik Toko Gori memang berbeda dari tempat lain. Semuanya buatan sendiri dan dengan buah-buahan segar yang tidak sama dengan tempat yang lain. Jika musim panas tiba, tempat Gori-san pasti penuh bahkan harus buru-buru agar tidak kehabisan stok.

“Aaaa Natsukashiii~” Yua menggigit es krim rasa strawberry nya, “Sudah lama aku merindukan es krim Gori-san,” Yua memperhatikan Kouchi yang juga asyik memakan es krimnya, “Kou-chan…” panggilnya.

Kouchi menoleh, “Hmm?”

“Soal yang kemarin, soal jawabanku padamu,”

“Yua –chan punya waktu tiga bulan untuk…”

Yua menggeleng, “Aku sebenarnya sudah punya jawabannya, itulah kenapa aku setuju ikut Kou-chan ke sini,” gerakan Kouchi terhenti, ia sudah fokus sepenuhnya pada Yua, “Kou-chan, aku tidak bisa menyukaimu, sekarang kita hanya sahabat, ya…”

Kouchi terlihat kaget namun akhirnya tertawa, “Kalau begitu jangan menyesal nanti aku cari pacar yang elbih cantik dari Yua-chan! Ahahaha,”

“Kou, gomen,” sebuah hubungan pacaran tidak selalu mulus. Bagaimana jika mereka bertengkar sebagai pasangan? Bagaimana jika akhirnya mereka malah saling membenci karena memiliki perasaan spesial? Yua tidak sanggup membayangkan Kouchi menghilang dari hidupnya maka ia memutuskan untuk lebih baik terus seperti ini, menjadi sahabat Kouchi.

Wakatta, aku pergi duluan ya,” tanpa bisa Yua cegah Kouchi berbalik, meninggalkan Yua. Sementara hanya Tuhan yang tau bahwa saat ini Kouchi melenggang pergi dari Yua karena ia tidak ingin air matanya terlihat oleh Yua.

Sudah berakhir. Kouchi harus tau diri, Yua tidak pernah menyukainya seperti dirinya menyukai Yua. Selama ini Kouchi memang hanya sahabat untuk Yua. Tidak lebih.

***

“Kenapa theme park?” tanya Aika melihat ke sekeliling mereka, tertangkap di sini lebih mungkin karena terlalu banyak orang, Aika tidak ingat semua wajah pengawal Ayah, ini akan jadi buruk.

“Karena ini hari libur dan aku ingin ke sini,” ucap Juri santai, “Kenapa nengok-nengok terus sih?” Juri heran sejak sampai Aika terus menyembunyikan mukanya di balik lengan Juri.

“Ini tempat ramai kita bisa saja bertemu pengawal Ayah!” Aika kesal karena Juri sangat santai seakan-akan mereka ini pasangan biasa bukan ‘buronan Ayah’ seperti yang Juri bilang.

Juri menarik tangan Aika mendekat padanya dan memakaikan topi yang sedang dipakainya kepada Aika, “Oke persiapan selesai, tuan putri, tidak akan ada yang mengenalimu,” lalu menarik tangan Aika setelahnya.

“Semuanya akan baik-baik saja, uhmm.. roller coaster?” tawar Juri yang langsung disambut senyuman oleh Aika.

“Okay!”

Mudah sekali membuat gadis ini kembali bahagia, pikir Juri. Karena ini akhir pekan, mereka memang harus mengantri untuk beberapa wahana, terutama yang terkenal dan cukup menantang, tapi Aika bersikeras untuk menaikinya sehingga mereka bahkan harus menunggu hingga satu jam sebelum naik ke satu wahana.

“Aduh… kakiku sakit,” keluh Aika ketika keduanya sedang mengantri untuk wahana arum jeram, ia memukul-mukul betisnya untuk menghilangkan sedikit kekakuan pada kakinya.

“Kita beli sandal saja ya? Boots ini terlalu tinggi untuk berjalan jauh,” ucap Juri, menatap sepatu boots yang dipakai oleh Aika. Tapi gadis itu menggeleng. Juri ikut menggeleng, keras kepala juga gadisnya, dan dengan satu gerakan cepat Juri membopong Aika, membuat kegaduhan di sekitar mereka.

“Ihhh.. apa-apaan siihh?!” Aika memukul pelan dada Juri, tapi wajahnya jelas terlihat bahagia, “Turuniinnn!” Aika mencubit pipi Juri, akhirnya pemuda itu menurut, “Oke-oke kita beli sendal setelah ini,”

Juri tersenyum penuh kemenangan, “Nurut makanya,” Aika hanya membalasnya dengan tinjuan pelan di lengan pemuda itu, “Oh ya, habis ini ikut aku ke suatu tempat yuk!”

“Main rahasia-rahasiaan lagi?” langkah mereka maju beberapa meter karena antrian yang hampir di depan, “Ke mana?”

“Rahasia,” ucapnya lagi, tapi Aika enggan berdebat dan memilih untuk menikmati hari ini. Terutama di tempat antrian, saat Juri memeluknya dari belakang, tangannya yang melingkari lehernya sambil mereka mengobrol banyak hal, bahkan hal-hal yang baru saja Aika ketahui padahal mereka sudah berteman sejak dulu. Begitu banyak yang bisa diceritakan sehingga antrian tidak pernah terasa lama.

.

Waktu hampir menunjukkan pukul lima sore saat Aika dan Juri akhirnya keluar dari theme park. Juri mengajak Aika naik bis ke tempat-rahasia yang Juri janjikan. Aika merasakan semua orang memandanginya. Terima kasih kepada Tanaka Juri, dia jadi pusat perhatian semua orang.

“Ini semua gara-gara Juri-kun!” protes Aika.

“Salahku? Ini kawaii sekali ko,” pandangan Juri beralih pada sendal bulu berwarna coklat yang ada di kaki Aika, bahkan ada kepala kucingnya. Tadi saat Juri bilang membeli sendal untuk Aika, pemuda itu datang dengan sandal berbulu ini dan bersikeras agar Aika memakainya.

Sisa perjalanan itu Aika tetap mengomel soal sendal yang ia pakai sementara Juri hanya mengangguk-angguk mendengarkan celotehan Aika, “Ayo sudah sampai,” Juri menarik tangan Aika dan kali ini Aika baru sadar di mana mereka berada.

“Yang benar saja!! Waaaa sudah lama sekali tidak kesini!” Aika berlari kecil saat melewati gerbang sekolah mereka. Ternyata Juri mengajaknya ke sekolah SMA mereka.

“Lokerku!” Aika menunjuk ke nomor 213, lokernya, tidak ada yang istimewa di situ apalagi mengingat hampir setiap hari ada saja kertas-kertas berisi makian keluar dari lokernya hingga suatu hari tiba-tiba kertas-kertas itu menghilang. Walaupun mereka tidak mau mengakuinya, sebenarnya Hokuto, Hazuki, Juri dan Taiga yang membersihkan lokernya setiap hari sebelum Aika pulang. Karena Aika pernah memergoki Hokuto dan Hazuki membersihkan lokernya suatu hari.

“Pinjam dulu sepatu bersih mereka ah,” kata Juri sambil berganti sepatu putih milik sekolah, Aika mengikutinya.

Langkah mereka sejajar, menatap kelas demi kelas yang mereka lalui, “Kelas kitaaa!!” Aika membuka pintu kelas 1-D, masih sama terlihat hanya beberapa hiasan kelas yang berbeda.

Juri duduk di bangku paling belakang sementara Aika tiga bangku di depannya, “Ingat Matsumoto-sensei? Semua gadis berebutan duduk di depan jika pelajarannya! Ahahaha,”

“Dan Ohno-sensei! Aku ingat karena dia memberiku nilai lima puluh untuk gambarku, huh! Mengesalkan!” Aika menoleh ke belakang, “Walaupun masa SMA ku tidak bisa dibilang sempurna, tapi aku bersyukur karena bisa berteman dengan Juri-kun, Hazuki, Hoku-tan dan Taiga-kun,”

“Ah! Ada satu tempat lagi yang harus kita datangi!”

Juri menggandeng tangan Aika, mereka masih bercerita soal masa lalu dan itu menyenangkan, “Ini dia,” tangga yang menuju ke atap sekolah, tempat Aika dan Juri biasanya makan siang berdua sampai ketiga temannya lain akhirnya ikut makan di situ.

Aika duduk disalah satu anak tangga, “Juri-kun dulu menemukanku di sini,”

“Sebenarnya aku menguntitmu,” Juri berseloroh, membuat Aika tergelak, “Aika, saat kita keluar dari gedung ini, kamu akan dijemput oleh Yasui-san,”

Seketika Aika berhenti tertawa, mukanya tiba-tiba terlihat panik, “Kenapa bisa?”

“Aku yang menghubunginya, dan sudah saatnya kamu pulang, Orang tuamu khawatir,”

“Kenapa? Juri-kun tidak mau bersamaku?” air mata sudah tergenang di mata Aika, “Jadi Juri-kun ingin berpisah denganku?”

Juri menggeleng, “Aku tidak ingin berpisah denganmu, tapi kurasa sudah saatnya aku,” Juri menarik tubuh Aika ke dalam pelukannya, “sadar diri,”

“Jadi… ini,” Aika menangis semakin kencang, “Perpisahan?”

Juri mengangguk, Aika memeluk Juri semakin kuat, “Aku tidak mau,”

Percayalah, aku pun tidak mau berpisah denganmu, bisik Juri dalam hati yang kini hanya bisa memeluk Aika.

***

Hari pertama sekolah setelah libur musim panas selalu menjadi hari paling frustasi bagi Sonata. Harus kembali bangun pagi, menyiapkan bekalnya, menyeret dirinya sampai ke sekolah adalah hal yang paling ia benci. Apalagi khusus hari ini dia harus menghadapi Shintaro setelah ‘pernyataan cinta’ nya tempo hari. Memang Shintaro bilang akan memikirkannya, tapi dia pun tak sanggup mendengar jawaban dari Shintaro.

“Kau kan bodoh Sonata, ngapain pake acara nembak Shin-kun segala?!” makinya pada diri sendiri saat akhirnya ia berhasil sampai di sekolah tepat waktu. Ia melihat bangku milik Shintaro masih kosong, atau sedang kosong ditinggal pemiliknya, membuat dirinya agak lega.

Ohayou,” tepat saat Sonata menyimpan tasnya, Shintaro sudah berdiri di sebelahnya.

O-oha-you,” Sonata menggerak-gerakkan matanya bingung lalu tersenyum canggung pada pemuda itu, “Aku harus bertemu Ai-chan! Jya ne!” Sonata segera kabur dari hadapan Shintaro.

Begitulah Sonata terus menghindar dari Shintaro seharian ini. Bahkan makan siang pun Sonata langsung bergabung dengan teman-teman sekelasnya tanpa menoleh pada Shintaro yang seakan ingin berbicara kepadanya. Hingga Shintaro akhirnya mengalah dan berlalu dari kelas, entah kemana.

“Sona-chan,” Sonata melihat Airin sudah ada di depan kelasnya.

“Ai-chaaann!”

“Makan siang bareng aku, yuk!” Sonata setuju dan pamit kepada teman sekelasnya.

“Tadi aku bertemu Shin-kun di lorong,” kata Airin, langkah mereka sejajar, Sonata hanya mengikuti langkah Airin, “Aku memberi taunya soal Hoku-nii,”

“Eeehh?”

“Sebenarnya aku memberi taunya lewat pesan semalam, dan tadi saat berpapasan, dia mengucapkan selamat padaku,” kata Airin lagi.

Souka,”

“Dan aku tau dari Shin-kun, Sona-chan menyatakan perasaannya pada Shin-kun, kan?”

Mata Sonata otomatis melirik pada Airin, “Ugh, ngapain sih Shin-kun cerita segala?”

“Sona-chan habisnya tidak cerita padaku, aku kan masih sahabat Sona-chan,”

Gomen, habis aku malu menceritakannya padamu,”

“Okay, sudah sampai, Shin-kun, ini hadiahnya sudah aku bawa,” ketika sadar ternyata Airin membawa Sonata ke atap sekolah dan Shintaro ternyata sudah ada di tempat itu, Sonata hendak berbalik namun lengan Airin menahannya, “Ayo hadapi dia, jangan kabur-kaburan terus!”

“Sona-chan,” Shintaro mendekati Sonata setelah Airin berlalu dari tempat itu.

“Hey,” sapa Sonata dnegan canggung.

“Sona-chan masih ingin jawaban dariku?” suara Shintaro lebih lembut dari biasanya, mebuat Sonata merasa seidkit aneh, “Aku tidak mau,”

Shintaro menolaknya. Tuh kan Sonataaa!! Shintaro tidak menyukaimu!! Seru Sonata kepada dirinya sendiri.

“Oh, ahahaha, iya…. wakatta,”

“Tidak kau tidak mengerti!” bentak Shintaro membuat Sonata terdiam, “Aku tidak mau Sona-chan yang menembakku, aku ingin aku yang menyatakan cintaku,”

Sonata menatap Shintaro dnegan dahi mengerenyit.

“Aku rasa.. aku juga menyukai Sona-chan,” detik berikutnya Shintaro mendekati Sonata, menariknya dalam pelukan. Sementara Sonata masih mematung seakan dirinya bermimpi.

“Eh? Eh?” Sonata mendorong Shintaro, “Katakan sekali lagi!!”

Shintaro menggeleng, “Gak mau aahh!! Aku hanya mengatakannya sekali ya!”

“Shin-kun!!” Shintaro masih menolak memenuhi permintaan Sonata hingga waktu makan siang akan habis dan mereka harus segera kembali ke kelas.

***

To Be Continue

Advertisements

4 thoughts on “[Multichapter] Little Things Called Love (#13)

  1. sparklingstar48

    Aaaaa yatta akhirnya update xD
    Kak gatau kenapa aku suka chap 13 walaupun ada beberapa yg jlebnyess ada yg sweet ><
    Part jesse-ruika, Juri-aija sama2 nyesek, huhu kalian jangan putus dong :" udh kalian bareng2 ajaa :"
    Yugo-yua paling nyesek:( duh frenzone bahaya bgt ya 😂😂😂
    taiga-hazuki baikan dong, jangan marahaan, kan mau nikah #eh
    Yattaa hoku-airin, shin-sona jadian yay xD#ygpunyaocsenengbanget #bawelnunbawel

    Reply
  2. kyomochii39

    ciyeeee hoku-airin sama shin-sona lagi bahagia ciyeeeeee 😂😂
    jesse-rui, juri-aika nya keren banget kaaaaak!!!!!!!!!!! semoga mereka bahagia~
    hazutai selalu punya dunia sendiri! abaikan mereka /heh/ *favorite adegan kolam renangnya ><

    dan yua-yugo, sankyuuu sudah sesuai pesanan kak din 😘😘😘
    meskipun nyesek di yugonya sih… tapi aku juga sependapat sama yua!!
    aku pribadi, ga pernah percaya yang namanya sahabat jadi cinta! wkwkwkwk

    Reply
  3. elsaindahmustika

    AKHIRNYAAAA SONAAA SHINNNN!!! WOHOOOOOOO *heboh
    tengkyu kak din;* but emang dasar bocah ya, jadiannya lucu:3

    buat hokunii sama ai-chan omedetou!! akhirnya hokunii mengakuimu 😂 hokunii sih tipe2 tsundere dikit wkwk sibuk juga kasian kakakku *plak

    rui jess kasian huhu sama kayak juri aika, mereka lagi galau2an, semoga cepet beres ya masalahnya, rumit banget mereka ber4😂

    hazutai enjoy2 aja kayaknya, walaupun ada problem dikit, tapi taiga nya romantis aaaaaa balon2 itu sona juga mauuu *dibuang

    and last, whyyyyy yua yugooo arghhhh aku sedihhh aaaaa kouchi-sensei kasian, tapi yua-channya juga gak ada pilihan, sini sona peluk:’v *digatak yugo

    Reply
  4. magentaclover

    Halo kak… good job for this chapter, otsukaresamaaa~

    Aku selalu suka hokuairin, syukur deh mereka udah yg manis2 XD selamat juga buat shinsona mereka lucu banget dan aku selalu suka sona dia imoutou aku yg manisssss! Airin jg imoutou aku yg cantikkkk (?)

    J2, aika, ruika jd ngenes2 nya ya tapi gpp deh aku suka kok ada manis2 nya juga part aikajuri~ tapi kalo misalnya ini udh mau end aku merasa kurang puas sm ruika x jesse

    Buat yugo x yua kasian yugonya tapi it’s okey karena dr awal yugo udah ngelemparin pilihan itu~ dan hazutai selalu begitu mereka beda negara dan beda kisah (lol) tapi tetep ya sifat taiga aku suka dan hazuki pun aku suka XD

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s