[Multichapter] Desire Or Love? (Chap 6)

Desire or Love?
By: kyomochii
Genre: Friendship, Romance, Drama
Rating: PG-13 (agak NC?)
Cast: Ichigo Yua, Morita Mirai (OC), Kouchi Yugo, Jesse (SixTONES), Chinen Yuri, Yamada Ryosuke (HSJ), Morita Myuto (Travis Japan)
Disclaimer: Semua Cast cowok dalam cerita ini under talent agency Johnny’s & Associates dari berbagai grup yang berbeda, bisa ada, bisa tidak tiap chapternya, tergantung mood author :p
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Akhir pekan, sesuai rencana, mereka akan pergi merayakan lolosnya tim basket putri ke final di villa keluarga Morita. Namun, pada akhirnya hanya Mirai, Yua, Jesse, Yugo dan Myuto, berlima saja yang berangkat. Tanpa sepengetahuan Yua, Yugo ternyata sudah mengundang Yamada dan Chinen untuk pergi bersama mereka.

Selama perjalanan, Yua duduk di antara Chinen dan Yamada di bangku tengah, karena Mirai merengek meminta duduk di depan, menemani Yugo yang sedang menyetir. Sedangkan Jesse dan Myuto sukarela menawarkan diri duduk di bangku belakang. Merasa tidak nyaman, Yua memutuskan untuk tidur sepanjang perjalanan.

“Hei, beruang! Sudah sampai, jangan molor mulu!” Yua merasakan tangan seseorang mencubit pipinya, membuatnya terbangun. “Aduh, sakit tahu, Yuu!”

“Habisnya molor mulu, kasihan Jesse sama Myuto jadi gak bisa keluar tuh.” Yugo menarik lembut tangan Yua untuk segera keluar sambil membantu merapikan barang-barang yang dibawa gadis itu.

“Perlu bantuan?” Chinen yang berada tepat di belakang Yugo menawarkan bantuan melihat Yua jalan terhuyung, masih setengah sadar.

“Tidak, terima kasih.” Yua terpaksa menolak karena tidak ingin mengacaukan moodnya hari ini.

“Selamat datang di Villa keluarga Morita dan selamat bersenang-senang! Ada yang mau ikut aku ke pantai?” Begitu keluar dari mobil, Myuto langsung berlari ke arah pantai diikuti Jesse.

Yua memilih pergi ke kamar untuk menata barang bawaannya bersama Mirai. Saat tidak sengaja melihat kalender yang terpajang di dinding kamar, Yua tiba-tiba teringat sesuatu.

“Mirai, kamu tahu gak kalau ulang tahun Yamada-senpai itu tanggal 9 mei?”

“Eh, serius? Bentar lagi dong?”

“Gimana kalau kita bikin perayaan kecil-kecilan biar acara menginap kita lebih seru?”

“Boleh sih. Tapi kita gak punya kue ulang tahunnya.”

“Kalau itu, aku bisa meminta Chinen-kun untuk mengajariku, asalkan ada bahan dan peralatannya. Kue buatan Chinen-kun enak banget lho.”

“Di dekat sini ada toko 24 jam, mungkin kamu bisa mencari bahan-bahan seadanya di sana. Kalau dapur, tenang saja dapur kami memiliki perlengkapan super lengkap gak kalah dengan restoran bintang lima.”

“Beres deh! Aku akan meminta bantuan Chinen-kun setelah ini.”

Setelah membeli semua bahan, Yua dibantu Mirai menyiapkan peralatan yang dibutuhkan sesuai instruksi Chinen. Yugo, Jesse dan Myuto memiliki tugas menyibukkan Yamada. Yua belajar banyak hal tentang teknik-teknik membuat kue dari Chinen. Meskipun lebih banyak mengganggu daripada membantu, Yua dan Mirai merasa puas dengan kue buatan mereka yang tampak sangat lezat dan menggoda.

“Tinggal menghiasnya saja.” Chinen mengelap dahinya meski tidak ada keringat yang menetes sebagai simbolis kalau dia sudah bekerja keras.

“Urusan hias-menghias, serahkan saja pada Yua karena ini untuk ulang tahun idolanya. Eh…” Mirai refleks menutupi mulutnya karena merasa sudah mengatakan hal yang tidak perlu. Mirai melihat ekspresi terkejut di wajah Chinen dan merasa sangat tidak enak.

“Sebagai fans yang baik, akhirnya aku bisa memberikan ucapan terima kasih juga ke Yamada-senpai, karena sudah menjadi idola yang gak pernah mengecewakan untukku dan juga Yuu-chan. Serahkan saja padaku untuk urusan hias-menghias.” Yua mulai menyibukkan diri menghias kue ulang tahun Yamada, tidak berani melihat wajah Chinen yang terus memperhatikannya.

Yamada sangat terkejut, tidak membayangkannya sedikit pun karena memang hari itu masih belum hari ulang tahunnya. Mengetahui kalau Yua yang merencanakan semua ini, tanpa sadar Yamada memeluk dan mengecup kening gadis itu. Membuat seseorang, dua orang termasuk Yua sendiri, tidak tahu bagaimana mengatakannya, tidak enak?

Merasa serba salah, Yua menarik Yugo, menjelaskan ke Yamada kalau dia melakukan semua ini tidak terlepas dari peran Yugo yang mempengaruhinya, membuatnya mengidolakan Yamada juga.

Malam itu terasa sangat panas, sepertinya hujan akan turun. Yua tidak bisa tidur, dia berjalan menuju teras. Ada seseorang di sana, Chinen. Ragu-ragu Yua mendekati Chinen dan duduk di sebelahnya. “Tidak bisa tidur?”

“Sejak kejadian malam itu, setiap malam aku sering memikirkan seberapa jauh yang sudah kuperbuat padamu, karena sejujurnya aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Sekarang malah jadi kebiasaanku, tidak tidur di bawah jam 12 malam.” Tidak tahu harus berkata apa karena tiba-tiba Chinen membahas kembali kejadian malam itu, jujur masih meninggalkan trauma bagi Yua.

Melihat Yua yang terdiam, Chinen tidak tahan untuk tidak mengatakan apa yang ada di pikirannya. “Jadi kamu sudah lama menyukai Yamada? Mengidolakannya? Kenapa waktu itu kamu tidak jujur padaku?”

“Waktu itu?” Yua mengulang pertanyaan Chinen, tidak mengerti.

“Waktu pertama kali aku mengajakmu ngobrol dan bertanya bagaimana kamu bisa kenal Yamada. Kamu cuma bilang karena Yugo yang sangat mengidolakannya. Tahunya kamu sendiri juga mengidolakannya! Atau jangan-jangan kamu pernah mengharapkan untuk menjadi kekasihnya? Kalau begitu seharusnya bukan aku yang mendekatimu. Kamu pasti kecewa.” Merasa panas karena dituntut menjadi satu-satunya pihak yang disalahkan, Yua sedikit membentak membalas perkataan Chinen.

“Iya aku kecewa. Aku berharap bukan kamu yang mendekatiku, tapi Yamada-senpai. Aku berharap tidak pernah berpacaran denganmu tapi dengan Yamada-senpai. Aku sudah mengidolakannya sejak kelas satu. Sedangkan kamu, aku sama sekali tidak mengenalmu sampai kamu mengajakku ngobrol hari itu. Aku juga heran bagaimana aku bisa menerimamu menjadi kekasihku.” Chinen sedikit terkejut mendengar suara Yua yang membentaknya, tapi bergetar seolah gadis itu memaksakan untuk mengatakannya. Chinen tahu itu kenyataanya, tapi dia tidak yakin apa itu perasaan Yua yang sesungguhnya saat ini.

“Kamu menyalahkanku seolah hanya aku yang tidak jujur padamu. Bagaimana denganmu? Kamu dari kelas satu selalu menyukai satu orang, Yuki-senpai kan?” Yua puas bisa melihat wajah terkejut dan salah tingkah Chinen. Yua harus meluapkan semua kekesalannya sekarang. Mumpung ada kesempatan.

“Tapi kamu pengecut. Karena Yuki-senpai selalu menolakmu, kamu akhirnya menjadikan Meiko pelarianmu.” Emosi Yua sekarang sudah mencapai puncaknya.

“Meiko?” Chinen hendak menyela, namun Yua masih belum ingin menyerah.

“Karena mengetahui hanya dijadikan pelarian olehmu, akhirnya Meiko memutuskanmu! Tapi kamu masih mengejarnya, masih memanggilnya ‘honey’ bahkan setelah berpacaran denganku. Aku memang bodoh! Tidak hanya polos seperti kata teman-temanku, tapi aku sangat sangat bodoh bisa jatuh ke permainan cinta cowok sepertimu! Lalu sekarang kamu mencoba baik-baik kepadaku. Buat apa? Aku sudah tidak akan mau balikan lagi denganmu, selamanya. Catat kata-kataku, aku tidak akan kembali padamu selamanya!”

Yua merasakan tenggorokannya tercekat karena berbicara terlalu keras. Yua hanya berharap suara kerasnya tidak sampai membangunkan teman-temannya yang sudah tertidur di kamar mereka. Suasana masih hening di antara mereka, membuat Yua bisa memastikan kalau teman-temannya tidak sampai terbangun oleh suaranya.

Tidak ingin berlama-lama di dekat Chinen, karena takut emosinya tidak bisa terkontrol lagi dan membuatnya berteriak lebih keras sehingga berpotensi membangunkan teman-temannya kali ini, Yua memutuskan kembali ke kamar.

Belum sempat Yua berbalik, Yua merasakan tangannya ditarik, membuatnya terjatuh dalam pangkuan Chinen. Sedetik kemudian, pemuda itu sudah mendaratkan bibirnya di atas bibir gadis itu. Yua meronta, berusaha menolak, tapi percuma. Cengkeraman Chinen kali ini sangat erat, bahkan dalam keadaan sadar. Chinen menarik wajahnya menjauh sejenak lalu bibirnya kembali ditekankannya di atas bibir mungil gadis di depannya, kali ini memaksakan lidahnya masuk ke dalam mulut terkunci Yua.

Tes. Yua merasakan setitik air mata menetes di pipinya. Tapi dia tidak menangis. Dilihatnya wajah Chinen yang berada tepat di depan wajahnya dengan bibir mereka saling menempel, dari matanya yang terpejam keluar air mata. Yua dapat merasakan nafas memburu Chinen tepat di wajahnya. Semakin didengarkan, tidak hanya detak jantungnya yang berdetak kencang karena rasa takut, detak jantung pemuda yang memeluknya itu juga sama kencangnya.

Apa dia juga takut? Apa dia sadar dengan apa yang dilakukannya? Tanpa sadar tangan Yua sudah mendarat di pipi Chinen, menghapus air mata pemuda itu.

Masih tidak rela, akhirnya Yua sedikit membuka bibirnya, membiarkan lidah Chinen mendobrak masuk di antara gigi-giginya, menari indah di atas lidahnya. Yua bisa merasakan sebagian air liur Chinen sudah bercampur dengan miliknya, dan tanpa sadar menelannya. Chinen mengeluarkan lidahnya lalu memasukkannya lagi, berulang kali hingga Yua mulai merasa terbiasa dan melakukan hal yang sama. Lidah mereka saling bertautan, tak ingin kalah, tangan Yua kini sudah memegang kedua pipi Chinen, mensejajarkan wajahnya, memaksa lidahnya memasuki mulut Chinen, menekankan lidahnya di atas lidah Chinen, menikmati langit-langit mulut Chinen, membiarkan air liurnya kini bercampur di dalam mulut Chinen, memaksa pemuda itu menelannya juga.

“Apa kamu mau melakukannya denganku, Yua-chan?” Yua tidak berani menjawab, dia terus membungkam mulut Chinen dengan ciumannya bertubi-tubi menghalangi pemuda itu mengatakan hal lebih jauh lagi. Aku takut.

“Aku sekarang sedang tidak mabuk. Kalau kamu tidak menginginkannya, kamu bisa langsung lari meninggalkanku.” Chinen berusaha mengucapkan kata-katanya di sela-sela ciuman mereka. Yua dapat merasakan tangan Chinen mulai membelai pahanya, membuatnya terangsang. Masih tidak menjawab, Yua memasukkan lidahnya ke mulut Chinen lagi dan lagi, berharap pemuda itu ikut sibuk membalas ciumannya. Tapi Chinen sekarang tidak hanya meraba paha Yua, tangannya mulai membuka kancing hotpants yang dikenakan Yua, memasukkan tangannya.

Aku takut. Tapi aku lebih takut kenapa aku tidak menolaknya? Kenapa aku membiarkan Chinen-kun melakukan ini padaku? Seseorang tolong hentikan aku. Hujan mulai turun membuat desah mereka berdua teredam bunyinya.

Klontang. Bunyi sesuatu terjatuh dari arah dapur. Ada seseorang yang terbangun. Buru-buru keduanya membenarkan posisi masing-masing. Yua bangkit dari tempatnya, berjalan menuju dapur, berharap menemukan seseorang memang benar-benar terbangun dan berdiri di sana.

Yamada-senpai! Terima kasih sudah menyelamatkanku. Tanpa sadar Yua berlari ke arah Yamada dan memeluknya. “Yua-chan?”

“Gomen. Aku tadi sempat mengira ada hantu di dapur. Begitu aku melihat Yamada-senpai, aku merasa lega dan tanpa sadar memelukmu.”

“Hantu?” Yamada sedikit skeptis dengan penjelasan Yua.

“Tadi aku sedang di teras dengan Chinen-kun karena sama-sama tidak bisa tidur. Tiba-tiba saja hujan dan terdengar bunyi klontang dari dapur, jadi Chinen-kun menakutiku dengan cerita hantu. Aku memutuskan untuk kembali ke kamar, tapi karena penasaran, jadi aku mengecek dapur dan mendapatimu berdiri di sini.” Yamada mencoba mempercayai cerita Yua, lalu meminta maaf karena tidak sengaja menjatuhkan loyang kue saat mengambil gelas sehingga menimbulkan suara yang mengagetkan Yua.

“Sekarang mau kembali ke kamar bersamaku?” Yamada membelai kepala Yua, mencoba menenangkannya. “Iya.” Yua mengikuti Yamada sedekat mungkin. Tampak benar-benar ketakutan, pikir Yamada.

Keesokan hari, mereka memutuskan untuk pulang pagi karena Yamada dan Chinen harus kembali ke Tokyo menggunakan kereta sore hari itu.

Dalam perjalanan pulang, Yua berhasil merayu Mirai untuk bisa duduk di depan di samping Yugo. Mirai menggantikan Yua duduk di tengah bersama dengan Myuto dan Yamada, sedangkan Chinen pindah ke belakang bersama Jesse.

Melihat keanehan yang terjadi pada sahabatnya, Yugo tidak melepaskan tangannya dari Yua sejak turun dari mobil dan memberikan kunci mobil ke Myuto begitu sampai di depan rumah mereka. Yugo tahu, Yua tidak akan pernah menceritakan hal yang sensitif kepadanya. Tapi selama Yua belum mendapatkan ketenangannya kembali, Yugo sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan sisi Yua.

Melihat keanehan pada sikap Yua, Chinen menyadari satu hal yang harus dia lakukan. Dia mengambil ponselnya, mulai mengetik dan mengirimkannya ke Yua.

“Yuu-chan, aku mau tidur dulu. Soalnya semalam aku gak bisa tidur.”

“Oke, nanti malam aku akan menjemputmu untuk makan malam di rumah.” Setelah memastikan Yua memasuki kamarnya, Yugo mengunci pintu depan rumah Yua. Keluarga Kouchi selalu mempunyai kunci cadangan rumah keluarga Ichigo, karena di rumah itu lebih sering ditinggali seorang gadis sendiri daripada keluarga yang lengkap sebagaimana keluarga kebanyakan.

Sebelum tidur Yua merapikan barang-barangnya, mengeluarkan ponsel dari poketnya. Dilihatnya ada sebuah pesan, dari Chinen. Yua menyiapkan diri, lalu membukanya.

From: Chinen Yuri
Aku tidak tahu apa yang kamu pikirkan tentang apa yang
kita lakukan semalam. Sepertinya kita harus melupakannya
demi kebaikan masing-masing.
Terima kasih untuk semuanya.

Yua benar-benar tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang. Sepertinya dia sudah mulai terlatih patah hati. Tak ada setetes air mata pun yang keluar dari matanya meskipun rasa di dadanya sedang berkecamuk.

From: Ichigo Yua
Kenapa?

From: Chinen Yuri
Lalu apa yang kamu inginkan? Apa kamu akan kembali
padaku kalau kita tidak harus melupakan kejadian
semalam?
Kenapa kita harus mengingatnya kalau kita tetap harus
berpisah?

“………Aku sudah tidak akan mau balikan lagi denganmu, selamanya. Catat kata-kataku, aku tidak akan kembali padamu selamanya!”  Kata-kata yang diucapkannya semalam, kembali bermain di pikiran Yua. Benar. Buat apa aku kembali padanya? Malam itu dia tak menjelaskan apa-apa hanya tiba-tiba menciumku. Yua mulai berdebat dengan dirinya sendiri, mencari kebenaran tentang apa yang harus dan akan dia lakukan. Tanpa ada penyesalan, Yua mulai mengetik balasannya.

From: Ichigo Yua
Baiklah aku akan berpura-pura kejadian semalam tidak
pernah terjadi.
Tolong jangan hubungi aku lagi untuk sementara waktu
sampai aku benar-benar bisa melupakannya.
Terima kasih untuk semuanya.

Yua membanting ponselnya, membiarkannya berantakan di lantai, lalu menghempaskan badannya ke tempat tidur, memjamkan matanya, berharap saat terbangun dia akan melupakan segalanya yang terjadi tadi malam.

ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Desire Or Love? (Chap 6)

  1. sparklingstar48

    Ini yua gmn wkwk😂 kisu kisu sm chinen tp lari ke dapur meluk yama 😂😂😂
    Tp gbs bayangin chinen ky gtu😂
    suasananya pas ya, hujan2 gt aaaw untung udh legal baca >< #eh
    Dtunggu next chap kak, ganbatte author :3

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s