[Minichapter] Fallin (chapter 3)

Title: Fallin chapter 3
Cast: Takaki Yuya (HSJ)
Yaotome Hikaru (HSJ)
Yabu Kota (HSJ)
Din (OC)
Genre: Romance
Author: Shiina Hikari
Rating: PG-16
Genre: Romance
Fanfic ini didedikasikan untuk kak Din. Waktu itu kan kak Din pernah request. Gomen lama jadinya karena ada kendala inspirasi yang macet. Maaf kalau ffnya jelek kak Din. o(_ _)o
Silahkan berikan komentar. (^^)

Din berjalan beriringan dengan dengan Yuya. Tidak ada yang bisa Yuya katakan. Yuya hanya diam sepanjang perjalanan mereka.

“Daijoubu Yuya-chan! Aku pasti akan memilihmu!” ucap Din dengan mantap.

Yuya memeluk gadis itu dengan erat.

“Kita tidak akan tahu sampai besok.” ucap Yuya sambil melepaskan pelukannya.

“Aku akan mampir ke rumah temanku. Jadi kamu duluan saja.” tambah Yuya sambil tersenyum.

Yuya berlalu sambil meninggalkan Din. Yuya sedikitpun tidak mau menatap mata gadis itu.

***

Din berbaring di kamarnya. Dia mengambil keitainya dan mulai menekan salah satu nomor.

“Moshi-moshi Dinchan. Doushita no?”

“Un~ Nani mo.”

“Benarkah? Kalau Dinchan malam-malam menelpon, pasti ada masalah. Bagaimana jika kita video call saja? Aku merindukan Dinchan.”

Din merubah pengaturan keitainya menjadi video call.

“Apaan sih? Kita kan baru bertemu tadi siang! Kenapa sudah kangen?” jawab Din sambil ngomel-ngomel.

Yuya tertawa mendengar Din marah-marah dengan wajah yang memerah.

“Oke-oke, ada masalah apa sebenarnya?” tanya Yuya sambil tertawa.

Din diam sejenak dan mengambil nafas panjang.

“Kenapa kamu mau bertaruh dengan Inoo-kun?”

“Hmm… Kenapa ya… Karena aku menyukai Dinchan.”

“Tapi kan Yuya-chan yang memutuskanku!”

“Waktu itu, aku pikir semuanya sudah berakhir. Kamu sudah punya tunangan. Tidak ada harapan lagi untukku.”

“Inoo-kun itu tidak sejahat yang kamu pikirkan kok.” ucap Din dengan lirih.

“Apa? Aku tidak dengar.”

“Bukan apa-apa. Oyasumi.” ucap Din sambil memutuskan sambungan teleponnya.

***

Besoknya, dimulailah perjuangan Yuya dan Ino untuk mendapatkan hati Din. Din tidak masalah dengan pertaruhan mereka. Hanya ia tidak yakin Yuya akan menang. Din duduk di atap sekolahnya. Dia duduk sendirian. Dia tidak ingin diganggu oleh Yuya dan Inoo. Disisi lain, Yuya dan Inoo sedang mengintip Din dibalik pintu di atap sekolah. Mereka berdua baru saja berlari mencari Din di seluruh sekolah. Tadinya mereka ingin berlomba mengajak Din makan siang, tapi niat mereka terhenti ketika melihat Din duduk terdiam sambil menatap sedih kearah langit. Din menatap kosong kearah langit.

“Untuk hari ini, sampai disini saja.” ucap Inoo.

Yuya mengangguk mengerti dan berjalan meninggalkan Din.

***

Yuya Side

“Osu! Takaki Yuya desu! Mulai dari sini, aku yang akan bercerita! Semua cerita yang ada disini, ditulis menurut sudut pandangku! Selamat membaca!”

Namaku Takaki Yuya. Aku bukan anak pemilik perusahaan terkenal. Aku juga bukan anak dari keluarga kaya. Aku hanya anak dari keluarga miskin yang selalu kekurangan uang. Ibuku sudah meninggal sejak aku berumur 6 tahun. Ayahku hanya pekerja kasar biasa yang tidak menghasilkan banyak uang. Ayahku juga suka mabuk-mabukan. Sejak ayahku mengusirku dari rumah, aku tinggal sendirian di apartemen yang kecil. Aku berhenti memberikan ayahku uang dan bekerja untuk menghidupi diriku saja. Aku juga tidak pernah berharap untuk tinggal bersama ayahku lagi karena dia hanya akan menghabiskan uangku untuk mabuk-mabukan.

Aku sempat putus sekolah saat kelas 6 sd. Saat itu ayahku terus-terusan menggunakan uangnya untuk mabuk-mabukan. Uang kami semakin menipis. Akhirnya, aku putuskan untuk bekerja. Sejak kecil, aku tidak pernah punya teman. Teman-temanku menjauhiku karena aku miskin. Enam bulan sejak aku berhenti sekolah, aku bertemu dengan seorang gadis kecil. Saat itu, aku berjalan kearah taman saat siang hari. Entah kenapa, saat itu kakiku membawaku ke sebuah taman yang dekat dari rumahku. Aku berjalan menuju taman itu dan bermain pasir. Entah kenapa aku ingin sekali membuat istana pasir. Setelah istana pasir itu selesai, aku merasa sangat senang. Tanpa aku sadari, ada seorang gadis kecil disana.

“UWAAA!!!”

Aku terkejut saat melihat gadis itu berjongkok di dekatku. Secara reflek aku mundur dan terjatuh.

“Sejak kapan kamu ada disitu?” tanyaku.

“Dari tadi.” Jawab gadis itu dengan singkat.

“Namaku Takaki Yuya.” ucapku sambil mengulurkan tangannya.

“Din. Namaku Din.” Ucap gadis itu sambil menyambut tanganku.

“Din ya? Nama yang indah. Mulai sekarang kita berteman ya?” Ucapku sambil tersenyum kearah Din.

“Un!” jawab Din sambil tersenyum.

Aku tertegun melihat senyuman gadis itu yang begitu tulus. Aku pun langsung memalingkan mukanya. Dia orang pertama yang mau tersenyum kepadaku. Orang pertama yang mau menjadi temanku. Dia adalah teman pertamaku.

“Kamu kenapa?” tanya Din.

“Ah… Tidak apa-apa.” jawabku sambil menutup mukaku dengan tanganku.

“Takaki-san tinggal dimana?” tanya Din.

Aku terdiam sejenak dan tersenyum kepadanya.

“Panggil saja aku Yuya. Din-san mau lihat tempat tinggalku? Tapi tempat tinggalku tidak terlalu bagus.” jawabku sambil tersenyum.

“Tidak apa-apa kok. Rumahku juga tidak terlalu bagus. Aku ingin melihat tempat tinggalmu. Dan juga, panggil saja aku, Dinchan.”

Aku menatap Din dari atas sampai bawah. Din mengenakan dress cantik berwarna pink pastel dengan sepatu dan bando berwarna senada. Aku tahu betul kalau Din bukan anak biasa. Dia pasti anak orang yang sangat kaya. Tapi kenapa dia mau berteman denganku? Dia juga mau berkunjung ke rumahku. Jujur saja aku sangat malu dengan keadaan rumahku yang sempit dan berantakan. Tapi Din tidak berkomentar apapun, dia malah menawariku untuk sekolah lagi.

“Dame! Aku tidak boleh bersekolah dengan uang pemberian orang lain.” tolakku.

Din terdiam sambil cemberut. Aku mengelus kepala Din dengan lembut sambil tersenyum.

“Kita akan sering bertemu kok. Aku janji.”

***

Sejak saat itu, aku terus-terusan bertemu dengan Din. Dia gadis yang sangat baik. Dia bahkan membantku kembali ke sekolah lagi. Dia juga sangat pintar. Dan juga… Sangat cantik. Tanpa aku sadari, aku selalu menempel dengannya. SD, SMP, SMA, aku selalu satu sekolah dengannya. Aku tidak mengeluh tentang itu karena aku sangat suka saat bersama dengannya. Sejak aku masuk SMP, sudah banyak yang mau berteman denganku.

“Nee, Yuya, sampai kapan kamu akan terus berada disisi gadis itu?” tanya temannya.

“Maksudmu siapa Hikaru?” tanya Yuya dengan bingung.

Yaotome Hikaru adalah teman dekatku sejak aku masuk SMP. Aku berteman dengannya karena aku merasa cocok dengannya. Hikaru juga bukan anak orang kaya, kurang lebih, dia sama sepertiku. Hikaru juga memiliki wajah yang tampan.

“Maksudku Seito Kaichou. Kau pikir siapa lagi gadis yang dekat denganmu? Kau tidak berniat menyatakan cintamu kepadanya?” tanya Hikaru.

Aku sebenarnya sudah lama menyukai Din. Tapi aku tidak bisa mengatakannya kepadanya. Bukan hanya karena dia anak teladan. Ini juga karena keluarganya. Meskipun aku berpacaran dengannya, pada akhirnya dia juga akan menikah dengan pria pilihan keluarganya. Dan juga, aku tidak pantas bersamanya. Anak berandalan dengan penampilan acak-acakan. Menurutmu, siapa yang akan mau dengan anak sepertiku?

“Kalau itu tidak mungkin. Dia itu putri direktur perusahaan terbesar di Jepang. Terlebih lagi dia cantik dan pintar, mana mungkin dia mau denganku.” jawabku sambil tersenyum.

“Kamu tahu kan kalau dia itu setiap saat bisa dinikahkan dengan orang sekelas dia oleh orang tuanya? Sebelum itu terjadi, sebaiknya kamu katakan apa yang ingin kamu katakan sebelum kamu menyesal. Kesempatanmu tidak banyak.” Jelas Hikaru.

“Aku tahu. Lagipula mana ada orang yang mau dengan orang yang tidak punya masa depan sepertiku?” jawabku sambil menatap kearah Din yang sedang berjalan keluar dari kelas bersama temannya.

“Yah… Tapi setidaknya kamu lebih baik daripada aku.” Tambah Hikaru.

“Hei! Pembicaraan macam apa ini? Suram sekali. Kau sendiri bagaimana? Sudah dapat gadis itu?” tanya Yuya.

“Kalau soal itu gampang. Sebentar lagi, dia akan berada di tanganku.” Jawab Hikaru dengan bangga.

***

Beberapa hari yang lalu, aku berjanji berkencan dengan Din. Tentu saja itu hari yang aku tunggu-tunggu. Aku jadi semakin giat bekerja agar aku bisa membelikannya sesuatu untuknya. Aku tidak ingin terus-terusan dibelikan sesuatu olehnya. Sesekali aku juga ingin membelikannya sesuatu. Yah.. Walaupun bukan sesuatu yang mahal. Lagipula aku kan laki-laki. Aku mengimpulkan uang itu dan aku simpan di dalam lemariku.

***

Tidak terasa, hari ini adalah hari aku berkencan dengannya. Aku menatap diriku di cermin. Terlihat sangat tampan, tapi itu sih menurutku. Aku pun mengambil uang yang aku simpan di dalam lemari. Tapi saat aku mencari uang itu, uang itu tidak ada.

TOK!!! TOK!! TOKKK!!!

Aku membukakan pintu rumahku. Ternyata itu adalah ayahku. Ayahku pulang dalam keadaan mabuk.

“Ayah mabuk-mabukkan lagi? Ayah dapat uang dari mana?” tanyaku dengan panik.

“Kamu kan sudah menyiapkan ayah uang. Uang yang ada di lemarimu itu.”

Aku pun marah kepada ayahku dan pergi dari rumah itu. Aku bersumpah tidak akan kembali lagi ke rumah itu.

***

Aku pergi meninggalkan rumah dengan membawa serta semua barang-barangku. Aku belum punya rencana akan tinggal dimana. Aku pun pergi menuju sebuah bukit. Dulu, saat aku masih kecil, aku sering pergi ke bukit itu bersama Din. Aku menaiki sebuah pohon dan duduk diatas cabang pohon itu. Angin berhembus sangat pelan saat itu. Tanpa sadar aku pun tertidur.

***

“Hiks… Hiks…”

Tiba-tiba aku terbangun ketika mendengar suara tangisan seseorang. Aku mencari orang itu disekelilingku, tapi aku tidak menemukannya. Apa itu suara hantu? Tapi sejak kapan bukit ini jadi berhantu? Akhirnya aku putuskan mencari sumber suara itu.

“Dinchan?” panggilku.

Din menoleh dan segera memelukku.

“Bagaimana kamu bisa ada disini?” tanyaku.

“Baka! Aku sudah mencarimu kemana-mana!” jawab Din sambil menangis.

Yuya hanya bisa terdiam sambil membalas pelukan Din. Di dalam hati, aku sangat bersyukur karena suara yang aku dengar adalah suara Din bukan suara hantu.

***

“Yuya-chan, kamu lupa dengan kencan kita?” tanya Din.

“Aku tidak lupa. Hanya saja setelah aku diusir dari rumah, aku merasa tidak pantas jika harus bertemu denganmu.” Jawabku sambil menatap langit.

Aku tidak mungkin melupakannya. Aku sudah menunggu saat-saat itu. Bahkan saat aku pergi dari rumah, aku masih kepikiran dengan kencan itu. Hanya saja, aku merasa tidak pantas datang tanpa membawa apapun.

“Sekarang Yuya-chan tinggal dimana?” tanya Din.

“Entahlah. Aku belum memikirkannya.” Jawabku sambil tersenyum.

“Yuya-chan tinggal di rumahku saja ya? Lagipula di rumahku tidak ada siapapun kecuali pelayanku. Kalau kamu tidak suka dengan pelayanku, aku akana menyuruh mereka pulang saat kita ada dirumah.” ucap Din.

“Ta-Tapi Dinchan…”

“Sudah menurut saja!”

***

Dengan terpaksa, akhirnya aku pun tinggal di rumah Din. Aku dan Din dijemput dengan sebuah mobil mewah dibawah bukit itu. Satu kata yang terpikir olehku adalah sugoi! Bayangkan saja!!! Untuk pergi ke rumahnya saja, aku dijemput dengan mobil super mewah yang aku tidak tahu namanya maupun harganya! Dan yang paling mengejutkan lagi adalah rumahnya! Saat sampai di depan gerbang rumahnya, aku tidak bisa melihat seperti apa bentuk rumahnya karena pagarnya sangat tinggi. Tidak lama setelah itu, pagarnya terbuka sendiri! Seperti yang ada di film yang pernah aku lihat. Dan bukan hanya itu saja! Akan aku ceritakan semua keterkejutanku saat melihat rumah Din.

Pertama, saat pintu gerbang terbuka. Hal pertama yang membuatku kagum adalah taman yang ada di rumahnya. Di kedua sisi di dekat gerbangnya, ada dua buah pohon sakura yang menghiasinya. Halaman rumahnya sangat besar. Dia bilang rumahnya ada dibelakang halaman ini. Kalau aku perkirakan, jarak rumahnya dari pintu gerbang ada 1 kilometer. Disisi kanan dan kiri halaman itu ditumbuhi banyak sekali bunga dan pepohonan. Jadi kesannya sejuk sekali. Dan rumahnya, besar sekali. Rasanya 50 sampai 100 orang bisa tinggal di rumah itu. Kalian pernah nonton drama Korea? Drama Korea Boys Before Flower? Ingat tidak, rumahnya si tokoh utama laki-lakinya? Kalau tidak salah namanya Goo Jun Pyo. Rumahnya Din sebesar rumahnya Goo Jun Pyo! Siapa yang tidak terkejut kalau melihatnya?!!!

Seperti 4 buah rumah yang sangat besar dijadikan sebuah bangunan rumah yang sangat panjang. Rumahnya tingginya 4 lantai. Dan yang paling membuatku terkejut adalah isi rumahnya!!! Begitu pintu dibukakan ada sekitar 20 pelayan yang menyambutnya!!!! Gila!!! Seberapa kayanya sih Din itu???!!! Gak heran kalau dia bisa memberikan sumbangan kepada sekolah. Mereka semua langsung bilang, “Okaerinasai Ojou-sama.”. Keren banget tau!! Kayak yang ada di drama-drama yang aku lihat di televisi! Di rumahnya ada satu tangga yang besar sekali, dan disampingnya itu ada lift!!! Di rumahnya ada liftnya loh!!! Meskipun rumahnya sangat besar, tapi pintu depannya hanya satu, sedangkan pintu lainnya ada di samping dan belakang rumah. Ruang yang dilewati saat memasuki rumahnya, Din menyebutnya hall utama. Tapi percaya atau tidak, itu benar-benar mirip hall utama yang ada di hotel bintang lima! Kebetulan aku tahu dari televisi.

Di lantai satu, ada beberapa ruang tamu dengan luas yang berbeda-beda, kamar tidur pelayan dan sebuah dapur. Dan dia punya seorang koki di rumahnya!!! Bahkan ada kepala pelayan di rumahnya!!! Rasanya seperti mimpi saja! Dan sepanjang jalan menuju tangga utama, banyak sekali lukisan dan patung yang terlihat sangat mahal!!

PLUKK!!!

Din memukul pelan pipiku.

“Jangan dilihat terus rumahku. Yuya-chan jadi terlihat ingin mencuri barang dirumahku saja.” Ucap Din sebal.

“Gomen, gomen. Habisnya rumahmu kelihatan bagus sekali.”

Oke, aku lanjutkan lagi ceritanya. Berlanjut ke lantai dua. Di lantai dua ada beberapa kamar kosong. Beberapa apanya Yuya? Jelas-jelas ada 10 lebih kamar disana! Disana ada ruang aula serba guna. Ruang musik dan gym. Ruang musik dan gymnya besar sekali. Semua alat musik ada disana. Dari gitar sampai harpa pun ada disana. Dan gymnya… Ckckck. Super lengkap! Dan tentunya ada ruang keluarga disana. Di lantai tiga, ada perpustakaan yang super besar. Dari buku sejarah sampai komik pun ada disana. Ruang perpustakaannya menyambung dengan rumah yang ada dibelakang rumahnya. Oh, ya aku belum bilang ya? Rumahnya Din ada dua. Yang satu rumah yang sebesar 4 buah rumah dan yang satunya rumahnya agak kecil. Hanya berukuran 1/4 rumah utamanya tapi sama-sama 4 lantai. Rumah itu digunakan sebagai perpustakaan yang menyambung dengan lantai 3 rumah utama.

Di lantai tiga hanya ada 10 kamar. Sedangkan di lantai empat, hanya ada kamar tidur. Di setiap ruangan ada dua sampai tiga kamar mandi kecuali di kamar. Di kamar hanya ada 1 kamar mandi. Di setiap lantai, ada satu dapur dan dapur utama ada di lantai satu. Di halaman belakang rumahnya, ada lapangan tenis, lapangan golf, lapangan basket, dan lapangan bulu tangkis. Kalau saja di rumah ini ada bioskop dan taman hiburan, mungkin Din tidak perlu keluar dari rumahnya. Ah! Aku lupa bilang. Di setiap lantainya juga ada ruang tamu, ruang keluarga dan ada satu aula lagi yang terletak di lantai empat.

“Yuya-chan boleh pilih kamar yang mana saja.” Ucap Din sambil menunjuk beberapa kamar.

Aku seketika mendapatkan ide.

“Kamar Dinchan yang mana?” tanyaku.

Din mengajakku ke lantai tiga dan memperlihatkan sebuah ruangan yang memiliki desain interior yang sangat manis. Kamar itu di dominasi dengan warna pink dan biru muda. Ada sebuah tempat tidur besar dan sebuah rak buku yang berjajar.

“Kalau gitu aku pilih kamar ini saja.” Ucapku sambil melompat ke tempat tidur Din.

“Oy!! Takaki Yuya!!! Kamu boleh pilih kamar manapun kecuali kamarku.” Ucap Din sambil memukul kepala Yuya.

“Hai, hai. Galak sekali nona pemilik rumah ini. Aku jadi takut.” Ucapku dengan nada mengejek.

Aku pun berlari sebelum Din sempat melemparinya dengan bantalnya.

***

Jika kalian sudah membaca cerita yang sebelumnya, kalian pasti sudah tahu jika Din sudah bertunangan dengan Inoo Kei. Aku akan menceritakan dari sudut pandangku yang tidak diceritakan oleh author. Kalian pasti kaget tiba-tiba ada karakter Inoo Kei yang tiba-tiba mengganggu jalan cerita. Oke mengenai Inoo Kei, Yabu menceritakan beberapa hal tentangnya. Inoo Kei adalah anak dari pemilik perusahaan industri pakaian terkenal. Oke, dari situnya saja aku sudah kalah sama si Kei itu. Dia itu anak teladan yang selama ini sekolah di Inggris. Di Inggris sana dia berkali-kali menjuarai kontes piano. Dari situ aku kalah lagi sama dia. Yabu hanya beberapa kali bertemu dengannya sejak dia tinggal di Inggris. Yabu berteman dengannya sejak kecil.

“Hei! Sedang apa disitu?” sapa Yabu.

“Apaan sih? Sana! Aku lagi asik-asik cerita sama reader fanfic ini!”

“Iya, iya. Galak banget nih orang.” Ucap Yabu sambil cemberut.

Oke, selanjutnya… Sampai mana tadi ya? Oh, iya… Selain itu, Yabu berteman dengannya karena perusahaan ayah Yabu dan perusahaan ayah Inoo Kei bekerjasama dalam sebuah proyek. Kalian tahu sendirilah. Kalau ingin membuat kerjasama seperti itu, kita harus membangun relasi yang bagus. Termasuk dengan anak-anaknya. Kalau bisa berteman dekat agar proyek bisa berjalan dengan lancar. Yabu juga bilang sejak kecil Inoo sudah sering ditunangkan dengan banyak gadis, tapi dia selalu menolaknya dan ini pertama kalinya dia menerima seorang gadis sebagai tunangannya. Dan yang sialnya lagi, gadis yang dia terima malah Din. Dia kembali ke Jepang bukan hanya untuk bertemu dengan Din. Dia kembali kemari untuk belajar mengenai perusahaan ayahnya.

Dan untuk menjalankan sebuah perusahaan yang besar, Inoo Kei harus punya koneksi dengan perusahaan lain, tentu saja selain perusahaan ayah Yabu. Kebetulan sekarang perusahaan ayah Din menjadi yang terbesar di Jepang. Oh, ya… Ibu Din juga mempunyai perusahaan kosmetik terkenal di Jepang. Itu sudah diceritakan belum ya sama authornya? Sepertinya belum deh… Oke, lanjut ceritanya. Dengan menjalin hubungan baik dengan dua pemilik perusahaan tersebut, Inoo Kei bisa memperluas jangkauan perusahaan ayahnya sampai ke daerah terpencil termasuk juga membuka cabang baru di berbagai tempat baru.

Karena itu ayahnya menyuruh dia menikah dengan Din. Inoo Kei bukannya tidak sengaja masuk sekolah kami. Dia memang sudah disuruh untuk berada di lingkungan yang sama dengan Din agar dia bisa lebih dekat dengan Din. Sebenarnya Inoo Kei itu tidak jahat. Hanya saja ayahnya terlalu berambisi untuk mengembangkan perusahaan mereka sampai membenarkan segala cara. Tentu saja Din dan keluarganya tidak tahu tentang ini.

“Tidak tahu apa?”

“UWAAA!!! Dinchan! Kamu mengagetkanku!” teriakku sambil terlonjak kaget.

“Ada apa ini? Sedang rekaman ya?” tanya Din dengan heran.

“Sudah cepat kesana!” ucapku sambil mendorong Dinchan keluar dari ruangan.

Jika keluarga Din mengetahuinya, selain kontrak kerja dan pernikahan yang dibatalkan, kemungkinan terburuk yang bisa terjadi adalah perusahaan ayah Inoo yang hancur. Kenapa bisa hancur? Karena perusahaan ayah Din adalah perusahaan yang paling berpengaruh di Jepang. Dengan reputasi seperti itu, tidak sulit untuk menghancurkan perusahaan ayah Inoo.

Oke. Cukup dengan Inoo Kei. Nanti akan aku ceritakan lagi tentangnya. Oh, ya… Kalian pasti bingung soal hubunganku dengan Din. Padahal di cerita aku dan Din baru beberapa hari jadian kemudian belum sampai seminggu kami sudah putus, tapi meskipun kami putus, kami masih terlihat seperti pasangan kekasih. Kenapa hal itu terjadi? Silahkan tanyakan itu kepada authornya.

“HUUU!!!! JAWABAN MACAM APA ITU???!!!” ucap Hikaru sambil melemparkan sepatunya kepadaku.

“Oy! Jangan lempar-lempar sepatu dong! Ini baru mau aku jelaskan ceritanya!”

Tentang hubunganku dengan Din yang tidak jelas menurut para pembaca… Bagaimana menyampaikannya ya? Hubunganku dengan Din tidak sedangkal yang terlihat. Maksudku, aku dan dia sudah saling menyukai sejak lama dan pacaran itu hanya untuk meresmikan hubunganku dengannya. Haduh… Bicaraku jadi kacau balau begini! Intinya aku dan dia masih saling menyukai meskipun sudah putus. Yah… Pokoknya begitu.

“HUUUU!!!! APAAN TUH SIKAP MALU-MALU SEPERTI ITU??!!” teriak Yabu.

“Oy! Nanti aku siram pakai air ini kalau kalian berdua tidak diam!!!”

Oh, ya… Berhubung authornya lagi malas menceritakan tentang apa yang terjadi selanjutnya tentang kompetisi antara aku dan Inoo, maka aku akan menggantikannya untuk bercerita.

“HUUU!!! AUTHORNYA PEMALAS!!!” teriak Hikaru.

Author melemparkan sepatu kepada Yabu dan Hikaru.

“LAMA-LAMA AKU HAPUS JUGA KARAKTER KALIAN BERDUA!!!!” author marah-marah.

Hikaru langsung bersujud meminta maaf.

“Kenapa aku juga kena?” tanya Yabu sambil mengelus-elus kepalanya yang terkena sepatunya author.

Sudah, abaikan saja mereka berdua. Oke, aku akan menceritakan apa yang selanjutnya terjadi. Setelah hari dimana aku dan Inoo melihat Din duduk dengan sedih diatap sekolah, menurutku, tidak ada kejadian spesial yang terjadi setelah itu. Kami berdua tetap tidak tahu apa alasan Din terlihat sedih saat itu. Setiap kami tanyakan tentang itu, dia selalu menghidari pertanyaan itu dengan mengganti topik. Bagaimana kalau aku ceritakan tentang hari kelulusan kami saja?

“Iya! Yang itu saja!” sahut Yabu.

“Tidak ada yang bertanya denganmu!”

Berhubung authornya belum menceritakannya, jadi aku akan ceritakan. Hari kelulusan ya… Biar aku ingat-ingat dulu. Hari kelulusan, bagiku itu adalah hari terakhir aku bertemu dengan Din. Aku tidak berniat melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi karena aku tidak punya biaya. Di hari kelulusan kami semua menghadiri upacara kelulusan. Setelah acara resmi upacara kelulusan, kami semua keluar dari aula sekolah. Di Jepang ada tradisi menyerahkan kancing gakuran nomor dua dari atas kepada orang yang disukai. Saat aku, Hikaru dan Yabu keluar dari aula, seketika semua siswi langsung menyerbu kami bertiga.

Mereka berebut meminta foto dan kancing gakuran kami. Tentu saja aku lari dari mereka. Aku juga sudah menyimpan kancinggakuranku di tempat yang aman.

“Oy! Ceritakan tentang aku dan Yabu juga dong!” teriak Hikaru.

BHUGGG!!!! Sebuah sepatu pun mendarat di muka Hikaru.

Ok! Sampai mana tadi? Oh, ya… Aku pun pergi mencari Din. Menurut informasi yang aku dapatkan dari Nakamura-san, Din sedang ada diatap sekolah. Aku kan segera berlari menuju atap sekolah. Aku tidak mau kedahuluan si Inoo Kei itu. Ketika sampai diatas, aku pun melihat Din yang sedang berdiri disana sendirian. Ketika aku mau membuka pintu menuju atap sekolah, langkahku terhenti ketika melihat Inoo Kei berjalan mendekati Din.

“Dou suru?” tanya Inoo.

“Saa… Kita lihat saja selanjutnya.” Ucap Din.

Aku bisa mendengar percakapan mereka dengan sangat jelas dari balik pintu.

“Aku juga ingin melakukannya dengan jujur.” Tambah Inoo.

“JANGAN BERITAHUKAN INI KEPADA YUYA!” teriak Din.

“Berjanjilah untuk tidak mengatakannya!” tambah Din.

Aku tidak paham apa yang sedang mereka katakan. Inoo tersenyum kepada Din dan mengusap kepalanya dengan perlahan. Saat itu aku tidak punya keberanian untuk membuka pintu itu dan segera berlari meninggalkan kelas itu.

***

Aku duduk di bangkuku sambil menatap langit. Aku belum ingin pulang ke rumah. Saat itu keadaan sekolah sudah mulai sepi.

“Yuya-chan?”

Aku langsung menoleh kearah Din. Gadis itu duduk di sebelahku sembari tersenyum.

“Setelah ini aku akan pergi ke Amerika untuk melanjutkan kuliah.” Ucap Din sambil tersenyum.

Aku tertegun dan langsung terdiam.

“Aku harus belajar mengelolah perusahaan orang tuaku, karena itu aku disuruh pergi ke Amerika.” Lanjutnya.

Tanpa terasa airmataku jatuh. Aku yang sebelumnya tidak pernah menangis tiba-tiba menangis mendengar perkataannya.

“Eeehh? Jangan menangis. Aku janji aku akan menghubungimu setiap hari.” Ucap Din dengan panik.

Aku langsung memeluk gadis itu dan terus menangis.

“Begitu sampai disana, aku akan langsung menghubungimu. Aku juga akan menghubungimu sesering mungkin.” Jelasnya.

“Suki da yo.”

“Eh?”

“Zutto suki desu.”

***

5 tahun kemudian…

Sesuai dengan janjinya, selama lima tahun ini Din selalu menghubungiku. Kami sering bertukar foto, menelpon dan berkirim pesan. Sekarang aku bekerja disebuah perusahaan keuangan. Din juga masih belum kembali dari Amerika karena masih harus mengurus beberapa hal. Aku berjalan perlahan menuju apartemenku. Sekarang aku sudah bisa menyewa apartemen yang lebih bagus dan lebih besar. Belakangan ini aku sering sekali pulang malam karena banyaknya pekerjaan. Aku membuka pintu apartemenku dan masuk ke dalam. Terlihat sekali tidak ada satu cahaya pun yang ada di apartemenku. Aku pun menyalakan lampu apartemenku. Betapa terkejutnya aku melihat meja makanku penuh dengan makanan. Aku segera berlari menuju kamarku dan menghidupkan lampu kamarku.

“Hm? Mou asa da?” ucap seorang gadis sambil mengusap-usap matanya.

Aku langsung memeluk gadis yang masih setengah mengantuk itu.

“Aitai yo Dinchan.” Ucapku sambil memeluknya.

***

Aku duduk di depan meja makan sambil melihat gadis itu menyiapkam makanan untukku.

“Hisashiburi ne Yuya-chan. Kamu jadi lebih tampan dari yang dulu.” Ucap gadis itu sambil tersenyum.

Din tidak berubah. Dia masih sama seperti dulu. Hanya cara berpakaian dan gaya rambutnya saja yang berubah. Dan juga… Dia semakin cantik. Din menghela nafas sejenak dan memberikanku sebuah amplop yang berisi sebuah undangan di dalamnya. Aku terbelalak melihat isi undangan itu.

“Sebenarnya aku sudah berusaha menola pernikahan ini dari dulu, tapi aku tidak berhasil. Gomen na.” Ucap Din dengan singkat.

Aku tidak bisa mengatakan apapun sangking terkejutnya. Di undangan itu jelas-jelas tertulis pernikahan Din dan Kei.

“Aku harap Yuya bisa hadir.”

***

Aku duduk di pantai yang tidak jauh dari rumahku sambil menikmati pemandangan malam. Sejujurnya tidak ada yang bisa aku lihat disana. Yang terlihat hanyalah cahaya bulan selain itu yang terlihat hanya kegelapan. Aku merasa angin laut malam yang menerpa wajahku dengan lembut. Sejak awal kemunculan Kei, aku sudah menyangka pernikahan itu akan terjadi, jadi aku tidak pernah berniat datang. Tapi saat itu Din terlihat sangat berharap kalau aku hadir di acara itu.

BUKK!!!

“Siapa sih yang melempar botol?”

“Ini aku.”

Samar-samar aku melihat wajah Inoo Kei yang mendekat kearahku.

“Sedang apa kau disini? Ingin mengejekku ya?” tanyaku dengan ketus.

“Tidak. Aku memang menyukai Din, tapi sejak awal aku tidak menginginkan pernikahan ini. Aku tidak ingin mendapatkan Din dengan cara seperti ini.” Jelasnya.

“Maksudmu?”

“Pertaruhan kita saat SMA. Itu masih berlaku. Kamu masih punya waktu sampai menit-menit terakhir.”

***

Aku menghadiri acara pernikahan Inoo Kei dan Din. Aku berjalan menuju ruang ganti pengantin wanita. Terlihat Din sedang duduk di sofa menggunakan gaun yang sangat cantik. Aku pun menghampiri gadis yang duduk sambil termenung itu.

“Din, aku ingin bertanya sesuatu.”

Din mengangkat kepalanya dan mengangguk kepadaku.

“Apa kamu masih menyukaiku?”

***

Din berjalan dengan anggun menuju altar pernikahan bersama dengan ayahnya. Begitu dia sampai disamping Inoo Kei, pendeta pun memulai acara pemberkatannya.

“Jika ada yang keberatan, bicaralah sekarang atau tidak sama sekali.”

Tentu saja tidak ada orang yang bicara. Aku pun menundukkan kepalaku.

“Aku!” teriak seseorang.

Aku melihat kearah orang yang bicara tersebut.

“Apa maksudmu?” tanya pendeta itu.

“Aku Inoo Kei tidak setuju dengan pernikahan ini!”

Semua undangan terkejut mendengar perkataan sang pengantin pria.

“Aku juga tidak setuju!” teriak Hikaru.

“Aku juga menolak pernikahan ini!” tambah Yabu.

Seisi ruangan pun riuh karena penolakan mereka. Din yang kebingungan langsung menatap Kei dan Kei memberikan sesuatu kepadanya. Aku berlari menuju altar dan menarik Din pergi dari tempat itu.

***

Aku duduk dan merebahkan diriku di sebelah Din. Kami ada di dalam pesawat pribadi milik keluarga Inoo.

“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Din.

***

Flasback…

“Sedang apa kau disini? Ingin mengejekku ya?” tanyaku dengan ketus.

“Tidak. Aku memang menyukai Din, tapi sejak awal aku tidak menginginkan pernikahan ini. Aku tidak ingin mendapatkan Din dengan cara seperti ini.” Jelasnya.

“Maksudmu?”

“Pertaruhan kita saat SMA. Itu masih berlaku. Kamu masih punya waktu sampai menit-menit terakhir.”

“Ha?”

“Kau ini tidak berubah ya? Tetap bodoh seperti dulu.” ejek Inoo.

“Hanya kau satu-satunya yang menyebut orang jenius sepertiku bodoh.”

“Kau masih menyukai Din kan?”tanya Inoo.

“Maa… Kau kan akan menikahinya, tidak ada hubungannya dengan aku yang masih menyukainya atau tidak.” Jawabku.

“Dia juga masih menyukaimu.” Jawabnya singkat.

“Apa?”

“Dihari pernikahanku, tanyakan lagi padanya bagaimana perasaannya kepadamu. Jika jawabannya masih sama, aku akan membantu kalian keluar dari masalah ini.”

Aku hanya bisa terdiam karena masih kebingungan dengan maksud dari perkataannya.

“Kau hanya perlu menelponku saat kau menanyakannya. Aku ingin mendengar jawaban langsung darinya. Kalau jawabannya masih sama, kau hanya perlu melakukan apa yang aku tulis di dalam kertas ini.”

“Ha? Kertas apa ini?”

“Kau tidak perlu curiga. Kali ini aku benar-benar akan membantumu.”

End Flashback…

***

“Sial! Ternyata dia pria yang baik.” Keluhku.

“Kan sudah aku bilang, Kei itu orang baik.” Jawab Din sambil tersenyum.

“Tapi sebenarnya kita akan pergi kemana?” tanyanya lagi.

“Soal itu, kamu akan tahu ketika sampai disana.”

“Bagaimana dengan orang tuaku dan orang tua Kei?” tanya Din dengan panik.

“Soal itu, Kei berjanji akan mengurusnya. Yang kita perlukan adalah pergi untuk sementara waktu.” Jawabku sambil tersenyum kepadanya.

“Pengantin wanita Din, apa kau bersedia menerima Takaki Yuya sebagai suamimu dalam suka dan duka? Ya! Aku bersedia! Sekarang kalian diperbolehkan untuk saling berciuman.”

Din menarik wajahku dan mulai menciumku. Sebuah ciuman manis mendarat di bibirku. Din melepaskan ciuman itu kemudian tersenyum kearahku.

“Apa-apaan itu?” tanyaku sambil memalingkan wajahku.

“Kan aku sudah pakai gaun pengantin. Aku tidak ingin pernikahanku gagal. Jadi setidaknya, aku teruskan ikrar tadi. Nee, Yuya bersedia menikah denganku? Katakan kalau kamu mencintaiku.”

“Hmm… Biar aku pikir dulu.”

“Mou Yuya!” ucapnya sambil cemberut.

Aku pun menariknya ke dalam pelukanku dan menciumnya.

“Aku mencintai Din dan aku bersedia menikahimu.” ucapku sambil tersenyum.

***

OWARI

Eitttsss… Kok malah owari? Aku kan belum selesai bercerita. Bagaimana menurut kalian tentang ceritaku? Bagus tidak?

“Bagus sih… Tapi kenapa aku dan Yabu munculnya cuma sedikit?” teriak Hikaru.

“Aku gak tanya pendapatmu Hikaru! Yang aku tanyakan pendapat reader fanfic ini!” melempar sepatu ke Hikaru.

Hai! Karena ceritanya sudah selesai, jadi silahkan berikan kritik, sarannya dan komentar anda dibawah sini. *Berasa ngiklanin produk*

Sore dewa, Takaki Yuya deshita! バイバイ! ( ´ ▽ ` )ノ

Save

Advertisements

2 thoughts on “[Minichapter] Fallin (chapter 3)

  1. Dinchan

    oalah Inoo tidak disangka2 ternyata malah jadi pahlawan untuk dinyuya.
    manyis bgt sih ceritanya anak SMA. ehehehe karena dah lewat lama saya jadi berasa nostalgia. wwww
    suka adegan nikahan di.atas pesawat.. :*

    Reply
    1. Shiina Hikari Post author

      Makasih kak. Aku seneng banget kalau kakak suka.
      Ceritanya tentang SMA seoalnya yang nulis baru aja lulus satu tahun dr SMA jadinya masih bingung kalau topiknya waktu kuliah. XD
      Kak request ffku jgn lupa. #plaakkk XD

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s