[Minichapter] Fallin (chapter 2)

Title: Fallin chapter 2
Cast: Takaki Yuya (HSJ)
Yaotome Hikaru (HSJ)
Yabu Kota (HSJ)
Inoo Kei (HSJ)
Din (OC)
Genre: Romance
Author: Shiina Hikari
Rating: PG-16
Genre: Romance
Fanfic ini didedikasikan untuk kak Din. Waktu itu kan kak Din pernah request. Gomen lama jadinya karena ada kendala inspirasi yang macet. Maaf kalau ffnya jelek kak Din. o(_ _)o
Silahkan berikan komentar. (^^)

Din Side

Aku terbangun dari tidur dan langsung mengerjap-ngerjapkan mataku. Aku duduk di tempat tidurku dan memandang kearah sebelah kananku. Di sana ada selimutku, bonekaku dan seorang pria. Ya… Seorang pria. APAAAA????? ADA SEORANG PRIAAAA????!!!!!!!

***

Flashback….

“Yuya-chan membuatku mengatakan apa yang seharusnya tidak aku katakan!” bentak Din.

“Tapi… Aku.. juga suka… dengan Yuya.” Ucapnya lirih.

Yuya melepaskan pelukannya.

“Hm? Apa? Aku tidak dengar.” goda Yuya.

“Tidak ada siaran ulang! Baka!” ucap Din sambil memukul kepala Yuya.

Yuya meringis sejenak kemudian memandang kearah pintu.

“Satte… Bagaimana sekarang kita bisa keluar?” tanya Yuya.

“Kita tunggu saja sampai papa dan mama pergi.”

-30 menit kemudian-

Yuya dan Din tertidur di kamar Din.

End Flashback.

***

Benar juga. Semalam aku dan Yuya memutuskan untuk menunggu papa dan mama pergi, tapi mereka baru pergi jam 1. Untunglah sudah tidak ada siapapun di rumah ini. Aku melihat kearah Yuya yang masih tertidur. Tidak ada siapapun ya… Tanpa sadar aku sudah mendekatkan wajahku ke wajah Yuya. Ha! Apa yang aku lakukan??!!!! Aku segera menjauhi Yuya dan mengatur detak jantungku yang sudah tidak beraturan ini.

“Ohayou…”

Yuya bangun dan langsung duduk. Dia tersenyum kearahku. Dia masih terlihat setengah bangun.

“Dinchan…”

Dia memelukku dan membuatku terbaring di tempat tidurku. Dia tertidur di atasku. Dan satu-satunya hal yang terpikir olehku adalah….

“Berat… Yuya berat…” keluhku.

“Uhm???”

Yuya bangun dan mengusap matanya lalu melihat kearahku.

“Gomen ne Dinchan… Aku masih mengantuk.” Ucapnya.

“Oyasumi…”

“UWAAAA!!!!”

Dia menarikku dan memelukku sambil melanjutkan tidurnya.

***

Akhirnya aku bisa bangun juga. Gara-gara Yuya, aku jadi terlambat bangun, padahal hari ini aku harus pergi ke sekolah.

“Nee… Dinchan. Jangan marahlah… Aku kan tidak sengaja.” rayu Yuya.

“Sudah waktunya sekolah.” Ucapku.

“Eeeehhh??? Aku kan belum selesai makan.”

***

Normal Side

Din berjalan kearah sekolahnya bersama Yuya. Yuya yang biasanya selalu datang terlambat, sejak dia tianggal bersama Din mau tidak mau dia harus berangkat pagi. Tapi biasanya Yuya akan mampir ke tempat Yabu dan datang ketika hampir jam pelajaran dimulai. Din sudah tidak marah lagi, tapi dia belum ingin bicara dengan Yuya.

“Nee, Dinchan, aku ke tempat Yabu dulu ya?” tanya Yuya.

Din terdiam. Tak lama setelah itu Yuya pergi karena Din tidak menjawab pertanyaannya.

“Jangan sampai terlambat.”

Yuya menghentikan langkahnya kemudia berlari kearah Din dan mencium pipi gadis itu.

“Aku tahu Honey.”

Din tertegun dan mukanya mulai memerah. Din menghadap kearah Yuya dan bersiap untuk marah. Tetapi, Yuya sudah mengambil langkah seribu ketika merasakan ancaman dari Din.

“OY!!! YUYA!!! JANGAN LARI!!!!”

***

Din memasuki kelasnya dan duduk di bangkunya sambil memijat pelipisnya.

“Takaki-san lagi?” tanya seorang gadis yang duduk di depannya.

Gadis itu adalah Nakamura Yumi, teman SMPnya. Din dan Yumi memang sudah berjanji masuk sekolah yang sama dan tanpa mereka duga, mereka berada di kelas yang sama lagi.

“Iya. Kali ini dia berulah lagi. Dia membuatku tidak bisa bangun tidur lebih awal.” Ucap Din dengan cuek.

“APA????? KALIAN TIDUR BERSAMA????” teriak Yumi

Din seketika langsung menutup mulut Yumi dengan cepat.

“Diam. Aku bilang kan tidak bisa bangun, bukan tidur bersama.” Jelas Din.

“Ok-ok. Apa yang membuat kamu tidak bisa bangun lebih awal?”

“Waktu aku ingin bangun Yuya memelukku lagi-…”

“JADI KALIAN TIDUR BERSAMA????” potong Yumi.

“Yumi… Diamlah. Semua orang akan tahu, kalau kamu berteriak. Dengarkan dulu ceritaku.”

***

Bel istirahat berbunyi. Dia sangat kelelahan karena pelajaran tadi cukup sulit untuk dimengerti. Din mengambil bekal makanan miliknya dan milik Yuya.

“Panggilan untuk Seito Kaichou, diharapkan segera ke ruang guru.”

Din menghela nafas. Dia menyesali karena pekerjaan komite di sekolahnya sangat banyak dan membuta dia kewalahan.

“Yumi-chan, bukuku taruh saja di atas mejaku kalau sudah selesai.” Ucap Din.

“Ok.” Jawab Yumi sambil terus menyalin catatan Din.

Din berjalan menuju kelas Yuya dan terus mencari Yuya dari depan kelas. Din tidak berani masuk ke kelas Yuya. Din melihat Yuya sedang berbicara dengan Yabu dan Hikaru. Yuya tiba-tiba menoleh kearah Din dan berjalan kearahnya.

“Arigatou.” Ucap Yuya sambil mengambil bekalnya.

Din hanya diam. Yuya tidak perlu bertanya kenapa Din tidak menjawab. Yuya langsung mengelus kepala Din.

“Aku tahu. Sudah pergilah ke ruang guru. Aku akan makan bersama Yabu dan Hikaru.”

“Ini. Berikan saja untuk mereka berdua. Aku tidak sempat makan siang.” Ucap Din sambil memberikan bekalnya kepada Yuya.

Yuya pun masuk membawa dua bekal.

“Enaknya punya pacar yang selalu membuatkan bekal.” sindir Yabu.

“Sudah, jangan iri. Ini untuk kalian.” Ucap Yuya sambil menyerahka bekal yang diberikan oleh Din.

***

Din pun masuk ke ruang guru. Dia melihat seorang siswa yang tidak dia kenal memakai seragam sekolahnya.

“Ini Inoo Kei. Dia murid baru di kelasmu, antar dia mengelilingi sekolah.” Ucap gururnya.

Din pun mengajak siswa yang bernama Inoo Kei itu berkeliling sekolah.

“Ano.. Sebelumnya kamu bersekolah dimana?” tanya Din yang bermaksud mencairkan suasana.

“Di Inggris. Aku seorang pianis. Sudah sepuluh tahun aku tidak kemari. Aku sengaja sekolah disini untuk melihat tunanganku secara langsung.” Jelas Inoo.

Setelah Inoo menjawab pertanyaannya, Din tidak bertanya apapun lagi. Lagipula Din tidak berniat berurusan dengan orang yang sudah bertunangan.

***

Malamnya, Din menghabiskan waktunya dikamarnya bersama Yuya sambil menonton beberapa dorama yang Yuya sarankan.

Ting… Tong…

Din pun menyuruh pelayannya untuk melihat siapa yang datang.

“Orang tua anda yang datang Din-sama.”

Din terlonjak dari tempat tidurnya. Din pun segera menyuruh Yuya bersembunyi di kamar madinya sementara kamar yang Yuya gunakan dia kunci. Setelah selesai, Din segera turun ke bawah. Dia tidak lupa untuk mengganti pakaiannya dan merapikan penampilannya.

“Din…”

Okasannya langsung berlari memeluknya ketika Din turun dari lantai dua. Orang tuanya tidak datang sendirian. Mereka datang bersama Inoo Kei. Din kebingungan. Bukannya Inoo bilang dia sudah punya tunangan?, pikirnya.

“Din, perkenalkan. Ini Inoo Kei, tunanganmu.” Ucap otousannya.

Mata Din terasa seperti akan melompat keluar ketika mendengar perkataan otousannya. Din hanya diam dan menatap sedih kearah Inoo. Dia tidak bisa mengatakan apapun.

“Hari Sabtu nanti, Kei-kun akan melamarmu secara resmi, jadi persiapkan dirimu.” Tambah otousannya.

***

Otousan dan okaasannya tidak menginap di rumah karena harus kembali bekerja, sementara Inoo ikut pulang bersama mereka. Din berjalan kearah kamarnya. Dia melihat Yuya sedang berdiri di depan kamarnya. Yuya tersenyum hambar kearah Din. Din berlari kearah Yuya kemudian memeluk Yuya sembari menangis.

“Aku… Aku…”

“Sudah, aku sudah dengar semuanya. Dinchan tidak perlu menceritakannya lagi.”

***

Din berjalan lemas kearah sekolahnya. Hari Sabtu biasanya menjadi hari yang paling ia nantikan, tapi kali ini berbeda. Dia malah berharap hari Sabtu tidak akan pernah datang.

“Ohayou Hika-ehh??? Kenapa dengan wajahmu????”

Yumi panik melihat Din datang ke sekolah dengan wajah pucat.

“Yumi-chaaaannnn…”

Din pun menangis di pelukan Yumi dan menceritakan apa yang baru dialaminya semalam. Yumi hanya bisa diam sambil menenangkan Din. Sementara di kelas lain, seperti biasa Yuya berkumpul bersama Yabu dan Hikaru.

“Oy! Kamu kelihatan murung! Kali ini ada masalah apa?” tegur Hikaru.

Yuya memalingkan wajahnya. Dia malas bercerita kepada Yabu dan Hikaru. Tapi dengan sedikit desakan dari Yabu, akhirnya Yuya pun bercerita tentang apa yang terjadi di rumah Din semalam.

“Souka na… Souka na… Inoo Kei ya…” ucap Yabu sambil berusaha mencerna cerita Yuya.

“HAAAHHH???? INOO KEIII??????” teriak Yabu.

Teriakan Yabu membuat seisi kelas kaget dan langsung melihat kearahnya.

“Oy! Kamu kenapa sih????” tanya Hikaru.

“Tunggu, tunggu. Inoo Kei yang kamu maksud, apa Inoo Kei yang ini?” tanya Yabu sambil menunjukkan selembar foto pada mereka.

Yuya mengamati foto itu dengan seksama. Dan ternyata betul. Itu adalah Inoo Kei yang dia lihat semalam.

“Dia teman dekatku.” tambah Yabu.

“HAAA???? TEMANMU????”

Kali ini teriakan Yuya dan Hikaru yang membuat seisi kelas menatap mereka bertiga.

“Iya. Inoo Kei itu teman kecilku.”

Yabu pun mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Inoo Kei. Pertama kali Yabu bertemu dengan Inoo Kei adalah saat orang tua mereka berdua menjadi rekan kerja. Sejak saat itu, mereka jadi sering bertemu. Awalnya, Yabu pikir Kei adalah anak yang pendiam, tapi lama-kelamaan Kei menjadi orang yang ceria. Kei adalah orang yang menyenangkan, begitu pendapat Yabu. Kei juga seorang pianis berbakat. Dia juga sangat pintar. Tapi sayangnya, dia memiliki wajah yang terlalu centik sampai disangka perempuan. Selama ini, dia sudah sering sekali dijodohkan dengan banyak gadis, tapi dia selalu menolaknya. Beberapa hari yang lalu, tiba-tiba Kei menjadi bersemangat dengan perjodohannya. Dia bilang, dia menyukai gadis ini. Kei juga sudah sering memata-matai gadis itu dan melihat seperti apa kehidupan gadis itu.

“Tidakku sangka, gadis yang dia maksud adalah pacarmu.” Ucap Yabu sambil menepuk pelan pundak Yuya.

Yuya terdiam mendengar perkataan Yabu.

“Menurutku, kamu harus memperjuangkan Din.” Ucap Hikaru.

Yuya hanya mengangguk pelan.

***

Din berjalan pulang ke rumahnya bersama Yuya.

“Aku sudah mendapatkan apartemen baru. Aku akan segera pindah dari rumahmu.” Ucap Yuya sambil tersenyum.

Din tertegun dan kehabisan kata-kata.

“Mungkin orang tua dan tunanganmu akan sering datang, jadi aku akan pindah hari ini.” Tambahnya.

***

Sesampainya mereka di rumah Din, Yuya langsung mengemasi barang-barangnya. Yabu dan Hikaru juga membantu membawakan barang Yuya dan mereka sudah duluan pergi ke apartemen Yuya. Dari mereka sampai di rumah Din, Din hanya terdiam tanpa memberikan komentar apapun. Dia hanya menunduk dan terdiam.

“Aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik.” Ucap Yuya.

Yuya menyentuh pipi Din dengan pelan, kemudian menarik wajah Din mendekat dan menciumnya. Yuya menyudahi ciuman singkat itu dan melihat Din mulai menangis.

“Din, kita putus saja ya?” ucap Yuya sambil tersenyum.

PLAAAAKKK!!!!

Din menampar wajah Yuya tanpa Yuya sangka. Tiba-tiba Din memeluknya dan menangis sekencang-kencangnya. Yuya membalas pelukan Din dan berusaha untuk menenangkannya.

“Din, kamu pasti akan baik-baik saja. Kita juga masih bisa bertemu disekolah.”

“Bahkan kamu tidak memanggilku Dinchan lagi.”

Din melepas pelukannya dan menutup pintu rumahnya tanpa mengucapkan salam perpisahan kepada Yuya.

***

Sejak terakhir kali Yuya bertemu dengan Din, sampai sekarang, Yuya masih belum melihat Din ada di sekolah. Yuya masih mengabaikan hal ini dan tidak berprasangka buruk mengenai Din. Yuya pikir Din hanya sedang sakit dan tidak bisa masuk sekolah untuk beberapa hari. Yuya juga berhenti mengunjungi ataupun memberi kabar kepada Din.

“Gawattt!!! Seito Kaichou sudah menghilang selama satu minggu.” Teriak teman sekelas Yuya.

Yuya refleks langsung membereskan barang-barangnya dan pergi mencari Din.

“Kelihatannya dia butuh bantuan.” Ucap Hikaru.

“Yah… Aku pikir Kei bersaing dengan orang yang salah.” Jawab Yabu.

***

Yuya pun mencari ke seluruh tempat yang mungkin Din datangi, tapi dia tidak kunjung menemukan gadis itu. Yabu dan Hikaru juga ikut mencari ke tempat yang Yuya tunjukkan. Karena hari sudah terlalu malam, Yuya pun menyuruh Yabu dan Hikaru melanjutkan pencarian mereka besok. Yuya berjalan perlahan ke apartemennya. Yuya mengambil kuncinya dan segera membuka pintu apartemennya. Apartemennya gelap gulita karena sejak tadi pagi Yuya tidak menghidupkan lampunya. Yuya juga tidak berniat menghidupkan lampunya. Yuya berjalan lunglai kearah kamarnya dan langsung merebahkan diri ke tempat tidurnya.

Yuya menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Dia sudah kehabisan akal. Dia tidak tahu kemana lagi harus mencari Din. Yuya menutup matanya dan meletakkan tangan kirinya diatas tempat tidurnya. Tempat tidur Yuya cuku besar dan cukup untuk dua orang. Tiba-tiba Yuya merasakan sesuatu yang aneh. Rasanya ada sesuatu yang aneh di tempat tidurnya. Yuya bergegas menghidupkan lampu kamarnya. Ada seseorang di dalam selimutnya.

“Mou asa da?”

Ternyata itu adalah Din.

“Dinchan.”

Din bangun dan mengusap-usap matanya. Din duduk di tempat tidur Yuya. Din masih setengah bangun.

“Ka-Kawaii.” gumam Yuya.

“Hm? Yuya? Oyasumi…”

Din memeluk Yuya dan kembali tertidur di pelukan Yuya. Yuya pun membiarkan Din tertidur. Yuya tersenyum melihat Din.

“Ya sudahlah. Lagipula yang seperti ini tidak setiap hari terjadi. Oyasuminasai Ojou-sama.” Ucap Yuya sembari mencium Din.

***

Paginya, Din terbangun dipelukan Yuya. Kali ini Yuya tidak memeluknya dengan erat, jadi dia tidak kesulitan untuk melepaskan dirinya. Din duduk disamping Yuya dan mulai mengganggu Yuya, dia tidak ingin melihat Yuya tertidur pulas sementara dia tidak bisa tidur lagi. Din menusuk-nusuk pipi Yuya dengan jarinya agar Yuya terbangun, tapi cara itu tidak berhasil. Din juga mencoba untuk mengguncang-guncangkan tubuh Yuya, bukannya berhasil, Din malah dipeluk oleh Yuya. Tiba-tiba, terlintas ide yang sangat cemerlang dari otak Din.

“KEBAKARAAANNNN!!!!!”

Yuya langsung bangun dan melompat dari tempat tidurnya sementara Din tertawa.

“Ohayou Yuya-chan. Atau harus aku panggil Takaki-san?” ucap Din sambil tersenyum.

Yuya langsung memeluk Din dan menangis.

“Kemana saja kamu selama ini?” ucapnya sambil menangis.

“Aku tidak kemana-mana. Setiap malam aku selalu disini.” Ucap Din.

“Apa?”

“Aku bilang setiap malam aku disini.”

Yuya langsung berhenti menangis dan mencubit pipi Din.

“Bagaimana bisa masuk kesini???” tanya Yuya sambil terus mencubit pipi Din.

“Go~gomen~nasa~i”

“Ceritakan!”

“Ha~Ha~i..”

Yuya pun melepaskan tangannya dari pipi Din. Din pun mulai bercerita. Saat hari kepindahan Yuya, Din tidak lama-lama bersedih. Begitu selesai menangis, Din mulai berpikir jika dia tidak pergi dari rumahnya, dia pasti akan terus-menerus diganggu oleh Inoo Kei. Dia setiap hari datang ke rumahnya dan itu membuatnya merasa tidak betah. Satu jam setelah Yuya pergi dari rumahnya, Din pun pergi dari rumahnya. Dia mengemasi semua barang yang perlu ia bawa. Din tidak membawa keitainya karena kalau dia membawa keitainya, orang tuanya akan tahu dimana dia berada. Din meninggalkan semua barang elektronik dan kartu kredit orang tuanya dan yang dia bawa hanya baju dan beberapa uang.

Dia berkeliling disekitar daerah Akibahara. Secara tidak sengaja ia membaca poster lowongan pekerjaan. Akhirnya Din pun memutuskan untuk bekerja disana. Hari pertama dan hari kedua, dia menginap di tempat dia bekerja, tapi begitu hari ketiga, Din secara tidak sengaja bertemu dengan Yuya. Din pun mengikuti Yuya sampai ke apartemennya. Setelah hari itu, Din pun selalu menyelinap masuk ke kamar Yuya saat Yuya tertidur dan pergi sebelum Yuya bangun.

“Bagaimana kamu bisa membuka kunci apartemenku???” tanya Yuya sambil berteriak.

“Hm? Mudah saja. Apartemen ini menggunakan kunci elektronik dan kunci biasa, aku hanya tinggal memasukkan kodenya saja.” Ucap Din sambil tersenyum.

“Bagaimana kamu bisa tahu kodenya?”

“Kodenya kan tanggal ulang tahunku.”

“Hah… Sudah aku duga, aku harus menggantinya. Din, kamu harus pulang ke rumahmu.”

“Eh? Doushite? Aku benci dengan kehidupan disana. Lagipula aku juga sudah menyewa apartemen sendiri.”

“Apartemen? Dimana?”

“Dekat tempat kerjaku. Tenang saja. Aku tidak akan melibatkan Yuya-chan. Ah! Hampir waktunya bekerja. Aku harus segera pergi.”

Din pun segera mengambil barang-barangnya dan pergi keluar meninggalkan Yuya.

***

Yuya berjalan pulang sekolah melewati daerah Akibahara. Dia penasaran dimana tempat Din bekerja. Kali ini dia pergi sendiri karena takut Hikaru dan Yabu tahu jika dia sudah menemukan Din. Selama dua jam, dia mencari disekitar daerah itu, tapi hasilnya nihil. Dia pun tertarik untuk masuk ke sebuah maid cafe.

“Okaerinasaimasen goushujin-sama.”

Yuya melihat kearah pelayan itu. Pelayan itu dan Yuya sama-sama terkejut.

“Dinchan!”

***

Din datang membawakan pesanan Yuya.

“Selamat menikmati goushujin-sama.” Ucap Din sambil tersenyum.

“Dinchan, kapan kamu pulang? Kita harus bicara.” Tanya Yuya dengan sedikit berbisik.

“Jam 9. Temui aku dibelakang cafe.” Jawab Din.

“Din, bisa bantu aku?” teriak temannya.

“Hai!”

***

Din berjalan berdampingan dengan Yuya menuju apartemennya.

“Tidak bisa aku bayangkan. Anak seorang pemilik perusahaan terkaya di Jepang bekerja sebagai maid cafe.” ucap Yuya sambil tertawa.

“Yang kaya itu Otousan dan Okaasan, bukan aku. Lagipula aku suka dengan pekerjaan ini.” jawabnya.

“Bagaimana kalau kamu ketahuan?” tanya Yuya lagi.

“Soal itu… Aku akan mengurusnya.”

Tak terasa mereka sudah sampai di apartemen Din. Din melangkah masuk menuju apartemennya disusul dengan Yuya. Mereka masuk ke dalam apartemen itu dan langsung merebahkan diri di kursi.

“Apapun yang terjadi, aku tidak bisa menikahi Inoo.” ucap Din sambil menutup matanya.

“Kenapa? Bukannya dia itu sempurna?” tanya Yuya.

“Aku tidak mau menikah dengan orang yang tidak aku cintai.” jawabnya dengan tegas.

“Jadi siapa yang kamu cintai?” tanya Yuya lagi.

Din menatap Yuya lekat-lekat.

“Yuya. Cuma Yuya yang aku cintai.”

Yuya menatap dingin kearah Din dan berjalan kearahnya. Begitu sudah berhadapan dengan Din, dia langsung memeluknya.

“Hey! Apa kamu tahu resikonya mengatakan itu?” goda Yuya.

“Hm? Apa?” tanya Din dengan polos.

Yuya langsung membawa Din masuk ke kamar dan membawanya keatas tempat tidur. Sekarang Din sudah terbaring di tempat tidurnya.

“Apa kamu sudah siap?” goda Yuya.

“Siap untuk apa?” tanya Din.

Yuya mulai mencium Din dengan lembut. Din terkesan pasrah dan hanya menerima ciuman Yuya itu. Yuya pun menyudahi ciuman mereka ketika dia merasa sudah puas.

“Oy Takaki Yuya! Aku akan membunuhmu jika kamu melakukan lebih dari ini!” ucap Din dengan marah.

Din merasa pipinya sudah sangat panas. Dia yakin sekarang wajahnya terlihat sangat merah.

“Biar saja. Walaupun mati, aku mati dalam keadaan senang.” bantah Yuya sambil menjulurkan lidahnya.

**

Paginya, Din terbangun disebelah Yuya. Yuya menginap di rumahnya semalam. Din pun segera pergi mandi dan membuat sarapan. Hari ini Yuya pergi sekolah dan Din juga mendapatkan shift pagi.

“Yuya… Ayo bangun…. Waktunya sekolah.”

Yuya pun duduk di tempat tidur Din dan melihat ke sekeliling.

“Sudah pagi. Waktunya pergi ke sekolah.”

Yuya pun menuruti perkataan Din dan segera pergi mandi. Yuya duduk di meja makan sambil memakan makanannya secara perlahan. Yuya masih setengah bangun.

***

“Okaerinasai goushujin-sama.”

Seperti biasanya, Din pergi bekerja sementara Yuya pergi ke sekolah. Pekerjaan menjadi maid adalah pekerjaan yang menyenangkan untuknya. Dia dibayar 3000 yen per jam. Itu uang yang cukup banyak untuk menghidupi dirinya sendiri.

“Okaerinasai goushujin-sama.” ucap Din.

Dia terkejut melihat pelayan pribadinya masuk ke cafenya. Din pun segera keluar cafe itu. Di luar cafe, kedua orang tua Din sudah menunggunya.

“Jika ingin marah, nanti saja. Aku akan pulang hari ini. Setidaknya, biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku hari ini.” ucap Din kepada kedua orang tuanya.

***

Din duduk di ruang tamunya bersama kedua orang tuanya yang siap memarahinya.

“Aku melakukannya hanya untuk mengetahui bagaimana rasanya memulai semuanya dari nol.”

PLAAAKKKKK!!!!!

Din mendapat tamparan telak dari ibunya.

“KENAPA HARUS MELAKUKAN ITU???? SEMENTARA KAMU SUDAH MENDAPATKAN SEMUANYA???!!!!!”

Din menatap marah kearah ibunya.

“Kalau nenek masih hidup, dia pasti tidak akan menyalahkanku!!!!!”

Din pun berlari menuju kamarnya. Dia terus menangis di dalam kamarnya sampai ia tertidur.

***

Keesokan harinya, Din mulai masuk sekolah. Din bersikap seperti biasanya. Dia tidak mengatakan apa-apa mengenai baitonya. Dia hanya mengatakan kalau dia sedang sakit. Hari ini Inoo Kei mulai mencoba berbicara dengannya. Karena Din sedang malas, jadi dia hanya menyimak perkataannya. Inoo mengajak Din pergi ke rumahnya. Berhubung dia sedang tidak ingin bertemu dengan orang tuanya, jadi dia mengiyakan ajakan Inoo.

Di tempat lain, Yuya merasa sedih melihat keduanya begitu dekat, meskipun tidak sedekat dia dengan Din. Karena penasaran dengan tempat tinggal Inoo, Yuya pun mengikuti mereka dari kejauhan. Rumah Inoo tidak terlalu jauh dengan sekolah mereka. Rumahnya sangat besar dan sangat bagus jika dilihat dari luar. Tiba-tiba, Din menghentikan langkahnya dan melihat kearah Yuya, Yuya langsung cepat-cepat bersembunyi.

“Yuya-chan sedang apa?” tanya Din.

Yuya pun langsung keluar dari tempat persembunyiannya karena merasa sudah ketahuan.

“Aku hanya lewat dan tidak sengaja melihat kalian. Aku tidak sedang sembunyi atau apapun.” Jelas Yuya sambil mengalihkan pandangannya dari mereka berdua.

Din tertawa kecil mendengar jawaban Yuya, padahal jelas-jelas dia mengikuti mereka.

***

Yuya dan Din duduk di ruang tamu yang sangat besar. Di sebuah ruangan yang terletak di sudut ruang tamu, terlihat sebuah piano besar berwarna putih. Inoo pun menyediakan teh yang Yuya tidak tahu apa namanya di meja tamu.

“Inoo-kun bisa bermain piano?” tanya Din.

“Tidak juga, aku hanya memenangkan beberapa kontes diluar negeri.” Jawab Inoo sambil merendahkan diri.

“Oy! Bilang saja kalau kau itu hebat! Tidak perlu merendahkan diri seperti itu.” Sahut Yuya dengan sedikit emosi.

Din memegang tangan Yuya dan tersenyum sambil menggeleng kearah Yuya.

“Din-chan suka dengan orang seperti dia ya? Seleramu unik juga.” Balas Inoo sambil tersenyum.

Yuya pun langsung bangkit dari tempat duduknya.

“APA MAKSUDMU DENGAN ORANG SEPERTIKU???”

Kini Yuya benar-benar sudah terpancing emosinya.

“Kenapa? Kamu merasa tersingggung?” tanya Inoo sambil menyunggingkan senyuman jahat.

“OH… JADI SEPERTI INI SIKAP ASLIMU?!? KAU CUMA BERAKTING JADI ORANG BAIK DI DEPAN ORANG BANYAK, PADAHAL KAU SENDIRI ADALAH ORANG SEPERTI INI???!!!!” ucap Yuya sambil berteriak.

Yuya pun siap untuk memukul Inoo dan Din menghentikannya. Din berdiri di depan Inoo agar Yuya tidak memukulnya. Inoo tersenyum licik dan merangkul leher Din.

“Suatu hari nanti, kami pasti akan menikah. Aku benar-benar serius menyukai Din. Apa kamu mau terus-terusan dilindungi oleh tunangan orang lain?”

Yuya sangat geram melihatnya sementara Din hanya diam sambil menunduk.

“Bagaimana kalau kita bertaruh?” tawar Inoo.

Yuya dan Din tertegun dengan ucapan Inoo.

“Kalau Din memilihmu, meskipun dia memutuskannya saat hari pernikahan kami, aku akan melepasnya dan tidak akan mengganggu kalian berdua.” Jelas Inoo

“Tapi… Jika Din memilihku, pastikan kamu tidak mengganggu kami lagi.” Tambah Inoo.

“Baik! Aku terima!” jawab Yuya dengan tegas.

“Oke. Peraturannya, kita boleh melakukan usaha apapun agar Din bisa jatuh cinta pada kita. Tapi, jika Din sudah memilih, maka lawannya tidak boleh lagi berusaha untuk membuat Din berubah pikiran. Bagaimana?” jelas Inoo.

“Aku tidak keberatan dengan syarat itu.” Jawab Yuya lagi.

Inoo tersenyum licik kearah Yuya.

“Kalau begitu, permainannya akan dimulai besok.”

***

To be continue

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s