[Minichapter] Fallin (chapter 1)

Title: Fallin chapter 1
Cast: Takaki Yuya (HSJ)
Yaotome Hikaru (HSJ)
Yabu Kota (HSJ)
Din (OC)
Genre: Romance
Author: Shiina Hikari
Rating: PG-16
Genre: Romance
Fanfic ini didedikasikan untuk kak Din. Waktu itu kan kak Din pernah request. Gomen lama jadinya karena ada kendala inspirasi yang macet. Maaf kalau ffnya jelek kak Din. o(_ _)o
Silahkanberikan komentar (^^)

Din Side

Namaku adalah Din. Aku adalah seorang gadis kaya dan juga seorang putri pengusaha terkaya di Jepang. Aku selalu mendapatkan semua yang aku inginkan. Uang, pakaian, barang bermerek, semuanya bisa aku dapatkan dengan mudah. Aku seorang bersekolah di SMA terkenal di Tokyo. Semua yang aku minta selalu diberikan, kecuali kebahagiaan. Sebanyak apapun uang atau barang bermerek yang aku punya, aku tidak pernah merasa bahagia. Ayah dan ibuku tidak pernah ada di rumah. Mereka terlalu sibuk bekerja sampai tidak pernah pulang.

Hari biasa, hari libur, hari ulang tahun, semuanya terasa sama saja. Rumah besar yang dipenuhi dengan pelayan tampan dan cantik, tidak mengubah apapun. Yang aku rasakan adalah kesepian. Itulah yang aku rasakan selama bertahun-tahun. Sampai aku bertemu dengannya. Seseorang yang mengubah hidupku. Satu-satunya orang yang mau berteman tanpa melihat statusku atau siapa aku.

***

Normal Side

Din berjalan menyusuri taman. Saat itu Din berumur 10 tahun. Dia berjalan menyusuri taman itu bersama pelayannya yang berjarak agak jauh darinya. Din melihat kearah taman itu dan mendapati seorang anak laki-laki sedang bermain pasir. Anak laki-laki itu memakai pakaian usang dan sudah tidak layak pakai menurut Din. Din mendekati anak laki-laki itu tanpa ragu. Din berhenti disebelah anak laki-laki itu dan berjongkok disebelahnya. Anak laki-laki itu masih sibuk dengan apa yang dia buat tanpa memperhatikan Din.

“Dekita!!!” teriak anak laki-laki itu dengan puas.

“UWAAA!!!”

Anak laki-laki itu terkejut saat melihat Din sedang berjongkok di dekatnya. Secara reflek anak laki-laki itu mundur dan terjatuh.

“Sejak kapan kamu ada disitu?” tanya anak laki-laki itu.

“Dari tadi.” Jawab Din singkat.

Din masih kebingungan dengan reaksi anak laki-laki itu.

“Namaku Takaki Yuya.” Ucap anak laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya.

“Din. Namaku Din.” Ucap Din sambil menyambut tangan anak laki-laki itu.

“Din ya? Nama yang indah. Mulai sekarang kita berteman ya?” Ucap anak laki-laki itu sambil tersenyum kearah Din.

“Un!” jawab Din sambil tersenyum.

Senyuman pertamanya setelah lima tahun lalu. Yuya terpana melihat senyuman Din yang begitu tulus. Yuya pun langsung memalingkan mukanya.

“Kamu kenapa?” tanya Din.

“Ah… Tidak apa-apa.” Jawab Yuya sambil menutup mukanya dengan tangannya.

“Takaki-san tinggal dimana?” tanya Din.

Yuya terdiam dan tersenyum.

“Panggil saja aku Yuya. Din-san mau lihat tempat tinggalku? Tapi tempat tinggalku tidak terlalu bagus.” Jawab Yuya sambil tersenyum.

“Tidak apa-apa kok. Rumahku juga tidak terlalu bagus. Aku ingin melihat tempat tinggalmu. Dan juga, panggil saja aku, Dinchan.”

Yuya menatap Din dari atas sampai bawah. Din mengenakan dress cantik berwarna pink pastel dengan sepatu dan bando berwarna senada. Yuya tahu betul kalau Din bukan anak biasa. Dia pasti anak orang yang sangat kaya, pikir Yuya. Yuya menggandeng tangan Din dan membawanya ke sebuah perumahan yang tidak terlalu jauh dari taman itu. Yuya mengajak Din masuk ke salah satu rumah yang ada disebuah gang kecil. Yuya mengambil kunci rumahnya dan membuka pintu. Yuya mengambil alas duduk yang menurut Din sudah sangat tidak layak untuk dipakai. Din melihat keseliling rumah Yuya. Tak lama kemudian, Yuya datang sambil membawa segelas air dan beberapa potong roti.

“Yuya-chan tidak perlu repot-repot.” Tolak Din.

“Tidak apa-apa. Ini hanya sekedar suguhan dariku sebagai tuan rumah. Orang tuaku sedang pergi, jadi anggap saja rumah sendiri.” Ucap Yuya.

“Yuya-chan, berapa umurmu? Dan dimana kamu bersekolah?” tanya Din.

“Umurku 11 tahun, aku berhenti sekolah sejak satu tahun lalu.” Jawab Yuya sambil tersenyum.

“Yuya-chan, ayo masuk sekolah yang sama denganku. Biar papaku yang membiayai sekolahmu.” Ajak Din.

“Dame! Aku tidak boleh bersekolah dengan uang pemberian orang lain.” Tolak Yuya.

Din terdiam sambil cemberut. Yang dia inginkan hanya agar bisa terus bertemu dengan Yuya. Yuya mengelus kepala Din dengan lembut sambil tersenyum.

“Kita akan sering bertemu kok. Aku janji.”

***

Musim semi tahun kedua Din berada di SMP. Din berjalan dengan perlahan menuju sekolahnya. Din sekarang sudah berubah. Sekarang sudah tiga tahun sejak dia bertemu dengan Yuya. Dia bukanlah lagi gadis imut pendek seperti yang dulu Yuya kenal. Din sekarang adalah gadis berumur 14 tahun dengan tubuh tinggi semampai dengan rambut hitam panjang yang terurai dan juga memiliki wajah yang sangat cantik. Din melangkahkan kakinya menuju sebuah sekolah yang cukup bagus. Itu bukanlah sekolah untuk kalangan elit, tapi hanya sebuah sekolah biasa dengan prestasi yang sudah terkenal di seluruh Jepang. Din berjalan melewati koridor menuju ruang kelasnya.

“Ohayou gozaimasu Seito Kaichou.” sapa beberapa siswi.

“Ohayou gozaimasu.” Jawab Din sambil tersenyum.

Benar sekali. Sekarang Din adalah ketua dewan perwakilan sekolah. Selain karena prestasinya yang terbaik disekolah, dengan keterampilannya yang sangat banyak, Din dapat dengan mudah terpilih sebagai ketua dewan perwakilan sekolah. Selain itu, keluarganya juga menjadi donatur terbesar sekolah itu.

“Ohayou Kaichou.” Ucap seorang pria tinggi yang memeluknya dari belakang.

Pria itu adalah Takaki Yuya. Sekarang Din dan Yuya satu sekolah dan satu kelas. Yuya juga termasuk anak yang pintar, meskipun dia memiliki kekurangan secara finansial. Dia bisa masuk ke sekolah ini berkat beasiswa yang ia terima melalui donatur sekolah mereka. Tidak. Lebih tepatnya Dinlah yang mengajukan dia untuk dimasukkan ke sekolah itu. Sekarang Yuya bukanlah anak kecil yang sok kuat seperti dulu saat dia pertama kali bertemu dengan Din. Sekarang Yuya adalah siswa yang tampan dengan perilaku yang agak nakal.

“Yuya-chan, sudah berapa kali aku bilang, jangan panggil aku Kaichou…” ucap Din dengan kesal.

“Maa nee… Tapi tetap saja Dinchan adalah Seito Kaichou disekolah ini.” Elak Yuya.

Yuya selalu memperlakukan Din sama seperti pertama kali mereka bertemu. Yuya masih memperlakukan Din seperti anak kecil dan selalu memeluknya tanpa ragu. Siswa disekolah mereka sudah biasa dengan pemandangan itu. Mengingat Din pernah menegaskan kalau Yuya adalah teman kecilnya. Namun, karena Din itu sangat cantik dan sangat pintar, ada beberapa siswa laki-laki yang agak kecewa karena sikap Yuya yang seperti itu, membuat semua siswa laki-laki disekolahnya sulit untuk mendekati Din. Apalagi Yuya dikenal dengan julukan “Si Pintar yang Berandalan”. Yuya sangat benci mengikuti aturan. Pakaiannya tidak pernah rapi, rambutnya selalu diwarnai dan telinganya juga ditindik. Yuya juga sangat pandai berkelahi. Hal itu menyebabkan tidak ada siswa yang berani menantangnya.

“Yuya-chan, rapikan bajumu! Kalau tidak, aku akan menghukummu lagi!” perintah Din.

Para guru disana tidak bisa mengeluarkan Yuya dari sekolah itu meskipun ingin, karena Din mengancam akan menarik donasi dari keluarganya dan keluar dari sekolah itu, jika Yuya dikeluarkan dari sekolah. Salah satu alasan Din menjadi Seito Kaichou juga karena dia ingin mendisiplinkan Yuya.

“Hai. Hai, Kaichou. Lagipula, jangan memanggilku Yuya-chan terus. Panggilan itu terdengar seperti untuk anak perempuan tahu.” Jawab Yuya.

“Memangnya tidak boleh ya?” tanya Din sambil menatap kearah Yuya.

Din sudah sangat lama dekat dengan Yuya, jadi dia tahu persis seperti apa Yuya dan apa saja kelemahannya. Yuya paling tidak tahan jika melihat Din menatapnya dengan wajah memelas.

“Hai, hai. Boleh. Lagipula, berhenti menatapku dengan mata besarmu itu.” Jawab Yuya sambil mengalihkan pandangannya.

“Kalau begitu, jangan terlambat masuk kelas dan rapikan bajumu.” Ucap Hikai sambil meninggalkan Yuya.

Yuya tersenyum melihat Din yang sosoknya semakin menjauh dari Yuya. Yuya sangat berterima kasih kepada Din. Dia tahu betul jika Dinlah yang menolongnya bisa masuk sekolah lagi walaupun dia harus tinggal kelas selama satu tahun. Dia juga tahu jika Dinlah yang menolongdia saat dia sedang ada masalah di sekolahnya.

***

Jam istirahat. Seperti biasa, Din dan Yuya selalu menghabiskan waktu mereka berdua diatap sekolah sambil memakan bekal. Din selalu membuatkan Yuya bekal karena dia tahu dengan ekonomi keluarga Yuya yang sekarang, mustahil untuk Yuya membawa bekal atau sekedar membeli air mineral di kantin. Awalnya Yuya keberatan, tapi lama-kelamaan, dia menjadi terbiasa dan tidak pernah menolak lagi.

“Hari ini aku membuat sushi.” Ucap Din sambil menyodorkan kotak bekal makanan milik Yuya.

Selain membuatkan bekal, Din juga membelikan Yuya kotak bekal sendiri untuk Yuya. Berkat Din, setiap hari Yuya tidak merasakan kelaparan dan juga Yuya bisa memakan makanan mewah setiap harinya. Din tidak pernah merasa keberatan untuk membelanjakan uangnya demi Yuya. Yuya juga tidak ingin terus bergantung kepada kemurahan hati Din. Sejak Yuya masuk SMP, Yuya sudah mulai bekerja sambilan. Sepulang sekolah sampai jam 9 malam, Yuya bekerja disebuah toko buku yang cukup besar dan pagi harinya, ia juga mengantarkan susu dan koran di beberapa daerah disekitar rumahnya. Dan lagi-lagi, Dinlah yang mengurus perizinannya untuk bekerja sambilan di sekolahnya. Sebenarnya, sekolah itu tidak memperbolehkan muridnya bekerja sambilan karena takut prestasi anak-anak disana menurun. Tapi dengan perkataan Din yang sangat meyakinkan, Din berhasil meyakinkan sekolah agar memperbolehkan Yuya bekerja.

“Nee, Din… Rasanya aku selalu bergantung denganmu dalam segala hal. Aku ini terlihat menyedihkan sekali.” ucap Yuya sambil menundukkan kepalanya.

“Tidak seperti itu kok. Yuya-chan tidak bergantung padaku, akunya saja yang ingin menolongmu.” jawab Din sambil tersenyum.

“Bagiku, Yuya-chan adalah orang yang menolongku.” Tambahnya lagi.

“Aku menolongmu?” tanya Yuya dengan bingung.

“Un! Disaat aku putus asa, sendirian, Yuya-chan yang menyelamatkanku karena itu, sekarang giliranku yang menolongmu.” Jawab Din sambil tersenyum.

Din terdiam menatap langit.

“Aku belum pernah cerita ya? Aku memang anak orang kaya, tapi aku tidak pernah merasa bahagia. Papa dan mama hanya pulang satu tahun sekali. Di rumahku hanya ada aku dan pelayanku. Sebanyak apapun pelayan yang aku punya, mereka tetap saja pelayan. Mereka tidak bisa jadi temanku. Yang aku rasakan hanya kesepian. Saat pertama kali aku bertemu dengan Yuya-chan, tanpa sadar Yuya-chan sudah menolongku. Ingat tidak? Hari itu aku tersenyum padamu.” Jelas Din.

“A-Ah, hari itu Dinchan tersenyum kepadaku. Senyuman tercantik yang pernah aku lihat.” Jawab Yuya.

“Mou… Yuya-chan berlebihan. Itu pertama kali aku tersenyum setelah 5 tahun aku merasa kesepian.” Tambah Din.

Yuya mengelus kepala Din dengan gemas.

“Dinchan tahu? Pertolongan dariku itu harganya mahal sekali loh…” goda Yuya.

“Aku tahu. Makanya sekarang aku sedang berusaha membayarnya.” Jawab Din sambil tersenyum.

***

Din membereskan buku-buku sekolahnya dan berjalan menuju ruang guru. Din berjalan sambil membawa beberapa dokumen.

“Hai Kaichou… Hari ini mau pulang bersama?” tawar Yuya.

Din mengangguk sambil tersenyum. Yuya menatap dokumen yang Din bawa dan segera mengambil dokumen itu darinya.

“Eh? Mau dibawa kemana?” tanya Din.

“Ini mau ditaruh diperpustakaan kan? Biar aku saja yang membawanya. Lagipula guru-guru itu jahat sekali. Masa’ Dinchan yang disuruh bawa barang seberat ini? Harusnya murid laki-laki yang membawanya.” Jawab Yuya.

Din tertawa mendengar jawaban Yuya.

“A-Apanya yang lucu?” tanya Yuya dengan wajah yang mulai memerah.

“Tidak ada kok. Dan juga, rapikan bajumu.” Jawab Din sambil terus tertawa.

***

Besoknya, seperti biasa, Yuya dan Din berangkat ke sekolah bersama-sama. Sejak dia satu sekolah dengan Yuya, Din selalu berangkat dengan berjalan kaki. Dia tidak pernah sekalipun mengeluh karena jarak sekolah mereka yang cukup jauh dari rumah mereka. Malah rumah Din dua kali lebih jauh daripada rumah Yuya.

“Nee, Dinchan.” Panggil Yuya.

“Hm?”

“Bagaimana kalau kita jalan-jalan akhir pekan ini?” tanya Yuya.

“Boleh saja kok. Kita mau kemana?” jawab Din.

“Soal itu, rahasia.”

***

“Ohayou Din-chan.” Sapa salah satu temannya.

“Ohayou Yumi-chan.”

Gadis yang menyapa Din adalah Nakamura Yumi. Dia adalah teman baik Din dari kelas satu SMP.

“Nee, nee… Aku dengar kamu sangat dekat dengan Takaki-san, kalian berpacaran?” tanya Yumi.

“Hubungan kami tidak sejauh itu.” Jawab Din.

“Eeeeehh??? Mengecewakan sekali. Harusnya kalian berpacaran saja.” Ucap Yumi sambil cemberut.

Hubungan Din dan Yuya masih sebatas sahabat baik. Keduanya tidak menyangkal itu. Masing-masing dari mereka lebih memilih bertahan di posisi sahabat baik daripada mengutarakan perasaan masing-masing. Mereka merasa lebih nyaman berada di posisi itu dan tidak berniat mengubah hubungan mereka. Di lain tempat, Yuya dan temannya sedang berkumpul membahas sesuatu.

“Nee, Yuya, sampai kapan kamu akan terus berada disisi gadis itu?” tanya temannya.

“Maksudmu siapa Hikaru?” tanya Yuya dengan bingung.

Yaotome Hikaru adalah teman dekat Yuya. Selain itu, mereka berteman juga karena mereka sama-sama murid yang nakal disekolah mereka. Hikaru juga bukan anak orang kaya, kurang lebih, Hikaru sama seperti Yuya, karena itu mereka saling mengerti satu sama lain. Hikaru juga memiliki wajah yang tampan sama seperti Yuya.

“Maksudku Seito Kaichou. Kau pikir siapa lagi gadis yang dekat denganmu? Kau tidak berniat menyatakan cintamu kepadanya?” tanya Hikaru.

Yuya tersenyum dan mulai memikirkan Din.

“Kalau itu tidak mungkin. Dia itu putri direktur perusahaan terbesar di Jepang. Terlebih lagi dia cantik dan pintar, mana mungkin dia mau denganku.” Jawab Yuya sambil tersenyum.

“Kamu tahu kan kalau dia itu setiap saat bisa dinikahkan dengan orang sekelas dia oleh orang tuanya? Sebelum itu terjadi, sebaiknya kamu katakan apa yang ingin kamu katakan sebelum kamu menyesal. Kesempatanmu tidak banyak.” Jelas Hikaru.

“Aku tahu. Lagipula mana ada orang yang mau dengan orang yang tidak punya masa depan sepertiku?” jawab Yuya sambil menatap kearah Din yang sedang berjalan keluar dari kelas bersama temannya.

“Yah… Tapi setidaknya kamu lebih baik daipada aku.” Tambah Hikaru.

“Hei! Pembicaraan macam apa ini? Suram sekali. Kau sendiri bagaimana? Sudah dapat gadis itu?” tanya Yuya.

“Kalau soal itu gampang. Sebentar lagi, dia akan berada di tanganku.” Jawab Hikaru dengan bangga.

***

Hari minggunya, Din menunggu di tempat yang sudah mereka janjikan. Din menunggu Yuya sangat lama sampai di tempat yang mereka janjikan. Din menunggu sampai 2 jam. Din mulai panik dan mendatangi rumah Yuya.

“Sumimasen… Apakah Yuya-san ada di dalam?” tanya Din.

“Yuya? Dia sudah aku usir dari rumah.” Jawab pria paruh baya.

Din langsung berlari mencari Yuya dan langsung menyuruh seluruh pelayannya mencari Yuya. Tentu saja Din juga ikut. Din menelusuri semua tempat yang mungkin di datangi oleh Yuya, tapi dia tidak kunjung menemukan Yuya. Din pun berjalan menuju sebuah bukit. Disana Din duduk sambil menunduk. Din menangis sekuat-kuatnya. Dia tidak bisa menemukan Yuya dimanapun.

“Dinchan?” panggil seseorang dibelakangnya.

Din menoleh dan segera memeluk orang itu. Orang itu adalah Yuya.

“Bagaimana kamu bisa ada disini?” tanya Yuya.

“Baka! Aku sudah mencarimu kemana-mana!” jawab Din sambil menangis.

Yuya hanya bisa membalas pelukan Din tanpa berkata apapun.

***

“Yuya-chan, kamu lupa dengan kencan kita?” tanya Din.

“Aku tidak lupa. Hanya saja setelah aku diusir dari rumah, aku merasa tidak pantas jika harus bertemu denganmu.” Jawab Yuya sambil menatap langit.

“Sekarang Yuya-chan tinggal dimana?” tanya Din.

“Kemarin aku tidur di jalan. Hari ini aku tidak tahu mau tidur dimana.” Jawab Yuya sambil tersenyum.

“Yuya-chan tinggal di rumahku saja ya? Lagipula di rumahku tidak ada siapapun kecuali pelayanku. Kalau kamu tidak suka dengan pelayanku, aku akana menyuruh mereka pulang saat kita ada dirumah.” ucap Din.

“Ta-Tapi Dinchan…”

“Sudah menurut saja!”

Din pun meminta pelayannya menjemputnya. Yuya juga dipaksa naik ke mobilnya. Tidak sampai 30 menit, mereka berdua sampai di rumah Din. Ini pertama kalinya Yuya datang ke rumah Din. Yuya melihat sekeliling rumah Din. Halaman yang sangat luas yang ditumbuhi beberapa bunga dan dua buah pohon sakura di sisi depan halamannya. Begitu mereka masuk, Yuya melihat dua puluh pelayan yang menyambut Din pulang. Rumah Din juga penuh dengan barang-barang bermerek terkenal. Yuya tidak bisa berhenti memandangi rumah Din.

PLUKK!!!

Din memukul pelan pipi Yuya.

“Jangan dilihat terus rumahku. Yuya-chan jadi terlihat ingin mencuri barang dirumahku saja.” Ucap Din sebal.

“Gomen, gomen. Habisnya rumahmu kelihatan bagus sekali.”

Tidak lama setelah itu, semua pelayan Din pergi meninggalkan Din dan Yuya berdua di rumah itu.

“Yuya-chan boleh pilih kamar yang mana saja.” Ucap Din sambil menunjuk beberapa kamar di rumahnya.

Yuya menoleh dan seketika mendapatkan ide.

“Kamar Dinchan yang mana?” tanya Yuya.

Din pun mengajak Yuya ke lantai dua dan memperlihatkan sebuah ruangan yang memiliki desain interior yang sangat manis. Kamar itu di dominasi dengan warna pink dan biru muda. Ada sebuah tempat tidur besar dan sebuah rak buku yang berjajar.

“Kalau gitu aku pilih kamar ini saja.” Ucap Yuya sambil melompat ke tempat tidur Din.

“Oy!! Takaki Yuya!!! Kamu boleh pilih kamar manapun kecuali kamarku.” Ucap Din sambil memeukul kepala Yuya.

“Hai, hai. Galak sekali nona pemilik rumah ini. Aku jadi takut.” Ucap Yuya dengan nada mengejek.

Yuya pun berlari sebelum Din sempat melemparinya dengan bantalnya.

***

Yuya pun memilih kamar yang bersebelahan dengan Din. Rumah Din cukup besar dan bisa membuat Yuya tersesat. Untung saja kamar mandinya ada di dalam kamarnya. Jadi dia tidak perlu menggunakan kamar mandi di luar kamar. Yuya menatap sekeliling kamar yang ia tempati. Desainnya sangat minimalis dan didominasi dengan warna putih. Kamarnya juga dilengkapi beberapa buku, meja belajar, lemari dan juga televisi, bahkan juga ada kulkas dan dvd player disertai dengan beberapa film dvd original. Kulkasnya juga terisi dengan beberapa cemilan yang bisa langsung dimakan. Kamar ini di desain untuk membuat orang yang tinggal di dalamnya merasa senyaman mungkin.

Yuya agak heran dengan kondisi kamarnya yang super lengkap. Bukan barang-barangnya yang membuat dia bingung. Tapi apa yang ada di dalam kulkas, buku dan film dvdnya. Semuanya adalah buku dan dvd yang ada dikamar itu rata-rata adalah film yang ia suka. Bukunya juga buku yang suka Yuya baca. Begitu juga dengan isi kulkasnya.

“Yuya-chan, saatnya makan malam.” Panggil Din sambil memasuki kamar Yuya.

“Dinchan…”

“Hai?”

“Semua ini kamu yang mengaturnya ya?” tanya Yuya sambil menunjuk kearah rak buku.

“Maa nee… Mungkin hanya kebetulan saja.” Jawab Din sambil tertawa hambar.

Yuya berjalan kearah Din dan mencubit kedua pipi Din.

“Katakan yang sejujurnya Din…”

“Ha~i, aku yang mengaturnya.”

Yuya pun melepaskan tangannya dari pipi Din.

“Benar aku yang mengatur semuanya. Selama kita menunggu di bukit, aku menyuruh pelayanku membelikan semua buku, film, dan makanan kesukaanmu.” Jawab Din sambil mengelus pipinya yang masih sakit.

“Tapi kan kita berada disana hanya 15 menit.” Ucap Yuya dengan terkejut.

“Sebenarnya 40 menit dengan waktu perjalanan kita dari sana ke rumah itu. Dengan waktu sebanyak itu, itu sudah cukup untuk membeli semua hal yang aku perlukan untuk mendekor kamar ini.” Jelas Din.

Yuya mengelus kepala Din sambil tersenyum.

“Na-Nani yo?” tanya Din.

“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengelus kepalamu saja.” Jawab Yuya dengan santai.

***

Sekarang Din dan Yuya sudah masuk SMA. Mereka masuk ke SMA yang sama lagi tetapi kali ini mereka berbeda kelas. Din tidak masalah jika Yuya berbeda kelas dengannya selama mereka berada disekolah yang sama. Ternyata, sejak pertama Din masuk sekolah Din sudah menjadi terkenal karena di sekolanya dulu, dia adalah murid terbaik di sekolahnya. Begitu pula dengan Yuya. Dia juga menjadi murid terbaik di sekolahnya meskipun satu peringkat dibawah Din. Di sekolahnya yang sekarang, Yuya dan Din menjadi lebih terkenal dan lagi-lagi Din dipilih sebagai ketua dewan perwakilan sekolah. Sekarang Yuya sudah tidak tinggal bersama Din. Ayah Yuya yang dulu mengusir Yuya, sudah pergi dari rumahnya meninggalkan setumpuk hutang yang harus Yuya lunasi. Untungnya Yuya juga mendapatkan beasiswa dari SMAnya. Sesekali Yuya pergi ke rumah Din untuk sekedar menonton film.

“Yo! Yuya-kun. Hisashiburi.” Sapa seorang temannya.

Teman yang menyapa Yuya adalah Yaotome Hikaru yang sekarang masuk disekolah yang sama dengan Yuya dan juga menjadi teman sekelas Yuya. Sekarang, Hikaru juga punya seorang teman yang juga sama tampannya dengan Yuya dan Hikaru. Tapi temannya ini adalah anak orang kaya. Namanya Yabu Kota. Yabu, Yuya dan Hikaru sekarang menjadi teman dekat yang dijuluki “Three Bad Prince” dan mereka adalah musuh dari komite kedisiplinan sekolah. Mereka selalu membolos, berpakaian tidak rapi, dan berkelakuan buruk di sekolah sampai membuat guru-guru kewalahan. Untungnya mereka bertiga murid yang pintar, karena itu mereka tidak dikeluarkan dari sekolah.

“Kaichou, Yabu-san, Yaotome-san, dan Takaki-san membolos lagi.”

Dan inilah yang selalu membuat Din pusing. Selain harus mengurus kegiatan sekolah, dia juga harus mengurus Yuya. Kalau Yuya saja sih tidak apa-apa. Masalahnya, Yuyanya sekarang sudah berlipat ganda menjadi tiga kali lipat. Din pun berjalan kearah belakang sekolah.

“Yuya-chan! Sudah waktunya masuk kelas!” ucap Din.

Mereka bertiga langsung menoleh. Mereka bertiga terlihat sangat tampan. Pantas saja mereka dijuluki pangeran. Dan juga, sudah banyak sekali gadis yang mereka kencani. Dengan uang Yabu yang sangat banyak, ini memungkinkan mereka untuk pergi kencan setiap hari.

“Maa… Kaichou jangan marah-marah begitu, ayo bergabung bersama kami.” goda Yabu.

Din menghela nafas panjang dan mengayunkan buku pelajarannya ke kepala Yabu, Hikaru dan Yuya.

“Kalau tidak mau sakit lagi, cepat masuk ke kelas. Dan rapikan baju kalian.” Ucap Din sambil meninggalkan mereka.

***

Din berbaring di sofa rumahnya sambil menyalakan televisi di rumahnya. Dan kebetulan hari ini Yuya bermain ke rumahnya.

“Nee Dinchan… Pukulan yang tadi masih terasa tahu…” rengek Yuya.

Din mendengus kesal.

“Kamu datang kesini mau menghiburku atau membuatku jenuh sih???” ucap Din dengan kesal.

“Gomen, gomen… Aku kan hanya-”

Ting Tong…

Tiba-tiba bel dirumahnya berbunyi.

“Siapa?” tanya Din kepada pelayannya.

“Papa dan mama anda nona.” Jawab pelayannya.

“WHAAAATTTT?????”

Din yang panik pun langsung membawa Yuya masuk ke kamarnya. Tidak lupa dia membawa masuk sepatu Yuya ke kamarnya.

“Katakan aku tidak ada.” Bisik Din ke pelayannya.

Din pun masuk ke kamarnya dan mengunci pintu kamarnya dan mematikan lampu kamarnya. Itu adalah kebiasaaan Din, jika dia tidak ada dirumah, lampu kamarnya pasti akan dimatikan dan dia hanya akan menghidupkan lampu tidur serta mengunci pintu kamarnya. Yuya masih kebingungan kenapa Din sepanik itu saat orang tuanya datang.

“Kalau papa dan mamaku tahu, bisa gawat.” ucap Din yang mulai panik.

Yuya berjalan mendekati Din yang sedang berada di atas tempat tidurnya. Yuya duduk didepan Din dan meraih tangan Din.

“Daijoubu. Semuanya akan baik-baik saja.” ucap Yuya sambil berusaha menenangkan Din.

Yuya mengelus kepala Din sambil tersenyum. Tiba-tiba Din memeluk Yuya dengan erat. Yuya agak kaget dan tidak tahu harus berbuat apa.

“Aku akan dijodohkan.” ucap Din pelan.

Yuya tertegun dan teringat dengan perkataan Hikaru.

“Karena itu mereka pulang. Aku tidak ingin mereka menikahkanku dengan seseorang yang tidak aku sukai.” Ucap Din sambil menangis.

Yuya membalas pelukan Din dan berusaha menenangkannya. Din pun berhenti menangis tidak lama setelah itu.

“Daijoubu. Sekarang giliranku yang akan menolongmu.”

Yuya mendekatkan wajahnya kepada Din dan mulai menciumnya. Din membulatkan matanya. Din terkejut karena Yuya tiba-tiba menciumnya. Yuya melepaskan ciumannya dan menatap Din lekat-lekat.

“Suki da.” Ucap Yuya dengan tegas.

Din bingung harus bereaksi seperti apa. Ini memang bukan pernyataan cinta yang pertama untuk Din. Di sekolahnya, dia sudah sering menerima pernyataan cinta dari beberapa teman satu sekolahnya. Tapi itu berbeda saat Yuya yang mengucapkannya.

“E-Eh? Tapi bukannya Yuya-kun berpacaran dengan Chihiro-san?” ucap Din dengan panik.

“Heh… Yuya-kun?” goda Yuya sambil tersenyum.

“A-Ano… Ko-Kore wa…”

Din jadi semakin bingung ingin menjawab apa.

“Dinchan juga menyukaiku kan?” tanya Yuya sambil tersenyum.

Din terperanjat dan menjauh dari Yuya.

“Chi-Chigau yo! Aku mana mungkin suka dengan siswa yang sudah berkali-kali kencan dan mencium banyak wanita!” elak Din.

Yuya pun menarik Din ke pelukannya.

“Na-Nani-”

“Aku memang sudah mengencani banyak wanita, tapi aku belum pernah mencium siapapun.” potong Yuya.

“Zurui!”

“Hm? Kenapa?” tanya Yuya.

“Yuya-chan membuatku mengatakan apa yang seharusnya tidak aku katakan!” bentak Din.

“Tapi… Aku.. juga suka… dengan Yuya.” Ucapnya lirih.

Yuya melepaskan pelukannya.

“Hm? Apa? Aku tidak dengar.” goda Yuya.

“Tidak ada siaran ulang! Baka!”

***

To be continue

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s