[Multichapter] Little Things Called Love (#12)

Little Things Called Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 12)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13 nyerempet NC-17
Starring : Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Tanaka Juri, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Jesse Lewis (SixTONES); Ichigo Yua, Kimura Aika, Kirie Hazuki, Mizutani Ruika, Takahara Airin, Matsumura Sonata (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Untitled-1

“Aku sudah memperingatkanmu, Ai-chan,” bisiknya lirih. Airin menahan napasnya, memutuskan bahwa sekarang saatnya ia memejamkan mata. Bukan karena tidak ingin melihat ekspresi wajah Hokuto saat ini, tapi lebih karena dia ingin menikmati pagutan bibir Hokuto lebih dalam. Airin merasakan jari-jari Hokuto meraih bagian kepalanya dan hanyut di antara helaian rambut panjangnya, dan gadis itu menjawab dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Hokuto. Malu-malu, Airin membuka mulutnya sedikit lebih lebar, membiarkan lidah Hokuto menginvasi ke dalam dirinya.

Posisi ini membuat Airin sedikit pegal, ia harus menengadah sedikit, sementara Hokuto pun sepertinya merasakan hal yang sama karena detik berikutnya Hokuto menarik pinggul Airin, hingga kini gadis itu berada di pangkuannya, Airin menghadap langsung ke tubuh Hokuto dengan kaki Hokuto berada di antara kedua kakinya yang terbuka, how sick is that?! Ini adalah pengalaman paling dewasa yang pernah Airin rasakan, sementara ciuman penuh gairah itu belum juga berakhir. Tangan Airin berpindah, mengalungkan tangannya di leher Hokuto sementara Hokuto melingkarkan tangannya di tubuh Airin. Belum juga Airin bisa mengindahkan suara detak jantungnya yang bahkan terdengar olehnya sendiri, Hokuto melepaskan bibirnya dari bibir Airin, mengalihkannya ke leher Airin yang tepat berada di depan matanya.

“Hoku-nii…” suara Airin tersengal, Hokuto berhenti dan menatap Airin dengan pandangan yang, eugh… tidak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Campuran antara kecewa dan seksi, Airin tidak bisa memutuskan ekspresi mana yang lebih kentara, apalagi bibir Hokuto saat ini terlihat merah, sepertinya Airin kelewat bersemangat menggigit bibir Hokuto tadi.

Airin bisa melihat Hokuto menarik napas panjang, dan detik berikutnya pemuda itu tersenyum, “Kau yang memutuskan, Ai-chan, lanjut atau tidak?” jari-jari Hokuto menyapu pelan pipi Airin, membuat desir aneh pada Airin. Ini impiannya sejak dulu, bisa benar-benar mencium Hokuto dan pemuda itu tidak lagi menolaknya. Tapi, Airin belum tau apakah dirinya siap atau tidak, setidaknya saat ini.

Belum Airin menjawab, Hokuto menarik Airin, memeluk gadis itu, “Sepertinya sudah malam, lebih baik kita tidur,” dengan canggung Airin melepaskan diri dari Hokuto, masih sedikit menyesal apalagi melihat ekspresi kecewa di wajah Hokuto tadi.

Keheningan tercipta saat Hokuto sibuk mengeluarkan futon dari lemari sementara Airin hanya duduk melihat gerak-gerik Hokuto dan ketika futon sudah tergelar, Airin melihat hanya ada satu lembar futon di tengah ruangan itu, bukan dua.

“Kita tidak butuh dua futon, kan?”

Mata Airin mengerjap cepat menatap Hokuto, mencoba mencerna apa yang dimaksud oleh pemuda itu, darahnya berdesir cepat sekali memompa jantungnya hingga Airin agak takut kena serangan jantung sekarang, karena Hokuto sudah masuk ke dalam futon, menepuk pelan tempat yang kosong di sebelahnya, “Tapi…”

Hokuto tersenyum, “Hanya tidur, aku janji,” pemuda itu mengulurkan tangannya, “Kau percaya padaku?”

Tangan Airin terulur dan Hokuto menarik Airin ke atas futon yang sudah terhampar di depannya. Hokuto mematikan lampu sesaat setelah Airin tidur di sampingnya, “eh, tidak apa-apa kan lampunya mati?” jantung Airin rasanya mau copot saja karena Hokuto memeluknya, Airin berusaha bersikap tenang, Hokuto menarik tubuh Airin sehingga kini mereka menempel satu sama lain dengan posisi kepala Airin ada di dada Hokuto. Tangan Hokuto kini naik dan mengelus pelan rambut Airin, menciptakan posisi yang sangat nyaman bagi keduanya.

“Tidurlah, sudah malam,” bisik Hokuto.

“Hoku-nii,”

“Hmmm?”

“Hoku-nii menyukaiku?” entah mengapa Airin jadi penasaran akan keluar jawaban seperti apa dari Hokuto sekarang. Setelah mereka melakukan hal yang –eugh, lebih dari fantasi liar seorang Airin.

Airin bisa merasakan hembusan napas dari Hokuto, “Sepertinya begitu,” jawabnya pelan. Dan itu sudah lebih cukup untuk Airin tertidur sambil menyunggingkan senyum bahagianya, balik melingkarkan tangannya ke tubuh Hokuto dengan sikap protektif. Hokuto miliknya sekarang. Miliknya seorang.

***

It’s obvious you’re meant for me, every piece of you, it just fits perfectly. Every second, every thought, I’m in so deep. But I’ll never show it on my face. Penggalan lagu yang mengalun di mobil membuat Jesse agak kesal. Dia memang bukan tipe pendengar lirik sebelumnya, semua lagu yang ia dengarkan hanya berdasarkan enak atau tidak beatnya. Tapi suasana hatinya terlalu pas dengan lirik lagu ini, membuatnya terbawa perasaan sesaat. Mobilnya masih terparkir di depan bangunan mewah ini, tapi raganya belum ingin keluar dan melangkah ke dalam gedung.

Jesse mengeluarkan ponselnya, menatap isi pesan beberapa jam yang lalu dan belum sempat ia balas. Bukan belum sempat, tepatnya dia tidak tau harus membalas apa.

Why can’t I be the only thing in your mind? Why do you still need her?

Hanya sesederhana itu isi pesannya dan Jesse rasanya ingin meninggakan parkiran, berkendara secepat yang ia bisa menemui si pengirim pesan. Menjelaskan bahwa selama ini memang hanya dirinya yang ada di dalam pikirannya, tapi masalah ini jadi rumit karena Jesse masih membutuhkan keberadaan Aika.

Jesse akhirnya memutuskan untuk turun, berjalan dengan mantap memasuki bangunan mewah itu, memencet bel nya hingga seorang pria membukakan pintu, ia mengenalnya, asisten Kimura-san, “Selamat datang Jesse-san, sudah ditunggu Kazuya-san di ruangannya,”

Setelah berbasa-basi soal tanaman dekat pintu keluar yang agak kering sambil berjalan diantar oleh Yasui, pintu ruangan itu terbuka, dengan design modern di dalamnya, Kazuya Kimura sedang duduk dibalik meja yang terbuat dari besi, terlihat kokoh, tak seperti biasanya kali ini Jesse melihat pakaian yang dikenakan oleh Kimura-san tidak begitu formal.

“Selamat datang, Jesse-kun, silahkan duduk,” Kimura-san menunjuk ke sofa yang memang disediakan untuk tamu. Jesse pun duduk, menunggu apa yang akan dikatakan oleh Kimura-san.

“Kau tau Aika kabur?”

Jesse menatap Kimura-san dengan gugup menggeleng pelan. Memang Kimura Kazuya ini sudah tidak muda lagi, tapi siapa sangka aura yang mendominasi masih bisa dirasakan oleh Jesse.

“Sebenarnya bukan masalah besar, kami sudah menemukannya, tapi akan kubiarkan dia bermain-main sebentar,” Jesse hanya bisa mengangguk pelan, “Yang ingin aku tanyakan adalah soal ini,” Kimura-san menyodorkan sebuah amplop dengan pelan Jesse mengambilnya, mengeluarkan isinya.

“Ini…”

“Pasti bukan salah paham, tapi yang ingin aku lebih tau,” Kimura-san duduk di hadapan Jesse, “Kalau kau serius dengan putriku, tak peduli apapun urusanmu dengan gadis itu, akhiri, fokus pada putriku saja, lalu kupastikan kau akan mendapatkan semuanya. Hanya saja, jangan menemui gadis itu lagi, kalau sampai kau mengendap-endap di belakangku, aku akan tau,”

Saking terintimidasinya Jesse tidak bisa menjawab dan sampai sekarang ia sudah kembali ke dalam mobil, menatap lembaran-lembaran foto yang memuat dirinya dan Ruika. Tidak hanya kemarin saat ia menemui Ruika, tapi juga foto-foto sebelumnya.

Mobil merah itu sudah kembali ke jalan, Jesse memikirkan matang-matang apa yang harus ia katakan terutama karena pada akhirnya ia harus memilih.

“Pikirkan baik-baik. Kalau kau memilih gadis ini,” Kimura-san menunjuk Ruika, “Hanya Tuhan yang tau nasib Lewis Bakery,” reputasinya hancur? Atau Kimura-san akan berbuat sesuatu tentang tokonya? Yang lebih mengerikan adalah reaksi Ayahnya saat tau reputasinya hancur.

***

Berbulan-bulan tidak pulang, reaksi pertama Ruika saat melihat rumah Ayah hanyalah terdiam, dulu, rumah ini ramai dan Ibu akan memasak untuk mereka, akhir minggu kadang-kadang mereka akan pergi piknik. Hingga Ibu memtuskan bahwa kehidupan rumah tangganya dengan Ayah sudah tidak bisa dipertahankan, karena Ayah tidak bisa membahagiakan dirinya lalu dengan egois Ibu meninggalkan rumah, meninggalkan dirinya dan Ryo, adik laki-lakinya, tanpa pesan.

Ruika ingat hari pertama Ibu menghilang, Ayah mabuk-mabukan, ia menyalahkan Ibu, mengatakan bahwa Ibu sama sekali tidak mengerti dirinya dan bagaimana dia akan membenci Ibu selamanya. Mungkin sekarang Ayah tidak lagi mabuk untuk melupakan Ibu, tapi menolak obrolan tentang Ibu sama sekali, menganggap Ibu tidak pernah ada dan tidak akan ada lagi.

Tadaima,” Ruika membuka sepatunya di ruang depan, melangkah ke dalam namun belum ada jawaban.

Okaeri nee-chan!” Ryo, adiknya yang berbeda lima tahun dengannya menyambutnya. Ruika sebenarnya sudah mengajak Ryo untuk pindah dari rumah, tapi adiknya menolak dengan alasan sekolah, walaupun Ruika tau alasan sebenarnya adalah Ryo tidak bisa meninggalkan Ayah sendirian.

“Mana Ayah?” tanya Ruika sambil masuk ke dalam, tidak ada perubahan yang berarti di rumah ini, hanya semakin lapuk saja.

“Belum pulang,” Ruika memerhatikan adiknya yang berjalan ke dapur lalu membuatkan teh sementara dirinya duduk di meja makan, menunggu hingga Ryo kembali dan menyodorkan segelas teh hangat, “Apa kabar neechan?

Ruika tersenyum, “Baik tentu saja, aku pindah kerja tapi bayarannya lebih oke. Tapi karena aku harus pindah apartemen, aku hanya bisa memberimu sedikit bulan ini,” Ruika mengeluarkan sebuah amplop dan menyimpannya di atas meja.

Neechan tidak perlu repot, kan biasanya transfer saja,” kata Ryo, tapi tersenyum mengambil amplop itu, “Kalau tahun depan aku sudah mulai bisa bekerja, neechan tidak perlu mengkhawatirkan aku dan Ayah,”

“Aku ingin bertemu denganmu, bagaimana sekolahmu?”

“Baik, aku dapat nilai ujian tertinggi lagi, kalau lancar harusnya aku bisa masuk sekolah paling bagus di sini,”

“Baguslah, aku lega kalau begitu,”

TING TONG

Suara bel terdengar dari luar rumah. Ryo beranjak dari kursinya, “Siapa ya?” katanya bergumam dan menghilang dari dapur sementara Ruika memutuskan untuk beranjak, melihat ruangan yang terlihat agak kosong, mungkin efek foto keluarga mereka yang sudah menghilang semua. Ayah menurunkan semua foto mereka setelah Ibu pergi, bahkan memerintahkan Ryo untuk membakar semuanya.

Neechan, ada temanmu,”

Ruika berbalik dan melihat Jesse berdiri di ambang pintu, “Hey, I need to talk,” ucapnya.

“Kalau begitu aku ke kamar dulu,” Ryo pamit meninggalkan Ruika dan Jesse berdua.

“Bagaimana kau bisa tau aku di sini?” tanya Ruika, Jesse masuk ke ruangan dan duduk di kursi ruang tamu. Ruika mengikuti Jesse, ikut duduk di hadapan pemuda itu, “Kau baik-baik saja?” Ruika melihat air muka Jesse yang tidak seperti biasanya, tertekan, ya kira-kira seperti itu wajah Jesse sekarang.

“Aku tau alamat rumahmu dari file yang ada di toko, karena kau pernah mengisi form nya kan, karena kau tidak ada di apartemen, jadi aku berasumsi kau ada di sini, just a lucky guess,” ucapnya lagi.

“Lalu?”

“Bisa kita bicara di tempat lain? Bisa kita… jalan dulu? Aku merindukanmu,” dan walaupun Ruika bersikeras untuk mencari kebohongan di mata Jesse, tapi sama sekali tidak ada kebohongan itu, ucapannya tulus dan itu membuat Ruika kesal. Pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya masih iba pada Jesse.

“Baiklah, sampai sore saja ya, aku ada tugas,”

Jesse mengangguk, “Oke, bisa kita berangkat sekarang?” ia mengulurkan tangannya pada Ruika yang tidak digubris oleh gadis itu.

***

Taiga tidak bohong. Pemandangan dari president suite ini benar-benar spektakuler. Hotel The Royals cabang Paris ini memang tidak pernah mengecewakan pelanggannya. The Royals yang hanya berjarak kurang dari dua ratus meter dari menara Eiffel merupakan grup Hotel yang sudah terkenal di Jepang, dan membuka Hotel nya di Paris sebagai bagian dari pengembangan perusahaannya. Saat masuk Hazuki bisa melihat langsung menara Eiffel dari jendela yang berhubungan langsung dengan balkon. Dekorasi kamar ini seperti kamar Eropa di abad pertengahan. Klasik dan elegan adalah kata yang terpikirkan oleh Hazuki saat melihatnya. Beberapa lukisan yang memperlihatkan Eropa abad pertengahan pun menjadi hiasannya.

“Aaaa! Spreinya ungu!” seru Hazuki heboh. Ranjang besar berukuran king itu ditutupi oleh bed cover berwarna ungu berbahan beludru yang rasanya akan nyaman sekali berbaring di atasnya kalau Hazuki tidak sadar bahwa ia masuk ke kamar ini bersama Taiga, ia sudah langsung ingin merebahkan diri.

“Kau suka?” tanya Taiga sambil menyimpan tas ranselnya di dalam lemari dekat kamar mandi.

Hazuki heran, dengan membawa ransel macam backpacker tapi memesan kamar se-mewah ini di Paris adalah kelakuan aneh Taiga. Hazuki akhirnya mengangguk pada Taiga.

Tentu saja spreinya berwarna ungu, ini adalah pesanan khususnya pada pihak Hotel saat memesan kamar, ditambah beberapa bunga di ruangan ini yang juga bernuansa ungu, semuanya adalah pesanan Taiga.

Begitulah malam kemarin Hazuki terlelap di atas kasur ukuran king sementara Taiga mengalah tidur di atas sofa yang untungnya tidak kalah empuk dengan kasur. Dan saat pagi ini Hazuki terbangun, sebenarnya karena wangi croissant yang menggoda indera penciumannya. Matanya terbuka, dengan malas Hazuki bergerak keluar dari kamar, semalam memang sengaja Hazuki langsung mengunci pintu kamar setelah menyerahkan selimut dan bantal agar Taiga tidak ada kesempatan untuk masuk ke kamar ini. Saat membuka pintu kamar Hazuki melihat Taiga dan  sebuah tray bercat emas di samping sofa. Menu sarapan lengkap ada di atas tray itu hingga croissant dan bruschetta dan bahkan pancake. Pilihan minumannya dari jus jeruk, kopi dan bahkan susu dalam tiga pitcher berbeda.

Morning sunshine!” Taiga tersenyum masih hanya dengan celana pendek dan kaos putih, padahal tampaknya Taiga belum mandi tapi Hazuki merasa canggung sendiri melihat wajah Taiga yang berseri-seri, “Sarapan sini,”

“Taiga-kun yang memesan ini semua?”

Taiga mengangguk.

“Diantar ke kamar segala?”

“Hey, kita tamu president suite,” ucap Taiga sambil tersenyum dan mengacak pelan rambut Hazuki ketika gadis itu duduk di sebelah Taiga, “croissant?

Bien sur,jawab Hazuki menerima piring kecil berisikan croissant dan butter serta beberapa rasa selai dalam wadah yang lebih kecil, “Arigatou, Taiga-kun,” ucap Hazuki sambil membelah dua croissant nya, melapisinya dengan butter dan selai coklat kesukaannya.

“Kopi? Susu? Teh?” tanya Taiga lagi.

“Tenang-tenang, aku bisa ambil sendiri ko, Taiga-kun tidak usah melayaniku begitu,”

Taiga sebenarnya sedang mengalihkan perhatiannya. Apa saja selain kemeja tipis yang memetakan badan Hazuki dengan jelas, tanpa bra sepertinya, dan celana pendek yang kini memperlihatkan tungkai kaki Hazuki. Taiga sampai harus menelan ludah berkali-kali melihat gadis ini dengan sukarela kini duduk di sebelahnya dan memberi akses lebih untuk memperhatikan tubuh Hazuki.

Tangan Taiga terangkat, ibu jarinya menyapu pelan bibir Hazuki secara spontan, “Belepotan,” ucapnya, ibu jari Taiga masih menempel di bibir Hazuki karena keduanya mendadak canggung. Ibu jari taiga mengeksplorasi bibir Hazuki dan terkesima dengan kelembutan permukaan kulitnya. Sementara itu tangannya yang satu lagi bergerak ke belakang leher gadis itu. Menahan posisi kepala Hazuki ketika dia melumat bibir Hazuki dengan ciuman penuh gairah. Ada rasa coklat dan butter dari mulut Hazuki ketika lidah Taiga lalu mendesak masuk ke rongga mulut gadis itu. Tangan Hazuki masih tergantung di udara, croissant nya sudah jatuh dengan menyedihkan di lantai, Hazuki tidak peduli karena fokusnya kini pada bibir Taiga yang masih mengeksplorasi bibirnya, entah dorongan dari mana Hazuki pun membalasnya dengan tak kalah bersemangat, diikuti dengan gerakan mendorong hingga pemuda itu rebah di atas sofa. Taiga buru-buru berpegangan pada lengan sofa supaya tak jatuh ke lantai.

Kau benar-benar akan melakukan ini pada Hazuki? Dia mungkin memang gadis yang menarik untukmu, tapi yakin? Taiga bermonolog dengan dirinya sendiri. Ugh, tidak bisa, dia tidak bisa menahan gairah ini, libidonya sudah menguasai dan bayangkan saja Taiga sudah tidak melakukannya selama enam bulan. Six friggin months  dengan alasan janjinya pada diri sendiri. Dan bagi seorang Kyomoto Taiga itu berarti dia sudah kembali perjaka, biasanya walaupun sedang off pacaran, Taiga punya teman-teman wanita yang mudah saja dihubungi saat dia kesepian. Ya, dia se-populer itu. Tapi enam bulan belakangan Taiga hanya menghabiskan malam-malam kesendiriannya dengan main game, how lame is that?

Taiga memeluk Hazuki untuk membalikkan posisi tubuh mereka, memastikan Hazuki kini berada di bawah tubuhnya, Hazuki terkesiap kaget ketika tau tangan Taiga membuka kancing kemejanya dengan tidak sabar. Tangannya bergetar terlalu bersemangat sehingga agak kesulitan membuka tiga kancing terakhir. Taiga menarik paksa hingga kancing-kancing itu terpelanting entah kemana. Ketika melihat dada telanjang Hazuki, Taiga sadar dirinya sudah kelewat batas sehingga Taiga tiba-tiba berhenti dengan napas tersengal, seakan stok oksigen habis dari paru-parunya dan Taiga membutuhkan udara. Taiga menjauhkan dirinya dari Hazuki.

Terpaku sesaat, Hazuki terlihat terluka, di matanya terlihat pertanyaan-pertanyaan besar dan mengapa tiba-tiba Taiga berhenti, walaupun Hazuki sebenarnya masih bingung kenapa sekarang ia tidak ingin Taiga berhenti. Rasanya benar, di sini, dengan pemandangan Eiffel di jendela kamar mereka, dengan sarapan servis penuh dari hotel, dengan ciuman Taiga tadi. Sejujurnya setelah malam di Odaiba, Hazuki sama sekali tidak bisa mengingat bagaimana ia dan Taiga bisa berakhir di atas kasur tanpa berpakaian sama sekali dan dia tidak mengingat bahkan secuil rasa ciuman dari bibir Taiga. Dan itu membunuhnya, ia ingin tau bagaimana Taiga menyentuhnya, hanya rasa penasaran yang membuatnya bahkan sampai rela kabur ke Paris untuk melupakan perasaan penasaran itu. Tapi kini Taiga ada di hadapannya, yang menciumnya beberapa detik yang lalu, mengembalikan keinginan tahuannya menghantamnya kembali.

“Kenapa berhenti?” tuding Hazuki dengan nada tinggi, harga dirinya terluka dan air matanya tidak bisa dibendung lagi.

“Ini satu-satunya cara aman untuk kita berdua, Hazuki, gomen,”

“Kenapa? Taiga-kun hanya mau menyentuhku jika aku sedang mabuk?”

“B-bukan begitu Hazuki,” Kalau saja gadis itu tau bahwa malam itu sebenarnya tidak terjadi apa-apa dan Taiga hanya memanfaatkan keadaan saat Hazuki masuk ke dalam selimut dalam keadaan setengah telanjang, hanya memakai pakaian dalam karena kepanasan, katanya, Hazuki mengatakannya sambil mabuk, dan Taiga ikut masuk ke dalam selimut, vice versa Hazuki mengira mereka benar-benar melakukannya, “Sudahlah, lebih baik kita sekarang siap-siap, antrian naik ke Eiffel tidak akan surut walaupun sudah siang,” Taiga berusaha mengalihkan pembicaraan.

Wajah Hazuki terihat muram, apa naik ke menara lebih penting daripada urusan mereka berdua sekarang, maki Hazuki dalam hati.

“Sebenarnya, tidak terjadi apa-apa malam itu di Odaiba, aku hanya memanfaatkan keadaan. Kita tidak melakukan apa-apa, jadi maafkan aku Hazuki,” Taiga sudah tidak sanggup berbohong, apalagi setelah melihat kemarahan di wajah Hazuki, “Sebelum kau memutuskan untuk menerima pertunangan kita, aku tidak akan menyentuhmu,”

Hazuki menaikkan sebelah alisnya, “Jadi, begini saja? Oke…” Hazuki berdiri, meninggalkan Taiga dan masuk ke kamarnya dengan hati yang terluka.

Taiga menghela napas berat, tentu saja dia tidak rela, tapi apa daya ia sudah berjanji pada dirinya sendiri.

***

“Bagaimana ini? Bagaimana iniiii?” Sonata menarik napasnya berkali-kali, mencoba menenangkan dirinya. Sebentar lagi Shintaro akan datang, dan Sonata tidak bisa tidak panik.

Sonata menatap lagi dirinya di cermin, saat menatap bibirnya sendiri tiba-tiba saja ingatan tentang ciumannya dengan Shintaro menghampirinya. Sebenarnya Sonata tidak ingin bertemu dengan Shintaro hari ini. Bagaimana harus menghadapi pemuda itu setelah apa yang terjadi dengan mereka berdua? Tapi tugas mereka tidak bisa ditunda lagi, gara-gara ciuman kemarin mereka gagal mengerjakan tugas karena Shintaro kabur setelah canggung tidak bisa mereka bendung, setelah beberapa hari menghilang akhirnya Shintaro menghubungi Sonata, membicarakan soal tugas mereka.

TING TONG

Terkesiap, Sonata melangkah ke pintu depan apartemen, ketika ia mengintip siapa yang datang, benar saja Shintaro berdiri di depan pintu, “Masuk,”

Arigatou,”

Canggung. Lagi. Sonata berusaha bersikap biasa, ia meminta Shintaro langsung ke kamarnya sementara dirinya mengambil minuman untuk mereka berdua. Ketika Sonata masuk ke kamar, Shintaro sedang membaca shojo manga milik Sonata.

“Nih, kita benar-benar harus menyelesaikan tugas kita sekarang,” kata Sonata, “Jangan kabur lagi ya,”

Shintaro hanya manyun, menunggu Sonata menyalakan laptopnya, “Ngapain baca shojo manga?” tanya gadis itu, menatap Shintaro yang masih serius membaca.

“Perempuan itu mahluk yang sulit dimengerti,” kata Shintaro sambil memperlihatkan adegan seorang gadis menangis karena tidak bisa menyatakan perasaannya pada laki-laki pujaannya, “Kalau suka kan tinggal bilang,”

“Kita bukannya sulit dimengerti, tapi kalian laki-laki yang tidak mau mengerti kita! Gadis manapun inginnya mendapatkan pernyataan cinta, bukan sebaliknya!” seru Sonata, “Bukannya Shin-kun juga butuh waktu untuk menyatakan perasaannya pada Ai-chan?”

Shintaro menutup manga di tangannya, “Aku pikir Ai-chan adalah tipeku. Selalu. Kau tau kan, Ai-chan adalah tipe ideal semua laki-laki di sekolah. Feminin, berambut panjang, berwajah cantik,”

“Uhmmm.. jadi Shin-kun bangga berpacaran dengan Ai-chan?”

Shintaro mengagguk, “Dan aku sebenarnya tidak menyangka Ai-chan akan menerimaku, mengingat siapa saja yang pernah mendekatinya,”

“Menurutmu kenapa Ai-chan memilihmu?” Sonata mengambil flashdisk yang ada di tangan Shintaro, menyambungkannya dengan laptop miliknya.

Shintaro berpose dengan ibu jari dan telunjuknya di dagu, “Karena aku paling keren, dong,” alisnya bergerak-gerak jenaka.

Sonata hanya mencibir, “Sudah ayo kerjakan tugas kita!” gadis itu mulai mengutak-atik tulisan milik Shintaro dari flashdisk, sebenarnya Sonata sedang mencoba tenang, mengalihkan perhatian pada tugasnya, berusaha tidak mengungkit kejadian ciuman lalu minta maaf kemarin walaupun sudah gatal ingin mengugkitnya, terutama ingin bertanya kenapa harus ada kata maaf setelahnya.

Selama beberapa jam keduanya sibuk mengerjakan makalah yang diminta oleh guru biologi mereka. Beberapa kali Shintaro mengeluh bosan dan mengambil cemilan ke dapur. Karena sudah lama berteman, Shintaro bahkan tau di mana letak cemilan di simpan.

“Yeeeaaaahh beresss!!” Sonata menatap layar laptopnya dengan bahagia.

Shintaro mengulurkan air teh dingin, “Otsukaresama deshita, Sona-chan,”

Keduanya lalu bersulang air teh, tugas biologi berkelompok ini akhirnya selesai juga, selesailah semua tugas musim panas milik Sonata dan itu membuatnya lega.

“Sona-chan, soal ciuman kemarin,”

Duh! Cari masalah deh Shintaro, padahal sudah ditahan-tahan untuk tidak diungkit, sekarang malah Shintaro sendiri yang mengungkitnya.

“Aku menyukai Shin-kun!” Sonata menutup matanya, dan tanpa ia sadari berteriak tanpa menatap ke Shintaro yang duduk di belakang.

Tak siap dengan pernyataan Sonata, Shintaro hanya terpaku, berkali-kali ia meyakinkan dirinya bahwa apa yang Sonata katakan memang benar.

“Eh? Suka sebagai teman? Sebagai sahabat?” garing memang, tak apalah untuk mencairkan suasana, pikir Shintaro.

BAKA! Aku suka Shin-kun, bukan sebagai teman, dan lebih dari sahabat!”

***

“Yuaaaa!! Bukaaaa!!” Yua menatap pintu kamarnya yang diketuk sembarangan, pelakunya tak lain tak bukan pasti Kouchi Yugo. Ia pun membuka selot kamarnya, membiarkan pemuda itu masuk.

“Nih, aku bawakan Pizza,” kata Kouchi menyimpannya di atas meja, “Lagi ngapain? Tugas?”

Yua mengangguk, “Makasih Pizza nya,”

“Tugasnya masih banyak, ga?”

“Kenapa memangnya?” Yua yang sudah pasang muka serius lagi di depan laptop, menoleh pada Kouchi.

“Ke atap, yuk!” Kouchi menunjuk-nunjuk ke atas, yang Kouchi maksud adalah atap apartemen mereka yang walaupun tidak tinggi tapi cukup indah pemandangannya.

“Oke, setengah jam lagi tapi ya,”

Kouchi mengangkat jempolnya dan keluar dari kamar Yua, tapi sebelumnya sempat berteriak, “Jangan ketiduran!!”

Setengah jam kemudian Yua pun menuju ke lantai lima, yang merupakan atap apartemen mereka, ia melihat Kouchi duduk di tengah-tengah atap itu, bertemankan beberapa kaleng bir, dan dua kotak pizza.

“Sini,” Kouchi menepuk tempat yang ksosong di sebelahnya, Yua menurut.

Tidak akan bisa sama lagi, begitulah setiap kali Yua menatap Kouchi sekarang. Tidak hanya perasaan bersalah karena merasa tidak bisa menerima cinta Kouchi, beban pun dirasakan Yua. Kouchi tidak berhenti menjadi baik untuknya, setiap malam Kouchi akan mengetuk pintunya, membawakan makanan, tidak peduli Yua sudah makan atau belum.

Benarkah permintaannya kemarin pada Kouchi soal mencoba pacaran itu hanya karena dirinya kasihan pada Kouchi? Padahal Yua hanya tidak ingin kehilangan Kouchi, dan sekarang walaupun Kouchi tetap bersamanya, ada satu ruang canggung antara keduanya dan Yua tidak nyaman dengan ini semua.

Kouchi menyodorkan sekaleng bir pada Yua, “Nih, kita harus merayakan sesuatu,”

“Merayakan apa?” dahi Yua mengerenyit, “Kou-chan sedang waras jadi kita rayakan?”

Kouchi tergelak, “Bukan! Karena ini,” beberapa detik kemudian terlihat puluhan kembang api memenuhi langit di sebelah utara, tepat kemana mereka menghadap. Warna warni dan indah sekali, Yua terkesima, kembang api itu masih terus bersahut-sahutan, membuat beberapa bentuk unik yang indah sekali.

“Waaaa sugooiii!!” Yua bertepuk tangan, ia berdiri untuk mendapatkan pemandangan lebih jelas ke kembang api yang jaraknya cukup jauh.

“Karena Yua-chan tidak bisa ikut ke Odaiba tempo hari, jadi kembang apinya di sini saja ya,” Kouchi menghampiri Yua, “Aku mau mengajakmu ke festival tapi karena kerja jadi tidak bisa,”

Yua tersenyum kepada Kouchi, “Ini sudah cukup ko,” ia mengangkat kaleng birnya, “Bir, Kou-chan, lengkap sudah!”

Mata keduanya masih terus melihat kembang api yang bertaburan di langit, beberapa kali Yua mengambil momen itu di kamera ponselnya, ia pun sempat-sempatnya berfoto dengan latar kembang api.

“Ada satu lagi yang harus dirayakan,”

“Hmmm?” Yua menoleh, “Apa lagi?”

Tidak menjawab, Kouchi menyerahkan sebuah kertas yang sepertinya surat, Yua membaca cepat surat itu.

“Wow, ini… benar?”

Surat itu berisi pemberitahuan mengenai seminar dan pelatihan selama tiga bulan di India. Kouchi memang pernah cerita dirinya ingin ikut pelatihan itu, sekalian menjadi sukarelawan sebagai pengajar di sana.

“Selama tiga bulan aku pergi, Yua-chan boleh memutuskan, merindukanku sebagai sahabat atau bisa menerimaku lebih dari sekedar sahabat?”

“Kou…”

“Walaupun aku bilang lupakan saja, aku ingin tetap mendapatkan kepastian, bilang padaku jika saatnya memang aku harus mundur. Katakan saja ‘Kou, aku tidak bisa menyukaimu, sekarang kita hanya sahabat, seterusnya,’ begitu,” wajah Kouchi mendadak terlihat sangat serius, “dan aku ingin mendapatkan jawabanmu sepulang aku dari India,”

Mendadak hatinya merasa tambah terbebani, Yua menunduk, mati-matian menahan tangisnya. Entah kenapa belakangan dia jadi sangat cengeng jika bersama Kouchi. Pemuda di depannya itu menarik Yua ke dalam dekapannya, Yua menjadi sedikit tenang.

“Aku akan merindukanmu,” bisik Kouchi, mencium pelan puncak kepala Yua.

***

Aika memicingkan matanya, menguceknya perlahan, ia tidak menemukan Juri yang semalam tertidur di bawah sofa studio, sementara dirinya di atas. Mendadak Aika panik dan mencari-cari keberadaan Juri, nihil, pemuda itu tidak menampakkan batang hidungnya.

Pintu studio terbuka, alangkah leganya Aika ketika melihat Juri masuk dengan satu kantong plastik besar di tangannya, “Ohayou, aku tidak mau membangunkanmu, jadi tadi keluar sebentar,” Juri mengeluarkan beberapa makanan dan menyerahkan sebotol susu stroberi kesukaan Aika, “Kita sudah dua hari di sini, Aika, lebih baik kau pulang, Ayahmu pasti khawatir,”

Aika menggeleng, “Tidak mau! Ayolah Juri-kun, terima usulanku, yaaa?”

.

Kemarin, setelah meminta Juri membawanya pergi, Juri langsung membawa Aika ke studio. Gadis itu menangis, meminta Juri ikut dengannya.

“Kita mau kemana?” tanya Juri kemarin.

“Kemana saja. Kita bisa ke… Afrika! Atau Amerika, atau kemana saja!!” Aika mengeluarkan buku catatan kecilnya dari tas ransel yang dibawanya, “Aku sudah memikirkan kemungkinannya, uhm… Amerika lebih mudah, tapi Ayah juga akan mudah menemukan kita karena kebanyakan relasi Ayah di sana! Eropa yang paling mungkin Inggris atau…. Swedia?”

Juri menarik tangan Aika, “Stop! Stop! Aika!!”

Mata Aika langsung beralih menatap Juri, “Kenapa? Juri-kun belum buat paspor? Kita buat saja, langsung ajukan visa, dan…”

Dengan gerakan cepat Juri menutup mulut Aika dengan telapak tangannya, ia tersenyum lalu mencubit pipi Aika dengan gemas, “Kalau kita pergi ke luar negri, lalu di sana kita mau apa?”

Melihat ekspresi Aika yang kebingungan, Juri tau gadis itu belum berpikir sampai sana, “Uhmmm.. menikah?” gadis itu memiringkan kepalanya, mengerjapkan matanya membuat Juri tambah gemas.

“Kita kerja apa di sana? Aku bahkan tidak lancar berbahasa Inggris,”

Aika terlihat kecewa, “Tapi… kemana saja asal jauh dan tak tertangkap Ayah, selamanya…”

Juri menggeleng, ia merengkuh kedua bahu Aika, “Aika-chan ingin membuatku jadi buronan Ayahmu? Bahkan mungkin sebentar lagi kita jadi buronan polisi,” Juri masih menatap mata Aika, sejurus kemudian kedua telapak tangan Juri sudah berada di pipi Aika, “Aku tidak bisa membuatmu berpisah dengan Ayahmu dan Ibumu, Aika, ini bukan jenis hubungan yang aku mau,”

“Tapi…”

“Dengarkan aku!” suara Juri kali itu semakin tegas, “Kalaupun aku harus menunggu hingga Ayahmu setuju, aku akan melakukannya, aku akan berusaha keras agar Kimura-san mau menerimaku, tapi membuatmu memilih diriku daripada Ayahmu,” Juri menggeleng, “Aku tidak bisa, selamanya aku akan menyesal dan Aika pun akan menyesal,”

“Lalu aku harus bagaimanaaa?” butir-butir air mata akhirnya meleleh di pipi Aika, Juri hanya bisa menenangkannya hingga Aika jatuh tertidur karena kecapaian.

.

“Dan kau tau jawabanku tetap tidak,” kata Juri, menyaksikan Aika mengomel dengan mulutnya belepotan susu dan sandwich memang lucu. Juri membiarkan Aika terus mengomel.

“Aku punya usulan lain!” kata Aika tiba-tiba. Juri tidak menjawab, ia masih mengunyah sandwichnya, “Aku hamil saja! Pasti Ayah luluh dan membiarkan kita bersama!”

Juri mengacak rambut Aika gemas, “Bakaaa! Usul macam apa itu?!”

“Lalu apa usulan Juri-kun? Pasrah? Membiarkan saja pertunanganku dengan Jesse-kun? Gimana donnggg?!” Aika mengguncang-guncang lengan Juri.

“Untuk sekarang, Aika lebih baik habiskan sarapanmu, kita akan kencan hari ini,”

“Kencan? Kalau ketahuan Ayah, gimana?” Aika manyun.

Dengan spontan Juri mencium bibir gadis itu cepat, membuat Aika terkesiap dan hanya tersenyum sebagai responnya, “Tidak akan, aku kan pandai bersembunyi, tenang saja!”

Juri tidak akan menyia-nyiakannya. Hari ini harus jadi hari yang tidak dilupakan oleh Aika. Juri menatap setiap gerakan yang dibuat Aika, “Mandi dulu ya, aku tidak mau kencan dengan gadis yang bau, ahahaha,” sukses membuat Aika melemparkan bantal ke arah Juri yang sedang berjalan ke kamar mandi.

***

To Be Continue

Advertisements

4 thoughts on “[Multichapter] Little Things Called Love (#12)

  1. sparklingstar48

    Wew di chap ini all about kiss xD
    aku komen per part ah~~
    1. Duh airin-hoku bkn deg2an ga karuan><
    3. Yugo-yua paling sweet lah, sukak bgt nonton kembang api berdua gt xD
    4.shin-sona udh jadian ajaaaaa shiin peka doong sm sonaa xD #plakplak
    5. Suka part aika-juri gatau knapa suka past aika ngomel2 gt sm juri pipinya malah dicubitin xD
    6. Jesse.. hayoloh ketauan hahaha, udh gih putus aja sm aika xD#ngompor

    Arigatou kaak, dtunggu next chap xD

    Reply
  2. Kirie

    Sasuga taiga… jadi makin cintaaa
    Ditunggu nikahan dan bulan madu benerannya HazuTai

    HOKU! Eronya sama cewek muncul muahaha kirain cuman di pintokona sama Taiga sama Jess doang 😂😂😂😂😂😂😂😂

    Reply
  3. elsaindahmustika

    ahaaaaa parah banget shin gak peka errr harus gimana lagi coba sona? wkwk
    eh itu greget amat hokunii sama airin😂 tenyata gak jadi begitu(???)/what?
    hazutai masih kepo, itu maksudnya si taiga udah biasa begitu?(????)/what again
    oya makin kasian sama jess tuh, duh pukpuk ya, mangkanya jangan ngeremehin hal penting begitu:’v
    yua yugo udah mulai adem ya, tapi mau di tinggak ke india? huhu gimana tuh pasti kagen banget, jangan sampe kecolongan taiga ya kouchi-sensei *eh
    aika nee-chan manja banget sihhhh greget akuuu, egois nya like anak bocah, main mau kabur aja wkwk untung jurinya dewasa, duh pasangan bahagia ini xD

    btw maaf baru bisa komen ya kak din, tugas sekolah numpuk😂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s