[Multichapter] Desire Or Love? (Chap 5)

Desire or Love?
By: kyomochii
Genre: Friendship, Romance, Drama
Rating: PG-13
Cast: Ichigo Yua, Morita Mirai (OC), Kouchi Yugo, Jesse (SixTONES), Chinen Yuri (HSJ), Nakamura Kaito, Morita Myuto (Travis Japan)
Disclaimer: Semua Cast cowok dalam cerita ini under talent agency Johnny’s & Associates dari berbagai grup yang berbeda, bisa ada, bisa tidak tiap chapternya, tergantung mood author :p
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Akhirnya pertandingan semi-final basket Mirai tiba juga. Yua sudah bersiap di depan rumah keluarga Kouchi, menunggu Yugo mengepak perbekalan yang akan mereka bawa. Semalaman Yua dan Yugo, dibantu Kouchi-mama, menyiapkan bento kesukaan Mirai, Jesse dan teman-teman yang lain.

“Yuu-chan, buruan! Pertandingannya akan dimulai 30 menit lagi.”

“Berisik amat! Daripada teriak-teriak, bantu bawa kenapa. Berat tahu!” Kedua tangan Yugo penuh dengan keranjang bekal dan perlengkapan pemandu sorak di masing-masing tangannya.

Yugo menjejalkan segala bentuk uchiwa dan rumbai-rumbai beraneka warna, yang sudah dikepak dalam kardus, kecil ke tangan Yua. Lalu mengacak rambut gadis itu, gemas.

“Yuu, rambutku jadi berantakan kan!!” Yua kesal tidak sempat menepis tangan Yugo yang berusaha menghancurkan tatanan rambut, yang sudah susah payah dia buat rapi sejak pagi.

“Aneh tahu lihat rambutmu tertata rapi gitu. Kamu tahu, kalau rapi itu bukan Yua!”

“Yuu-chan!!!” Yua berusaha mengejar Yugo yang sengaja meninggalkannya setelah menggodanya. Mereka berlomba ‘siapa cepat sampai, dia berhak menjadi majikan sehari di akhir pekan’.

“Sejak kapan Yuu-chan larinya lebih cepat dariku? Kenapa anak laki-laki pertumbuhannya mengerikan? Curang!” Yua mengatur nafasnya yang terengah-engah, memegang bagian belakang kaos Yugo begitu bisa mengejarnya, namun sayang sudah berada di area gedung olahraga sekolah, yang menandakan kekalahan Yua.

“Sudah berapa lama kita gak balapan lari kayak tadi? Terakhir kali saat kita SMP kelas 3, kan? Kamu tahu, sahabatmu ini sekarang adalah kapten sepak bola kebanggaan sekolah tahu!”

“Mulai deh, sombongnya! Aku mau duduk di bangku yang berlawanan dari tempat tunggu pemain, biar bendera kita bisa terlihat saat mereka sedang break.” Yua menarik kaos Yugo yang belum dia lepaskan agar pemuda itu mengikutinya.

Bilang saja biar bisa lihat Umin di bangku cadangan sepanjang pertandingan. Yugo mencibir dalam hati, tahu betul apa yang direncanakan sahabatnya itu.

Betul saja sepanjang pertandingan tim basket putra, Yugo memperhatikan pandangan Yua hanya tertuju pada bangku pemain cadangan, bukan lapangan pertandingan. Bahkan wajah Yua masih saja bersinar, senyum menyungging indah di bibirnya, meskipun tim basket putra sekolah mereka harus kalah. Bukan hal yang buruk, Yugo tersenyum lega.

Pertandingan selanjutnya adalah permainan dari tim sekolah lain. Yua dan Yugo meninggalkan gedung olahraga menuju ruang klub basket untuk menemui teman-teman mereka.

“Otsukaresama desu! Permainan kalian sangat bagus, apalagi saat Hanzawa-kun ikut bermain. Meskipun masih kelas satu, dia lebih jago dari senpaitachinya! Aku yakin tim basket kita tahun depan akan bisa melaju ke final!” Yugo memberikan komentarnya, disambut komentar setuju dari anggota tim basket kelas 3 lainnya.

“Mana hadiah buat kerja keras kami?” Jesse mengambil keranjang bekal yang dibawa Yugo.

“Sisakan yang di kotak merah untuk tim basket putri.”

“Okay!” Dalam 10 menit, bekal yang disiapkan Yua-Yugo sudah tidak berbekas.

“Masakan buatan Yua-chan memang yang terbaik deh!” Myuto berhasil merebut tamagoyaki yang tersisa dan menjejalkan ke mulutnya yang penuh.

“Iya kali Chii-chan bisa masak semua ini sendiri. Mana terima kasihnya buatku?”

“Arigachuu, Kouchi-sensei!” Satu ruangan dibuat tergelak melihat kelakuan Jesse yang memonyongkan bibirnya berusaha mencium Yugo.

“Aku mau ke tempat Mirai dulu ya.” Yua meninggalkan Yugo yang masih sibuk membereskan keranjang bekal dibantu oleh anak-anak lainnya.

“Ichigo-senpai, aku boleh bareng sekalian?” Kaito beranjak dari tempatnya menyusul Yua yang sudah berada di pintu keluar.

Di tengah perjalanan menuju ruang klub basket putri, Yua berpapasan dengan Aiba-sensei, berjalan menuju ruangan yang baru saja ditinggalkannya. Aiba-sensei adalah sosok guru paling keren di mata Yua. Tidak hanya penampilan, tapi perhatiannya kepada semua anggota tim basket membuat Yua merasa iri, kadang-kadang. Sebab saat ini Yua tidak mengikuti kegiatan klub satu pun.

“Arigatou, Ichigo-san.”

“Iie, douitashimashite sensei.” Yua tertegun ketika Aiba-sensei menepuk kepalanya pelan, saat mengucapkan terima kasih padanya. Masih dalam keadaan sedikit melamun, tanpa sadar Yua menabrak seorang anggota tim basket putra sekolah lain.

“Gomennasai.” Yua sangat malu karena berjalan tanpa memperhatikan sekitar gara-gara melamun.

Pemuda itu tidak mempermasalahkannya, karena dia juga sedang terburu-buru, sehingga berlarian di koridor dan menabrak Yua. Pemuda itu meminta ijin untuk segera pergi setelah memastikan Yua tidak terluka. Yua merasakan sensasi aneh saat melihat jelas wajah pemuda yang ditabraknya. Tapi Yua yakin tidak mengenalnya. Mereka baru pertama kali ini bertemu.

“Ichigo-senpai tidak apa-apa?” Yua lupa kalau dia sedang bersama Kaito.

“Daijoubu desu.” Yua berusaha membuat Kaito tidak khawatir dengan keadaannya. Lalu keduanya melanjutkan perjalanan menuju ruang klub basket putri.

“Makan ini supaya fresh.” Yua menyuapkan sepotong lemon beku ke mulut Mirai dan memberikan sekotak sisanya ke anggota lainnya.

“Kecut.” Mirai menolak lemon beku kedua yang berusaha dijejalkan Yua.

“Kalau manis, namanya bukan lemon, Mirai-chan. Lagipula kata Yuu-chan, memakan lemon sebelum bertanding bisa memberikan efek segar, jadi kalian biar lebih semangat. Aku yakin kalian pasti bisa melaju ke final!”

“Pasti dong! Oh iya, ngomong-ngomong kamu kesini berdua saja dengan Umin? Mana yang lain?”

“Bentar lagi juga nyusul. Tadi Yuu-chan masih beresin keranjang bekal dan Umin menawarkan diri berangkat bareng, jadinya kita berdua aja.”

“Ngomong-ngomong soal Umin, apa kamu tahu kemarin geng Juria menculiknya sehabis latihan?”

“Eh? Dia gak cerita ke aku. Terus?”

“Katanya Miki nembak Umin lho, tapi ditolak karena dia gak mungkin pacaran sama kakak kelas gitu.” Deg. Entah kenapa dada Yua terasa sedikit nyeri, kecewa?

“Terus Umin bilang kalau ada cewek lain yang dia suka dan dia akan mengungkapkannya hari ini setelah pertandingan basket. Menurutmu siapa cewek yang disuka Umin?”

Yua tidak tahu siapa gadis yang disuka oleh Umin. Yang pasti bukan dirinya, karena Umin sendiri yang bilang kalau dia tidak mungkin suka dengan kakak kelas.

“Aku gak tahu, soalnya Umin gak pernah cerita masalah pribadinya denganku. Dia cuma suka menggerecokiku dengan pertanyaan-pertanyaan gak penting seputar pelajaran dan klub astronomi.”

“Apa mungkin Yuka-chan ya? Soalnya mereka satu kelas. Yuka cukup manis juga, jago olahraga dan lumayan pintar di kelas. Pasti banyak yang mengidolakan gadis sepertinya.”

“Bisa jadi.” Yua tahu, kalau Kaito hanya menganggapnya senpai, tidak lebih. Tapi entah kenapa, muncul perasaan kecewa saat Yua melihat wajah bersinar Kaito yang sedang mengobrol dengan Yuka.

Tim basket putri berhasil melaju hingga ke final. Untuk merayakan kemenangan, mereka berencana pergi ke villa keluarga Morita di akhir pekan. Yua langsung menyetujuinya, karena dengan begitu dia akan terbebas dari hukuman Yugo karena kalah cepat sampai sekolah tadi pagi.

Setelah membantu Yugo membereskan keranjang bekal bawaan mereka, Yua meminta ijin Yugo untuk pergi terlebih dulu karena ada janji dengan seseorang yang sudah menunggunya di luar. Saat berjalan menuju gerbang sekolah, pandangan Yua tertuju pada sesosok yang dikenalnya berdiri tidak jauh darinya bersama dengan seorang gadis, Kaito dan Yuka.

Jadi benar, gadis itu Yuka-chan. Hahaha. Perasaan nyeri di dada Yua sekarang tidak hanya terasa sedikit, tapi rasa sakitnya membuat Yua tidak lagi mampu mengartikan perasaannya yang sesungguhnya.

“Kita mau ke mana dulu?” Yua meraih helm yang diulurkan pemuda di depannya, yang sudah menunggunya sejak tadi.

“Langsung pulang ke rumah saja.” Jawab Yua singkat. Yua hanya terdiam sepanjang perjalanan menuju rumahnya.

Alam sepertinya mampu membaca perasaannya dan mengguyur semua perasaan sedihnya bersama dengan hujan yang turun tiba-tiba. Tanpa sadar Yua malah menangis, membiarkan air matanya mengalir, menyatu dengan hujan. Meminjam punggung pemuda yang memboncengnya, Yua membenamkan wajahnya dan menangis sepuasnya.

**********

“Kamu tidak apa-apa, Yua-chan?”

“Hanya sedikit patah hati. Sekarang sudah tidak apa-apa. Lagipula aku yang salah mengartikan perhatian seseorang.” Yua memberikan secangkir coklat panas ke pemuda yang sekarang sudah duduk di sofa ruang keluarganya.

“Kamu yakin tidak ingin pergi ke suatu tempat yang lebih bisa menenangkan perasaanmu?”

“Hujan-hujan begini? Aku lebih nyaman di rumah saja. Entah kenapa rasanya aku ingin tidur saja.”

“Kamu boleh tidur dulu kalau memang perlu. Aku akan menunggumu di sini.”

“Maafkan aku, Chinen-kun. Aku tidur di sini saja biar tidak terlalu lama.” Yua mengeluarkan selimut dan tidur di sofa seberang Chinen. Wajahnya yang pucat, menunjukkan kalau gadis itu sedang sangat kelelahan. Karena tidak ingin mengganggu, Chinen mulai membuka PSPnya untuk memainkan game terakhir yang belum selesai dia mainkan.

Hubungan Yua dan Chinen saat ini memang bukan lagi sepasang kekasih. Namun tidak bisa berhubungan lagi dengan Yua? Tentu saja bukan itu yang diinginkan Chinen. Setelah kejadian malam itu, Chinen sangat menyesali apa yang sudah dia lakukan sehingga dia merasa tidak berhak menjadi orang yang paling memikirkan Yua. Oleh karenanya, dia memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka tapi berjanji untuk tetap berteman sampai kapanpun.

Yua tidak tahu sudah berapa lama dia tertidur. Terlebih sekarang dia sudah tidak berada di ruang keluarga, melainkan di kamarnya sendiri. Cahaya gelap dibalik tirai jendelanya membuat Yua terkejut membayangkan berapa lama dia sudah tertidur. Sedikit terhuyung karena memaksakan untuk bangun, Yua pergi ke ruang keluarganya, berharap menemukan sosok Chinen, namun malah Yugo yang didapatinya sedang tertidur di sofa tempatnya tidur tadi.

“Yuu-chan, yuu-chan…” Yua menggoyang pelan tubuh sahabatnya, berusaha membangunkan. Yugo menggeliat lalu terduduk, mengkucek kedua matanya dan menguap lebar-lebar.

“Kamu mau pindah ke kamar atau pulang? Jangan tidur di sini, dingin.” Yua bergidik membayangkan Yugo tertidur di ruang keluarga tanpa selimut di cuaca sedingin ini.

“Aku akan tidur di sini saja, berikan aku selimut.” Yugo kembali menggelungkan tubuhnya di sofa.

“Ayo pindah ke kamar bersamaku. Aku gak mau lihat kamu beku saat aku membuka mata besok pagi.” Yua menggoyangkan tubuh Yugo, agak kasar kali ini karena tahu Yugo sudah sepenuhnya terbangun.

“Tidur di kamar? Bersamamu? Apa kamu yakin? Kita sudah bukan anak kecil lagi.” Yugo terkejut menyadari kepolosan sahabatnya yang terlewat polos.

“Memangnya kamu mau ngapain aku? Kita kan sudah sering tidur bareng dari kecil.”

“Tapi…” Yua tidak mempedulikan penolakan Yugo, dia sudah menarik sahabatnya untuk mengikutinya ke kamar. Yugo pasrah.

“Kalau sebegitu takutnya terjadi apa-apa selama kita tidur, aku akan menaruh looky di tengah-tengah sebagai batas.” Yua meletakkan boneka anjing sebesar ukuran tubuhnya di tengah tempat tidurnya. Tanpa protes lagi, Yugo menghempaskan tubuhnya, berencana langsung melanjutkan tidur.

Yua membaringkan tubuhnya, namun matanya susah terpejam. Mungkin karena dia sudah tidur terlalu lama dari sore. “Yuu-chan, Masih bangun?”

“Mmmm?” Yugo menjawab enggan karena dia sudah separuh jalan menuju alam mimpinya lagi. “Apa kamu yang memindahkanku ke kamar?”

“Mmmm.” Yua menganggap jawaban Yugo mengiyakan. “Apa Chinen-kun menungguiku sampai kamu datang?”

“Ya. Dia sampai tertidur juga dan aku terpaksa menyuruhnya pulang karena kamu kelihatan gak bakal bangun sampai besok pagi.”

“Ayah gak pulang kan?” Tidak mendengar sepatah katapun sebagai komentar, Yua yakin Yugo sudah berhasil mencapai alam mimpinya sekarang.

Yua beranjak dari tempat tidurnya, berjalan ke dapur karena merasa haus. Saat membuka kulkas, Yua penasaran dengan kotak putih yang tidak dilihatnya tadi siang saat mengambil coklat untuk membuatkan minuman buat Chinen. Ada selembar kertas tergantung di pengaitnya, bertuliskan.

Kue manis untuk gadis termanis.
Semoga kamu menyukainya, Yua-chan \ (^o^) /

Yua tahu betul tulisan tangan siapa di kertas itu, Chinen. Ternyata kotak putih itu berisi strawberry shortcake seperti yang dijanjikan Chinen akan buatkan untuknya. Yua mengambil sendok dan mulai memasukkan suap demi suap kue itu ke mulutnya. Enak.

Yua mengambil ponselnya, mengetikkan beberapa kata singkat menyampaikan rasa terima kasihnya dan sedikit pujian.

From: Chinen Yuri
Nara Yokatta (o^^o)
Oyasumi, Yua-chan.

Eh, belum tidur? Yua melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul setengah satu. Tidak ingin membuat Chinen semakin begadang karenanya, Yua hanya membalas pesan Chinen dengan singkat. Oyasumi, Chinen-kun.

ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Desire Or Love? (Chap 5)

  1. sparklingstar48

    Areee chinen so sweet wkwk, lah yugo-yua bobo bareng xD #plakplak
    hih umin jahat ya, nge php cewe😒 kan kasian yua berharap gtuu..
    Mau baca next chap dluu, ganbatte kakak authoor :3

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s