[Multichapter] Little Things Called Love (#11)

Little Things Called Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 11)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring: Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Tanaka Juri, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Jesse Lewis (SixTONES); Ichigo Yua, Kimura Aika, Kirie Hazuki, Mizutani Ruika, Takahara Airin, Matsumura Sonata (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Untitled-1

“Kalau begitu dengar baik-baik…” ada pause yang agak lama dan Aika mendengar suara Juri berdehem pelan, “kurasa sudah sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi,”

Aika terkesiap, ada keheningan yang tidak nyaman diantara keduanya. Masih mencoba untuk mencerna informasi yang disampaikan oleh Juri, dia pun duduk di atas kasurnya, melihat ke layar ponsel milik Yasui-kun, dan menyadari bahwa kesalahan nomor itu tidak mungkin terjadi, apalagi jelas-jelas ini suara Juri.

“Aika… masih disitu?” suara Juri masih terdengar sesedih yang tadi.

“Uhm… kenapa?”

“Kenapa apa?” Aika bisa mendengar suara Juri yang bergetar tidak nyaman.

“Kenapa kita tidak boleh bertemu lagi? Aku ingin bertemu Juri-kun!” seru Aika keras kepala.

Juri menghela napas berat, “Aku tidak bisa menjelaskannya di telepon, gomen, aku masih di tempat kerja, nanti aku telepon lagi,” Juri mematikan teleponnya, meninggalkan Aika dengan seribu tanda tanya di benaknya. Kenapa tiba-tiba Juri bersikap seperti ini? Tak butuh waktu lama Aika meneteskan air mata, baru kali ini ia merasa takut kehilangan seseorang. Dia tidak bisa membayangkan kehilangan Juri.

.

Ponselnya sudah mati, Juri masih memandanginya dengan pandangan nanar. Sudah berakhir. Akhirnya harus selesai perjuangannya mendapatkan Aika. Berujung dengan perih dan sakit hati setelah kemarin, Ayah Aika mendatanginya lagi. Kali ini Kimura-san bahkan memohon dirinya untuk menjauhi Aika. Demi kebahagiaan Aika, versi Kimura Kazuya.

“Aku sudah pernah menjadi orang susah dan itu tidak akan terjadi pada anakku sendiri, dan ini satu-satunya cara yang aku tau untuk menjamin kehidupannya nanti, kumohon,”

Sudah sering Juri mendengar kisah sukses seseorang, dan chef Kimura adalah salah satu yang cukup terkenal. Dari chef restoran murahan kini bisa menguasai industri pangan di Jepang dengan frenchise restorannya dan produk makanan yang sudah tersebar di seluruh Jepang. Satu-satunya restoran original yang masih dikepalai oleh chef Kimura sendiri hanya satu, restoran eropa yang ada di tengah kota Tokyo yang merupakan pioneer dari kesuksesan Kimura Kazuya.

Juri ingin memberikan alasan, bahwa pada saatnya diapun akan bisa membahagiakan Aika, tapi kapan? Satu hal itu yang tidak bisa ia jawab. Kapan kehidupan ekonominya akan membaik dan dirinya tidak harus struggling dari hari ke hari hanya untuk sekedar makan dan sekolah. Sementara Jesse Lewis bisa memberikan kepastian itu, berbeda jauh dengannya.

“Juri! Ada customer tuh!” Myuto menepuk pelan bahu Juri yang terlihat melamun di dekat peralatan bengkel.

Juri mengangguk, berusaha menyunggingkan senyumnya, “Okay, makasih…” dia masuk ke area bengkel, menatap mobil merah yang seakan sudah sering ia lihat sebelumnya.

Hi,” Jesse Lewis berdiri tepat di hadapannya, dengan senyumnya yang  buat Juri, menyebalkan, “Can we talk?

“Kita di Jepang, pakai bahasa Jepang saja!” sungut Juri sebal.

Juri membuka kap mobil milik Jesse, kalau diizinkan bisa saja dia membuat mobil ini rem nya bolong, “Aku harus kerja, nanti saja bicaranya,”

Alih-alih pergi Jesse berdiri di dekat kap mobilnya, “Pelanggan adalah raja, kau mau mengusirku?” Juri tidak menjawab, memilih untuk memeriksa bagian mobil itu, “Aku tau yang terjadi antara kamu, dan Aika,” tangan Juri berhenti, tapi ia masih menunduk di bawah kap mobil itu, telinganya awas mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut Jesse, “aku sebenarnya tidak peduli apapun yang terjadi antara dirimu dan Aika, asal jangan mengganggu pertunanganku dengannya,”

Juri menatap Jesse dengan marah, “Apa maksudnya ini? Kau tidak mencintainya?”

Jesse menggeleng, “Sejak awal pertunanganku dengan Aika adalah bisnis belaka, tapi aku tidak akan mengganggu kalian, asal tidak ketauan media, aku….”

BUGH! Sebuah hantaman bogem mendarat di wajah mulus Jesse, pemuda itu tersungkur dan sebelum ia bisa membalas, Juri memberikan satu lagi bogem mentah telak di rahang Jesse, beberapa pekerja berlari menghampri mereka dan Juri ditarik paksa oleh teman-temannya.

“Aku sudah kehilangan segalanya, aku tidak akan kehilangan titelku sekarang!” Jesse melepaskan diri dari orang-orang yang menahannya, menutup kap mobilnya dan berlalu dari tempat itu.

***

Saat itu tengah hari terik, Sonata mengeluhkannya beberapa kali kepada Airin yang berjalan di sebelahnya, membawa beberapa keranjang berisikan bola sepak yang diminta oleh guru olahraga mereka. Dia kalah janken dari teman-temannya yang piket juga hari itu, jadi dia lah yang bertugas membawa keranjang bola ke lapangan. Airin berbaik hati menawarkan bantuannya, teman sebelah bangkunya sejak masuk SMA.

“Sudah masuk musim panas sih ya,” kata Airin, yang tetap terlihat cantik bahkan dalam keadaan berkeringat, membuat Sonata agak iri. Sejak masuk ke sekolah ini, Airin adalah gadis yang cukup populer, tak terhitung kakak kelas yang sering datang untuk menghampiri Airin, bahkan tak jarang yang menembaknya terang-terangan. Airin tetap menolak, membuat Sonata terheran-heran.

“Musim panas… musimnya orang jatuh cinta, huhuhu, aku juga ingin jatuh cinta!”

Airin terkekeh pelan, “Ada cowok yang Sona-chan suka? Di kelas misalnya?”

Sonata mengingat teman sekelasnya dan rasanya tidak ada yang sesuai dengan kriterianya. Tampan, berbadan tinggi tegap, berkulit putih, wangi, dan pintar. Huh, kalau saja memang ada laki-laki seperti itu di kelasnya, sudah sejak lama Sonata mengejarnya. Sayangnya nihil, di kelasnya hanya ada laki-laki setengah puber dengan wajah biasa-biasa saja.

“Bagaimana dengan… Hagiya-kun?”

“Hagiya?” Sonata menggeleng, “Gak ah, lagian kudengar dia sudah punya pacar sejak SMP, itu loh… katanya kakak kelas,”

“Kalau begitu… Shintaro-kun?”

Sonata kembali menggeleng, “Dia bukan tipeku…”

Saat itulah Sonata merasakan tangannya terhantam sesuatu, Sonata menoleh dan sebuah bola tepat mengenai lengan bawahnya, membuat keranjang yang dibawa Sonata terjatuh, lengannya terasa kebas dan berdenyut-denyut karena hantaman itu rupanya cukup keras. Sonata refleks berjongkok, memegangi lengannya, “Aduuhhh sakiitt..”

Airin ikut berjongkok, “Sona-chan!! Kau baik-baik saja?” Airin panik, beberapa temannya mendekati Sonata, “Kita ke klinik sekolah, yuk!! Ayo!!” Airin membantu Sonata berdiri, tapi gadis itu masih setengah shock sehingga jejakan kakinya belum kuat.

“Aku angkut saja, ayo!” Sonata tidak begitu ingat, tapi badannya terasa melayang dan ternyata Shintaro mengangkat tubuhnya, membawanya seperti putri.

“Angkut? Memangnya aku barang?!” protes Sonata, tapi Shintaro tidak menggubrisnya sementara  Airin menyusul dari belakang.

Momen itulah yang membuat Sonata jatuh cinta pada Shintaro. Sonata masih bisa mengingat wajah Shintaro yang sangat dekat dengan wajahnya, walaupun yeah, kemarin bahkan wajah Shintaro menempel dengan wajahnya. Sejak itu, sejak hari terik itu dia menyukai Shintaro, tanpa sadar sering memerhatikan gerak-gerik si pemuda di lapangan, di kelas, dimanapun saat dia bisa menatap Shintaro berlama-lama.

Lalu kemarin, kemarin akhirnya… Shintaro menciumnya. Walaupun diakhiri dengan permintaan maaf yang bahkan tidak dimengerti olehnya, kenapa harus meminta maaf? Mengingatnya saja Sonata merasa wajahnya menghangat, bahkan dia tak berani menghubungi Shintaro untuk sekedar menyapa pemuda itu.

“Melamun itu tidak baik, Sona-chan!”

“Ya ampun Kouchi-sensei!” Sonata melihat Kouchi duduk di hadapannya.

“Melamunkan siapa?”

Sonata manyun, “Bukan urusan sensei!” tapi lalu Sonata tersenyum karena Kouchi menyerahkan sebuah buku di hadapannya.

“Masih ada beberapa sih di apartemenku, aku lupa membawanya, lain kali saja aku bawa ya,”

“Akhir minggu ini aku tidak sibuk, nanti aku ambil deh,” Sonata berdiri, mengambil dua gelas teh hangat yang satunya ia sodorkan pada Kouchi, “Sensei, kalau sensei pernah tidak jatuh cinta pada sahabat sensei sendiri?”

Kouchi terbatuk, kagetnya membuat air yang masuk malah mampir di paru-parunya, “Uhuk!! Uhuk! Kau itu, nanya apaan sih?”

Sonata menunjuk Kouchi, “Pasti pernah!” BINGO! Tebakan yang tepat tapi Kouchi hanya menggeleng, “Baiklah.. anggaplah tidak benar, menurut sensei sendiri, jatuh cinta pada sahabat itu tabu atau tidak?”

Kouchi membersihkan teh yang tumpah di atas meja dengan tissue yang memang tersedia di setiap meja, “Perasaan itu tidak bisa memilih pada siapa, jadi tidak ada yang tabu,”

Tapi dia menyesal menciumku karena setelah itu Shintaro meminta maaf seakan ciuman kami suatu kesalahan, padahal aku merasa sangat senang, permintaan maaf itu merusak segalanya. Ucap Sonata dalam hati. Mungkin berbeda dengan Kouchi-sensei, bagi Shintaro menyukai sahabatnya adalah suatu kesalahan.

***

“Jangan coba-coba membuntutiku!” Hazuki menarik koper ungunya menjauh dari Taiga yang berdiri tak jauh darinya, menggendong ranselnya, yang sialnya, sama-sama ungu. Mereka jadi seperti pasangan baru dan pergi ke Paris untuk berlibur bersama.

Taiga tersenyum, “Kita sedang honeymoon mana mungkin tidak membuntutimu?”

Hazuki merasa tak berdaya, bahkan di sini pun dia tidak bisa melawan ke semena-menaan Taiga yang membuatnya bisa gila, “Aku pergi!” Hazuki menarik kopernya, keluar dari bandara untuk mendapatkan taksi.

Hazuki sedang menunggu Taksi dan ketika ia mendapatkannya, Taiga juga mauk ke dalam taksi yang sama, “Ihhh… sana keluar!! Jangan ikut-ikutan deh!”

“Kita menuju arah yang sama,” Taiga mengindahkan kekesalan Hazuki dan berkata pada si supir yang sepertinya sedang memerhatikan mereka dari kaca spion depan, “Eiffel Tower please,

“Eiffel? Ini sudah malam, aku mau langsung ke rumah Sora-nee!” seru Hazuki protes.

“Menara Eiffel di malam hari itu indah sekali, kita harus ke sana sebelum kemanapun tujuan kita,” mobil pun melaju sementara Hazuki berusaha menghubungi Sora, kakak sepupunya.

Beberapa kali dicoba tapi Sora tidak mengangkat teleponnya, Hazuki mulai putus asa, memang sih kedatangan dia mendadak dan hanya di respon sekali oleh Sora. Hazuki mencoba lagi menelepon Sora yang akhirnya diangkat.

“Sora-nee, aku sudah sampai Paris!” seru Hazuki heboh.

“Ya ampun… kau datang hari ini ya?” Hazuki mulai merasakan ada yang salah dari nada suara Sora, “Hontou ni gomen, aku baru sampai Inggris karena pacarku ada dinas ke sini, ke Inggris maksudku, ya ampun… maaf banget ya, aku baru bisa pulang minggu depan,”

Hazuki langsung lemas, “Ya sudah nee, maaf ganggu deh,” Hazuki menekan tombol merah di layar ponselnya, melirik Taiga yang sedang menatapnya dengan senyumnya yang seperti biasa, menyebalkan bagi Hazuki.

“Aku sudah reservasi hotel ko, gimana? Mau gabung?”

“Aku bisa reservasi sendiri!” balas Hazuki galak.

“Ayolah, tempatku dekat banget sama Eiffel dan pemandangannya spektakuler, gimana?” Hazuki sebenarnya belum pernah pergi ke luar negri tanpa guide sama sekali, biasanya seluruh kebutuhannya sudah dipersiapkan dan dia tinggal menikmatinya.

Hazuki melirik Taiga lagi, tak sanggup rasanya dia harus sendirian menjelajahi Paris, “Uhm.. tapi Taiga-kun tidur di sofa ya!”

“Ngapain? Kita kan sudah pernah se…” tangan hazuki refleks menutupi mulut Taiga, “Ihhh!! Jangan diungkit dong!”

“Okay okay…” Taiga mengangkat ibu jarinya, memberikan sinyal dia tidak akan mengungkitnya lagi.

Sampai di depan menara Eiffel sudah hampir tengah malam, lampu menara membuat daerah sekitarnya terang benderang, lagipula banyak turis yang juga masih di sana. Hazuki terpesona, bukan pertama kalinya dia ke sini tapi pesona Eiffel tidak akan pernah pudar untuknya.

“Waaa!! Foto dong!” Hazuki menyerahkan ponselnya pada Taiga yang langsung di terima oleh Taiga, membiarkan Hazuki berpose sementara dirinya mengabadikan lewat ponsel pintar milik Hazuki, “Gimana? Bagus gak fotonya?” Hazuki menghampiri Taiga.

“Kamu cantik gimanapun posenya,” seraya berkata begitu diserahkannya kembali ponsel itu ke tangan Hazuki, gadis itu tertegun mendengar kata-kata Taiga, “Lapar tidak? Beli makan, yuk!” beberapa langkah di depannya, Hazuki menatap punggung dengan ransel ungu itu berjalan menjauh.

***

“Kemarin itu… gomen na,” Ruika yang duduk di hadapan Hokuto, keduanya sedang menikmati makan pagi, ajakan Hokuto yang merasa bersalah karena kemarin meninggalkan Ruika untuk mengejar Airin, sebenarnya memang Ruika yang meminta Hokuto untuk mengejar gadis itu.

Ruika menggeleng, menyuapkan omelet ke mulutnya, “Jadi, Ai-chan sudah tidak marah lagi?”

Hokuto tiba-tiba ingat ciuman Airin hari itu, “Sepertinya tidak,” jawabnya sedikit gugup.

Areeee terjadi sesuatu antara kau dan Ai-chan?”

Hokuto menggeleng cepat, “Tidak ada apa-apa ko!” tiba-tiba kerongkongannya terasa kerontang membuatnya segera menyeruput teh hangat di hadapannya.

Ruika tertawa, “Ya ampun Hokuto, ekspresimu itu terlalu kentara!”

Airin berhasil mencuri ciuman pertamanya, bagaimana itu tidak berarti, “Sudahlah, jangan bahas itu terus,” ucap Hokuto.

“Baiklah, terima kasih atas traktirannya, ketemu lagi nanti ya di tempat kerja,” Ruika menunduk dan berjalan meninggalkan Hokuto yang memang harus kuliah pagi itu. Sementara Ruika memutuskan untuk kembali ke apartemennya terlebih dahulu.

Tempat sarapannya pagi itu memang tidak jauh-jauh dari apartemen barunya, hanya butuh sepuluh menit dan Ruika sampai di lingkungan apartemen, dilihatnya sebuah mobil merah familiar ada di tempat parkir apartemen.

“Hey, apa kabar?” Jesse keluar dari mobilnya, menatap Ruika.

“Wajahmu… kenapa?” wajah Jesse memang lebam, tidak seperti biasanya.

Jesse menghela napas, “Tidak bisa kita biacara di dalam?”

“Tidak bisa, di sini saja,” Ruika masih menjaga jaraknya dengan Jesse. Karena dalam radius dekat Jesse lebih sering menggapainya ke dalam pelukan dan itu bisa-bisa menggoyahkan dirinya.

“Aku bawa sarapan,”

“Aku sudah sarapan. Tidak perlu repot-repot,” jawab Ruika cepat.

Jesse membuka pintu mobilnya, mengambil seikat bunga dan satu kantong plastik yang Ruika tidak tau isinya. Pemuda itu berjalan mendekati Ruika, menyodorkan keduanya, “Untukmu,”

Ruika mundur tiga langkah, “Tidak perlu,”

Jesse kembali maju mendekati Ruika, meraih tangan Ruika dan menyerahkan buket bunganya, “Ini omelet kesukaanmu, aku pergi dulu kalau begitu,” sebelum Ruika bisa menghindar Jesse mengecup pelan dahi Ruika dan setelah itu berlalu dengan mobil sport merahnya.

***

Yua tidak bisa berkonsentrasi hari ini. Mau tidak mau ia memikirkan kejadian kemarin. Bagaimana Yua menangis di dekapan Kouchi hingga rasanya matanya mau copot, belum lagi akhirnya ia malah ketiduran.

“Kou-chan?” Yua masih ingat wangi tubuh Kouchi yang menempel jelas di hidungnya.

Gomen. Aku ingin pergi semalam tapi kau memelukku sambil tertidur, aku takut kau terbangun,” Yua terdiam, sesaat mematung menatap Kouchi yang terlalu dekat, sangat dekat sehingga menimbulkan sensasi aneh pada dirinya.

“Yua… kau baik-baik saja?” saat itulah ia sadar tangannya masih melingkar di tubuh Kouchi, dengan protektif, entah mengapa. Barulah Yua melepaskan pelukannya, Kouchi tersenyum dan melepaskan diri dari Yua.

Tentu saja ini bukan pertama kalinya mereka tidur satu kamar. Kouchi adalah orang yang sering dengan semena-mena tidur di kamar Yua, sejak mereka kecil, tapi rasanya jadi berbeda sejak Kouchi menyatakan cintanya. Semuanya tidak akan pernah sama lagi bagi mereka.

“Matamu bengkak, sebentar aku ambilkan air panas,” Kouchi beranjak dari kasur, sementara Yua memandangi punggung Kouchi yang perlahan menjauh. Sejak kecil Yua tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi pada mereka. Rasa canggung, rasa takut kehilangan orang yang paling mengerti dirimu. Yua mengikuti langkah Kouchi keluar dari kamarnya, ia melihat Kouchi sedang memanaskan air di dapur kecilnya.

“Kou… mau kita… coba pacaran?” entah mengapa Yua takut sekali tidak bisa bicara lagi dengan Kouchi. Yua melingkarkan tangannya di badan Kouchi, memeluknya dari belakang, merebahkan kepalanya di punggung Kouchi yang bidang.

“Kau sungguh-sungguh?”

Yua mengangguk.

“Kau yakin ini bukan hanya karena kau kasihan padaku?” suara Kouchi pelan, namun tegas.

“Kasihan? Tidak… aku hanya… tidak mau kehilangan Kou-chan,” Yua mati-matian menahan tangisnya, dia tidak perlu mengeluarkan air mata lagi.

“Kalau begitu, tidak usah, kita tidak perlu mencoba… pacaran,” Kouchi menekankan kata ‘mencoba’ seakan kata itu sakral tapi salah. Kouchi melepaskan tangan Yua, lalu berbalik sehingga jaraknya dengan Yua hanya beberapa sentimeter saja, “Bagaimana kalau kita lupakan saja apapun yang aku katakan, anggap saja aku tidak pernah menyatakan apapun padamu,” Kouchi menempelkan selembar kain yang sudah dibasahi oleh air panas ke mata Yua, “Kau tidak akan kehilanganku, aku janji,” Kouchi mengacak pelan rambut Yua dan mendorong bahu Yua, ia memerlukan jarak untuk melangkah meninggalkan apartemen Yua, “Aku harus kuliah, jangan lupa sarapan ya!”

Dan seperti itulah Kouchi Yugo kembali menghilang, membuat Yua merasa bersalah. Bahkan Yua tidak bisa mengalihkan pikirannya dari wajah terluka Kouchi pagi ini. Yua memang belum bisa mengkategorikan perasaannya pada Kouchi, dan kini membuatnya merasa Kouchi akan menghilang. Tidak akan pernah sama lagi, antara dirinya dan Kouchi, sudah ada suatu ruang yang akan membuat mereka selalu ingat kejadian ini, sampai kapanpun.

“Yua-chan, matamu bengkak,” Shintaro berdiri di sebelahnya, menyodorkan sekaleng kopi dingin di hadapannya, “masih ada satu jam sebelum restoran buka,” katanya.

Arigatou, ini aku kebanyakan begadang nonton drama, biasalah,” Yua mengambil kopi itu, segera meneguknya.

“Karena Yua-chan lebih tua dariku,”

Yua menatap shintaro dan meninju lengan atas pemuda itu, “Tidak usah diungkit, please,”

Membuat Shintaro tertawa, “Bisakah aku minta saran darimu?”

“Saran soal apa? Cinta?” tidak seperti yang Yua duga, Shintaro mengangguk.

“Aku mencium sahabatku sendiri kemarin, dan… aku merasakan ada yang berbeda, tapi, aneh kan rasanya menyukai sahabatmu sendiri? Menurutmu aneh, tidak?”

Aneh, rasanya sangat aneh dan bahkan aku tidak sendiri tidak bisa mengklasifikasikan perasaanku pada sahabatku, ucap Yua dalam hati, “Kalau kau suka, harusnya kamu putuskan saja untuk mengejarnya, jangan menyembunyikan perasaanmu,” memang memberi saran pada orang lain lebih mudah dilakukan daripada dilakukan sendiri.

Shintaro mengangguk-angguk, “Aku tidak tau dia menyukaiku atau tidak,”

“Kau akan tau kalau kau mencoba menyatakannya,” Yua terdiam, menyadari bahwa inilah yang dilakukan Kouchi. Sahabatnya itu ingin mengetahui perasaannya, tapi sayangnya Yua sendiri tidak tau perasaannya.

***

“Matsumura-kun, kemana Kyomoto-kun?” Fujigaya-san, pemilik kantin menghampirinya saat shiftnya akan dimulai.

Hokuto mengeluarkan ponselnya, memperlihatkannya pada Fujigaya sebuah pesan singkat dari Taiga kemarin malam ‘Aku di Paris. Jangan rindukan aku’ dengan tanda cium di akhir kalimat.

“Paris? Ya ampun, dia itu kaya sekali ya?” tanya Fujigaya-san.

“Uhm… dia tidak perlu kerjaan ini, bahkan kalau mau dia bisa beli kantin ini, Fujigaya-san, ahahaha,” kata Hokuto lagi.

“Ah kau ini! Ya sudah siap-siap saja ya,” Fujigaya-san menepuk bahu Hokutodan berlalu.

Hokuto mengenakan apron nya, keluar dari ruang ganti pria. Dilihatnya Ruika sedang memotong-motong sayuran, Hokuto menhampirinya, “Hey,” Hokuto mengambil sebagian wortel dan membantu Ruika.

“Hey, jangan dekat-dekat aku, nanti ada yang cemburu loh,” canda Ruika, masih fokus dengan wortel yang dipotongnya, tapi senyumnya mengembang.

“Ai-chan?”

Ruika mengangguk, “Dia menyukaimu, kau pun menyukainya, aku tidak mau jadi pengganggu,” gadis itu mengacungkan tanda victory dengan telunjuk dan jari tengahnya.

“Aku tidak yakin aku suka padanya atau tidak. Ai-chan itu sahabat adikku dan sejauh yang aku tau, dia juga sudah seperti adikku sendiri,”

“Sekarang bayangkan Ai-chan dengan pemuda lain, kau tidak keberatan?”

Hokuto terdiam, memang ada rasa tidak rela, tapi mungkin dia bisa saja merelakannya, “Entahlah,”

“Itu jawaban yang salah, Matsumura-san, perempuan tidak suka jawaban yang tidak pasti,” ucap Ruika.

Mengingat kisah cintanya dengan Jesse memang penuh dengan ketidak jelasan, Ruika memang benci hal itu, bahkan setelah mencoba melepaskan Jesse, separuh dirinya masih sangat merindukan Jesse, merindukan pelukan dan ciumannya. Dan tetap saja Jesse memberikan ketidak pastian untuknya, karena hingga sekarang berita pembatalan pertunangan Aika dan Jesse tidak pernah muncul.

“Rui-chan, Hoku-chan… nanti sepulang kerja kita karaoke, yuk!” Sanada, yang biasa dipanggil Sanapi adalah salah satu staff di kantin juga, merangkul keduanya.

“Karaoke? Boleh boleh!” seru Ruika antusias. Dia butuh alkohol dan butuh berteriak sekencang-kencangnya. Karaoke akan membantunya.

“Bagaimana, Hoku-chan??” Sanapi menoleh menatap Hokuto.

“Baiklah, terserah saja,”

“Yay!!” setelah berkata begitu Sanapi pun meninggalkan keduanya.

“Bahagia sepertinya jadi Sanada-san, ya?” kata Hokuto disambut tawa dari Ruika.

.

Ruangan karaoke itu berisikan lima orang. Ruika, Hokuto, Sanapi, Fujigaya, dan Airin. Staff lainnya tidak bisa ikut.Sanada terlihat kurang puas karena gadis yang ia sukai, Maiko, tidak ikut dengan mereka.

“Huh, padahal ini semua untuk Maiko-chan,” keluhnya.

Baka! Kalau begitu ajak Maiko saja tidak usah ajak kami!” kata Fujigaya seraya memukul pelan kepala Sanada.

Ruika hanya tertawa dan mengambil remote ruangan, mulai mencari lagu yang ingin ia nyanyikan, “Kalian pesan minum saja dulu,” katanya sambil memilih-milih lagu.

“Karena Ai-chan masih dibawah umur, jangan beli bir untuknya,” kata Sanapi, Fujigaya kembali memukul kepala pemuda itu.

Suasana karaoke memang menghebohkan. Semuanya bergantian bernyanyi, bahkan Airin yang awalnya malu-malu. Sanapi membuat suasana riuh karena menyanyikan lagu sambil berjoget, mungkin efek lima kaleng bir yang sudah diteguknya. Semuanya pun setuju suara Fujigaya-san paling bagus sehingga sebagai penutup, Fujigaya diminta untuk bernyanyi sebelum mereka pulang.

“Sudah malam, Ai-chan rumahnya jauh, kan? Hokuto-kun, antar Ai-chan saja,” ucap Ruika ketika kelimanya sudah berdiri di depan gedung karaoke, “kau bisa sekalian pulang ke rumah ibumu, kan?”

“Eh?kalau begitu aku duluan ya.. aku harus mengantar Sanapi,” kata Fujigaya-san.

“Tapi kau pulang sendiri, tidak apa-apa?” tanya Hokuto pada Ruika.

Ruika menggeleng, “Aku masih ada urusan, tidak akan pulang ke apartemen, jya! Dadah Ai-chaaann!!” Ruika meninggalkan Hokuto dan Airin berduaan.

“Ayo, kita pulang,” kata Hokuto, berjalan mendahului Airin, tapi gadis itu menahan lengan Hokuto, “Ada apa Ai-chan?”

“Kereta terakhir kan sudah lewat, gimana kalo… aku menginap di apartemen Hoku-nii saja?”

Hokuto menggeleng, “Jangan. Kalau kereta terakhir sudah lewat, kita naik taksi saja,”

“Tapi taksi mahal, lagipula aku sudah izin ibu ko,”

“Tau gitu kamu harusnya menginap di rumah Ruika-chan, bukan di apartemenku!” seru Hokuto kesal. Airin memang sedang menguji kesabarannya, sepertinya.

Dan langit sepertinya mengabulkan permintaan Airin ketika hujan tiba-tiba turun, Hokuto terpaksa memperbolehkan Airin untuk ke apartemennya karena tidak mungkin ia membawa Airin ke hotel.

“Ini, handuk, keringkan dirimu,” setengah perjalanan mereka harus berlari dari halte ke apartemen Hokuto karena tidak membawa payung. Airin menerimanya, mengeringkan dirinya.

Baru kali ini dia melihat kamar Hokuto. Bahkan di rumah Sonata, dia tidak tau kamar Hokuto seperti apa, karena setelah Hokuto pergi dari rumah, kamar itu jadi kamar Ibunya Sonata, sementara Sonata akhirnya punya kamar sendiri.

“Kamar Hoku-nii rapi sekali,” ucap Airin, menyampirkan handuk di kepalanya.

“Bajumu basah, ini pakai punyaku saja,” Hokuto mengambil kaos dan sweat pantsnya dari dalam lemari, “mungkin agak kebesaran,”

Arigatou,” Airin segera masuk ke dalam kamar mandi, menggantinya dengan kaos hitam kebesaran, dan sweat pants yang juga kebesaran, tapi dia keberatan karena ini milik Hokuto.

Saat Airin keluar dari kamar mandi, dilihatnya Houtojuga sudah berganti baju. Mau tak mau Airin membayangkan apa yang dilakukan Hokuto tadi di ruangan ini. Bertelanjang? Ya ampun, tiba-tiba pipi Airin terasa hangat, dibuang jauh-jauh pikiran itu. Tidak pantas! Kutuk Airin pada dirinya sendiri.

“Ini minum dulu,” Hokuto menyimpan dua cangkir teh di atas meja bundar di tengah ruangan, yang sepeetinya merangkap kamar tidur.

Arigatou,”

Hokuto menatap Airin yang sibuk mendinginkan air tehnya dengan meniup-niup permukaan air, “Kau tau, bermalam di rumah laki-laki itu berbahaya!” seru Hokuto.

“Memangnya kenapa?” tanya Airin.

“Aku ini laki-laki dan kita hanya berdua! Itu artinya aku berbahaya untukmu!” Hokuto menggeleng frustasi, “Sudahlah,”

“Kenapa? Hoku-nii gugup satu kamar denganku?” Airin dengan sengaja menggeser duduknya, mendekati Hokuto.

“Ai-chan! Ini peringatan terakhir!” seru Hokuto.

Alih-alih menjauh, wajah Airin malah mendekat pada Hokuto, hingga jarak wajah mereka kini tidak lebih dari lima belas sentimeter saja, “Hmmm?” mata Airin membulat, bibirnya menyunggingkan senyum jenaka, niatnya menjahili Hokuto, “Memangnya Hoku-nii berani?” dan menantang seorang pria dalam keadaan intim seperti ini adalah suatu kesalahan.

Hokuto mengangkat dagu Airin dengan ujung telunjuknya. Mata mereka bertemu dan seketika itu juga Airin merasa jiwanya lepas dari raganya, jantungnya berdetak tak keruan. Kini wajah mereka tinggal selisih beberapa sentimeter saja. Selisih jarak yang kelewat intim untuk dua orang yang berbeda gender. Dan sebelum Airin bisa menguasai keadaan, bibir mereka bertemu. Hokuto mengisap pelan bibir atas Airin, dan menggigit pelan bibir bawahnya. Dengan gerakan pelan Hokuto melepaskan ciumannya, tangannya berada di belakang kepala Airin, “Aku sudah memperingatkanmu, Ai-chan,” bisiknya lirih.

***

Tidak bisa, koper terlalu kentara nanti Ayah bisa tau. Pikir Aika. Gadis itu mengeluarkan kembali seluruh bajunya, memasukannya ke ransel yang agak besar. Setelah selesai, dia memutar kenop pintu, mengintip siapa yang berjaga di depan kamarnya, betapa leganya ketika melihat Yasui-kun, sedang membaca di depan kamarnya.

“Yasui-kun…” panggil Aika.

Yasui menoleh, “Kapan kau mau berangkat?” tanyanya, seakan tau tuan putrinya ini ingin melarikan diri.

“Yasui-kuuunnn,” Aika kembali meneteskan air mata, Yasui memeluknya, menepuk-nepuk pelan punggung gadis itu.

“Kita akan bilang Aika-san ada ujian, oke?”

Aika mengangguk, menyerahkan tas ranselnya yang berisi pakaian serta uang cash yang sengaja ia persiapkan jika ada keadaan darurat. Karena Aika tau, semua kartu kredit atau debitnya pasti sudah di blokir oleh Ayah. Yasui mengambil ransel itu, berjalan di depan Aika, “Aika-san ada ujian di kampus, aku sendiri yang akan mengantarnya,” kata Yasui kepada dua orang penjaga lain yang berjaga di pintu depan, “Kami tidak perlu supir,” kata Yasui.

Mobil hitam itu melaju meninggalkan rumah kediaman Kimura. Yasui mengemudikannya dengan sedikit ngebut, mengingat bisa saja mobil ini dibuntuti oleh yang lain. Tekad Aika sudah bulat. Apapun yang terjadi nanti dia akan pergi menemui Juri, dia akan tinggal bersama Juri. Memang dia masih muda, begitupun dengan Juri tapi jika mereka bersama, tidak ada rintangan yang tidak bisa mereka lewati.

Setibanya mereka di tempat kerja Juri, Yasui menyerahkan sebuah ponsel pada Aika, “Pakai ini, dan telepon aku jika ada keadaan darurat,”

“Yasui-kun, arigatou, bagaimana kalau ini jadi masalah buatmu?”

Yasui menggeleng, “Tentu saja tidak, aku hanya tinggal bilang kau melarikan diri dariku, karena ini bukan pertama kalinya kau kabur dariku,” katanya.

Memang ini bukan pertama kalinya Aika tidak boleh keluar rumah. Waktu itu dia berhasil mengelabui Yasui, walaupun tertangkap tiga jam sesudahnya.

Aika mengangguk, mengambil ranselnya lalu keluar dari mobil hitam itu, “Gomen na, Yasui-kun,”

Tersenyum, pria itu berkata sebelum meninggalkan Aika, “Aku akan merindukanmu, Aika-san,”

Setelah mobilnya berlalu, Aika menatap pintu bengkel yang sudah tertutup, waktu kerja Juri sudah selesai dan seharusnya sebentar lagi Juri pulang. Aika bersandar pada tebok gedung, berharap Juri segera keluar dari situ. Tak sampai lima belas menit kemudian, pintu terbuka, beberapa orang berjalan keluar melalu pintu berwarna biru itu, termasuk Juri.

“Juri-kun!” paggil Aika. Juri menoleh dan terkesiap karena mendapati Aika berdiri tak jauh dari dirinya.

“Aika!” Juri berjalan cepat menghampiri Aika, “Kenapa ada di sini?”

Aika menghambur ke pelukan Juri, “Aku tidak ingin pisah darimu, bawa aku pergi dari sini,”

***

To Be Continue

Advertisements

8 thoughts on “[Multichapter] Little Things Called Love (#11)

  1. sparklingstar48

    Yabai.. AIRIN-HOKU NGAPAIN YAALLAH AAAAA><
    #MELTED
    yaampun kak, aduh , sukaak xD
    Yugo-yua nyesek, :" shin-sona dikit lg itu jadiannya xD , mampus jesse babak belur hahaha , aika jgn udahan sm juri:(

    Reply
  2. magentaclover

    Pendapat pribadiku sih chapter ini nice banget… alurnya entah kenapa bagiku seimbang (?) Pas baca tuh tiba2 “Eh, udah?” Padahal biasanya seolah panjang banget disatu love storynya xD *tapi gpp sih* karakter ruika lebih keluar pas interaksi sama tokoh lain dan aku suka ga tau kenapa ._.

    Buat juri aika ternyata bener ya aika kabur… tapi aku malah was2 aika ga diterima juri karena juri mikirin kata2 ayahnya aika *lagi* kirain adegan nangisnya aika bakal panjang tapi ternyata aika udah tegar (?) dan langsung kabur udah gitu ditolongin yasui 😂 makasih kak yas >< aku selalu gemes sama mereka apalagi pas hazuki lagu kesel sama taiga tapi pas di menara sumringah gitu minta foto 😂 pliseee nak… kamu lagi sama buaya (?) *ditendang taiga*

    Uhukkk… hokuto mulai menyerang wanita uhukkk aku degdegan banget baca part ini kalo jadi airin… xxxx nya di sini bukan ya? Apa semua full xxxx buat chapter besok? #plak

    Jesse ruika masih belum puas kak mereka belum menemukan titik terang kah? 😂 sini aika senterin cinta kalian *oi*

    Reply
    1. magentaclover

      makasih kak din udah bikin juri nonjok jesse XD tapi feelku lagi kasian sama jesse gara2 ditinggal ruika. POKOKNYA AIKA LOVE JURI!!!!!

      Shin nanya sama yua kalo suka sm sahabat gimana? Shin salah sasaran wkwkwk dan ternyata awal sukanya sona ke shin gitu toh, tapi awal shin suka airin kyknya belum ada ya apa aku lupa?

      Buat yua yugo selamat bergalau ria ya kalian karena perasaan masing2 semoga ujungnya pacaran aja deh gimana? XD

      Reply
  3. elsaindahmustika

    kak dinnnn walaupun part sona sama shin gak banyak tapi suka chapter ini sumpah!!!
    1. aku paling suka taiga hazuki masa! mereka lucu ahhh taiga juga pake tas ungu, ngebayanginnya kawaii banget xD kayaknya ada sinyal2 kalo hazuki mulai nerima taiga *cuma nebak tapi semoga bener* ah lanjutkan kak!>< yugo nya bijak sekaliiii
    3. hokunii airinnnn astagaaaa mereka mau ngapain :O
    4. itu sona shin sama2 curhat wkwk ke yua sama kouchi lagi, lucu xD
    5. aika juri ganbareeee!! yasui nya manisss duh ngerti aika bangett, mau juga dong dipeluk yasui wkwk #plak
    6. aku gatau mau komen apa jess dan ruika._.v tapi yeahhh muka nya jess kena pukul juri, itu emang pantes:v
    sekian ._.

    Reply
  4. kyomochii39

    Kenapa aku bisa banget bayangin Yua lagi tidur peluk2 Yugo (//.\\\\)
    Hokuuuuuuuuuuuu, itu Airin masih bocah!! (ga inget ffnya sendiri, Yua di sana jg masih SMA /plak/)
    Ruika, fighto!!! Semoga Jesse kena karma secepatnya!!
    Aika nekat banget kabur sama Juri T^T Kalo ketahuan, gak kasian apa sama nasibnya Juri!????
    TaiHazu, YES! mereka satu kamar lagi!!! ka din, bikin NC mereka dong!! /dilindes/

    Reply
    1. kyomochii39

      ah, sona-shin lupa komentarnya~
      masa’ aku baru sadar dari komen elsa kalo sona curhat ke kouchi, shin curhat ke yua!!!
      bisa ya kebetulan banget gituuu >< masalahnya sama pula X"D
      semoga nasib kalian sama-sama berakhir bahagia *tebar confetti*

      Reply
  5. kiriechan

    Ka diiiin…. kok Hazuki bisa pas banget pake ungu? yg punya OC suka banget warna Ungu soalnyaaaa :”D
    teruuus Hazuki murah asli ngeselin. sok sokkan gitu sama taiga, liat eifel minta difotoin terus jadi begitu astaga hazuki kau malu malun aja, harga dirimu manaaaaa *ngomelin OC sendiri*
    Airin!!!! anak kecil agresif banget sih ngeselin ngeselin. Hoku juga ngeselin makan anak kecil huf huf huffff >.<
    btw aku baca chapter ini kok rasanya sedih banget yaa tiap bagian sedih gitu kecuali hazuki taiga sih karna hazuki murah banget hahahaaa

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s