[Multichapter] Desire Or Love (Chap 4)

Desire or Love?
By: kyomochii
Genre: Friendship, Romance, Drama
Rating: PG-13
Cast: Ichigo Yua, Morita Mirai, Matsukura Meiko (OC), Kouchi Yugo, Jesse (SixTONES), Chinen Yuri, Yamada Ryosuke (HSJ), Nakamura Kaito (Travis Japan)
Disclaimer: Semua Cast cowok dalam cerita ini under talent agency Johnny’s & Associates dari berbagai grup yang berbeda, bisa ada, bisa tidak tiap chapternya, tergantung mood author :p
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Yua-chan akan mengambil jurusan apa saat kuliah nanti?
Tapi Yua-chan pinter sih, pasti milih apapun juga bisa masuk.

Aku gak sepintar yang orang lain bayangkan. Aku hanya anak yang beruntung dalam hal pendidikanku saja. Aku gak punya cita-cita. Aku gak tahu mau jadi apa nanti di masa depan. Lagipula siapa juga yang peduli?

Belum tahu. Kedokteran mungkin. Send.

Memilih jurusan yang tidak mungkin untuk dicapai, sama seperti menyukai cowok yang tidak mungkin memilihnya meskipun seberapa keras dia menunjukkan, adalah cara Yua memilih menjalani hidupnya. Berbohong pada orang lain tentang apa yang benar-benar dia inginkan, terlebih berbohong pada dirinya sendiri. Apalagi yang bisa dia lakukan? Dia hanya diajari kebohongan oleh kedua orang tuanya sejak kecil.

Aku yakin Yua-chan pasti bisa menggapai apapun yang diinginkannya.
Ganbare \ (^o^) /
Oh iya, aku akan pulang saat Golden Week.
Apa kamu ada di rumah?
Boleh mampir ke rumahmu?
Aku sekarang selain belajar untuk ujian tahun depan, juga membantu di bakery tanteku lho.
Aku mau menunjukkan hasil keahlian yang aku peroleh selama di sini.
Kamu pasti suka ‘strawberry shortcake’ buatanku!

Yua belum tahu harus membalas apa. Jadi dia membiarkan pesan itu tanpa balasan terlebih dulu. Lagipula saat golden week, Yua sudah berjanji untuk menyaksikan pertandingan semi-final basket Mirai dan Jesse. Pertama kalinya bagi tim basket putra sekolahnya bisa mencapai pencapaian sejauh itu, karena biasanya akan gugur pada babak penyisihan pertama. Apalagi, ada kemungkinan para pemain baru akan diturunkan dalam pertandingan apabila terjadi hal yang tidak diinginkan. Yua sedikit menantikan bisa menyemangati Kaito di pertandingan pertamanya.

Oh, no. Aku gak jatuh cinta dengan Uminchuu kok. Aku cuma menyukainya seperti aku menyukai Yamada-senpai, karena aku tahu dia gak mungkin membalas perasaanku. Secara, dia kouhai, aku senpai. Gak mungkin aku bisa jatuh cinta dengan cowok yang lebih muda dariku.

Aku sudah berjanji menemani Mirai latihan dan tidak akan melewatkan pertandingan semi-finalnya kali ini. Kalau mau menemuiku, kita ketemuan di tempat pertandingan saja.

Atau jemput aku di sekolah.

Aku harus menetralkan perasaanku ke Uminchuu. Lalu Yua mengirimkan balasan pesan singkatnya ke nomor si pengirim pesan.

“Ne ne, Yua. Kamu kenal sama Umin?”

“Nggak juga sih. Cuma sempat berkenalan waktu bantuin Jesse-kun di seleksi anggota baru tim basket putra dulu. Kenapa memangnya?”

“Aku kan temanmu yang sangat pengertian dan perhatian terhadapmu, jadi aku juga memperhatikan orang-orang yang sering berinteraksi denganmu juga akhir-akhir ini.”

“Kamu melakukannya lagi, Mirai. Kimochi warui. Hahahaha.”

“Aku serius nih nanyanya. Kamu gak ada apa-apa kan sama Umin? Habisnya aku sering lihat dia mencuri-curi kesempatan untuk ngobrol denganmu setiap kali berpapasan di kantin. Setiap kali di tempat latihan pun, aku perhatikan dia sering tersenyum ke arahmu, seolah berharap kamu menangkap senyumnya dan tersenyum balik ke arahnya.”

“Kamu serius, Mirai? Aduh aku harus gimana dong? Padahal aku sudah akan memutuskan untuk menjadikannya pengganti Yamada-senpai, idolaku selanjutnya. Kalau dia punya perasaan kepadaku, apa lebih baik aku batalkan niatku ya?”

“Yua, kumohon jangan bercanda. Lebih baik kamu gak usah lebih deket lagi sama Umin deh! Percaya sama aku?”

“Bagaimana aku bisa percaya, kalau aku gak dikasih alasan kenapa?”

“Kamu tahu geng Juria? Salah satu anggotanya, Miki, katanya naksir berat dengan si Umin dan akan menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalannya untuk bisa dekat dengan Umin. Aku takut kamu akan diapa-apakan kalau mereka tahu kamu lebih dekat lagi dengan Umin.”

“Kasihan Uminchuu.”

“Eh, kok malah kasihan sama Umin? Aku mengkhawatirkanmu, Yua!”

“Habisnya, Miki kan terkenal posesif. Kamu inget semester lalu waktu Yasui-kun memutuskannya? Dia menyayat pergelangan tangannya sendiri. Kalau sampai Umin dekat dengan cewek kayak gitu, kasihan banget si Uminchuu.”

“Hmm… iya juga sih. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Sebisa mungkin kita harus menghindari masalah, Yua.”

“Aku paham. Aku tidak akan menjadikan Umin sebagai pengganti Yamada-senpai. Tapi aku tetap tidak akan meninggalkannya. Aku akan memberikannya dukungan kalau dia mengalami kesulitan dalam menghadapi geng Juria. Aku janji tidak akan menunjukkan secara terang-terangan kalau kita cukup dekat. Bagaimana?”

“Terserah kamu saja. Aku cuma tidak mau kamu diganggu geng Juria. Mereka menyebalkan.”

“Beres, bos!” Tiba-tiba pemuda yang sedang mereka bicarakan sudah berada pada jarak jangkau pendengaran untuk mendengar pembicaraan mereka.

“Ichigo-senpai, aku dengar senpai mantan anggota klub astronomi. Sebenarnya aku tertarik untuk bergabung dengan klub astronomi selain basket. Kalau saja Ichigo-senpai tidak keberatan untuk mengenalkanku dengan salah satu anggota klub astronomi yang senpai kenal. Soalnya kan, umm, ini sudah tidak ada perekrutan anggota baru. Ano.” Kaito tanpa kebingungan menyampaikan maksudnya, tapi Yua sangat mengerti apa yang harus dia lakukan.

“Baiklah kamu catat emailku, nanti hubungi aku, akan kukenalkan dengan ketua klub astronomi.”

“Arigatou gozaimasu, Ichigo-senpai.” Mirai hanya bisa menggelengkan kepala melihat kepolosan sahabatnya itu. “Kamu dimodusi tahu!”

Eh? Ah iya juga ya. Ya sudahlah. Yua menunggu Mirai berganti pakaian sambil menyelesaikan membaca manga favourite nya Death Note, sebelum Yugo bergabung dengannya dan merebut manganya, menjejalinya dengan crepes, membuat kedua tangan Yua sibuk memegangi crepes ukuran jumbo rasa strawberry kesukaannya.

“Nanti malam datanglah ke rumah. Hari ini kami akan merayakan ulang tahun pernikahan orang tuaku. Mirai sudah menyiapkan kejutannya. Aku cuma butuh kehadiranmu doang. Gak perlu kado, mamaku sudah akan sangat senang melihatmu tampil cantik dan bahagia.”

“Oke.” Mendengar kata-kata Yugo, Yua merasa bersalah karena meskipun rumah mereka bersebelahan, Yua jarang sekali mampir ke rumah keluarga Kouchi. Selalu Yugo yang pergi ke rumahnya, mengecek keadaan Yua apa masih baik-baik saja dan sesekali membawakan masakan mamanya untuk dimakan bersama dengan Yua.

“Aku akan bilang ke Mamaku kalau malam ini aku menginap di rumahmu.” Tentu saja hanya untuk formalitas.  Mana ada yang peduli sekalipun aku tidak pulang selamanya.

************

Ya ampun, kok bisa hilang sih kontak Meiko. Padahal aku sudah janji akan mengenalkan Umin ke Meiko besok sore sepulangnya Umin dari latihan basket. Ketemu dengan Meiko di sekolah susah banget lagi! Soalnya dia sedang sibuk mengurusi orientasi anggota baru seitokai. Sebentar, sepertinya aku berteman dengan Meiko di media sosial, semoga dia masih aktif.

Yua kembali membuka media sosial yang sudah lama tidak diutiknya sama sekali. Dilhatnya ada puluhan permintaan pertemanan, beberapa di antaranya ada Chinen-senpai dan Yamada-senpai juga, dan ada Nakamura Kaito, Umin! Setelah memilih siapa yang akan dikonfirmasi dan siapa dihapus, Yua memutuskan 10 orang saja yang akan masuk daftar pertemanannya termasuk Chinen-senpai, Yamada-senpai dan Umin. Baru beberapa detik Yua mengkonfirmasinya, Yamada sudah mengirimi Yua personal chat.

Haloo, Yua-chan!

Akhirnya kamu konfirmasi juga permintaan pertemananku. Kamu tidak terlalu aktif di media sosial ya? Kalau begitu apa aku boleh meminta nomor dan alamat emailmu? Maaf, aku cuma tidak ingin kita lost contact meskipun sudah tidak satu sekolah.

Maji desuka! Uso darou! Yamada-senpai meminta kontakku. Aduh, aku jadi kegeeran nih. Karena sudah terlanjur membuka pesan dari Yamada-senpai, tidak enak kalau tidak membalasnya.

Boleh kok senpai.
Emailku yua.ichigo39@xxxx.xx
Nomorku 0xxxxxxxx

Masih tersenyum-senyum kegirangan, Yua teringat apa yang harus dilakukannya.

Meiko! Iya, aku harus meminta kontak meiko. Apa ya id name meiko? Setelah beberapa menit menurut friendlistnya, akhirnya Yua berhasil menemukan id name ‘Matsukura Mei-chan’ milik Meiko. Klik. Setelah mengirim pesan, menanyakan kontak Meiko, Yua penasaran seberapa besar kemungkinan pesannya akan cepat dibalas oleh Meiko.

Yua mengecek timeline kouhainya itu. Meiko tidak terlalu aktif di media sosial seperti dirinya. Namun banyak sekali cowok-cowok yang sekedar ‘say hello’ atau mengucapkan ‘terima kasih sudah dikonfirm’, bertebaran di timeline Meiko, dan dia membalas semuanya. Postingan terakhir yang dia balas kurang dari 24 jam, berarti Meiko akan segera menyadari pesan dari Yua. Merasa lega, Yua hendak menutup media sosialnya ketika satu nama, cukup banyak menghiasi timeline Meiko, membuatnya penasaran tentang apa hubungan keduanya, Chinen Yuri.

Dilihat dari isi postingannya, jelas sekali kalau Chinen-senpai juga mencoba PDKT ke Meiko. Kalau dari waktunya, itu sebelum Chinen-senpai mendekati Yua. Chinen-senpai dan Meiko sepertinya sempat berpacaran. Jadi, Chinen-senpai tidak hanya menjadikan Yua pelarian dari Yuki-senpai tapi juga setelah putus dengan Meiko?! Bisa jadi sebenarnya Meiko juga pelarian Chinen-senpai, karena menyadari statusnya, jadi Meiko meminta putus? Yua menyimpulkan begitu karena sampai di komen terakhir, Chinen masih memanggil Meiko dengan sebutan ‘honey’ namun Meiko membalas semua pesannya dengan panggilan ‘senpai’. Melihat waktunya, itu sudah saat Chinen-senpai berpacaran dengannya!

Two timing? Memikirkannya saja membuat kepala Yua semakin panas. Percuma mau emosi sekarang sudah tidak ada gunanya, karena mereka sudah tidak ada hubungan apa-apa. Tapi kenapa harus Meiko? Kouhai yang sangat dikagumi Yua. Rasanya semakin sulit saja menerima kenyataan bahwa takdir selalu mempermainkannya dengan orang-orang terdekatnya.

**********

“Ichigo-senpai, di sini!” Yua berlari kecil ke arah pemuda yang memanggilnya.

“Gomen. Aku harus menyerahkan laporan pengamatan ke ruang guru terlebih dulu. Ayo kita langsung saja ke ruang klub astronomi.”

“Siap, senpai!” Kaito mengikuti Yua dengan penuh semangat.

“Meiko, perkenalkan ini Nakamura Kaito. Kaito, perkenalkan ini Matsukura Meiko ketua klub astronomi.”

“Aku hanya pengganti kok. Ketua sebenarnya Ichigo-senpai kalau saja…”

“Tapi kamu yang lebih banyak berperan sebagai ketua dari awal kan, Meiko?” Yua memotong cerita Meiko.

“Aku tidak terlalu bisa keluar malam, jadi percuma menjadikanku sebagai ketua, sedangkan kegiatan klub astronomi sering dilakukan malam hari. Aku sangat terbantu karena ada Meiko sebagai wakilku. Makanya, aku menyerahkan jabatan ketua kepada Meiko, sebab aku tidak berhak, bukan? Mana mungkin aku memakan gaji buta. Hehe” Yua selalu menggunakan alasan yang sama untuk menjelaskan mengapa dia tidak lagi menjadi ketua klub astronomi.

“Baiklah Nakamura-kun, ini form anggota yang harus kamu isi. Tapi berhubung hari ini sedang tidak ada kegiatan klub, aku tidak bisa menemanimu lama-lama di sini. Sebab, masih ada beberapa keperluan yang harus aku siapkan untuk orientasi anggota seitokai yang baru. Sebagai sekretaris utama, aku tidak bisa meninggalkan tugasku begitu saja.” Meiko menyerahkan selembar form kepada Kaito, lalu beranjak pergi.

“Yua-senpai masih menyimpan kunci ruang klub, kan? Kalau begitu kunci yang ini aku bawa ya. Tolong nanti ditutup sebelum pergi.” Meiko menambahkan tanpa menunggu jawaban dari Yua lalu menghilang dari pandangan Yua dan Kaito.

“Majime da ne.”

“Da yo nee~” Yua dan Kaito berpandangan, lalu tersenyum ke arah bayangan Meiko yang meninggalkan mereka berdua saja.

“Untung aku selalu membawa kunci ruang klub astronomi. Coba kalau enggak. Dasar Meiko! Tapi dia yang seperti itu yang aku suka. Andai aku cowok~”

“Memang kenapa kalau Ichigo-senpai cowok? Aku bersyukur Ichigo-senpai cewek. Sebab kalau Ichigo-senpai cowok, aku tidak bisa membayangkan aku menyukai senyuman seorang cowok!”

“Eh?” Yua melihat ke arah Kaito yang dengan santainya mengatakan kata ‘suka’ tanpa ada perasaan bersalah sedikit pun.

“Hmm? Ada apa?”

“Kamu bilang, kamu suka senyumku?”

“Iyalah. Siapa juga junior cowok di sini yang tidak suka melihat Ichigo-senpai tersenyum? Senpai lumayan populer lho di angkatanku, tidak hanya di kalangan murid laki-laki tapi juga murid perempuan. Mereka bilang, senpai itu senpai paling termurah senyum. Melihat senyuman senpai, bagaikan melihat cahaya matahari yang selalu menerangi langkah kami.” Tidak tahu harus menjawab apa, Yua menggumamkan kata terima kasih, yang dia yakin Kaito tidak akan bisa mendengarnya.

Ini pertama kali dalam hidup Yua ada orang yang mengatakan menyukai dirinya yang tersenyum. Tentang semua murid kelas satu yang menyukai senyumnya juga, Yua sedikit sanksi, namun Kaito saja yang menyukai senyumnya, sudah cukup. Kaito menganggap Yua sebagai Matahari, namun bagi Yua, Kaitolah Matahari baginya. Setiap kali melihat senyuman dan semangat Kaito saat bermain basket, menjadi doping semangat tersendiri bagi Yua. Tentu saja Yua tidak akan pernah menyampaikan perasaan itu terang-terangan ke Kaito. Yua sangat memahami dari kata-kata yang diucapkan Kaito, dia hanya menganggap Yua sebagai ‘senpai’ yang dikagumi, sama seperti teman-teman yang lain menganggap Yua demikian. Kaito tidak menginginkan menjadi orang yang spesial di hati Yua, meskipun pada kenyataannya sudah, karena dia mensejajarkan dirinya dengan teman-teman satu angkatannya.

“Kamu tahu, terkadang seseorang yang banyak tersenyum itu karena dia terlalu sering menangis?” Yua berjalan menuju sofa di ujung ruangan, menghempaskan tubuhnya pelan.

“Eh?” Kaito dalam keadaan bingung mengartikan maksud Yua, mengikutinya duduk di samping gadis itu, memandangi wajahnya, mencoba mencari penjelasan.

“Aku sering membacanya di buku motivasi. Apa aku terlalu banyak tersenyum, menurutmu? Aku masih jarang menangis, sih. Takutnya di masa depan aku akan sering menangis gara-gara kebiasaanku yang terlalu banyak tersenyum. Mungkin gak ya? Aku percaya adanya hukum keseimbangan sih.” Entah kenapa penjelasan Yua membuat Kaito merasa lega.

“Senpai terlalu memikirkannya. Bukannya orang yang banyak tersenyum berarti hidupnya bahagia? Terus mengapa harus menangis?” Yua merasa pundaknya berat sebelah, tanpa dia sadari Kaito sudah menyandarkan kepalanya di pundak Yua.

“Entah kenapa, meskipun senpai lebih tua dariku, rasanya tiap melihat senpai aku seperti melihat adikku. Setiap melihat senyum senpai, rasanya ingin melindunginya. Jangan sampai ada yang berani menghapusnya dari lengkung bibir yang sempurna itu. Bibir itu hanya cocok menyunggingkan senyum, bukan kesedihan. Entah mengapa, aku jadi bisa memahami perasaan Kouchi-senpai.”

Eh? Yuu-chan? Kenapa tiba-tiba bawa-bawa nama Yuu-chan?

“Senpai, apa aku boleh memintamu menemaniku bermalam di sini?” Belum sempat Yua bertanya ataupun menjawab, Kaito sudah terlelap di sandarannya. Karena merasa pegal, perlahan Yua memindahkan kepala Kaito ke dalam pangkuannya. Oyasumi, Uminchuu.

ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Desire Or Love (Chap 4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s