[Multichapter]Little Things Called Love (#10)

Little Things Called Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 10)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring  : Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Tanaka Juri, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Jesse Lewis (SixTONES); Ichigo Yua, Kimura Aika, Kirie Hazuki, Mizutani Ruika, Takahara Airin, Matsumura Sonata (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Untitled-1

Memang bukan pekerjaan impiannya. Jelas. Tapi Ruika tidak pernah berpikir akan bekerja dimana nantinya, yang penting dia bisa membantu Ayahnya untuk meneruskan sekolahnya. Selama masih ada tempat yang mau menampungnya bekerja, ia akan melakukannya. Hingga suatu hari mungkin Ruika akan menemukan pekerjaan impiannya.

“Sudah selesai?” suara Hokuto, Ruika mengangguk dan memberikan sayuran yang sudah ia cuci, “Arigatou, ngomong-ngomong kau sudah menemukan apartemen barumu?” tanya Hokuto sambil memilah sayuran di sebelah Ruika.

Bagi Ruika menemukan sebuah tempat tinggal agar tidak bersama dengan Ayahnya bukan hanya masalah jarak, tapi hubungan dengan Ayahnya agak canggung dan mereka jarang berkomunikasi selain mengenai hal-hal remeh. Ruika sudah keluar dari rumahnya sejak SMA, sejak ibunya meninggalkan rumah. Praktis Ayah membenci ibu dan itu membuat suasana rumah tidak enak, hanya tinggal Ayah dan adik laki-lakinya yang tinggal di rumah itu.

“Sedang kuusahakan, lebih baik dekat dengan yang kemarin sih, jadi tidak terlalu jauh dari kampusku dan tempat kerja ini,”

Hokuto mengangguk, “Aku bisa membantumu mencari apartemen,bagaimana?”

“Makasih loh, ada laki-laki tampan menawarkan jasa mencari apartemen secara gratis,” ledek Ruika yang ditanggapi oleh senyuman dari Hokuto.

“Jadi kau mengakui aku tampan?”

“Jangan salah sangka aku hanya mengatakannya agar kau mau membantuku, hahaha,”

Hokuto tertawa dan mencipratkan selada yang masih basah itu ke muka Ruika, “waaa!! Stop!! Stop!!” seru Ruika heboh.

Jangan-jangan Hokuto menyukai Ruika? Itu yang telrintas pertama kali di benak Airin ketika melihat keduanya di dapur utama. Rasanya ada yang janggal melihat Hokuto se-ramah itu kepada orang lain, khususnya wanita. Belum pernah Airin melihat senyum Hokuto seperti itu sebelumnya, lembut dan perhatian, bukan senyum yang biasa Airin lihat.

“Mizutani-san, Fujigaya-san mencarimu,” ucap Airin mendekati keduanya, “Maaf mengganggu kalian,”

Ruika mengangguk dan meninggalkan Hokuto dan Airin berdua, “Makasih,” ucapnya sebelum masuk ke ruangan Fujigaya-san.

“Kau tidak mengganggu,” kata Hokuto kembali  fokus kepada kopi yang sedang ia siapkan.

“Hoku-nii terlihat lebih… bahagia,”

Hokuto menoleh pada Airin, tidak mengatakan apa-apa dan dengan raut wajah yang tidak bisa Airin artikan sama sekali.

***

“Sona,” pintu kamarnya terbuka, Sonata sedang berbaring dengan posisi kakinya menempel di tembok, rambutnya berantakan, ia belum mau bergerak dan mandi karena kerjanya di mulai siang hari.

Sonata menangkap sosok itu dalam keadaan terbalik, “Shin!!” Sonata segera berdiri dan sial dia terpeleset sehingga jatuh tepat di dekat kaki Shintaro yang tertawa terbahak-bahak melihat Sonata.

Bakaaaa!!” serunya jahil.

Sonata manyun, “Kalo masuk kamar orang itu pakai ketuk pintu dong!”

“Aku udah ngetuk kok tadi, kamu aja yang gak denger!” balas Shintaro, tentu saja bohong. Kamar Sonata tidak besar, harusnya ia bisa mendengar ketukan pintu Shintaro.

“Bohong!”

“Udahlah aku juga udah masuk ini,” Shintaro dengan semena-menanya duduk di atas kasur milik Sonata, “Tadi bibi sekalian pamit mau berangkat kerja, makanya aku langsung masuk aja ke kamarmu,”

“Tata krama dong Shin, ini kamar cewek!” Sonata melemparkan bantal ke muka Shintaro, lalu menekan bantal itu hingga Shintaro terbaring di atas kasur, meronta meminta ampun sementara si pelaku malah tertawa-tawa. Dengan satu gerakan cepat Shintaro menarik Sonata dan memutar tubuh Sonata sehingga malah Sonata yang sekarang ada di bawah tubuh pemuda itu. Keduanya tiba-tiba terdiam, kaget karena posisi itu membuat mereka gugup.

Baik Sonata maupun Shintaro tidak bisa memilih kata yang tepat untuk diucapkan sekarang, keduanya malah saling bertatapan, senyum dan tawa sudah pudar dari keduanya diganti oleh keheningan dan kegugupan yang kentara sekali terjadi pada mereka. Shintaro merasakan desakan untuk mencium Sonata, otaknya berpikir cepat apakah bijak mencium sahabatnya itu? Untuk apa? Memastikan bahwa dia benar-benar ada perasaan pada Sonata? Menyadari darah mengalir lebih cepat ke jantungnya, itu bisa saja terjadi.

Detik berikutnya mata Shintaro terpejam dan bibirnya benar-benar sudah menyentuh pelan bibir Sonata, ini ciuman pertamanya dan Shintaro yang mencurinya. Beberapa saat kemudian Shintaro melepaskan ciuman itu, ia menatap Sonata yang masih terlihat kaget, “Gomen,”

“Kenapa… minta maaf?” bisik Sonata lirih.

Shintaro melepaskan dirinya dari Sonata, terduduk dengan perasaan frustasi. Jelas, ya, jelas sekali dia memang punya perasaan pada Sonata. Kalau tidak, bagaimana bisa dia segugup ini saat mencium bibir mungil Sonata dan desakan ingin kembali mencium gadis itu memenuhi dirinya. Sementara itu Sonata mengambil boneka beruang yang ada di sampingnya, menutup mukanya yang pasti sekarang sudah se-merah tomat.

***

“Aku di depan kelasmu sekarang,” Jesse menekan tanda merah di ponselnya, menunggu Aika berjalan keluar dari kelasnya.

“Hey!” sapa Aika pada Jesse slash tunangannya, jika dulu Aika bisa meloncat-loncat jika Jesse datang, sekrang rasanya hambar sekali, “Ada apa?”

“Ayah menanyakan kemana kau semalam? Kau tidak mengangkat telepon Ayah?”

Aika menggembukan pipinya, yeah aku bermalam dengan Juri sekarang pertunangan kita batal, rasanya ingin Aika dengan cueknya mengatakan hal itu, kalau ia sudah bosan hidup dan meminta kehidupannya akan seperti dipenjara karena Ayah, “Aku di rumah Hazuki, ko,” jawab Aika.

Jesse menghela napas berat, “Nanti malam jangan kabur, aku akan memastikan kau datang ke acara makan malam keluarga kita,”

Selama ini Aika belum pernah bertemu dengan keluarga Jesse. Hanya pemuda itulah yang selalu datang ke rumah Aika. Tapi malam ini Ayah sudah merencanakan makan malam dua keluarga, yang mati-matian Aika tolak saat ide ini terlontar. Dia tidak suka harus berpura-pura bahagia, pasang tampang cantiknya, membicarakan omong kosong mengenai bisnis atau apapun itu. Kakaknya bahkan sampai pulang dari Shanghai, untuk acara malam ini.

“Baiklah,”

Good, I’ll pick you up at…” Jesse melihat arloji hitam di lengannya, “six, okay?”

Aika mengangguk-angguk mengerti. Aika masih mencari cara untuk mengaku pada Ayah, soal Juri, pemuda itu memang beberapa kali menawarkan diri untuk menemui Ayah tapi malah Aika nya sendiri yang belum siap. Aika selalu mencari alasan agar Juri tidak bertemu Ayah.

Ketika sore itu Jesse menjemputnya di rumah, Aika sudah siap dengan balutan gaun di atas lutut, potongannya baby doll pas di badan Aika berwarna coklat muda dengan print bunga-bunga yang tidak begitu ramai tapi cukup manis. Kakinya dipermanis dengan sepatu wedges berwarna senada. Aika tidak pernah suka pakai sepatu hak tinggi, menurutnya merepotkan sekali. Rambut Aika dibiarkan tergerai, dan wajahnya dipoles oleh make up tipis seperti permintaannya kepada make up artist nya. Aika selalu heran kenapa ibunya harus menyewa seorang make up artist untuk kesehariannya, Aika pernah bertanya dan jawaban ibunya membuat Aika kaget, “Soalnya Ibu masih harus kerja sambil make up dan Ibu harus tampil ‘on’ dua puluh empat jam. Ibu ini istri Kimura-san yang terkenal itu loh, apa jadinya ibu keluar tanpa make up yang bisa menunjukkan hal itu,” seloroh ibunya saat itu.

You looked fine,” kata Jesse ketika melihat Aika turun dari lantai dua, menemuinya.

It’s nice, tapi akan lebih spesial kalau Aika mendengarnya dari Juri bukannya tunangan gadungannya ini. Aika hanya menanggapinya dengan senyum, berjalan mengikuti Jesse ke depan di mana mobil sport merah milik Jesse sudah terparkir.

“Aku tau kau tidak benar-benar menginginkan pertunangan kita kan?” Jesse membuka percakapan itu sesaat setelah mereka meluncur dari kediaman Kimura, membuat Aika terkesiap sekejap mendengarnya, “Kalau tidak, mana mungkin kamu menghindari aku belakangan ini,” mata Jesse tetap fokus pada jalan.

“Apa maksudmu?” Aika menelan ludahnya sendiri, belum pernah ia mendengar nada suara Jesse sebegitu seriusnya.

“Kalau kamu meminta kita membatalkan pertunangan ini, itu tidak akan terjadi,” Jesse menatap Aika sekilas, “Tapi aku tidak peduli kamu masih suka padaku atau tidak,”

***

Bandara adalah tempat yang paling dibenci oleh Hazuki. Dia benci menunggu pesawatnya datang, dia benci karena tempat inilah yang selalu ia lihat saat mengantar Ayahnya pergi. Selama bertahun-tahun Hazuki menatap pesawat Ayahnya pergi dan tidak akan kembali hingga natal atau tahun baru datang. Hazuki tidak suka rasanya ditinggal Ayah sehingga secara tidak sadar Hazuki membencinya, benci rasanya ditinggalkan dan akhirnya Hazuki tidak pernah mengantar Ayah pergi lagi. Dia hanya mendapatkan pesan singkat dari Ayah setiap kepergiannya, “Ayah berangkat, jaga dirimu.”

Tapi sore ini Hazuki sudah ada di Bandara Narita, menunggu kepergiannya ke Paris. Dia harus melarikan diri, sejah-jauhnya kalau bisa. Hazuki belum bisa dan belum mau menghadapi Taiga, walaupun pemuda itu terus-menerus mencoba meneleponnya, mengiriminya pesan dengan nada menyedihkan karena tidak kunjung dibalas, Taiga sudah melakukan kesalahan fatal, tapi Hazuki lebih fatal lagi, dia tak ingat sama sekali apa saja yang mereka lakukan malam itu.

“Ini kopinya,” tangan Hokuto terulur dan Hazuki mengambilnya, “Benar-benar tidak akan memberitau Taiga?”

Hazuki menggeleng, “Makasih ya Hoku-tan, sudah mengantarku, benar tidak mau ikut? Hahaha,”

“Memangnya kita mau honeymoon apa?” disambut tawa Hazuki, “Aika dan juri juga tidak perlu tau?”

Hazuki menggeleng lagi. Jelas keduanya juga sedang banyak masalah dan Hazuki tidak ingin membuat mereka khawatir.

“Berapa lama di Paris?”

“Sampai bosan deh,” jawab Hazuki asal. Tentu saja tidak bisa lama-lama, bagaimana dengan kuliahnya? Dia hanya butuh sedikit kelapangan di hatinya, kebetulan salah satu sepupunya ada di Paris menempuh sekolah design di sana. Sudah lama sekali Hazuki tidak kesana, mungkin terakhir saat dia SMP dan Hazuki tidak sabar melihat menara eiffel, atau jalan-jalan di sepanjang sungai Seine, apapun yang bisa ia lakukan untuk tidak mengingat-ingat ekspresi wajah Taiga pagi itu, yang menatapnya dengan wajah jahil tapi teduh dan serius saat ia mencium dahinya. Tidak adil apa yang ia rasakan terhadap Taiga masih saja ia bandingkan dengan perasaanya terhadap Juri, yang jelas-jelas anehnya terasa berbeda.

“Kenapa harus melarikan diri dari Taiga dan Ayahmu?” tanya Hokuto, membuyarkan lamunan Hazuki.

Kalau boleh jujur Hazuki sendiri tidak punya jawabannya.

“Kalau misalnya Taiga benar-benar mengajakmu menikah, bagaimana?”

“Hoku-tan nanya mulu deh kayak polisi!” seru Hazuki.

Sebagai balasan ledekan Hazuki, Hokuto mencubit pipi gadis itu, “Aku serius,”

“Aku hanya ingin menepi sebentar dan kalau Taiga mengajakku menikah, entahlah… menikah tidak selalu harus karena cinta, kan? Mungkin aku bisa menikahinya,” jawab Hazuki dengan mata menerawang.

Tak lama terdengar pengumuman boarding untuk penerbangan Hazuki. Hokuto pun berdiri, menarik tangan Hazuki, membantunya bangkit dari kursi, “Hati-hati ya, kabari aku kalau sudah sampai, dan jangan macam-macam di sana,”

“Macam-macam itu maksudnya gimana? Ahahaha,”

Hokuto memeluk sahabatnya itu, Hazuki sudah seperti adiknya sendiri, “Macam-macam pokonya jangan mabuk atau tidur dengan orang asing! Aku serius!”

Hazuki menanggapinya dengan kekehan pelan, “Iya… iya…. aku berangkat ya,” ia masih melambaikan tangannya pada Hokuto sampai melewati pintu boarding dan langkahnya terus maju hingga pintu pesawatnya sudah ada di depan mata. Kali ini Hazuki terbang dengan first class, dia ingin memanjakan dirinya sendiri, toh uang Ayahnya juga tidak akan habis hanya untuk membayarinya tiket first class di pesawat.

“Hey, calon istriku,” alangkah kagetnya ketika Hazuki melihat Taiga duduk di sampingnya, “Kau tau kau tidak bisa kabur dariku, kan?”

***

Rasanya sudah agak mendingan. Yua keluar dari dalam selimutnya, mengambil beberapa bahan untuk membuat makan siangnya. Hari ini lagi-lagi dia izin tidak kerja karena masih merasa agak pusing. Dulu, jika Yua sedang sakit Kouchi tidak pernah membiarkannya sendirian. Kata ‘dulu’ tia-tiba saja membuat Yua merasa sedih. Kenapa sekarang hubungannya dengan Kouchi harus seperti ini? Harus seperti orang asing padahal dulu dia bisa saja dengan mudah mengganggu pemuda itu.

“Semoga Yua akan selalu membiarkan aku mengganggu hidupmu. Selamanya,”

Lalu dimana sekarang Kouchi? Kenapa pemuda itu tidak ada disini untuk mengganggunya? Mencerewetinya untuk makan yang benar, membuat Yua kesal biasanya, dan sekarang ia malah merindukan kebawelan Kouchi.

Yua masih menunggu buburnya matang ketika mendengar suara bel apartemennya. Dia pun memutuskan untuk mematikan kompor, berjalan ke depan dan membuka pintu. Alangkah kagetnya melihat Kouchi berdiri di hadapannya.

“Kou-chan,” bisik Yua lirih.

“Hey,” tangan Kouchi terangkat, ia membawa kantong plastik di tangannya, “Ada apel, dan beberapa bahan makanan yang mungkin kau butuhkan, kurasa kau tidak keluar beberapa hari ini, kan?”

Yua tak mampu menjawab, tiba-tiba ia ingin memeluk sahabatnya itu maka tanpa pikir panjang Yua melingkarkan tangannya di tubuh Kouchi, merebahkan kepalanya di dada pemuda itu, menangis lagi tanpa alasan yang jelas, ia hanya sedih tapi campur dengan perasaan senang.

“Yua…”

“Kenapa Kou-chan begitu baik padaku?” ucap Yua terbata-bata.

Kouchi menghela napas, memeluk balik Yua, “Aku memang selalu begini kan? Memangnya ada yang berubah?” Kouchi mengeratkan pelukannya, “Maaf aku agak sibuk jadi baru bisa ke sini,”

Yua melepaskan pelukannya, mengusap air matanya, “Kou… kenapa kau mengetuk pintu,”

Kouchi tersenyum, “Aku takut mengganggumu,”

Sambil berjalan masuk ke dalam dan mengangkat buburnya yang sudah matang, Yua mencoba tertawa, “Ahaha,” terdengar bodoh dan konyol, “Sini, ada bubur,” Kouchi duduk di sebelah Yua dan hanya memandangi Yua yang memakan buburnya pelan-pelan.

Gomen, Yua, aku memang sudah tidak bisa lagi berbohong soal perasaanku, menurutmu aku harus bagaimana?”

Gerakan Yua berhenti dan menatap si pemuda dengan sedih, “Ini akan menghancurkan persahabatan kita?” rasanya ia sudah siap untuk menangis lagi.

Kouchi menggeleng frustasi, “Aku tidak tahu, Yua, aku tidak tahu berapa lama aku bisa bertahan, aku tidak tahu apakah aku bisa menerima jika kau bersama pria lain,”

Yua menatap wajah Kouchi, menyentuhnya dengan tak kalah frustasi,ia tidak yakin apakah mereka bisa menjalani kehidupan sebagai kekasih. Berbeda tentunya dengan saat mereka masih hanya sekedar sahabat, “Gomen,” ungkap Yua dengan nada menyesal. Menjaga apa yang mereka punya saat ini harusnya lebih penting kan? Paling tidak begitu menurut Yua.

***

Sudah sekitar lima belas menit dan Hokuto belum muncul. Airin memesan segelas lemon tea untuk sekedar membunuh waktu saat menunggu. Pertanyaan-pertanyaan muncul di benak Airin. Apakah Hokuto akan muncul? Bagaimana dia harus menghadapi Hokuto? Untuk hari ini Airin sudah mempersiapkan dirinya, jika Hokuto benar-benar masih menolaknya, Airin bertekad untuk mundur. Tiga tahun sudah dia menunggu Hokuto, bukan waktu yang singkat.

Gomen aku telat,”

Airin tersenyum menyambut kedatangan Hokuto namun betapa kagetnya Airin melihat sosok disebelah Hokuto, “Hai,” ucapnya lirih.

“Hey, Ai-chan!” sapa Ruika.

Ruika menunduk pelan kepada Airin dan tersenyum. Hokuto duduk di hadapan Hokuto sementara Ruika duduk di sebelahnya, “Maaf ya ganggu acara kalian, aku hanya numpang makan ko,” katanya dengan santai.

Airin tidak menjawab. Ini lebih buruk daripada Hokuto tidak muncul sama sekali. Ia mungkin akan memilih Hokuto tidak datang daripada muncul bersama gadis lain. Rasanya terlalu kentara cara Hokuto ‘menolak’nya, tidak secara langsung tapi dengan membawa Ruika.

“Tadi aku menemaninya mencari apartemen dan kami belum makan dari pagi, jadi… kuajak dia kesini,” kata Hokuto.

Mencari Apartemen? Buat siapa? Buat Ruika saja atau buat mereka berdua?! Airin menahan napasnya, rasa kecewa menjalar hingga ke ubun-ubunnya.

“Apartemen?”

“Iya, aku akan pindah dan Hokuto membantuku memilih apartemen baru,” kata Ruika, “Ehm… pesan apa ya?”

Hokuto memandangi Airin yang raut wajahnya terlihat antara marah dan bingung. Ini satu-satunya cara, agar Airin berhenti mengejarnya, membuang waktunya untuk menyukai dirinya sementara Hokuto tidak bisa menjanjikan appaun untuk Airin saat ini. Di masa mendatang tidak ada yang tidak mungkin memang, tapi bukan sekarang.

“Ai-chan tidak mau makan?” Ruika bertanya pada Airin yang hanya mengaduk-aduk gelas lemon tea nya berulang-ulang sementara Hokuto dan Ruika sedang makan.

Airin menggeleng. Selera makannya hilang seketika, dibayarpun rasanya ia tak mau makan appaun. Kenginannya besar untuk pulang sekarang juga, tapi tekadnya untuk menyatakan cinta sekali lagi pada Hokuto juga lebih besar. Ruika bilang dia hanya ikut makan, ya, hanya makan, Airin hanya butuh bersabar sebentar lagi.

“Habis ini kita kemana?” tanya Hokuto.

“Aku dan Hoku-nii?” tanya Airin langsung, menatap mata Hokuto.

“Aku, kamu, dan Ruika tentu saja,”

Airin berdiri, sudah habis kesabarannya. Apa-apaan ini?! Jadi sekarang Hokuto sudah jelas ingin membuat Airin marah dengan melibatkan Ruika?!

“Ya sudah, aku pulang saja. Have Fun ya!”

Dengan gerakan cepat Airin keluar dari bangku dan berjalan tanpa menoleh lagi. Hatinya sakit sekali, padahal dia sudah jelas meminta agar Hokuto dan dirinya berkencan, pemuda itu malah sengaja membuatnya marah dan kecewa. Matanya sudah basah, Airin berhenti sejenak, terisak tanpa suara sambil menutup mukanya.

“Ai-chan!!”

Airin mengusap air matanya, menghirup udara secapat yang dia bisa agar tangisnya berhenti.

Gomen,” Airin bisa merasakan sentuhan tangan Hokuto di pundaknya, “Aku tak bermaksud…”

PLAK!

Tamparan itu sukses mendarat di wajah Hokuto, yang tau persis dirinya memang pantas mendapatkannya.

“Janji itu tidak berarti apapun bagi Hoku-nii?”

Hokuto terdiam.

“Aku tau aku hanya anak kemarin sore yang tidak tau cinta! Tapi bukan berarti Hoku-nii bisa memperlakukan aku seperti ini!” alih-alih sedih, Airin justru terlihat marah.

Tidak ada kata yang terucap dari bibir Hokuto. Ia hanya memandangi wajah Airin, memang tidak ada alasan yang bagus untuk benar-benar menolak gadis itu.

“Baiklah, aku akan menebusnya, kemana kita sekarang?” setelah keheningan yang cukup lama akhirnya Hokuto membuka suara.

Airin menggeleng, “Aku mau pulang saja!” seru Airin, dia sudah tidak mood lagi untuk main kemanapun. Ia berbalik, meninggalkan Hokuto tapi tangannya dicegah oleh pemuda itu.

“Kumohon, biarkan aku menebus kesalahanku,”

“Terserah deh!”

Hokuto mengajak Airin ke Tokyo Tower. Bangunan setinggi 332,6 meter yang ada di taman Shiba itu merupakan salah satu destinasi pelancong dari semua negara. Airin sendiri belum pernah masuk dan naik ke atas, ia hanya sering melewatinya saja. Hokuto membawa Airin masuk ke Akuarium Menara Tokyo, menjelajahi wax museum hingga akhirnya mereka bisa melihat sebagian besar kota Tokyo dari ruang observasi. Saat sampai di ruang observasi, mood Airin sudah pulih sepenuhnya. Dia bisa tertawa-tawa dan terkagum-kagum melihat betapa kecilnya pemandangan di bawah sana.

Sugoooiii!” serunya menatap lalu lalang di bawah layaknya mainan saja.

“Baguslah kau sudah tidak sedih lagi,” kata Hokuto.

Airin menatapnya, “Arigatou, Hoku-nii, ngomong-ngomong… kau dan Mizutani-san….”

Hokuto melirik Airin, menimbang-nimbang apakah sebaiknya bohong atau jujur saja, “Uhmm.. kami hanya teman. Ruika dan aku punya banyak kesamaan,” termasuk pengalaman ditinggalkan oleh ibu kami, harus berjuang demi kehidupan kami, tambah Hokuto dalam hati.

“Jadi aku masih punya kesempatan ya!” Airin berbalik dan berjalan meninggalkan Hokuto untuk melihat ke sudut lain.

“Kau harus menyerah, Ai-chan, ini janjiku untuk kencan denganmu dan setelah ini, kau harus menyerah. Lanjutkan hidupmu dengan baik, aku akan senang jika kau begitu,”

Airin menatap Hokuto, “Baiklah, aku minta satu hal lagi,” belum sempat Hokuto menjawab, Airin menarik kerah kaos hitam yang dikenakan Hokuto, sehingga wajah mereka kini sejajar, sedetik kemudian Airin memejamkan matanya, menyentuhkan bibirnya dengan bibir Hokuto. Dalam keadaan shock, tubuh Hokuto seakan mematung, ia bisa merasakan bibir Airin yang lembut dan sejujurnya saja ia tidak sabar untuk merasakan lebih, tapi kesadarannya kembali lalu dengan lembut Hokuto mendorong bahu Airin.

“Ai-chan…”

“Kau tidak membenci ciumanku! Aku masih punya kesempatan!” Airin tersenyum dan kembali mencari spot lainnya, “Foto bareng, yuk!”

Hokuto masih terdiam, menatap Airin dengan pandangan tak percaya.

***

Mulai hari ini tidak boleh ada ponsel, tidak ada internet dan bahkan tidak boleh keluar tanpa seijin Ayah. Semuanya gara-gara Aika meminta Ayah membatalkan pertunangannya dengan Jesse. Di hadapan keluarga Lewis. Aika termenung di kasurnya, menatap langit-langit kamar yang seakan-akan mengejeknya, “Bodoh! Kau mempermalukan Ayahmu sendiri! Beruntung keluarga Lewis tidak menganggapmu serius dan Ibumu masih bisa menenangkan kericuhan semalam! Dasar Aika bodoh!”

Makan malam yang luar biasa dan ricuh.

“Ayah aku tidak mau bertunangan dengan Jesse,” ternyata adalah pemicu kemarahan keluarga Lewis. Saat itulah Ayah menyuruh Aika diantar pulang, tapi beberapa jam kemudian Aika mendengar kabar dari Yasui-kun kalau Ayah dan Ibu berhasil meyakinkan keluarga Lewis bahwa Aika hanya bercanda saja.

“Yasui-kun,” Aika membuka pintu kamarnya, Yasui Kentaro, sekretaris kepercayaan Ayahnya sedang membaca sebuah buku di depan pintu kamar Aika di atas sebuah kursi. Yasui memang ditugaskan untuk mengawasi Aika dua puluh empat jam, bergantian dengan pelayan yang lain.

“Ya, Ai-chan?”

“Aku bosan,” Aika manyun dan duduk di sebelah Yasui, “Belum boleh keluar, ya?”

Yasui menggeleng, “Selama belum ada instruksi dari Kazuya-san, aku tidak bisa membiarkanmu keluar dari rumah,”

“Kalau pinjam ponselmu, bagaimana?” Aika menyunggingkan senyuman terbaiknya, semoga dengan begitu Yasui mau membantunya.

“Menghubungi Juri-kun?”

Aika mengangguk, “Tau dari Ayah?”

“Aku yang ditugaskan untuk mencari tau soal Tanaka Juri sebenarnya, ada beberapa hal yang bahkan aku sembunyikan dari Kazuya-san,” kata Yasui.

“Hah? Maksudnya?”

“Misalnya seperti ciumanmu dengan Juri-kun tempo hari,”

Aika otomatis memukul lengan Yasui, ‘Yasui-kun!! Bagaimana…”

“Ahahaha tebakanku benar! Hubungan kalian sudah sejauh itu!”

Merasa tercurangi Aika memilih untuk bungkam, Yasui menyodorkan ponselnya, “Jangan lama-lama, nomor Juri juga ada di sana,”

“AAAA Aku sayang Yasui-kun!!” bagi Aika, Yasui sudah seperti kakaknya sendiri. Mereka tumbuh bersama dan tinggal di rumah itu sejak kecil. Aika masuk ke kamar, mencari nama Juri dan menemukannya dengan cukup cepat. Nada sambung terdengar agak lama hingga Aika mendengar suara Juri di sambungan telepon itu.

Moshi-moshi?

“Juri-kun! Ini aku!” seru Aika, seperti mendapat bonus tahun baru saja suaranya melengking karena senang.

“Aika…” entah kenapa suara Juri malah terdengar sedih.

Gomen. Ponselku di sita Ayah jadi ini aku menelepon dari ponsel milik Yasui-kun, maksudku, dari ponsel sekretaris Ayah!” seru Aika.

Keheningan seketika tercipta karena Juri tidak menjawab pernyataan Aika.

“Juri-kun?”

“Bisa kita bertemu?” suara Juri lebih serius dari biasanya.

“Tapi Juri-kun, aku tidak bisa kemana-mana tanpa didampingi supir dan dengan izin Ayah,” kata Aika.

“Kalau begitu dengar baik-baik…” ada pause yang agak lama dan Aika mendengar suara Juri berdehem pelan, “kurasa sudah sebaiknya kita tidak usah bertemu lagi,”

***

To Be Continue

Advertisements

7 thoughts on “[Multichapter]Little Things Called Love (#10)

  1. kyomochii39

    NOOOO!!! jangan buat aika-juri berpisah, kak din!!! (╥ω╥`)
    kenapa oh kenapa? Aku gak relaaaa (ó﹏ò。)

    btw, ga cuma aika yg sayang Yasui-kun! semua sayang yasui-kun kok (•ө•)♡

    hore!!! aku senang buat kemajuan hubungan shin-sona sama hoku-ai ε=(。♡ˇд ˇ♡。) keep happy ya kalian!!! mmummummu (•ө•)

    yuaaa!! yuaaaa!!! sebagai si empunya OC, aku paham betul perasaanmu nak!!! yang sabar ya kou-chan!! *pukpuk*

    YAY!! TAIGA-HAZUKI HONEYMOON KE PARIS!!! NC-SCENE EXCEED YA KAK!! /digampar rame2/

    JESSE – RUIKA GA ADA CERITA YANG SPESIAL (σ^▽^)σ

    *entah kenapa untuk dua komen terakhir aku mengetiknya dengan penuh semangat (笑)

    Reply
  2. Kiriechan

    Comment disini ya kak diiiin
    Hahaha
    1. Hokuto duduk di depan hokuto? 😂
    2. Taiga masang chip di otak hazuki ya sampe tau hazuki mau kemana aja naik apa duduk dimana. Sasuga taigaaa makin cinta deh mumumuuu 😍
    3. Yua yugo nya kak, aku bacanya sedih masak 😦
    4. Hokuto jahat, tp lucu, suka kalo hoku jadi yang jahat huahahahaa
    5. Juri muncul gitu doang? Kasian jureee sini aku pukpuk deh😂
    6. Aku salah fokus sama yasui, bayangin si aika tingginya seberapa terus klo sama yasui perbandingannya seberapa haha maaaf kak 😂
    7. Ditunggu part selanjutnya kak diiin
    😘😘😘😘

    Reply
  3. magentaclover

    HATIKU POTEKKK 😂 JURI JAHAT! AIKA SEDIH 😂 KENAPA OH KENAPAAAAAAA????? 😢😢😢 *baper maksimal*
    Aika sayang yasui, plise bantuin aika sama juri! Itu jesse bisa ga sih dilelepin aja –” ruika jg bahagia kok tanpa jesse….

    Aku suka pas shin sama sona duhhh kisu di kamar ya kalian itu aku js ikut degdegan gitu xD mana airin jg kisu kisuan sm hoku wkwk ttp suka airin di sini pantang menyerah walau udah remuk tu hati gara2 lelaki macem hokuto 😧

    Terus taiga sm hazuki mau ke paris? Aika ikut boleh ga? Aika jg mau melarikan diri aja kalo ga bisa sama juri 😂 aika ga gangguin taiga hazuki bulan madu kok wkwkwk selamat ya kalian (?)

    Buat kou sama yua semoga kalian memilih hubungan yg terbaik 😂 aku dipihak kalian pacaran aja deh ya capek sahabatan tapi baper? *eh

    Terus ruika kok dia ga pernah ketemu jes sih?kasian jes udah harus ditampar ruika 😁 sekiannnn

    Reply
  4. elsaindahmustika

    aku sukaaaaaa taiga hazuki!!! good job taiga! semangat ya semoga hazuki gak nolak lagi wkwk

    huaaaaa sona shinnnnnn kisu maygat maygat aku deg2an(?) tembak aku shinnn!!!! #oi
    airin juga sama hokunii haha hokunii dibikin bingung harus gimana, airinnya agresif juga sih xD

    kouchi yuaaa aaaaaa aku sedih sumpah bacanya! pengen nangis huhu mereka jadian plissssss

    mending jess mikir deh buruan, hidup mentingin karir tapi kalo gak dicintai buat apa? eaeaeaaaa(?)

    and last jureeeee, WHYYYY!!!! ih kamu tega sama aika-neechan!! *nee-chan?* cinta kamu segitu aja? ah plis deh masa udah kalah-_- kak din pokoknya mereka jangan pisahhhhhh😂😂

    Reply
  5. sparklingstar48

    Aaaa kakak jleb lah bagian airin kenapa hoku jahat bgt 😦
    Suka part yugo-yua , sona-shin xD
    Aika jgn pisah sm juri dong..
    Yasui-kun fav :3
    Ganbatte kakak:3 kita tunggu part berikutnya #plak

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s