[Oneshot] PiNKY_she_SWeAR

Title: PiNKY_she_SWeAR
Cast: Yamada Ryosuke (Hey! Say! JUMP)
Chinen Yuri (Hey! Say! JUMP)
Yabu Kota (Hey! Say! JUMP)
Inoo Kei (Hey! Say! JUMP)
Yukimura Hikari (OC)
Yukimura Yurina (OC)
Author: Shiina Hikari
Rating: PG-16
Genre: Family, Romance, Friendship
Fanfic ini terinspirasi dari lagu PiNKY_she_SweAR by UNiTE. dan untuk insert song yang ada di dalam cerita adalah lagu Hajimari no Merodi by Hey! Say! JUMP. Fanfic ini khusus dibuat untuk memperingati 6 tahun persahabatan kami. Semoga kalian dan Yuri-chan suka. Silahkan tinggalkan komentar.

***

“Ricchan!!! Matte yo!!!” panggil seorang anak laki-laki berpipi chubby.

“Mou!!! Kalian berdua lama sekali sih!” omel seorang gadis kecil.

“Nacchan juga cepat sekali larinya.” Ucap anak laki-laki yang lebih pendek dari mereka semua.

“Itu karena Neechan menarikku. Kalau tidak, aku tidak sanggup lari.” Jawab anak perempuan yang satunya.

“Kalau begitu yang kalah harus traktir es krim!” teriak anak yang bernama Ricchan sambil mulai berlari.

***

“Mou dame da!!” teriak kedua anak laki-laki itu.

Mereka kalah cepat dengan kedua gadis itu dan sebagai hukuman mereka pun terpaksa membelikan kedua gadis itu es krim. Kedua gadis itu memakan es krimnya dengan rasa bangga.

“Yappari ichigo wa saikou!!!!” teriak Ricchan.

“Un! Vanilla mo oishii!” jawab Nacchan.

Kedua anak laki-laki itu menatap sedih karena tidak diperbolehkan memakan es krim. Ricchan menyodorkan es krimnya kepada anak berpipi chubby itu.

“Ini!”

Anak berpipi chubby itu menatap es krim itu dengan mata yang berbinar-binar.

“Huh! Jangan salah sangka ya! Aku memberikannya karena aku merasa tidak enak padamu! Kau suka strawberry kan?” ucap gadis itu sambil memalingkan muka.

“Un! Doumo arigatou.” Ucap anak berpipi chubby itu sambil tersenyum.

Ricchan yang tertegun melihat senyum anak itu tidak bisa berkata apa-apa dan hanya memalingkan wajahnya. Nacchan yang melihat kakaknya yang sedang berbagi es krim dengan anak berpipi chubby itu, langsung menyodorkan es krimnya kepada anak yang satunya.

“Ta-Taberu?” tawar Nacchan dengan ragu-ragu.

“Arigatou! Oshii yo!” ucap anak pendek itu sambil tersenyum manis.

Seketika wajah Nacchan jadi memerah karena senyuman itu.

Mereka berempat duduk dipinggir pantai sambil memandang matahari terbenam. Ricchan menatap kearah matahari itu dengan sedih.

“Besok kami akan pindah.” Ucap Ricchan dengan singkat.

Kedua anak laki-laki itu terkejut, sementara Nacchan hanya diam sambil tertunduk.

“KENAPA BARU BILANG SEKARANG????” tanya anak bertubuh pendek itu.

“Apa bedanya aku katakan kemarin atau sekarang? Tetap saja kami akan pindah.”

“Ricchan…” panggil anak berpipi chubby itu.

“Apa?”

“Aku pikir kita berempat bisa terus bersama.”

Ricchan hanya diam, sedangkan Nacchan mulai menangis.

“Mau bagaimana lagi? Kami mana bisa membantah orang tua kami.”

“PINKY SWEAR!” teriak Nacchan.

Mereka bertiga langsung menatap kearah gadis itu.

“Ayo berjanji. Dengan janji pinky, kita pasti akan bertemu kembali!” jelas Nacchan.

“Maa… Aku tidak terlalu paham yang begituan, tapi ayo lakukan. Bagaimana caranya?” ucap Ricchan sambil menggaruk-garuk kepalanya.

“Kita harus mengucapkan “Pinky, pinky bow-bell, Whoever tells a lie. Will sink down to the bad place. And never rise up again” sambil mengaitkan jari kelingking kita.” jelas Nacchan.

“Ah! Sepertinya aku tahu! Siapapun yang mengingkari janji ini, jarinya akan putus.” tambah Ricchan.

“Neechan! Jangan katakan itu! Aku juga tahu soal itu.” teriak Nacchan.

“Nah… Kenapa tidak katakan saja?” tanya Ricchan.

“Karena seram.” jawab Nacchan sambil ketakutan.

“Dou? Masih mau melakukannya?” tanya Ricchan kepada kedua anak laki-laki itu.

Mereka berdua terlihat takut tapi mereka tetap memberanikan diri.

“Baik! Ayo lakukan!” ucap anak berpipi chubby itu.

“Pinky, pinky bow-bell,
Whoever tells a lie
Will sink down to the bad place
And never rise up again” ucap mereka berempat.

“Kami berjanji saat bertemu kembali, kami akan saling menyukai.” tambah anak laki-laki yang bertubuh pendek.

“EEEEHHH???” ucap kedua gadis itu.

“Hey! Tarik kembali ucapanmu!” ucap Ricchan dengan marah.

“Neechan, kalau wishnya sudah disebutkan tidak bisa ditarik kembali.” jelas Nacchan.

“Ya sudahlah. Yosh! Kalau kau tidak menepati janji itu, aku kutuk kau menjadi pria chubby bertubuh pendek dan gemuk! Seandainya kamu tidak gemuk, kamu akan dibilang orang terberat yang pernah temanmu kenal.” ucap Ricchan kepada anak berpipi chubby itu.

“HAAA??? MANA BISA BEGITU!!!” teriak anak berpipi chubby itu.

Ricchan pun berlari meninggalkan mereka.

“A-Aku… Aku juga mengutukmu menjadi pendek! Pokoknya sangat pendek! Bahkan lebih pendek dari Neechan!” teriak Nacchan kepada anak pendek itu kemudian berlari menyusul kakaknya.

***

10 tahun kemudian…

Seorang gadis duduk di depan pianonya sambil memegang kertas yang berisi not-not yang ia tulis. Gadis itu tengah berpikir keras. Dia bingung dengan lanjutan nada yang harus dia tulis.

“Bagaimana kalau begini?” tanya seorang pria sambil menulis beberapa not di kertas gadis itu.

“Mou! Ryo-kun! Jangan ganggu aku! Aku harus menyelesaikan lagu ini sebelum lusa.” Ucap gadis itu sambil menarik kembali kertasnya.

“Coba dimainkan dulu.”

Gadis itu pun mencoba memainkan not yang sudah ia tulis di kertas itu ditambah not yang pria itu tulis.

“Sugoi! Benar-benar sempurna! Arigatou Ryo-kun!” ucap gadis itu dengan senang.

“Ricchan harus menulis namaku sebagai komposernya.” jawab pria itu sambil tersenyum.

“Iiihh… Cuma bantu nulis 2 baris saja sudah minta ditulis namanya.” ucap Hikari dengan nada mengejek.

“Bercanda. Lagipula meskipun kamu menulisnya, namaku tetap tidak akan dimasukkan.

Pria itu adalah Yamada Ryosuke. Dia adalah salah satu member grup Hey! Say! JUMP. Sementara gadis itu adalah Yukimura Hikari. Dia adalah komposer lagu grup Hey! Say! JUMP. Hikari sudah bekerja selama dua tahun di Johnny’s Entertainment. Selain membuat lagu untuk grup band Yamada, terkadang Hikari juga membuat lagu untuk grup yang tergabung di Johnny’s Entertainment.

“Demo, arigatou ne? Aku jadi bisa menyerahkan lagunya dari awal.”

“Jangan arigatou saja. Temani aku hari Minggu ini.” ucap Yamada.

“Mana bisa aku keluar dengan Yamada Ryosuke yang sangat terkenal ini. Bisa-bisa nanti ada skandal.” Tolak Hikari.

“Siapa bilang kita akan pergi keluar? Kita akan main di rumahku.” Jawab Yamada sambil tersenyum senang.

“Eh?”

***

Sembilan orang pria keluar dari ruang latihan menuju ruang ganti. Kesembilan orang itu adalah member Hey! Say! JUMP. Di ruang ganti itu tidak hanya digunakan untuk berganti pakaian saja. Tapi di ruang itu juga digunakan sebagai ruang make up dan ruang mengukur baju. Seorang designer baju Hey! Say! JUMP sedang berdiri menunggu kesembilan member itu datang ke ruang ganti untuk pengukuran ulang single terbaru mereka. Satu per satu member masuk ke ruang itu dan diukur badannya sementara yang lainnya menunggu diluar sambil sibuk memainkan keitai mereka masing-masing.

“Hai. Dekimashita.” Ucap designer tersebut.

Semua member pun langsung meninggalkan designer mereka menuju ruang latihan kecuali satu orang.

“Nee… Yurina-sama… Aku belum diukur badannya.” Keluh salah satu member yang bertubuh paling pendek dari member lainnya.

“Yuri-kun tidak perlu diukur. Lagipula ukuran tubuh Yuri-kun sama sekali tidak berubah.” Jawab Yuri sambil mencoba mengkur tubuh pria itu secara sekilas.

Pria pendek itu adalah Chinen Yuri. Dia member yang paling pendek dan paling imut di Hey! Say! JUMP. Sedangkan gadis itu adalah designer Hey! Say! JUMP, namanya Yukimura Yurina atau yang biasa disapa Yuri.

“Yuri-chan… Ayo ukur aku juga.” Rengek Chinen.

Yuri pun terpaksa mengukur tubuh Chinen.

“Tuh kan! Tidak ada yang berubah.” Ucap Yuri sambil berusaha berdiri.

Yuri yang tadinya mengukur pinggang Chinen tiba-tiba matanya berpapasan dengan mata Chinen yang tadinya ingin melihat ke bawah karena ingin berbicara dengan Yuri. Mereka terdiam sejenak dan fokus pada pikiran masing-masing.

“Oy Chii! Kita mau latihan!” teriak Yamada dari luar.

Seketika Yuri dan Chinen langsung menjauh.

“Hai! Aku akan segera kesana!” jawab Chinen.

Yuri mengambil buku catatannya dan mencatat ukuran tubuh Chinen untuk menghindari tatapan Chinen.

“Yuri-chan!” panggil Chinen.

Yuri yang fokus pada buku catatannya seketika langsung menoleh.

“Hari Minggu, kita jalan yuk! Aku tunggu di taman dekat rumahmu. Harus datang ya?” ucap Chinen sambil berlalu.

***

Hikari berjalan menuju sebuah gedung apartemen yang cukup bagus. Apartemen itu bukan apartemen mewah, tetapi apartemen itu punya sebuah lift karena terdiri dari 10 lantai. Hikari memasuki lift dan menekan angka 7 di tombol lift itu. Tidak sampai dua menit, dia sudah sampai di lantai 7. Hikari mengambil kunci apartemennya. Saat Hikari membuka pintu apartemennya, Hikari mencium bau makanan gosong. Hikari pun segera berlari masuk ke dalam apartemennya. Hikari melihat ada seorang gadis yang berdiri membelakanginya sambil memegang kue yang gosong.

“Neechan…” ucap gadis itu sambil menangis.

“Kamu kenapa?” tanya Hikari dengan panik.

“Kuenya gosong.”

Hikari menghela nafasnya.

“Kan sudah neechan bilang. Kalau mau kue, biar neechan yang buat.”

Gadis itu memeluk Hikari sambil menangis.

“Ha-Habisnya… Yuri-kun… mengajakku jalan. Aku kan ingin buat kue spesial untuk dia.”

“Kapan kalian pergi?”

“Hari Minggu.”

“Akan neechan buatkan hari Sabtu nanti.”

Hikari berusaha menenangkan gadis itu. Dan tak lama setelah itu, gadis itu berhenti menangis.

“Neechan bawakan pizza. Pizza Hut loh! Pizza Hut! Pizza Hut yang Yui makan kemarin!!!” ucap Hikari dengan antusias.

“Hai, hai. Neechan sekarang benar-benar menggilai band v-kei. Padahal dulu Neechan tidak suka.”

“Itu karena Yuri membagikan virus band v-kei. Jadinya keterusan.”

Yukimura Hikari, dia tinggal satu kamar dengan adiknya Yukimura Yurina. Mereka berdua adalah saudara kembar. Mereka sudah dua tahun tinggal di Tokyo. Dulu mereka melamar di perusahaan yang sama, di perusahaan yang Entertaiment ternama di Jepang, Johnny’s Entertaiment. Dulu Yuri bekerja sebagai designer grup Arashi, tapi sejak designer Hey! Say! JUMP mengundurkan diri, Yuri mengajukan diri untuk menjadi designer mereka dan diterima. Berbeda dengan Hikari, sejak dulu memang bekerja untuk Hey! Say! JUMP, tapi belakangan ini, dia banyak tawaran untuk mengerjakan lagu gup lain sembari mengisi kekosongan saat Hey! Say! JUMP sedang mengadakan tour.

Meskipun Hikari dan Yuri sama-sama bekerja untuk Hey! Say! JUMP, mereka belum pernah saling bertemu saat di tempat kerja karena lokasi kerja mereka yang berbeda. Karena itu tidak ada yang tahu jika mereka berdua adalah saudara kembar.

“Nee Yuri, jadi bagaimana hubunganmu dengan Chii-kun?” tanya Hikari.

“Kami berteman dekat. Tapi…” Ucap Yuri dengan sedih.

“Morikawa-san ya?” tanya Hikari dengan singkat.

Yuri hanya mengangguk sedih.

“Maa! Biarkan saja. Yang penting kamu harus menikmati kencanmu hari Minggu nanti.” Ucap Hikari sambil menyemangati.

“Neechan sendiri juga bagaimana?” tanya Yuri.

Hikari tersenyum kearah Yuri.

“Apanya yang bagaimana? Tentu saja kami berteman baik.”

“Nishiuchi-san…”

“Sudahlah. Aku juga tidak mengharapkan apa-apa. Baginya, aku ini hanya teman untuk bercerita.” Potong Hikari.

“Neechan…”

“Jaa! Oyasumi!” ucap Hikari sambil berlari masuk ke kamarnya.

***

Yuri duduk di tempat tidurnya sambil memandang langit malam. Yuri mengingat saat-saat mereka masih kecil sampai saat mereka berdua sudah dewasa. Sejak kecil mereka selalu melakukan semua hal bersama-sama. Bermain bersama, belajar bersama, bekerja bersama, dan juga jatuh cinta bersama. Untung saja mereka tidak pernah jatuh cinta dengan orang yang sama. Yuri menghela nafasnya dan menatap langit-langit kamarnya.

“Yu-chan…”

***

“Nona designer, ada waktu tidak?” tanya seorang pria yang suaranya berasal dari depan pintu ruang kerja Yuri.

“Kei?”

Yuri berlari kearah Inoo Kei sambil tersenyum. Yuri dan Kei sudah sangat lama berteman. Mereka berteman sejak Yuri SMP dan tanpa sengaja mereka bertemu kembali saat Yuri menjadi designer Hey! Say! JUMP.

“Hari ini kamu murung sekali.” Ucap Kei sambil mengusap pelan kepala gadis itu.

“Aku hanya kelelahan karena mengerjakan pakaian kalian.” Jawab Yuri sambil mengusap pelan matanya.

“Bohong! Super bohong! Di dahimu tertulis kalau kamu sedang memikirkan betapa dekatnya Morikawa Aoi-san dan Chinen Yuri-kun.” Ucap Kei sambil menyentil dahi Yuri.

“Itai! Iya-iya! Kau benar!” ucap Yuri sambil terus mengusap dahinya.

“Semuanya tidak seperti yang kamu pikirkan kok.” Ucap Kei.

“Apa maksudnya?” tanya Yuri.

“Sudah ya? Aku haus latihan dulu. Kita ketemu lagi saat makan siang.” Ucap Kei sambil berlalu.

***

Kimi ga suki…

Haru no owari ni hana ga chiru you ni
Natsu no owari ni tori ga Yuki you ni
Aki no owari ni kare ha ga mau you ni
Fuyu no owari ni haru wo negau you ni

Nani ka ga owari, soshite hajimaru
Subete no koto ni kitto imi ga aru
Kimi no subete mamoritai
Hagurenai you ni sono te wo tsuyoku nigiru yo

Dentingan piano itu berhenti seiring dengan habisnya lagu yang dimainkan.

“Kirei no koe.” ucap seorang pria tinggi sambil bertepuk tangan.

“Yabu-kun?”

Pria yang dipanggil Yabu itu masuk dengan wajah marah dan mulai mencubit pipi pianis itu.

“Apa? Yabu-kun? Sejak kapan kamu mulai memanggilku begitu Hikari-chan???”

“Su~mi~ma~sen..”

Pria itu melepaskan pipi gadis itu.

“Habisnya aneh kalau memanggilmu Kou-chan. Sekarang kamu kan leader Hey! Say! JUMP, Yabu Kota. Bukan sebagai Yabu Kota yang merupakan teman kecil Yukimura Hikari.”

“APA??? Apa mulut ini ya yang bicara?” tanya Yabu dengan geram sambil mencubit pipi Hikari.

“Itai yo~”

Yabu melepaskan kembali pipi Hikari. Hikari masih terus mengelus pipinya yang mulai memerah. Yabu tersenyum dan duduk di kursi Hikari dan menyandarkan kepalanya pada bahu Hikari. Yabu dan Hikari sudah lama sekali berteman. Mereka berteman sejak Hikari duduk di bangku sekolah dasar. Semua orang mengenal Yabu sebagai seorang yang ceria dan mempunyai jiwa pemimpin. Tapi disisi lain Yabu adalah sosok yang sangat manja. Hanya saja, tidak ada member yang bisa memanjakannya karena dia selalu dianggap kakak tertua.

“Nee… Hari ini kita pergi ke Akiba yuk!” ajak Yabu.

Usia mereka terpaut jauh. Tapi sifat Yabu yang gampang akrab dengan siapa saja membuat Hikari tidak pernah canggung kepadanya. Mereka punya hubungan spesial seperti Yuri dan Kei. Meskipun mereka tidak berpacaran, tapi mereka saling mengerti satu sama lain. Mereka bertahan dalam status teman agar hubungan baik ini terus terjalin.

“Kou-chan tidak latihan hari ini?”

“Hari ini setelah jam makan siang, kami sudah boleh pulang. Tapi sebelumnya kita makan siang dulu. Ada maid cafe baru di Akiba! Ayo kita kesana!”

Hikari hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Yabu yang begitu antusias.

“Pipinya masih sakit?” tanya Yabu.

“Hm sedikit.”

Sebuah ciuman mendarat di pipi Hikari.

“Sekarang ayo berangkat!”

Hikari terkejut sampai tidak bisa berkata-kata. Terlihat jelas sekali kalau wajah gadis itu memerah.

“Eeeh?”

***

Yuri dan Kei berjalan memasuki sebuah restoran tradisional yang tidak terlalu jauh dari tempat kerja mereka. Yuri duduk sambil melihat-lihat isi dari daftar menu yang terletak di meja pelanggan.

“Yakiniku!” ucap Yuri.

“Itu makanan berat.” jawab Kei.

“Tapi aku sudah seminggu tidak makan daging.” rengek Yuri.

“Hah… Iya. Kita pesan dua Yakiniku. Kamu ini makannya banyak sekali.”

“Jangan salah ya? Perempuan langsing itu nafsu makannya lebih banyak dari perempuan gemuk.” jelas Yuri.

“Iya-iya.”

Kei memesan makanan dan minuman mereka. Tidak sampai 3 menit, minuman yang mereka pesan pun datang. Yuri mengaduk jusnya sambil melamun sedangkan Kei hanya tersenyum sambil memandang temannya itu.

“Kei-kun!” panggil seseorang dibelakang mereka.

Kei langsung menoleh kearah suara itu. Kei terkejut karena yang memanggilnya adalah Chinen Yuri. Dan bukan itu saja. Chinen datang bersama perempuan yang tidak asing bagi Kei. Itu adalah Morikawa Aoi.

“Kalian juga makan disini ya?” tanya Kei.

Morikawa sedikit menunduk untuk mengucapkan salam kepada Kei.

“Yuri-chan!” ucap Chinen sambil memeluk Yuri.

Sontak Kei dan Yuri kaget melihat Chinen memeluk Yuri. Yuri agak menjauh dari Chinen dan terkesan melepaskan pelukan Chinen.

“Ah! Aoi-chan, ini designer kami, Yukimura Yurina.” ucap Chinen kepada Morikawa Aoi.

“Salam kenal. Namaku Morikawa Aoi.”

Yuri menyambut salam dari Morikawa dengan ragu-ragu.

“Yukimura Yurina desu.”

“Yuri-chan, jangan lupa hari Minggu nanti ya?” ucap Chinen sembari meninggalkan Yuri dan Kei.

Yuri hanya terdiam sambil menunduk.

“Kita bawa pulang saja ya?” ucap Kei.

“Eh?”

“Yuri-chan pasti sedang tidak enak hati. Kita makannya di rumahmu saja.” tambah Kei.

***

Yuri berjalan dengan linglung kearah rumahnya. Tentu saja Kei ikut. Dia tidak ingin Yuri kenapa-kenapa karena kejadian tadi. Tidak berselang lama, mereka sampai di rumah Yuri.

***

Yuri menaruh dua buah piring diatas meja makannya. Kei yang sejak tadi sudah lapar, langsung menyantap makanannya Dengan lahap, sedangkan Yuri memakan makanannya dengan perlahan.

“Makan yang banyak.” kata Kei.

Seketika Yuri menoleh kearah Kei.

“Setelah itu, kamu bisa ceritakan semuanya.” ucap Kei sambil tersenyum.

***

Kei masuk ke kamar Hikari bersama Yuri. Mereka masuk ke kamar kakak Yuri bukan tanpa tujuan. Kei melihat sebuah piano cantik terletak di depan tempat tidur Hikari. Kei mengusap piano itu dengan lembut. Kei membuka tutup piano yang menutupi tuts-tuts piano itu. Kei duduk di depan piano itu dan mulai memainkan beberapa nada. Kei memainkan sebuah lagu yang sangat sedih sehingga membuat Yuri menangis. Kei pun menghentikan permainannya.

“Sudah. Keluarkan saja semuanya.” ucap Kei sambil memeluk Yuri.

***

Yabu berjalan menyusuri jalan di Akiba sambil terus menggenggam tangan Hikari. Seperti yang Yabu katakan, Yabu membawanya ke sebuah maid cafe yang baru buka di daerah itu.

“Aku pesan omurice!” ucap Yabu.

“Aku yang ini saja.” ucap Hikari sambil menunjuk salah satu es krim.

“Eh?? Hikari-chan tidak makan? Diet ya?” tanya Yabu.

“Heh! Badan kita itu sama-sama tidak bisa gemuk! Jadi aku tidak perlu diet. Lagipula tadi aku sudah makan siang.”

“Kenapa tidak ajak aku?” rengek Yabu.

Hikari pun meraih pipi Yabu dan mulai mencubit pipinya.

“Makananku cuma sedikit. Mana cukup kalau dibagi dengan Kou-chan yang makannya banyak.” ucap Hikari sambil tertawa.

Hikari pun melepaskan pipi Yabu. Tidak berselang lama, pesanan mereka datang. Yabu memakan makanannya dengan lahap sementara Hikari memakan es krimnya sambil tersenyum melihat cara Yabu makan.

***

“Nee, selanjutnya kita kesana yuk! Aku mau membeli game.” ajak Yabu.

Hikari masuk ke dalam toko itu bersama Yabu. Yabu langsung berlari menuju rak game petualangan. Sementara Hikari memutari tempat itu secara acak. Hikari mengambil salah satu game yang membuatnya tertarik.

“Sudah dapat?” tanya Hikari kepada Yabu.

“Iya. Aku pilih yang ini saja. Hikari-chan cuma beli satu?”

“Aku mau coba dulu. Lagipula aku tidak terlalu suka bermain game.”

Hikari dan Yabu membayar game yang mereka beli. Yabu terlihat sangat semangat. Yabu berlari menuju toko selanjutnya sambil menarik tangan Hikari.

BRUKK!!!

Tanpa sengaja Yabu menabrak seseorang pria yang lebih pendek darinya.

“Sumi~”

“Yabu-kun?” sahut orang yang Yabu tabrak.

“Yama-chan? Nishiuchi-san?”

Orang yang Yabu tabrak adalah Yamada Ryosuke. Dia sedang berjalan-jalan dengan Nishiuchi Mariya. Hikari tersenyum dan menunduk kearah mereka berdua.

“Oy! Bagaimana kamu bisa bersama Hikari-chan?” tanya Yamada.

“Aku belum bilang ya? Aku dan Hikari-chan kan teman kecil.” ucap Yabu sambil tersenyum.

“Yamada-san tidak apa-apa?” tanya Hikari.

“Aku baik-baik saja. Ngomong-ngomong…”

“Yokatta ne. Jyaa matta ne.” potong Hikari sambil mengajak Yabu pergi dari sana.

“Hikari-chan jangan lupa hari Minggu nanti.” teriak Yamada.

Hikari hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh sedikitpun kepada Yamada. Hikari terus berjalan sambil menarik tangan Yabu.

“Hikari-chan?” tegur Yabu.

“Gomennasai Kou-chan. Aku ingin cepat-cepat mencari komik.” ucap Hikari sambil tersenyum kepada Yabu.

Yabu menatap nanar kearah Hikari.

“Kita ke pantai yuk!” ajak Yabu.

***

Yabu mengajak Hikari ke sebuah pantai yang tidak jauh dari Tokyo. Hikari duduk di atas pasir pantai itu. Hikari mengambil nafas panjang. Hikari menutup matanya dan merasakan hembusan angin yang menerpa dirinya.

“Kenapa tidak menangis? Jelas-jelas kalau kamu sedih.” tanya Yabu.

Hikari hanya diam. Dia masih menutup matanya. Perlahan-lahan kenangan buruk yang terjadi padanya terlintas dibenaknya. Hikari membuka matanya kemudian tersenyum.

“Aku tidak apa-apa.”

***

Yabu merebahkan dirinya di sofa. Yabu menekan salah satu tombol di keitainya. Setelah selesai menelpon, Yabu memandang bosan kearah televisi yang ada dihadapannya. Yabu terdiam tanpa memperhatikan channel televisinya. Yabu berbaring di sofa dan mulai tertidur.

***

“Neechan okaeri.”

“Tadaima!”

“Aku sudah membuat makan malam.”

Hikari tersenyum dan langsung menghampiri meja makan dan makan bersama Yuri.

Hikari memakan makanannya dengan cepat. Tiba-tiba saat dia makan, keitainya berbunyi. Hikari mengangkat keitainya dan mendengarkan dengan seksama perkataan si penelepon. Hikari langsung terperanjat dari tempat duduknya dan segera berlari ke kamar.

“Yuri-chan, neechan harus pergi sekarang. Makanannya taruh saja di kulkas.”

“Mau kemana?”

“Mau menemui Kou-chan.”

“Mau ketemu Yabu-kun kok bawa pedang kayu untuk latihan Kendo?”

“Siapa tahu dia dalam kesulitan. Jyaa! Eh? Salah! Ittekimasu!”

“Hai. Itterassai!”

***

Yuri melanjutkan makan malamnya sambil memutar channel televisinya.

“Moshi-moshi.”

“Ha? Kei-chan sakit??? Di apartemen? Iya aku segera kesana!”

***

Hikari sampai di depan pintu apartemen Yabu. Hikari menekan bel yang terletak di samping pintu.

“Neechan!”

Hikari segera menoleh kearah orang yang memanggilnya.

“Kei-chan…”

Belum selesai Yuri bicara, pintu apartemen Yabu pun terbuka. Saat Hikari dan Yuri masuk, mereka melihat Kei dan Yabu baik-baik saja.

“Oh? Kalian datangnya cepat sekali.” sapa Yabu.

“Sebenarnya ada apa ini?” tanya Yuri.

“Tidak ada apa-apa. Kami cuma kesepian.” jawab Yabu dengan santai.

“YABU KOTA! BERANINYA KAU MENIPUKU! SEKARANG SEBAIKNYA KAU BERSIAP UNTUK HUKUMANMU!”

Hikari mengarah pedang yang dia bawa tadi kepada Yabu.

*skip adegan kekerasan* XD

“Kan sudah neechan bilang kalau ini berguna.”

Hikari menyimpan pedangnya di dalam tasnya, sementara Yuri gemetaran ketakutan melihat Yabu dan Kei yang baru saja Hikari beri pelajaran.

“Hikari, pukulanmu lebih keras dari yang aku ingat.” ucap Yabu yang masih terkapar di lantai.

“Kami melakukannya agar kalian yang sedang patah hati tidak sedih.” tambah Kei.

“Aku tidak patah hati!” elak Hikari.

Yuri hanya diam sambil menunduk. Kei menghampiri Yuri dan mengusap kepalanya.

“Hari Minggu nanti kalian ada kencan kan?” tanya Kei.

Yuri mengangguk. Sedangkan Hikari memalingkan wajahnya.

“Dari mana kalian tahu?” tanya Hikari.

“Kami itu temannya, mana mungkin tidak tahu.” jawab Yabu.

“Kalian harus tampil cantik nanti.” ucap Kei.

“Yang kencan itu Yuri-chan. Aku tidak pergi kencan.” sangkal Hikari.

“Hai, hai. Pokoknya acaranya harus sukses.” ucap Yabu sambil mengacak-acak rambut Hikari.

***

Yuri berjalan menuju taman di dekat apartemennya. Dia segera berlari ketika melihat Chinen sudah berdiri menunggunya di taman itu.

“Go-Gomennasai! Aku tadi agak kesiangan.” Ucap Yuri sambil membungkukkan badannya.

“Tidak kok. Aku saja yang datangnya terlalu cepat.” Jawab Chinen sambil tersenyum.

***

Yuri dan Chinen berjalan menuju sebuah taman bermain. Mereka berdua sudah mencoba semua permainan yang ada disana. Dari roller coaster sampai obake pun sudah mereka coba. Mereka pun beristirahat di sebuah bangku yang agak jauh dari keramaian.

“Douzo!” ucap Yuri sambil menyodorkan kue dan makan siang yang ia bawa.

Chinen pun memakan keduanya.

“Sasuga Yuri-chan! Oishii! Makan siangnya sangat enak. Kuenya juga. Kamu yang membuatnya sendiri?” tanya Chinen.

“Makan siangnya iya. Tapi kalau kuenya bukan aku yang buat.” Jawab Yuri sambil tersenyum.

“Lalu siapa?” tanya Chinen lagi.

“Kakakku yang membuatnya.” ucap Yuri sambil tersenyum.

***

Hikari melihat Yuri dan Chinen dari kejauhan. Ia tidak pergi ke rumah Yamada karena dia memang tidak berniat untuk datang kesana.

“Mereka kelihatan akrab ya? Sepertinya mereka akan jadian.”

“Iya. Tapi masih ada Morikawa-san.” jawab Hikari.

“Jangan khawatir. Aoi-san hanya teman Chinen. Yang Chinen sukai itu Yukimura Yurina.”

“Eh? Bagaimana kau tahu?” ucap Hikari sambil berbalik kearah pria yang bicara dengannya.

“Tentu saja aku tahu. Aku kan Yamada Ryosuke, sahabat terbaik Chinen Yuri.”

“Ya-Yamada-kun? Ke-Kenapa bisa disini?” tanya Hikari dengan panik.

“Bukan Yamada, tapi Ryosuke.”

“Hah?”

“Panggil aku Ryosuke. Aku kesini karena kamu tidak datang. Yabu-kun yang memberi tahu lokasimu.”

Yamada mendekatkan dirinya kepada Hikari. Hikari hanya bisa diam dan mundur perlahan. Yamada sedikit menundukkan kepalanya agar wajahnya bisa sejajar dengan Hikari. Saat Yamada akan mendekatkan wajahnya, pergerakan Yamada terhenti dan dia fokus melihat kalung yang ada di leher Hikari.

“Kalung itu…”

Hikari yang melihat Yamada mulai lengah langsung mendorong Yamada dan berlari tanpa melihat ke belakang.

***

Yuri dan Chinen berjalan menuju sebuah pantai. Hari sudah sangat gelap. Yuri juga sudah mengirimi pesan kepada Hikari kalau dia akan pulang telat. Keadaan pantai itu gelap gulita. Hanya cahaya bulan yang menjadi satu-satunya penerangan di pantai itu. Yuri memandang kearah laut sambil menikmati hembusan angin sejuk yang menerpanya.

“Kenapa kita ke pantai?”

“Yuri-chan tidak suka pantai?”

“Bukan begitu…”

“Dulu aku selalu kesini. Kami bermain disini setiap hari. Awalnya hanya kami berdua. Tapi saat umurku 8 tahun, aku mendapatkan teman baru.”

“Morikawa-san?”

Chinen langsung menoleh kearah.

“Chigau yo! Aoi-chan dan aku baru bertemu saat kami main di drama yang sama. Sebelumnya aku tidak mengenalnya.”

Chinen menghela nafasnya sejenak.

“Mereka tinggal tepat disebelah rumahku. Mereka berdua anak kembar. Kami selalu main bersama-sama disini. Tapi setahun kemudian mereka pindah. Kami pernah berjanji disini.”

“Berjanji apa?” tanya Yuri.

“Yuri-chan tahu Pinky Swear? Kami melakukan janji yang seperti itu.”

Yuri menjawab dengan hanya mengangguk.

“Dan aku mengingkari janjiku.”

“Eh? Kenapa?”

“Karena saat itu aku pernah menyukai orang lain. Kami berjanji kalau kami akan saling menyukai. Nyatanya, aku malah suka dengan seseorang saat itu. Kamu tahu hukuman apa yang aku dapat?”

Yuri menggeleng dan Chinen pun melanjutkan ceritanya.

“Dia mengutukku menjadi pendek. Bahkan dia ingin aku lebih pendek dari kakaknya. Dan anehnya sampai sekarang aku tidak ingat nama panjangnya. Tapi kalung yang kamu pakai itu persis dengan miliknya.”

“Kalung?” tanya Yuri yang langsung melihat kearah kalungnya.

“Mereka memakai kalung yang berbeda. Satunya memakai kalung berbentuk bintang dan satunya memakai kalung berbentuk hati. Kalung mereka mempunyai ukuran khusus seperti milikmu. Mereka bilang neneknya yang membuatkannya agar mereka bisa dibedakan.”

“Lalu bagaimana kelanjutannya?”

“Aku sangat menyukai gadis yang memiliki kalung yang sama sepertimu. Selama ini aku berusaha mencarinya tapi aku tidak menemukannya, karena itu aku menjadi idol.”

“Eh?”

“Aku menjadi idol dengan harapan aku bisa menemukannya. Jika aku sering muncul di televisi, dia pasti juga melihatku. Tapi aku tetap tidak bisa menemukannya. Saat pertama aku bertemu denganmu, aku pikir kamu sangat mirip dengannya dalam segala hal. Aku pikir hanya kebetulan. Tapi begitu aku melihat kalungmu, kurasa terlalu banyak terjadi sebuah kebetulan. Dan ada satu pertanyaan yang sejak dulu ingin aku tanyakan.”

“Apa itu?”

“Apakah kamu Nacchan?” tanya Chinen.

Deg! Seketika Yuri membeku. Yuri yang tadinya tidak ingat apa-apa tiba-tiba teringat jika dari dulu satu-satunya orang yang memanggilnya begitu hanya teman kecilnya.

“Yu-chan?”

Nama itu tiba-tiba terucap dari mulutnya.

“Sudah kuduga Nacchan dari dulu tidak berubah.”

Chinen menoleh kearah Yuri dan menatap gadis itu lekat-lekat.

“Dari dulu aku sangat menyukai Nacchan. Nacchan, aku sangat menyukaimu, karena itu kembalilah kepadaku. Aku mohon, lupakan Kei-chan.”

Yuri terdiam kebingungan. Jantungnya sejak tadi sudah berdebar sangat kencang membuatnya semakin kebingungan. Tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya. Chinen yang melihat Yuri terdiam langsung meraih wajah gadis itu dan menciumnya. Dari ciuman itu Yuri bisa merasakan manisnya bibir Chinen yang terasa semanis vanilla. Chinen menyudahi ciuman itu dan menjauhkan wajahnya dari Yuri. Yuri yang tadinya terdiam kelihatan panik dengan wajah yang mulai memerah.

“A-A…”

“Shht… Sudah. Aku sudah tahu jawabanmu.” ucap Chinen sambil tersenyum.

***

Dari kejauhan, terlihat dua orang pria yang melihat Chinen dan Yuri dari kejauhan. Seorang dari mereka tersenyum lega melihat mereka berdua.

“Apa tidak apa-apa melepaskan cinta pertamamu seperti itu Kei?”

Kei mengangguk.

“Sejak awal aku memang tidak berniat mengatakannya. Lagipula aku lebih bahagia kalau melihat dia bahagia.”

“Yosh! Karena kamu patah hati, hari ini aku akan mentraktirmu makanan.”

“Eh? Hontou? Yosh! Aku mau makanan yang enak. Dan aku juga akan membuatmu memakan makanan yang tidak kamu sukai, Yabu Kota…”

“Coba saja kalau bisa!” ucap Yabu sambil tertawa.

***

Hikari duduk di ruang tamu di rumahnya sambil menonton beberapa anime kesukaannya. Tiba-tiba keitainya berdering saat dia sedang asyik menonton.

“Hai, moshi-”

Belum selesai dia berbicara, orang yang menelponnya langsung memotong pembicaraannya.

“Neechan! Aku sudah jadian dengan Chii-kun!!!”

“Hontou??? Uwaaa omedetou!!!”

“Sebenarnya malam ini…”

“Tidak bisa pulang ya? Iya tidak apa-apa. Hati-hati. Dan pastikan kamu dalam keadaan utuh.” potong Hikari.

“Maksudnya?”

“Nan demo. Jyaa! Oyasumi!”

***

Hikari duduk di depan piano dan mulai menekan tuts-tuts piano tersebut. Hikari sekarang berada di ruang musik di kantornya. Dia berniat membuat lagu baru untuk single selanjutnya. Hikari berhenti sejenak karena dia tidak bisa mendengarkan suara piano itu. Hikari pun menutup piano itu dan duduk di depan piano itu. Sejak kemarin dirinya merasa sangat hampa. Sangking hampanya sampai dia tidak bisa mendengarkan suara piano yang ia mainkan. Hikari duduk di pojok ruangan itu sambil bersandar di jendela ruangan itu. Dia melihat betapa tingginya bangunan itu sampai kendaraan yang dibawah terlihat sangat kecil. Tiba-tiba dia merasa ada seorang yang menusuk-nusuk pipinya.

Hikari pun menoleh ke sebelahnya. Disana ada Yamada Ryosuke yang duduk disampingnya. Hikari tidak begitu menghiraukannya dan segera berjalan meninggalkan ruangan itu.

***

Yuri duduk di meja kerjanya dan menyelesaikan beberapa desain pakaian yang akan dipakai untuk tour Hey! Say! JUMP. Disebelahnya, Chinen sedang duduk sembari melihat desain Yuri. Sejak mereka berpacaran, Chinen selalu mengikuti Yuri kemanapun Yuri pergi. Yuri menghentikan pekerjaannya dan mencari-cari buku sketsa yang satunya, tapi tak kunjung menemukannya.

“Yuri-kun tidak melihat bukuku?”

Chinen menggeleng. Yuri pun akhirnya mencari bukunya ke ruang sebelah. Chinen juga masih setia mengikuti kekasihnya itu.

***

Dia tidak begitu peduli Yamada mengikutinya atau tidak. Saat dia berjalan, Hikari secara tidak sengaja menabrak seseorang.

“Neechan!”

Hikari yang melihat Yuri langsung memeluknya tanpa mempedulikan orang sekitarnya.

“NEECHAN????!!” teriak Yamada dan Chinen.

Hikari dan Yuri baru sadar kalau Yamada dan Chinen ada disana.

“Oh.. Kalian belum tahu ya kalau kami bersaudara? Sebenarnya Hikari ini kakak kembarku.” jelas Yuri.

“KEMBAR???!!!”

“Tapi kalian tidak mirip?” tanya Chinen.

“Kalau aku tidak pakai kacamata dan neechan tidak diikat rambutnya, kami sangat mirip.” jelas Yuri lagi.

***

Yamada, Chinen, Yuri dan Hikari duduk di sebuah kafe. Yuri dan Hikari menyeruput minuman mereka masing-masing, sementara Chinen dan Yamada masih sibuk memperhatikan mereka berdua.

“Agak mirip.” Ucap Chinen.

“Iya juga sih.” Jawab Yamada.

Hikari bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar cafe itu.

“Matte!” ucap Yamada sambil menahan tangan Hikari.

Hikari menoleh tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Hikari-chan mau kemana?” tanya Yamada.

“Kou-chan. Aku harus bertemu Kou-chan.”

Hikari langsung berbalik meninggalkan Yamada.

“Jangan pergi menemuinya!”ku

“Kenapa? Kou-chan bisa menolongku saat aku kehilangan nadaku.” ucap Hikari.

“Aku tahu tempat yang bisa membantumu.” Tambah Chinen.

***

Hikari turun dari mobil Yamada. Dia diantar ke pantai yang pernah Yuri dan Chinen datangi. Chinen dan Yuri juga ikut pergi kesana. Hikari melihat kearah sebuah batu yang lumayan tinggi. Hikari pergi keatas batu itu sendiri. Yamada yang ingin menyusulnya harus mengurungkan niatnya karena ditahan oleh Yuri. Hikari berdiri cukup lama diatas sana. Hikari mulai mengangkat tangannya, jari-jarinya bergerak seolah-olah dia sedang memainkan piano. Hikari berhenti sejenak dan memandang laut. Tiba-tiba tanpa aba-aba, dia langsung melompat ke dalam laut.

“NEECHAN!!!!”

***

Hikari membuka matanya dan melihat Yamada, Yuri dan Chinen menatapnya panik.

“Oh? Aku masih hidup.”

“Apa yang kamu pikirkan??? Kamu kan tidak bisa berenang!” teriak Yamada.

Hikari terdiam sejenak. Dia jadi teringat kenangan masa lalunya yang sudah lama ia lupakan. Hikari menatap kearah Yamada.

“Ryo-chan?”

Chinen tersenyum kearah Hikari dan segera membawa Yuri menjauh dari Yamada dan Hikari.

“Ricchan ingat denganku?”

Hikari mengangguk.

“Pinky Swear. Aku tidak pernah melupakannya.”

“Sou ka. Eh??? Kamu tidak lupa??? Jadi Ricchan mengingatku juga?”

“Hai, karena wajah Ryo-chan tidak berubah.”

“Lalu kenapa pura-pura tidak mengenalku?”

“Karena Ryo-chan tidak mengenalku dan juga kamu selalu jalan bersama Nishiuchi-san. Aku juga ingat dengan Chinen-san.”

Hikari melihat Yamada sejenak.

“Jadi kena kutukanku ya?” ucap Hikari sambil tersenyum licik.

Yamada langsung menghilangkan kedua tangannya menutupi dadanya.

“Oy! Reaksi macam apa itu???”

Yamada tertawa melihat Hikari yang marah-marah.

“Ternyata kutukanku ampuh juga. Ayo pulang! Aku masih harus menulis lagu.”

Yamada menahan tangan Hikari.

“Ada satu hal lagi yang ingin aku pastikan.” ucap Yamada.

“Apa?”

Yamada menarik Hikari mendekat dan mencium lembut gadis itu. Yamada menyudahi ciuman itu dan menatap gadis itu penuh harap.

“Bagaimana perasaanmu?” tanya Yamada.

“Itu sudah jelas.” jawab Hikari sambil tersenyum manis.

***

“Kou-chan!” sapa Hikari yang tengah berlari menuju Yabu.

Gadis itu langsung memeluk Yabu tanpa ragu. Gadis itu tidak datang sendirian. Dia datang bersama Yamada, Chinen dan Yuri.

“Oh? Kei-kun juga ada.” sapa Hikari kepada Kei

“Kei-kun daijoubu ka?” tanya Hikari.

“Eh? Kenapa?” tanya Kei keheranan.

“Soalnya Kei-kun kan menyukai-”

“Ah! Bagaimana kalau kita makan dessert lezat di cafe yang baru dibuka disana? Untuk merayakan hari jadian kalian.” potong Yabu sambil menutup erat mulut Hikari.

“Kelihatannya enak! Ayo pergi!” ucap Chinen.

“Oy! Yabu Kota, lepaskan pacarku!” ucap Yamada.

“Siapa bilang dia pacarmu? Dia kan waktu itu bilang, ‘itu sudah jelas’. Begitu kan?” tanya Yabu.

Yamada mengangguk.

“Maksudnya, sudah jelas dia menyukaiku.” ucap Yabu sambil membawa Hikari menyusul ketiga temannya yang sudah lebih dulu.

“HAAA??? APA MAKSUDMU YABU KOTA???”

Owari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s