[Multichapter] Little Things Called Love (#9)

Little Things Called Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 9)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13 agak NC sih chapter ini.. 😛
Starring : Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Tanaka Juri, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Jesse Lewis (SixTONES); Ichigo Yua, Kimura Aika, Kirie Hazuki, Mizutani Ruika, Takahara Airin, Matsumura Sonata (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Untitled-1

Layar komputer itu sudah menghitam sejak beberapa menit yang lalu. Juri masih menatapnya dengan tatapan kosong, seakan jiwanya tersedot ke sana. Beberapa kali helaan napasnya terdengar berat, beberapa kali menatap ponselnya, apakah bijak menghubungi Aika sekarang?

“Yo! Jangan melamun!” Juri tersentak, partner kerjanya menepuk bahunya.

“Ya ampun Myuto,”

“Pelanggan setiamu tuh,” Myuto menunjuk ke ruangan sebelah, menunjuk pada seorang gadis yang melambaikan tangannya dengan bersemangat, “Secara spesifik menulis namamu sebagai mekanik mobilnya,”

Juri mengangguk, meninggalkan mejanya, “Okay, show time,” ucapnya lalu tertawa dan masuk ke ruang sebelah, “Hey, cek rutin lagi?” gadis itu menjawabnya dengan anggukan.

“Dan alasan bertemu denganmu, lagi…” ucap gadis itu, terkekeh.

Juri melihat ke arah seorang pria yang berdiri tak jauh dari mobil itu, “Supirmu tidak protes, Aika?”

Aika menggeleng, “Tenang saja,”  mengacungkan jempolnya.

“Baiklah Kimura-san, silahkan tunggu sebentar,” Juri menunjuk ke ruangan tunggu, ditanggapi senyuman dan masuk ke ruangan itu tanpa protes. Juri memang bekerja di sebuah bengkel servis mobil, walaupun tidak begitu besar tapi pelanggan mereka sudah banyak. Juri juga mengambil sekolah teknik otomotif sebagai penunjang pekerjaan dan pilihan karirnya mungkin di masa depan.

Juri memerhatikan Aika yang masih melihat ke arahnya sambil tersenyum, entah apa yang dipikirkan gadis itu. Sejak lahir mungkin Aika tidak pernah khawatir akan makan apa esok hari, gadis itu tumbuh di lingkungan yang tidak pernah khawatir soal uang, berbeda seratus delapan puluh derajat dari dirinya.

“Saya asumsikan kau mencintai putriku, lalu sekarang apa yang bisa kau janjikan untuknya?” kalimat itu berdenging di telinganya, “Kau bisa membuatnya bahagia? Dengan cara apa? Kau punya pekerjaan tetap?”

Kemarin sepulang dari Odaiba, Juri ‘dipertemukan’ dengan Ayah Aika. Bukan oleh Aika tentu saja gadis itu tidak tau, tapi sekretaris Ayahnya, namanya Yasui, memintanya untuk datang ke kantor Ayah Aika, mereka berbicara empat mata dan ternyata informan Kimura-san sudah mengumpulkan data soal Juri, termasuk pekerjaannya, status sosial, bahkan mungkin hingga ukuran bajunya saja bisa disebutkan secara akurat. Setelah menginterogasi Juri soal hubungannya dengan Aika, Kimura-san memilih untuk meminta secara tidak langsung Juri tidak mengganggu pertunangan Aika dengan Jesse.

Pertanyaan itu terlontar setelah Juri mengakui perasaanya terhadap Aika. Apa yang bisa ia janjikan kepada Aika? Tidak ada, kehidupannya masih kacau balau, sementara terang-terangan Jesse Lewis, pemilik sebuah toko roti, penerus tunggal Lewis Company. Apa yang bisa membuat Aika bahagia? Aika tidak akan terbiasa hidup sepertinya. Gadis itu bahkan tersesat saat naik subway, belum pernah naik bis, tidak pernah merasakan harus kelaparan karena akhir bulan tiba.

Seakan-akan Juri baru terhenyak sadar bahwa dunianya dengan Aika jauh berbeda. Mereka bisa saja bergaul di sekolah yang sama, bermain di band yang sama, tapi dunia mereka jelas berbeda. Faktanya Juri dan Hokuto memang selama ini berbeda dunia dengan Aika, Taiga atau Hazuki. Juri tidak pernah menyadarinya karena mereka masih SMA sat itu, kenyataan hidup belum menamparnya hingga kali ini ia disadarkan mengenai hal itu. Klise sekali menjawabnya dengan Tapi sayamencintai putri anda karena jelas, Aika tidak bisa hidup hanya dengan cinta.

***

“Kau bisa menghubungi Hazuki, tidak?” Taiga mengenakan apronnya, menunjukkan ponselnya kepada Hokuto.

Hokuto menggeleng, “Aku belum dapat kabar apapun darinya,” aneh sekali Taiga tiba-tiba peduli Hazuki tidak menjawab teleponnya, “Taiga, apa yang kau lakukan pada Hazuki?” Hokuto sedang mengambil beberapa bahan minuman di kulkas.

Taiga memasukkan ponselnya ke dalam saku celana pendeknya, “Bodoh, dia itu tunanganku,” pemuda itu hendak melarikan diri karena tau Hokuto akan berhasil membuatnya mengaku namun tangan Hokuto lebih cepat menarik lengan Taiga.

Terkekeh, Hokuto berdiri di samping Taiga, “Ada kejadian apa di Odaiba?”

Mata Taiga terlihat tak fokus, “Kau tau, ini bukan pertama kali seorang gadis menghilang setelah…. kau taulah.. “ Taiga memberi kode pada Hokuto, mengangkat alisnya “Tapi, baru kali ini seorang gadis mengirimiku pesan, pertunangan kita batal, bye!” ucap Taiga membacakan isi pesan dari Hazuki semalam.

Bukannya bersimpati Hokuto malah tertawa terbahak-bahak, “Serius.. kau dan Hazuki?!”

“Harusnya aku tidak cerita,” rutuk Taiga kesal.

“Biarkan Hazuki cooling down dulu kau tau, nanti kau coba bicara lagi, aku akan mencoba bicara dnegannya juga,” kata Hokuto pada akhirnya. Hokuto tau persis se-keras kepala apa Hazuki dan biasanya dalam beberapa hari setelah tenang Hazuki akan kembali biasa. Walaupun mengingat ini bukan kasus biasa, mungkin butuh campur tangan orang lain.

“Ayo meeting!!” panggil manajer mereka. Hokuto dan Taiga pun masuk ke dapur utama, untuk meeting rutin setiap sepuluh menit sebelum shift mereka dimulai.

Manajer mereka, Fujigaya-san, membuka hari itu dengan pengumuman soal musim panas dan beberapa bahan yang biasanya lebih cepat habis di hari-hari yang semakin panas ini, “Aku juga punya pengumuman, mulai minggu ini kita punya satu staff baru dan satu pekerja musim panas,” dua orang gadis masuk ke dalam ruangan, yang satu memakai baju staff biasa, yang satunya memakai pakaian bebas, “Ini staff baru kita, Mizutani Ruika,”

“Mizutani Ruika desu. Yoroshiku Onegaishimasu,” Ruika menunduk sekilas.

Mata Hokuto tidak menatap Ruika karena keberadaan gadis satunya justru yang membuatnya kaget. Ruika memang masuk ke tempatnya bekerja karena rekomendasinya, tapi, kenapa ada Airin di situ?

“Dan ini pekerja musim panas kita, dia masih SMA, Takahara Airin,”

“Takahara Airin desu. Mohon bimbingannya,” Airin menunduk sekilas smabil tersenyum.

“Wah, ada Ruika, hahaha,” ucap Taiga.

“kenapa tertawa?” tanya Hokuto merasa aneh, “Kalian teman SMA, kan?”

Taiga menggeleng, “Tidak apa-apa,”

***

“Kouchi-sensei!” Sonata mendekati Kouchi yang masih berkutat dengan silabus untuk hari itu, terlihat senewen dengan buku-buku di sekelilingnya, “Sedang apa?”

“Mencari korelasi ini,” Kouchi menunjuk silabusnya, “Dan ini,” menunjuk buku pelajaran yang ada di atas meja .

Sonata mengangguk-angguk lalu duduk di sebelah Kouchi, “Ne, Sensei, kira-kira kapan sensei akan memberitau aku jawabannya?”

Kouchi berhenti dari kesibukannya, “Jawaban? Soal yang tempo hari?”

Sonata mengangguk-angguk, “Aku penasaran tapi tak tau jawabannya!!”

“Sekarang kau harus memberi tauku dulu, apa jawabanmu?” Kouchi melipat tangannya di depan dada, “Sona-chan pilih yang mana?”

Sonata mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja, “Uhmmm… mungkin aku akan memilih untuk dicintai,”

“Kenapa?”

“Karena jika kita mencintai seseorang dan orang itu tidak mencintai kita, nantinya kita akan ditinggalkan, sedih sekali kalau dipikir-pikir,” ucap Sonata dengan wajah muram.

“Bisa jadi, tapi menurutku yang lebih penting adalah… mencintai dan dicintai dengan sebaik-baiknya, menerima keadaan dan memberikan yang terbaik,” Sonata tidak mengerti dan menatap Kouchi dengan dahi mengerenyit, “Saat kita mencintai seseorang kita harus memberikan yang terbaik bahkan jika orang itu tidak balik mencintai kita, saat kita di posisi dicintai harusnya kita bisa sedikit membuka hati kita dan menerima orang itu. Tapi saat kita akhirnya memang tidak bisa menerimanya, menjadi jujur kepada orang itu akan lebih baik daripada membiarkan orang yang mencintaimu menunggu terlalu lama,” jelas Kouchi.

“Huwaaaa,” Sonata terlihat kaget, “Percintaan orang dewasa itu rumit ya…”

Kouchi tergelak, “Akan lebih rumit kalau sudah masuk fase memilih orang yang akan kau nikahi,”

Tangan Sonata terangkat ke atas, “Sensei!! Bahas yang lain saja!! Ahahaha,”

“Tepat. Aku baru menanyakan PR Fisikamu yang aku berikan minggu lalu,” ucap Kouchi menunjuk hidung Sonata.

Sonata menunjukkan jempolnya, “Udah doonngg,”

“Ya sudah, ayo lanjut belajarnya, jatuh cinta masih jauh untukmu!” Kouchi mengacak rambut Sonata. Tidak seperti dirinya, cintanya sekarang sudah kandas, bahkan sebelum bisa bersama. Kouchi merasa mungkin seharusnya memang dia menyerah, sayangnya Kouchi tidak bisa menarik lagi kata-katanya, persahabatannya dengan Yua pun mungkin tidak bisa kembali seperti sedia kala. Satu hal itu yang Kouchi lupa pertimbangkan.

.

Otsukaresama deshita,” Sonata keluar dari tempat bimbingan belajarnya, Kouchi mengekor dari belakang.

“Aku antar kau pulang ya,” ini memang sudah larut malam. Sonata harus ikut memasukkan nilai ke dalam database dan tanpa terasa sudah hampir jam sembilan malam, “Sudah terlalu malam untuk kau pulang sendirian,”

“Tapi merepotkan sensei, tidak apa-apa aku bisa pulang sendiri,”

“Kau tidak akan pulang sendiri,” alangkah kagetnya Sonata ketika menoleh dan mendapati kakak semata wayangnya sudah berdiri di hadapannya, “Hoku-nii!!”

“Pulang sekarang juga!” Sonata ngeri sendiri melihat wajah Hokuto marah, tangan Hokuto mencengkram tangan Sonata menariknya dengan paksa.

“Jangan kasar!” Kouchi menahan tangan Hokuto dan melepaskannya dari tangan Sonata.

“Kuharap kau tidak ikut campur. Ini masalah keluarga,”

“Dia muridku jadi ini juga menyangkut diriku,” jawab Kouchi lagi.

Sonata menunduk, “Tidak apa-apa sensei, arigatou, iya iya aku pulang… ayo pulang,” Sonata mendorong tubuh Hokuto menjauh dari Kouchi, “gomen sensei!!

“Apa kata-kataku soal kau tidak boleh bekerja kau anggap main-main?!” Hokuto dan Sonata berhenti di sebuah restoran keluarga dekat tempat bimbingan belajar itu.

Gomen, niichan,” Sonata menunduk semakin dalam, entah dari mana kakaknya ini tau soal dirinya yang bekerja, “Aku ingin membantumu dan ibu, aku tidak tega melihat ibu yang semakin sering sakit,”

Hokuto menghela napasnya, “Aku akan menyuruh ibu berhenti kalau aku mau, aku bisa menanggungmu dan ibu, tak perlu khawatir!”

“Mengorbankan kuliahmu?! Aku tidak mau itu terjadi!!”

“Itu sudah tugasku! Aku kepala keluarga di rumah dan jangan membantahku! Aku ingin kau belajar saja, masuk universitas yang bagus!” suara Hokuto semakin meninggi, tandanya Hokuto benar-benar marah.

Hokuto bisa mendengar suara isakan dari Sonata, “Nii-chan tidak adil,” Sonata menghapus ar matanya dengan punggung tangan, “Aku juga bagian dari keluarga ini dan tidak bisa diam saja sementara nii-chan mengorbankan semuanya untukku, tidak bisakah kita berbagi beban yang sama? Kita keluarga kan?”

“Aku tidak mau kau merasakan hal yang sama denganku, Sona, kau harus merasakan masa SMA mu dengan bahagia, tidak seperti aku,”

Wajah sonata terangkat, hidungnya terlihat merah karena menangis, “Aku juga ingin nii-chan bahagia, jadi… bisa kan nii-chan membiarkan aku membantumu? Kumohon,”

Hokuto beranjak, mengitari meja dan duduk di samping Sonata, “Tidak boleh mengganggu pelajaranmu. Jika nilaimu turun maka semuanya berakhir, kau harus mendengarkan aku!” Hokuto mengusap air mata Sonata dengan ibu jarinya, “Gomen, aku mengkhawatirkan kamu dan sekaligus kesal kenapa tidak meminta izinku terlebih dahulu,”

Sonata memajukan bibirnya, “Karena jawabanmu pasti tidak! Ngomong-ngomong, bagaimana kau tau soal aku kerja? Ibu sudah berjanji tidak akan memberi taumu,”

“Ai-chan mulai hari ini kerja di tempatku, kau tau?” Sonata menggeleng, “Airin bilang kau juga kerja, Shin juga kerja jadi dia memutuskan untuk mencobanya juga,”

Sonata memang tidka pernah meminta Airin menyembunyikannya, jadi ini bukan sepenuhnya kesalahan Airin. Tapi, kenapa bisa Airin bekerja di tempat Hokuto kerja? Apa maksud dari gadis itu, ya?

***

Sudah sejak semalam Yua merasa badannya agak meriang. Tugasnya memang sedang banyak, dia pun menambah jam kerjanya di restoran sehingga berdampak pada kondisi badannya, apalagi musim panas memang tidak cocok dengan dirinya. Yua suka suasana musim panas, tapi seringnya membawa angin yang tidak enak bagi tubuhnya. Yua membenarkan letak maskernya, mengusap air mata yang terus-terusan keluar karena seringnya dia bersin seharian ini.

“Yua-chan, kau baik-baik saja?” Shintaro menghampirinya di gudang, ikut mengambil beberapa bahan untuk persiapan besok.

“Aku baik… hatchi!!” Yua kembali bersin.

“Lebih baik Yua-chan pulang saja, aku dan Hagi akan menyelesaikannya,” kata Shintaro.

Yua menggeleng, “Tenang saja, aku sudah biasa begini ko!!” Yua mengangkat kotak berisikan wortel, tapi rasanya kepala Yua akan jatuh saking pusingnya, “Ugh.. yang benar saja!” seru Yua kesal.Beruntung Shintaro tepat menahan beban tubuh Yua, sehingga gadis itu tak jadi jatuh.

“Kau sebaiknya pulang, aku akan mengantarmu, sebentar…”

Yua mengikuti langkah Shintaro, “Shin, aku tak apa-apa,”

“Hagi, gomen besok siang aku yang akan menyelesaikannya. Aku antar Yua-chan pulang dulu, ya,” Shintaro membuka apron nya, mengambil tas dan jaketnya, “Ayo, Yua-chan,”

“Sebentar.. tas ku.. uhuk,” Yua masuk ke ruang ganti wanita dan mengambil barang-barangnya, membuka apron nya.

“Harusnya Yua-chan tidak memaksakan diri, flu mu sepertinya cukup buruk,” Shintaro mengambil barang-barang milik Yua, “Biar aku yang bawa,”

“Uhm.. tapi aku lebih baik kerja,” Yua menggosok hidungnya dengan tissue.

Souka,”

“Sejak aku tinggal jauh dari orang tuaku, saat sakit rasanya lebih menyedihkan jika di rumah sendirian, lebih baik aku melakukan sesuatu di luar,” biasanya Kouchi akan menemaninya jika ia sakit, memarahi Yua jika gadis itu bangun dari tempat tidur, tapi karena mereka sedang bertengkar, Yua merasa lebih baik dia tetap bekerja saja.

Shintaro mengangguk-angguk mengerti, “Yua-chan masih sama seperti yang aku ingat dulu,”

“Hmmm?” Yua menatap Shintaro yang duduk tepat di sebelahnya, “Cerewet maksudmu? Uhuk,”

“Salah satunya iya, ahahaha, aku belum minta maaf soal waktu itu, waktu aku mencium Yua-chan,” ucap Shintaro pelan.

Yua ingin tertawa, tapi nyatanya malah terbatuk, “Sudahlah, toh itu sudah lama sekali, aku juga sudah menamparmu jadi kita impas,” Yua menatap ke luar jendela, merenungkan bahwa sebelum ini biasanya dia seenaknya menelepon Kouchi,kalau saja dia tidak bertengkar dengan Kouchi pasti di perjalanan pulang ini dia bersama Kouchi, bukan dengan Shintaro.

“Yua-chan, sudah sampai,” Shintaro menunjuk ke halte dekat apartemen Yua.

“Sudah sampai sini saja, Shin-kun,”

Shintaro menggeleng, “Sampai kamar saja ya, takutnya kau pingsan,” Yua tidak punya energi untuk menolak sehingga ia pun hanya bergegas turun dari bis dan berjalan beriringan dengan Shintaro sampai ke depan pintu apartemen Yua.

“Mau masuk dulu? Mungkin minum teh?”

Ojamashimasu,” Shintaro masuk ke dalam kamar apartemen itu, sementara Yua sudah berjalan ke tengah ruangan. Ada botol obat dan air mineral di atas meja.

 

Yua, kau batuk semalaman. Pasti kau sakit,
Musim panas tidak pernah cocok untukmu. Hahaha
Minum obat ini, aku juga membelikan bubur panas
untukmu, tak seenak buatanmu sih, ada di atas
kompor.. Cepat sembuh, aku ingin sekali berada di sini
tapi rasanya malah akan membuatmu tambah sakit.
Jangan makan yang pedas dulu! Dan jangan begadang.
-KOU

 

Dinding apartemen mereka memang tidak tebal, Kouchi pasti bisa mendengar batuk Yua semalam. Entah memang karena ia mulai merasa lebih pusing, entah karena melihat surat dari Kouchi, air matanya mengalir, dadanya terasa sakit sekali.

“Yua-chan, kenapa?” Shintaro menghampiri Yua yang terduduk, menutupi wajah sambil terisak hebat.

Baru kali ini Yua rasakan kehilangan Kouchi ternyata menyakitkan sekali. Tapi Yua tidak tau apakah ini cinta? Apakah perasaannya sama dengan Kouchi atau hanya sekedar rasa sayangnya sebagai sahabat? Bagaimana bisa Kouchi masih memerhatikan dirinya padahal Yua sudah menyakiti perasaannya?

***

Tadinya, Juri sudah membujuk Aika untuk segera pulang. Ini hampir tengah malam dan Aika masih saja betah mengobrol dengannya di atas sofa merah ini, di studio tempat mereka biasa berlatih. Suasananya cukup romantis, Aika menyalakan beberapa lilin aroma di sekeliling ruangan. Gadis itu biasa membelinya di toko bawah karena suka harumnya dan beberapa sengaja ia tinggalkan di studio. Alunan musik terdengar dari ponsel Aika, beberapa kotak pizza tergeletak di bawah sementara Aika duduk bersandar pada Juri yang memeluknya dari belakang.

“Aika, kita harus pulang,” Aika menggeleng, Juri bisa menghirup wangi buah-buahan dari rambut Aika yang menempel langsung di wajahnya, “Sudah malam,”

Aika melihat jam tangannya, “Sudah pagi… ehehehe, pulang juga nanti malah kena marah Ayah, aku sudah bilang pada Ibu aku menginap di rumah teman,”

“Kau bermalam dengan seorang pria, itu tidak baik, tuan putri,” tangan Juri mampir di pipi Aika dan mencubit pipi gadis itu dengan gemas.

Aika protes dan menarik tangan Juri dari pipinya, Juri menggenggam tangan Aika, “Kalau dengan Juri-kun aku tidak keberatan,” Aika menoleh dan agak kaget karena wajah Juri sangat dengan wajahnya sendiri. Tidak lebih dari lima belas sentimeter.

Tidak butuh stetoskop, Aika bisa mendengar debaran jantungnya sendiri ketika wajah Juri semakin mendekat, secara otomatis Aika memejamkan matanya, detik berikutnya ia merasakan bibir Juri sudah mendarat tepat di atas bibirnya. Aika merasakan tangan Juri ada di lehernya, menarik wajah Aika lebih dekat untuk menguasai ritme ciuman yang ia inginkan. Bibir Juri terasa lembut dan manis, Aika dengan malu-malu membalas kuluman bibir Juri. Ketika merasakan ujung lidah Juri di bibirnya, Aika langsung membukakan mulut untuknya. Membiarkan cowok itu melumat bibirnya dengan penuh gairah, menjelajahi mulutnya dengan antusiasme yang tak pernah Aika perkirakan. Ia tak pernah tau bahwa dirinya bisa bereaksi seperti ini, pipinya terasa panas, tiba-tiba saja ruangan ber-AC ini terasa panas.

Juri melepaskan ciumannya, menyudahinya secara tiba-tiba, entah kenapa Aika merasa kecewa karenanya, “Kenapa?”

Bukannya menjawab, Juri mencium dahi Aika, “Kalau aku meneruskannya, aku tak yakin bisa berhenti,”

“Aku kan sudah bilang… aku tidak keberatan,”

Juri terkekeh pelan, “Baka, bukan itu masalahnya, aku juga punya kondisi jika aku ingin melakukannya denganmu,”

“Eh? Maksudnya?”

“Aku ingin itu spesial, tidak di sini, dan kurasa belum saatnya,” Juri melingkarkan lengannya di leher Aika, menarik Aika lebih dekat.

“Kenapa? Ini pertama kalinya juga buat Juri-kun? Ehehehe,” Aika terkekeh, tau jawabannya karena jelas-jelas Juri belum pernah pacaran setau Aika.

Juri mengeratkan pelukannya, “Kalau bukan karenamu banyak cewek yang mau sama aku, tau!”

“Aaaaaa geli!!” Juri menyerang pinggang Aika membuat gadis itu kegelian, “Ampun!!” mencoba menahan tangan Juri yang masih menggelitikinya.

“Makanya kau harus tanggung jawab!” seru Juri, membuat keduanya terbahak-bahak. Juri kembali memeluk Aika, entah bagaimana caranya dia ingin bersama Aika, tapi ini bukan hanya masalahnya dan perasaannya, ini juga masalah dengan Ayah Aika.

***

“Sona-chan bilang, kau memarahinya kemarin,” Hokuto menoleh, melihat Airin sudah ada di sampingnya, “Gomen, aku pikir Hoku-nii sudah tau soal Sona bekerja,”

Hokuto yang sedang mencuci beberapa peralatan memasak hanya tersenyum, “Yeah, dia tak berani mengatakan padaku,”

Souka,” Airin berbalik, bersandar pada kitchen set, “Hoku-nii, kau tau kenapa aku di sini? Bekerja di sini?”

Hokuto menggeleng, “Aku harap alasannya bagus, bukan hanya karena diriku,”

“Anggaplah aku memang keras kepala, tapi sampai sekarang aku tak bisa menerima alasanmu, kenapa kau tak bisa menerimaku sebagai kekasihmu? Jadi, bisakah kau memberiku satu kesempatan lagi?” Airin menatap Hokuto.

Hokuto menghela napas berat, “Kau sudah dengan Shin-kun, berbahagialah dengannya,”

“Aku sudah putus dengan Shin, aku tidak bisa bersamanya hanya karena kasihan,” Airin menunduk, “Shin-kun laki-laki yang baik, tapi dia tak seharusnya bersama orang yang tidak mencintainya, kan?”

“Ai-chan,” Hokuto berhenti dan menatap langsung ke mata Airin, “Kapan kau mulai suka padaku?”

“Uhm… Kelas satu,”

“Perasaanmu padaku hanyalah kagum, atau cinta monyet apalah itu namanya, Ai-chan pasti bisa menemukan orang lain, tapi bukan aku,” Hokuto mengelap tangannya, hendak beranjak dari situ, tapi tangan Airin menahannya, “Kalau begitu, aku minta sau hal darimu,”

“Apa?”

“Pergi kencan bersamaku akhir minggu ini, yang terakhir dan aku akan berhenti mengganggu hidupmu,” ucap Airin.

“Baiklah apapun yang kau inginkan,” kalah telak, Hokuto sulit memikirkan alasan lain untuk menolak Airin. Gadis itu benar-benar keras kepala.

***

Jesse turun dari mobil sport merahnya. Untuk kesekian kali apartemen kumuh itu ia datangi. Berkali-kali pula ia diusir oleh Ruika. Gadis yang dulu sangat memperhatikannya, menolaknya dengan segala alasan yang bisa ia utarakan. Ia tak menyalahkan Ruika. Toh memang semua ini adalah kesalahannya, Jesse belum berani mundur dari perannya sebagai tunangan Aika, ia takut dengan konsekuensinya berama Kimura-san atau perusahaannya.

“Kumohon…kali ini harus berhasil…” bisik Jesse pelan.

Langkahnya mantap menuju pintu itu, namun setelah beberapa lama, apartemen itu tak menjawab. Tak ada juga yang keluar untuk mengusirnya.

“Mizutani-san sudah pindah!!” seru seorang bapak yang baru saja keluar dari apartemen di sebelah.

“Hah?” Jesse menoleh kaget, “Pindah?”

“Iya… kemarin sore barang-barangnya di angkut jasa pemindahan… setelah itu Mizutani-san juga menyerahkan kuncinya pada saya,”

“Anda pemilik apartemen ini?” tanya Jesse sopan.

“Iya… kau siapa? Kalau mau mencarinya, cari di tempat lain saja!” serunya sedikit kesal, sepertinya Jesse menganggunya saja.

“Bisa kau beri tahu aku kemana dia pindah?” tanya Jesse lagi.

“Tak tahu..aku tak ikut campur kemana dia mau pindah… cih~ aku jadi harus mencari penyewa baru..” keluhnya bersungut-sungut lalu turun ke lantai bawah.

Jesse merasa tak ada gunanya ia menanyakannya lagi pada pemilik apartemen. Ia berjalan mencoba mencari ide untuk mencari Ruika. Ia mengeluarkan ponselnya, mencoba menelepon Ruika walaupun ia tahu tak mungkin gadis itu mau mengangkatnya. Jesse memutuskan untuk meluncur ke kampus, setidaknya bertemu dengan teman sekampusnya akan membuat Jesse sedikit waras.

“Hey Kou!” Jesse duduk di hadapan Kouchi, di taman dekat fakultas mereka.

“Yo!” mata Kouchi masih fokus dengan layar laptop di hadapannya, “Kusut banget!”

“Errgghh aku lupa beli rokok,”

“Bukannya kau sudah berhenti?” ucap Kouchi menatap Jesse yang matanya jelas sekali tidak sehat, mungkin tidak tidur beberapa hari.

Don’t judge, I need them for now,” stress adalah satu-satunya hal yang bisa membuat seorang Jesse kembali merokok.

Jesse menoleh, dan saat itulah dia melihat Ruika, sebentar, RUIKA? DI KAMPUS INI?! Jesse menajamkan lagi pandangannya dan dia tidak mungkin salah! Itu Ruika-nya. Tanpa pikir panjang Jesse berlari menghampiri Ruika, tidak butuh waktu lama kini Jesse sudah berdiri di hadapan gadis itu.

“Baguslah… kau baik-baik saja,”ucap Jesse.

Ruika kaget melihat sosok Jesse yang kini berdiri di hadapannya, “Kau kemana saja?” tanya Jesse menghampiri Ruika yang masih terpana.

Ruika berhasil mengendalikan dirinya, lalu berkata ketus, “Bukan urusanmu!!”

Gadis itu berbelok dan meninggalkan Jesse, dengan refleks Jesse menahan tangan Ruika.

“Aku hanya ingin minta maaf, Ruika-chan, aku tau tak ada hal yang bisa membuatmu memaafkan aku,”

Ruika berhenti tiba-tiba ketika mendengar itu.

“Aku sudah habis akal untuk mendapatkanmu… aku mencintaimu… dan jika kau bahagia… itu sudah cukup bagiku..” ucap Jesse lagi.

“Aku benci sekali padamu!!” seru Ruika tanpa menatap Jesse.

Jesse menghela nafas berat, “Aku tahu…kau memang seharusnya membenci aku..”

Ruika menarik napasnya dalam-dalam. Ini di tempat umum dan dia tidak ingin menangis atau terlihat membuat keonaran di sini, “Jangan ganggu aku lagi, okay? Kau bilang ingin aku bahagia? Lakukan itu, jauhi aku,”

Jesse menatap mata Ruika, “Wakatta,”

“Aku harus pergi kerja, sayonara,” seiring dengan langkah Ruika yang menjauh, air matanya pun tak bisa lagi ia bendung. Bohong besar, Ruika tidak tau caranya bahagia setelah memutuskan untuk meninggalkan Jesse, tapi ia harus maju ke depan.

***

To Be Continue~

 

Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] Little Things Called Love (#9)

  1. elsaindahmustika

    OMG! AIKA JURI MAKIN ROMANTIS AJAAAAA, KAK DINNN AKU IRIIII #PLAK😂
    the best dah mereka berdua wkwk sayangnya masih terhalang gara2 ayahnya, ganbatte jureeeeeee!!>u<
    Kouchi-sensei baik banget yaampun perhatian aaaaaaa coba shin begitu:'v sona terlalu kecil buat mengerti percintaan orang dewasa wkwk, hokunii jahattttttt!!u,u
    ganbatte buat airin-chuannnnnn dan ruikaaaa*-*)9
    jesse lama2 kasian juga ya:'v eh hazuki gak keluar sama sekali wkwk hayoloh taiga:v lanjut kakkkkk! *semoga ada parti shin sona #plak

    Reply
  2. magentaclover

    Dari awal udah aika juri aika juri gimaa aku ga gilaaaaaaaaaakkkkkk 😍😍😍 akh, sial juri seksi banget kayaknya jadi mekanik gitu *khilaf* udah gitu mereka kisu2 gitu lagi studiooooooo yah tapi juri menyudahi, aika kecewa seriusan 😂 *plak* makasih kak din, udah bikin baper maksimal…

    Tapi aku nangis pas kou care sama yua yg sakit itu >< kayaknya nyentuh gitu ya semoga yua ga jauh2an sama kouchi lagi. Dan aku bahagia pas jesse ditinggalin ruika hahahahaha, itu karma jes dan pukpuk buat ruika yg ketemu taiga lagi di tempat kerja baru *eh

    Buat next part tuh airin kan kak kencan sama hoku kan??????? Aku nungguin airin yg pantang menyerah! Keren banget bagiku haaaahahah buat sona pukpuk ya shin belum peka dan habis diomelin hokunii tapi gpp kan ada kouchi-sensei 😃

    Hazuki kemana kah kau pergi? Dimana kau nak? *oi* udah cek ke dokternya? *plak

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s