[Multichapter] Desire Or Love? (Chap 2)

Desire or Love?
By: kyomochii
Genre: Friendship, Romance, Drama
Rating: PG-13
Cast: Ichigo Yua, Morita Mirai (OC), Kouchi Yugo, Jesse (SixTONES), Chinen Yuri (HSJ)
Disclaimer: Semua Cast cowok dalam cerita ini under talent agency Johnny’s & Associates dari berbagai grup yang berbeda, bisa ada, bisa tidak tiap chapternya, tergantung mood author :p
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Sudah berhari-hari Yua autis dengan ponselnya. Mirai tahu, siapa sosok yang sedang rajin menghubungi sahabatnya itu, Chinen-senpai. Sepertinya hubungan mereka sekarang sudah lebih dari sekedar teman chat. Tapi berapa kalipun Mirai menanyakan sejauh mana hubungan mereka, Yua masih bersikeras menjawab mereka hanya teman. Ini pertama kalinya bagi Yua, tertarik pada cowok yang mendekatinya. Bukan tidak pernah, namun selama ini Yua lebih senang menyukai cowok yang mustahil dia dapatkan daripada membalas perasaan cowok-cowok yang selalu mengejarnya. Yua memang DoM!

Tapi kali ini berbeda. Sejak Chinen-senpai mengajaknya keluar, Yua tidak pernah menolaknya. Sudah seminggu sejak Chinen-senpai membuat Yua membatalkan janjinya untuk menemani Mirai mencarikan hadiah untuk Yugo, dan seminggu lagi adalah hari pertandingan, penyisihan pertama liga basket sekolah mereka. Ku harap Yua tetap datang mendukungku bersama Yuu-chan, Mirai pasrah.

“Mirai, sepertinya aku gak bisa datang ke pertandingan babak penyisihan pertamamu. Aku dapat pesan dari Meiko ada sedikit masalah di kepanitiaan upacara kelulusan, sehingga akhir pekan ini diadakan rapat dadakan. Gomenne. Aku janji akan datang di babak penyisihan kedua, semi final hingga final. Jadi kamu harus janji untuk terus berjuang meski aku gak nonton ya!”

Yua merasa sangat tidak enak kepada sahabatnya itu, karena sebelumnya dia sudah seenaknya membatalkan janji yang sudah mereka buat, hanya karena Chinen-senpai mengajaknya ke ‘pesta perpisahan klub sepak bola’. Padahal waktu itu Yugo juga mengajak Mirai, namun dia menolaknya karena sudah terlanjur membuat janji dengan Yua, tapi Yua malah menerima ajakan Chinen-senpai karena beranggapan Mirai akan menerima ajakan Yugo juga. Yua sangat terkejut saat bertemu Yugo seorang diri di acara tersebut dan merasa menyesal hingga hari ini.

“Astaga, kenapa bisa begitu? Repot juga ya jadi Seitokai. Padahal acaranya kurang dua minggu lagi. Apalagi kamu jadi ketua pelaksana tahun ini.”

“Aku beruntung ada Meiko yang selalu membantuku. Dia kouhai yang sangat bertanggung jawab. Tidak cuma cantik, tapi juga baik hati. Kalau aku cowok, pasti sudah lama naksir sama dia!”

“Jadi, kalau kamu cowok, bukan aku nih cewek pertama yang kamu taksir?”

“Aduh, Mirai sayang. Meskipun aku bukan cowok, bahkan sekarang pun dalam bentuk cewek gini, aku sudah naksir berat sama kamu! Mumumumu.” Yua memonyongkan bibirnya, menggoda sahabatnya itu.

“Kimochi warui.” Mirai menempelkan uchiwa bergambar Yugo ke bibir monyong Yua. Uchiwa yang selalu dia bawa ketika menyemangati kekasihnya itu saat sedang bertanding.

“Apa boleh buat, aku akan memaafkanmu kali ini karena ini urusan yang sangat penting. Lagipula, jangan meremehkan kekuatan Mirai! Pasti tim basket putri sekolah kita bisa mencapai final!”

“Oke percaya! Aku akan tetap menemanimu latihan setiap pagi dan sore kalau aku sedang gak ada kesibukan.”

“Sankyuu, honey.” Mirai memeluk Yua, lalu mencium pipi sahabatnya itu.

“Jangan pernah bayangin aku sebagai pengganti Yuu-chan, okey!?”

“Ya enggak lah. Kalau Yuu-chan, mana mungkin cuma aku kecup pipinya. Bibir Yuu-chan lebih menarik dari sekedar pipi bakpaumu tahu!”

“Gak usah pamer deh. Aku belum tertarik buat pacaran meskipun kamu panas-panasin kayak gimanapun!”

“Apa kabar hubunganmu dengan Chinen-senpai?” Mirai gemas untuk tidak menanyakannya.

“Ah, eh.” Melihat gelagat mencurigakan sahabatnya itu, Mirai semakin curiga.

“Gak usah ‘ah eh’ melulu. Jujur saja kalau kalian sudah pacaran. Minggu lalu saja, kamu sampai membatalkan rencana kita demi pergi dengan Chinen-senpai.”

“Mirai, itu salah paham okey. Kamu tahu aku salah mengira….”

“Iya iya aku paham, gak perlu dijelasin lagi. Tapi beneran nih, kalian belum pacaran?”

“Aku gak tau.” Yua sendiri bingung untuk menjelaskan tentang hubungannya dengan Chinen-senpai. Dia sendiri sudah jelas-jelas mengatakan kepada Chinen-senpai kalau dia belum mau berpacaran. TAPI,

“Ada yang gak bisa kamu ceritakan ke aku?” Mirai mulai merayu sahabatnya agar menceritakan kisah mereka.

“Kamu tahu kan kalau aku masih gak mau pacaran?! Dan aku sudah mengatakannya padanya, tapi….”

“Wait, wait, kamu sudah mengatakannya? Chinen-senpai sudah ngajak kamu jadian? Serius? Baru juga dekat seminggu?”

“Nah itu masalahnya, aku merasa gak kenal Chinen-senpai sama sekali! Masa’ iya aku harus nanya-nanya ke Yuu-chan masalah kayak gini?! Kita kenal masih bentaaaaaaar banget! Dan dia sudah ngajak aku jadian. Gak ada pilihan lain kan selain menolaknya dengan alasan belum saling mengenal. Tapi….”

“Tapi apalagi?”

“Dia keukeuh banget buat ngedeketi aku! Dia cowok pertama yang tetep maju setelah aku tolak, dalam jangka waktu 0 hari. Ibarat dia gak aku tolak sama sekali. Seolah dia menganggap jawabanku bukan penolakan, tapi pemberian kesempatan buat kita saling mengenal. Aku gak tahu bagaimana harus menghadapi orang seperti itu. Jadi aku juga beralasan ke dia untuk tidak menggangguku karena aku sibuk mengurusi kepanitiaan upacara kelulusannya.”

“Perasaanmu sendiri bagaimana?”

“Aku gak tahu. Aku belum pernah merasakan hal yang seperti ini. Untuk pertama kali rasanya aku gak ingin lari dari cowok. Rasanya seperti, selama itu Chinen-kun, daijoubu ka na~? Entahlah.”

“Apa kamu masih mengharapkan Yamada-senpai?”

“Jangan bercanda, Mirai. Tahu sendiri kalau aku suka dengan Yamada-senpai karena tahu dia gak akan pernah melirikku?! Lagipula, apa kamu tahu kalau Yamada-senpai itu ternyata orang yang posesif banget?”

“He? Maji desuka? Belum pernah dengar tuh.”

“Jadi, kemarin itu waktu di acara pesta perpisahan, senpaitachi sepertinya sedang bercanda, seenggaknya itu semua sekarang sudah jadi bahan bercandaan buat mereka, mereka menggoda Yamada-senpai yang pernah dengan sengaja berhenti di tengah jalan penyebrangan meskipun lampu sudah hijau, berharap ada mobil yang menabraknya, tapi malah berakhir dengan dia dimaki-maki semua orang yang lewat karena dianggap sudah gila. Apa kamu tahu sebabnya?”

“Cewek?”

“Yups, itu cuma gara-gara dia diputusin sama cinta monyetnya. Makanya, sampai sekarang Yamada-senpai agak anti dengan cewek. Ternyata itu sebabnya!”

“Wah parah juga ternyata! Gak bisa bayangin kalau kamu sampai jadian sama orang macam gitu. Bisa bisa Yuu-chan jadi korban pertama karena dianggap terlalu dekat denganmu.”

“Bisa jadi bisa jadi. Terus kamu jadi jones lagi!”

“Sialan.” Mirai menggelitik Yua, mengetahui kelemahan terbesar sahabatnya. Di sela-sela kejahilannya, Mirai memaksa untuk menanyakan kepastian Yua, “Jadi kamu bakal menerima Chinen-senpai?”

“Entahlah.”

*****

Upacara kelulusan berjalan dengan lancar. Mirai menemani Yua untuk mencari Chinen-senpai. Chinen-senpai sedang sibuk menyalami para fans juniornya yang kebanyakan perempuan, sedangkan anak laki-laki lebih memilih mengerubungi Yamada-senpai, meskipun harus berebut dengan fans Yamada-senpai yang perempuan tentunya. Setelah melihat Yua yang berdiri agak jauh darinya, Chinen memutuskan untuk mengakhiri acara jumpa fansnya lalu berjalan ke arah parkiran sambil melirik dan tersenyum kepada Yua bertanda Yua harus mengikutinya.

“Apa aku harus ikut juga?” Mirai menanyakan pertanyaan yang sudah jelas dia tahu jawabannya, hanya sekedar meyakinkan lagi keputusan sahabatnya.

“Aku butuh kamu, Mirai. Jangan pernah tinggalkan sisiku.” Mirai dan Yua berjalan menuju parkiran, tempat Chinen-senpai berada.

“Hei, Mirai-chan. Hei, Yua sayang.”

Ternyata benar, Chinen-senpai sudah tidak ragu memanggil Yua dengan sebutan sayang, padahal mereka belum pacaran. Mirai sempat kaget ketika Yua menceritakan kalau Chinen-senpai sering memanggilnya sayang seolah mereka sudah berpacaran. Sebagai jawaban pernyataan cinta Chinen, ada yang harus dilakukan Yua hari ini.

“Ano, Chinen-kun. Apa aku boleh meminta kancing keduamu?” Tangan Yua meremas tangan Mirai. Mirai bisa merasakan keringat dingin yang keluar dari tangan sahabatnya, saking gugupnya.

“Jangankan kancing kedua, seluruh kancing bajuku pun akan aku berikan ke kamu, sayang.” Chinen tersenyum, menggoda Yua sambil mengulurkan tangannya yang sudah menggenggam sebuah kancing. Yua mendongakkan kepalanya, memastikan itu benar kancing kedua yang diberikan oleh pemuda di hadapannya itu. Yua mengulurkan tangannya, menerima kancing itu, lalu menggenggamnya, meletakkan genggaman tangannya di dekat jantungnya yang saat ini berdegup sangat cepat.

“Jadi?” Chinen memandang gadis di depannya, tidak bisa menahan senyum karena merasa yakin dengan jawaban yang akan diberikan.

“Aku mau menjadi pacarmu.” Meskipun angin musim dingin masih terasa sangat menusuk, pipi Yua tidak merasakan sensasinya, panas yang teramat malah dia rasakan. Kedua tangan Chinen sekarang telah merengkuh pipi Yua, menyadari bahwa saat ini gadis itu sangat malu hingga tak mampu memandang wajahnya.

Mirai perlahan melepaskan genggaman tangan Yua yang mulai kendur dan menyaksikan kebahagiaan sahabatnya dari jarak cukup jauh untuk membuat keduanya nyaman. “Arigatou, Yua-chan.”

Mendengar suara Chinen yang semakin dekat, membuat Yua memberanikan diri untuk memandang wajah pemuda yang sekarang sudah menjadi kekasihnya itu. Tampak kebahagiaan yang sangat nyata di kedua mata pemuda itu, membuat Yua merasa bahagia dan tersenyum padanya. “Apa sekarang aku boleh memelukmu?”

“Boleh, tapi cuma sebentar ya. Takut banyak orang yang akan datang kemari setelah ini.” Chinen memeluk gadis itu dengan penuh sayang.

“Apa aku boleh memanggilmu Yuri-kun?”

“Kau boleh memanggilku apa saja. Mau kembali ke dalam? Di luar sini dingin.” Chinen menarik tangan Yua, memasukkannya ke dalam mantel yang dikenakannya, menggenggam lembut tangan mungil yang berhasil diraihnya.

“Bukannya Yuri-kun sudah berpamitan untuk pulang?”

“Tidak apa, itu hanya alasanku untuk bisa bertemu denganmu. Lagipula masih ada beberapa teman yang harus aku temui.” Mereka berdua berjalan kembali menuju aula sekolah. Sembari menunggu Chinen menanggalkan mantelnya, Yua melihat Meiko sedang berbincang dengan salah seorang kakak kelas di kejauhan. Meskipun masih kelas satu, Meiko cukup populer di kalangan senpaitachi. Begitu sampai di aula, Chinen langsung diserbu oleh teman-temannya, membuat mereka terpisah lagi.

“Ciyeee, yang sudah resmi jadian. Jangan lupa PeJe, pajak jadiannya ya.” Mirai tiba-tiba muncul entah darimana bersama Jesse untuk menggodanya.

“Aku saja dari dulu belum pernah tuh dapet pajak jadian dari kamu ataupun Yuu-chan! Ah iya, ngomong-ngomong di mana Yuu-chan? Aku dari tadi belum melihatnya.”

“Tuh yang dicariin lagi jalan kemari. Panjang umur.” Jesse menunjuk ke arah Yugo yang sedang berlari, tampak begitu bersemangat, ke arah mereka.

“Hei, dengar dengar! Aku punya kabar bagus!” Seru Yugo bersemangat dengan nafas terengah-engah karena habis berlari.

“Kita juga punya kabar bagus!” Mirai membalas seruan Yugo dengan tidak kalah bersemangatnya.

“Oke kita suit untuk menentukan siapa yang berhak menceritakan kabar bagusnya duluan.” Yugo menantang Mirai dengan penuh percaya diri. Karena selama ini, belum pernah Yugo kalah suit dari Mirai. Dan tentu saja, Yugo menang.

“Kalian tahu Kurenai-senpai? Itu lhoo, yang terkenal gak cuma pintar tapi juga cantik dan baik hati?”

“Yuki-senpai? Kurenai Yuki, kan? Kita satu SMP dengan dia kan, Yuu?!” Yua merasa familiar dengan nama yang disebutkan Yugo.

“Yup, betul banget. Kurenai Yuki. Sebenarnya, ini hanya gosip yang boleh beredar di kalangan anggota klub sepak bola. Tapi aku tidak bisa tidak membagi kabar ini dengan kalian.”

“Ada apa dengan Yuki-senpai sih, Yuu-chan? Jangan berbelit-belit dong ceritanya!!” Mirai memaksa Yugo untuk cepat menyampaikan kabar apa yang ingin dia sampaikan.

“Jadi sudah lama sekali kita semua, anak klub sepak bola, tahu kalau Chinen-kun sangat menyukai Kurenai-senpai.” Deg. Mendengar nama Chinen disebut, Yua, Mirai dan Jesse saling berpandangan.

“Ini tadi, tiba-tiba Kurenai-senpai datang ke tempat kami dan meminta waktu untuk berbicara dengan Chinen-kun!? Coba tebak kira-kira apa yang mereka bicarakan? Kalau aku sih yakin, pasti akhirnya Kurenai-senpai membalas perasaan Chinen-kun! Secara kurang apa coba Chinen-kun? Dia baik, populer, dan cukup pintar juga! Pasti mereka jadian setelah ini!” Bukannya wajah senang, Yugo malah mendapat ekspresi tidak senang dari Mirai dan Jesse, dan kecewa dari wajah Yua.

“Uso, deshou. Jadi aku cuma dijadikan pelarian saja?” Meskipun Yua menerima Chinen tanpa dilandasi rasa yang sama, tapi mengetahui bukan satu-satunya yang disukai Chinen, membuat Yua meneteskan air mata kekecewaan.  Mirai menarik Yua ke dalam dekapan, menyembunyikan tangis sahabatnya itu dalam pelukannya. Yugo bingung dengan apa yang sudah terjadi. Apa yang sudah diperbuatnya sehingga membuat sahabatnya menangis? Dia memandang bingung ke arah Jesse, meminta penjelasan.

“Kamu tahu Yugo, Yua-chan baru saja memberikan jawaban kepada Chinen-kun.”

“Tunggu dulu. Chii-chan dan Chinen-kun? Apa ini, Chii-chan? Kenapa aku gak tahu sama sekali?” Merasa bodoh karena tidak tahu apa-apa, tidak ada yang bisa dilakukan Yugo selain mendekap dua gadis yang sangat disayanginya itu ke dalam pelukan.

“Aku akan menanyakan langsung ke Yuri-kun. Pasti ini hanya salah paham.” Yua berusaha melepaskan diri dari pelukan kedua sahabatnya.

“Gak hari ini, Chii-chan. Hari ini kamu gak boleh kemana-mana dengan wajah seperti itu. Kita pulang.” Yugo menarik kembali Yua ke dalam pelukannya, menuntunnya keluar aula sekolah, masih dalam pelukannya. Mirai dan Jesse mengikuti mereka berdua dalam diam, tidak ada yang perlu mereka bicarakan, untuk saat ini.

ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ ϞϞ

Advertisements

4 thoughts on “[Multichapter] Desire Or Love? (Chap 2)

  1. magentaclover

    Kesel masa sama chinen wkwkwk kasian yua kalo beneran jd pelarian tp chinen di sini agresif ya xD trs mirai tuh ga cemburu ya yugo begitu ke yua? Walau sahabat masa sih ga cemburu 😮

    Reply
  2. elsaindahmustika

    aaaaaa nyesek nyesek nyesek! kasian yua :”v chinen nya disini percaya diri banget ya, trus aku kurang paham sih kenapa harus kancing kedua.__. yugooo, lagi lagi yugo keren! gak disini gak di ff kak din, tar kalo ladur ke yugo gimana😂 #peluk shin *oi lanjutkan kakkkkk!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s