[Multichapter] Little Things Called Love (#8)

Little Things Called Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 8)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13 agak NC sih chapter ini.. 😛
Starring: Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Tanaka Juri, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Jesse Lewis (SixTONES); Ichigo Yua, Kimura Aika, Kirie Hazuki, Mizutani Ruika, Takahara Airin, Matsumura Sonata (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Untitled-1

“YEEAAYYY!!” Shintaro menghampiri meja dimana Sonata duduk, “LIBURAAANNN!!” tangannya terkepal, wajahnya sumringah, Sonata mengasumsikan fase patah hati cowok itu sudah berakhir seminggu lalu, entahlah. Sonata tidak berani bertanya, hanya menginformasikan bahwa Airin tidak bersedia untuk kembali memiliki hubungan istimewa dengan pemuda itu.

“Liburan slash kerja kali ah plus belajar,” muka Sonata tetap masam, mengingat dirinya akan bekerja penuh waktu di liburan kali ini, tapi Kouchi-sensei sudah berjanji menambah jam belajar mereka. Ujian masuk kuliah akan segera dilaksanakan setelah liburan musim panas.

Shintaro duduk di meja Sonata, “Tapi dapet libur juga kan di tempat kerja?”

“Iya dong, ada sih liburannya, Shin-kun liburan ke mana?” Sonata membereskan buku-buku yang ada di kolong mejanya, bersiap untuk pulang.

“Aku juga kerja dong, sekolah chef kan tidak murah,” mimpi Shintaro menjadi chef memang sudah sering ia utarakan.

Ganbatte ne, Shin-kun,” Sonata sudah selesai membereskan barang-barangnya, kini ia sudah berdiri hendak meninggalkan kelas, “Aku pulang duluan ya,” sejak Shintaro dan Airin putus, Sonata akan pulang bersama Airin sementara Shintaro harus pulang sendirian.

“Sona!” gadis itu sudah di ambang pintu kelas kini menoleh kepada Shintaro, “Besok belum kerja, kan?”

Besok hari sabtu dan kerjanya di mulai hari senin nanti, “Iya lah, kenapa memangnya?”

“Jalan yuk, besok! Maksudku, antar aku beli sepatu untuk kerja,” ucapnya lagi.

“Boleh deh, aku juga mau beli sesuatu! Ya udah sampai ketemu besok!” Sonata berjalan keluar dari kelas.

“Shin-kun, pernah berpikir tidak untuk menyukai Sona-chan?”

Jawabannya TIDAK. Bagi Shintaro agak aneh berpikir mengenai Sonata dengan romantis. Baginya Sonata adalah gadis yang bisa ia ajak bicara soal apapun. Sifat Sonata yang apa adanya dan cenderung agak tomboy bagi Shintaro sangat asyik sebagai teman. Shintaro tidak pernah memikirkan kemungkinan mereka menjadi pacar. Sebaliknya Airin adalah perempuan yang selama ini menjadi ‘incaran’nya. Bagi Shintaro Airin adalah gadis yang paling mendekati tipe idealnya, feminin dan berambut panjang.

“Shin-kun, pernah berpikir tidak untuk menyukai Sona-chan?”

Bukannya jika menyukai seseorang haruslah tertarik terlebih dahulu? Sonata hanyalah temannya, tapi karena perkataan Airin tempo hari Shintaro jadi kepikiran. Bagaimana jika dia memang ada potensi menyukai Sonata? Entahlah. Lama-lama kepalanya bisa sakit gara-gara memikirkan ini semua.

***

Ada satu rahasia yang belum pernah Airin ceritakan pada siapapun. Bahkan kepada Shintaro atau Sonata sekalipun. Airin tidak bisa menceritakannya kepada Sonata karena ini berkaitan dengan Hokuto, kakaknya Sonata sendiri. Kejadiannya sudah cukup lama, waktu itu Airin secara sembunyi-sembunyi mengajak Hokuto untuk ‘kencan’, alasannya Airin ingin membelikan Sonata hadiah ulang tahun, sehingga Hokuto pun setuju untuk pergi dengannya.

Airin mengajak Hokuto ke bioskop terlebih dahulu. Hokuto menyetujuinya, lagipula memang waktu itu akhir minggu dan mereka sudah masuk liburan musim panas. Setelah nonton, Hokuto mengajak Airin beli es krim dan akhirnya membelikan Sonata hadiah ulang tahunnya. Seperti rencana mereka saat pergi.

Arigatou, Hoku-nii, hari ini menyenangkan,” ucap Airin sat itu.

“Sama –sama,” jawabnya

Dengan alasan yang Airin tidak tau, Hokuto memandanginya lama. Hokuto duduk disebelah Airin, menunggu bis datang di sebuah halte.

“Ada yang salah?” tanya Airin mulai mengecek dandanannya.

“Tidak…” Hokuto tiba-tiba meraih tangan Airin.

“Hoku-nii?”

Airin tidak tau apa yang terjadi pada Hokuto karena setelah itu mereka memang tetap dekat, hingga Hokuto meminta maaf bahwa mereka tidak bisa melanjutkan hubungan itu. Hokuto memang semakin sibuk, apalagi bibi jadi sering sakit-sakitan, Hokuto mengambil pekerjaan lebih banyak dari yang seharusnya, waktunya tidak lagi ada untuk sekedar menanyakan kabar Airin.

“Terima kasih Ai-chan, tapi untuk sekarang aku tidak bisa bersamamu dan lagipula, kau sudah seperti adikku sendiri,” lalu kata-kata itu yang keluar dari mulut Hokuto saat Airin akhirnya menyatakan perasaannya, karena menunggu Hokuto menegaskan hubungan mereka itu apa sepertinya sulit sekali. Hari itu ketika mereka berkencan, Airin mengambil fotonya berdua bersama Hokuto lewat kamera depannya. Airin mencoba terus membuat Hokuto kembali padanya tapi hingga hari ini, saat ia menatap fotonya berdua dengan Hokuto, nyatanya pemua itu masih sellau jauh dari jangkauannya.

***

“Sudah siap semuanya?” Taiga mengambil gitar milik Juri dan memasukannya ke dalam bagasi, “Pastikan tidak ada yang tertinggal ya,”

“Bentar-bentar,” Aika berlari kembali ke studio, “Scarfku ketinggalan!!” ucapnya sambil berlari.

“Aduh dasar cewek,” keluh Taiga mengamati lagi barang bawaan mereka yang cukup banyak. Festival yang mereka tunggu-tunggu akhirnya datang. Akhir minggu ini mereka akan tampil sebelum memasuki liburan musim panas.

Lima menit kemudian Aika sudah kembali ke bawah, dan tak lama kemudian mobil sport merah yang familiar menepi di sebelah bus kecil yang akan dipakai mereka pergi. Aika hanya bisa bengong ketika melihat Jesse melagkah keluar dari mobil itu.

“Aku akan antar kamu ke sana,” ucapnya kepada Aika.

“Eh?! Ngapain?” mata Aika secara otomatis melirik Juri, yang… terlihat marah, “Tidak perlu. Aku akan baik-baik saja, ada Juri-kun, Taiga-kun dan Kouchi-kun yang akan menjagaku, lagipula bareng Hazuki juga ko,” ucap Aika buru-buru.

Jesse menggeleng, “Tidak Aika, ini permintaan khusus Ayah, aku harus mengantarmu,”

Mendengar kata ‘Ayah’ keluar dari mulut Jesse membuat Juri ingin segera mencekik leher Jesse saat itu juga.

“Sudahlah, kau naik mobil dengan Lewis-san,” kesabaran Taiga sudah habis dan harusnya mereka sekarang sudah pergi, “Ayo!”

“Tapi Taiga-kun….” Aika manyun tak terima dengan ucapan Taiga yang semena-mena.

“Kalau begitu pacarmu harus ikut mobil kita, bagaimana?”

“Jesse-kun tidak usah ikut, ya?” Aika masih berharap Jesse tidak merusak liburan ini. Padahal rencananya dngan Juri sudah matang.

Jesse berjalan ke mobilnya, mengambil tas dari kursi belakang, “Oke, aku ikut kalian,”

ERRRGGGHHH… dan Aika sudah tidak bisa protes lagi.

.

.

Suasana di mobil tiba-tiba terasa canggung. Taiga duduk di depan, sementara Juri akhirnya duduk bersebelahan dengan Kouchi dan Hazuki duduk di belakang karena Jesse menarik Aika duduk dengannya.

“Jesse-kun, kan tidak usah ikut, aku akan baik-baik saja,”

“Ayahmu sendiri yang meneleponku dan memintaku untuk ikut denganmu, jadi jangan protes lagi ya,”

Ayah Aika memang semakin membuat gadis itu gila. Setelah mengadakan pertunangan dadakan, tidak seperti biasanya Ayah dan Ibu jadi sering berada di Jepang. Jesse pun beberapa kali datang ke rumah untuk makan malam bersama. Ibu bahkan meminta untuk mereka segera saja menikah yang ditolak mentah-mentah oleh Aika, dan untungnya Jesse pun menolak gagasan itu. Mengingat mereka masih kuliah, Jesse pun tak ingin terburu-buru.

Sementara itu hubungannya dengan Juri sebenarnya semakin dekat. Walaupun hingga sekarang Juri tidak berani untuk mengakui bahwa mereka sudah berpacaran, Aika selalu mencari cara agar bisa berduaan dengan Juri. Dari datang ke studio beberapa jam lebih awal, sampai mengunjungi kediaman Tanaka lebih sering. Sejujurnya itu membuat Aika merasa bersalah pada Ayah, tapi Aika pun tak mau berjauhan dengan Juri sehingga biarlah mereka sekarang masih ‘berteman’ saja.

“Kou, aku tidak tau kau sekarang di band ini,” Jesse menoleh pada Kouchi yang duduk tepat di seberang dirinya dan Aika.

Kouchi terkekeh, “Aku memberi taumu… ingat tidak? Kau terlalu sibuk mempersiapkan pernikahanmu atau apa? Ahahaha,”

“UHUK!” Juri mengelap bibirnya yang ketumpahan air minum gara-gara tersedak mendengar ucapan Kouchi, “UHUK!!”

“Kau baik-baik saja?” tanya Jesse kepada Juri, yang tidak ditanggapi oleh pemuda itu. Sementara itu Aika lebih memilih untuk menatap ke luar jendela, hancur sudah liburannya kali ini.

***

“Aku jatuh cinta, pada sahabatku sendiri, saat ini sahabatku jatuh cinta pada orang lain, bagaimana menurutmu?!” Berapa kali pun Yua mencoba melupakan perkataan itu, rasanya terlalu menempel di otaknya seperti permen karet yang sulit terlepas jika menempel pada rambut, ditambah dengan wajah Kouchi yang serius dan matanya yang langsung menatap mata Yua, tidak ada kebohongan di sana.

Kouchi Yugo adalah bagian dari hidupnya selama ini. SEUMUR HIDUPNYA. Memikirkan bahwa setelah hari itu Kouchi menyatakan cintanya dan entah bagaimana harus ia jawab, membuatnya sedih. Bagaimana jika Kouchi sejak hari itu tidak bisa lagi menjadi sahabatnya? Bagaimana dia harus melanjutkan kehidupannya tanpa teriakan Kouchi, dengkuran pemuda itu, tawa mengesalkannya. Seminggu ini saja dia merasa kesepian dan ini membuatnya sangat sedih.

Yua terus mencoba mengingat-ingat bagaimana bisa seorang Kouchi Yugo menyukainya lebih dari sahabat? Sejak kapan tepatnya? Sikap mereka satu sama lain tidak pernah berubah. Lagipula, Kouchi bukan tipe cowok yang tidak populer. Dia punya banyak perempuan yang siap menjadi pacarnya bahkan sejak SMP, Kouchi hanya bilang tidak tertarik, dia malas pacaran karena menurutnya perempuan bisa sangat merepotkan. Kouchi juga pernah bercerita dia menyukai seseorang, dulu sekali saat mereka masih SMA, tapi tidak menjawab saat Yua memaksa Kouchi mengatakan siapa gadis itu?

“Ichigo-kun, maaf bisa tolong aku ambilkan apron di belakang?” suara supervisornya membuyarkan lamunan Yua.

Yua hanya mengangguk dan segera ke belakang untuk mengambil apron lebih di belakang. Ketika ia kembali, seorang pemuda berdiri membelakanginya, sepertinya ia kenal dengan pemuda itu.

“Ini partner kalian yang baru, untuk sekarang urusan cuci piring dan ambil bahan dia yang mengerjakan,”

Doumo. Morimoto Shintaro desu. Yoroshiku onegaishimasu,

“Eh? Shintaro-kun!” ucap Yua spontan.

“Yua-chan,” Shintaro hanya bergumam melihat Yua berdiri tepat di hadapannya dan menyerahkan apron kepada Shintaro.

***

Baru kali ini Sonata akan pergi bersama Shintaro tapi deg degannya setengah hidup. Padahal sudah jelas mereka hanya teman, lagipula Shintaro memang biasanya meminta Sonata untuk mengantarnya berbelanja. Memang sih, kalau dulu pasti ada acara mengajak Airin, tapi tak selalu Airin bisa ikut pergi dengan mereka.

Setelah ada drama mencari baju sampai lemarinya kosong, mencoba pakai parfum lalu merasa terlalu wangi, hingga make up yang bongkar pasang akhirnya Sonata memilih pakai jeans dan blouse warna biru langit kesukaannya. Sudah tidak ada waktu lagi sehingga Sonata harus berlari ke stasiun jika tidak ingin Shintaro marah padanya.

“Shin-kun!” Sonata melihat Shintaro di bangku tunggu stasiun, otomatis berdiri saat gadis itu menghampirinya, “Gomen aku agak telat,” ucap Sonata mengatur napasnya karena habis berlari.

Menggeleng, Shintaro sebenarnya agak surprise melihat dandanan Sonata hari ini, “Uhm.. tidak apa-apa, aku juga baru sampai. Ayo, berangkat,”

“Mulai kemarin malam aku kerja loh,” ucap Shintaro ketika keduanya sudah berada di dalam kereta menuju pusat kota. Keadaan kereta cukup ramai sehingga Shintaro harus berdiri sedangkan Sonata beruntung bisa duduk.

“Oh ya? Bagaimana? Betah tidak di sana?”

Shintaro menatap ke jendela luar kereta, “Uhm.. kurasa aku bisa beradaptasi sih, ada senpaiku juga di sana,”

Yokatta ne, Shin-kun,” Sonata tersenyum, “Semoga betah,” ucapnya lagi.

Shintaro mengangguk, “Arigatou,

Tiba di stasiun tujuan Shintaro dan Sonata menuju ke sebuah pusat perbelanjaan. Keduanya langsung masuk ke toko sepatu yang cukup besar. Shintaro berjalan ke tempat di mana sepatu pria berjajar, meneliti satu persatu sepatu yang ingin ia beli.

“Ada yang bisa saya bantu?”

Shintaro menunjuk sebuah sepatu berwarna putih, “Yang ini… eh?” saat ia menoleh, Shintaro cukup kaget, “Aniki!” serunya. Hokuto berdiri di sebelahnya dengan senyum mengembang.

“Eh? Hoku-nii?” Sonata yang menyadari keberadaan kakaknya pun kaget, “Ngapain di sini?!” serunya.

Hokuto menunjuk seragamnya, “kerja tentu saja, baka,” ucapnya sambil menjetikkan jarinya di dahi adik semata wayangnya itu.

Sonata menggosok-gosok dahinya kesal, “Sejak kapan?”

“Uhm, kurasa sebulan lalu, aku hanya membantu selama weekend saja. Lumayan untuk tambahan,” jelasnya.

Satu sisi Hokuto memang sangat keren. Bagi Shintaro keberadaan Hokuto adalah panutannya, tapi di sisi lain mengingat gadis pujaannya lebih memilih Hokuto, dia masih menimbang-nimbang haruskah ia menyelesaikan kekesalannya pada pemuda di hadapannya ini.

Souka,”

“Sebentar lagi aku istirahat, mau makan bareng?” tawar Hokuto. Keduanya hanya bisa mengangguk.

.

.

“Aku mau strawberry milk! Ada yang mau nitip?” tanya Sonata.

Mereka bertiga kini di taman depan pusat perbelanjaan, hanya ngemil saja karena belum terlalu lapar. Hokuto mengeluarkan beberapa lembar uang, “Belikan aku kopi ya,” ucapnya, “Kau mau apa?”

“Uhm… tidak usah,” jawab Shintaro cepat.

“Aku belikan teh saja ya!” Sonata segera berlari mencari mesin penjual otomatis.

“Mana Ai-chan?” tanya Hokuto, sebenarnya dia juga agak heran kenapa Airin tidak ikut dengan Sonata dan Shintaro. Biasanya tidak pernah terpisahkan mereka bertiga, apalagi setau Hokuto, Shintaro bahkan sudah pacaran dengan Airin.

Mata Shintaro bergerak-gerak, tampak sedikit tidak nyaman dengan pertanyaan itu, “Uhm… begitulah, Ai-chan sedang tidak bisa pergi,”

“Kau dan Ai-chan bertengkar?” Hokuto menyuapkan roti ke mulutnya. Shintaro tidak menjawab, hanya terus memasukkan makanan ke mulutnya, “Ai-chan gadis yang baik, kau harus menjaganya,”

“Hokuto-san,” tidak bijak mengatakan ini pada Hokuto, tapi Shintaro benar-benar penasaran dengan reaksi pemuda itu, “Ai-chan sebenarnya menyukai Hokuto-san,”

Berbeda dengan sangkaan Shintaro, Hokuto mengangguk, “Aku tau, tapi aku bukan orang yang ia butuhkan.”

“Bagaimana Hokuto-san bisa tau itu?”

Hokuto menatap Shintaro, “Maksudmu?”

“Bagaimana Hokuto-san bisa tau kalau bukan dirimu yang dibutuhkan Ai-chan? Bukannya hal itu hanya bisa ditentukan oleh Ai-chan sendiri? Pertanyaannya sekarang, apakah Ai-chan orang yang Hokuto-san butuhkan atau bukan?”

***

Festival telah usai. Pertunjukkan Party Five sore tadi cukup menghibur dan banyak sekali orang yang terlihat puas dengan penampilan mereka. Taiga mengajak keempat temannya, plus pacar Aika, untuk makan malam bersama. Tapi Juri menolak, begitu pula dengan Hazuki yang mengatakan bahwa dirinya capek. Jesse bilang dirinya dan Aika masih ada urusan penting, akhirnya hanya Kouchi yang kini menemaninya di bar.

“Kemana sih mereka?” Taiga masih menoleh mencari-cari personil yang lain, dan tidak ada tanda-tandanya.

“Juri sih tadi bilang mau tidur, entahlah,”

“Hazuki juga tidak bisa dihubungi,” Taiga kembali mengutak atik ponselnya tapi Hazuki sama sekali tidak mengangkat telepon atau membalas pesannya, “Ngomong-ngomong ku kira Yua-chan akan ikut hari ini,” Taiga mengembalikan ponselnya ke dalam saku celana.

Yua-chan. Bahkan Taiga sudah memanggilnya sedekat itu, “Yua sibuk, dia masih harus kerja saat weekend,” jawab Kouchi, dan aku tidak mengajaknya karena kemarin aku menyatakan cinta padanya, tambah Kouchi dalam hati.

“Padahal izin saja pada Aika, betul kan?” Taiga meneguk bir nya langsung dari botol ukuran kecil.

Kouchi mengangkat bahunya, “Entahlah,” akan sangat menyenangkan kalau kedudukannya sekarang Yua masih hanya berstatus sahabatnya dan mereka bisa liburan bersama.

“Yua-chan bilang kalian sahabat sejak kecil, bagaimana rasanya punya sahabat sejak kecil? Kau tidak pernah tertarik pada Yua?”

Kouchi meneguk birnya beberapa kali, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering, “Kami sudah terbiasa bersama, begitu saja,”

“Padahal Yua-chan cantik, dan dia juga termasuk orang yang care, dia serius tapi juga rasa humornya menarik, menurutku sih,” Taiga kembali meneguk birnya, “Kalau kau tak mau, buat aku saja ya Yua-chan nya, Ahahaha,”

Tiba-tiba saja Kouchi merasa marah, “Maksudmu?”

Taiga menepuk pelan bahu Kouchi, “Santai.. aku hanya bercanda,” ponsel Taiga berdering, pemuda itu otomatis mengangkatnya, “Ya? Hazuki? Sebentar aku ke sana,jangan kemana-mana!” Taiga mengeluarkan selembar uang sepuluh ribu yen, menyimpannya di atas meja bar, “Gomen, ini darurat!” bukannya Kouchi tidak memerhatikan, tapi Hazuki dan Taiga sudah memakai cincin serupa, Kouchi mengasumsikan bahwa keduanya benar-benar sudah tunangan. Yua harus segera tau, lebih baik patah hati sekarang daripada nanti, kan?

.

“Hazuki!! Buka pintunyaaa!!” Taiga mengetuk agak keras, beberapa saat kemudian Hazuki sudah ada di hadapannya, berurai air mata, “Kenapa lagi?”

Hazuki membiarkan Taiga masuk ke kamarnya, mendengarkan cerita mengenai pertemuannya dengan Juri sebelum ini. Ya, Hazuki sebenarnya diam-diam menemui Juri karena mereka tak sengaja bertemu di parkiran hotel tadi saat Hazuki berniat untuk makan malam sendirian.

“Kemana?” Juri menyapa Hazuki yang berdiri di depan lobby hotel tempat mereka menginap.

“Cari makan sih, aku sedang tidak ingin makanan hotel,” jawab Hazuki, “Mau bareng?” itu adalah pertama kalinya mereka mengobrol dengan normal setelah kejadian Hazuki melihat Juri berpelukan dengan Aika.  Ya, Hazuki memang sengaja menghindari Juri beberapa minggu belakangan. Janjinya untuk bahagia jika Juri bahagia ternyata lebih mudah diucapkan daripada dilaksanakan.

“Boleh,” Juri pun mengikuti Hazuki yang ternyata tau sebuah restoran sederhana yang tak jauh dari hotel, tapi menghadap langsung ke pantai sehingga deburan ombak terdengar langsung membuat suasana menjadi romantis.

Hazuki memesan beberapa menu andalan di restoran itu. Suasana cukup ramai mengingat festival memang masih berlangsung tak jauh dari tempat mereka menginap dan dari restoran ini. Juri hanya ikut makan apa saja yang di pesan oleh gadis itu.

“Apa kabarmu?” tanya Juri.

Hazuki mencoba tertawa, namun hasilnya malah terdengar seperti dipaksakan, “Baik, kita kan sering ketemu, kau ada-ada saja,”

“Hazuki, kau menghindari aku belakangan ini, memangnya aku tuli atau buta?” mata Juri yang langsung memandangi matanya membuat Hazuki salah tingkah.

Hazuki mengigit bibir bawahnya, rasa sedih menghantamnya hatinya, “Aku melihat Juri-kun berpelukan dengan Aika, dan kupikir…maksudku… aku bahagia, tentu saja, aku orang yang paling bahagia jika Juri-kun bahagia,” Hazuki meneguk air mineral di hadapannya, “Aku hanya merasa sedikit agak awkward dengan semuanya,” karena Juri terlihat lebih bahagia dan nyaman ketika bersama Aika.

Juri menunduk, “Gomen ne, Hazuki, jika itu membuatmu tidak nyaman, aku berhasil menyatakan cintaku dan ternyata, Aika memiliki perasaan yang sama denganku,”

AKU TAU, Juri tidak perlu menjelaskannya, batin Hazuki. Tidak sulit melihat senyum Aika yang berbeda dari biasanya, saling tatap keduanya saat latihan intensif mereka kemarin. Tapi, di lain sisi Hazuki tidak rela karena Juri membiarkan dirinya tersakiti dengan keadaan Aika yang sudah bertunangan dengan Jesse. Juri tidak seharusnya menerima keadaan itu begitu saja.

“Jadi karena itu sekarang setelah pulang dari pertemuanmu dengan Juri, kau menangis seperti orang bodoh?” Taiga selesai mendengarkan cerita Hazuki, bukannya menawarkan tissue atau pelukan hangat Taiga malah memarahinya.

“Tapi…tapi… Juri-kun seharusnya tidak begitu…”

“Lalu kau berharap bagaimana? Sekarang pikirkan, jika Juri tidak menyatakan cintanya pada Aika, memangnya dia akan memilihmu?” Hazuki menggeleng, “Tidak, kan? Juri sudah besar dan dia tau apa yang terbaik untuknya, lebih baik kau mengkhawatirkan dirimu sendiri,” ucap Taiga lagi.

Hazuki manyun, “Galak banget sih, aku kan lagi sedih,”

Dengan gemas Taiga menjawil pipi Hazuki, “Aku tau kau masih patah hati, tapi kalau memang seperti yang kau bilang kau menyayangi Juri dan akan bahagia jika dia bahagia, sudah saatnya kau menunjukkan hal itu dengan benar-benar bersikap dewasa bukan malah kabur sebelum makan malam kalian berakhir,” Ya, Hazuki memang kabur dari Juri tadi setelah marah-marah mengenai Aika dan Jesse kepada Juri, “Sudah selesai sedihnya?”

“Memangnya Taiga-kun mau ke mana?” tanya Hazuki, “Temani aku yuk, rasanya malam ini ingin minum,”

***

Ketika Jesse pulang dari tripnya bersama band milik Aika, setelah selesai mengantarkan tunangannya itu ke rumah dengan selamat, Jesse membawa mobil sport merahnya ke gedung tua yang sama, seperti hari-hari yang lalu dia akan ke sana untuk menuntaskan rindunya kepada Ruika, gadis yang memang ia cintai.

Jesse merasakan badannya agak pegal, ia menggeliat sebentar dan naik tangga agak cepat, mengetuk pintu kamar Ruika, “Ruika…”

Pintu terbuka dan Ruika menyambutnya dengan senyuman, “Masuk, aku masak kare kesukaanmu,” ucapnya manis.

Pemuda itu masuk dan memeluk gadisnya sebelum membuka sepatu dan duduk di depan televisi, menunggu Ruika mengambil makanan mereka ke atas meja kecil di tengah ruangan, “Bagaimana perjalanannya? Menyenangkan?” tanya Ruika. Jesse memang selalu jujur pada Ruika dan mengenai perjalanan kemarin pun Jesse memberi tau semuanya pada Ruika.

“Terpaksa harus naik bis, tapi lumayan lah, festivalnya keren,” jawab Jesse, memerhatikan Ruika yang mengambilkan nasi serta kare untuk dirinya, “Bagaimana denganmu? Harimu menyenangkan?” Jesse mengambil piring dari tangan Ruika, mulai makan dengan lahap.

“Lumayan, biasa saja, membosankan,” jawab Ruika.

“Kare buatanmu memang selalu enaaakk!!” seru Jesse, Ruika membiarkan pemuda itu makan sementara dirinya ke kamar, mengambil sebuah surat yang sudah lama ingin ia berikan bada Jesse.

“Jesse-kun, ini…” Jesse baru selesai makan dan melihat surat itu dengan dahi mengerenyit tak percaya.

“Apa maksudmu?”

“Aku mengundurkan diri, dari Lewis Bakery,” kata Ruika, tangannya menyerahkan sebuah surat bertulisan “RESIGN” di amplopnya, “dan dari hidupmu,”

Seakan kehilangan kata-kata, Jesse menatap Ruika tak percaya, “Kau pasti sedang emosi, sini biar aku buang suratmu…”

Tapi Ruika menggeleng pasti, “Aku sudah memikirkannya matang-matang dan ini keputusanku,”

“Ruika!! Jangan bercanda!” Jesse merengkuh bahu Ruika dengan kedua tangannya, “Aku sudah bilang aku akan menyelesaikan masalahku dengan Aika!”

Gadis itu menggeleng, “Ini bukan masalah kau akan mengakhirinya atau tidak, aku butuh dirimu menginginkan aku sebesar aku menginginkanmu. Nyatanya tidak begitu karena Jesse-kun masih butuh waktu untuk menentukan prioritasmu,” Jesse hendak buka suara namun Ruika mengangkat tangannya, menggeleng frustasi, “Prioritasmu untuk saat ini adalah karirmu, dan kupikir aku tidak mau mengganggumu,”

“Ruika… jangan bercanda aku membutuhkanmu!” Jesse terdengar gusar dan memeluk Ruika dengan erat, “Kumohon… jangan tinggalkan aku,”

Gomen, aku tidak bisa lagi, aku tidak bisa berpura-pura ini semua benar untuk dijalani, ini salah dan aku tidak ingin melanjutkannya,” air mata Ruika sudah mengkhianatinya, mengalir dengan deras membuatnya terisak-isak. Keputusannya sudah bulat, dan apapun yang terjadi ia sudah siap. Ruika mencintai Jesse, tapi ini cara yang salah untuk bersama-sama, Ruika tidak menginginkannya.

***

Berapa kalipun ponselnya bergetar dan berbunyi, Hazuki membiarkannya. Tidak ingin rasanya ia bangkit dari kasurnya, matanya terpejam, tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi tadi pagi sebelum mereka pulang ke Tokyo.

Terbangun dalam keadaan kepala pusing seperti terhantam palu memang resikonya karena malam itu ia mabuk. Hazuki memijat kepalanya, rasanya ia butuh aspirin sebelum perjalanan pulang nanti. Hazuki meraba kasurnya, mencari ponselnya yang mungkin jatuh di suatu tempat, tapi tidak juga ketemu.

“Eh?” Hazuki merasakan tangannya menyentuh sesuatu, tapi bukan ponsel, melainkan sebuah lengan, karena penasaran Hazuki membuka selimut yang menutupi tubuhnya, “KYAAAAA!” BRUK! Tubuh Hazuki sukses menghantam lantai yang untungnya dilapisi oleh karpet yang cukup tebal.

“Jangan ambil selimutnya, dingin Hazuki,” tubuh Taiga terekspos cahaya, terlihat lebih putih dari seharusnya.

TUNGGU SEBENTAR!! KENAPA TAIGA ADA DI ATAS KASURKU DAN TIDAK PAKAI BAJU?!!! Hazuki komat kamit berharap ini semua hanya mimpi, namun berapa kalipun ia menutup matanya dan membukanya kembali, hasilnya masih sama. Taiga yang hanya berbalutkan celana pendeknya dan dirinya sendiri yang tidak pakai apa-apa di balik selimut ini. SIAL!! SIALLLL!!!

“Taiga-kun…” Hazuki mencolek tubuh Taiga, “Taiga-kun…” suaranya bergetar.

Taiga membuka matanya, menatap Hazuki sambil tersenyum, “Morning sunshine, balik sini dong, aku kedinginan,” ucap Taiga lagi.

Hazuki menggeleng, “Kita.. tidak, kan?” BOLEH BERHARAP INI HANYA MIMPI KAN? Tambah Hazuki dalam hati, “IYA KAN?!”

“Menurutmu?” Taiga hanya tersenyum mencurigakan, lalu bangkit dari kasur, menghampiri Hazuki, “Hey, jangan melamun gitu…aku mandi duluan ya… atau mau bareng?” tanya Taiga yang lalu tersenyum nakal pada Hazuki yang masih berdiri dengan selimut melingkar di badannya.

“Kita…melakukan itu semalam?” tanya Hazuki bingung.

Taiga hanya tertawa ringan, “Semuanya akan baik-baik saja,” Taiga berlalu dan sempat-sempatnya mencium pelan dahi Hazuki sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Hasilnya, Hazuki pun kabur ke Tokyo sendirian pagi itu.

Ponselnya masih berdering, Taiga terus mencoba meneleponnya sejak Hazuki menghilang dari kamar pagi tadi. SIAL KUADRAT! Apa yang harus Hazuki lakukan sekarang?!

***

To Be Continue

 

Advertisements

5 thoughts on “[Multichapter] Little Things Called Love (#8)

  1. kiriechan

    astagaaaa… hanazuki sama taiga ngapaiiiin…
    aduuuh hanazuki udah nggak suci lagi karna taigaaaa
    kyaaaa >//////<

    Reply
  2. magentaclover

    Juri kenapa selalu sial sih keselek lah, jatoh lah 😂 tapi manis bangetttt >< lama2 aku ngerasa aika jd agresif bngt ke juri, maunya deket juri terus XD SUKAAAA!!!

    Hazuki beneran tuh dianu (?) sama taiga apa ini jebakan authornya pdhl mereka keujanan trs ya ga ada baju gitu? *apasi* 😂

    Ruika resign yeeeeyyy!!! Etapi entar jes gangguin aika 😮 etapi nanti ruika jd gimana ya tanpa jes? aku paling penasaran kisah ruika nih gimana kalo buat tokoh ceweknya

    Hoku sama airin kurang di gregetkan kak (?) Bagiku sih, entah lah tapi hehehe… shin x sona sejujurnya aku kalo jd authornya pun bingung mereka mau digimanain soalnya dua anak sma nyempil dikehidupan cinta orang dewasa *lupakan* mereka kayak punya plot sendiri kalo airin masih bisa lah soalnya dia naksirnya hoku.

    Terus si yua seriusan bngt ketemu shin? Aku was2 sama perasaannya shin 😂 kalo yua mah kayaknya masih mikirin omongannya kouchi sih… kayaknya….

    Reply
  3. elsaindahmustika

    haaaaaa kak dini mahhhh TwT /apaan?. Ituloh sona kayaknya gak ada celah banget buat dapetin hati shin😂shinnnnnnn why don’t you try to look at me?#plak😂 malah bikin khawatir gegara ketemu yuaaa :’v yua-chan lagi pusing mikirin kata2 kouchi sih ya tapi haha penasaran nih ntar mereka jadi canggung apa nggak xD trus ya hokunii working holic (?) banget sih ya sampe gak mikirin perasaannya gimana ke airin u,u semoga shin bisa sadarin, but masih susah kayaknya.. dan itu si jess tambah ancur dah wkwk, udah bikin suasana gaenak karna pake ngikut festival, kasian juri aika:’v eh lebih parah ruika sih.. EHHHHH LEBIH PARAH HAZUKI TAIGA!! ngapain itu mereka haha lanjutkan kak!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s