[Multichapter] Desire Or Love? (Chap 1)

Desire or Love?
By: kyomochii
Genre: Friendship, Romance, Drama
Rating: PG-13
Cast: Ichigo Yua, Morita Mirai (OC), Kouchi Yugo, Jesse (SixTONES), Chinen Yuri (HSJ), Aiba Masaki, Matsumoto Jun (Arashi) cuma numpang nempel nama
Disclaimer: Semua Cast cowok dalam cerita ini under talent agency Johnny’s & Associates dari berbagai grup yang berbeda, bisa ada, bisa tidak tiap chapternya, tergantung mood author :p
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

“Akhir-akhir ini sepertinya ada yang selalu memperhatikanku”

“Apa kamu yakin? Mungkin saja hanya perasaanmu, Yua-chan”

“Entahlah….”

Sudah dua bulan ini Yua menginap di tempat Mirai, sahabatnya. Mirai tinggal di asrama sekolah, karena kedua orang tuanya yang sibuk dan jarang di rumah. Selain itu, dia cukup beruntung untuk memperoleh fasilitas sekolah secara cuma-cuma berkat prestasinya di bidang olahraga. “Yasudah, kita harus tidur sekarang. Besok pagi kamu sudah janji mengantarkanku menemui Aiba-sensei“

“Okay. Oyasumi.” Mirai mematikan lampu tidurnya karena dia tahu sahabatnya akan lebih cepat tertidur dalam keadaan gelap gulita.

Keesokan pagi, setelah menemui Aiba-sensei, Yua mengantarkan Mirai ke ruang klub untuk menyimpan seragam tim basket putri. Di perjalanan menuju kelas, mereka berpapasan dengan Jesse. “Ohayou Mirai-chan, Ohayou Yua-chan!!”

“Ohayou Jesse-kun!!”

“Mirai-chan, kamu sudah mengambil seragam untuk tim basket putri?”

“Sudah dong! Kamu sudah mengambil seragam untuk tim putra?”

“Nah itu masalahnya! Aku telat bangun, jadi gak sempat ke tempat Aiba-sensei. Duuuh, mana Aiba-sensei harus pergi ke luar kota selama 3 pekan lagi! Mana keburu buat pertandingan penyisihan pertama dua pekan lagi.”

“Ya ampun Jesse-kun! Gomen, aku tidak sekalian meminta seragam tim putra ke Aiba-sensei. Andai aku lebih peduli.”

“Bukan salahmu, Mirai-chan.”

“Jess, ada titipan dari Aiba-sensei nih!” Tiba-tiba sesosok pemuda mungil muncul dari arah belakang Mirai dan Yua, membawa setumpuk seragam yang tampak penuh menutupi dadanya.

“Arigatou gozaimasu, Chinen-kun!” Jesse mengambil seragam tim basket putra dari rengkuhan pemuda itu.

“Tadi kebetulan aku dan teman-teman ke tempat Aiba-sensei untuk berpamitan. Aiba-sensei menitipkan seragam tim basket putra padaku karena kamu tidak datang juga. Untung saja ketemu di sini, berat tahu!”

“Gomenne Chinen-kun. Oh iya, Chinen-kun akan sekalian mengosongkan kamar hari ini? Perlu bantuan?”

“Belum kok, santai saja.” Teeeeeet, bunyi bel pertama tanda masuk ke sekolah.

“Tuh, sudah bel pertama. Bukannya kalian cuma punya waktu 5 menit sebelum bel pelajaran di mulai? Buruan balik ke kelas sana! Sampai ketemu di asrama Jesse, Mirai-chan, Yua-chan!!” Jesse, Mirai dan Yua segera berlari menuju kelas mereka yang terletak di lantai 3.

Yabaiii, gak ada waktu! Kita pasti telat. Guru pelajaran pertama Matsumoto-sensei yang terkenal killer lagi. Mampus sudah kita. Eh, tapi… tadi Chinen-senpai menyebut namaku juga? Kok dia tahu namaku? Apa dia kenal aku? Padahal aku gak bergabung dengan klub olahraga manapun! Apa karena aku sering bareng Mirai-chan? Bodo’ ah! Sampai di kelas tepat waktu lebih penting daripada mikirin Chinen-senpai! Yua kembali fokus berlari sekuat tenaga.

“Yua pengkhianat!” Mirai sedang mengadu pada Yugo, kekasihnya, tentang hukuman yang diberikan Matsumoto-sensei gara-gara 2 menit telat sampai di kelas. Terlebih lagi, Mirai sangat marah karena Jesse dan Yua sampai di kelas tepat waktu meninggalkannya di belakang.

“Habisnya kamu yang anak basket, bisa kalah sama Yua-chan yang gak ikut klub olahraga apapun! Kelihatan banget jarang latihannya!” Jesse bicara di sela-sela kesibukannya mengunyah kare-pan keduanya.

“Sudah sudah, gak enak dilihatin yang lain gara-gara meja kita paling berisik.” Yua mengitarkan pandangannya ke seisi kantin yang sejak tadi memperhatikan mereka, penasaran apa yang terjadi sehingga membuat Mirai menangis seperti itu.

“Chii-chan jago sih kalo urusan lari. Dia kan pencatat rekor tercepat untuk lari putri di angkatan kita! Sayang banget bakatnya ‘nol’ di olahraga lain.”

“Kamu niat muji apa ngejek sih, Yuu?” Yua memandang galak Yugo, sahabatnya dari kecil itu.

“Kamu sendiri, ikut klub sepak bola, padahal gak punya bakat sama sekali. Kasihan banget senpaitachi yang harus ninggalin kepercayaan klub ke orang-orang kayak kamu.”

“Ngomong-ngomong soal senpai, Chii-chan ada titipan salam dari Chinen-senpai lhoo.” Yugo selalu menggoda Yua setiap kali ada cowok yang tertarik mendekatinya.

“Apaan sih? Kenal aja enggak.” Tiba-tiba pipi Yua terasa panas. Yua memalingkan wajahnya ke arah berlawanan dengan teman-temannya, menepuk-nepuk pipinya, berharap tangannya dapat menghilangkan rasa panas di pipinya. Untuk pertama kalinya, Yua begitu senang saat ada cowok yang titip salam untuknya. Selama ini, Yua selalu berusaha menghindari cowok-cowok yang mendekatinya.

 

****

Ugh, perasaan ini lagi! Aku yakin, pasti ada yang sedang memperhatikanku. Yua dengan hati-hati mengedarkan perhatiannya ke sekeliling, tapi tidak terlihat seorangpun sedang memperhatikannya. Banyak anak-anak yang bergerombol di sana-sini, seperti biasa. Yua kembali memfokuskan perhatiannya ke manga yang ada di tangannya, berusaha menghilangkan kecurigaannya.

“Sendirian saja, Yua-chan?” Yua mendongakkan kepalanya, sedikit terkejut mendapati sosok pemuda yang sudah berdiri di hadapannya.

“Ah, eh.” Entah kenapa, rasanya canggung sekali menjawab pertanyaan sesederhana itu.

“Aku boleh duduk di sini?” Sepertinya pemuda itu tidak memerlukan jawaban, karena dia sudah duduk manis di samping Yua dengan santainya, tidak mengindahkan detak jantung Yua, yang tidak tahu mengapa seperti protes tidak siap ada cowok duduk di sebelahnya.

“Lagi-lagi kamu baca manga di sini ya, Yua-chan? Kamu baca serial apa sih? Pasti shoujo-manga ya? Shounen-ai? Atau BL?”

“Enak aja! Aku gak suka genre kayak gitu! Ini lagi baca Death Note. Genre yang aku suka itu, fantasy, horror, mistery, suspend, ya ada romance nya dikit lah buat pelengkap. Kalo gak gitu kan gak seru, gak ada bumbu-bumbunya kalo tegang terus. Haha.” Ups, aku terlalu bersemangat kalau lagi bahas genre manga. Apalagi, bahasaku sok santai banget sih. Yua menoleh ke arah pemuda di sebelahnya, mendapati pemuda itu sedang tersenyum, atau hampir tertawa? Emang ada yang lucu?

“Setiap lewat sini, aku selalu melihatmu membaca manga. Apa tidak dingin membaca manga di luar seperti ini?”

“Habisnya aku bukan asli penghuni asrama, kalau tidak bersama Mirai aku tidak enak mau masuk duluan. Dikasih ijin tinggal di kamar Mirai tanpa dipungut biaya sepeser pun sudah lebih dari cukup untukku.”

“Kamu masih akan tinggal dengan Mirai-chan sampai kapan?”

“Sebulan lagi, mungkin.” Yua tidak bisa memberi kepastian, karena jujur saja dia tidak tahu akan tinggal di asrama sampai kapan.

“Sayang sekali aku sudah harus keluar. Padahal aku selalu memperhatikanmu selama kamu tinggal di sini, tapi baru hari ini aku berani menyapamu.” Wait. Selalu memperhatikanku? Jangan bilang perasaanku yang selalu merasa ada yang memperhatikan itu benar? Dan orang itu sekarang ada di sebelahku, mengobrol denganku?

“Kalau dilihat dari dekat, kamu itu mirip karakter Misa amane ya. Coba kalau dikuncir dua, pasti sama kawaii-nya.” Uhhhh, aku gak boleh salting!  Yua mencoba mengalihkan perhatian pemuda di sebelahnya.

“Anoo…”

“Ah iya, Yua-chan, kamu suka strawberry?”

“Eh, kok tiba-tiba nanya itu?”

“Habis nama kamu kan Ichigo Yua. Ichigo artinya strawberry, mungkin saja berhubungan.” Yua menatap heran, menyadari pemuda itu ternyata sama salting dengannya dan berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.

“Ano senpai…”

“Chinen, panggil saja namaku. Toh sebentar lagi aku sudah tidak menjadi senpaimu.”

“Chinen….kun?” Yua meminta persetujuan dan dijawab anggukan serta seulas senyum oleh pemuda itu.

“Begini ya sen-, eh Chinen-kun, namaku tidak ada hubungannya dengan strawberry atau apa, terlebih itu nama keluargaku. Jadi dari kakek, ayah, kakakku semua juga bernama Ichigo. Tapi bukan berarti aku tidak suka strawberry, suka banget malah. Tapi tidak maniak juga sih.”

“Maniak strawberry itu seperti apa memang?” Chinen tertawa mendengar penjelasan Yua.

“Seperti Yamada-senpai, mungkin.”

“Kamu kenal Yamada? Kok bisa?” Chinen mengalihkan wajahnya menghadap Yua sepenuhnya, mencoba membaca ekspresi gadis itu, mencari penjelasan.

“Iya juga sih, dia lumayan populer. Selain jago sepak bola, dia juga ketua klub berkebun. Pasti Yua-chan mengidolakannya juga, kan?” Chinen berusaha memancing Yua, namun ekspresi gadis itu terlalu sulit dimengerti.

“Sen-, eh Chinen-kun kenal Yuu-chan? Yugo, Kouchi Yugo?” Chinen tidak mengerti apa hubungan Yugo, Yua dan Yamada.

“Kami selalu bersama sejak kecil, jadi aku sering sekali mendengar tentang Yamada-senpai darinya. Yuu-chan sangat mengidolakan Yamada-senpai.” Begitupun aku. Yua menambahkan dalam hati. Tidak hanya mengidolakan, Yua sebenarnya naksir berat dengan Yamada-senpai. Yua sering dengan sengaja menunggu Yugo selesai latihan demi mengikuti sahabatnya itu mengekor Yamada-senpai hingga ke stasiun. Entah kenapa, rasanya Yua tidak ingin Chinen mengetahui statusnya sebagai penggemar rahasia Yamada-senpai.

“Syukurlah kalau begitu, aku tidak perlu menjadi rival Yamada dalam urusan yang satu ini.”

“Urusan apa, Chinen-kun?” Yua tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan Chinen. Yua ingin menanyakan maksud Chinen, tapi Mirai dan Jesse sudah datang menghampiri mereka.

“Ciyeeeee, yang berdua-duaan. Kalau Yuu-chan tau…”

“Dameeee! Jangan kasih tahu Yuu-chan. Onegai…” Yua mendekap mulut Mirai dengan tatapan memohon agar tidak mengadu ke Yugo. Yua tidak ingin dijahili Yugo gara-gara urusan seperti ini.

“Oke, tapi kamu harus janji akhir pekan menemaniku latihan terus mengantarkanku cari hadiah buat Yuu-chan.”

“Hadiah buat apa?”

“Kamu tidak lupa ulang tahun Yuu-chan sebentar lagi, kan?!”

“Ah, itu. Okay!”

“Masuk yuk! Sumpah dingin banget di luar, daripada masuk angin!” Jesse mengajak teman-temannya untuk masuk ke asrama.

“Woiiii, kalian jangan tinggalin aku dong!” Yugo berlari ke arah teman-temannya, tidak sengaja menabrak Chinen, membuatnya terhuyung ke arah Yua. Wajah Chinen sekarang tepat di depan wajah Yua, tersenyum, manis sekali.

“Arigatou, Yua-chan.”

“Uhuk, uhuk.” Yugo sengaja menarik Yua ke dalam pelukannya begitu Chinen sudah berdiri tegak.

“Kalau mau mendekati Chii-chan, harus dapat ijin dulu dari aku.”

“Apaan sih, Yuu.” Yua memukul Yugo pelan tanpa berusaha melepaskan diri dari pelukan sahabatnya. Dia memerlukan pelukan, untuk menyembunyikan mukanya yang memerah.

***

To Be Continue~

Advertisements

4 thoughts on “[Multichapter] Desire Or Love? (Chap 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s