[Multichapter] Little Things Called Love (#7)

Little Things Called Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 7)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Tanaka Juri, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Jesse Lewis (SixTONES); Ichigo Yua, Kimura Aika, Kirie Hazuki, Mizutani Ruika, Takahara Airin, Matsumura Sonata (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Untitled-1

“Kau baik-baik saja?” pertanyaan yang sangat sederhana, dan seharusnya bisa dijawab secara sederhana juga. Ini bukan soal matematika atau fisika kuantum misalnya, ini hanya harus dijawab dengan ‘iya’ atau ‘tidak’. Masalahnya, Ruika sendiri tidak tau bagaimana keadaannya sekarang ini, “Mizutani-san,” suara Hokuto kembali mampir di telinganya, Ruika menatap Hokuto dengan matanya yang terasa berat, rasanya seperti tersengat lebah saking bengkaknya.

“Ini, kompres dulu matamu,” Hokuto yang sekarang hanya menggunakan kaos putih dan celana pendek selutut, terlalu terlihat seksi di mata Ruika yang baru saja menangisi kisah cintanya semalaman, di atas kasur Hokuto, yang kini menyerahkan lap yang sudah direndam di dalam air es pada Ruika.

Gara-gara Jesse, setelah bertengkar hebat Ruika di ‘amankan’ oleh Hokuto seharian di kamarnya. Hokuto tetap pergi bekerja, namun setelah memasak dan memastikan Ruika baik-baik saja. Karena kelelahan menangis, Ruika pun tertidur hingga pagi ini di terbangun dengan pemandangan Hokuto yang sepertinya, baru saja mandi. Beberapa kali menempelkan lap yang diberikan Hokuto rasanya sudah agak mendingan tapi kepalanya masih pusing.

“Makananmu kemarin tidak habis ya,” Hokuto sudah melihat sisa makanan Ruika di tempat cuci piring sepertinya, “mau teh pagi ini? Mau sarapan apa?”

Rasanya ingin menangis lagi, Ruika ingat kata-kata itu juga pernah terlontar dari mulut Jesse, saat pertama kali ia bermalam di apartemen Jesse, seminggu setelah kejadian di onsen. Jesse yang tersenyum kepadanya. Jesse yang hanya pakai celana pendek, topless, mengingatnya saja membuat Ruika merindukan pemuda itu. Jesse yang dengan manisnya memasak pancake untuknya pagi itu. Jesse-nya, yang juga sekarang mematahkan hatinya berkali-kali.

Secangkir teh hangat sudah tersimpan di hadapannya, Hokuto pun duduk di sebelah Ruika, “Aku tidak tau apa yang terjadi kemarin, tapi… kurasa lebih baik tidak berlarut-larut dalam kesedihan,” ucapnya.

“Jesse-kun itu, pacarku, uhm.. ya semacam itulah,” bahkan untuk menjelaskan statusnya bersama Jesse pun Ruika kebingungan, “Tapi, karena beberapa hal dia sekarang harus menjauhiku dulu, dan aku tak rela,”

Maksudnya bertunangan dengan sahabatku, Aika, Hokuto mendapati dirinya berada di antara dua pihak yang sama-sama kecewa pada Jesse, walaupun Hokuto agak curiga Aika belum tau soal hubungan Jesse dengan gadis lain ini.

“Oke, lebih baik kita sudahi saja omongan soal ini, bagaimana kalau kita jalan-jalan?”

“Jalan-jalan? Matsumura-san tidak kerja?”

“Ini kan hari sabtu, bagaimana? Anggap saja kita melupakan kesedihan hari ini,” dan baru kali ini Ruika benar-benar memerhatikan senyum Hokuto, rasanya tidak asing.

Ruika akhirnya mengangguk, sudah cukup ia menangis seharian kemarin, mungkin saatnya hari ini paling tidak bisa sedikit melupakan kesedihannya, “Kalau begitu, aku siap-siap dulu ya, Matsumura-san,”

***

“Hazuki, bangun…” lembut. Hazuki bisa merasakan jemari lentik membelai keningnya, menyibak helaian rambutnya

“Ngg…” jawabnya singkat.

Wake up, my sunshine…

Hazuki menggeliat, masih enggan membuka matanya.

“Hazuki-chaaann…” meneruskan usahanya. Orang yang sedari tadi memberikan sentuhan lembut itu, seorang berwajah cantik dengan rambut pirang terang, begitu kontras dengan kulitnya yang sangat putih. Pemuda itu menundukkan wajahnya, menyibak sebagian rambutnya sendiri yang jatuh tergerai, berusaha mendaratkan bibirnya tepat di bibir sang gadis yang tengah tertidur.

Hazuki perlahan membuka matanya

“Hyaaaaaa!! Taigaaa! Ngapain kamu?!!!” sontak, Hazuki mendorong Taiga menjauh. Bukannya menyerah Taiga kini menopang kepalanya dengan telapak tangannya, berbaring di sebelah Hazuki sambil tersenyum manis.

“Hey calon istriku, hari ini ada acara, ingat tidak?”

Masih dengan kesal Hazuki mencoba mendorong Taiga dari atas kasurnya, “Iiihh!! Sana pergi!! Pergi dari kamarkuuu!!”

Terima kasih atas sikap Taiga tempo hari, Hazuki kini merasakan desiran aneh di dadanya setiap kali pemuda itu menggodanya. Ya, memang sih Taiga masih mengesalkan, tapi dengan sikapnya justru kini Hazuki berpikir untuk membuka hatinya, kalau ia bisa melupakan Juri tentu saja.

“Ayo siap-siap!!” Hazuki baru sadar Taiga masih berbaring di hadapannya, “atau mau ciuman selamat pagi dulu?” Taiga memonyongkan bibirnya, mendekatkan wajahnya ke wajah Hazuki.

“EERRGH!! TAIGAAAA!!”

Taiga segera melompat dari atas kasur sambil masih tertawa puas bisa menggoda Hazuki. Satu-satunya gadis yang tidak mempan oleh rayuan Taiga biasanya. Taiga berjalan ke arah paviliun, bertemu beberapa pelayan yang mengabarkan bahwa sarapan sudah siap. Akhirnya Taiga memutuskan untuk ke ruang makan yang masih saja kental dengan suasana tradisional Jepang termasuk tatami dan pintu geser, membuatnya merasa sedang syuting drama kolosal. Berkunjung ke rumah Kirie memberikan kesan dia sedang berlibur ke penginapan ala Jepang.

Tak lama kemudian Hazuki masuk ke ruang makan, masih dengan mata mengantuk dan wajah super kesal pada Taiga, “Jangan sekali-kali lagi kamu bangunin aku kayak gitu!” seru Hazuki, ketenangan hari sabtunya musnah sudah gara-gara Taiga, “Lagian sudah kubilang jangan masuk kamarku sembarangan!” Hazuki mengambil sumpitnya dan mulai makan.

Taiga tidak menjawab, memilih untuk meneruskan makannya sambil menatap Hazuki. Bertahun-tahun berteman dengan Hazuki, Taiga sendiri sebenarnya tidak tau bagaimana melukiskan perasaannya terhadap Hazuki. Hokuto memang mendefinisikannya sebagai ‘suka’, bagi Taiga sendiri dia belum bisa mengklasifikasikan rasanya pada Hazuki. Bagi Taiga, Hazuki adalah mahluk berbeda jenis yang tidak bisa ia baca pikirannya.

“Ayo, kita sudah hampir telat,” Taiga melihat jam di tangan kirinya, lalu berdiri menunggu Hazuki selesai minum.

Hazuki masih mengomel, namun ikut juga mengekor pada Taiga hingga ke depan rumahnya. Sudah ada mobil Taiga di depan, Hazuki melihat Taiga berjalan ke kursi pemudi namun Hazuki menahannya, “Aku saja yang bawa ya…” untuk merayu Taiga, Hazuki menyunggingkan senyum terbaiknya.

Langkah Taiga tertahan, pemuda itu menatap Hazuki, “Kau yakin?” dijawab anggukan ang bersemangat dari Hazuki, “Okay!” Taiga melemparkan kunci mobilnya dan berjalan ke arah kursi penumpang.

“Okay… ini ya, kontaknya,” Hazuki memang jarang mengendarai mobil, tapi ya, dia punya izin mengemudi.

“Serius deh Hazuki,” Taiga terlihat panik dan Hazuki malah nyengir bahagia.

Mobil hitam itu keluar ke jalanan dengan cukup mulus. Taiga terlihat agak panik dengan menyimpan tangannya di pegangan pintu, “Hazuki… jangan kencang-kencang!!”

Dan dasar Hazuki jahil, dia mengemudi dengan kencang, sebenarnya memang Hazuki bisa mengemudi namun karena statusnya sebagai anak ayah, dia lebih sering diantar kemana-mana, “Ahahaha… aduh rasanya aku ingin memfotomu sekarang ini!!” Hazuki menoleh melihat wajah Taiga yang ngeri.

“HAZUKI!! LIHAT KE JALAANN!!”

Kumat lagi deh galaknya, batin Hazuki. Tapi dia senang bisa membalas perlakuan Taiga tadi pagi di kamarnya. Sukses membuat Taiga panik  itu suatu keberhasilan dan membuatnya ingin tertawa terbahak-bahak.

***

Berkali-kali Aika menatap jadwal bis di halte, tapi tak juga mengerti jalurnya, “Errr… googling aja deh,” putusnya akhirnya mencari cara naik bis ke tempat yang dia inginkan.

“Ternyata lebih cepat naik subway, aduh…” Aika menimbang-nimbang dan akhirnya memutuskan untuk mengikuti jalur yang diberikan oleh google. Apalagi bawaannya cukup banyak, tapi Aika menolak untuk diantar supirnya hari ini.

Setelah bingung cari tiket dan harus bertanya berkali-kali pada petugas, barulah Aika naik ke arah yang dia yakini benar. Sambil berdoa semoga dia tidak turun kelewat dari stasiun yang seharusnya. Baru kali ini Aika naik subway sendirian, biasanya kalaupun terpaksa naik, Aika terima beres dan tidak pusing kapan naik dan turun.

Aika terus menatap ke luar, namun kenapa dia tak juga menemukan stasiun yang seharusnya padahal di keterangan dikatakan bahwa harusnya Aika turun di stasiun ketiga, tapi ini sudah lewat sampai stasiun kelima. Karena panik, Aika pun turun di stasiun keenam, suasana stasiun ini agak sepi dan Aika jadi sedikit takut ia benar-benar tersesat. Ia pun memutuskan untuk menelepon, karena setengah dari dirinya sudah menyerah dan ingin sekali dijemput saja.

“Aika-chan, ada apa?” suara Juri di sebrang sana malah membutnya ingin menangis.

“Juri-kunnn… aku tersesat… hiks,” ditengah-tengah orang yang tidak dia kenal dan tidak tau dimana sangatlah menakutkan bagi seorang Aika.

“Ya ampun, memangnya kamu dimana?”

“Gak tau…. hiks… aku di kereta bawah tanah, tapi… aku tersesat,”

“Tenang dulu, jangan nangis dong Aika, aduhh… gini aja.. kamu diam di sana, kasih foto stasiun nya ya, aku kesana sekarang, jangan nangis… Aika…” Juri pun terdengar panik.

Aika mengangguk, namun sadar itu tidak bisa dilihat oleh Juri, “Iyaaa,”

Hari ini rencananya memang Aika akan berkunjung ke rumah Tanaka, dan melarikan diri dari Jesse, yang meneleponnya sejak kemarin dan tidak juga dia angkat. Tapi karena ingin memberikan kejutan pada Juri, Aika tidak memberi tau Juri, berencana pergi sendirian naik angkutan umum karena takut ketahuan oleh Ayah.

Tidak sampai dua puluh menit kemudian Aika melihat Juri turun dari kereta, berlari ke arahnya, terpaan rasa lega membuatnya ingin menangis lagi. Menangis karena senang dan lega.

“Juri-kuunnn!!”

“Ya ampun memangnya kamu mau kemana? Kenapa tiba-tiba naik subway sendirian?!”

Menunduk dan memajukan bibirnya, Aika benar-benar terlihat seperti anak kecil, “Ke rumah Juri-kun,” jawabnya sedikit berbisik.

Secara spontan Juri menarik Aika ke dalam pelukannya, Aika tidak tau bagaimana paniknya Juri mendengar gadis itu tersesat. Juri tau seorang Aika tidak pernah naik angkutan umum sendirian, “Bodoh, jangan buat aku khawatir, lain kali aku jemput saja ya. Kamu naik kereta yang berlawanan arah dengan jalur yang seharusnya,” seru Juri, tangannya menepuk pelan kepala Aika yang masih saja terisak pelan.

“Bagaimana kalau kita jalan di sekitar sini saja?” usul Juri.

“Juri-kun tau daerah sini?”

“Ini dekat tempat kerjaku, ko,” Juri menarik tangan Aika untuk keluar dari stasiun subway. Padahal petunjuk di stasiun sudah sangat jelas, tapi Aika masih bisa tersesat, “Ada toko kue yang enak sekali, udah jangan nangis, make up mu luntur tuh!”

“Eh?” Aika kaget, “Aduh, gimana dong?”

“Ahahaha, gak usah panik, kamu tetep cantik,” Tiba-tiba saja Aika rasanya lupa cara berpijak, setelah jadi ‘pacar’ ya, kalo bisa dibilang begitu, Juri bersikap lebih manis dan ini tidak bagus untuk jantungnya yang berdetak puluhan kali lebih dahsyat dari biasanya.

***

“Matsumura-san, kita kemana?” tanya Ruika, keduanya sudah ada di daam bis, dan sampai sekarang Hokuto tidak mau menjawab kemana mereka akan pergi.

Hokuto tersenyum, “Nanti juga tau, dulu… Mizutani-san dulu naik bis ini kan ke sekolah?”

Ruika menatap Hokuto yang duduk tepat di sebelahnya, “Ehm… iya,” tunggu dulu, kenapa Hokuto bisa tau, ya? Ruika bertanya-tanya dalam hati.

“Ini jalur yang sama dengan bis ku ke sekolah,”

“Ya ampun! Pantas saja muka Hokuto, uhm… maksudku Matsumura-san sepertinya familiar!” akhirnya Ruika tau dimana dia pernah melihat Hokuto, selama ini dia sering mencoba mengingat kapan pernah melihat Hokuto.

“Panggil Hokuto saja tidak apa-apa,” ucapnya, “Iya, aku juga sering melihat Mizutani-san,” dan sengaja menunggu bis mu setiap hari, tentu saja kalimat itu hanya dia sebutkan dalam hati.

Sesampainya di halte yang Hokuto maksud keduanya pun turun, “Ini adalah tempat rekomendasi temanku sih, aku beberapa kali ke sini,” Hokuto membukakan pintu toko tersebut untuk Ruika, wangi khas menyambutnya, merasuki indera penciumannya, ia suka sekali wanginya. Salah satu alasan dia bekerja di Lewis Bakery juga karena wangi yang menguar dari berbagai macam roti yang ia sukai.

“Aku mau chocolate cake deh,” Ruika menunjuk ke sebuah kue coklat dengan topping coklat putih sementara Hokuto memilih cheese cake.

“Walaupun mungkin cheese cake di sini kalah sama buatanmu,” ucap Hokuto.

Ruika tersenyum, “Tidak mungkin! Buatanku kan amatir!”

“Akhirnya Mizutani-san tersenyum juga,”

“Hokuto?!” seseorang memanggilnya dan Hokuto menoleh, Juri melambaikan tangannya dengan bersemangat, Uh oh! Ada Aika!! Ada AIKA!!

“Hoku-taaannn!! Sini siniiii!!”

Saat Ruika menoleh untuk melihat sumber suara, matanya menangkap sosok Aika yang sedang melambaikan tangan dengan bersemangat kepada Hokuto. Itu kan, Kimura Aika?! Hokuto menatap Ruika dan Aika bergantian, “Sebentar ya, tunggu di sini,” Hokuto berjalan ke arah Aika dan Juri.

Itu tunangannya Jesse. TUNANGANNYA JESSE. Sekilas Ruika bisa melihat cincin yang dipakai Aika. Perutnya mendadak sakit, tanpa pamit Ruika berlari keluar, teriakan Hokuto yang memanggil namanya pun ia hiraukan.

.

.

“Ya, sebenarnya aku tau, maaf ya Ruika-san,” Hokuto mengaku kalau dirinya tau soal Jesse dan Aika. Keduanya kini duduk di halte, menatap bis yang berenti berkali-kali, mereka tetap hanya duduk di sana, “Aika sahabatku, dan aku baru sadar Jesse yang Aika maksud dan laki-laki yang datang tempo hari adalah orang yang sama,”

“Bagaimana menurutmu? Aku yang merebut Jesse-kun, atau sebaliknya?” mata Ruika memandang ke arah jalan, pandangannya sedikit kosong, menerawang.

Tentu saja ia tidak bisa menjawabnya, Hokuto memilih diam, membiarkan Ruika dengan pikirannya sendiri.

“Aku membencinya, aku membenci Kimura-san karena hadir di tengah-tengah kebahagiaanku, tapi…” Ruika tertawa sinis, “Aku juga membenci diriku yang tetap tidak bisa memutuskan untuk meninggalkan Jesse-kun,” Ruika menatap Hokuto, “Karena pada akhirnya aku bisa menemukan orang yang membuatku istimewa,”

***

Sudah beberapa hari ini, Yua merasakan sesuatu yang berbeda. Apartemennya tidak pernah bising oleh dengkuran Kouchi, teriakan Kouchi meminta makanan atau apapun yang biasanya dilakukan oleh Kouchi. Ada lagi yang lebih aneh, kotak pesan dan teleponnya sepi sekali dari nama Kouchi. Kemana sahabatnya itu? Kouchi tidak pernah marah padanya lebih dari satu hari. Biasanya setelah bertengkar, Kouchi dengan cueknya akan mengganggu hidup Yua lagi. Seperti janjinya dulu, Kouchi memang senang mengganggu hidupnya.

Enggan namun tidak bisa bohong Yua merindukan Kouchi dan kelakuannya yang random itu. Gengsi tapi nyatanya kini Yua sudah berada di depan pintu apartemen Kouchi, menimbang-nimbang apakah ia harus masuk atau mengetuk terlebih dahulu.

“Kou-chan,” Yua memutuskan untuk membuka pintu tanpa mengetuk.

Kouchi duduk di depan laptopnya, tampak sibuk dengan beberapa buku di sekelilingnya, kamar Kouchi tampak berantakan sekali, “Kamarmu berantakan,” biasanya kamu kabur ke kamarku, tambah Yua dalam hati.

“Ngapain ke sini?” suara Kouchi sedingin es.

Rasanya serba salah, tak tahan dengan sikap Kouchi yang tiba-tiba terdengar marah padanya, “Memastikan Kou-chan baik-baik saja,”

“Kau tak perlu melakukannya, aku pasti baik-baik saja,” jawabnya cepat, “Yua tak butuh aku untuk mengkhawatirkanmu, jadi Yua juga tidak perlu khawatir padaku,”

“Ayolah Kou-chan, jangan ngambek gitu dong,” Yua mendekati Kouchi dan duduk di sebelah emuda itu, “Lagi ngerjain apa?”

“Keluar dari apartemenku, aku sedang mengerjakan tugas,” intonasi Kouchi masih sedingin es.

Yua tersentak kaget, “Kamu kenapa sih? Hanya karena malam itu aku pergi dengan Taiga-kun?”

“Jadi kau pergi dengannya, sudah kuduga,”

Aneh. Tidak biasanya sikap Kouchi begini. Marah tanpa alasan yang jelas, jadi dingin dan bahkan mengusir Yua. Dan karenanya kini Yua terdiam, menatap Kouchi dengan kesal. Lagipula kenapa juga Kouchi harus semarah ini?

“Beri aku satu alasan kenapa Kou semarah ini padaku?!” tidak bermaksud marah, tapi suara Yua meninggi karena emosinya mulai naik.

Detik-detik berlalu dan hanya ada keheningan di antara keduanya, Kouchi menatap Yua, “Sekarang beri aku satu alasan agar aku bisa melupakan perasaanku padamu, berpura-pura bahagia kau menemukan cintamu,”

“Apa maksudmu?!”

“Aku jatuh cinta, pada sahabatku sendiri, saat ini sahabatku jatuh cinta pada orang lain, bagaimana menurutmu?!” Kouchi sudah berdiri, menatap langsung ke mata Yua.

***

Ruika, calling…. tidak ada jawaban. Nihil, ponselnya bahkan tidak aktif.

Aika, calling… ponselnya aktif tapi dia mendapat jawaban yang sama-sama dingin.

SIAL! Jesse melemparkan ponselnya ke ranjang, serba salah, tak tenang terutama karena Ruika. Ruika-nya menolak menjawab, begitupun tunangannya. Semua ini dia lakukan untuk ketenaran, he got it, dan sekarang apa? Sandiwara ini harus terus berlanjut, tidak bisa berhenti di tengah jalan dan karena itulah ia butuh Ruika sebagai support system nya. Ruika harus tau, ini juga ia lakukan untuk gadis itu.

Jesse memutuskan untuk keluar, ia butuh sedikit pencerahan. Mungkin dia brengsek, tapi dia benar-benar jatuh cinta pada Ruika, dan walaupun Jesse tidak pandai mengungkapkannya, Jesse sungguh-sungguh terhadap perasaannya. Tapi, masih banyak yang harus ia perjuangkan dan sebelum semua itu tercapai, ia ingin Ruika sabar menunggunya. Dia tak ingin kehilangan Ruika, tidak boleh terjadi.

Mobil sport merahnya melaju ke arah yang tak tentu, ketika sadar Jesse berada di depan gedung tua apartemen Ruika. Menatap gedung tua itu hatinya merasa bersalah, Ruika harusnya bisa tinggal dengannya jika saja tidak ada drama sandiwaranya dengan Aika. Gadis itu selalu menolak diminta pindah ke tempat lain, Jesse tau Ruika sebenarnya ingin pindah bersamanya.

Jesse mengetikkan sebuah pesan untuk Ruika, entah gadis itu akan membacanya kapan. Saat ini ia perlu menatap wajah Ruika, harinya kacau saat Ruika masih marah padanya. Baru saja ia berniat untuk meninggalkan tempat itu, Jesse melihat Ruika dan pemuda sebelah kamarnya itu berjalan beriringan, entah dari mana. Niatnya pergi pun ia urungkan, menunggu beberapa saat sampai Ruika masuk ke kamarnya, begitu pun si pemuda sebelah masuk ke kamar sebelah.

Jesse segera turun, langkahnya tergesa-gesa. Satu ketukan, dua ketukan, Ruika akhirnya membuka pintu di ketukan ketiga. Sebelum Ruika sempat protes, Jesse mendorong Ruika masuk, menutup pintu di belakangnya.

“Aku tau kau marah padaku, tapi dengarkan aku dulu!” Ruika sudah siap teriak tapi Jesse lebih dulu memeluknya, “Aku akan mengakhiri semuanya, dengan Aika, tapi beri aku waktu,” ada jeda di kalimatnya, Jesse mengeratkan pelukannya, “Kumohon,”

Air mata Ruika mengkhianati dirinya yang sedari tadi menahan tangisnya sebagaimana hatinya mengkhianati logikanya.

***

“Aku jadi tak enak pada temannya Hoku-tan, apa kita mengganggu mereka ya tadi?” Juri mengangkat bahunya, ia pun sedikit aneh, mungkin nanti harus ia tanyakan pada Hokuto. Aika menyimpan tasnya sebelum membuka sepatu bootsnya di pintu masuk kediaman Tanaka, “Sepi, ya?”

Juri mengangguk, “Aku belum bilang ya? Ayah, Ibu dan Subaru pergi ke rumah kerabatku, Hyouga entah kemana jangan tanya padaku,” ucapnya.

EH? EHHH?? Aika baru sadar, berarti dia dan Juri hanya berdua saja di sini? EEEEHHH??!! Aduh… aduh.. aduh… apa yang harus ia lakukan?

“Aika, jangan bengong,” Juri mengangkat tas Aika dan melangkah masuk duluan, “Tunggu di kamar saja, aku ambil soda dulu,”

Ini bukan pertama kalinya Aika ada di rumah Juri, bukan juga pertama kalinya ia masuk ke kamar Juri. Ini masih kamar yang sama, tapi entah kenapa rasanya berbeda. Aika menyimpan tasnya, duduk di depan sebuah meja kecil, gelisah tiba-tiba menerpanya.

Mata Aika tertumbuk pada buku kelulusan SMA mereka. Tangannya meraih buku itu, membukanya perlahan, memorinya tentang SMA pun menguar ke udara membuatnya tersenyum. Aika sampai di halaman foto seluruh siswa, saat menemukan fotonya Aika otomatis tertawa karena fotonya diberi gambar hati di sebelahnya.

“Ngapain?!” baru datang Juri merebut buku itu dari Aika, “Jangan ketawa!”

“Ahahaha… ahahahahaha…”

Juri menutup mulut Aika dengan telapak tangannya, wajahnya merah padam, “STOP!!”

Mati-matian Aika menahan tawanya, menurutnya itu cute sekali, baru kali ini Aika melihat wajah Juri yang malu dan serba salah, Aika mencoba merebut kembali buku itu, “Pinjem dulu dong, Juri-kun, masih pengen liaattt!!” tangan Aika terangkat, mencoba meraihnya karena Juri mengangkat buku itu tinggi-tinggi. Tubuh Juri sudah setengah berdiri dengan lututnya, Aika masih mencoba meraihnya, tubuhnya condong ke depan dan kehilangan keseimbangan.

BRUK!

Tubuh Aika terjatuh tepat di atas tubuh Juri, “Eh, gomen!” Aika bermaksud melepaskan diri dari Juri tapi ia merasakan tangan pemuda itu sudah memeluknya, “Juri-kun,”

“Keberatan?” tanya Juri, Aika menggeleng cepat. Dia sama sekali tidak keberatan, tapi… ini gawat, apakah Juri bisa mendengar detak jantungnya yang berdengung di telinganya sendiri?

***

Langkah Sonata terhenti, ini sudah di depan rumah Airin dan dia masih sedikit ragu. Airin sepertinya menjauhi Sonata karena sulit sekali dihubungi. Akhirnya Sonata memutuskan untuk mendatangi kediaman Takahara.

“Sona-chan,” Airin sendiri yang membuka pintunya.

“Yo!” Sonata tersenyum mengacungkan kantong plastik yang dibawanya, “Aku bawa es krim, makan bareng, yuk,”

“Shin-kun bilang apa?” Sonata diajak Airin ke sebuah taman kecil dekat rumah Airin, keduanya asik makan es krim sambil mengobrol.

“Uhm… dia bilang kalian putus,” jawab Sonata, “Kenapa? Kan aku sudah bilang tempo hari, walaupun aku suka Shin-kun, tapi aku senang ko Ai-chan pacaran dengan Shin-kun,” ya, Sonata berbohong saat Airin memasak di rumahnya tempo hari.

“Aku juga menyukai kakakmu dan aku tak pernah bilang padamu,”

“Kenapa Sona-chan berbohong padaku? Kita sahabat, harusnya Sona-chan tidak begitu,” Airin menyedokkan es krimnya tapi tidak memakannya.

Sonata menelan ludahnya sendiri, “Aku tidak bohong soal aku bahagia melihat kalian berdua,” karena Shintaro bahagia bersamamu dan aku tidak tega melihatnya sedih.

“Tapi aku bohong pada Sona-chan,” Airin memang bilang aku tidak menyukai Hoku-nii lagi sih tapinya, “Aku masih suka pada Hoku-nii,” kata-kata itu membuat Sonata terdiam.

“Aku mencobanya, melihat Shin-kun dari sudut yang berbeda, bahwa dia bisa menjadi orang yang aku sukai, tapi setiap apapun yang dilakukannya, aku tetap menginginkan Hoku-nii,” Airin menutup wajahnya dengan telapak tangannya, merasa frustasi, “Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri,”

“Tapi Shin-kun sangat menyukaimu, bukankah Ai-chan bisa belajar menyukai Shin-kun juga?”

Airin menggeleng, “Hanya butuh waktu, Shin-kun harusnya sadar siapa yang benar-benar dia sukai,”

***

 

TO BE CONTINUE

Advertisements

4 thoughts on “[Multichapter] Little Things Called Love (#7)

  1. elsaindahmustika

    eeaaaaa jess kouchi lagi galau:v ruika jangan mau dipeluk2 jess deh, kenapa gak sama hokunii aja sih. yua gak peka2 sama kayak aika juga nih harus diungkapin dulu:v dan akhirnyaaaa aika juriiiii, jadian kan ya mereka? aaaaa kak din mah parah! itu dapet banget romance nya!!! jadi iri:’v ini sona airin dikit ya it’s ok, next dibanyakin ya kak din 😁 #lu siapa oi

    Reply
  2. magentaclover

    GYAAAAAA~~~ JURI X AIKA!!!! Duh, baper maksimal… ini kah sinetron? Kok manis gini sih? Itu mereka fix banget pacaran? Hahahahah suka pas di kamar Juri yang liat foto Aika ada gambar hati di sampinynya, Juri salting gitu pasti manis. Pas nyasar juga lucu, Aika kayak anak kucing ilang XD

    Hubungan Jesse Ruika Hokuto juga lagi seru… Jesse masih punya hati ya, syukurlah. Entah kenapa suka pas Jes peluk Ruika itu kayaknya sepenuh hati bayanginnya sedih. Aku sih dukung Jesse x Ruika, Hokuto jangan gangguin dong plise…. jadi tempat curhatnya Ruika aja XD dan lagi itu kepa Ruika sama Aika gak ketemu aja sih??? >< entah kalo Shin dia gimana ya dia masih patut dikasihani tapi dia gak peka kalo ada Sona-chan yang lucuuuuuuuu

    Sekian, keep writing kak semoga lancar nulis ff-nya ^^/ *tendang si wb (?)*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s