[Multichapter] Little Things Called Love (#6)

Little Things Called Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 6)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Tanaka Juri, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Jesse Lewis (SixTONES); Ichigo Yua, Kimura Aika, Kirie Hazuki, Mizutani Ruika, Takahara Airin, Matsumura Sonata (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Untitled-1

Malam mulai beranjak, Yua keluar dari pintu belakang karena pekerjaannya sudah selesai. Lehernya sedikit sakit karena terlalu lama menunduk tadi saat membereskan beberapa peralatan. Mencoba untuk meringankan sakitnya, Yua memutar-mutar kepalanya, berharap sakit lehernya cepat hilang.

“Nanti malah patah loh lehernya,”

Yua menoleh, Taiga berdiri tak jauh dari restoran, di sebelah mobil hitamnya. Yua tak menyangka Taiga benar-benar menunggunya sampai pulang. Karena tadinya Yua pikir Taiga hanya menanyakannya untuk menggodanya saja.

“Taiga-kun, eh?”

“Ayo. Sudah kubilang aku akan menunggumu pulang kan,” ucap Taiga dengan tenang, “Bar tidak apa-apa kan?” Taiga sudah membuka pintu mobilnya yang sebelah kiri, “Silahkan,”

Walaupun agak ragu namun akhirnya Yua ikut juga masuk ke dalam mobil Taiga. Sejujurnya Yua tidak tau dia kerasukan apa sehingga sekarang mau-maunya ikut dengan Taiga. Walaupun memang mereka bisa dianggap kenalan, tapi belum lama ia kenal dengan pemuda itu. Bagaimana kalau Taiga adalah pembunuh? Bagaimana kalau Taiga orang jahat? Pesona Taiga memang sulit sekali ditampik oleh Yua, rasanya ada magnet yang sangat kuat saat berdekatan dengan seorang Kyomoto Taiga.

“Yua-chan, jangan melamun,” kata Taiga, “Kita sudah sampai,”

Ternyata tidak sampai dua puluh menit mereka sudah sampai di sebuah bar. Taiga dan Yua pun mengambil satu tempat di depan meja bartender. Suasana bar belum terlalu ramai, mengingat malam masih sangat muda. Belum juga jam sembilan malam.

“Minum apa?”

Yua menimbang-nimbang apakah bijak membeli minuman keras pada jam segini, tapi mendengar pesanan Taiga dia pun tergoda untuk membeli minuman yang sama.

“Kenapa sih? Ada yang salah?” mungkin wajah Yua terlihat sedikit gugup?

Yua menggeleng, “Tidak sih, hanya bingung kenapa tiba-tiba Taiga-kun bersikap manis padaku?” jujur tidak salah, kan?

Mendengar ucapan Yua, Taiga malah tergelak, “Ya ampun Yua-chan, aku selalu manis terhadap wanita, terutama wanita cantik sepertimu,”

Duh… Duh… Duh… be still my heart, Yua komat-kamit di dalam hati. Bagaimana tidak?? Jantungnya sekarang tidak mau kompromi dan berdetak cepat sekali membuatnya agak khawatir Taiga bisa mendengarnya.

Minuman mereka sudah hampir habis, Taiga masih menceritakan kenapa akhirnya dia memutuskan untuk bekerja. Sementara Yua menunggu apakah Taiga akan memesan lagi atau mengakhiri pertemuan mereka. Konon katanya, kalau seorang pria memesan minuman sampai tiga kali saat pertemuan seperti ini, bisa jadi laki-laki itu memang benar-benar tertarik padamu. Dan ini gelas bir kedua mereka.

“Bir lagi ya,” Taiga mengatakannya pada si bartender, “Eh, bir agi tidak apa-apa, kan? Atau kau mau pesan yang lain?” kali ini Taiga bertanya kepada Yua.

Yua hanya tersenyum. Ya ampun!! Apakah ini pertanda??

***

Kouchi sejak tadi mondar-mandir, Yua tidak juga mengangkat teleponnya dan jam di dinding apartemen Yua sudah menunjukkan pukul dua pagi. Kemana sih gadis itu? Apalagi baik teks maupun telepon sama sekali tidak ada yang digubris oleh Yua. Benar-benar seperti bukan Ichigo Yua.

Tadaima!

Mendengar suara Yua, Kouchi segera ke depan untuk menghampiri Yua, “Dari mana? Sudah jam berapa ini?”

“Jam dua… dan aku ngantuk. Ngapain sih di sini?!” Yua langsung membuka jaketnya dan berbaring di atas kasur, “Sana sana balik ke kamarmu!”

“Ichigo Yua!!”

“Hmmm…” Yua menjawabnya dengan mata tertutup.

“Kamu dari mana sih?!” Kouchi duduk di samping tubuh Yua yang berbaring dan mengguncang-guncang bahu gadis itu.

“Kou-chaaannn aku ngantuuukkk!”

Kouchi otomatis menutup hidungnya, “Aduh! Kamu bau alkohol!”

Bukannya menjawab Yua hanya tertawa, “Hehehe,”

“YUAAA!!”

“Aduh Kou-chan, serius deh kamu ribut banget udah sana pergiiii!!” Yua mendorong bahu Kouchi dengan sedikit keras.

“Kalau bukan aku lalu siapa yang mengkhwatirkanmu? Taiga? Jadi kau sudah tidak perlu aku lagi untuk mengkhawatirkan dirimu?”

Mata Yua tiba-tiba terbuka lebar, “Apa maksudmu?! Kenapa bawa-bawa Taiga-kun?!”

“Kau suka padanya?”

Yua menghela napas berat, kepalanya sakit sekali ditambah dengan Kouchi yang sangat bawel, “Masalah ini dan masalah Taiga itu berbeda!” seru Yua.

“JAWAB SAJA!”

“Iya aku suka padanya!! Puas?!”

Kouchi tidak menjawab dan meninggalkan Yua di kamar, “Oke, aku mengerti,”

***

Halaman koran pagi ini lebih menghebohkan dari kemarin. Foto Kimura Aika yang bersanding dengan Jesse Lewis di halaman depan, Jesse tersenyum sementara Aika malah terlihat bingung. Ya, akal-akalan Ayahnya memang berhasil. Semalam ketika Ayah ‘memanggil’ Jesse dan Aika, ternyata adalah pengumuman resmi pertunangan mereka. Konferensi pers dilakukan tanpa sepengetahuan Aika ataupun Jesse.

“Ayo masuk, jangan lupa tersenyum,” Aika masih ingat ucapan Yasui-kun, sekretaris Ayahnya.

Pintu dibuka dan ratusan media sudah berkumpul. Ayahnya duduk di depan sebuah meja panjang, kilatan lampu blitz hampir saja membutakan mata Aika. Hingga Jesse menuntunnya ke meja yang sama dengan Ayahnya.

Rentetan peristiwa selanjutnya seperti mimpi bagi Aika. Pertanyaan-pertanyaan yang muncul akhirnya hanya dijawab oleh Jesse atau Ayahnya. Begitupun ketika mereka diminta berdiri dan menunjukkan cincin yang ternyata sudah disematkan oleh stylish Aika saat tadi ia didandani.

“SIAL SIAAAALLL!!” Tanpa bisa protes pada Ayahnya kini Aika menghadapi kenyataan baru, status baru sebagai tunangan Jesse. Di kampus pasti sudah super heboh dan hidupnya tidak akan bisa tenang lagi.

Aika kembali mengecek ponselnya dan ratusan pesan pun masuk ke inbox nya, belum lagi missed call dan beberapa ratus chat yang sengaja tidak ia sentuh. Namun sebuah panggilan tiba-tiba masuk, hampir saja Aika melemparkan ponselnya karena nama yang muncul sangat tidak terduga, Juri-kun.

Moshi-moshi,” angkat Aika agak berbisik karena tidak tau Juri akan bereaksi seperti apa.

“Kau baik-baik saja?” suara Juri terdengar khawatir dan membuat Aika malah ingin menangis.

Ya, kemarin itu di studio, tiba-tiba saja Hazuki, Taiga dan Kouchi mengirimkan teks bahwa mereka tidak bisa datang. Aneh sih, tapi karena urusannya dengan Juri lebih penting, Aika tak ambil pusing. Aika jujur pada perasaannya sendiri, walaupun ia sadar ia masih sebagai pacar Jesse – kemarin.

“Sudah tenang?” itu pertanyaan pertama Juri setelah Aika akhirnya sedikit tenang setelah menangis, sambil memeluk Juri, tadinya.

Aika mengusap matanya yang basah dan terasa berat, mungkin karena habis menangis, “Maafkan aku Juri-kun, soal yang tadi,”

“Tidak masalah, uhm… maaf juga tadi aku memarahimu,” Juri menepuk pelan kepala Aika.

“Aku… aku juga menyukai Juri-kun,” rasanya suara Aika terdengar seperti bisikan, mudah-mudahan Juri mendengarnya.

“Apa? Gak kedengeran nih,” saat Aika melihat Juri, pemuda itu sedang mendekatkan kupingnya ke arah Aika.

“Iiihhh.. Juri-kun…” melihat Aika hampir menangis lagi Juri pun tersenyum.

Gomen gomen… aku hanya bercanda,” Juri menarik Aika ke dalam pelukannya, sebelumnya bibir Juri sempat mampir mencium pelan dahi Aika, “Yokatta,”

Kalau mengingat hari kemarin rasanya pipi Aika tak bisa berhenti bersemu merah muda, ternyata malu juga ya menyatakan cinta pada seseorang yang padahal sudah kau kenal sejak jaman dirinya masih sama-sama culun, pakai baju kebesaran di awal-awal sekolah dan seseorang yang tau benar kebiasaan burukmu. Rasanya ternyata tetap saja dag dig dug tak jelas.

“Perlu aku ke sana, tidak?” suara Juri kembali terdengar di sambungan telepon. Resiko bertemu Ayah terlalu besar, lagipula siang ini dia ada latihan band seperti yang di jadwalkan oleh Hazuki.

“Kita ketemu di studio saja, ya?”

“Oke, sampai ketemu nanti siang,” sambungan telepon terputus dan Aika memutuskan untuk bersiap-siap, sebelumnya ada telepon dari Jesse saat ia melihat daftar panggilan masuknya. Tidak bisa, bagaimana sekarang ia harus berhadapan dengan Jesse?

‘Maafkan aku Jesse, pertunangan kita harus berakhir,’ begitu? Dengan seenaknya dan mempertaruhkan reputasi Ayahnya? Urggghhh.. Lama-lama kepalanya bisa pecah dan rambutnya akan segera keriting dengan sendirinya.

***

Sachou tunangan…” isi pembicaraan di grup pegawai Lewis Bakery sejak kemarin, ya, Ruika juga tau. Tidak sulit mencari berita soal Aika dan Jesse kaena semuanya sudah tersebar baik di internet maupun di koran-koran yang terbit hari ini. Ruika belum bisa menghubungi Jesse sejak beberapa hari yang lalu, dan rasanya hatinya sudah tidak kuat lagi.

Sebenarnya Ruika salah apa sampai Jesse berani-beraninya mempermainkan dirinya? Setelah semua kata cinta yang dilontarkan oleh Jesse selama ini? Setelah pengorbanan Ruika yang harus selalu berpura-pura hanya anak buah Jesse? Sekarang semuanya seperti ini?! Jadi hanya segini saja rasa ‘cinta’ Jesse sebenarnya?

Entah berapa lama Ruika tertunduk dan menghapus air matanya, jam sudah menunjukkan pukul sebelas pagi dan seharusnya ia sudah berangkat ke kampus, namun rasanya badannya lemas, tak ada tenaga untuk melangkahkan kaki keluar dari ruangan ini.

TING TONG.

Suara bel di depan membuat Ruika mau tak mau harus melangkah ke depan. Sebelum membuka pintu ia mencoba menghapus jejak air matanya dengan tissue, walaupun tidak tau juga itu bisa membuatnya terlihat lebih segar atau tidak. Di depan pintunya sudah ada sosok yang selama beberapa hari ini ia cari. Alih-alih merasa rindu, Ruika merasa marah pada Jesse.

“Ngapain ke sini?!”

“Aku tau kamu marah, tapi dengarkan aku dulu!” Jesse menarik tangan Ruika karena melihat gerakan Ruika yang akan menutup pintunya.

“Lepas!! Aku tidak perlu penjelasan!” Ruika mencoba melepaskan cengkraman Jesse, namun sia-sia karena tenaga Jesse tentu lebih besar dari Ruika. Masih mencoba menarik tangan Ruika, Jesse menahan tangan Ruika yang satu lagi karena ingin melepaskan tangan Jesse, tapi berkali-kali Ruika berteriak sambil memukuli lengan Jesse, pemuda itu masih enggan melepaskan cengkraman tangannya.

“RUIKA!!”Jesse mengguncang tubuh Ruika agar tenang, “TENANG DULU!! AKU BISA MENEJELASKANNYA!!”

“Anda membuat keributan di sini!” pintu sebelah terbuka dan Hokuto tiba-tiba muncul di hadapan Jesse dan Ruika, “lepaskan tanganmu!” walaupun tidak marah suara Hokuto terdengar tegas. Jesse menatap Hokuto dengan heran.

Hokuto tidak diam lagi, dia menarik tangan Jesse dari tangan Ruika dan menuntun gadis itu masuk ke apartemen miliknya, sebelum menutup pintu Hokuto berkata, “Jangan ganggu lagi Ruika!”

***

“Aku juga menyukai kakakmu dan aku tak pernah bilang padamu,”

Kata-kata itu terus berulang di otak Shintaro bagaikan kaset rusak. Airin menyukai Hokuto? Sejak kapan? Kenapa malah dirinya yang tak tau kenyataan itu? Kenapa juga dia tidak menyedarinya? Hanya satu kalimat itu yang ia dengar dan kesimpulannya adalah Airin menyukai Hokuto.

Senpai yang paling ia kagumi, Matsumura Hokuto, disukai oleh orang yang sekarang sangat ia sayangi, Airin. Apa-apaan sih ini? Kalau memang Airin menyukai Hokuto kenapa menerima dirinya untuk jadi pacar? Aaarrggghhh… Shintaro mengacak rambutnya yang tidak gatal karena frustasi.

“Kenapa tidak ke kelas?” suara Airin mampir langsung di telinga Shintaro, Airin tau tempat Shintaro menyepi karena memang pemuda itu sendiri yang memberi tau Airin tempo hari. Di atap sekolah, tak banyak yang tau kalau kunci pintu ke atap sekolah sudah rusak.

Shintaro menatap Airin, “Tidak apa-apa,”

“Sudah makan siang? Ini aku bawakan bento lebih,” Airin menyerahkan sebuah kotak bento kepada Shintaro.

“Uhm, arigatou,” jujur saja Shintaro tidak napsu makan, padahal ia menebak makanan hari ini pasti enak, dinilai dari wanginya.

Airin duduk di samping Shintaro, membuka bekalnya dan mulai makan dengan cueknya. Beberapa kali ia melirik wajah Shintaro yang terlihat masam dan terlihat marah, tanpa alasan yang jelas. Mungkin Shintaro ada masalah di kelasnya, pikir Airin.

“Shin-kun, pernah berpikir tidak untuk menyukai Sona-chan?” tanya Airin tiba-tiba.

“Sona? Ahahahaha, tidak mungkin! Maksudku, Sona itu teman baikku dan dalam banyak hal kita sangat mirip,” ujar Shintaro cepat, tawanya terdengar kaku, Airin tau pemuda itu berbohong.

Keheningan tercipta, baik Shintaro maupun Airin sama-sama tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing.

“Shin-kun, kita putus saja ya,” ucapan itu tiba-tiba keluar dari mulut Airin.

Shintaro menoleh pada gadis itu, “KENAPA?!” yeah, walaupun sudah tau alasannya, entah kenapa Shintaro sebenarnya belum rela jika harus benar-benar berpisah dari Airin.

Airin menatap Shintaro, “Karena, kurasa sudah saatnya kita jujur pada perasaan kita masing-masing,” dengan gerakan cepat Airin menutup bekalnya dan sebelum beranjak pergi Airin mengecup pelan pipi Shintaro, “Arigatou Shin-kun,”

Baru saja Airin beranjak Shintaro menarik kembali lengan Airin sehingga gadis itu kembali duduk, dengan wajah kaget karena gerakan yang sangat tiba-tiba. Shintaro merengkuh bahu Airin, memandangi gadis itu, telihat kemarahan yang jelas di wajah Shintaro.

“Kenapa? Karena kau menyukai Hokuto-san?” tidak seperti biasanya, intonasi suara Shintaro sangat serius. Airin tidak menjawab namun reaksinya yang terlihat kaget sudah menjawab pertanyaan Shintaro. Pemuda itu menarik Airin ke dalam pelukannya, pelukan yang posesif dan tidak peduli Airin mau atau tidak, “Apa aku tidak cukup untukmu? Tidak bisa menggantikan Hokuto-san?”

Belum sempat Airin menjawab, Shintaro menatap mata Airin yang kebingungan, tanpa aba-aba bibir Shintaro sudah menginvasi bibir Airin, menari sesaat di permukaan bibir Airin sebelum akhirnya memasukkan lidahnya dan mengulum bibir gadis itu dengan sedikit menuntut. Airin mencoba mendorong bahu Shintaro tapi rengkuhan tangan Shintaro di belakang kepala Airin membuatnya tak berkutik apalagi tenaga Shintaro jelas lebih besar dari Airin. Kuluman itu semakin terasa kasar dan bahkan ketika Airin tidak membalas ciuman itu, Shintaro masih saja menciumnya.

“SHIN!” ucapan Airin di sela ciuman mereka membuat Shintaro akhirnya benar-benar berhenti. Tanpa berkata apa-apa Shintaro berbalik dan meninggalkan Airin yang terduduk berurai air mata.

***

Pintu studio tidak terkunci, artinya ada seseorang di dalam. Juri masuk dan melihat Aika sedang di belakang keyboard nya, memainkan lagu mereka, matanya terpejam menikmati alunan keyboardnya sendiri. Langkah Juri tertahan sebentar, mengagumi maha karya Tuhan yang paling ia sukai. Baginya, Aika dan keyboard adalah satu kesatuan terindah yang tak pernah membuatnya bosan untuk memandang dan mendengar. Terlihat jelas kecintaan Aika terhadap musik dan piano, Juri pernah melihat Aika bermain piano di SMA, di ruang musik, waktu itu Aika melarikan diri dari pelajaran setelah dirinya di bully seharian. Juri tak sengaja mendengarnya dan waktu itu, seperti saat ini Aika memejamkan mata sambil bermain grand piano, mungkin saat itulah Juri terpesona oleh sosok Aika dan memutuskan untuk berkenalan dengan gadis itu.

“Juri-kun,” suara keyboard berhenti, Aika menatap Juri yang mendekatinya, “Hey,”

Juri duduk di sebelah Aika, berbagi kursi kecil itu sehingga Juri harus menahan badan Aika di sebelahnya dengan tangan, “Kau baik-baik saja?”

“Juri-kun tidak marah?” tanya Aika.

Juri menggeleng, “Sudahlah, yang penting kita harus menjelaskannya pada Ayahmu, kan?”

Aika menatap Juri, “Iya, gomen ne,”

Tadaimaaaa!!” pintu kembali terbuka dan Taiga masuk ke dalam membuat Juri kaget hingga terjatuh dari kursi, beruntung Aika masih bisa menyeimbangkan diri.

BRUG!

“Aaaawwww…” Juri menahan sakit mengelus-elus tulang keringnya yang terantuk lantai.

“Ngapain tiduran di lantai?” tanya Taiga, “lagi akrobat?”

Juri hanya manyun dan berdiri sementara Taiga dan Aika malah menertawakan kesakitan pemuda kurus itu, “Bukannya nolongin,”

“Hazuki belum datang?” Taiga duduk di sofa merah, diikuti Aika sedangkan Juri duduk di hadapan mereka menggunakan kursi yang agak tinggi.

“Hazuki itu tunanganmu, kenapa malah tanya sama kita?” jawab Juri keki, masih kesal ditertawakan dua sahabatnya.

Taiga mengeluarkan ponselnya, “Sudah ratusan kali aku meneleponnya dan dia tidak mau menjawabku!” Taiga berkata sambil memandngi ponselnya seolah-olah ponsel itulah yang bersalah membuat Hazuki tak mau mengangkat telepon darinya, “Ngomong-ngomong tunangan, kayaknya Aika duluan nih yang nikah, kau sudah resmi kan dengan pria bulemu itu, ahahaha,”

Tidak ada reaksi baik dari Aika dan Juri, keduanya hanya saling berpandangan, “Itu semua salah Ayahku, ko… aku akan membatalkan pertunanganku!” seru Aika.

KLIK. Pintu studio terbuka, Kouchi masuk dengan Hazuki mengekor di belakangnya. Kouchi terlihat kaget, mungkin mendengar apa yang dikatakan oleh Aika tadi. Bagaimanapun Jesse adalah temannya, dan mendengar apa yang dikatakan Aika soal Jesse membuatnya sedikit shock.

“Nah, karena kita semua sudah datang, mulai minggu ini latihan kita harus ditingkatkan. Aku tak mau ada kesalahan untuk festival nanti, terutama kau,” Taiga menatap Kouchi, “Waktu kita hanya tinggal dua minggu, apapun urusan pribadi kalian, kuharap kalian bisa profesional,” Taiga memandangi satu persatu anggota Party Five, walaupun dia dan Hazuki adalah tunangan, Aika sudah bertunangan Hazuki menyukai Juri itu semua haruslah mereka kesampingkan, “Tidak boleh ada bolos apapun untuk alasan pribadi, terutama kau, Hazuki! Aku akan menyeretmu dari rumah kalau sampai kau bolos!” seru Taiga, dan Hazuki akhirnya mengangguk.

“Ya sudah, ayo mulai latihan!”

***

“Aku antar kau pulang,” latihan sudah selesai dan Taiga belum menyerah meminta Hazuki pulang bersamanya.

“Sudah kubilang aku ada acara dengan Kouchi, keras kepala banget sih!” seru Hazuki, mendekati Kouchi yang berdiri di sebelahnya, terlihat tak enak dengan sikap Hazuki.

Taiga menghela napasnya, “Tidak, kamu harus pulang denganku, ada yang mau aku bicarakan!”

Sebenarnya Hazuki memang tidak ingin berduaan dengan Taiga, karena pemuda itu sudah tau kebenarannya. Bahwa Hazuki menyukai Juri. Taiga menarik lengan Hazuki, Kouchi hanya memandangi Hazuki yang akhirnya dibawa Taiga keluar dari studio.

“Masuk ke mobil!” Taiga membuka pintu sebelah kanan mobilnya, Hazuki menggeleng masih saja keras kepala, “Kirie Hazuki! Masuk ke mobilku, sekarang!!”

Hazuki tau, melawan Taiga yang sedang marah sama saja cari mati, akhirnya ia menurut. Taiga segera masuk ke bangku pengemudi dan mengunci pintunya. Detik berikutnya mobil hitam Taiga sudah meluncur meninggalkan kawasan studio.

“Mau ngomongin apa lagi? Kau sudah tau kebenarannya, dan kupikir ini saatnya kita menolak pertunangan kita, kan?” Hazuki mulai jadi cerewet saat dirinya gugup.

Tidak mengeluarkan kata-kata apapun, Taiga hanya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi, Hazuki makin bawel memarahi Taiga agar berhati-hati.

“Taigaaa!!” Hazuki memukuli bahu Taiga, “Jangan kenceng-kenceng donngg!!”

Mereka masuk kawasan yang sedikit sepi, Taiga membelokan mobilnya ke sebuah gedung mansion lalu berhenti di parkiran, “Pertunangan kita tidak akan batal,” ucapnya, “Ayo turun,”

Hazuki memandangi Taiga, “Ini di mana?”

“Turun saja dulu, kenapa sih?!”

Eerrrggghh.. muka saja yang cantik, kalau marah seperti monster saja!! Hazuki tidak bisa menolak dan turun bersama Taiga yang sudah membukakan pintunya.

Ini adalah tempat yang belum pernah mereka datangi, setau Hazuki ini juga bukan apartemen milik Taiga karena Hazuki sudah sering main ke apartemen Taiga sebelumnya. Mereka masuk ke lift, Taiga memencet tombol teratas bertuliskan P. Hazuki menebak-nebak, Parkir? Eh bukan… apa ya? Saat lift terbuka di lantai yang Taiga maksud, Hazuki meihat tulisan di pintunya Penthouse.

“Buka pintunya,” ucap Taiga.

“Kenapa aku?”

“Buka saja, kamu itu yang bawel, tau!” Taiga menjawil pipi Hazuki dan akhirnya gadis itu mengikuti apa yang Taiga inginkan.

Pemandangan pertama yang Hazuki lihat adalah ruangan yang sangat besar, beberapa instrumen untuk merenovasi rumah terlihat di dalam. Kelihatannya mansion ini masih dalam tahap renovasi.

“Besar sekali,” Hazuki lebih takjub ketika melihat jendela besar yang langsung memperlihatkan pemandangan kota Tokyo dari ketinggian, “Wow!” Hazuki menatap Taiga, “Ini… milikmu?”

Taiga menggeleng, “Milik kita,”

“HAH?! Maksudmu??!!”

“Ayahmu memberi tahuku soal mansion ini seminggu yang lalu, namanya atas namaku dan ini hanya bisa jadi milikmu kalau kita menikah. Aku sudah menolaknya, aku menolaknya berkali-kali dan Ayahmu masih saja memaksaku. Aku tau kau menyukai Juri, tapi kurasa, kita harus memainkan peran kita sampai mansion ini kembali menjadi milikmu,”

Dalam otaknya Hazuki mencoba memahami maksud Taiga, “Apaaa?! Maksudmu… aku… dan Taiga… menikah?!”

“Tidak usah buru-buru, tapi kurasa iya. Aku tidak berhak atas mansion ini dan aku harus mengembalikannya padamu,”

Jika Taiga orang jahat, pastilah pemuda itu dengan senang hati menerima mansion itu dan tidak memperdulikan soal Hazuki yang tidak mau menikah dengannya, “Kenapa?”

“Karena aku tau seberapa besar kau ingin keluar dari rumahmu, dan kurasa karena ini memang milikmu, setelah kita menikah dan mansion ini sudah jadi milikmu, kau akhirnya akan bisa keluar dari rumahmu, benar kan?”

Taiga tau, semua teman satu band nya tau bagaimana Hazuki membenci soal rumah dan Ayahnya yang secara tidak sadar melupakannya. Hazuki bisa saja kabur, tapi itu semua sudah pernah ia coba. Ayahnya akan selalu menemukannya, memaksanya kembali ke rumah.

“Jangan terlalu dipikirkan sekarang, aku akan masih tetap meyakinkan Ayahmu untuk melupakan rencana ini, tapi untuk sementara, bersikap baiklah, oke?”

***

“Kouchi-sensei!!” Sonata mendekati Kouchi yang sedang duduk di kafetaria, “Kok melamun?”

Kouchi menoleh pada Sonata, “Anak kecil tau apa sih?”

Sonata manyun, “Masalah cinta yaaaa?”

“Mau mendengar kisah cinta? Hari ini libur dulu belajarnya, ya? Besok kita lanjut matematikanya, gimana?” kata Kouchi, Sonata mengangguk-angguk bersemangat.

“Ceritanya, ada seorang pemuda, sejak dulu, pemuda ini jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Bertahun-tahun, dia mencintai gadis itu, tapi karena kebodohannya pemuda itu tidak pernah menyatakan cintanya. Sampai suatu hari, pemuda ini menyadari kalau dia sebenarnya tidak bisa hidup tanpa gadis itu, tapi di sisi lain, pemuda ini tau, kebahagiaan sahabatnya adalah hal yang paling penting untuknya, bagaimana menurutmu?”

Mendengar kisah Kouchi rasanya Sonata berkaca pada dirinya sendiri. Ia menyukai Shintaro, dan sayang sekali pada Airin, lalu separuh hatinya ingin sekali merebut Shintaro dari Airin, tapi melihat Shintaro dan Airin bahagia sebenarnya harusnya membuatnya bahagia juga.

“Uhmmm… sedih banget ya sensei, memang sedih di posisi seperti itu,” ucap Sonata menatap Kouchi.

“Sona-chan ingin di posisi mencintai atau dicintai? Jawab saja sesuai feeling mu,”

Sonata memiringkan kepalanya, “Uhm… dicintai?”

“Walaupun kau tidak bisa mencintai orang yang mencintaimu?”

Sonata menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Tidak enak sih di posisi seperti itu, kan pasti rasanya serba salah, “Kalau begitu mencintai saja, sensei!!”

“Walaupun kau tidak bisa dicintai oleh orang itu?”

“Aduh sensei… aku tidak tau deh, nyerah!!” Sonata memasang wajah kesal karena jawabannya selalu salah.

“Jawabannya kau harus mencarinya dan saat sudah ketemu, kau boleh menceritakannya padaku, bagaimana?”

Sonata kembali manyun, “Yaaahhh… jawab dong sensei!!”

Bel berbunyi dan Kouchi hanya mengacak pelan rambut Sonata, “Sudah ya, aku masuk kelas dulu! Besok kerjakan PR matematikamu!”

***

“Hey,”

“Ngapain di sini?”

Morimoto Shintaro, sedang duduk di halte saat Sonata sampai dan turun dari bis. Pemuda itu hanya menatap Sonata dan matanya terlihat sedih.

“Kau kenapa sih? Kesambet?” tanya Sonata akhirnya duduk di sebelah Shintaro.

Shintaro menggeleng, “Tidak apa-apa, aku hanya ingin bertemu denganmu,”

“Besok kan juga ketemu, di kelas,” ucap Sonata, “Aneh banget, kita kan satu kelas, tiap hari juga ketemu!”

“Aku tau,”

Tidak biasanya Shintaro terlihat begitu lesu dan sedih, “Kamu kenapa?” Sonata meninju pelan bahu Shintaro, “Hey kamu!!” Sonata menodongkan tangannya yang ia bentuk seperti pistol, “Kembalikan Shintaro!! Kamu siapaaa??!!” serunya heboh.

Shintaro tersenyum, “Bodoh!!” pemuda itu menarik kepala Sonata dan mengacak rambut Sonata tanpa ampun, sampai gadis itu meminta ampun.

“Terima kasih ya,”

“Tuh kan, kamu aneh banget. Tadi sedih, sekarang bilang terima kasih,”

“Aku memang akhirnya merasa lebih baik setelah bertemu denganmu,” kata Shintaro.

Sonata memiringkan kepalanya, “Maksudmu?”

“Aku putus dengan Airin, tadi siang,” ucap Shintaro akhirnya mengakui mengapa dirinya merasa sedih.

“Kok bisaaaa??!!”

Shintaro menggeleng, “Entahlah, salahku apa ya?” selain aku bukanlah Hokuto, tambahnya dalam hati.

Bohong sih jika hati Sonata tidak bersorak karena pernyataan Shintaro. Tapi baru kali ini ia melihat Shintaro sesedih ini. Sonata menepuk pelan bahu Shintaro, “Baiklah… uhm… baiklah… begini saja, aku akan mencoba bicara pada Airin, bagaimana?”

Termyata memang, melihat senyum Shintaro saat membicarakan soal Airin lebih menyenangkan daripada melihatnya sedih seperti sekarang. Kenapa Sonata tidak bisa cuek saja dan memanfaatkan keadaan ini?

***

TO BE CONTINUE

Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] Little Things Called Love (#6)

  1. elsaindahmustika

    aku suka part jureee aikaaaa aaaa mereka emang romantis banget! si jess musnah aja sana hus hus:v biarkan ruika sama hokunii/plak
    etapi airin kasian, ihhh shin juga jahat tapi kesian jugaaaa:”v sona baik dong gak manfaatin keadaan:3 ih dia emang kayak anak bocah banget yaa tapi lucuuu!! aku suka aku suka>< kouchi masih galau sedangkan yua lagi bermabok ria gegara taiga, padahalkan tujuan taiga belom jelas-_- oya hazuki cocok juga kalo sama taiga, yaudah deh yua emang cocoknya bareng kouchi wkwk.. haha ijou desuuuuu, ganbatte for next chapter!^^

    Reply
  2. kiriechan

    Taiga Hazuki , Kuchi Yua aja yg jangan sampe kepisah lagi kak. jesse buang aja lah ituuuu tngeselin banget asli jesse mah nggak inget jaman kecilnya jelek apa hahah /nggak nyambung

    Reply
  3. magentaclover

    AIKA MELEDAKKKKKK ♡♡♡♡♡
    romantis banget aika sm selingkuhannya (baca juri/semoga cepetan resmi) eh jesse lg area ngenes sama selingkuhannya xD itu hokuto muncul gitu aja ya kak… tp terkesan misterius (?)

    Yua kouchi lagi panas sepanas hati ruika (?) Hazuki taiga jg sedang panas kenapa mereka ga nikah2? yg baca ikutan greget *oi* taiga tuh buaya plise yua jauh2 dari taiga, ada kouchi di sana (?)

    Untuk adik2 yg masih sma kisah mereka sepertinya lebih rumit. Kasian shin galau, airin tega ya tapi itu lebih bagus kok dan sona semangat kejar shin udah shin jangan dikasih airin lagi entar dijahatin hahaha…

    Aku minta ruika x hokuto x jesse diperbanyak boleh? Sama taiga x hazuku juga >< gregett (tapi tetep greget kalo yg juri juri sih 😂 *tetep bias*)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s