[Oneshot] Tomodachi

Tomodachi
Cast:
Yamada Ryosuke
Nakajima Yuto
Shiina Hikari (OC)
Rating: PG-15
Genre: Romance and Friendship (gagal)
Ceritanya agak gak jelas. Silahkan diberi komentar. Satu komentar sangat berati untuk saya. :3

Seorang laki-laki berumur belasan tahun berjalan menuju gerbang sekolahnya. Sekolah ini adalah sekolah milik keluarganya. Laki-laki itu melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Dia disambut beberapa siswi yang mengucapkan selamat pagi padanya. Laki-laki itu hanya menjawab sapaan mereka sambil melemparkan senyuman terbaiknya. Senyuman yang bisa membuat semua siswi berteriak histeris dan jatuh hati padanya. Laki-laki itu duduk di bangku nomor dua dari depan disebelah jendela. Di dalam kelas sudah ada teman-temannya yang menanti.

“Yo Yama-chan, hari ini kamu datang lima menit lebih cepat dari biasanya ada apa?” sapa salah satu temannya.

Yama-chan atau Yamada Ryosuke adalah anak pemilik sekolah ini dan juga anak dari pengusaha terkaya di Jepang. Sedangkan temannya yang menyapa adalah Nakajima Yuto. Dia adalah anak seorang pengusaha yang sudah lama menjadi teman Yamada. Perusahaan Nakajima dan Yamada sudah mempunyai hubungan yang baik sejak dulu.

“Nan demo nai. Aku hanya ingin datang lebih cepat saja.” Jawab Yamada.

“Ohayou Yama-chan.” Sapa seorang pemuda bertubuh pendek.

Pemuda itu adalah Chinen Yuri. Nakajima dan Chinen merupakan sahabat dekat Yamada. Yamada tergabung dalam grup musik Hey! Say! JUMP yang sedang naik daun beberapa tahun ini. Membernya terdiri dari Yabu Kota, Inoo Kei, Takaki Yuya, Arioka Daiki, Okamoto Keito, Yamada Ryosuke, Nakajima Yuto, Chinen Yuri dan Morimoto Ryutaro. Member lainnya sudah lulus sekolah. Hanya Yamada, Nakajima, Chinen dan Morimoto yang masih sekolah.

“Ohayou. Nee… Aku dengar hari ini ada ulangan?” tanya Yamada.

“Un. Hari ini ada ulangan bahasa inggris. Mou… Aku tidak suka sekali. Apalagi melihat gurunya yang galak itu.” Keluh Chinen.

Yamada dan Nakajima hanya tertawa melihat tingkah Chinen.

“Nee… Nanti sesudah pulang sekolah, mau coba bermain ke sekolah yang ada disana tidak?” tanya Nakajima sambil menunjuk kearah sekolah yang dimaksud.

Di dekat sekolah mereka, ada sebuah sekolah khusus para siswi. Disana peraturannya sangat ketat. Dulu pernah ada seorang siswa yang menyamar menjadi perempuan untuk masuk ke sekolah itu, begitu ketahuan, siswa itu langsung dikeluarkan. Sekolah itu terkenal dengan siswinya yang pandai dan cantik. Tidak jarang siswa dari sekolah lain datang kesana hanya sekedar untuk melihat siswi yang ada disana.

“Bukannya kita dilarang masuk kesana?” tanya Yamada.

“Siapa yang bilang kita akan masuk kesana? Kita hanya akan lihat dari depan saja. Begitu mereka pulang sekolah, baru kita kesana. Aku yakin banyak sekali penggemar kita disana.” Jelas Nakajima.

Yamada menatap kearah sekolah yang ada diseberang sana. Yamada tidak yakin jika rencana Nakajima akan berjalan semulus yang ia katakan.

***

Yamada, Nakajima dan Chinen berjalan kearah sekolah yang mereka maksud. Yamada sebenarnya tidak antusias dengan semua ini. Dia hanya ikut-ikutan saja. Mereka menunggu dibawah pohon sakura yang agak jauh dari gerbang sekolah itu. Jam pulang sekolah sudah tiba. Para siswi sekolah itu segera keluar. Sebagian ada yang menyadari keberadaan mereka bertiga langsung berteriak kegirangan. Yamada tidak tertarik pada mereka, tapi lain ceritanya dengan Nakajima dan Chinen. Mereka terlihat sangat senang ketika melihat para siswi itu memperhatikan mereka.

Yamada hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kedua temannya. Tiba-tiba seorang gadis keluar dari gerbang tersebut. Rambut hitam tergerai dengan poni yang menghiasinya, mata bulat, bibir cantik, hidung mancung dan kulit yang putih menghiasi tubuh indahnya. Sebuah jepitan kecil bersemat pada rambutnya yang indah. Gaya berjalannya sangat sopan dan anggun. Gadis itu tidak memakai make up tebal, hanya bedak tipis dan lip gloss pink yang tidak terlalu terlihat warnanya. Para siswi disana langsung memberi jalan padanya dan memberi salam kepada gadis itu. Gadis itu tersenyum sambil menjawab salam dari teman-temannya itu dan berlalu menuju mobilnya.

“Nee.. Kau lihat tidak? Dia cantik sekali. Yang seperti itu yang aku cari.” Ucap Nakajima sambil menyenggol pelan Yamada.

“Yama-chan? Yama-chan?” panggil Chinen.

Tidak ada jawaban dari pemuda itu. Dia hanya fokus memperhatikan gadis yang baru saja pulang tadi.

“YAMADA RYOSUKE!!!!” teriak Nakajima.

Yamada terkejut dan tersadar dari lamunannya.

“A-Apa?” tanyanya.

“Dari tadi kami manggil terus!” jawab Chinen dengan kesal.

“Jangan-jangan… Yama-chan suka dengannya ya?” goda Nakajima.

“Ti-Tidak. Ayo kita pulang. Bukannya kita nanti sore ada latihan?” ucap Yamada.

Nakajima dan Chinen hanya saling membuang senyuman dan berjalan dibelakang Yamada.

***

Begitu sampai di tempat latihan, Yamada banyak menghabiskan waktunya hanya untuk merenung. Biasanya Yamada yang paling ceria dan energik, tapi hari ini Yamada hanya menghabiskan waktu istirahatnya dengan diam sambil mendengarkan musik. Sang leader Yabu merasa tidak enak melihat tingkah Yamada yang tiba-tiba menjadi pemurung seperti itu.

“Yama-chan tidak enak badan?” tegur Yabu.

“Ah! Tidak. Aku baik-baik saja.” Jawab Yamada dengan cepat.

“Jika ada sesuatu katakan saja.” Ucap Yabu.

Yamada hanya mengangguk sambil tersenyum.

***

Yamada melangkah gontai menuju rumahnya. Hari ini dia sedang tidak bersemangat melakukan apapun.

“Yamada-sama. Ayah anda meminta untuk bertemu di restoran jam 8 malam.” Ucap salah satu pelayannya.

Yamada semakin tidak bersemangat lagi saaat mendapatkan kabar itu. Yamada menghempaskan dirinya keatas tempat tidurnya. Dari kemarin Yamada terus kepikiran dengan gadis itu. Gadis yang sudah mencuri hatinya itu. Yamada menghela nafas panjang memikirkan pertemuannya dengan ayahnya yang akan dilaksanakan nanti malam. Yamada menduga, pasti ayahnya akan menjodohkannya lagi dengan seorang putri dari pemilik perusahaan. Bagi ayahnya, Yamada itu hanya alat untuk memperbesar perusahaan. Selain dia tidak boleh pacaran karena dia seorang idol, dia juga tidak bisa berpacaran karena standar tinggi ayahnya dalam memilih pasangan hidup Yamada.

Yamada merasa hidupnya sudah ditentukan oleh ayahnya. Menjadi apa, harus melakukan apa, makan apa, menikah dengan siapa, berteman dengan siapa, semuanya sudah ditentukan. Yamada merasa kalau dirinya hanya sebuah boneka manekin ayahnya. Yamada memang tidak berencana untuk datang, mengingat ada gadis yang ia sukai.

***

Yamada berjalan masuk menuju restoran yang sudah ayahnya tentukan. Disana dia melihat ayahnya sedang duduk bersama seorang pria, tapi disana tidak ada seorang wanita. Seharusnya ini menjadi acara perjodohan, mengingat ayahnya selalu melakukan itu saat mengajak bertemu dengannya. Yamada duduk disebelah ayahnya.

“Apa kabar? Nama saya Yamada Ryosuke.” Ucap Yamada sambil membungkuk.

“Ryosuke, ini Shiina-san.” Ucap ayahnya.

“Jadi kemana gadis yang akan dijodohkan denganku?” tanya Yamada dengan cuek.

“Maaf tapi anak saya tidak bisa ikut karena ada les. Jadi saya mohon pengertiannya. Ini fotonya.” Ucap Shiina-san.

Yamada meraih foto tersebut. Betapa terkejutnya dia ketika melihat foto itu adalah foto gadis yang tadi siang ia temui. Dalam sekejap, Yamada menjadi antusias dengan perjodohan ini.

“Namanya Hikari.” Ucap Shiina-san.

Yamada terus memperhatikan foto itu sambil mencoba mengingat nama gadis itu.

“Aku menyetujui perjodohan ini.” Ucap Yamada.

Ayahnya sangat terkejut dengan perubahan sikap Yamada yang menjadi bersemangat.

“Kalau begitu, kita atur pertemuan selanjutnya…”

“Tidak perlu ayah. Aku akan menemuinya sendiri. Berikan saja alamat rumahnya.” Potong Yamada.

***

Yamada berjalan dengan riang kearah sebuah sekolah yang kemarin ia kunjungi bersama Nakajima dan Chinen. Hari ini, Yamada mendapatkan izin langsung untuk memasuki sekolah itu dengan bebas. Tentu saja Nakajima dan Chinen juga ikut. Bagi mereka ini adalah kesempatan emas untuk melihat gadis-gadis cantik. Yamada menyusuri koridor sekolah Hikari. Yamada bertanya pada salah satu murid disana, murid itu memberitahukan jika Hikari sedang ada di ruang guru. Yamada melihat Hikari sedang menyusun beberapa dokumen kemudian keluar.

Hikari terkejut melihat Yamada yang tiba-tiba ada di depan pintu ruang guru. Yamada menarik tangan Hikari.

“Ikut aku.” Ucap Yamada.

Yamada membawa Hikari ke taman belakang sekolah. Hikari hanya terdiam dan mengikuti Yamada tanpa perlawanan.

“Who-Who are you?” tanya Hikari.

Yamada kebingungan karena Hikari mengajaknya bicara dengan bahasa inggris.

“Aku tunanganmu.” Jawab Yamada.

Hikari kelihatan kebingungan. Yamada pun mengambil selembar kertas dan menuliskannya dalam bahasa inggris.

“WHAAATTT?????”

Yamada terkejut karena Hikari tiba-tiba berteriak. Hikari berjalan menjauhi Yamada dan meninggalkannya, tapi sebelum semua itu terjadi, Yamada menghentikannya.

“I don’t need you!!! Let me go!!!” teriak Hikari.

“Kamu butuh atau tidak, aku tetap tunanganmu.”

Hikari menampar Yamada dan berlari meninggalkannya.

***

Yamada menekan nomor ponsel Shiina-san yang merupakan ayah Hikari.

“Moshi-moshi otousan.”

Sejak pertemuan pertamanya dengan Shiina-san, Yamada mulai memanggil Shiina-san dengan sebutan otousan.

“Ah… Ini mengenai Hikari…”

Yamada menutup keitainya ketika sudah mendapat jawaban dari ayah Hikari.

“Bagaimana caranya aku bisa dekat dengannya???” teriak Yamada.

Shiina Hikari. Umur 17 tahun, Tinggi 159 cm. Murid terbaik disekolahnya. Dia baru pindah beberapa bulan yang lalu. Dia tidak bisa berbicara bahasa Jepang dengan lancar. Dia lebih sering berbicara dengan bahasa Inggris. Gadis populer yang sejak kecil selalu masuk sekolah khusus perempuan. Dia tidak menyukai pria dan cenderung takut berhadapan dengan pria. Yamada membolak-balik catatan yang baru saja ia dapatkan dari Shiina-san. Yamada berbaring di tempat tidurnya. Yamada memegang dadanya sambil memejamkan matanya.

“ITU DIA!!!”

***

Yamada berjalan menuju sekolah Hikari dengan cepat. Saat itu Yamada melihat Hikari sudah keluar dari sekolahnya.

“Shiina Hikari-san.”

“Yes?”

“Bertemanlah denganku.” Ucap Yamada sambil tersenyum.

***

Yamada duduk di ruang tamu Hikari bersama Hikari. Ini pertama kalinya Yamada datang ke rumah Hikari. Pelayan Hikari memberikan dua buah teh yang sudah berada diatas meja tamu.

“Douzo.” Ucap Hikari.

Yamada meneguk tehnya dengan sopan.

“Namaku Yamada Rika. Yoroshiku ne…” ucap Yamada dengan imut.

Ini adalah strategi Yamada untuk mendekati Hikari. Dia menyamar sebagai adik perempuan Yamada Ryosuke. Yamada memang tidak punya adik atau kakak. Dia anak tunggal. Yamada mendapatkan ide ini mengingat Hikari sangat baik dengan siswi di sekolahnya.

“Yamada-san?”

“Un. Aku adik Yamada Ryosuke. Panggil saja aku Rika.”

Hikari sedikit menyelidik. Dia sebenarnya masih ragu tentang penjelasan Yamada.

“Aku ingin berteman denganmu. Aku juga bisa membuatmu terbiasa berbicara dengan bahasa Jepang.” Ucap Yamada dengan bahasa Inggris.

“Can you? Really?”

“Sure. Because we are friends.” Jawab Yamada.

***

Yamada berjalan dengan riang menuju rumahnya. Dia berhasil meyakinkan Hikari jika dia adalah adik Yamada. Semalam Yamada mendapatkan ide ini dan langsung meminta pada ayahnya untuk membuatkan identitas baru sebagai siswi disekolahnya.

“Yo!” tegur seseorang dibelakangnya.

Orang itu adalah Nakajima.

“Ah…. Yuto-kun. Ada apa?”

“Bagaimana? Melihat wajahmu, sepertinya kamu berhasil.”

Nakajima dan semua orang disekolah tahu tentang rahasia Yamada yang berubah menjadi Rika, tapi mereka dilarang mengatakannya.

“Iya. Tidak aku sangka cara ini berhasil. Yah… Walaupun aku harus menggunakan rok ini sepanjang waktu.”

“Demo kawaii yo…”

Nakajima merangkul pundak Yamada.

“Hey cantik! Bagaimana kalau kita tidur bersama malam ini?” goda Nakajima sambil merangkul Yamada.

“Hey tampan! Meskipun penampilanku begini, aku juga seorang pria.” Ucap Yamada sambil mendorong Nakajima.

***

“Rika-chan… Hayaku…” teriak Hikari.

Setiap jam istirahat, Hikari selalu menghabiskan waktunya dengan Yamada. Kebetulan jam istirahat mereka sama dan Yamada memeliki izin khusus untuk pergi ke sekolah Hikari. Berkat Yamada, sekarang Hikari sudah bisa berbahasa Jepang. Hikari sudah jarang dan hampir tidak pernah berbicara bahasa Inggris lagi. Yamada duduk diatap sekolah bersama Hikari. Hikari membuka bekalnya dan menyodorkan kepada Yamada.

“Rika-chan, cicipi. Aku membuatnya sendiri.” Ucap Hikari.

Yamada memakan bekal Hikari dan tersenyum.

“Oishii…” ucap Yamada dengan senang.

“Hontou? Ureshii…”

“Ricchan juga makan. Ini.”

Yamada menyuapkan bekal Hikari kepada Hikari. Hikari memakannya kemudian tersenyum. Yamada menaruh bekal Hikari dan menatap Hikari. Hikari hanya tersenyum sambil kebingungan. Yamada mendekatkan wajahnya secara perlahan. Sebuah ciuman mendarat di bibir gadis itu.

“Rika-chan? Doushite?” tanya Hikari dengan bingung.

Yamada hanya terdiam kemudian tersenyum.

“HAH!!! JANGAN-JANGAN INI YANG DISEBUT DENGAN YURI???” teriak Hikari.

Yamada yang terkejut segera menutup telinganya begitu Hikari berteriak kencang.

“Ssssttt!!! Ini bukan hubungan seperti itu…” ucap Yamada sambil menutup mulut Hikari.

Hikari melepaskan tangan Yamada dari mulutnya.

“Kalau begitu apa?” tanya Hikari.

Yamada berpikir sejenak.

“Suki dayo.” Ucap Yamada.

“Atashi wa Rika-chan mo koto ga suki.” Ucap Hikari dengan polos.

“Bukan-bukan… Bukan suka yang seperti itu…” elak Yamada.

“Lalu suka yang bagaimana?” tanya Hikari.

Tiba-tiba bel sekolah berbunyi.

“Ah… Sudah masuk. Kita lanjutkan nanti saja.” Ucap Hikari sambil meninggalkan Yamada.

Yamada masih duduk diatap sekolah Hikari. Dia memang tidak berencana kembali ke kelasnya tepat waktu. Yamada melepaskan wig yang ia pakai sejak tadi dan menatap langit. Yamada memang berhasil menyatakan perasaannya dan mencium Hikari. Tapi dia merasa ada sesuatu yang kurang. Yamada mengganti seragamnya dan segera bergegas pergi ke sekolahnya.

***

“Bagaimana dengan tunanganmu? Kamu berhasil mendekatinya?” tanya Nakajima.

Yamada menatap sedih kearah Nakajima.

“Yuto-kun… Doushi yo…” rengek Yamada.

Yamada memeluk Nakajima kemudian menangis.

“Hah? Ada apa? Kenapa kamu tiba-tiba menangis?” Tanya Nakajima.

“Aku bingung harus melakukan apa…”

Nakajima berusaha mendorong Yamada menjauh darinya.

“Ok. Dengarkan aku. Pertama-tama yang harus kamu lakukan adalah melepaskan pelukanmu. Orang-orang melihat kita…”

Yamada melihat kearah sekelilingnya. Para siswi sedang melihatnya dengan tatapan sedih sebagian lagi berteriak senang melihat adegan yang tidak biasa itu, sementara para siswa pria menatap mereka dengan pandangan “Kami masih normal”. Yamada yang melihat suasana menjadi canggung itu langsung melepaskan pelukannya dari Nakajima.

“Aku menyatakan cinta dan menciumnya.” Ucap Yamada dengan singkat.

“HEH??? KAMU MENCIUMNYA????” teriak Nakajima.

Yamada langsung menutup mulut Nakajima.

“Pelan-pelan saja…” ucap Yamada sambil berbisik.

Nakajima segera duduk di kursinya.

“Ok. Lalu bagaimana reaksinya?” tanya Nakajima.

“Dia malah menyebutku Yuri.” Jawab Yamada.

“HAH??? DIA MENYEBUT NAMAKU???” teriak Chinen.

Sekarang giliran Chinen yang teriak saat melewati Yamada dan Nakajima. Sontak Yamada dan Nakajima langsung membungkam mulut Chinen.

“Berisik sekali sih kalian.” Ucap Yamada dengan kesal.

“Jadi bagaimana?” lanjut Nakajima.

“Bagaimana ya… Saat aku berciuman dengannya, aku tidak merasakan apapun. Waktu aku bilang suka dengannya, dia juga tidak menanggapinya dengan serius.” Jawab Yamada.

“Yama-chan… Bukannya kamu bilang begitu saat kamu menjadi Rika? Jadi wajar saja. Harusnya kamu menemuinya sebagai Yamada Ryosuke. Bukan sebagai Yamada Rika.” Jelas Chinen.

“Oh, ya… Kapan orang tua kalian menjadwalkan kalian untuk bertemu lagi?” tanya Nakajima.

“Harusnya malam ini.”

“Kalau begitu, nyatakan cintamu sebagai Ryosuke.” Ucap Chinen menyemangati.

***

Yamada masuk ke dalam rumah Hikari bersama ayahnya. Hari ini ayahnya datang untuk membahas urusan kerja dan rencana pertunangan mereka dengan ayah Hikari. Yamada dan ayahnya dipersilahkan masuk oleh pelayan di rumah itu.

“Hikari mana?” tanya Yamada.

“Hikari-sama sedang belajar di kamarnya.” Jawab salah satu pelayannya.

Yamada berjalan menuju kamar Hikari yang berada di lantai dua. Yamada mengetuk pintu kamar itu beberapa kali tapi tidak ada jawaban dari orang yang ada di dalam kamar itu. Yamada membuka pintu kamar Hikari secara perlahan. Yamada melihat Hikari sedang tertidur di meja belajarnya. Yamada tersenyum melihat Hikari. Yamada membawa Hikari ke tempat tidur yang tidak jauh dari meja belajar itu dan menyelimutinya. Hikari yang agak terganggu langsung terbangun dan duduk di tempat tidurnya. Hikari mengerjap-ngerjapkan matanya sebelum menyadari ada orang yang duduk di depannya.

“Rika-chan…” panggil Hikari sambil mengusap-usap matanya.

“Kawaii…” gumam Yamada.

Yamada segera memeluk Hikari. Tidak ada penolakan dari Hikari karena dia masih setengah terbangun.

“Nemuii…” ucap Hikari kemudian Hikari tertidur.

Hikari tertidur di pelukan Yamada. Yamada hanya tersenyum dan membiarkan Hikari tertidur.

***

Yamada dan Hikari duduk diatap sekolah. Seperti biasa Hikari dan Yamada menghabiskan waktu istirahat diatap sekolah.

“Nee Rika-chan…” panggil Hikari.

“Nani?”

“Semalam aku mimpi aneh…” ucap Hikari.

“Mimpi apa?” tanya Yamada.

“Aku bermimpi ada seseorang yang masuk ke kamarku. Dia membangunkanku. Aku pikir itu Rika-chan. Ternyata dia seorang pria. Dia tampan sekali. Dia juga membiarkanku tidur dipelukannya.” Jelas Hikari.

“Lalu… Kamu menyukainya?” tanya Yamada dengan ragu.

“Hmm… Bagaimana ya… Saat itu aku merasa jantungku itu berdetak lebih cepat. Apa itu namanya suka?”

Yamada mengangguk sambil tersenyum.

“Nee… Kenapa Ricchan tidak mau bertunangan dengan kakakku?” tanya Yamada lagi.

“Aku tidak tertarik dengannya. Dia itu menyebalkan. Sok ganteng! Pokoknya menyebalkan sekali!”

Yamada agak kecewa dengan jawaban Hikari.

“Aku rasa dia tidak begitu. Dia sangat baik. Bagaimana denganku? Ricchan menyukaiku?” tanya Yamada.

“Mochiron yo… Suki desu.”

***

Yamada berjalan pulang bersama Hikari. Hari ini Yamada ingin berkunjung ke rumah Hikari dan tentu saja Hikari segera menyetujuinya.

“Sebenarnya hari ini aku tidak boleh membawa teman ke rumah. Tapi karena Rika-chan yang ingin pergi, jadi aku memperbolehkannya.”

Hikari masuk ke rumahnya denganmengendap-endap dan segera membawa Yamada masuk ke kamarnya.

“Ada apa Hikari-sama?”

Seorang pelayan di rumahnya tiba-tiba mengejutkannya.

“Uhmm… Nan demo nai.” Ucap Hikari dengan cepat.

Hikari langsung masuk ke kamarnya. Hikari melihat Yamada sedang membaca komik yang ada di meja belajarnya.

Hikari langsung mengambil komik itu dari Yamada.

“Dimana kamu menemukannya?” tanya Hikari dengan panik.

“Kenapa memangnya?”

“Aku dilarang baca komik. Jadi aku diam-diam membelinya.”

Yamada mengelus pelan kepala Hikari. Hikari bertanya-tanya dengan apa yang sudah Yamada lakukan.

“Hikari… Ada yang ingin aku katakan.”

“Hikari?”

Hikari kebingungan kenapa Yamada memanggilnya Hikari bukan Ricchan. Yamada melepas wignya di depan Hikari.

“Kamu ingin menunjukkan kalau rambutmu pendek?” tanya Hikari dengan polos.

Yamada menepuk dahinya.

“Bukan itu…” ucap Yamada.

Kali ini, Yamada membuka seragamnya. Sekarang Yamada sudah bertelanjanng dada.

“KYAAAA!!!!”

Yamada langsung membungkam mulut Hikari.

“Jangan berisik. Nanti ada yang dengar. Dengarkan aku. Aku ini pria. Namaku Ryosuke bukan Rika.”

Yamada masih membungkam mulut Hikari. Hikari hanya diam dan menatap Yamada. Mukanya sudah terlihat sangat merah. Yamada memeluk Hikari.

“Ano… Rika-chan..wa doko?” tanya Hikari dengan ragu.

“Rika itu tidak ada. Akulah yang menjadi Rika. Suki desu.” Jawab Yamada.

Hikari hanya terdiam dalam pelukan Yamada. Jantungnya terasa sangat cepat berdetak. Begitu juga dengan Yamada.

“Atashi…”

Yamada meraih wajah Hikari dan menciumnya. Hikari hanya diam dan tidak menolak. Yamada melepaskan ciumannya. Terlihat wajah Hikari sangat memerah.

“Atashi wa…”

“Sudah. Tidak perlu bicara apa-apa. Aku sudah tahu jawabannya.” Potong Yamada.

“Tadaima…”

Hikari yang mendengar suara ayahnya yang sudah pulang langsung panik.

“Yamada-kun, cepat sembunyi. Biar aku yang alihkan perhatian papa.”

Yamada hanya tersenyum dan langsung mendorong Hikari ke tempat tidur. Tiba-tiba pintu kamar Hikari terbuka. Ayah Hikari berdiri disana. Ayahnya kaget melihat Yamada dan Hikari yang sedang berada di tempat tidur.

“Gomennasai… Papa tidak akan mengganggumu. Papa akan pura-pura tidak mendengar apapun. Tapi jangan terlalu berisik ya? Papa juga ingin tidur hari ini.” Goda ayahnya.

Muka Hikari langsung merah padam.

“MOU!!! PAPA!!!!!”

***

Hikari duduk disamping ayahnya. Hari ini ayahnya mengadakan pertemuan dengan ayah Yamada. Ini pertama kalinya Hikari mau datang menemui Yamada secara formal.

“Jadi… Hikari-chan menyetujui pertunangan ini?” tanya ayah Yamada.

Hikari terdiam dan bingung ingin menjawab apa. Yamada segera duduk disebelahnya dan mencium pipi Hikari.

“Tentu saja dia setuju otousan.” Ucap Yamada dengan senang.

Hikari merasa sangat malu dan segera mengambil pisau roti yang ada di meja dan mengarahkannya kepada Yamada. Yamada yang merasa terancam langsung berlari deri tempat itu.

“TUNGGU YAMADA RYOSUKE!!! AKU AKAN MEMBUNUHMU!!!” teriak Hikari.

“Coba saja kalau bisa..” jawab Yamada sambil tertawa.

OWARI

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s