[Multichapter] Little Things Called Love (#5)

Little Things Called Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 5)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Tanaka Juri, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Jesse Lewis (SixTONES); Ichigo Yua, Kimura Aika, Kirie Hazuki, Mizutani Ruika, Takahara Airin, Matsumura Sonata (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Untitled-1

Pernah sekali seumur hidupnya seorang Kouchi Yugo mencoba menyatakan cintanya. Pada siapa? Tentu saja pada Ichigo Yua. Saat itu festival musim panas dan Yua datang ke festival menggunakan yukata. Manis sekali, hampir membuat Kouchi lupa diri.

“Kita naik bianglala, yuk?” walaupun saat itu antrian cukup panjang, tapi tidak menyurutkan niat Kouchi, “Saat di atas nanti, kita harus mengucapkan pesan masing-masing, aku kepadamu, begitu pun sebaliknya, bagaimana?”

“Untuk apa?” tanya Yua bingung.

“Karena ini adalah musim panas terakhir kita di SMP!”

Setelah mengantri cukup lama akhirnya mereka pun berhasil naik bianglala. Pemandangan dari atas bianglala memang menakjubkan, Kouchi sudah membulatkan tekadnya namun kata-kata Yua saat itu membuatnya terhenyak.

“Baiklah aku duluan ya Kou-chan. Aku bersyukur bisa bersahabat dengan Kou-chan yang walaupun berisik, tukang ganggu dan menyebalkan, Kou-chan tetap teman terbaikku dan selamanya akan jadi teman terbaikku. Semoga kita tidak akan pernah berubah, ya!”

SEMOGA KITA TIDAK AKAN PERNAH BERUBAH. Berarti maju sejengkal pun tidak bisa, hubungan ini akan selamanya jadi sahabat saja. Kouchi pun mengurungkan niatnya, ia pun memberikan pesan yang sama sekali tidak bermutu.

“Semoga Yua akan selalu membiarkan aku mengganggu hidupmu. Selamanya, ahahaha!”

“Ih!! Apa-apaan itu? Pesanmu gak bagus!! Ayo ulang!!” Kouchi masih bisa mengingat wajah kesal Yua yang tangannya tak berehenti mencubiti lengan Kouchi.

Kouchi menahan tangan Yua, “Aduh iya sebentar!! Uhmmm… semoga Yua selalu berbahagia,” kalau bisa sih bahagianya bareng aku, tambahan itu hanya bisa ia bisikkan dalam hati saja.

“Nah gitu dooonngg… kalau begitu aku akan memberimu contekan PR bahasa inggris deh!”

Sejak hari itu Kouchi menikmati perannya sebagai sahabat Ichigo Yua, namun kali ini posisinya terancam karena bisa saja Kouchi tidak lagi menjadi orang terpenting bagi Ichigo Yua, sejak Kyomoto Taiga tiba-tiba saja muncul di kehidupan Yua.

***

Ruangan yang masih sama, sederhana namun sangat rapi dengan dominan warna hitam dan putih. Ruika mendapati dirinya masih saja terpana dengan ruangan milik Matsumura Hokuto. Kali ini dia bisa melihat detailnya lebih lama karena tidak sedang terburu-buru. Besar ruangannya sama dengan miliknya, ditengah ruangan ada sebuah meja kecil yang pasti bisa dijadikan kotatsu jika musim dingin datang. Ada sebuah lemari buku kecil di sudut ruangan yang buku-bukunya sudah penuh hingga di susun di atas lemari itu sendiri, lalu ada foto keluarga, Hokuto menggunakan seragam SMA dan adiknya kelihatannya masih SMP atau SD? Dan Ibunya, tidak ada sosok Ayah di foto itu.

“Ayahku meninggalkan rumah saat aku SMP,” jelas Hokuto sambil menyimpan segelas teh di atas meja kecil berwarna hitam di tengah ruangan itu.

Ruika menoleh dan memerhatikan Hokuto yang berdiri di dapur yang sedang mengambil dua piring kecil untuk menyimpan cheese cake mereka. Laki-laki di dapur, alih-alih terlihat seperti wanita justru terlihat sangat macho. Mungkin itu juga yang membuat dirinya terpikat dengan Jesse. Karena di awal usahanya, Jesse kadang ikut turun tangan untuk membuat roti sendiri. He’s good at it! Dan tampan sekali dengan apron dan tangan penuh terigu.

“Silahkan, Mizutani-san,” kini Hokuto duduk di sebelah Ruika.

Ruika mengangguk-angguk, “Matsumura-san tidak punya televisi?” rasanya sepi sekali ruangan ini.

Hokuto tersenyum, “Aku tidak perlu. Lebih dari delapan belas jam sehari aku berada di luar rumah, dan jika pulang biasanya aku tidur saja, atau mungkin bikin tugas, jadi jarang sekali terpakai televisinya,” jelas Hokuto. Ruika mengangguk-angguk mengerti. Kalau tidak ada TV di kamarnya, dia pasti akan merasa sangat bosan, “Ngomong-ngomong ini cheese cake nya enak sekali,”

Ruika tersenyum senang, “Waaa berarti aku berhasil!”

“Eh? Ini buatanmu sendiri? Katanya tadi beli,” ucap Hokuto takjub.

“Ehehehe.. soalnya bukan murni buatanku sih, ini dibantu oleh seniorku di tempat kerja, pakai dapur toko pula,”

“Oh… Mizutani-san kerja di toko kue?” Hokuto menyendokkan lagi kue itu dan langsun mampir ke mulutnya.

Ruika menggeleng, “Bukan-bukan.. toko roti sih sebenarnya, tapi seniorku ini jago bikin kue dan aku minta diajari,”

“Toko roti yang mana? Dekat sini?” tak terasa kue itu sudah habis dilahapnya.

Lewis Bakery, iya tak jauh ko dari sini. Yang datang tadi juga bosku, namanya Jesse Lewis,”

Ngapain bos main ke rumah bawahannya segala? Memangnya Ruika sedang sakit? Pikir Hokuto heran. Tapi sejujurnya nama itu familiar sekali di telinganya, tapi dia benar-benar lupa kapan terakhir kali mendengarnya.

***

Sudah dua hari menghindari kekasihnya sendiri. Bukan karena mereka bertengkar, tapi lebih karena perasaan Airin yang terus saja bertengkar dengan dirinya sendiri. Walaupun kata-kata Hokuto sudah sangat jelas. “Jawabanku tetap tidak, dan semoga kau bahagia dengan Shintaro,” sesederhana itu dan kenyataannya sulit sekali menghapus bayangan Hokuto dari benaknya. Airin menatap ponselnya yang dipenuhi oleh daftar panggilan tak terjawab, puluhan e-mail dan chat yang belum sama sekali ia sentuh. Dari satu nama yang sama Morimoto Shintaro.

“Ai-chaaannn!! Ini ada Shin-kun dataaanngg!!” seru Ibu dari bawah, dan sebelum Airin sempat membantah ibunya sudah berteriak lagi, “Ibu suruh ke atas saja yaaaa!!”

Uh oh! Kenapa pula Shintaro harus datang sekarang???!!

“Ai-chan, hello!” pintu kamarnya terbuka dan Airin hanya bias mematung menatap Shintaro yang berdiri di hadapannya, matanya bergerak-gerak gelisah, canggung dan sedikit sedih.

“Hai,” jawab Airin lirih.

“Kenapa tidak menjawab pesanku dan tidak mengangkat telepon?” Shintaro mendekat pada Airin, “Bahkan setiap aku menjemputmu ke kelas kau selalu tidak ada, kamu baik-baik saja, kan?” Shintaro menarik bahu Airin, memeluk tubuh Airin dengan erat, “Jangan membuatku khawatir dong,” ucapnya lagi, tepat di telinga Airin.

Entah mengapa Airin merasa sedih. Dengan semua sikap Shintaro dan semua yang sudah pemuda itu lakukan untuknya termasuk bernyanyi di depannya saat menembak dulu, hati Airini tetap tidak bisa memilih pemuda itu. Otaknya, hatinya selalu saja hanya dipenuhi oleh Hokuto. Dia sudah bersikap tidak adil kepada Shintaro.

“Ai-chan, kau baik-baik saja kan?” Shintaro melepaskan pelukannya, menatap wajah Airin yang kini matanya sudah berkaca-kaca.

Gomen,” dan seakan tidak ingin memperlihatkan keraguannya, Airin memeluk Shintaro, “Aku hanya…. Sedang sibuk.” Yeah, jawaban yang cukup diplomatis.

“Lain kali walaupun sibuk, kau tetap harus mengabari aku ya,” ucap Shintaro menenangkan Airin, “Kita ke rumah Sona yuk, Ibunya sudah pulang dari Rumah Sakit,” Shintaro menghapus jejak air mata di wajah Airin dengan jarinya.

Airin mengangguk, semoga tidak ada Hokuto. SEMOGA TIDAK ADA HOKUTO!! Seru Airin dalam hati.

***

Sonata mendekati ibunya yang sedang terbaring di kamarnya, sudah saatnya Sonata memberi tahu ibunya, urusan kakaknya belakangan saja, toh Hokuto pasti memarahinya mau sekarang atau nanti, sama saja. Dan yang penting sekarang ibunya setuju terlebih dahulu.

Okaa-san,” Sonata membenarkan letak selimut ibunya sambil duduk di sebelah tubuh ibunya yang berbaring, Ibunya berbalik menatap anak bungsunya itu, “Aku sudah menghubungi tempat kerjamu dan mereka… setuju kalau aku menggantikan ibu sebagai pekerja paruh waktu, sepulang sekolah!” ucap Sonata dengan tegas dan percaya diri.

“Ya ampun Sona, kau tidak perlu melakukannya, beberapa hari lagi juga ibu akan bisa bekerja lagi,” dilihatnya wajah letih ibunya, membuat Sonata rasanya ingin memarahi ibunya yang keras kepala.

“Iya bu, jadi ibu bisa pulang lebih awal, dan aku akan meneruskan jam kerja ibu! Kumohon bu, ini tidak akan mengganggu belajarku, justru aku bisa belajar dengan orang-orang di sana, kan?” Ibunya Sona memang bekerja di sebuah bimbingan belajar sebagai staff administrasi.

“Kumohon buuuu~ aku janji kalau sampai nilaku di ujian mendatang jelek, aku pasti akan berhenti,” Sonata menunjukkan wajahnya yang bersungguh-sungguh, dirinya pun ingin berkontribusi pada keluarga ini, kalau kakaknya saja bisa membantu keluarganya sejak SMA, kenapa dirinya tak bisa, kan?

Ibunya hanya terdiam, menatap putrid bungsunya itu dan akhirnya mengangguk sebagai persetujuan, “Baiklah,”

TING TONG!

Bel apartemen keluarga Matsumura berbunyi. Sonata segera keluar dari kamar dan membuka pintunya, ternyata Airin dan Shintaro yang mengunjunginya.

“Hey! Ibumu sudah baik-baik saja?” tanya Shintaro dan tanpa basa-basi masuk ke rumah itu seakan itu adalah rumahnya sendiri. Sonata menjelaskan soal ibunya yang sudah baikan.

Tapi daripada membahas kelakuan Shintaro, Sonata lebih curiga dengan muka sembab nya Airin. Kenapa lagi gadis itu sampai menangis? Apakah ada masalah antara Shintaro dan Airin? Uhm…

Aniki mana?” Shintaro menanyakannya sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling apartemen.

“Hoku-nii kan harus kuliah dan kerja jadi dia sudah kembali ke apartemennya sendiri,” entah mengapa Sonata sangat penasaran dengan ekspresi wajah Airin ketika ia mengatakannya dan benar saja raut wajah Airin berubah.

“Kau sudah makan siang, belum?” tanya Shintaro kepada Sonata.

Sonata menggeleng, “Ada sih bahannya, mungkin…” dan sebelum Sonata bergerak, Airin sudah membuka pintu kulkas.

“Uhm… kita buat kare saja yuk! Bahannya semuanya ada, nih…” ucap Airin dengan santai.

“Eeehh?? Ai-chan sudah bisa membuat kare?” seru Sonata takjub, sepertinya hanya masak mie instan keahliannya selama ini.

“Tidak susah ko, bagaimana?”

“Wuihhh… lihat dong Sona, calon istri yang baik kan Ai-chan??” Shintaro mengatakannya dengan bangga, membuat Sonata cemburu saja.

“Iya, tapi mana mau dia menikah denganmu?!” Sonata berjalan ke dapur sementara Shintaro terlihat kesal lalu mencubit pipi Sonata sebelum pamit keluar untuk beli minuman kaleng untuk mereka bertiga.

“SHIIINNNN!!” dan protes itu hanya terdengar gaungnya saja saat Shintaro berlari keluar.

Ditinggalkan berdua dengan Airin membuat mulut Sonata gatal sekali ingin bertanya mengenai Airin dan kakaknya. Karena sangat mencurigakandan Sonata jujur saja, penasaran sekali sampai-sampai dia membuat cerita versi sendiri. Mungkin Airin sedang bertengkar dengan Shintaro? Dan karena sedih ia menangis sambil memeluk Hokuto? Tapi bukankah Airin tidak cerita apapun mengenai masalah dirinya dengan Shintaro? Lagipula sekarang mereka berdua terlihat baik-baik saja. Aaarrgghhh… Sonata merasa sangat penasaran.

“Sona.. bisa minta tolong kupas dan potong wortelnya?”

Lamunan Sonata pun buyar, “Eh iya! Oke oke…” Sonata mengambil pisau dan membantu Airin memasak, ah cuma ngupas sama motong sih gampaaanngg, “Aw!” ia melihat darah segar keluar dari ujung jarinya karena dia belum mahir memakai pisau, “Aduuuhhh!!” Airin dengan sigap menarik tangan Sonata ke bawah air mengalir lalu memberinya plester di tangan Sonata.

“Uhuhuhu… arigatou Ai-chan,” mata Sonata berkaca-kaca karena kesakitan dan terharu atas pertolongan Airin.

Airin tersenyum, “Tidak masalah!” setelah berkata begitu Airin berbalik dan melanjutkan kegiatan memasaknya, “Ya sudah Sona-chan mau bantu masukan bumbu saja?”

Sonata menggeleng, “Aku akan menyelesaikan misi memotong wortel!!” ujar Sonata dengan bersemangat.

“Ngomong-ngomong Sona-chan, aku sebenarnya ingin membicarakan sesuatu,” Airin yang sibuk menakar bumbu mengatakannya dengan santai.

“Soal… apa?” Sonata masih berjuang mengupas wortel keduanya.

“Soal Sona-chan yang menyukai Shin-kun..”

PLUK. Wortel yang dipegang oleh Sonata pun sukses jatuh ke bawah, “HAH?! Aku kan sudah bilang.. kalau….”

“Percuma berbohong padaku, Sona-chan,”

Sonata manyun lalu menunduk, “Gomen..aku tidak bermaksud… tapi..”

“Kalau begitu kita satu sama,”

Sambil terheran-heran Sonata menatap Airin, “Maksudnya?”

“Aku juga menyukai kakakmu dan aku tak pernah bilang padamu,”

Tak disangka pertanyaan Sonata terjawab sudah. Tapi… kelau begitu kenapa Airin malah berpacaran dengan Shintaro?

***

Berkali-kali Jesse menatap ponselnya dan tersenyum seakan ia mendapatkan medali emas untuk kejuaraan. Semuanya sudah tercapai, nama tokonya sudah tersebar di seantero negri, tidak ada yang tidak tau mengenai tokonya. Terima kasih kepada Kimura Kazuya, imipiannya tercapai, bahkan seharian ini ponselnya tidak pernah sepi dari telepon orang-orang, termasuk Ayahnya.

KIMURA AIKA, PUTRI CHEF KIMURA BERTUNANGAN. JESSE LEWIS, PEMILIK LEWIS BAKERY ADALAH PEMUDA YANG BERUNTUNG ITU.

Headline di beberapa koran dan majalah jelas-jelas memuat namanya dan Aika. Sepertinya Kimura Kazuya tidak bisa menyembunyikannya dan tanpa sadar menyebarkannya lewat beberapa temannya. Namun hal itu menjadi gosip hangat dan sepertinya karena itulah status mereka tiba-tiba menjadi ‘tunangan’ walaupun sebenarnya belum ada keputusan apapun.

“Jadi, kau bertunangan?” Jesse hanya tertawa dan mengangkat bahunya.

“Tidak Kouchi. Belum ada keputusan apapun antara aku dan Aika,” Jesse menyantap sandwichnya, diang ini dia nongkrong dengan Kouchi, teman satu jurusannya.

Kouchi mengangguk-angguk, “Jadi kapan pestanya? Ngomong-ngomong aku saja baru sadar kau sudah putus dengan siapa… itu loh… gadis yang kau ceritakan waktu itu… siapa?” Kouchi berusaha mengingat nama si gadis yang pernah Jesse ceritakan saat mereka nongkrong dengan beberapa teman beberapa waktu lalu.

“Ruika? Yeah, gitu deh,” Jesse tak ingin menjelaskannya lebih jauh karena sepertinya dia menceritakan soal Ruika karena dirinya agak mabuk malam itu.

“Oh sial, sudah jam segini aku harus pergi,” ucap Kouchi membereskan bukunya dari atas meja, “Aku pergi dulu,”

“Jadi kau mulai kerja hari ini?” tanya Jesse, dijawab anggukan oleh Kouchi, “Yo! See ya!” ucapnya sebelum Kouchi benar-benar menghilang dari hadapannya.

Ponselnya bergetar lagi, dan ternyata dari Aika, ia pun segera mengangkatnya, “Moshi-moshi?”

“Uhm… Jesse-kun, apa kau melihat headline nya?” suara Aika begitu terdengar gelisah, “Anou.. gomen ne, itu Ayahku yang sembarangan bicara,”

Headline yang mana?” okay untuk sekarang Jesse akan pura-pura tidak tau.

“Oh… Jesse-kun belum mengetahuinya?” Jesse tidak menjawab, “Tadi ayah meneleponku dan… dia bilang dia ingin bertemu denganmu, malam ini,” ucap Aika dengan nada masih saja gelisah terdengarnya.

“Baiklah. Sampai jumpa nanti malam, ya?”

***

Awalnya Aika juga tidak memercayai ini semua. Sampai Hazuki mengiriminya e-mail yang menunjukkan berita panas hari ini. Seharian ini ia sudah mendapatkan kata selamat dari beberapa orang yang ditemuinya, bahkan hingga Aika kebingungan mendapat ucapan selamat dari keluarganya.

“Ayah?? Mana bisa kau tidak sengaja mengatakannyaaaa??!!” seru Aika segera menelepon Ayahnya setelah mendapat tautan dari Hazuki.

“Ahahaha maafkan aku. Semalam saat bertemu dengan teman-temanku aku malah menceritakan pertunanganmu!” tenang seperti biasanya, membuat Aika kesal.

“AYAAAHHH!! Ini masalah seriuuusss!!” seru Aika mulai frustasi.

Ayahnya masih tertawa di ujung telepon satunya, “Ya sudah nanti malam ajak calon suamimu itu ya, Ayah mau bicara,” klik. Sambungan itu dimatikan sepihak, dan saat Aika mencoba menelpon Ayahnya lagi, hanya asisten Ayah yang mengangkat.

“BAGAIMANA INIIII??!!” Aika mengacak rambut sebahunya dengan frustasi, wajahnya menempel pada meja kantin kampus, rasanya ingin menghilang saja dari dunia ini.

“Hey, hidup itu terlalu singkat untuk disesali,” saat Aika mendongak, dilihatnya wajah Taiga yang tersenyum menyebalkan, seperti biasa, “Ini pesanan anda, Kimura-san,” secangkir coklat panas tersaji di meja Aika, padahal hari sedang panas tapi Aika memilih minuman panas.

“Taigaaaaa… hiks.. hiks..” Aika membuat suara seperti terisak, menarik-narik ujung apron yang dipakai Taiga, “Gimana doonnggg??!!”

Taiga duduk di hadapan Aika, “Ada apa sih? Kau kesambet setan?”

Aika tidak menjawab dan hanya menunjukkan berita yang dikirim Hazuki di hadapan Taiga, “nih…”

Taiga terdiam sekilas membaca berita yang ada di layar ponsel milik Aika, “Wow! Selamat yaaa.. akhirnya tunangan juga, hahahaha,”

Alih-alih senang Aika malah manyun dan menunjukkan wajah kesal, “Taiga bodooohhhh!!”

“Ahahahaha, loh ko malah sedih sih? Harusnya kamu berbahagia dong,”

“Tidak aku tidak bisa terlalu senang,” karena aku baru saja memikirkan kemungkinan putus dengan Jesse dan menerima Juri, tambah Aika dalam hati. Aika suka pada Jesse, ya, itu benar, tapi Juri… Juri membuatnya nyaman dan itu tidak terjadi dalam waktu singkat namun dalam waktu lama sejak dirinya dan Juri bertemu di SMA. Sejujurnya memang Aika belum bisa memutuskan apakah yang ia rasakan pada Juri memang benar-benar cinta, tapi ia memikirkan keumgkinan itu.

“Taiga-kun, kembali bekerja sana!” Hokuto sudah berdiri di samping meja Aika dan Taiga beranjak dari kursinya sambil tertawa.

“Aduh maafkan aku Matsumura-san, tapi teman kita ini baru saja bertunangan dan aku memikirkan perayaannya pasti heboh sekali, hahaha,”

“Tunangan? Benarkah?” Hokuto malah jadi penasaran, “Dengan siapa?” baik Taiga maupun Aika tidak menjawab. Taiga mengambil ponsel Aika dan menunjukkannya pada Hokuto.

“Jesse Lewis! Pemilik Lewis Bakery!!” Taiga mengatakannya dengan penuh ekspresi berlebihan.

Hokuto memandangi foto Aika yang di edit bersebelahan dengan foto Jesse. Jesse Lewis, Lewis Bakery, YA AMPUN!! Ini laki-laki yang kemarin datang ke apartemen Ruika!! Yah, Hokuto sekarang ingat kapan ia mendengar nama Jesse, yaitu saat Aika mengucapkannya tempo hari!! Uh oh, ada apa ini? Kenapa tunangan Aika malah ada di apartemen Ruika??!!

***

“Hey, aku Kouchi Yugo,” ucapnya dengan sedikit gugup, “Salah… salah harusnya begini, Halo semuaaa aku Kouchi Yugo!” Kouchi menggeleng lagi, sepertinya berlebihan sekali.

“Kouchi-sensei sedang apa?”

“Ya ampun Matsumura-san! Membuatku kaget saja!” memang Kouchi sedang di pantry dan gilirannya mengajar setelah istirahat.

“Kan sudah kubilang panggil Sona saja, kan aku juga seumuran muridmu, Kouchi-sensei,” ucap Sonata kepada Kouchi yang sedang menyantap mie instan sambil memeragakan caranya mengajar.

“Iya sih, tapi kau juga kan staf admin, tapi baiklah aku akan memanggilmu… Sona-san,” Sonata menggeleng, “Sona… chan?” akhirnya Sona mengangguk.

“Nah begitu lebih baik!” Sonata ikut duduk setelah membuat mie instan juga, “Gugup di hari pertamamu, sensei?” Sonata mengambil buku pelajarannya dan membukanya di hadapan Kouchi.

Kouchi mengangguk, “Biasalaahh.. masalah klasik,” ucapnya, “Belajar apa sih?”

Sonata menunjukkan bukunya, “Matematika nih sensei, uhuhu.. aku paling lemah pelajaran ini,”

Kouchi mengambil buku Sonata, membukanya, mencari soal-soal yang belum dikerjakan oleh Sonata, “Nih kerjakan dalam lima menit, nanti serahkan padaku kalau sudah selesai,” ucapnya sambil menyerahkan kembali buku itu pada Sonata dan menujukkan soal yang Kouchi maksud.

“Boleh sambil makan kan tapi?”

Kouchi mengangguk sebagai jawaban. Selama lima menit Sonata mencoba menyelesaikan soal itu, namun rasanya ia salah rumus karena jawaban itu tidak muncul di pilihannya, “Uhm… kok salah ya?” ucap Sonata bingung, menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Kouchi mengambil buku Sonata dan memerhatikan jawaban milik Sonata, “Naaahhh, kamu salah di sini nih,” cara Kouchi menjelaskan membuat Sonata mudah mengerti. Kouchi menunjuk soal yang agak mirip dengan soal yang baru saja ia kerjakan dan ia pun langsung bisa mengerjakannya dengan cara yang Kouchi ajarkan.

“Waaaa arigatou Kouchi-sensei,” ucap Sonata senang, “ternyata bisa jadi mudah juga ya,”

“Kalau kau mau aku bisa membantumu belajar jika sedang istirahat, ujianmu sebentar lagi kan?”

Sonata mengangguk, “Tapi.. tidak merepotkan nih?”

“Selama masih seputar matematika, fisika, aku pasti bisa membantumu, lain hal kalau kau menanyakan bahasa perancis, ahahaha,” tak lama terdengar tanda bel masuk kelas berbunyi, “Duh, doakan aku ya Sona-chan!” Kouchi berdiri dan meneguk air mineral sebelum melangkah untuk ke kelas.

Sonata mengacungkan jempolnya ke arah Kouchi, “Ganbare Kouchi-sensei!!”

***

Juri menatap kembali layar ponselnya, menerka-nerka apakah ini jawaban dari pertanyaan Juri tempo hari kepada Aika? Dia menyatakan cintanya dan hanya selang sekitar seminggu berita pertunangan Aika dengan Jesse beredar luas. Jadi sebagai jawaban Aika menjawabnya tanpa kata-kata dan memilih untuk menyebarkan berita ‘bahagia’ ini. Yeah, ini berita belasungkawa untuk dirinya sendiri.

Walaupun tau menghela nafas tidak akan membantunya dan permasalah cinta ini, tapi tetap ia lakukan untuk sedikit mengurangi beban hatinya. Rasanya langkah kakiknya semakin terasa berat apalagi mengingat ia akan bertemu dengan Aika sebentar lagi. Bagaimana ia harus berekspresi? Sedangkan setelah pernyataan cintanya saja jarak dirinya dengan Aika menjadi renggang karena Aika bersikap canggung begitu pula sebaliknya. Menyesal? Sedikit. Sisanya ia merasa lega sebenarnya karena kata-kata suka itu akhirnya keluar dan tersampaikan.

Juri mmandangi sepatunya, kini ia sudah berdiri di depan pintu studio. Menimbang-nimbang apakah ia harus masuk ke dalam atau memilih berbalik dan melarikan diri? Tiba-tiba pintu terbuka dan sosok Aika lah yang ada di hadapannya.

“Astaga Juri-kun! Mengagetkan saja!!” wajah Aika terlihat kaget, “ehm… mau masuk?”

Juri menatap wajah Aika yang terlihat salah tingkah, “Omedetou atas pertunanganmu,” Aika hendak membuka mulut namun Juri menambahkan, “Aku mengerti. Kau sudah menjawab perasaanmu padaku.”

“Tidak! Bukan begitu, Juri-kun!” Aika menunduk dan matanya sudah berkaca-kaca, “bukan begitu..”

“Lalu bagaimana? Kau sudah jadi tunangan orang lalu menurutmu aku harus bagaimana?!” seru Juri, ia tidak sengaja membuat intonasinya menjadi seperti membentak Aika, ia menyesalinya namun emosinya kini sulit sekali dibendung.

Kini air mata benar-benar sudah mengalir di pipi Aika yang gadis itu tutupi dengan tangannya, “Gomenasai, aku… aku…” Aika menoleh dan menatap wajah Juri yang terlihat marah dan kecewa. Seketika saat itu Aika mengerti hatinya sendiri. Bahwa jika ia kehilangan Juri, hatinya lebih akan terasa sakit, hanya beberapa hari saja Juri menjauhinya dan mereka tidak menceritakan hal-hal aneh lewat chat, Aika kehilangan. Tidak dapat melihat Juri dengan senyumnya saja Aika merasa hidupnya tidak bersemangat.

Tanpa menjelaskan apapun Aika menghambur ke pelukan Juri, menumpahkan tangisnya, kecewa pada cara gegabahnya membuat Jesse dan Ayah bertemu. Kali ini masalahnya bukan sekedar perasaan Juri atau Jesse, hal ini sudah melibatkan Ayah dan media.

“Aika…” Juri berbisik lirih, kaget Aika memeluknya.

“Maafkan aku…” isakan tangis Aika semakin keras, ia tidak mau kehilangan Juri lalu bagaimana caranya?

***

Jadi Aika juga menyukai Juri? Jadi selama ini sebenarnya perasaan Juri berbalas? Hazuki memikirkannya setelah memutuskan untuk memutar balik dari studio, karena melihat Aika dan Juri berpelukan. Padahal, Aika sudah bertunangan dengan Jesse tapi perasaannya pada Juri? Duh, hatinya terasa sedikit sakit. Walaupun ia sudah berjanji pada Juri bahwa kebahagiaan Juri adalah kebahagiaannya nyatanya setelah kejadian ia masih saja merasa sedih.

Ah iya! Dia harus memberi tau Kouchi dan Taiga bahwa latihan malam ini dibatalkan hingga besok siang. Dia sedang mengetik pesan untuk Taiga dan Kouchi saat meihat Kouchi datang lengkap dengan kemeja dan celana bahan.

“Kouchi-kun? Dari mana?”

Kouchi menatap Hazuki, “Uhm… aneh ya? Ahahaha maaf mulai hari ini aku kerja paruh waktu sebagai pengajar, walaupun tidak full sih, jadi beginilah style ku sekarang,”

“Latihan diundur sampai besok siang,” ucap Hazuki, “baru saja aku akan mengirimu e-mail,”

“Yaaahhh… sudah jauh-jauh ke sini,” kata Kouchi lalu tertawa, “Kita makan malam saja yuk? Kirie-san sudah makan malam?”

“Tapi jangan sekitar sini deh, aku tau tempat makan yang enak!” Hazuki sedang butuh penyegaran dan pergi agak sedikit jauh tidak akan menyakitinya.

“Boleh deh!”

Kouchi mengikuti langkah Hazuki yang membawa mereka ke Stasiun Tokyo. Walaupun bertanya, Kouchi tetap tidak mendapatkan jawaban terutama saat mereka akhirnya naik JR Yamanote Line. Sepanjang perjalan yang tidak begitu lama Hazuki menceritakan bahwa restoran ini paling ia sukai karena pemandangannya yang sangat keren. Tak lama mereka pun sampai di Odaiba, benar-benar pejalanan yang spontan.

Hazuki membawa Kouchi ke Palette Town, pusat perbelanjaan yang terkenal di kota Odaiba. Hazuki memilih sebuah restoran yakiniku dengan pemandangan langsung menghadap ke Rainbow Bridge yang terkenal itu.

“Bisa-bisanya kau membawaku ke sini!” seru Kouchi.

Hazuki nyengir lebar, “Maaf ya Kouchi-kun, aku sedang butuh hiburan nih! Tidak keberatan, kan?”

Kouchi menggeleng, “Tentu saja tidak. Ini malah sangat menyenangkan, aku jarang jalan-jalan jauh kecuali dengan Yua,”

“Kouchi-kun dan Ichigo-san dekat sekali ya?”

“Kita tumbuh bersama sih, sejak kecil kami bersama-sama,”Kouchi mengatakannya sambil mengunyah daging.

Hazuki mengangguk, “Kouchi-kun suka pada Ichigo-san, ya?”

“Uhuk! Uhuk!” Kouchi segera mengambil air untuk mendorong daging yang tiba-tiba masuk karena ia kaget, “Ah Hazuki-san ini bercanda! Ahahaha… ahahaha…” tawa Kouchi terdengar seperti robot saking garingnya.

Hazuki langsung tertawa, “Tenang… tenang… kita senasib ko,” Hazuki menepuk-nepuk punggun Kouchi, “Aku juga menyukai sahabatku tapi dia tidak suka aku,”

Kouchi tidak tau perasaan Yua dan walaupun mereka sudah bersama hampir seluruh hidup mereka, untuk urusan satu ini Kouchi tidak bisa menebaknya sama sekali.

“Caranya tau, tentu saja langkah pertama Kouchi-kun harus menyatakan cintamu. Cinta yang tidak terungkapkan adalah jalan tercepat menuju patah hati yang paling menyakitkan.”

Itu dia masalahnya. Sepertinya Kouchi bahkan sudah tertolak walaupun belum menyatakannya.

***

Latihan diundur sampai besok ya, jangan ke studio!

Setelah membaca e-mail dari Hazuki, Taiga merasa agak curiga, tapi memutuskan untuk menuruti saja perkataan gadis itu. Tapi berkali-kali ia menelepon Hazuki, hasilnya nihil Hazuki tidak mengangkat teleponnya sama sekali.

Taiga menepikan mobilnya, masuk ke Restoran milik keluarga Aika. Malam ini rasanya ia ingin makan masakan eropa, salah satu keuntungan berteman dengan Aika, dia tak perlu resevarsi sebelumnya. Toh Ayahnya dan Ayah Aika pun sudah berteman sejak lama.

“Sachi-san… berikan aku meja dong,” Taiga mengeluarkan jurus andalannya, tersenyum manis dan menampakkan wajah tertarik pada si gadis.

“Kyomoto-san! Sudah lama sekali tidak pernah kesini, aku kan merindukanmu!” ucap si gadis bernama Sachi itu. Taiga tidak menjawab dan hanya tesenyum dengan manis.

Sachi menunduk memeriksa daftar tamu dan jam kedatangan, “Ada sih satu.. tapi agak di pojok, tidak apa-apa kan?” Taiga langsung mengangguk dan masuk ke restoran itu diantar oleh Sachi.

“Silahkan tuan, mau pesan…. Taiga-kun!” Yua rasa-rasanya tidak melihat nama Taiga di daftar tamu hari ini, eh? Apa dia melewatkannya?

“Ya ampun Yua-chaaann.. jadi kau kerja di sini?” bohong sekali. Padahal jelas-jelas Yua memang sudah menceritakannya pada Taiga saat mereka makan siang tempo hari.

Tiba-tiba Yua merasa sedikit konyol karena mengkhawatirkan dandanannya hari ini yang rasa rasanya terlalu biasa jika saja ia tau Taiga akan datang.

“Taiga-kun mau pesan apa?”

Taiga menyebutkan pesanannya yang biasa ia beli jika ke restoran itu, “Tambahannya, aku ingin tau jam berapa kau pulang?” wajah Taiga kini sudah menatapnya.

“Eh?”

“Serius.. kau pulang jam berapa?” kini wajah itu menambahkan senyum sebagai asesorisnya, membuat jatung Yua rasanya tak keruan.

“Itu… jam setengah sembilan, biasanya…” gugup sekali entah Yua bicaranya jelas atau tidak.

“Oke, aku tunggu di depan restoran ya,”

***

TO BE CONTINUE

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Little Things Called Love (#5)

  1. elsaindahmustika

    aaaaaaa lanjut kak dinnnnn!!!! kepo sama aika juriii*-* mereka lagi greget wwwwww, sama sona airin shin juga sih.__.trusss sama kouchi yua juga deng! duh cepetan dong kouchi-sensei tembak yua, masa kalah sama juri:v disini banyak typo, but aku bisa ngertilah ya ada kendala kemarin, biar gitu juga kak din nepatin pas hari rabu, arigatou^^
    sebenernya udah baca kemaren tapi belom sempet komen, soalnya ngantuk x’D eh eh iya si jess tambah kurang ajar aja-_- semoga dibongkar hokuni pupupu:v oh ya buat yua selamat berfangirling wwww xD

    Reply
  2. magentaclover

    Ohayouuuu~ udah baca dari tadi malem tapi males ngedrabble buat komen xD
    Chapter ini edisi ngenes2 sepertinya lol

    Itu jesse kok gitu banget ya dia tuh kayak antagonis cinta 😂 ruika… aika… emang dasar si jesse –” dan ga nyangka dia ternyata kenal sama kouchi kirain kouchi ga punya temen selain yua #plak

    Buat sona sama airin mereka lucu dimataku manis, anak muda hahaha suka sama airin to the point dan sona yg manis manis cocok deh temenan sama airini. Agak kasian sih sama shin tp it’s oke shin harus tau ada sona yg selalu perhatiin dia bukan airin karena airin naksir hokutong sampe segitunya xD

    Buat yua… semoga hari-harimu indah dengan taiga tapi kasian kouchi 😂 tapi kasian taiga juga digituin sama hazuki eh hazuki lebih ngenes karena juri…. tapi dia tegar banget walau kadang agak munafik sama hatinya sendiri *alibi* tapi kouchi ketemy sona bakal ada sesuatu ga ya antara murid dan sensei?

    Buat ruika aku rasa hidup dia kok yg paling begitu ya xD dia kayaknya interaksi sama tokoh lain kurang? Iya ga sih? Atau sengaja ya? Soalnya kasian aja 😂

    Buat juri… buat aika… akhirnya aika setelah ketiban ufo sadar kalo ga liat senyum juri rasanya gak semangatttt!!! Iyeeesss (?) Suka waktu juri pasang muka marah sama kecewa kok rasanya ngenes sendiri kalo jadi aika. Seenaknya peluk2 juri si aika 😂 coba pikirin itu ayah dan media apa kabar dan gimana jesse dengan kemenangannya? Hahhahahah

    Ada beberapa typo kak, yang agak fatal sih menurutku salah penulisan nama Kimura jadi Kirie… menurutku juga ada diksi yg kurang pas tapi karena plotnya sangat oke aku gak mengindahkan semua itu 😃

    Dan ada beberapa kalimat/dialog yg bikin aku woo senang dan terkejut dan bertanya2 secara pribadi *apasih* nih yang ini…

    “Lalu bagaimana? Kau sudah jadi tunangan orang lalu menurutmu aku harus bagaimana?!” Aku suka di sini, aku ngebayangin juri ngebentak bikin ngeri mau nangis, pasti serem soalnya 😂

    “Kalau begitu kita satu sama,” | “Aku juga menyukai kakakmu dan aku tak pernah bilang padamu,” buat airin aku suka dia ngomong ini > Latihan diundur sampai besok ya, jangan ke studio!

    Jangan ke studio… sekian ♡ maaf typo maaf panjang #kaburrrr

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s