[Multichapter] Kareshi Gacha (Part 3)

Untitled-1

 

KARESHI GACHA

Author : YamAriena

Type : Multichapter

Genre : Romance, Comedy, fantasy

Rating : PG-17

Cast: Yamada Ryosuke, Inoo Kei (HSJ); Wada Takuma (butai actor); Koizumi Arina, Sato Miharu (OC)

Desclimer: terinspirasi dari Oniichan Gacha wkwkwkwkwk

Yamada dan Arina tiba di depan apartemen Inoo dengan satu koper. Gadis itu memandang seseorang di depannya dengan wajah yang berterima kasih, Sato Miharu.

“Miharu chan, kau dewi penyelamatku” seru Arina sambil memeluk sahabatnya itu.

“Jadi, berapa hari siscon itu ada disini?” tanya Miharu sambil membantu membawakan beberapa barang bawaan Arina kedalam.

“Dia bukan siscon, dia niichan ku. Dan dia hanya terlalu sayang padaku,” kata Arina sambil tertawa, “dia hanya transit sebelum kembali ke inggris, bisa jadi besok atau lusa dia berangkat lagi,” kata gadis itu lagi.

Miharu menghela nafas panjang, “baiklah.. jadi kami akan menampung Yamada kun sampai hari itu,” katanya sambil melirik kearah Yamada yang sedari tadi hanya berdiri diam di belakang Arina.

Arina meringis sedikit. “Maafkan aku, aku akan membalasmu lain kali. Dia tidak akan macam-macam, dia juga tidak pilih-pilih makanan,” katanya.

“Memangnya kau sedang menitip anakmu? Sudah sana nanti kau terlambat ke bandara,” Miharu langsung mendorong Arina keluar dari apartemennya.

Arina tertawa kecil lalu berlari menuju lift yang sedang terbuka. Satu hal yang terakhir dilihatnya sebelum pintu lift tertutup adalah Yamada yang menatapnya dengan pandangan yang berbeda. Tapi gadis itu memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya dan segera berlari keluar mencari bus untuk segera ke bandara, menjemput kakaknya.

 

*****

“Jadi, niichan mau ku masakkan apa?” Arina meletakkan belanjaannya di pantry dapur sementara seorang pria yang dipanggilnya niichan itu sedang menghempaskan diri di sofa ruang tengah.

“Apa saja, aku rindu masakan adikku. Aku bosan dengan makanan kantin kantorku,” keluhnya.

“Makanya cari istri sana, biar ada yang masak buatmu tiap hari. Mau jomblo sampai kapan sih?” kata Arina jahil.

“Huuuu~ cari istri susah loh. Apalagi yang sesuai kriteria idaman,”

Pria itu, kakak laki-laki Arina, namanya Wada Takuma. Mereka berdua sudah di titipkan di panti asuhan dari kecil. Namun suatu hari keduanya di adopsi dengan keluarga yang berbeda, karena itu nama belakangnya berbeda. Meski begitu mereka tetap tidak putus untuk saling memberi kabar. Hanya saja, saat Takuma lulus SMP, orang tuanya membawanya pindah ke Inggris. Dan beberapa tahun kemudian, giliran kedua orang tua angkat Arina meninggal dalam kecelakaan. Karena tidak ada keluarga lainnya, harta warisan jatuh ketangan gadis itu. Namun karena usianya yang masih muda, warisan itu dia titipkan pada Takuma hingga waktunya tiba. Arina mendapatkan kiriman tiap bulan dari uang peninggalan itu cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

“Memangnya kriteria untuk calon kakak iparku seperti apa?” Arina sudah mulai memasukkan bahan-bahan masakan kedalam panci. Dia memasak Kare.

“Manis, pintar masak, ya seperti dirimulah,” celetuk Takuma sambil lalu.

“Wah benarkah? Jangan sampai Miharu mendengarnya, kalau tidak kau benar-benar akan di cap sister complex!” kata Arina dengan geli.

Pria itu menyeringai, “tetapi dia tidak bawel, tidak sadis, dan tidak menyusahkan seperti dirimu.”

Arina memandang pria itu dengan kesal dan mengacungkan pisau yang sedang di pegangnya, “Apa kau bilang?”

“Hahahahaha… sudahlah, aku mau ke kamar mandi dulu,” pria itu lalu berlau dari sana meninggalkan adiknya yang tengah mengomel tidak jelas di dapur.

Beberapa saat kemudian, Takuma keluar dengan ekspresi meneliti. Pria itu memperhatikan baik-baik seluruh isi apartemen adiknya disetiap sudut.

“Niichan, ayo makan!” kata Arina bertepatan dia meletakkan mangkuk terakhir diatas meja makan.

Takuma duduk disalah satu kursi meja makan sambil memperhatikan tingkah laku adiknya yang kini sedang mengambil tempat tepat di depannya.

“Ittadakimasu~” kata keduanya hampir bersamaan sambil menyumpit makanan di mangkuk masing-masing.

“Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Arina saat menyadari Takuma memanangnya berbeda, seperti sedang menyelidiki.

“Jadi, seperti apa kabarnya si Ogawa itu?” tanya Takuma.

Arina menyerit, “Ogawa? Ogawa siapa?” tanyanya tak mengerti.

“Itu, pria yang kau ceritakan padaku terakhir kali,” kata Takuma.

“….ah, dia. Kau memang tidak pernah ingat nama siapa pacarku, lagipula namanya Ozawa bukan Ogawa,” kata gadis itu.

“Terseralah, aku tidak peduli. Bagaimana kabarnya?” tanya Takuma dengan overprotective.

“Begitulah. Aku tidak tau. Kami sudah lama putus,” jawab gadis itu.

“Benarkah?” Takuma menyipitkan matanya.

Arina mengangguk, “hanya saja kalau kau tanya kabarnya terakhir kali, wajahnya lebam dengan darah di dekat bibir karena ku pukul.”

Jujur Arina merasa nafsu makannya meluap mengingat bagaimana pria itu mengkhianatinya. Gadis itu menangkap seringai puas di wajah Takuma sekilas sebelum pria itu mengajukan pertanyaan lain.

“Jadi… siapa pacarmu yang baru? Bagaimana orangnya?”

Arina mengerjapkan matanya, “Siapa lagi yang kau maksud? Aku tidak punya pacar lain sekarang,”

“Jangan berbohong, aku tau ada pria, apakah dia tinggal disini atau hanya mampir?” tanya Takuma lagi.

Deg. Arina merasakan bahwa jantungnya benar-benar hampir lepas. Bagaimana dia bisa tau?

“Kau bicara apa? Tidak ada pria!” Arina menutupi ke gugupannya dengan kembali fokus dengan makan malamnya.

“Kau tidak bisa membohongiku, Ricchan sayang. Aku melihat ada banyak barang-barang pria di kamar mandi dan di dalam kamar tamu, aku mendapati ada pakaian pria yang pasti bukan punyaku, karena aku tidak pernah sengaja meninggalkannya disini. Milik siapa itu kalau bukan milik pacarmu?”

Telak. Arina memang tidak mengemas seluruh barang Yamada dan membawanya ke tempat Inoo. Gadis itu harus memutar otaknya untuk menjawab pertanyaan niichan nya yang memang super overprotective kalau menyangkut pria yang dekat dengan adiknya.

“Mungkin itu milik Inoo-kun,” kata Arina, sebisa mungkin membuat nada bicaranya biasa saja.

“Inoo-kun?” Takuma mengangkat sedikit alisnya.

“Pacarnya Miharu. Gadis itu kan sesekali suka menginap disini,” kata Arina.

“Jadi, Miharu kadang menginap disini membawa pacarnya?” Takuma terperangah dengan jawaban adiknya.

Arina hampir gelagapan, “Tidak seperti itu, baka! Hanya mampir, untuk berganti pakaian dan sejenisnya. Tidak sampai menginap,” jawabnya.

‘Maafkan aku Miharu’ Arina meringis dalam hati.

“Sudahlah. Cepat habiskan makanmu, banyak yang ingin kutanyakan padamu setelah ini. Sudah lama tidak ngobrol denganmu,” kata Arina lagi.

 

***

 

Arina dan Takuma menghabiskan waktu bersama malam itu dengan mengobrol tentang banyak hal hingga larut malam. Kebersamaan itu berlanjut setelah sarapan keesokan harinya. Mereka memutuskan untuk jalan-jalan di kota. Berfoto di patung LOVE – dimana Takuma minta di foto dengan berbagai pose aneh dan berhasil membuat Arina terbahak – Tokyo Sky Tree, dan yang terpenting Tokyo Disney Sea.

Sore itu setelah puas menaiki banyak wahana, keduanya kini duduk di tempat makan sambil menikmati cemilan sore seperti ice cream wafle ataupun pasta yang sedang dinikmati keduanya.

“Ini enak sekali. Sudah lama aku tidak mencobanya,” kata Takuma.

Namun karena tidak mendapat tanggapan, pria itu mengangkat kepalanya dan mendapati sang adik sedang sibuk menatap ponselnya dengan raut yabg aneh.

“Ada apa, Ricchan? Ada masalah?” tanya Takuma.

Arina sedikit tersentak mendengar namanya di panggil dan buru-buru menggeleng sambil menyimpan kembali ponselnya

“Bukan apa-apa. Hanya Miharu,” kata gadis itu.

“Benar itu Miharu? Bukan seorang pria?” tanya Takuma lagi dengan menyelidik.

“Pria apa? Tidak usah mulai lagi, niichan sayang.” kata Arina. Namun raut pria itu terlihat masih belum puas. Arina mendesah putus asa, “Baiklah, tidak akan ada ponsel sampai aku mengantarmu ke bandara nanti malam. Saat ini waktuku hanya untukmu.” kata Arina lagi.

Takuma kenal sikap gadis di depannya ini. Tentu saja, dia adiknya.

“Baiklah. Kau mau naik apa lagi setelah ini?” tanya pria itu.

“Roller Coaster!” jawab Arina antusias.

Keduanya segera menghabiskan makanannya dan kembali melanjutkan keliling taman bermain itu dari sudut ke sudut. Tepat jam delapan malam, fetival puncak taman bermain.

Setelahnya keduanya memutuskan untuk pulang karena Takuma harus mengejar pesawat jam 11 malam.

“Kau tidak perlu ikut ke bandara. Sudah malam begini nanti tidak ada kereta untuk pulang,” kata Takuma.

Keduanya kini duduk di bangku halte, menunggu bus yang akan membawa Takuma ke bandara.

“Baiklah. Lagipula kenapa harus malam ini sih? Apa tidak bisa kau pulang besok pagi?” tanya Arina lagi.

Takuma tersenyum, “Tidak bisa adik kecil. Masih banyak pekerjaan yang belum ku selesaikan di perusahaan ayahku.”

“Lalu kapan kau akan kembali lagi?”

“Kapan saja kau panggil, aku akan datang untukmu. Tapi tidak hari ini,” Takuma mencubit pipi adiknya yang sedang manyun.

Tiba sebuah bus datang menghampiri halte. Sebuah bus yang akan membawa Takuma dan beberapa orang lain yang menunggu disana ke bandara. Takuma menbiarkan petugas untuk mengatur barang bawaannya di bagasi.

“Sampai jumpa lagi adik kecil” Takuma memberikan pelukan pada Arina yang membalasnya dengan erat.

“Saat aku kesini lagi, aku ingin bertemu dengan pria itu,” kata Takuma yang langsung membuat Arina membelakkan matanya dan melepas pelukan pria itu.

“Niichan…” desis gadis itu namun langsung dipotong Takuma.

“Jangan lagi bilang dia pacarnya Miharu. Kau tidak bisa berbohong padaku dari dulu loh, seharusnya kau tau itu.” Takuma memberikan satu jitakan kecil di pelipis Arina, “Aku tidak ingin kau hamil diluar nikah……”

“NIICHAN!” Arina setengah berteriak dengah yang mulai memerah namun Takuma tidak peduli.

“Karena kalian tinggal bersama, berarti dia memang serius padamu. Jadi, suruh dia segera menghubungiku,” Takuma mengedipkan matanya sebelum memberikan satu kecupan singkat di pelipis Arina dan segera naik ke bus.

Arina melambai hingga bus itu hilang dari pandangannya. Kata-kata Takuma tadi mengingatkannya pada sesuatu dan membuat gadis itu buru-buru meraih ponselnya sambil berlari ke stasiun kereta terdekat.

“Moshimoshi, Miharu?”

“Arina! Kau darimana saja, kenapa ponselmu susah sekali di hubungi?!” terdengar nada panik di seberang sana dari Miharu.

“Nanti saja, sekarang aku sudah di kereta menuju tempatmu. Katakan padaku tentang pesanmu sore tadi. Apa maksudmu Ryosuke tidak sadarkan diri?!”

 

*****

 

Dari: Sato Miharu

About: Penting!!

“Yamada kun tidak sadarkan diri, kami tidak tau harus berbuat apa. Kapan siscon itu pulang?”

 

Miharu

 

***

“Aku tidak tau apa yang terjadi. Kemarin dia baik-baik saja, bahkan Kei sempat mengajaknya ketempat kerja part time nya. Tetapi pagi ini tiba-tiba dia berubah aneh,” Miharu memberikan jeda sebelum melanjutkan, “dia berbicara tidak karuan, bergerak kesana kemari, persis seperti robot rusak. Kemudian, dia tiba-tiba tidak sadarkan diri. Suhu tubuhnya semakin dingin”

Arina melihat kesosok Yamada di atas tempat tidur kamar tamu apartemen Inoo dan Miharu. Wajah pemuda itu sangat tenang seperti sedang tertidur dengan nyenyak. Satu tangan Arina menyentuh pelipis Yamada dan merasakan dingin merambat di tangannya. Tubuh pemuda itu benar-benar dingin seperti es.

“Biar aku yang merawatnya. Ada handuk kecil dan air hangat? Dan, apa ada selimut tebal?” tanya Arina.

“Biar aku yang ambil handuk dan air hangatnya,” kata Miharu yang langsung keluar dari kamar.

Sementara itu Inoo sudah ke lemari dan mengeluarkan selimut tebal dari sana. “Apa ini cukup tebal?” tanya pria itu, Arina mengangguk.

Keduanya lalu menyampirkan selimut itu ke tubuh Yamada. Miharu membawa handuk kecil dan semangkuk air hangat untuk mengompres.

“Panggil saja kami kalau butuh sesuatu,” kata Inoo kemudian.

“Terima kasih, Inoo-kun, Miharu,” kata Arina tulus.

Miharu dan Inoo kemudian meninggalkan Arina untuk merawat Yamada. Gadis itu duduk di tempat tidur sambil mengompres kepala pemuda itu. Sepanjang malam gadis itu terus terjaga namun suhu tubuh pria itu tetap tidak berubah dan semakin dingin. Hingga menjelang subuh, karena kelelahan, Arina jatuh tertidur diatas tubuh pria itu.

 

***

 

Save

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Kareshi Gacha (Part 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s