[Multichapter] Little Things Called Love (#4)

Little Things Called Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 4)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring: Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Tanaka Juri, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Jesse Lewis (SixTONES); Ichigo Yua, Kimura Aika, Kirie Hazuki, Mizutani Ruika, Takahara Airin, Matsumura Sonata (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Untitled-1

Walaupun ditatap berkali-kali layar ponselnya tidak juga berubah, Aika tau itu. Tapi tetap tak bisa mengalihkan perhatiannya dari wallpaper ponselnya. Party Five, nama band mereka, iya itu foto mereka berlima untuk keperluan demo tahun lalu. Senyum Taiga yang mengembang, Hazuki yang tampil tomboy seperti biasanya, pose cool dari Hokuto, foto dirinya yang memakai terusan panjang dengan sepatu boots disebelah Juri yang posenya baru saja Aika sadari, menatapnya dengan senyum sumringah khas milik Juri.

“Aku tidak bercanda, dan aku sudah menyimpan ini sejak kita kelas dua SMA, aku menyukaimu,”

Sejak kelas dua SMA? Selama itu? Tanaka Juri tidak sedang mabuk kan tadi? Seingatnya Juri tidak minum minuman beralkohol selama latihan hingga mereka pulang tadi. Aika mengambil bantalnya, menutup mukanya dengan bantal, mencoba mencari-cari kapan Juri bersikap berbeda dari biasanya? Seingat Aika dirinya dan Juri memang mulai satu kelas sejak kelas satu SMA. Juri yang cengengesan dan jahil sekali, orang pertama yang menawarkan makan siangnya saat dia di bully. Kimura Aika boleh jadi gadis cantik dan kaya, namun karena itulah sebagian teman-temannya tidak menyukai keberadaan Aika. Menurut mereka Aika itu sok cantik, sok kaya, padahal apapun yang dipakai Aika walaupun bermerk memang pemberian orang tuanya, dan sama sekali tidak bermaksud untuk memamerkan kekayaannya.

“Hey, gimana kalau kau makan siang denganku?” Aika masih ingat saat itu makanannya dibuang ke tempat sampah oleh teman-temannya, terpaksa Aika harus menahan lapar hingga sore nanti, “Aku Tanaka Juri, ingat kan?” siang itu di tangga menuju ke atap sekolah dimana Aika menangis karena tak tahan di bully sudah hampir dua bulan sejak ia masuk ke sekolah itu.

Ketika ia menatap Juri, pemuda itu mengulurkan sebuah kotak bento berwarna merah muda, “Tidak mewah sih, tapi setidaknya kamu bisa makan ini,”

“Terus Tanaka-san makan apa?” air mata Aika berhenti tanpa ia sadari.

Juri tersenyum, “Ta~ Da~” di tangannya sudah ada satu plastik roti tuna yang Juri beli di kantin, “makan ini aja aku kenyang ko,”

Dan seperti itulah mereka selalu makan siang bersama, bahkan Juri yang menyimpan bekal Aika agar aman. Tiap pagi Juri akan mengamankan bekal Aika dan siangnya mereka makan bersama di tangga itu, bercerita mengenai apa saja yang bisa diceritakan.

“Eh? Kakakmu ada tiga?! Sugoooiii pasti ramai sekali ya di rumah,” ketika Juri menceritakan mengenai saudara-saudara laki-lakinya.

Juri mengangguk, “Dan satu adik, kesemuanya laki-laki,” ucapnya, “Rumahku itu selalu ramai walaupun kedua kakak tertuaku kini sudah pindah, akhir minggu adalah yang paling ramai,”

Membayangkannya saja Aika sudah tersenyum, di rumahnya hanya ada dirinya. Kakak perempuannya Keiko, sudah menikah dan bahkan tinggal di luar negri. Ayah dan Ibunya sama-sama sibuk sehingga praktis hanya dirinya dan pelayan-pelayan saja yang ada di rumah.  Ayahnya sering ke luar negri sementara Ibunya pulang setelah Aika tidur dan saat Aika bangun ibunya masih tertidur. Ia sudah lupa rasanya makan malam bersama karena rasanya hanya dilakukan setahun sekali sampai dua kali saat perayaan-perayaan penting saja.

“Boleh sekali-kali aku ke rumah Juri-kun?”

Memang tidak sering, namun Aika beberapa kali datang ke rumah Tanaka untuk makan malam atau sekedar mengobrol dengan keluarga Juri. Aika juga sering menelepon Juri saat dirinya kesepian. Uh Oh! Aika baru sadar, selama ini dirinya sangat bergantung pada Juri, dalam banyak hal. Tapi, bukankah mereka hanya sahabat? Bagaimana bisa Juri menyukainya?

“AAAAAA Apa yang harus kukatakan pada Juri????!!!” Aika berguling-guling di kasurnya, dan akhirnya mengambil kembali ponselnya, menatap satu persatu teman bandnya, “Uhm… Hazuki…” duh Aika ingin sekali bercerita pada Hazuki, tapi gadis itu pun sedang mumet dengan masalah perjodohannya dengan Taiga, “Taiga…tidak-tidak, nanti dia malah menertawakanku,” gumam Aika sambil menatap layar ponselnya, “Ya sudah… tidak ada pilihan,” Aika menekan tombol hijau, semoga Hokuto tidak sedang bekerja.

***

“Okay, aku pulang dulu!” Hokuto melipat apronnya, mengambil tas selempangnya dan keluar dari pintu belakang. Hari ini dia sendirian, Taiga sedang ada urusan dan minta izin untuk tidak masuk hari ini.

Baru saja Hokuto berjalan ke depan toko, seorang gadis menghampirinya, “Hoku-taaannn!!”

“Kau benar-benar datang, Aika? Ini sudah malam,” ucapnya.

“Aku sama supirku ko, ayo aku antar pulang,” Aika menoleh pada sebuah mobil hitam yang terparkir tepat di depan kantin tempat Hokuto bekerja.

“Baiklah,” Hokuto menurut dan ikut Aika masuk ke mobil.

“APAAA? Juri menembakmu?” Hokuto teregelak, “Akhirnyaa…”

“Akhirnya??” Aika mengerutkan dahinya, “Maksdumu? Hoku-tan tau?”

Hokuto mengangguk, “Semua orang tau, Aika, kecuali dirimu!”

Mulut Aika terbuka, matanya menatap Hokuto tak percaya, “Kok bisa gitu sih? Kok ga ada yang ngasih tau aku sih??!!” serunya kesal, “Hoku-taaannn jawaaabbb!!”

“Stop! Stop!” Hokuto menarik tangan Aika yang mengguncang-guncang bahunya dengan keras, “Selama ini Juri menampakannya, hanya kau saja yang tidak sadar,”

“Jadi Juri-kun tidak cerita padamu?”

“Kimura Aika, kau ini memang tidak peka ya,” karena gemas Hokuto menjawil pipi Aika, “bakaaaa!

Aika menggaruk kepalanya yang tidak gatal, “Terus aku harus gimana, Hoku-taaann??!!” bibirnya manyun, matanya berkaca-kaca, tak heran Aika tidak peka terhadap perasaan Juri, gadis ini terlihat seperti anak kecil saja, pikir Hokuto.

“Kau memangnya tidak suka pada Juri?” Hokuto mengambil air mineral yang ada di pinggir pintu mobil dan membukanya, melihat Aika yang melamun, mungkin sedang mencari jawaban, “mukamu itu aneh sekali kalau melamun,” sela Hokuto mencubit pipi Aika yang langsung dibalas Aika dengan pukulan di bahu si pemuda.

“Aku suka Juri-kun, tapi… sebagai sahabat, maksudku, aku tidak pernah memikirkan bahwa ada hubungan romantis antara aku dan Juri-kun,” gumam Aika, namun cukup keras untuk bisa terdengar oleh Hokuto, “lagipula Hoku-tan,” Aika menatap Hokuto yang sedang minum, “Aku sudah punya pacar!”

Hokuto mengangguk, “tapi kau bukannya baru kenal dengan siapa namanya….”

“Jesse…”

“Ya itulah… Jesse, bayangkan jika Kimura Aika tidak punya pacar dan Juri menembakmu sebelum kau pacaran, apakah kau akan senang? Akan menerima Juri?”

Aika kembali melamun, otaknya tiba-tiba saja rasanya mumet, “Tapi bagaimana kalau hubunganku dengan Juri tidak berjalan lancar? Aku tidak mau persahabatanku dengan Juri malah jadi canggung, uhuhuhu…”

“Begini saja, sambil kau memikirkannya, bersikaplah biasa pada Juri, okay? Aku tidak bisa menyarankanmu untuk menerima atau menolaknya itu harus murni dari keputusanmu,” ucap Hokuto dan Aika terlihat tidak puas dengan jawaban Hokuto.

“Uhmmm… baiklah, terima kasih ya, Hoku-tan,” mobil mereka tepat sampai di depan lobby Rumah Sakit, Hokuto pun turun dan melambaikan tangan pada Aika yang berlalu setelahnya.

“Jadi Hoku-nii punya pacar? Karena itu kau tidak menerimaku?” Hokuto berbalik, dan melihat Airin, berdiri di depan lobby, kelihatannya akan pulang.

“Ai-chan,” gumam Hokuto lirih, “Baru akan pulang?” mengindahkan pertanyaan Airin, Hokuto balik bertanya pada gadis itu.

“Jawab aku dulu,” ucap Airin dengan intonasi meng-interogasi.

“Kau tidak perlu tau,” jawab Hokuto berjalan melewati Airin, “kalau begitu, Teirma Kasih sudah menemani Sona.”

Baru saja Hokuto akan melangkah masuk ke dalam, ia kaget karena Airin memeluknya dari belakang dan ia bisa mendengar isakan pelan dari punggungnya, “Ai-chan, tidak enak dilihat orang,” Hokuto berusaha tenang, “Ai-chan, lepaskan,” Hokuto menarik tangan Airin yang melingkar di tubuhnya, “jawabanku tetap tidak, dan semoga kau bahagia dengan Shintaro.” Hokuto meninggalkan Airin yang masih terisak, menunduk menutupi wajah dengan kedua tangannya.

***

APA ITU TADI??!! Sonata berjalan cepat ke arah berlawanan ketika melihat Airin dan kakaknya, Airin dan kakaknya, AIRIN DAN KAKAKNYAAA!! Apa-apaan tadi? Kenapa Airin memeluk Hoku-nii?? Saat Sonata kembali untuk mengintip, terlihat Hokuto sudah berlalu dan Airin masih menangis. Tadinya Sonata memang mau menghampiri Airin karena buku Airin tertinggal di kamar ibu.

Tunggu sebentar!! Airin kan pacaran dengan Shintaro, lalu kenapa sekarang dia menangis karena Hoku-nii? Rasa-rasanya ada yang tidak beres dengan Airin, tapi menemui Airin sekarang sudah tidak mungkin karena gadis itu sudah dijemput oleh Ayahnya, lagipula berarti Sonata ketahuan mengintip tadi.

Gagal menemui Airin, Sonata pun berlari kembali ke kamar ibu, ternyata Hokuto sudah ada di dalam, “Hoku-nii,” sapa Sonata lalu duduk di samping kakaknya itu.

“Besok pagi pulanglah, kau harus sekolah, kan?”

Sonata mengangguk dengan canggung, ia masih ingin sekali bertanya soal tadi, tapi tampaknya Hokuto terlihat lelah.

“Sekarang tidurlah,” Hokuto memberikan ruang di sofa dan Sonata pun berbaring dengan paha Hokuto sebagai bantalnya, “Hoku-nii, uhmm….”

Hokuto menatap Sonata, mengelus pelan rambut adiknya, “Apa?”

Sonata segera menggeleng, “Tidak apa-apa!” matanya terpejam, otaknya masih memikirkan segala kemungkinan antara kakaknya dan Airin.

.

Ohayou, kenapa melamun?” Sonata menoleh, ternyata Shintaro sudah berdiri di depan mejanya, “Kau baik-baik saja?”

Sonata mengangguk, “Ohayou, Shin-kun,”

Shintaro menyimpan tasnya, kebetulan memang meja Shintaro dan Sonata bersebelahan, “Kau benar-benar tidak apa-apa?”

BILANG TIDAK? BILANG TIDAK? Sonata menatap wajah Shintaro yang terlihat bingung, kalau ia memberitahu Shintaro, maka kemungkinannya ada dua, Shintaro tidak akan memercayainya atau malah akan membuat hubungan Shintaro dan Airin rusak, yeah, bohong kalau Sonata tidak akan bahagia karena itu tapi memanfaatkan keadaan ini rasanya ia merasa bersalah.

“SONA!!” suara lantang Shintaro membuyarkan lamunan Sonata, “Kau tidak sakit, kan?” telapak tangan Shintaro sudah mampir di dahi Sonata, “Kau kesurupan?!” lalu tiba-tiba Shintaro mengguncang kedua bahu Sonata, “Sonaaaaa sadar Sonaaaa!!!” ucapnya hiperbola.

“Aduh…. sakit!!”

Shintaro tergelak lalu beranjak dari kursinya, “Ahahaha.. mau ikut ke kantin, gak?” Sonata menggeleng, “Ya sudah aku belikan susu mocca kesukaanmu ya!”

Ih Shintaro ini tidak bisa membiarkannya tenang sedikit, kenapa juga Shintaro masih memerhatikan dirinya? Shintaro kan sudah punya pacar, huh! Kan tidak adil Sonata kini merasa senang namun juga sedih mengingat bahwa Shintaro mungkin memang hanya menganggapnya sebatas sahabat.

***

Party Five mulai bersama sejak SMA. Kelimanya satu sekolah, Kimura Aika, Kirie Hazuki, Kyomoto taiga, Tanaka Juri dan Matsumura Hokuto. Berawal dari Aika yang ingin tampil untuk festival sekolah dan mengajak Juri, Hazuki, Taiga dan Hokuto yang satu kelas saat kelas dua SMA, band ini akhirnya resmi terbentuk. Walaupun awalnya mereka hanya menyanyikan lagu dari band lain, seiring berjalannya waktu mereka pun membuat lagu sendiri.

Taiga tau, keterlibatannya dengan band adalah karena Hokuto, dan setelah bergabung ia menemukan passionnya yang baru, ia suka menyanyi, ia suka tampil walaupun dahulu ia mati-matian menampik hal itu. It’s in his blood, Ayahnya pun seorang aktor tapi Taiga tak pernah mau menjadi seperti Ayahnya, tapi ternyata diapun menikmatinya, menikmati sorotan lampu saat ia bernyanyi dan orang-orang meneriakkan namanya.

Tapi dua tahun yang lalu, Taiga benci dirinya sendiri, ia selalu merasa sendirian dan tidak ada orang yang mengerti dirinya. Tuntutan dari keluarganya, menanyakan keputusan Taiga yang tidak mau lanjut kuliah, ingin fokus pada band. Ayahnya menginginkan Taiga tidak mengikuti jejaknya, harusnya Taiga memilih jalan akademis saja. Walaupun Taiga berkumpul dengan teman-teman bandnya, dan selalu pulang ke rumah dalam keadaan sedih, bahkan keadaan latihan menjadi tidak kondusif karena Taiga tidak konsentrasi.

“Kau benar-benar tidak mau bergabung di sini lagi sudahlah kita akan mencari vokalis baru!!” Juri kesal, latihan mereka kacau balau karena Taiga ogah-ogahan. Taiga pun ikut marah dan pergi dari studio dalam keadaan kesal, pikirannya kacau. Selain itu, ada satu tawaran penting untuknya, setelah sering manggung di festival-festival sekolah, Taiga dihubungi oleh sebuah agensi, meminta dirinya menjadi vokalis sebuah band yang akan debut major label dua bulan lagi. Taiga tidak tau bagaimana kelanjutan band Party Five, tawaran dari agensi itu sangatlah menggiurkan. Tidak ada orang yang bisa diajaknya berdiskusi, ia tak mungkin bertanya pada teman bandnya, tidak juga pada kedua orangtuanya. Ia merasa sendirian, pikirannya kacau dan malam itu entah kebodohan dari mana Taiga memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Benar-benar mengakhirinya.

Taiga memang tidak pernah stabil dalam soal emosi. Bukan kali pertama Taiga mencobanya, dan saat dirinya terlalu pusing dengan hidupnya, Taiga akan menyayat tangannya sendiri, merasakan sakit di tangannya seperti dia akhirnya menyadari bahwa dirinya masih hidup. Tidak pernah ada yang tau. Dan malam itu, di bawah shower Taiga mencoba mengakhiri hidupnya, memutus nadi di pergelangan tangannya. Bukan perkara sulit karena ia sudah sering melakukannya di bagian tangannya yang lain, mungkin hanya lebih sakit sedikit.

“TAIGAAA!!”

Entah bagaimana Hokuto bisa masuk ke dalam kamar mandi dan membawanya saat itu juga ke Rumah Sakit. Hokuto bilang pesan teksnya pada Hokuto sebelum pulang mencurigakan, ia merasa ada yang aneh dan memutuskan untuk mendatangi rumah Taiga, saat itu kamarnya tidak dikunci dan mendengar tangis Taiga Hokuto pun segera berinisiatif untuk masuk.

“Kenapa kau menyelamatkan aku?” saat itu hanya Hokuto yang menjenguknya, temannya yang lain sedang tidak ikut. Mereka berjalan-jalan sekitar taman Rumah Sakit, karena Taiga bosan.

“Itu seperti menanyakan kenapa aku makan? Kenapa aku repot-repot harus makan sementara toh besok pun aku lapar lagi,” ucap Hokuto.

Taiga menoleh, “Aku hanya temanmu,”

“Kau temanku, karena itulah aku menyelamatkanmu, karena kami semua membutuhkanmu,”

“Kalian bisa menemukan vokalis baru,”

Hokuto menatap Taiga, “Kita bisa menemukan vokalis baru, gampang saja, lebih mudah mungkin, tapi aku tidak akan menemukan Taiga yang lain, yang bersemangat menulis lagu untuk Party Five. Aku tidak akan menemukan Taiga yang lain, kita tidak bisa menemukan Taiga yang lain,”

.

“Ngapain di sini?” lamunan Taiga buyar, sejak tadi memang dia sedang menunggu Hazuki di tempat yang sebenarnya agak tidak lazim, kamar gadis itu, dan pikirannya melayang pada Party Five karena melihat foto mereka di dinding kamar Hazuki.

“Hey calon istrikuuu!!” Taiga menghampiri Hazuki yang wajahnya semakin terlihat masam ketika Taiga mendekat padanya.

“Ini kamarku dan ngapain di sini? Kamu stalker-in aku ya?!” tuduh Hazuki.

Taiga tertawa, “Tidak nona muda, atas izin Ayahmu, kamarmu tidak tabu buatku, ayo makan siang,” ajak Taiga.

“Kau bisa saja menunggu di tempat lain, kenapa harus di kamarku sih?!” Hazuki menarik tangan Taiga, membawa pemuda itu keluar dari kamarnya, “Aku tidak mau makan denganmu!” Hazuki segera masuk ke kamarnya lagi, mengunci pintunya dari dalam.

“Sebelum latihan aku ingin mengajakmu makan, Hazuki! Nurut dong sama calon suami,”

“Pertama, aku tidak mau makan denganmu! Kedua, kau bukan calon suamiku! Aku tak mau menikah denganmuuuu!!” seru Hazuki kesal.

Kepala Hazuki sakit, tadi dia baru saja menangis karena… Juri memberitahunya bahwa Juri sudah menyatakan cintanya, walaupun Aika belum menjawab, namun akhirnya Hazuki merasa patah hati lagi.

“Aku juga absen latihan!” seru Hazuki dari dalam kamar.

Taiga kaget, mengetuk pintu milik Hazuki, “Hey! Kau ini kenapa sebenarnya?! Hazukiii?”

“Sudah sana pergi kepalaku sakiiitttt!!” seru Hazuki lagi.

“Aku tidak akan pergi sebelum kau keluar dan bicara padaku!! Kirie Hazuki!!” Taiga kembali mengetuk pintu kamar Hazuki, “Ayo keluar sebelum aku merusak pintu kamarmu!! Hazukiiii!!”

Klik. Pintu terbuka dan Hazuki berdiri di hadapan Taiga dengan wajah basah dengan air mata, “Walaupun… walaupun aku tau… aku tau kalau Juri tidak akan membalas cintaku…” Hazuki terisak-isak di hadapan Taiga, “tapi… tapi… hiks…”

Juri? Taiga menatap wajah Hazuki yang terisak-isak dengan hidung merah dan mata sembab. Jadi selama ini Hazuki menyukai Juri? Taiga masih bengong ketika Hazuki menghambur ke pelukannya.

“HUAAAA!!” Hazuki menumpahkan segala kesedihannya.

***

Menyusuri jalan menuju studio, Yua membaca pesan dari Kouchi, mengabarkan dirinya akan telat karena ada hal mendesak, bahkan meminta Yua menyampaikannya pada teman-teman bandnya. Yua mengeluh, apa lagi yang dilakukan pemuda itu?

Ice Capucinno-san?” saat Yua menoleh, Kyomoto Taiga ternyata menyapanya, dari dalam mobil berwarna hitam, “Ice Capucinno­-san?” Yua mendapati dirinya terpana sekilas ketika melihat wajah Taiga yang putih muncul dari jendela mobil, “Mau kemana?”

“Oh! Itu… ke studio!” jawabnya cepat, duh, semoga kegugupannya tidak terdengar, keluh Yua.

Kyomoto Taiga bawa mobil? Lalu mengapa pemuda itu bekerja paruh waktu di kantin kampus?

“Ikut saja yuk! Aku juga kan ke studio!” seru Taiga.

Akhirnya Yua naik ke mobil mewah itu, gugup sekali karena baru kali ini akhirnya dia bisa satu mobil dengan Taiga.

“Tidak dengan Kouchi?” tanyanya setelah mobil Taiga kembali meluncur ke jalan.

“Kou-chan akan telat,” Yua heran, Taiga bisa mengingat nama Kouchi tapi tidak dengan namanya.

“Oh ya… namamu…”

“Ichigo Yua desu,” benar saja Taiga lupa.

“Ichigo-san, strawberry-san, ahahaha maafkan aku,” ucapnya sambil tersenyum pada Yua, duh senyumnya manis sekali, tentu saja Yua hanya bisa mengatakannya dalam hati.

“Kau pacarnya Kouchi, ya?”

Yua otomatis menggeleng, “Bukan… kami hanya teman, sahabat dekat, sejak kecil,”

“Oh! Kupikir kalian pacaran, karena kau dengan setia menemaninya latihan segala,” kata Taiga yang kini menepikan mobilnya karena mereka sudah di depan studio, “Mampir ke sebelah dulu yuk, aku agak lapar, Ichigo-san sudah makan?”

Secara otomatis menggeleng, memang dirinya belum makan sejak pagi. Seperti mimpi bahkan sekarang Yua makan bersama dengan Taiga, keberuntungan sedang berpihak padanya kali ini.

***

Adegan di layar hanya sekedar teman mereka agar suasana  tidak sepi sementara Ruika bergelung di pelukan Jesse yang memeluknya, hari ini Jesse meluangkan waktu untuk Ruika kebetulan dia hanya kuliah tadi pagi.

“Bagaimana kuliahmu?” tanya Jesse, tangannya mengusap pelan kepala Ruika, sementara matanya tetap melihat ke layar.

“Uhm… baik-baik saja kurasa,” walaupun aku harus menabung mati-matian untuk semester depan, tentu saja tambahan itu hanya di dalam hati saja dikatakan.

“Kau benar-benar tidak mau pindah ke apartemen lain? Aku bisa membantumu membayar apartemen lain,” Jesse sudah lama membujuk Ruika untuk pindah karena rasa-rasanya apartemen ini sebentar lagi akan rubuh saking tuanya. Panas sekali di musim panas seperti sekarang dan dingin sekali saat musim dingin.

Ruika menggeleng, hatinya ingin sekali mengatakan bahwa sebaiknya dia tinggal saja dengan Jesse, tapi yang ditawarkan oleh Jesse adalah tinggal di apartemen lain agar Jesse dapat menemuinya kapan saja, dan di tempat lain dirinya akan bersenang-senang dengan Aika, ugh! Yang benar saja, Ruika tidak mau.

“Kapan Jesse-kun putus dengan Kimura-san?” memang sih, pertanyaan ini sedikit menggelikan untuk ditanyakan, tapi meminta kepastian pada Jesse tidak salah kan?

Jesse menggeleng, “tolong jangan tanyakan itu dulu ya, aku pun ingin ini semua cepat selesai,” No, kenyataannya Jesse sendiri tidak tau kapan hal ini bisa berakhir.

Ponsel Jesse bergetar, Ruika melirik nama yang muncul di layar ponsel kekasihnya itu, Aika, duh ngapain juga gadis itu mengganggu waktu kebersamaannya dengan Jesse yang sangat jarang dan langka.

“Sebentar,” Jesse mengambil ponselnya dan keluar dari kamar Ruika untuk mengangkat telepon.

Aika mengabari dirinya sudah selesai latihan dan menanyakan apakah Jesse akan menjemputnya. Jesse mengiyakan, apalagi malam ini rencananya Aika akhirnya akan mengenalkan dirinya pada Kimura Kazuya, chef terkenal itu yang akhirnya ada waktu untuk bertemu dengannya.

“Aku pulang dulu ya,”

Ruika manyun, tidak terima waktunya dnegan Jesse berakhir, “Pasti Aika lagi, ya?”

Gomen, aku benar-benar harus pergi,” Jesse mengambil kunci mobil dan jaketnya, “nanti kita bicarakan lagi soal kepindahanmu ya,”

Ruika mengantar Jesse ke depan saat Hokuto datang dari tangga, “Konbanwa, Matsumura-san,” sapa Ruika pada Hokuto sementara Jesse hanya menunduk dan berlalu dari hadapan Hokuto.

“Hati-hati ya, Jesse-kun!” Ruika sempat melambaikan tangan pada Jesse sebelum pemuda itu benar-benar menghilang dari tangga partemen.

Jesse? Hokuto mengerenyitkan dahinya. Sepertinya dia pernah dengar nama itu, tapi agak lupa dimana.

“Oh ya, Matsumura-san, sebentar!” Ruika berbalik masuk ke dalam kamar dan kembali dengan sebuah kotak bento di tangannya, “Ini… aku beli cheese cake, dan kupikir aku harus mengatakan terima kasih atas bantuanmu tempo hari,” Ruika menyerahkan kotak bento itu di hadapan Hokuto.

“Repot sekali, tapi terima kasih ya,” Hokuto menerima bento itu, membukanya dan satu cheese cake kecil ada di dalamnya, “Bagaimana kalau kita makan bareng saja? Kita minum teh di dalam? Kebetulan aku baru dari rumah ibu dan ada teh yang enak sekali, gimana?”

Ruika menimbang-nimbang dan masih ada beberapa jam sebelum dia harus berangkat bekerja, “Baiklah,”

***

“Kau benar-benar yakin akan mengajakku makan malam dengan Ayah Ibumu?” tanya Jesse, dirinya dan Aika sudah ada di depan sebuah restoran perancis terkenal.

Aika mengangguk, “Tentu saja, aku sudah mengatakannya pada Ayah, jadi… ayo!” sejujurnya Aika masih bimbang namun ketika Ayah mengetahui Aika sudah punya pacar, yang Aika tau pasti mata-mata Ayahnya yang melaporkan hal tersebut, Ayah langsung merencanakan kepulangan bersama ibu, meminta Aika mengenalkan pacarnya.

Jesse turun dan membuka pintu untuk Aika, menggenggam tangan Aika masuk ke dalam restoran itu.

“Reservasi atas nama Kimura,” ucap Aika.

“Oh, Kimura-san, silahkan,” pelayan itu membawa Aika dan Jesse ke lantai dua, ternyata Ayahnya memesan sebuah tempat private di restoran itu.

“Restoran ini milik teman Ayah, dan… salah satu tempat favorite Ayah selain restorannya sendiri,” kata Aika menjelaskan pada Jesse.

Tidak lebih dari lima menit kemudian pintukembali terbuka dan orang yang mereka tunggu pun datang, Tuan dan Nyonya Kimura, yang wajahnya sudah sering Jesse liat di majalah kuliner, yang juga sangat terkenal di kalangan usahawan kuliner di Jepang.

Konbanwa, Kimura-san,” Jesse menunduk sekilas, “Saya, Jesse Lewis,”

“Oh! Jadi ini Jesse yang terkenal itu?!” seru Ayah dan menyalami Jesse.

Tidak secanggung yang Aika kira, makan malam ini cukup menyenangkan. Apalagi Jesse pandai membuka percakapan dengan Ayah dan Ibunya membuat suasana makan malam tidak membosankan.

“Jadi usahamu sekarang apa namanya…?”

Lewis Bakery, Kimura-san,”

“Panggil aku Ayah saja, ya kan? Ahahaha,” membuat Aika menelan ludah mendengarnya, “Bagaimana prospeknya ke depan?”

“Sekarang memang baru satu gerai, tapi saya merencanakan akan membuka beberapa cabang lagi dan kemungkinan kami juga ingin membuat roti kemasan yang fresh berbeda dengan roti kemasan lainnya,” jelas Jesse. Sangat tenang, Aika sampai sedikit terpana menatap Ayah dan Jesse terus mengobrol sementara dirinya sendiri jarang bisa mengobrol dengan Ayahnya.

“Jadi nak Jesse, kapan akan bertunangan dengan Aika?” pertanyaan itu keluar dari mulut ibunya, dan membuat mata Aika terbelalak, rasa dessert ini tiba-tiba saja terasa aneh di lidahnya.

Jesse tersenyum sebagai jawaban, dan menggenggam tangan Aika di sebelahnya, “Terserah Aika nya saja Bu, saya sih siap saja,”

Aika menatap Jesse yang masih tersenyum dan mengirimkan sinyal tidak setuju pada pemuda itu, tapi Jesse malah tertawa dan membersihkan ujung mulut Aika, membuat Aika kaget.

“Bagaimana Aika?” Ibunya menatap Aika yang hanya bisa bengong, dirinya saja tidak yakin pada perasaannya, lalu sekarang harus memutuskan kapan tunangan dengan Jesse?! Uh oh… mereka bercanda!!

***

“Hey hey!” Yua masuk ke apartemen Kouchi dan pemuda itu sedang di depan laptopnya sendiri, menatap layar itu dengan serius, “ngapain sih?”

“Uhm… isi aplikasi online, aku berniat mengajar untuk tambahan,” kata Kouchi, “bawa makanan ga?”

Yua menggeleng, “Kan tadi kita pulang bareng, gimana sih?”

“Kau jangan deh sama Taiga, pokonya jangan!” Kouchi beranjak dan mengambil sekaleng bir dari kulkas, membukanya dan segera meneguknya. Benar-benar deh tadi saat ia datang latihan, ia melihat Yua dan Taiga di restoran sebelah dan Yua tertawa pada apapun yang dikatakan Taiga, benar-benar memuakkan.

“Kenapa sih?” Yua manyun dan berbaring di kasur Kouchi.

“Dia kan sudah dijodohkan dengan Hazuki,” ucap Kouchi dan Yua tiba-tiba saja terduduk menatap Kouchi.

“Terus? Memangnya ada masalah dengan itu?” Yua juga ikut ke dapur dan mengambil satu kaleng teh yang ada di kulkas dan meneguknya, “Dijodohkan bukan berarti mereka akan menikah, kan?”

“Ya gak bisa gitu dong, Yua, pokonya jangan! Kau mengganggu hubungan mereka!”

Yua tertawa, “Ganggu? Aku kan hanya fansnya Kyomoto-san, lagipula Hazuki-san sendiri menolaknya aku dengar dari Kyomoto-san sendiri,”

“Dia hanya merayumu! Sudahlah kamu menyebalkan!” Kouchi meninggalkan Yua dan kembali ke depan laptop.

Yua ikut duduk di samping Kouchi, “Kenapa sih? Kamu cemburu ya?”

“Cemburu? Cemburu buat apaaa?!!” seru Kouchi tak terima, “Aku hanya tak mau kamu disakiti!! Ngerti gak sih?”

Dengan heran Yua lalu menyenggol pelan bahu Kouchi, “Cemburu kan? Aku punya orang yang disuka sementara Kou-chan tidak??”

Aku punya orang yang disuka, batin Kouchi sambil melirik Yua yang dengan santainya kini berbaring di sebelah Kouchi, “Aku menyukaimu,” bisik Kouchi, begitu pelan sampai Yua tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

“Apa? Apa tadi?!”

“Aku tadi menyebutkan nama orang yang aku suka, tapi karena kau tidak mendengarnya, aku tidak akan mengulanginya!” jawab Kouchi kesal.

“Ih… gak adil sih! Lagian tadi kamu kan bisik-bisik!!” seru Yua tak terima.

“Sudah sana balik ke kamarmu aku ada tugas,”

“Huh! Gak ah, aku ikut nonton tivi yaaa,” Yua menyalakan TV dengan cueknya. Kouchi membatin, sepertinya sulit sekali membuat gadis itu mengerti perasaannya. Sejak dulu Kouchi memang ingin menyatakannya, namun di sisi lain kehilangan hubungan sahabat dengan Yua juga mungkin ia tidak sanggup.

 

To Be Continue

 

 

Advertisements

6 thoughts on “[Multichapter] Little Things Called Love (#4)

  1. elsaindahmustika

    Liat juri sama aika dulu kayaknya seru gitu, daripada sama jesse tuh *ditabok jesse

    “Airin dan kakaknya, Airin dan kakaknya, AIRIN DAN KAKAKNYAAA!!”
    >>> wkwk sona sona, ini bikin ketawa entah kenapa:v

    itu hokunii sok anget iye banget-,- tapi dia penyayang kalo sama aku, waaa rasanya pengen aku doang yang manggil hokunii*dibuang

    tapi jesse yang paling sok iye nyebelin berasa paling ketjeh:’v

    dan endingnya selalu kouchi yua tapi mereka seru! secara keseluruhan keren kak tapi part sonashinhokuai agak kurang *sok menggurui banget lu* ya emang susah sih ya kalo bikin kayak begini bagi2nya, ganbare! ^^ pokoknya aku suka bet dah kak wwwww tanpa sadar udah selesai aja ceritanya, lanjut lagi yoヽ(^o^)/

    Reply
  2. sparklingstar48

    Akhirnya part4 xD
    Uugh part hoku-airin-shin-sona nya kurang panjang kak :”3
    hokuto jahat ih huhu kasian airin..
    Eh airin jg jahat nding #plak

    Suka sama part juri-aika, aika nya ga peka2 wkwkw xD

    ganbatte kak, we waiting part 5 dn sterusnya :3

    Reply
  3. magentaclover

    HALO KAKAK DIN AKU DI SINI *mati lu*
    Mari kubuatkan sejenis drabble untuk komen ini xD

    Karena yg pertama aika ya komen aika dulu deh… harusnya aika ketiban ufo dulu ya biar dia sadar ada gitaris yg suka sam dia *uhuk* dan oh nooo ditanya kapan tunangan sama jesse tuh rasanya wtf bngt wkwkw mana selokan terdekat? 😂

    Terus ruika ya ruika kenap dia selalu mesra2 sama jesse sih? Lol tapi ujungnya diganggu jg sama aika ya pukpuk ruika semoga kau tabah menunggu pak bossmu… kamu… ruika segera hubungi hokuto untuk jasa curhat colongan *plak

    Buat hazuki doi ngenes ya gara2 juri… eh taiga ikutan ngenes gara2 hazuki sama juri… kira2 gimana perjodohan mereka? Kira2 taiga bakal curcol bnyk gak sama yua? Apa malah ujungnya hokuto lagi? 😂 *duh hokutai implisit/tampared*

    Shin sona hoku airin, kujadikan satu disini manusia2 yg perasaannya sulit (?) Hoku nig nampung masalah percintaan orang tanpa mikir kisah cinta dia sendiri wkwk airin agresif ya, semoga berbuah manis… shin agak lola ya tapi lucu jadi keliatan polos dan sona nampaknya terlalu pasrah 😂

    Yua x yugo seperti biasa banyak yg manis2 di sini favoritku dgn kouchi yg ga berani bilang sayang dan yua yg asik ngejar seorang kyomoto taiga tanpa peduli doi udah dijodohin hahaha gass terusss!!!!

    Terakhir buat nama bandnya lucu, kabanyak ala2 band ikimonogaki gitu hahahahaha dan ternyata aika orang yg sangat manja ++++ gak peka sama siapa saja

    Sekian xD

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s