[Oneshot] The Most Precious Treasure

The Most Precious Treasure
By: kyomochii
Genre: Family, Friendship, Bromance, Romance, Life
Rating: T
Cast: Yasui Kentarou (Love Tune), Kyomoto Taiga (SixTONES), Hagiya Keigo (Love Tune), Jesse (SixTONES); OC (Lewis Chika, Lewis Karen); Morita Myuto (Love Tune), Aiba Masaki (Arashi), Morimoto Shintaro, Tanaka Juri, Matsumura Hokuto, Kouchi Yugo (SixTONES) as figuran
Disclaimer: This is my own fanfic with my favorite pairing idol. SixTONES, Love Tune and Arashi are talent under talent agency Johnny’s & Associates. The rest characters is just my own imagination.
PLEASE COMMENT IF YOU READ, happy reading \(^o^)/

Sudah berjam-jam Yasui berkutat dengan laptopnya, matanya mulai merasa pedih, namun belum ada satu kata pun yang dia tuliskan dalam susunan tugas akhirnya. Berjam-jam dia malah asyik menyibukkan diri mengerjakan desain flyer dari tempat kerjanya. Hal-hal yang berhubungan dengan edit mengedit selalu berhasil mengalihkan perhatian Yasui dari pekerjaan penting lain yang seharusnya dia kerjakan. Merasa lelah dengan kegiatannya, Yasui meregangkan badan dan mengedarkan pandangannya menyapu ruang tengah keluarganya yang tidak terlalu besar dan mendapati adik bungsunya menggerutu kesal sambil menggonta-ganti channel TV tanpa tujuan yang jelas.

“Hagi, kamu kenapa? Sudah selesai PR musim panasmu?” Yasui menghempaskan tubuhnya di samping Hagiya, membuat kursi yang mereka duduki semakin melesak ke bawah.

“Ya ampun, Yasu-nii bikin kaget saja!! Apa? PR musim panas? Yasu-nii ngelindur ya? Aku tahun ini kan sudah mahasiswa! Sejak kapan mahasiswa punya PR musim panas?” Mendengar jawaban adiknya, Yasui tertawa terbahak diikuti Hagiya membuat seseorang di seberang ruangan melemparkan majalah ke arah mereka.

“Kenapa sih dia? PMS?” Yasui melirik adik keduanya yang sedang sibuk mengobrol dengan seseorang melalui telepon rumah mereka.

“Bodo’. Si Kampret satu itu daritadi nelpon pake telepon rumah gak berhenti-berhenti. Entah sudah ceweknya yang keberapa sekarang yang dia telepon. Gak mikir apa, abonemen siapa yang bayar? Kan kasihan Yasu-nii…”

“Sudah sudah. Mungkin penting. Siapa tahu dia lagi nelpon kenalannya dari kalangan selebritis. Kan kalau mau sukses di bidang kayak gitu, harus pintar pintar cari koneksi.”

“Sukses apaan?? Sudah puluhan bahkan ratusan kali ikut casting, gak pernah sekalipun lolos dapat peran yang dia inginkan! Siapa suruh punya muka bishounen gitu, castingnya malah film action! Mau jadi heroinnya apa?”

“Hush. Gak boleh ngomong gitu. Kita do’akan saja yang terbaik buat Taiga.”

Tidak lama kemudian, orang yang dibicarakan muncul dihadapan mereka. Wajahnya yang cantik dan perilakunya yang lemah lembut memang sering membuat orang lain salah paham dengan menganggapnya sebagai cowok yang berhati hello kitty. Namun siapa sangka, cowok yang mempunyai hobi mendengarkan lagu rock itu bercita-cita untuk bermain peran dalam film action. Segala macam seni beladiri dipelajarinya mulai dari Karate, Jujitsu, Aikido, Kendo, Judo, Kempo, Ninjutsu, Taido, dan masih banyak jenis lagi yang Taiga pelajari. Sejak SMP, Taiga selalu sibuk dengan beragam kegiatan klub dari seni beladiri yang dipelajarinya. Karena keaktifannya di banyak klub, membuatnya terkenal di kalangan para cewek cantik di sekolahnya bahkan hampir di seluruh sekolah di perfekturnya, sebagai cowok cantik jago beladiri. Terkadang karena kepopulerannya itu, banyak cewek rela memberikan apapun agar bisa sekedar ‘jalan’ dengan Taiga. Taiga tidak pernah meminta apapun dari cewek yang mengajaknya jalan, namun Taiga sangat berterima kasih karena berkat cewek-cewek yang mendekatinya itu, Taiga bisa mempunyai tabungan yang dapat mendukungnya untuk mengikuti pelatihan-pelatihan beladiri yang membutuhkan uang tidak sedikit. Dan cewek-cewek itu terkadang masih sering menelpon ke rumah baru mereka setelah mereka memutuskan untuk pindah ke Tokyo selulusnya Taiga dari SMA demi mengejar cita-citanya menjadi bintang action.

“Kalian akhir pekan ada acara gak? Chika mau ke sini.” Taiga mendesakkan badannya yang ramping di antara kedua saudaranya, membuat kursi yang mereka duduki semakin tampak rata dengan lantai.

“Chika-chan mau ke sini? Apa Jesse juga bakal ikut?” Hagiya menggeser tubuhnya dengan sebal namun tidak dapat menutupi kebahagiaannya mendengar berita itu dari kakaknya. Jesse adalah kembaran Chika dan merupakan sahabat terbaik yang dimiliki Hagiya. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama hingga saat sebelum mereka berpisah.

“Kamu kan punya nomer Jesse, kenapa gak hubungi aja sendiri? Bilang aja mau modus nanya apa Karen ikut juga? Iya Karen bakal ikut.”

“Idih sotoy! Siapa juga yang nanyain Karen?” Hagiya mengelak tuduhan kakaknya mentah-mentah. Namun jujur dalam hatinya, memang jawaban itu yang ingin dia dengar. Karen adalah adik tunggal dari kedua sahabat kembarnya. Karena jarak usia mereka yang hanya terpaut satu tahun, Karen selalu ikut bermain bersama Hagiya, Jesse dan Chika. Hagiya menyayangi Karen sebagaimana kedua sahabatnya menyayangi adiknya itu, hal ini dikarenakan Hagiya adalah anak bungsu.

“Mau sampai kapan sih kalian HTS-an? Karen sudah mengungkapkan perasaannya sejak sebelum kita pindah ke Tokyo, kan? Bagaimana perasaanmu sendiri, Hagi?” Yasui mulai ikut-ikutan menggoda adik bungsunya itu.

“Aku kan sudah bilang, aku gak mau pacaran. Enggak, sampai aku bisa mandiri dan tidak menyusahkan Yasu-nii lagi.”

“Aku tidak pernah merasa disusahkan kok. Sudah kewajibanku sebagai kakak tertua dalam keluarga ini.”

“Tapi Yasu-nii, aku sekarang sudah bukan anak kecil lagi. Kenapa aku tidak boleh membantu Yasu-nii bekerja saja? Aku gak butuh kuliah…”

“Sudahlah Hagi-chan, kamu tahu Yasu-nii selama ini kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap karena tidak mempunyai ‘gelar’ yang dibutuhkan untuk mendapatkan promosi kenaikan jabatan. Makanya sekarang Yasu-nii harus bekerja lebih keras untuk mengikuti kuliah ekstensi demi menjaga amanah pemilik toko tempat bekerjanya sekarang. Sedangkan aku, nasibku masih begini-begini saja karena tidak pernah peduli dengan hal akademik. Kamu adalah harapan kami, Hagi-chan.” Hagiya menatap kedua kakaknya, menyerah. Melihat senyum hangat kedua kakaknya selalu mampu melumpuhkan lidah Hagiya setiap kali dia ingin menolak apapun yang kedua kakaknya inginkan darinya.

“Jadi kamu belum jadian sama Karen? Setelah selama ini? Nunggu apa lagi sih, Hagi?” Yasui mencubit pipi Hagiya, gemas, tanggannya melewati muka Taiga, membuat ketiganya saling dorong dan malah berakhir dengan saling tindih dengan posisi Taiga di paling bawah, Hagiya paling atas.

“Woiiii, aku bisa gepeng nih!!” Taiga mulai mengeluarkan jurus andalannya membuat kedua saudaranya bergelindingan di lantai sambil tertawa terbahak-bahak.

“Kampret banget sih, Taigaaa! Kira-kira dong kalo mau nge-sumo! Aku kan belum siap!” Hagiya mengelus tangannya yang kesakitan akibat dia gunakan sebagai penahan saat terjatuh.

“Hahahaha. Sekali-kali lah biar ngerasain kekuatan superku.”

“Iya deh, Super Kerempeng!”

“Sialan!!!!!” Taiga sudah bersiap-siap mengejar Hagiya.

“Eh, ngomong-ngomong, jadinya kalian berdua saja yang jemput Chika sama Karen. Aku akan mampir supermarket sepulang kerja. Semoga gajiku bulan ini bisa aku minta separuh sekalian jatah lembur.”

“Nii-chan, kan bisa pakai uang tabungan…”

“Taiga, kita kan sudah sepakat kalau uang di tabungan sudah ada jatahnya masing-masing. Untuk kebutuhan seperti ini, tidak perlu lah kita menggunakan uang tabungan kita.”

“Siap, Pak Bos!!” Taiga dan Hagiya serempak meletakkan kedua telapak tangan terbuka di ujung pelipisnya, tanda penghormatan layaknya ajudan memberikan laporan kepada pimpinan upacara.

 

Akhir pekan datang terlalu cepat bagi Hagiya. Hagiya belum siap bertemu Karen secara langsung setelah 2 tahun berpisah. Meskipun mereka masih sering bertukar surat dan saling mengirim email, tapi untuk bertemu langsung?

“Woii, bengong mulu. Sudah gak sabar ketemu Karen tersayang ya?”

“Apaan sih!? Gak usah deket-deketin muka juga kali ngomongnya. Kalau orang lain ngeliat dan gak tahu kita sodaraan, pasti sudah ngira macam-macam. Kita di tempat umum tahu!” Hagiya mendorong Taiga menjauh dari dirinya, merasa risih.

“Bodoh amat. Toh kalau di rumah kita sudah biasa tidur kelonan.” Taiga sibuk mengecek layar handphone nya, menunggu balasan dari Chika, mungkin. Tidak lama kemudian, Hagiya melihat sosok sahabat lamanya, namun dengan tinggi badan tak lagi seperti dulu.

“Buseeet, Jess!! Berapa tinggimu sekarang? Dasar bulee!!” Hagiya hanya bisa menepuk pelan bagian depan dada sahabatnya itu. Tingginya tak sampai untuk merengkuh Jesse dalam pelukannya, lagipula itu cukup memalukan untuk dia lakukan di tempat umum seperti ini, pikir Hagiya.

“Ini normal tahu!” Jesse membalas pukulan pelan sahabatnya dengan pelukan. Jesse tidak peduli banyak orang memandangi mereka berpelukan, dia sudah sangat merindukan Hagiya.

“Jadi Jesse doang nih yang dipeluk? Mana pelukan buat kita?” Chika dan Karen muncul dari balik tubuh raksasa Jesse. Chika tampak manis seperti biasanya dalam balutan kaos dan jeans, sporty, khas seorang Chika. Hagiya bersyukur, meskipun kembar, tinggi Chika tidak sejangkung Jesse, sehingga dia tidak kesulitan mendaratkan kecupan di kening sahabatnya itu. Sedangkan Karen, dia tampak sama mungilnya sejak terakhir mereka bertemu, setidaknya bagi Hagiya. Meskipun Karen tumbuh dengan baik seperti kedua kakaknya, namun dia memang lebih banyak mengambil gen ibunya yang asli orang Jepang. Gaun putih musim panas yang sederhana, namun sangat manis saat dikenakan Karen, membuat Hagiya tidak dapat berkata apa-apa.

“Tadi di kereta berisik banget pengen cepet ketemu! Giliran sudah ketemu, malah didiemin? Yaudah aku lama-lamain meluk Hagi-channya nih!” Chika semakin mengeratkan pelukannya ke Hagiya, menggoda adiknya. Namun tiba-tiba seseorang menariknya ke dalam pelukan.

“Mau sampai kapan kalian ngecuekin aku?? Aku juga kangen banget sama kalian tahu!” Melihat Taiga memeluk saudara kembarnya, Jesse tidak dapat menunggu untuk mendapat giliran dipeluk senpai kesayangannya.

“Taiga-kuuun. Aku kangen banget, sumpah!” Jesse memeluk Taiga yang belum melepaskan pelukannya ke Chika, membuat Chika mengamuk karena merasa sesak akibat kelakuan saudara kembarnya itu. Melihat kehebohan saudara-saudaranya, Karen memberanikan diri meraih tangan Hagiya dan menggenggamnya. Hagiya membalas genggaman Karen dan menoleh ke arahnya, memberikan senyuman paling lembut.

“Aitakatta.” Bisik Hagiya membuat pipi Karen bersemu merah saking bahagianya. Mereka terus bergandengan tangan hingga perjalanan menuju rumah Hagiya.

“Ngomong-ngomong Taiga, kamu gak lupa sama rencana kita kan? Aku sudah susah payah membawa kostum jauh-jauh dari Hokaido lho!”

“Tenang saja tuan putri, semua persiapan di sini sudah kami bereskan. Tinggal menambahkan ini itu sesuai rencanamu.”

I Love You ❤❤” Chika bergelanyut manja di lengan Taiga.

Don’t dare to say you love me, honey. I’m a SUPERSTAR you know!” Taiga mencubit pipi Chika manja. Lalu mereka tertawa terbahak-bahak.

Hmmm, mencurigakan. Batin Jesse sedikit tidak senang melihat kedekatan kembarannya dengan Taiga. Dia yang selalu mengagumi Taiga sejak mereka kecil, tapi kenapa malah Chika yang bisa sedekat itu dengan senpai kesayangannya. Gak adil.

“Ah iya, aku mau ke suatu tempat dulu, mengambil pesanan. Aku sudah memesannya online, jadi tidak akan lama untuk mengambilnya.”

“Kenapa gak sekalian disuruh kirim ke alamat rumah saja, Chika? Perlu diantar?”

“Gak usah Taiga, kamu langsung pulang ke rumah saja bersama yang lain. Biarkan Jesse membantumu menyelesaikan persiapan yang kurang. Aku sudah memberitahunya apa saja yang perlu ditambahkan. Dan jangan lupa nyalakan GPSmu, agar aku gak kesulitan menemukan rumah kalian nanti. Kurasa tempatnya gak terlalu jauh dari tempat tinggal kalian kok.” Jesse tersenyum melihat saudara kembarnya berjalan menjauh. Pesan yang bagus, Che! Biarkan aku membantu Taiga-senpai. Jesse tak hentinya tersenyum dalam hati.

 

Yasui hari ini membuat janji dengan teman kerjanya untuk berganti shift lebih awal. Dia tidak mau pulang terlalu larut dan membiarkan tamu-tamunya menunggu dirinya hingga larut dalam perut kosong.

“Myuto-kun, terima kasih ya sudah mau menggantikan jadwalku lebih awal.” Sapanya kepada seorang pemuda yang baru masuk.

“Tenanglah Yasui-kun, aku melakukan ini juga gak sering-sering kok. Lagian, Taiga bakal marah sama aku kalau dia tahu aku menolak untuk membantu kakak kesayangannya.”

“Hahaha. Kalian akrab sekali ya. Terima kasih juga sudah menjadi sahabat Taiga dan mendukungnya dalam keadaan apapun. Aku tidak tahu bagaimana jadinya Taiga kalau tidak ada kamu yang selalu menghiburnya setiap kali dia gagal casting. Aku terlalu sibuk untuk selalu ada dan menghiburnya. Terima kasih banyak, Myuto-kun.”

“Mengingat apa yang sudah Taiga, Yasui-kun dan Hagi-chan lakukan untuk menolongku, apa yang aku berikan sebagai gantinya masih belum seberapa. Jangan pernah sungkan kepadaku, Yasui-kun. Aku sudah menganggap kalian bukan orang lain lagi bagiku. Jadi kumohon, jangan pernah menganggapku sebagai orang lain dan merasa sungkan seperti itu.”

“Terima kasih, Myuto-kun. Aku harus segera pulang agar mereka tidak menunggu terlalu lama.”

“Salam buat Taiga dan Hagi-chan juga tamu-tamu kalian ya. Nanti malam aku akan mampir ke rumah kalau pengunjung habis lebih cepat.”

“Baiklah.” Yasui meninggalkan Myuto menuju ruang ganti, kemudian bergegas menuju ruang supervisor.

“Permisi..” Yasui mengetuk sopan, menunggu jawaban yang mempersilahkannya masuk. Meskipun ini bukan pertama kalinya bagi Yasui berada di ruangan ini, namun ini pertama kali baginya untuk meminta gaji lebih awal dari biasanya, sehingga membuatnya panas dingin memikirkan bagaimana kalau ternyata aku dinilai terlalu lancang?

“Masuklah Yasui-kun. Anggap rumah sendiri.”

“Terima kasih, Aiba-san.” Yasui duduk canggung di depan supervisor-nya itu.

“Aku sudah mendengar dari Morita-kun. Tenang saja, kamu tidak perlu khawatir tentang separuh gaji yang kamu inginkan. Aku akan memberikan gajimu utuh untuk bulan ini ditambah bonus lembur hingga minggu ini. Namun aku hanya akan memberikan sisa bonus lembur saja saat hari gajian nanti. Apa kamu tidak masalah?”

“Terima kasih banyak Aiba-san. Ini sudah lebih dari cukup bagi saya.” Yasui menerima amplop berisi gajinya selama satu bulan beserta bonus lemburnya.

“Jangan lupa traktir gadis idamanmu itu di hari special ini.” Aiba masih sempat-sempatnya menggoda karyawannya itu seraya membalas jabat tangan Yasui.

Eh? Sialan! Apa yang sudah Myuto ceritakan pada Aiba-san? Dasar anak itu! Nyesel banget tadi sudah banyak-banyak terima kasih gitu sama dia! Ternyata sifat jahilnya masih tidak hilang juga! Rasanya Yasui ingin menjelaskan kepada Aiba bahwa Myuto telah mengarang cerita tentangnya, namun niat itu dia urungkan mengingat dia ingin segera pulang ke rumah.

Di sepanjang jalan, Yasui belum dapat mengenyahkan rasa sebalnya kepada Myuto. Hingga tiba-tiba pandangannya tertuju pada sosok seorang gadis blasteran yang terasa sangat familiar di sebuah toko roti yang dilaluinya.

Ah, tidak mungkin itu dia. Yasui berusaha menyadarkan diri dari khayalannya sendiri. Tidak mungkin gadis yang dilihatnya itu Chika, gadis idamannya. Entah sejak kapan, diam-diam Yasui menyimpan perasaan pada sahabat adiknya itu. Hanya satu hal yang Yasui selalu ingat tentang gadis itu, Chika selalu ada di saat dia membutuhkannya, Chika selalu ada saat Hagiya membutuhkannya, dan Chika selalu ada saat Taiga membutuhkannya. Ya, Taiga. Chika pasti sekarang sudah duduk manis di ruang tengahnya, bercanda dan bermanja-manja dengan Taiga seperti biasanya. Uhh, memikirkannya saja sudah membuat dada Yasui terasa sesak.

Apa yang sudah aku pikirkan? Aku sudah menganggap mereka semua seperti adikku sendiri. Aku pasti akan bahagia melihat Hagiya bahagia bersama Karen dan Taiga bahagia bersama Chika. Aku seorang kakak yang harus berbahagia melihat kebahagiaan adik-adiknya, meskipun kami tak dihubungkan oleh ikatan darah.

Ya, Yasui Kentaro, Kyomoto Taiga, Hagiya Keigo, ketiganya memiliki nama keluarga yang berbeda-beda, karena mereka bukan saudara yang sesungguhnya. Mereka adalah anak-anak yatim piatu dari sebuah panti asuhan di Hokaido. Ketika mereka kecil, mereka diadopsi oleh ketiga keluarga yang berbeda sehingga memperoleh nama keluarga yang berbeda-beda. Namun, meskipun diadopsi oleh keluarga yang berbeda-beda, keluarga adopsi mereka sering mengadakan reuni ‘orang tua adopsi’ untuk menjaga hubungan baik serta menggalang dana yang kemudian diberikan ke panti asuhan asal anak-anak mereka untuk membantu anak-anak lain yang belum beruntung mendapatkan orang tua yang mau mengadopsi mereka. Suatu hari, keluarga mereka melakukan perjalanan keluarga bersama. Sayang, nasib baik sedang tidak berpihak pada mereka. Dalam perjalanan, mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Tidak ada orang tua yang selamat, hanya anak-anak. Hanya mereka bertiga. Yasui yang saat itu sudah menginjak bangku SMA, merasa bertanggung jawab untuk melindungi kedua adiknya yang masih Sekolah Dasar. Mereka memutuskan untuk tetap tinggal bersama di rumah salah satu keluarga Yasui yang bersedia membantu merawat mereka hingga dewasa dan dirasa mampu hidup sendiri. Di sanalah mereka bertemu dengan keluarga Lewis bersama ketiga anaknya Lewis Jesse, Lewis Chika dan Lewis Karen yang kemudian menjadi sahabat baik bagi Hagiya maupun Kyomoto. Mereka sepakat tetap menggunakan nama keluarga masing-masing untuk menghormati mendiang orang tua mereka, namun sulit bagi Taiga untuk hidup normal dengan mengemban nama besar orang tua adopsinya ‘Kyomoto’, bintang laga ternama dari perfekturnya. Terlebih saat dia memutuskan untuk memasuki dunia yang sama dengan orang tua adopsinya, dia lebih memilih menggunakan nama Taiga daripada Kyomoto.

Setelah dirasa cukup dengan daftar belanja yang ingin dia beli, Yasui segera membayar di kasir dan bergegas pulang. Begitu sampai di halaman rumahnya, Yasui heran melihat hampir semua lampu rumahnya tidak ada yang dinyalakan.

Pergi ke mana mereka? Apa mereka tidak langsung pulang ke rumah?  Dalam kepanikannya Yasui mencoba merogoh handphone di sakunya membuat belanjaan bawaannya jatuh berserakan. Dia tidak peduli.

Tuhan, jangan sampai terjadi apa-apa pada mereka. Yasui bernapas lega setelah membaca sebuah pesan dari Taiga yang mengatakan bahwa mereka harus mampir ke sebuah tempat untuk mengantar Chika membeli beberapa barang yang lupa dia masukkan saat mau berangkat. Taiga menambahkan kalau dia lupa menyalakan lampu karena tidak ada rencana pulang terlalu larut. Mereka berjanji akan pulang sebelum pukul 8 malam.

Dasar Chika, masih saja teledor seperti dulu! Yasui tersenyum membayangkan ekspresi Chika saat mengetahui barang-barangnya tertinggal. Bodohnya lagi, Yasui tidak sempat mengecek handphone nya sama sekali saking semangatnya ingin cepat sampai rumah. Yasui memungut semua belanjaannya yang berserakan lalu berjalan menuju pintu depan rumahnya, yang anehnya seperti terdengar suara cekikikan dari dalam. Buru-buru Yasui memasukkan kuncinya dan membuka pintu rumahnya. Dengan langkah gontai akibat tersandung karena tidak terbiasa berjalan dalam gelap, Yasui mencari tombol lampu. Lalu…

“HAPPY BIRTHDAY, YASU-NII 🎉🎉🎉”

Kejutan itu sontak membuatnya melonjak jauh kebelakang membuatnya kesakitan karena badannya langsung menghantam tembok. Sambil menahan sakit, Yasui mengitarkan pandangannya memperhatikan wajah-wajah yang ada di depannya. Taiga, Hagiya, Jesse, yang entah kenapa tidak membuatnya terkejut melihat perubahan drastis pada tinggi Jesse, Karen yang berdiri di samping Hagiya, masih sama tetap mungil dan imut, persis seperti yang dipikirkan Hagiya saat mereka bertemu lagi, lalu Chika….

“Hmmmm, di mana Chika?” tanya Yasui, masih berusaha menggosok punggungnya yang kesakitan. Lalu, seperti dibelah, keempat orang di depannya membuka formasi memunculkan seorang gadis yang, hmmm, sangat cantik dengan balutan gaun merahnya yang sangat kontras dengan kulit putihnya, membuatnya semakin bersinar. Gadis itu membawa sebuah kue ulang tahun di tangannya dan berjalan ke arah Yasui.

“Chika?” Yasui masih tertegun melihat gadis cantik, yang sama dengan yang dilihatnya di toko roti tadi sore, berdiri di hadapannya, membawa sebuah kue ulang tahun bertuliskan namanya dengan hiasan chibi karakter mereka berenam dengan latar mirip taman bermain dekat rumah mereka yang lama, sungguh cantik. Antara terharu melihat Chika yang semakin cantik atau kue ulang tahun yang juga tak kalah cantiknya itu, yasui mulai menitikkan air mata.

“Jangan nangis dulu! Tiup lilinnya, keburu leleh dan bikin jelek kuenya!” Chika menjulurkan tangannya membasuh tetes air mata di pipi Yasui. Yasui menatap penuh arti kepada Chika, tersenyum lembut, kemudian dia memandang satu persatu wajah adik-adiknya, Jesse juga Karen, merasa sangat bersyukur diberi anugerah seindah mereka, lalu dia meniup lilinnya.

“Terima kasih, semuanya.” Yasui sudah tidak sanggup lagi menahan air matanya.

“Yah kok nangis mulu sih? Kapan kita bisa kasihin kadonya kalo kayak gini terus?” Chika menggerutu sebal.

“Eh? Kado apa lagi? Ini semua sudah lebih dari cukup. Kehadiran kalian, kue ulang tahun ini, sudah cukup mewakili seluruh perasaan kalian. Aku tidak akan mau menerima apa-apa lagi.”

“Siapa bilang kita mau kasih apa-apa? Kita semua sepakat untuk menggunakan kesempatan ini untuk mengungkapkan hal-hal penting sebagai kado ulang tahun Nii-chan kok! Baiklah dimulai dari yang paling kecil, Karen.” Taiga mempersilahkan Karen untuk berdiri di sebelahnya, sedangkan yang lain duduk manis di atas karpet yang sudah mereka pasang di ruang tengah khusus untuk acara ini. Ruang tengah sekarang terlihat lebih luas dari biasanya sehingga tidak tampak sempit meski diisi orang sebanyak itu.

“Terima kasih, Taiga-nii. Baiklah di kesempatan kali ini ada beberapa hal yang ingin aku ungkapkan, eh mungkin cuma 2 hal penting sih. Hehe.” Karen menghela nafas sejenak.

“Pertama, Karen mau mengungkapkan perasaan terdalam Karen buat Yasu-nii, Karen selalu menyayangi Yasu-nii seperti kakak Karen sendiri. Yasu-nii yang selalu memikirkan adik-adiknya menjadi idola tersendiri di hati Karen. Yasu-nii adalah kakak idaman bagi semua adik di dunia ini. Bukannya kurang bersyukur aku sudah memiliki Jess-nii dan Che-nee sebagai kakakku, tapi aku juga berharap bisa menjadi adik Yasu-nii yang sebenarnya.” Pernyataan polos Karen mengundang gelak tawa orang satu ruangan, kecuali Hagiya tentunya, mukanya bersemu merah.

“Ciyeee, yang main kode-kodean. Uhuk.” Chika menggoda adiknya.

“Kedua, tahun depan Karen sudah mulai kuliah, rencananya Karen akan mendaftar ke salah satu Universitas Swasta di Tokyo bersama Che-nee. Sebab itu, kami semua memutuskan untuk pindah ke Tokyo dan mulai besok akan mencari calon rumah yang akan kami tempati.” Hagiya sangat bahagia mendengar kabar itu. Dia mengelus sayang kepala Karen saat melewatinya ketika jalan ke depan.

“Bagiku, Yasu-nii adalah segalanya. Entah bagaimana jadinya kalau aku tidak pernah menjadi adiknya. Aku bahagia karena bisa menjadi adiknya di kehidupan ini. Dan aku akan selalu berdoa setiap harinya agar di kehidupan berikutnya, berikutnya, berikutnya lagi dan seterusnya agar aku tetap menjadi adik Yasu-nii. Apapun yang aku lakukan, aku berjanji akan berusaha keras membuat Yasu-nii bangga memiliki aku sebagai adiknya. Aku akan kuliah dengan benar dan sukses demi keluarga ini. Aku sayang Yasu-nii.” Hagiya berjalan ke arah kakaknya dan memeluknya.

“Aku juga.” Yasui membalas pelukan adiknya dengan sayang.

“Dan juga, aku ingin memberitahukan kalau aku dan Karen sudah memutuskan akan mulai menjalani hari-hari sebagai sepasang kekasih yang sebenarnya.” Hagiya merasa wajahnya sudah seperti kepiting rebus sekarang, saking merahnya. Mengakui perasaannya di hadapan semua saudara dan sahabatnya, sungguh lebih berat daripada saat mengakui perasaannya ke Karen seorang diri.

“Kita sudah tahu kok!” Taiga, Jesse dan Chika menjawab kompak diikuti gelak tawa seisi ruangan membuat Hagiya dan Karen menjadi bahan bully hampir setengah jam penuh.

“Selanjutnya aku! Aku lebih muda satu jam dari Chika!” Jesse lari ke depan.

“Bangga gitu? Dasar childish! “ Chika mencibir melihat kelakuan kembarannya.

“Bodo’. Oke, hal yang ingin aku sampaikan kurang lebihnya sama dengan yang lain. Kami semua sayang Yasu-nii. Lalu aku juga mau memberikan pengumuman, mulai minggu depan aku akan memulai karirku sebagai bintang action. Meskipun masih amatir, namun aku senang bisa memulainya bersama senpai juga teman yang aku kagumi. Mohon dukungannya.”

“Serius, Jess??! Lain kali kalau ada tawaran job lagi, ajak Taiga juga dooong!” Hagiya melompat memeluk sahabatnya itu, lalu mengucapkan selamat.

“Hehe. Pasti!” Jawab Jesse singkat.

“Taiga, kamu duluan deh! Aku terakhir aja gak apa-apa.”

“Oke, Che!” Taiga jalan ke depan sambil ber-high five dengan orang-orang yang dilaluinya, Chika, Jesse, Hagiya.

“Ehem, mohon perhatiannya, superstar mau ngomong nih.”

“Aku lempar sandal, rasain kamu!”

“Sabar dong Hagi-chan! Ehem ehem.” Taiga berdeham sambil merapikan kertas yang kini ada di tangannya. Sebuah surat.

“Dear Yasui-kun, Selamat Ulang Tahun. Semoga semua cita-citamu tentang gadis impianmu terwujud, Jangan lupa ajak dia kencan di tempat favorite yang pernah kita bahas ya!? PS: Aku gak bohong ke Aiba-san kok. Pasti hari ini akan menjadi kenyataan. From Myuto.”

“Si kampret itu… Awas saja kalau ketemu nanti!” Yasui masih kesal dengan Myuto, namun kenyataan bahwa Myuto ingat tentang hari ulang tahunnya membuatnya senang.

“Itu tadi pesan dari Myuu. Sekarang giliranku.” Taiga menarik nafas sejenak, pandangannya lurus menatap Yasui, melihat senyuman hangat yang sangat disukainya itu.

“Nii-chan, mungkin aku tidak pernah mengatakan apapun. Tapi sejujurnya sejak kejadian hari itu, aku merasa sudah kehilangan segalanya. Aku kehilangan keluarga yang mencintai dan menerimaku apa adanya meskipun aku bukan darah daging mereka. Setelah hari itu, aku selalu takut memikirkan, apakah akan ada orang lain yang mau menerimaku lagi seperti mereka. Tentu saja tidak akan ada orang tua yang mau mengadopsi anak bodok sepertiku. Kebanyakan orang tua hanya akan mengadopsi anak pintar yang diharapkan dapat meneruskan bisnis mereka, bukan anak bodoh tak punya masa depan sepertiku. Aku takut ditolak sebelum berani mencoba menghadapi. Lalu Nii-chan bertanya padaku dan Hagi-chan apakah kami mau tinggal bersama?  Menurutku, tinggal bertiga bersama kalian adalah satu-satunya pilihanku, setidaknya aku bisa bebas menjadi diriku. Ternyata pilihanku benar. Aku bersyukur saat itu menerima uluran tanganmu. Tinggal bersamamu, tumbuh dengan melihat kerja kerasmu, membuatku tidak pernah menyerah mengejar mimpiku. Hingga akhirnya, aku berhasil menggapai impianku menjadi bintang action mulai minggu depan bersama Jesse.”

“EEEEEEEEE??? SERIUSSSSSS?” Yasui dan Hagiya berteriak hampir bersamaan, lalu menghabur dalam pelukan Taiga. Setelah sekian lama, akhirnya cita-cita Taiga dapat terwujud juga.

“Film seperti apa? Bagaimana karaktermu?” Hagiya bertanya berapi-api, terlalu senang mendengar kabar bahagia itu.

“Film tentang sekolah berandal gitu. Kami akan berperan sebagai murid SMA yang hanya tahu tawuran, namun tiba-tiba karena masalah keuangan, sekolah kami harus digabung dengan sekolah elite cewek yang sangat sopan. Karakterku sebagai murid berandal yang mudah marah setiap kali ada yang mengataiku sebagai cowok cantik. Bisa dibilang aku murid terkuat ketiga setelah kedua pemeran utama. Lumayan sebagai permulaan peranku.”

“Wow, keren!! Lalu peranmu bagaimana, Jess?” Hagiya mengalihkan pandangannya ke Jesse.

“Aku akan berperan sebagai murid berandal yang suka sok ngomong bilingual.”

“Sepertinya bakal seru! Kalian akan bermain dengan siapa saja?”

“Kamu tahu Aktor berbakat Morimoto Shintaro? Dia akan menjadi pemeran utama di film kami nanti! Lalu ada Tanaka Juri, adik dari bintang terkenal Tanaka Koki. Serta ada dua orang lagi, Matsumura Hokuto dan Kouchi Yugo yang akan memulai debut di film ini sama seperti kami.” Hagiya manggut-manggut bersemangat mendengar penjelasan Jesse.

“Haloooo, terus giliranku kapan nih??” Chika berteriak di antara para cowok yang sedang bergerombol, memecah kehebohan yang sedang terjadi. Bagi Chika dan Karen sebenarnya informasi ini bukan hal baru. Karena sejak diumumkan lolosnya Jesse dalam casting film tersebut bersama dengan senpai kesayangannya, Jesse tidak pernah berhenti menyebut nama Taiga hampir 24 jam seminggu penuh.

“Ah iya, lupa!” Kemudian semua cowok kembali ke posisi duduk mereka dan memberikan waktu untuk Chika menyampaikan hal pentingnya.

“Umm.. ano.” Chika memulai dengan ragu-ragu.

“Yasui-kun, Suki dayo. Dari dulu hingga sekarang. Sejak aku menemanimu mencari Taiga yang belum pulang dari kegiatan klub hingga larut malam. Sejak aku melihatmu menangis karena mengira Taiga telah meninggal setelah mendapatinya tersungkur penuh darah di belakang gedung sekolah. Aku menyukaimu yang selalu mengkhawatirkan adik-adikmu dengan penuh cinta. Aku semakin menyukaimu ketika mengetahui kamu juga memiliki perasaan yang sama kepadaku. Tidak sulit bagiku yang selalu bersama Taiga untuk mengetahui bagaimana perasaan kakaknya yang sebenarnya. Kami selalu tahu kalau Yasui-kun secara diam-diam suka memperhatikanku setiap kami bersama. Kami juga tahu Yasui-kun sering merasa cemburu setiap kali melihat aku bermanja-manja dengan Taiga. Dan kami berdua tahu betul kalau Yasui-kun tidak akan pernah mengungkapkan perasaannya kepadaku, sebab mengira aku menyukai Taiga. Kami tidak lebih dari sekedar sahabat. Aku ingin mengungkapkan perasaanku saat sebelum kita berpisah dulu. Sayangnya aku masih belum mempunyai keberanian sebesar Karen yang mampu mengungkapkan perasaannya ke Hagi-chan saat itu. Mengetahui kelemahanku, Taiga berjanji untuk membantuku menyusun rencana ulang tahun untukmu setelah aku siap, dan bertekad dalam hati untuk menyatakan perasaanku sesungguhnya, ‘Daisuki, Yasui-kun’” Yasui hanya bisa terdiam seribu bahasa mendengar pernyataan cinta dari gadis yang sudah diidamkannya selama ini. Seolah masih tak percaya dengan kenyataan yang baru saja dia dengar bukan sekedar khayalan, Yasui berdiri berjalan ke arah gadis itu. Yasui sekarang sudah berdiri tepat di hadapan Chika. Seolah tertarik oleh medan magnet, tubuhnya secara otomatis merekat pada tubuh gadis itu, memeluknya, tak ingin dipisahkan. Tinggi mereka yang sejajar membuat wajah Yasui tepat berhadapan dengan wajah Chika. Nafasnya kini berpadu seirama dengan nafas gadis di hadapannya. Yasui mendaratkan bibirnya di atas bibir gadis itu, lembut, seolah masih takut-takut. Menolak untuk menyudahi ciuman Yasui, Chika membalas ciuman Yasui, mengecup, menarik wajahnya sejenak untuk melihat dengan jelas cowok yang ada di hadapannya, sekarang gilirannya menguasai bibir Yasui sepenuhnya.

Melihat apa yang dilakukan kakaknya, membuat Hagiya berinisiatif memberikan tanda ingin mencium Karen saat itu juga. Sayangnya Karen menolak dengan kecupan lembut di pipi kiri Hagiya sambil berbisk, “Aku malu kalau harus melakukannya di hadapan kakak-kakakku.”

Hagiya berpamitan kepada Taiga untuk membeli Es Krim di Konbini terdekat karena merasa suasananya cocok dengan yang manis-manis, lalu dia menggamit tangan Karen dan mengajaknya pergi bersamanya. Taiga dan Jesse hanya bisa berpandangan.

“Terus kita harus ngapain di sini?” Keduanya mengangkat bahu dan memilih pergi ke kamar untuk menonton film action yang dapat mereka jadikan sebagai referensi akting mereka nanti.

 

Yasui tidak menyadari bahwa hanya tinggal mereka berdua saja di dalam ruangan. Dia terlalu bahagia dan pikirannya penuh dengan kebahagiaan itu, sehingga membuatnya tidak memperhatikan sekeliling. Yasui bersyukur memiliki Taiga dan Hagiya sebagai adiknya dan sekarang ditambah Chika sebagai orang yang akan selalu di sampingnya. Mereka adalah harta yang paling berharga dalam kehidupannya, keluarga dan cinta. The most precious treasure.

 

OTANJOUBI OMEDETOU, YASUI KENTARO 🎉🎉🎉 🎉🎉🎉 🎉🎉🎉

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s