[Multichapter] Little Things Called Love (#3)

Little Things Called Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 3)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring: Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Tanaka Juri, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Jesse Lewis (SixTONES); Ichigo Yua, Kimura Aika, Kirie Hazuki, Mizutani Ruika, Takahara Airin, Matsumura Sonata (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Untitled-1

Sepanjang perjalanan pulang dari Rumah Sakit Shintaro tidak berani membuka percakapan dengan Sonata yang terus menunduk menatap jalan, sesekali Shintaro rasanya bisa mendengar isakan pelan dari gadis itu.

“Kau benar-benar tidak apa-apa?” bagaimanapun juga Shintaro tidak bisa tidak khawatir pada sahabatnya itu.

Sonata mengangguk pelan, satu isakan, dua isakan dan tangis Sonata benar-benar tumpah ruah, gadis itu menutupi mukanya untuk meredam suara tangisnya. Shintaro menoleh ke kanan dan kiri, beruntung tidak ada yang melihat mereka, jangan-jangan dirinya disangka membuat seorang gadis menangis.

“Ssshhtt.. Aduh Sona, jangan menangis,” Shintaro melihat seorang paruh baya berjalan ke arah mereka dan dengan spontan Shintaro menarik Sonata ke dalam pelukannya, yang bukannya membuat Sonata berhenti malah menangis semakin kencang. Perlahan tangan Sonata merengkuh tubuh Shintaro, menumpahkan segala kepanikan dan kesedihannya. Shintaro tak punya pilihan selain membalas pelukan Sonata, berharap bisa membuat gadis itu sedikit lebih tenang.

“Sudah ya, lebih baik kita pulang dan kau harus istirahat,” bisik Shintaro yang disambut anggukan pelan dari Sonata.

Hingga sampai ke rumah Sonata menolak melepaskan genggaman tangannya dengan Shintaro, begitupun sebaliknya. Shintaro ingin memastikan Sonata baik-baik saja saat ia tinggalkan.

“Aku akan beli makanan sebentar ke toko dua puluh empat jam. Kau tunggu di sini, rebahan saja dulu,” Shintaro berlari keluar, langkahnya terburu-buru  karena tidak mau meninggalkan Sonata sendirian terlalu lama.

Beruntung jarak dari apartemen Sonata ke Toko 24 jam memang tidak begitu jauh. Shintaro segera masuk, memilih makanan yang mudah instan saja yang penting Sonata mengisi perutnya.

“Eh, Shin-kun?” Shintaro yang sedang menunduk memilih-milih apa yang harus ia beli pun menoleh, seakan melihat hantu matanya terpaku pada sosok yang menyapanya dengan senyum yang masih sama.

“Eh, ya ampun, hisashiburi,” ucap Shintaro yang langsung mengambil satu set bento yang tadi dia pegang, “Yua-chan, apa kabar?”

Ichigo Yua dengan seragam sebuah restoran ditutupi oleh jaket cardigan warna merah itu menatap Shintaro lalu tersenyum, “Aku baik-baik saja, kau baik-baik saja?” karena wajah Shintaro terlihat panik.

Shintaro mengangguk, “Aku harus segera kembali, Yua-chan, anou…. gomen…” tanpa mempertimbangkan apa yang dipikirkan Yua, Shintaro menunduk sekilas dan meninggalkan Yua setelah membayar bentonya.

Bagi Shintaro keberadaan Ichigo Yua bisa jadi lebih dari sekedar kakak kelasnya. Mereka bertemu di sebuah bimbingan belajar dan saat itu Shintaro masih SMP sedangkan Yua sudah SMA. Mereka memang beda kelas, hanya bertemu sesekali saat jam istirahat di kantin. Waktu itu Shintaro lupa membawa uang dan Yua berbaik hati membayar makanan yang dibeli Shintaro. Sejak hari itu Shintaro selalu menanti-nanti waktu istirahat untuk bertemu dengan Yua dan duduk bersama dengan gadis itu, menceritakan apa saja yang terjadi di sekolahnya hari itu. Pertemuan lima kali dalam seminggu membuat keduanya dekat dan Shintaro diam-diam menaruh hati pada Yua. Ichigo Yua pun tau karena Shintaro dengan berani mengutarakan perasaannya pada Yua yang ditolak mentah-mentah.

Yua adalah cinta pertamanya, orang pertama yang ia cium juga. Ya, saat menyatakan cintanya, ia mencium Yua, tentu saja membuat gadis itu marah. Shintaro baru tau kalau Yua punya pacar saat hari dimana ia di tolak ia menguntit Yua dan seorang pria menjemputnya dari stasiun. Walaupun masih ada sisa beberapa bulan untuk les, sejak hari itu Yua hanya menyapa Shintaro sekedarnya sementara Shintaro terus menghindar dari Yua.

***

Tadaima,” hanya sebuah kebiasaan. Tanpa balasan seperti biasanya. Rumah bergaya Jepang itu tak pernah ada penghuninya selain dirinya dan beberapa pekerja yang lalu lalang dan hanya muncul ketika dipanggil oleh Hazuki.

Saat berjalan ke arah paviliun, Hazuki bisa mendengar samar-samar orang berbicara. Tumben sekali ada tamu di rumah ini. Apa Ayahnya sudah pulang? Hazuki tidak mau ambil pusing dan memilih untuk segera melesat ke kamarnya, toh kalau mau bicara Ayah pasti mencarinya ke kamar, ia tidak perlu repot menyapa Ayahnya yang kira-kira hanya ada di rumah tiga sampai empat hari dalam setahun. Rasanya Hazuki tidak merasa punya Ayah kalau dipikir-pikir.

“Nona Hazuki, ada yang bisa saya bantu?” sebelum ke kamar Hazuki muncul dulu di ruangan pelayan.

“Makananku dibawa ke kamar saja ya,” ucap Hazuki kepada si pelayan.

“Tapi nona, maafkan saya, tuan Kirie hari ini pulang, sepertinya nona harus makan di ruang makan,” ucapnya dengan nada sangat sopan.

Hazuki memutar bola matanya, sedikit kesal karena ini pasti perintah Ayah, “Baiklah, bawakan aku cemilan saja ke kamar,” akhirnya Hazuki menjawab karena malas bertengkar dengan ayah, hari ini dia akan jadi gadis baik-baik.

.

Benar saja sebelum makan malam Hazuki diminta datang ke ruang makan, dan anehnya lagi Ayah memintanya memakai kimono, merepotkan sekali makan malam menggunakan kimono namun beginilah kebiasaan di rumahnya. Ayahnya yang seorang novelis terkenal dan juga pengusaha kimono turun temurun membuatnya sedikit ‘kolot’ – begitu Hazuki menyebutnya. Berbagai aturan termasuk tidak boleh tinggal di luar sebelum menikah, memakai kimono saat makan malam formal, dan kawan-kawannya, membuat Hazuki malas berdebat dengan Ayah. Saat Ibu meninggal lima tahun yang lalu dan Ayah benar-benar hancur, menyibukkan dirinya dengan pekerjaan dan berkeliling dunia sambil menulis, barulah Hazuki merasakan sedikit kebebasan yang ia idam-idamkan sejak kecil.

Ngomong-ngomong, memangnya ada acara formal apa sampai dirinya harus memakai kimono segala? Ugh, Hazuki mengeluh sambil berjalan ke dalam ruang makan dengan perlahan-lahan, ya memang sebenarnya dia sudah terbiasa, tapi tetap saja merepotkan rasanya.

“Selamat malam, Ayah,” Hazuki melihat ada dua orang lain di ruangan itu selain Ayahnya. Namun membelakangi dirinya sehingga ia tak bisa melihat siapa mereka.

“Sini Hazuki, duduk dekat Ayah,” ucap Ayahnya dengan sumringah.

Alangkah kagetnya Hazuki, hampir saja ia tersandung kimononya sendiri ketika melihat siapa yang ada di hadapannya.

“Hey!” pemuda yang mengatakan ‘hey’ itu menatapnya dengan seksama dengan senyum simpul yang tidak bisa Hazuki artikan.

Hazuki duduk di sebelah Ayahnya, mendadak tenggorokannya terasa kering sehingga ia segera meneguk segelas air mineral yang sudah disediakan di sana.

“Ini teman lama Ayah, namanya Kyomoto Masaki, kalau Taiga-kun katanya kalian sudah kenal ya?”

Hazuki dengan berat hati mengangguk dan tersenyum canggung pada Ayahnya Taiga, “Selamat malam, Kyomoto-san,”

Rasanya Hazuki ingin mencekik Taiga yang terus-terusan tersenyum sepanjang makan malam mereka. Jenis senyum Taiga yang menyebalkan dan tentu saja ini pertama kalinya Taiga melihat seorang Kirie Hazuki berpakaian dan berdandan, jauh sekali dari imagenya jika bersama band mereka.

“Kalian sudah kenal lama?” tanya Ayahnya tiba-tiba kepada Taiga.

“Iya Kirie-san, sudah sejak SMA, saya dan Hazuki-san satu kelas saat kelas tiga,” jawab Taiga sopan. Baru kali ini Hazuki mendengar Taiga se-formal itu.

Ayah mengangguk-angguk, “Kalau begitu tidak ada masalah Masaki, perjodohan ini akan berjalan lancar,”

“PERJODOHAN?!” Hazuki segera menutup mulutnya sementara Taiga terbatuk-batuk, nampaknya mendengar kata itu Taiga pun kaget sekali hingga ia tersedak.

“Iya Taiga, kau ingat aku pernah bilang kau sudah dijodohkan, ini orangnya, Kirie Hazuki,” ujar Kyomoto Masaki pada Taiga yang lalu menatap Hazuki dengan mata terbelalak.

OH NO! INI BENCANAAA!!

***

Saat itu di tengah musim dingin yang mengigit.

Entah sudah berapa tahun lamanya Ruika tidak pernah liburan. Hari ini boss Jesse mengajak seluruh pegawai Lewis Bakery untuk berlibur akhir tahun ke onsen. Senang? Jelas saja, biasanya hanya bisa mencuri-curi pandang saat Jesse ada di dapur dan mengobrol seadanya, namun kali ini kesempatannya untuk paling tidak menatap bossnya dari dekat semalaman.

Kedatangan Jesse memang disambut heboh oleh pegawai lainnya, Ruika hanya tersenyum menatap Jesse yang hari itu, WOW. Jeans, kaos, jaket kulit, ugh siapa yang tahan melihat Jesse macam model keluar dari majalah seperti itu. Hari itu spesial Jesse ikut rombongan dan naik satu mobil dengan pegawai lainnya. Lewis Bakery punya enam pegawai, hanya ada tiga orang pegawai tetap dan tiga lainnya pekerja paruh waktu termasuk Ruika.

Perjalanan hampir empat jam itu dilalui Ruika dengan senang hati, Jesse disampingnya dan sesekali mengajaknya ngobrol jika ia tidak menatap ke luar jendela atau tertidur. Baru kali ini Ruika memerhatikan dengan jelas wajah Jesse, hampir tanpa cacat dan ketika tertidur Jesse terlihat polos sekali membuatnya gemas.

Suasana onsen di akhir tahun memang selalu menakjubkan. Hamparan salju ketika berendam air panas benar-benar indah dan berkesan magis bagi Ruika. Ia bisa berlama-lama di dalam onsen jika tidak ingat peraturan yang tidak memperbolehkan terlalu lama berendam di air panas. Setelah onsen, untuk acara lebih mendekatkan diri sesama pegawai, diadakan acara makan malam diselangi acara karaoke yang menghebohkan, mereka bahkan sampai lupa waktu dan hari hampir berganti. Ruika merasa sedikit kehausan namun tidak menemukan air mineral di ruangan, maka ia pun beranjak keluar untuk membeli air mineral.

Sudah berkali-kali ia mencoba menekan tombol mesin otomatis itu tapi tidak bergeming. Karena sudah cukup larut Ruika juga tidak melihat penjaga disana. Maklum saja ryokan ini sepertinya sudah tua dan tidak begitu terurus.

“Kenapa?” Jesse. Dengan hakama berwarna biru. Menggunakan kacamata berbingkai hitam, pasti boss nya itu melepas lensa kontaknya. Kalau saja Jesse tidak menepuk pundaknya rasanya Ruika sudah lupa bernapas. Jesse memang hanya ikut acara pegawai sebentar, tidak lebih dari dua jam.

“Ini… mesinnya rusak,” ucap Ruika cepat.

Jesse mendekat pada mesin itu, menggoyang-goyangnya sekilas namun tetap tak tampak ada perubahan apapun di sana hanya kelap kelip lampu disamping mesin itu saja yang masih menyala, “bagaimana kalau kita beli di luar saja? Tadi aku tanya pada pegawai disini, ada toko tak jauh dari sini,”

“Baiklah sebentar sachou, saya ambil jaket dulu,” Ruika melesat ke kamarnya untuk mengambil jaketnya. Bagaimanapun juga berjalan diluar dengan baju tidur seperti ini tanpa jaket yang kemungkinan cuacanya tidak lebih dari sepuluh derajat bukanlah ide yang bagus.

“Sudah siap?” Ruika melihat Jesse juga sudah menggunakan jaketnya, membawa Ruika ke arah parkir mobil, “Walaupun dekat kurasa lebih baik naik mobil,” mereka naik ke mobil sewaan yang dibawa dari Tokyo.

Sachou sering kesini?” tanya Ruika ketika mereka berada di jalan yang cukup sepi keluar dari ryokan.

“Panggil Jesse saja,” katanya dengan wajah setengah tersenyum seengah konsentrasi pada jalan yang kemungkinan cukup licin karena salju, “Lumayan, beberapa kali waktu kecil. Onsen terbaik memang di daerah sini, selain Hokkaido tentunya,”

Belum sempat mereka melanjutkan percakapan, sebuah bangunan tua dengan lampu berkedap-kedip terlihat di depan mereka. Jesse menepikan mobil dan turun bersama Ruika. Seorang paruh baya berambut putih terlihat di meja kasir, tersenyum pada Jesse dan Ruika ketika keduanya lewat.

“Selamat malam,” sapa Ruika sebelum berjalan ke arah lorong yang berjajar minuman dan makanan.

“Bir?” tawar Jesse, “Perfect for cold night,” ucapnya, mengangkat sekaleng bir dihadapan Ruika.

Seakan menimbang-nimbang, Ruika menatap Jesse dan sebenarnya dia tidak ada rencana mabuk malam ini tapi akhirnya ia mengangguk dan Jesse mengambil satu kerat bir, beberapa cemilan dan air mineral.

“Bagaimana kalau kita ke tempat lain?” Jesse menawarkan hal tersebut pada Ruika ketika keduanya sudah selesai membayar belanjaan mereka dan kembali masuk ke mobil.

“Kemana sachou?”

“Pokonya kau ikut saja,” Jesse memacu mobilnya sedikit lebih jauh dari penginapan, mereke berhenti di sebuah tebing yang tidak terlalu tinggi dan karena masih malam penerangan otomatis hanya dari lampu jalan yang jumlahnya hanya sedikit sekali serta mobil mereka.

“Di sini?” Ruika sedikit bingung karena suasana sangat gelap, Jesse menyalakan lampu dalam mobil.

“Masih ada waktu tiga jam sih, kau bisa tidur dulu,”

“Eh?!”

“Kau tau, di sini adalah tempat paling sempurna untuk melihat matahari terbit. Dulu, kakekku sering membawaku kesini, kami akan menunggu sejak malam hari sambil kakekku menceritakan banyak hal dan aku selalu ketiduran. Namun saat sunrise, beliau akan membangunkan aku dan disini benar-benar indah, tempat favoriteku,” jelas Jesse yang mengucapkannya dengan bersemangat.

“Pasti sachou…” Ruika tersenyum melihat perubahan pada wajah Jesse, “Maksudku, Jesse-san, uhm… sayang sekali pada kakekmu, ya?”

He’s one of my favorite person in the world,dia mengajarkanku banyak hal,” Jesse mengambil dua kaleng bir dan membukakan satu untuknya, satu lagi untuk Ruika, “For life!” ucapnya lalu meneguk birnya.

“Jesse-san jangan mabuk ya, kita kan masih harus kembali ke penginapan,” dan dirinya belum bisa menyetir, ucap Ruika dalam hati.

Jesse tertawa, membuat matanya seakan menghilang dan garis-garis mulutnya membentuk suatu senyum yang sempurna, paling tidak bagi Ruika, “Tenang saja, kita bisa telepon orang penginapan untuk menjemput kita, ahahaha,”

Selama tiga jam ke depan keduanya berbicara banyak hal. Ruika menceritakan mengenai keluarganya dan mengapa ia harus kerja paruh waktu untuk membiayai setengah biaya kuliahnya. Suasana malam itu seakan larut dalam kebersamaan, Jesse mengutarakan banyak hal yang baru diketahui oleh Ruika, termasuk mengenai hubungannya dengan Ayah Jesse.

“Suatu hari aku akan menunjukkan bahwa aku pantas jadi penerusnya,”

Ruika menatap Jesse yang kini matanya tertuju pada pemandangan subuh yang mulai menunjukkan cahayanya, Ruika tidak berani berkomentar hanya terus memandangi maha karya Tuhan yang mungkin lebih indah dari matahari terbit yang diributkan Jesse sejak semalam.

“Lihat!” Jesse tiba-tiba saja terlihat sumringah dan ketika Ruika menoleh, secercah cahaya muncul dari balik bukit, pemandangan perbukitan di bawah menjadi eksotis dan indah sekali.

Jesse dan matahari terbit adalah paduan paling spesial dan sempurna untuk memulai harinya kali ini. Ruika membiarkan dirinya menyesap aroma pagi dan berusaha merekamnya sebaik mungkin dalam memori. Karena belum tentu kesempatan seperti ini datang dua kali. Ruika menoleh untuk melihat Jesse kembali dan ternyata wajah Jesse sudah berjarak tidak lebih dari sepuluh senti dari wajahnya sendiri.

“Jesse-san… uhm…”

Gomen, aku harus melakukan ini,” bisiknya, sangat dekat sehingga Ruika bisa merasakan nafas Jesse yang hangat di pipinya. Sedetik kemudian Ruika merasakan tangan Jesse menarik belakang kepalanya dan bibir Jesse sudah menguasai bibir Ruika sepenuhnya, memagutnya pelan dan tak menuntut, begitu lembut sehingga Ruika ingin sekali waktu berhenti berputar saat itu juga. Matanya terpejam, menikmati sensasi bibir Jesse yang hangat dan lembut, merasakan sentuhan lembut telapak tangan Jesse di pipinya hingga Jesse menyudahinya, Ruika tidak rela.

Ruika menatap Jesse dengan bibirnya yang merah muda, duh ia berharap tak kelewat bersemangat membalas ciuman Jesse tadi, Ruika merasakan pipinya memanas, suhu tubuhnya meningkat.

Suki da, Mizutani Ruika,”

.

Memori itu tercetak jelas di otak Ruika. Semua detail, suasana, ekspresi wajah Jesse. Ruika pernah menanyakannya pada Jesse, kenapa ia menyukai Ruika? Dan Jesse mengatakan bahwa sejak Ruika mulai bekerja di tempatnya, berkali-kali pula Jesse berusaha mendekati Ruika, namun mereka tidak pernah punya kesempatan berdua, Jesse hanya sering mengajaknya mengobrol saat di dapur.

Tapi apalah artinya kata suka kalau sejatinya Ruika tidak bisa seutuhnya memiliki Jesse?

“Maafkan aku Ruika, aku harus memacari Kimura Aika, kumohon mengertilah,” satu kalimat yang sebenarnya sangat sederhana bisa membuatnya menangis hingga mata sembab seperti sekarang.

Semalam ia bertemu Jesse, setelah sebulan lamanya tidak dihubungi oleh si pemuda, dan pengakuan itulah yang keluar dari mulut kekasihnya. Setelah diminta untuk merahasiakan hubungan mereka kepada pegawai lain, sekarang juga harus menerima Jesse dengan wanita lain? Dimana letak keadilannya?

“Apa Jesse-kun benar-benar menyukaiku?”

Jesse tidak menjawab dengan kata-kata, ia mendekap Ruika semalaman, memberikan isyarat-isyarat menenangkan.

“Lalu sampai kapan?”

Lagi-lagi Jesse tidak bisa menjawabnya.

***

“Eh? Lagi-lagi Juri-kun?” Aika membuka pintu studio dan melihat Juri duduk sambil bermain gitar, “Lama-lama Juri-kun pindah juga kesini,” kata Aika lalu menyimpan satu kantong plastik putih di atas meja, “ada kopi dan roti kalau kau mau,”

“Yay! Arigatou!!” tanpa sungkan Juri membuka bungkusan itu dan mengambil sekaleng kopi, “Shift ku berakhir lebih cepat dan aku memutuskan untuk kesini,” ucap Juri.

Aika mengangguk-angguk dan duduk di sebelah Juri, kembali mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa apakah Jesse menghubunginya, hasilnya masih nihil. Aneh sekali seharian ini Jesse menghilang dan tidak menghubunginya.

“Kenapa? Pacar bulemu hilang?” Juri meneguk kopinya yang diganggu oleh senggolan di lengan Juri hampir saja membuat kopi itu tumpah dan membashi sekitar mulut Juri.

“Ahahaha,” Aika tergelak sementara Juri hanya bisa membalas Aika dengan mencubit pipi si gadis.

“Jail banget sih, Aikaaaa!!” protesnya tak terima dijahili terus oleh Aika.

“Kenapa sih Juri-kun selalu protes soal Jesse-kun? Dia pacarku dan seharusnya Juri-kun mendukungku, dong,” tanya Aika pada Juri yang sedang sibuk mengelap bibirnya dengan tissue.

“Aku tidak suka kau bersama bule gak jelas itu!” ungkapnya dengan nada tidak suka.

“Kenapa?” Juri menatap wajah polos Aika di depannya, haruskah Juri menuliskan kata suka itu di jidatnya agar Aika menyadarinya? Bukan waktu yang singkat Juri menyukai Aika, sudah sejak SMA dan gadis itu masih juga tidak menyadarinya? Uh oh, sepertinya Aika tidak dianugerahi rasa sensitif seperti layaknya gadis seumuran dirinya.

“Aku….” baiklah. Ini saatnya Tanaka Juri! Dan saat kata-kata itu keluar maka tidak akan ada kata mundur, tidak ada lagi kata mundur, “Aku…”

Pintu terbuka, sosok Taiga dan Hazuki masuk ke ruangan studio.

“Hello!! Ohayou!” sapa Taiga kepada Juri dan Aika, “Wajahmu kenapa?” tanyanya pada Juri yang lansgung dijawab gelengan kepala dari Juri.

Ohayou!” Hazuki tersenyum kepada Juri dan Aika.

Walaupun sekarang sudah sore, kebiasaan mereka untuk mengatakan ohayou saat akan memulai latihan. Pintu kembali terbuka, kali ini Kouchi yang datang tapi kali ini sendirian.

“Hey! Maaf agak terlambat,” ucap Kouchi yang membawa serta bassnya.

“Baiklah… sebelum mulai latihan, aku punya dua pengumuman penting,” ucap Taiga, seluruh personil kini memusatkan perhatiannya pada Taiga, “Pertama, kita lolos audisi Summer Festival, kita akan tampil disana dengan tiga lagu,”

“Whoaaa!! Kereeenn!!” Juri menyambutnya dengan antusias, begitu juga dengan personil lain.

“Yang kedua, apa?” Aika menyadari mereka hanya audisi sekali bulan lalu dan seharusnya tidak ada pengumuman lainnya.

“Perkenalkan, calon istriku,” Taiga merangkul bahu Hazuki, “Kirie Hazuki,”

Kouchi bertepuk tangan sementara Juri dan Aika hanyabisa bengong, “Eh?” seakan tau dia salah respon, Kouchi segera berhenti tertawa.

“Apaan sih, Taiga?! Aku menolak dijodohkan denganmu!” seru Hazuki galak, melepaskan rangkulan Taiga dari bahunya. Sementara Taiga hanya tergelak dan mengajak latihan dimulai tanpa menjelaskan maksudnya.

***

“Kenapa aku tidak bisa menjadi kekasihmu?” pertanyaan pertama dari Airin kala itu, Hokuto masih mengingatnya dengan jelas.

“Apa aku tidak sesuai dengan kriteria gadis idamanmu?” pertanyaan kedua dibarengi dengan tetesan air mata yang jatuh dari manik mata Airin, menyayat hatinya sendiri.

Entah sejak kapan Airin sering sekali mampir di rumahnya. Hampir tiga kali seminggu Hokuto bisa melihat Airin berkeliaran di rumahnya jika Sonata tidak pulang cepat ia juga tak usah bingung mencari karena pasti gadis itu ada di rumah Airin. Baginya Airin sudah seperti adiknya dan pernyataan cinta dari gadis itu malah membuatnya bingung. Bukan dengan perasaan Airin tapi dengan perasaannya.

Matsumura Hokuto bolehlah seorang pemuda tampan yang disukai banyak wanita. Bukannya sombong, tapi jika mengintip sedikit kehidupan SMA nya, hari-harinya tak pernah sepi dengan gadis-gadis yang menyatakan cinta padanya. Dirinya dan Kyomoto Taiga jadi duo paling dicari oleh adik kelas, saat mereka bergabung dengan band milik Aika, semakin banyak penggemar keduanya, Juri masuk ke dalam circle mereka dan ikut-ikutan jadi pusat perhatian. Tapi Matsumura Hokuto tidak pernah memikirkan perasaannya sendiri, ia sibuk memikirkan bagaimana ibunya dan adik semata wayangnya masih bisa makan esok hari, bagaimana Sonata harus tetap bersekolah walaupun ia sendiri harus berhenti kuliah jika diperlukan. Cinta pertamanya pun hanya berlalu dengan pandangannya pada si gadis cinta pertama hingga akhirnya mereka lulus, Hokuto hanya tau namanya saja, Mizutani Ruika, itupun ia lihat di kamus yang dijatuhkan si gadis kala itu.

Bukannya Airin tidak bisa menjadi kekasihnya, sejujurnya Hokuto pun sering memerhatikan Airin, gerak-geriknya yang lebih dewasa dari umurnya pun menarik perhatiannya. Lagipula Hokuto tidak punya kriteria gadis idaman, bisa jadi Airin adalah idamannya. Namun, entahlah…. rasanya belum siap dirinya menjadi egois.

“Aku pacaran dengan Shintaro,” Airin mengatakannya kemarin, saat menunggu Shintaro menjemputnya setelah mengantarkan Sonata, “Aku tidak bisa melupakanmu, tapi kuharap dengan hadirnya Shin-kun, aku bisa melupakanmu,”

Ada sedikit rasa nyeri di hatinya, rasa tidak rela dengan keadaan ini. Benarkah diam-diam ia sudah menyukai Airin? Tapi Airin sudah seperti adiknya sendiri.

“Hoku-chan, tolong ambilkan air,” lamunan Hokuto buyar mendengar suara ibunya.

“Iya bu, sebentar,”

Sudahlah. Airin sudah memilih melupakannya.

***

“Bisa kau bayangkan.. Hazuki dan Taiga akan menikah?!” seru Aika heboh, mengingat sekarang mereka ada di transportasi umum, rasanya Juri ingin menutup mulut Aika dengan lakban.

“Aika…”

“Pasti aneh kan menikah dengan sahabat sendiri?” Aika memandnag Juri dengan wajah penuh pertanyaan, “Aneh kan?”

“Lebih aneh sekarang kau ngapain sih ikut naik bis?!” protes Juri.

Aika manyun karena tidak dijawab oleh Juri, “Aku belum pernah naik bis lokal,”

“Bis lokal?” Juri mengerenyitkan dahinya, Juri tau sih Aika selalu kemana-mana diantar supirnya, atau belakangan ini oleh Jesse.

“Iya, biasanya aku naik bis kalau sedang ke Eropa, kau tau kan?”

“Stop!” Juri menutup mulut Aika dengan telapak tangannya, “Jangan berisik,” bisiknya pada Aika. Dan karena Aika kini Juri harus memutar sebelum sampai rumahnya, karena harus mengantar nona muda ini dengan selamat ke rumahnya.

“Ngomong-ngomong Juri-kun tadi mau bilang apa?”

Juri menoleh pada Aika yang kini sedang terpana melihat pemandangan luar bis, matanya berbinar seperti anak kecil bertemu mainan baru, “Bilang apa?”

“Yang tadi itu… sebelum Taiga-kun dan Hazuki datang,” Aika segera menoleh ke arah Juri, “Ayolah, aku penasaran,”

Juri menolak menjawab pertanyaan Aika hingga mereka sampai di halte dekat rumah Aika, dan keduanya kini berjalan beriringan, mensejajarkan langkah-langkah mereka. Aika belum menyerah untuk memaksa Juri mengaku, dia ingin tau kenapa Juri begitu tidak sukanya pada Jesse.

“Baiklah sudah sampai tuan putri,” berdiri di gerbang pintu bertuliskan KIMURA, dengan latar air mancur yang ada di halaman rumah Aika, membuat situasi ini seperti film romantis.

“Ayolah Juri-kuunnn,” Aika menggoyang-goyangkan lengan Juri, masih tidak rela Juri tak mau menjawabnya.

Juri menatap mata Aika, mengumpulkan segala keberaniannya karena mulai saat ini, mungkin saja Aika akan menjauh darinya, mungkin saja Aika malah tidak lagi bisa bersikap manja kepadanya, “Aku menyukaimu, Aika,”

Genggaman tangan Aika otomatis terlepas dan wajahnya menunjukkan kekagetan, “Hah? Juri-kun bercan…”

“Aku tidak bercanda, dan aku sudah menyimpan ini sejak kita kelas dua SMA, aku menyukaimu,” ulangnya lagi, kali ini lebih jelas.

***

Tok tok tok

Ketukan pintu yang hanya formalitas, Yua membuka pintu apartemen milik Kouchi, “Aku bawa pizza,” dan benar saja Kouchi sedang main game console sehingga tidak menyantroni apartemennya malam ini.

“Yo!” tapi mata Kouchi tidak beranjak dari layar televisi.

“Kau tau… tadi aku bertemu Shintaro,” Yua mengambil dua gelas bersih di dapur dan membuka satu botol soda yang ia bawa, “Ingat tidak?”

“Shintaro? Yang mana ya?”

“Masa kau lupa sih?” Kouchi berteriak kesal karena kalah dan segera mematikan game nya, sebelum akhirnya mengambil satu potong pizza, “Itu loh… yang di tempat les,”

Kouchi mencoba mengingat-ingat siapa yang dimaksud oleh Yua, “Shin… oh! Ahahaha, pemuda yang menciummu itu kan?”

Dengan kesal Yua melemparkan bantal tepat di muka Kouchi yang tidak juga berhenti tergelak, “Iya waktu itu dia masih SMP,”

“Kenapa? Kau mengingat ciuman pertamamu? Dia tampan tidak?” alis Kouchi terangkat-angkat meledek Yua, salah satu hobi Kouchi Yugo : meledek Ichigo Yua dengan cara apapun hingga gadis itu benar-benar kesal.

“Tentu saja lebih tampan dari Kou-chan,” seru Yua kesal, “Lagipula dia bukan ciuman pertamaku,” tambahnya dengan sedikit berbisik.

Kouchi berhenti tertawa, “Hah? Bukan dia? Lalu siapa?” dirinya tak menyangka ada sesuatu yang tidak diceritakan Ichigo Yua padanya.

Yua melirik Kouchi, mulutnya sengaja dibiarkan sibuk mengunyah pizza, rasanya dia salah sebut, “Kau tak ingat?”

“Ingat apa?” Kochi memilih untuk meneguk sodanya, mengambil satu potong pizza lagi, “kau pernah cerita?” mengingat kebersamaannya dengan Yua, bisa saja sih gadis itu sudah menceritakannya namun ia lupa atau saat Yua bilang, dirinya sesungguhnya setengah tertidur.

“Di sekolah dasar, Kou-chan menciumku,”

“UHUK! APAA?!” beruntung pizza yang ia makan tidak salah masuk saluran pernapasannya.

Tunggu sebentar. Kouchi mencoba mengingat momen dirinya mencium Yua, dan memorinya tidak bisa menemukan ingatan itu.

“Iya, waktu itu Kou-chan jatuh terpeleset dan tak sengaja menciumku, HUH! Dasar pelupa!” protes Yua, tak rela ciuman pertama itu hanya dirinya yang ingat.

Kouchi menggaruk kepalanya yang tidak gatal, tidak berani mendebat bahwa sebenarnya itu tidak bisa dihitung sebagai ciuman pertama.

“Hari ini latihan tidak?” Yua mengalihkan pembicaraan karena Kouchi tiba-tiba menjadi pendiam, Kouchi mengangguk, “Bertemu Taiga-kun, dong?”

“Taiga-kun? Sejak kapan kau jadi sedekat itu dengan Kyomoto-san?” ucap Kouchi yang menyandarkan punggungnya di sofa, dua potong pizza sudah membuatnya sedikit kenyang.

“Ih biarin! Dia tampan, suaranya bagus,”

Kouchi menjawil kuping Yua, “Memangnya kau suka Kyomoto-san?”

Yua mengangguk dengan bersemangat, “Latihan berikutnya aku ikut lagi ya,”

Sejak TK, hingga sekarang, Yua tidak pernah benar-benar suka pada laki-laki manapun. Yua berkesan cuek dan tidak pernah menggubris laki-laki manapun yang mendekatinya. Kouchi tidak pernah melihat binar mata Yua berubah saat membicarakan laki-laki lain. Belum pernah sebelumnya. Kouchi tidak suka itu, Ichigo Yua tidak boleh menyukai laki-laki lain.

***

TO BE CONTINUE

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Little Things Called Love (#3)

  1. elsaindahmustika

    hoahhhhh akhirnya bisa meluk shinnn *ini ff oi. thanks kak din baper banget bagian sona:’v trus trus bagian taiga ngenalin hazukinya kayak tanpa dosa wkwkwk trus si jess jahat ya, ruika kau beruntung but kasian aikaaa, andddd akhirnya juri bisa bilang suka sama aika yayy, udah aika sama juri aja deh. oh ya itu kenapa hokunii kaku banget coba duh mikirin ibu sama aku mulu sih *plak:’v and last seperti biasa yua kouchi seru2 aja ya, jadi iri😂

    Reply
  2. magentaclover

    Halo… aku dateng lagi, aku pasti selalu hadir di sini xD

    Itu jadi ruika ngenes banget ya, dibegituin sama jesse… dia mikir engga sih? Lol terus si hoku lama2 kayak aika ver cowok ga peka gitu mungkin efek hidupnya sulit kali ya 😂 dan kasian juga si airin. Buat hubungan yua x kouchi terus hazuki x taiga kali ini bikin aku senyum2 sendiri hahaha mungkin mereka ngenes jg tapi lucu aja taiga dijodohin sama hazuki terus si yua pernah dikisu kouchi walau gara2 jatoh lol apalagi dengan hadirnya shin yg jd anak smp tapi agresif XD lalu gimana sama sonata? Kasian adik manis dia terlalu perasa mending kayak aika aja ga peka #plakk

    Terakhir buat juri x aika aku suka aika yg manja2 sama juri terus juri galak lagi aika usil juri ngomel lagi XD pas juri nyatain cinta aku bener2 penasaran sama chapter 4 aika bakal gimana hahahah… tuan putri tapi ga kayak tuan putri si aika ini, lebih hime hazuki 😍

    Sekian… panjang ya kak gpp lah anggap aja drabble lol

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s