[Minichapter] Impossible Love (Chap 5) END

Impossible Love
By. Nadia Sholahiyah Utami
Genre: Romance, Friendship
Type: Minichapter
Chapter : 5 (Last)
Starring: Inoo Kei (HSJ), Sato Miharu (OC), dan selentingan orang lewat

Sudah berapa bulan sejak kejadian itu, Miharu dan Kei juga sudah pulang dari Paris di keesokan harinya.

Waktu terus berjalan, banyak yang berubah, di mulai dari Kei sudah kembali bekerja, Miharu yang mengurus rumah bersama Ibu Kei.

Tapi kebencian Miharu terhadap Kei belum berubah, ia masih menyimpan dendam pada Kei sejak insiden terakhir di Paris.

“Miharu, ayah dan ibu besok akan keluar kota selama satu Minggu, kau tidak apa kan cuma tinggal sama Kei? lagipula kalian kan suami istri” kata Ibu Kei sambil menata piring di meja makan, untuk makan malam nanti.

Miharu diam sebentar, lalu tersenyum dan membantu ibu Kei menata makanan itu “baiklah bu tidak masalah” kata Miharu, senyum paksa terus ia tunjukan.

“Baguslah,” tiba-tiba terdengar suara mobil dari depan “ah itu pasti Kei, Mihsru buka pintunya ya”

“Baik bu” dengan sedikit malas Miharu menyeret kakinya untuk membuka pintu, dan benar yang di katakan Ibu, itu adalah Kei.

Sebelum lelaki itu masuk, Miharu sudah lebih dulu meninggalkannya.

“Hmm” tiba-tiba Miharu merasa mual “Hueekkk!!” Cepat-cepat gadis itu ke kamar mandi.

Ia langsung menuju westafel untuk muntah di sana.

“Miharu!” Kei yang baru saja masuk ke rumah langsung menuju ke kamar mandi, menghampiri Miharu yang ternyata sedang muntah hebat.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Kei, istrinya menggeleng lemah.

Pria itu ke dapur mengambil minum, lalu ia berikan pada Miharu “minum ini”.

Tangan Miharu menerima minuman itu dan langsung meminumnya dengan cepat.

Sedangkan di ruang makan ibu Kei hanya tersenyum melihat keduanya.

Sudah dari satu bulan yang lalu semenjak pulang dari Paris Miharu mual, tapi Miharu meminta ibu Kei merahasiakan ini.

“Ibu rasa….” Ibu Kei menggantungkan kalimatnya saat kedua suami istri itu ada di hadapannya “Miharu hamil”

Tubuh Miharu langsung menegang saat mendengar kata-kata ibu Kei, Miharu memang belum periksa ke dokter untuk sakitnya yang ini, dan karena takut mengetahui ia hamil.

Tapi, jika melihat perutnya yang mulai membesar, Miharu semakin kesal dan tidak mau mempedulikan kehamilannya. Ini bayi Kei, dan ia benci ini.

“Wah bagus dong” seru Kei langsung memeluk Miharu, rasanya ingin sekali Miharu menolak tapi ini di depan ibu Kei jadi, mau tak mau ia harus pasrah. “Besok kita ke dokter, jika benar ini harus di rayakan” bisik Kei tepat di telinga Miharu.

Gadis itu hanya diam. Di hatinya ia terus mengumpat mengutuk nama Kei.

***

“Selamat, istri anda positif,” kata dokter sambil menyalami tangan Kei sambil tersenyum.

“Benarkah?” wajah Kei kini berubah sumringah. Demi apapun yang ada di dunia, dia sangat bahagia.

Tepat setelah itu, Miharu kembali dari ruang pemeriksaan bersama dengan seorang perawat. Kei langsung berdiri dan menghampiri istrinya. Memeluknya dengan sangat erat.

“Terima kasih, sugar pie.” kata Kei.

Miharu menyerit saat mendengar panggilan Kei untuknya saat itu. Apa tadi? Sugar pie? Apa dia terlihat sangat gendut sampai dipanggil dengan nama makanan berkalori tinggi begitu?

“Mulai sekarang nyonya harus memperhatikan kesehatan. Jangan lupa makan makanan yang bergizi. Bisa di lengkapi dengan beberapa multivitamin dan susu untuk ibu hamil. Selanjutnya akan saya jadwalkan pemeriksaan rutinnya,” kata dokter itu lagi.

Selama di sana, Miharu hanya diam dan Kei yang lebih banyak menanggapi dokter tadi. Sesekali dia menampilkan senyum dipaksakan.

Kini gadis itu sudah mendapati dirinya kembali berada dalam mobil Kei. Tangannya mengetik sesuatu di ponselnya, mengirimkan pesan tentang kehamilannya pada Miki.

Sementara itu ditempatnya, Kei sesekali melemparkan pandangannya pada Miharu. Memperhatikannya. Dan tersenyum bahagia.

Look at her now. How glowing is she? My beautiful wife, mother of our children.” gumam Kei dalam hati.

“Kenapa liat-liat?” tanya Miharu ketus. Risih juga dipandang lama-lama.

Kei menggeleng, “Kamu cantik,” katanya.

Miharu menyerit kembali. Hampir saja mual-mualnya kambuh kalau tidak mendengar dering dari ponselnya.

“Moshimoshi,” jawab Miharu.

“MIHARRUUUUUU~ Omedetooooouuu~” terdengar teriakan diujung sana sehingga Miharu harus menjauhkan  ponsel itu dari telinganya sejenak.

“Tidak usah berteriak bisa kali,” celetuk Miharu.

Hehehehehe.. apapun itu, selamat. Aku gak nyangka, kamu benar-benar hamil? Amazing,” kata Miki takjub.

“Apa sih? Kok gitu responnya? Marah kek, kesal kek?” kata Miharu makin jutek.

Marah? Ngapain marah? Seneng tau, bentar lagi bakal dapet ponakan, hehehehe

Miharu mendumel kesal mendengarnya. Jadi dia benar-benar tidak ada harapan lagi pada Miki?

Eh, Miharu. Jadi pengen nanya deh. Kamu kan katanya gak cinta sama Inoo kun? Benci banget malah. Tapi kok bisa jadi? Gimana ceritanya?” tanya Miki dengan nada jahil.

“Uuggh, Miki nyebelin. Aku tutup deh!” Miharu lalu memutuskan sambungan dan melemparkan begitu saja ponselnya kedalam tas.

“Miki-chan ya tadi?” tanya Kei.

Miharu memandang Kei sekilas, “bukan urusanmu. Nyetir aja sana!” kata gadis itu pedas. Miharu lalu membuang mukanya dan memutuskan untuk tidak mau dengar apa-apa lagi.

Dan Kei. Dia tau kalau istrinya memang menyebalkan. Tapi kali ini tingkat menyebalkannya Miharu naik berkali-kali lipat. Dia tidak menyalahkannya sih. Pria itu pernah baca istilah Baby Blue Syndrome dimana seorang wanita hamil, moodnya akan sering naik-turun dan tidak stabil. Pasti deh bawaan debay (dedek “Miharu, laper gak?” tanya Kei tiba-tiba.

Miharu masih bergeming ditempatnya.

“Makan dulu yuk. Aku laper nih. Kamu aja yang milih mau makan dimana tapi,” kata Kei lagi

Berhasil. Kali ini Miharu menoleh sedikit padanya. Gadis itu lalu menunjuk ke satu tempat yang tidak jauh dari tempat mereka.

“Sana. Makan disana saja,” kata gadis itu.

“Hah? Serius? Beneran mau makan disitu?” Kei tidak percaya dengan yang dilihatnya. Sebuah tempat makan yang ada di pinggir jalan yang entah bgaimana dengan standar kebersihannya. Untuk hari biasa dia tidak begitu masalah, tapi ini…….. dia akan memberi makan calon anaknya dengan tumpukan kuman?

“Yaudah kalau gak mau. Gak usah aja. Aku juga gak lapar.” kata Miharu dingin.

“Ngidam!” Satu kata terlintas di pikiran pria itu.

Iya! Pasti begitu. Pasti bawaan debay lagi ini. Aduh nak, kamu belum lahir aja udah banyak maunya. Tapi gak apa-apa deh. Sesekali.

“Iya deh, aku cari tempat parkir dulu, nanti kita turun bareng.” kata Kei

“Heran! Kok mendadak jadi penurut gini nih orang,” pikir Miharu. Dia sendiri bingung dengan apa yang terjadi.

Miharu dan Kei kini sudah berada di toko Takoyaki tepat di pinggir jalan.

Sebenarnya, entah kenapa Miharu ingin sekali memakan makanan bulat gang berisi daging cumi-cumi itu, padahal bukan biasanya Miharu makan itu.

“Miharu, kamu mau pesan berapa banyak?” Tanya Kei melihat Miharu menatap makanan bulat itu sedang di olah oleh penjualnya.

“Dua puluh” sahut Miharu tiba-tiba “dua puluh buah ya” lanjutnya.

Kei menelan salivanya, ini terlalu banyak, apa mungkin bisa habis?

Tapi, lagi-lagi Kei tidak bisa protes, istrinya sedang hamil mungkin bayinya ingin makan banyak hari ini.

“Baik, silahkan di tunggu ya” kata pak tua penjual takoyaki tersebut.

Mata Miharu melirik sekilas wajah Kei, heran pria itu tidak protes sama sekali.

“Aah” Kei berseru saat ia menemukan bangku tak jauh dari mereka “duduk sini, aku mau beli minum dulu” saat yakin istrinya sudah duduk Kei menyebrang dan membeli minum di sana untuk mengisi waktu saat menunggu takoyaki itu selesai.

Miharu memperhatikan gerak-gerik Kei yang ternyata kini sudah selesai membeli minum dan akan kembali menyebrang menghampirinya, tapi pria itu nyebrang sambil memperhatikan botol-botol di dalam plastik tanpa ia sadar sebuah mobil sudah melaju kencang menuju tubuh Kei.

Saat itu, pikiran Miharu langsung melayang mengingat kejadian yang di alami oleh Nino.

“Kei awas!!” Cepat-cepat Miharu berlari ke arah Kei dan mendorong tubuh pria itu hingga ke ujung trotoar, beruntung tubuh Miharu ikut ke ujung trotoar.

Keduanya selamat “hhhh…” Mereka tersengal karena kejadian barusan, tubuh Miharu yang berada di atas Kei membuat pria itu harus menahan berat badan Miharu yang kini sedang berbadan dua.

Tapi, sebentar Kei merasakan ada yang basah dari kaki Miharu.

“K-kei…” Tangan Miharu mencengkram kuat baju Kei “sakit… Perut ku sakit…hiks” ia menangis.

Refleks Kei melihat ke bawah dan benar saja, kaki Miharu ada darah, Miharu pendarahan.

 

“Astaga!” Dengan sigap Kei berdiri dan menggendong tubuh Miharu, menaruh istrinya di dalam mobil dan cepat-cepat menuju toko Takoyaki tadi.

Ia mengeluarkan beberapa lembar uang kertas “ini, maaf aku tidak jadi beli” setelah itu ia langsung masuk ke mobil tanpa peduli triakan penjual itu karena, ya tidak perlu bayarkan kalau tidak jadi beli.

Kei melajukan mobilnya menuju rumah sakit.

Panik. Hanya itu yang dirasakan Kei selama perjalanan. Miharu sudah hampir kehilangan kesadaran di sampingnya karena kesakitan. Sekarang tidak hanya satu, tapi dua orang yang dia cemaskan. Iya. Istri dan calon anak yang tengah dikandung Miharu saat itu.

Kei menjambak rambutnya frustasi. Berbagai penyesalan berkecamuk dalam dirinya. Seharusnya dia melihat jalan dengan benar. Seharusnya dia tidak memalingkan pandangannya. Sejarusnya Miharu tidak perlu menyusulnya.

“Sabar Miharu, sabar sayang… sebentar lagi kita sampai” kata Kei sambil menggenggam singkat tangan istrinya.

Tak lama kemudian, mereka tiba kembali di rumah sakit. Kesadaran Miharu benar-benar tipis. Kei menggendong Miharu dan segera mendudukkannya di bed yang diantarkan beberapa perawat ke depan pintu masuk UGD tempatnya. Miharu langsung di bawa ke dalam ruang pemeriksaan sementara Kei dihentikan sejenak oleh seorang perawat untuk menangani beberapa administrasi.

Setelah itu, Kei berlari kembali ke tempat pemeriksaan yang pintunya tengah tertutup. Raut cemas tergambar di wajah pria itu.

“Miharu, semoga kau tidak kenapa-kenapa,” katanya

Tepat saat itu pintu ruang pemeriksaan terbuka dan seorang dokter berjalan menghampirinya.

Kei langsung mencecar dokter itu dengan berbagai macam pertanyaan.

“Bagaimana keadaan istri saya dokter? Dia tidak ap-apa kan? Apakah saya sudah bisa melihatnya?”

“Tenang pak..” Kata dokter itu mengingatkan, membuat Kei yang tadinya banyak bertanya kini diam menunggu jawaban dokter itu.

Sang dokter menarik nafasnya sebentar lalu kembali ia hembuskan sebelum akhirnya dokter itu berbicara “untung sekali anda  membawa istri anda cepat ke sini karena kalau tidak…. Kemungkinan besar bayi yang di dalam kandungannya akan meninggal atau dengan kata lain keguguran” Kei tercekat mendengar kata-kata dokter itu, tapi belum sempat Kei bertanya lagi dokter itu sudah kembali bersuara.

“Sekarang kandungannya baik-baik saja karena sudah saya beri obat, tinggal tunggu pemulihannya saja, pak kandungan istri anda sedang sangat lemah jadi saya minta tolong di jaga dengan baik ya” pesan dokter itu.

Mendengar kalau Miharu dan calon bayinya baik-baik saja Kei menghela nafas lega, dan mengangguk mendengar saran dari dokter itu.

Setelah dokter itu membolehkan Kei masuk ke ruangan Miharu dan pergi dari hadapan Kei, pria itu masuk ke ruangan Miharu, terlihat istri nya sedang tertidur damai.

Tangan Kei mengelus pelan sebelah pipi istri tercintanya itu, tanpa sadar ia menangis menunduk tepat di atas wajah Miharu. “Yokatta.. Daijoubu aku disini, Miharu” bisik Kei bergetar masih mengelus pipi Miharu, sedangkan sebelah tangannya ia gunakan untuk mengelus perut Miharu yang sedikit buncit.

Kei menangis karena melihat keadaan Miharu yang lemah, menangis karena Miharu seperti ini karena kelalaiannya.

Dan malam itu, adalah malam yang panjang untuk Kei. Ia menjaga Miharu hingga kantuk nya sudah tidak bisa ia tahan lagi.

***

Entah sudah berapa lama Kei tidur dalam posisi duduk dengan kepalanya di sisi ranjang Miharu, tapi itu tak masalah selagi ia bisa menjaga Miharu.

Tak lama Kei merasakan kepala nya di sentuh oleh sesuatu, refleks Kei mengangkat kepalanya dan mendapati Miharu sedang melihat Kei dengan tatapan datar.

“Ohayou Michan” segera Kei bangun dan mengecup singkat puncak kepala Miharu, tanpa sadar perlakuannya membuat jantung Miharu mau loncat, padahal ia baru saja bangun.

“Perut mu masih sakit?” Miharu menggeleng lemah, bibirnya terlihat ada segaris senyuman.

“Yokatta… Nanti makan ya kalau makanannya sudah datang” ucap Kei lembut, dan entah kenapa Miharu hanya mengangguk menuruti perkataan Kei.

Dan Miharu tidak tahu kenapa ia merasakan nyaman dari diri Kei. Seakan kegelisahannya tentang Nino dan Miki hilang sudah saat ia sadar dan melihat kepala Kei tidur di samping ranjangnya.

.

Kei baru saja kembali lagi ke kamar tempat Miharu sedang istirahat dari ruangan dokter. Dilihatnya ada semangkuk bubur di meja samping tempat tidurnya. Sedangkan Miharu terlihat berbaring dengan satu lengan dikepalanya.

“Michan” panggil Kei.

Miharu mencoba bangkit dari posisinya saat melihat Kei memanggilnya, namun dia kembali berbaring karena pria itu buru-buru menahannya.

“Kau tidak makan?” tanya pria itu.

Miharu menggeleng pelan, “apa kata dokter?” gadis itu balik bertanya.

“Sudah tidak ada masalah. Kenapa? Butuh sesuatu?”

“Aku mau pulang,” kata Miharu.

Kei tampak menyerit, “kau masih lemah, yakin pulang sekarang?”

Miharu mengangguk tegas, “pulang sekarang saja, aku mau istirahat dirumah,” katanya.

“Baiklah, setelah kau menghabiskan buburmu, kita pulang,” kata Kei. Miharu menyerit keberatan dan ingin protes, namun langsung dipotong oleh suaminya, “Aku tau makanan rumah sakit memang tidak enak, tapi kau juga butuh tenaga, setidaknya untuk bayi kita. Setelah ini aku janji kita akan cari makanan yang enak untuk makan malam nanti dirumah,” kata pria itu sambil mengusap kepala Miharu sayang.

‘Bayi Kita’ entah kenapa dua kata itu seperti membawa angin sejuk ke dada Miharu, alih-alih membantah lagi, gadis itu memilih mengangguk dan membiarkan dirinya disuapi oleh pria didepannya ini.

Petang itu, setelah mengurus beberapa administrasi lainnya, kini Kei mendapati istri tersayangnya itu sedang tertidur pulas dalam mobil, tepat disampingnya. Sesekali, dilepaskannya satu tangannya hanya untuk sekedar mengelus kepala Miharu ataupun hanya menggenggam tangan istrinya itu.

Mereka kini sampai di rumah, keadaan rumah sepi ibu dan ayah Kei sedang pergi keluar kota.

“Pelan-pelan” kata Kei menuntun istri nya masuk ke dalam kamar.

“Aku bisa sendiri”

“Tsk sstt diam kata dokter janin mu sedikit lemah jadi harus hati-hati..” Miharu hanya diam, bibir nya kelu untuk melontarkan protes atau keluhan seperti biasa.

Seperti ada yang menahannya dan membuat Miharu menurut saja dengan apa yang di katakan oleh Kei.

***

Beberapa bulan berlalu, usia kandungan Miharu kini sudah mencapai delapan bulan, dan perhalan hubungan Miharu dan Kei semakin membaik, tidak ada lagi adu mulut di antara mereka, malah mereka kini sering sekali bersenang-senang.

Seperti sekarang, Miharu dan Kei sedang menikmati tontonan mereka sambil memakan popcorn.

Hingga….kekacauan kembali datang saat Miki datang ke rumah mereka.

“Jadi ceritakan, bagaimana bisa Miharu hamil?” Tanya Miki sambil mengelus perut Miharu yang sudah sangat besar. Senyum gadis itu serus mengembang.

Oh shit! Harapan Miharu terhadap gadis itu malah muncul lagi kan.

“Aku akan kedapur melihat barangkali ada cemilan tambahan,” Kei memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua untuk berbicara.

Miharu melihat kearah Kei yang menghilang dibalik dapur dan berpaling kembali memandang Miki.

“Kau darimana saja baru bisa kesini sekarang?” tanya Miharu sambil mengerucutkan bibirnya yang langsung di cubit oleh Miki.

“Aku sibuk dengan kuliahku, maaf jarang mengunjungimu,” kata Miki.

“Dan sibuk dengan pacarmu?” ada nada tidak suka dari pertanyaan Miharu itu.

Miki tersenyum masam, Miharu masih berharap padanya.

“Masih marah karena itu?” tanya Miki.

Miharu diam saja, mengalihkan pandangannya kembali ke televisi dan menyuap beberapa popcorn ke mulutnya dengan kesal.

“Oh ayolah, kita sudah membahas ini ratusan kali. Kau sudah punya kehidupan baru, dengan suami yang menyayangimu dan calon anak di rahim mu. Apa lagi yang kau inginkan? Aku? Kita sudah pernah mencobanya, bukan?” kata Miki panjang lebar.

“Aku mencintaimu, Miki. Tidakkah kau paham itu?” tanya Miharu dengan kesal.

Miki menggeleng, “Tidak, Miharu! Itu bukan cinta, kau salah mengerti hubungan persahabatan kita dengan cinta!” balas Miki.

“Woo… woo… sepertinya perdebatannya sangat seru sekali,” Kei tiba-tiba muncul sambil membawa sebungkus makanan ringan dan beberapa softdrink.

“Hei, Kei-kun,” sapa Miki lagi sambil tersenyum.

Kei menghampiri Miharu dan mengusap kepalanya lembut.

“Ada apa?” tanya pria itu.

Miharu tersenyum tipis dan menggeleng. Tiba-tiba ponsel Kei berbunyi dan membuat pria itu harus pergi lagi dari sana untuk menjawabnya.

“Pertanyaanku terjawab!” kata Miki tiba-tiba.

“Apa?” tanya Miharu tak mengerti.

Miki tersenyum lebar, “Tentang bagaimana kau bisa hamil. Kau mencintainya,” katanya.

“Apa? Siapa? Mencintai siapa maksudmu?” Miharu masih tidak mengerti.

“Suamimu tentu saja. Aku melihat bagaimana cara dia mengelusmu dan kau balas menatapnya. Bahkan tadi kau tersenyum padanya? Kau mencintainya, astagaaaaaaa. Ini hebat!” Miki mengguncang tubuh Miharu antusias.

Miharu terdiam. Sejujurnya dia sendiri tidak sadar bahwa dia tersenyum tadi. Bagaimana mungkin? Bukankah dia membencinya? Semakin berpikir, Miharu semakin menyadari banyak hal, saat pria itu merangkulnya tadi ketika menonton televisi, atau ada saat-saat pria itu memberikannya pelukan singkat.

Belakangan dia tidak lagi sering menunjukkan penolakan seperti dulu. Dan apa yang tadi dikatakan oleh Miki? Dia mencintai pria itu?! Ya Tuhan, benarkah seperti itu?

.

Setelah Miki akhirnya pamit pulang sesudah makan masakan Miharu, akhirnya mereka kembali berdua. Ah iya Miharu dan Kei sudah pindah ke Tokyo sejak usia kandungan Miharu tujuh bulan alasannya karena kantor Kei pindah ke Tokyo dan Miharu bisa dekat dengan Miki tapi gadis itu malah menghilang dan baru datang sekarang.

“Ada apa?” Tanya Kei heran karena Miharu sedari tadi menatapnya, meski risih tapi ia biarkan itu.

Miharu menggeleng “aneh, aku rasanya nyaman dengan mu… Ah mungkin perasaan ku saja” cepat-cepat Miharu merampas popcorn yang tadi sedang mereka nikmati, memakannya cepat hingga banyak yang tumpah.

Melihat itu, Kei terkekeh pelan. Tanpa menyaut kata-kata Miharu ia masuk ke dalam kamar dan tak lama keluar lagi, tanpa di ketahui oleh Miharu.

“Ini untuk mu” kata Kei sambil memasangkan sebuah kalung dari belakang Miharu, tentu saja membuat istrinya kaget.

“Apel?” Seketika ingatan Miharu kembali kepada Nino, tapi kini beda, kini Inoo lah yang memberi dan memasangkan kalung di lehernya. Perlahan tangan Miharu menyentuh liontin kalung itu dalam diam.

“Un..” Perlahan Kei memeluk leher Miharu dari belakang dan menyandarkan dagunya di pundak sang istri “maaf ya aku terlambat mengambalikannya kemarin kalungnya putus jadi aku beli yang baru…tapi tenang saja liontin nya masih tetap sama”

“…..”

“Aku tentu saja tidak mau membuat mu lupa dengan Nino-san, karena dialah yang menjaga Miharu ku dulu…dia yang merawat mu, dan kini gantian aku yang menjaga dan merawat mu ne, Miharu?” Kei melepas pelukannya dan beralih untuk duduk di samping Miharu.

Mendengar kata-kata Kei barusan, entah kenapa membuat hati Miharu tersentuh seperti ada listrik yang menyengat jantungnya sesaat dan sukses meloloskan air mata keluar dari pelupuk matanya. Kata-kata itu…jujur membuat Miharu terharu sekaligus senang.

Kau mencintainya,

Aku tentu saja tidak mau membuat mu lupa dengan Nino-san

Ingatan Miharu terus melayang mengingat saat-saat dirinya bersama Kei akhir ini, saat tanpa sadar mereka bermesraan, di saat mereka dulu sering bertengkar, dan dengan bodohnya menganggap Inoo adalah Nino atau membandingkan pria itu dengan Miki yang jelas-jelas Inoo adalah pria dan Miki adalah wanita. Semuanya, perbuatannya yang dulu pernah ia lakukan terhadap Kei, perbuatannya yang ia sadar pasti sudah melukai hati suami nya ini, Miharu menyesal. Dan Miharu sadar, menikah dengannya, adalah keberuntungan untuk Miharu.

Sekuat apapun Miharu membuat suaminya sakit hati, tapi Kei masih saja terus menyayanginya, walau terkadang menyebalkan.

“E-eeh?” Jerit Kei melihat istrinya menangis “kau kenapa?” tangan Kei terulur menghapus air mata Miharu.

“Kei sialaann!!” Umpat Miharu, tapi tangis nya malah semakin jadi “kau… Hiks kau membuat jantung ku hampir keluar karena kata-kata mu hiks tadi huwaahh~~” dan akhirnya tangis Miharu pecah begitu saja saat Kei memeluknya erat.

Seulas senyum terlukis dari kedua sudut bibir Kei. Akhirnya, aku bisa membuat mu senang, Miharu. Bisik Kei dalam hati.

***

“Yakin kuat naik pesawat? Ini ke Paris loh?” Miharu mengangguk semangat.

Semalam, tiba-tiba saja Kei memutar film asal dari Paris, alasannya karena Kei ingin skalian melihat gedung-gedung Paris untuk refrensi perusahaannya. Tapi, Miharu malah minta untuk datang ke sana lagi, meski mereka sempat berdebat karena Kei tidak setuju mengingat usia kandungan Miharu yang sudah sangat tua ada kemungkinan lahir kapan saja, tapi mendengar rengekan Miharu akhirnya Kei mengalah dan menuruti permintaan istri nya.

“Di gembok itu, aku belum menulis nama pasangan ku” jawab Miharu antusias.

Mata Kei seketika melotot “hanya untuk itu??” Miharu mengangguk “habis itu?”

“Pulang”

“Pulang? Ke Jepang?” Miharu mengangguk lagi.

Rasanya, Kei ingin sekali menerkam Miharu kalau saja itu bukan di bandara tapi di rumah.

Melihat ekspresi Kei yang seakan-akan ingin menelannya hidup-hidup Miharu memasang wajah manja, mungkin saja ini jurus ampuh agar Kei tidak marah “oh ayolah Kei ini keinginan bayi mu” kata Miharu sambil mengelus perut buncitnya.

Oke, kata-kata itu membuat Kei lemah dan hanya bisa mengangguk meng’iya’kan kehendak Miharu.

***

Miharu menggandeng lengan Kei selama di pesawat. Senyuman geli tidak lepas dari bibirnya karena berhasil membuat Kei gusar.

Sejak duduk di dalam pesawat Kei selalu gelisah karena khawatir. Berkali-kali dia mengecek keadaan Miharu. Sebisa mungkin membuat istrinya nyaman. Inilah dia kalau membawa wanita hamil besar bepergian jauh dengan pesawat.

“Ne, apa kursinya nyaman? Selimutnya sudah cukup hangat? Apa kau butuh yang lainnya?” untuk kesekian kalinya Kei bertanya dengan gelisah.

Miharu mengeratkan pelukannya dan bersandar pada lengan pria itu.

“Sudah Keiiiiii, aku sudah tidak apa-apa, berhenti khawatir seperti itu. Aku mau tidur saja,” Miharu pura-pura menggerutu dengan kesal lalu memejamkan matanya. Ada kepuasan tersendiri saat melihat Kei seperti itu.

Kei menghela nafas berat. Sejujurnya sebelum burung raksasa ini kembali ke tanah, dia belum bisa bernapas dengan lega. Sejenak dilihatnya wajah Miharu yang sedang tertidur. Entah kenapa hal itu membuatnya menarik nafas dengan sedikit lega. Wajah itu selalu menenangkannya.

“Mimpi indah istriku sayang,” bisik Kei lembut lalu mengecup puncak kepala Miharu yang bersandar di lengannya.

***

“Miharu, astaga! Jangan berlari seperti itu!” Kei hampir berteriak saat dilihatnya Miharu berlari di tepi sungai Seine. Gadis itu membuatnya jantungan.

Miharu berhenti dan mengerucutkan bibirnya saat dilarang seperti itu. Kei lalu menghampiri gadis itu dan menatapnya dengan pandangan memohon.

“Perhatikan juga bayimu. Tempat seramai ini bagaimana kalau kau tersandung, atau kalau kau tabrakan dengan orang lain?” Kei mulai mengomel lagi.

“Dasar Kei, aku hati-hati, tenang sa… huwaaa”

Tiba-tiba saja seseorang menabrak Miharu dan hampir saja membuat gadis itu terjatuh jika saja tidak segera di tahan Kei.

“Baru saja ku bilang. Itu yang kau sebut hati-hati? Bagaimana kalau kau nanti jatuh dan terjadi sesuatu dengan anak kita?” Kei kembali mengomel.

Miharu semakin cemberut, “Kei marah terus dari tadi. Sudahlah, tinggalkan aku sendiri. Aku bisa ke jembatan sendiri.” Miharu langsung berbalik pergi dengan kesal.

Kei buru-buru menyusul Miharu dan menghadang jalan gadis itu.

“Biarkan aku lewat!” seru Miharu kesal.

Kei melembut sambil menyentuh kepala Miharu dan mengusapnya.

“Maafkan aku ya, aku benar-benar khawatir padamu. Jadi tanpa sadar jadi seperti itu. Maafkan aku ya,” Miharu diam saja sambil memandang kearah Kei.

Gadis itu kemudian mengangguk pelan meski masih berwajah kesal. Kei tersenyum lalu menggandeng Miharu.

“Baiklah, kalau begini aku tidak akan khawatir lagi. Ayo jalan!” ajaknya.

Miharu memandang kearah tangannya yang sedang digenggam. Rasa hangat menjalar dari sana. Perlahan gadis itu tersenyum.

Hingga akhirnya mereka tiba di dekat jembatan dimana Miharu mengunci gemboknya. Cukup lama gadis itu mencari gemboknya diantar ribuan  yang lain sebelum menemukannya.

Kei membiarkan Miharu sendiri menulis sebuah nama disana. Sejujurnya dia penasaran nama siapa yang ditulis istrinya disana. Tapi entah apa yang menahan kakinya untuk melihat.

Sejenak kemudian Miharu selesai dan kembali menghampiri Kei.

“Sudah?” tanya Kei. Miharu mengangguk.

“Ayo pergi!” Miharu kembali melingkarkan tangannya di lengan Kei. Seolah hal itu memang sudah wajar.

“Sekarang mau kemana?” tanya Kei lagi.

Miharu tampak berpikir sebelum menjawab, “Eifel!” katanya riang.

“Eifel?!” Mata Kei melotot, “Kau tidak boleh naik setinggi seperti waktu itu, sayang,” untuk kesekian kalinya Kei hampir serangan jantung mendengar permintaan istrinya.

“Aku tau, hanya dibawah saja. Sekitarnya kan banyak bangku yang bisa di duduki. Ya.. ya.. yah?” Entah sejak kapan Miharu menjadi manja seperti ini, dan Kei tidak mengeluh.

“Baiklah, istriku sayang. Aku menyerah!” kata Kei lagi. Senyum Miharu semakin lebar. Panggilan itu membuatnya senang, entah sejak kapan dia tidak lagi mengeluh.

“Oh ya, nama siapa yang kau tulis tadi?”

“Saa… dare ka na~”

“Ayolah beritahu. Apa nama Miki?”

“Entah,”

“Lalu…. apa Nino-san?”

“Ehm… gimana ya?”

“Uuhhh… aku kembali saja dan melihatnya langsung.”

Miharu menahan gandengannya, “Tidak! Tidak boleh!”

Kei menyerah. “Kalau begitu, nanti kau harus beritahu.”

“Hahahahaha~”

Perdebatan kecil itu terus berlanjut meninggalkan jembatan sungai Seine yang penuh dengan gembok-gembok pasangan. Terutama satu gembok berwarna biru yang bertuliskan satu nama dengan tinta yang sudah kering dan satu nama lagi dengan tinta yang masih baru.

“Miharu ♥ Kei”

***END***

-OMAKE-

Malam di Paris itu sangat menyenangkan, pemandangan cantik dengan lampu yang menghiasi kota itu.

Miharu dan Kei kembali keluar karena kebetulan Kei akan bertemu dengan arsitek profesional di sana, tepatnya di atas jembatan yang banyak gembok tersebut, Kei sengaja ke sana skalian ingin melihat nama pasangan yang Miharu tulis di gembok miliknya, sambil mengobrol sesekali Kei mencari gembok itu, dan dapat.

Mata Kei melirik Miharu yang sedang ngobrol dengan istri arsitek rekan Kei itu yang kebetulan bisa bahasa Jepang, dan beralih melihat gembok tersebut.

Miharu ❤ Kei

Refleks Kei tersenyum melihat itu, dadanya seketika merasa hangat.

“Mr. Inoo?” panggil rekan Kei, cepat-cepat ia kembali memperhatikan pria itu sepenuhnya.

Sedangkan di dalam hati Kei banyak mengucapkan syukur kepada Tuhan karena cinta nya kini terbalas.

Padahal, sebelum ia melihat namanya di gembok menjadi pasangan Miharu, Kei sudah berpikir tidak mungkin mendapatkan cinta Miharu.

“AAAAAHH PERUT KUUU” tiba-tiba Miharu berteriak “PERUT KUUU SAKIT AAHH UHH” Kei yang mendengar itu langsung menghampiri Miharu dan menggendongnya. Sudah waktunya kah?

“Kau mau melahirkan?” tanya Kei.

“TIDAK TAHU AAHH CEPATLAAHH” tangan Miharu menjambak rambut Kei. Rekan Kei dan istrinya langsung menelpon ambulance.

Sebentar lagi, Kei dan Miharu akan menjadi orang tua yang serasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s