[Multichapter] Little Things Called Love (#2)

Untitled-1

Little Things Called Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 2)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring : Kyomoto Taiga, Matsumura Hokuto, Tanaka Juri, Kouchi Yugo, Morimoto Shintaro, Jesse Lewis (SixTONES); Ichigo Yua, Kimura Aika, Kirie Hazuki, Mizutani Ruika, Takahara Airin, Matsumura Sonata (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. SixTONES members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my friends’ original character yang saya pinjam karakternya.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini hasil semedi mencari ide soal fanfic junior. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

“Kau tidak perlu melakukan ini, Taiga,” Hokuto melihat Taiga sudah berganti dengan baju kasualnya dan berbalik ketika Hokuto memanggilnya.

“Berhenti memintaku berhenti, ini kan sudah keputusanku,” Taiga melipat apronnya sebelum akhirnya mengambil tas gendong warna ungu miliknya, “aku berhutang nyawa padamu, aku tidak akan bisa membayarnya seumur hidupku, jadi setidaknya ini yang bisa kulakukan untukmu,”

Dua tahun lalu Taiga pernah berusaha bunuh diri. Hokuto lah yang menyelamatkan dirinya, menemaninya hingga Taiga tidak lagi berpikir hidupnya tak berarti lagi. Sejak saat itu, Taiga selalu menganggap Hokuto adalah penyelamatnya dan selalu membantu Hokuto kapanpun dibutuhkan.

“Hoku, sudahlah… bisa kita makan malam sekarang?” Taiga berjalan keluar dari pantry, menunggu sahabatnya itu berganti pakaian.

Ketika Taiga memutuskan keluar dari rumahnya dua tahun lalu, Hokuto lah yang berbaik hati menemaninya mencari apartemen dan menemani Taiga hampir setiap malam hingga Taiga selesai makan barulah Hokuto pamit pulang. Membantu Hokuto dalam urusan uang adalah satu-satunya yang Taiga bisa lakukan, namun karena Hokuto bersikeras menolak pertolongan Taiga berupa uang cash, Taiga memutuskan untuk bekerja di tempat Hokuto bekerja dengan seluruh hasil kerjanya masuk ke rekening Hokuto.

“Ayo,” Hokuto sudah berganti pakaian dan keduanya keluar dari pintu belakang.

Band baik-baik saja?” Hokuto membuka percakapan itu setelah mereka mengambil pesanan di sebuah restoran siap saji tak jauh dari apartemen milik Hokuto.

Taiga mengangguk, “Kita berpikir untuk mencari bassis baru, walaupun tentu saja kami masih berharap kau mau kembali main band,”

“Bass ku sudah berakhir di toko loak, Taiga,” salah satu alasan Hokuto mundur dan hanya Taiga yang tau.

“Dan kau tau kita punya bass di studio yang bisa kau pakai kapan saja,” bantah Taiga cepat.

Hokuto tersenyum, “Dengan jam kerjaku yang tidak bisa aku prediksi, kurasa aku tidak bisa membuat kalian menungguku latihan terus,” karena jam kerja Hokuto yang cukup banyak, Hokuto belakangan sering telat latihan dan hampir membuat mereka semua sering bertengkar.

“Baiklah… baiklah… sudah cukup merayumu kembali ke band,” Taiga menyelesaikan makannya dan meneguk minuman soda yang ada di atas meja, “malam ini aku nginep ya, aku belum pernah nginep di apartemen barumu loh,”

“Memangnya kau pacarku, mau investigasi tempat tinggalku?” Hokuto tergelak dan mengajak Taiga untuk berjalan kaki ke apartemennya. Memang hanya berjarak beberapa kilometer dan sebenarnya bisa ditempuh dengan bis, tapi malam hari dan musim panas, berjalan kaki tidak buruk sekalian menurunkan makanan mereka.

“Siapa tau kau menyembunyikan perempuan di apartemenmu,” seloroh Taiga sambil mensejajarkan langkahnya dengan Hokuto.

Tidak sampai tiga puluh menit mereka sudah sampai di apartemen milik Hokuto, sebuah bangunan yang cukup tua dengan penerangan yang tidak begitu baik. Keduanya naik ke lantai dua melalui tangga di samping bangunan itu.

“Mizutani-san,” Hokuto menangkap sosok Ruika yang sedang mengeluarkan sampahnya menggunakan celana piyama hitam dan kaos bergambar bunga-bunga berwarna biru, cute sekali, pikir Hokuto.

Konbanwa, Matsumura-san,” mata Ruika menangkap sosok Taiga yang berada di belakang Hokuto dan terperanjat menyadari siapa pria itu.

“Ruika,” suara Taiga terdengar lirih dan secara spontan Hokuto menatap Taiga dengan pandangan bertanya.

“Aku masuk dulu,” Ruika menunduk sekilas dan masuk ke dalam apartemen dengan terburu-buru.

***

Kenapa ada Kyomoto Taiga?!! Seakan ingin menjerit Ruika menghempaskan tubuhnya ke atas kasur, bertelungkup menyembunyikan wajahnya. Gelombang panik menderanya, Kyomoto Taiga sudah melihatnya di sini. SIAAALLL!!

SIAL. SIAL. SIAL.

Ruika berdiri dari kasurnya, berusaha melupakan kejadian memalukan yang ia lakukan di akhir tahun kelas dua-nya. Kyomoto Taiga seperti pria tampan lainnya adalah pria yang populer di sekolahnya. Wajahnya yang cantik dan tampan disukai oleh sebagian besar murid wanita di sana sampai Taiga harus pindah sekolah saat kelas dua. Ruika selalu menyukai sosok Taiga dan diam-diam memerhatikannya dari kejauhan, namun saat Taiga pindah sekolah yang menyebabkan patah hati massal di sekolahnya, Ruika masih sering menghubungi Taiga lewat aplikasi chat, dan malam itu, malam yang tidak pernah bisa Ruika lupakan, mereka berjanji akan bertemu sepulang sekolah. Sebenarnya sejak mereka satu kelas di kelas dua dan sebelum kepindahan Taiga, keduanya memang jarang mengobrol namun dengan segenap niat akhirnya Ruika mencoba mengirim chat yang tak disangka direspon dengan cepat oleh Taiga kala itu.

Sore itu keduanya berjalan di sepanjang Ginza, menikmati sore seperti layaknya sepasang kekasih. Taiga menceritakan banyak hal termasuk keadaannya yang sekarang harus pindah sekolah karena paksaan ibunya dan keadaan keluarganya yang sedang tidak kondusif, keinginannya untuk  keluar dari rumah. Ruika tau, ini benar-benar memanfaatkan kesedihan Taiga dan mungkin saat itu Taiga sedang butuh teman curhat, Ruika menghubunginya di saat yang tepat.

“Bagaimana kalau kita ke game centre?” tawar Ruika saat itu, ia ingin membantu Taiga merasa baikan dan terlihat sedikit ceria kembali.

Taiga menyetujuinya dan selama tiga jam ke depan keduanya sibuk bermain di game centre hingga waktu menujukkan pukul delapan malam. Taiga menawarkan diri untuk mengantar pulang Ruika, sepanjang jalan mereka masih saja mengobrol banyak hal dan ketika mereka sudah mendekati kediaman Mizutani, Taiga tiba-tiba saja memeluk tubuh Ruika.

“Uhm… Taiga-kun,” dada Ruika rasanya terbakar dan terkaget-kaget dengan apa yang dilakukan oleh Taiga.

Gomen, aku hanya ingin memelukmu saja,” sepersekian detik kemudian Taiga melepaskan pelukannya dan Ruika lebih kaget ketika bibir Taiga dengan semena-menanya menempel pada bibirnya, reaksi pertama Ruika adalah mendorong bahu Taiga sekuat tenaga membuat Taiga terlihat kaget.

Tanpa mengatakan apa-apa Ruika berlari ke dalam rumah sementara keesokan harinya Ruika menerima pesan permintaan maaf dari Taiga. “Maafkan aku, secara tiba-tiba karena terbawa suasana aku menciummu tanpa persetujuanmu. Gomennasai.” Se-simple itu dan kisah mereka berakhir begitu saja.

Sebuah ketukan membuyarkan lamunan Ruika. Duh, siapa lagi yang datang malam-malam begini? Ruika bergegas ke depan, membuka pintu dan mendapati seorang Kyomoto Taiga berdiri di depan pintu. Secara otomatis Ruika berusaha menutup pintu namun gerakan Taiga lebih cepat menahan pintu itu, “Apa kabar, Ruika?”

SIAL KUADRAT. Suara Taiga masih berimbas buruk pada kerja jantungnya yang tiba-tiba rasanya berdetak lebih kencang. Pria perebut ciuman pertamanya yang tidak jelas rimbanya setelah kejadian ciuman itu, yang tidak menjelaskan perasaannya pada Ruika, dan masih saja membuat Ruika salah tingkah? MIZUTANI RUIKA!! SADAAARR!! Serunya pada diri sendiri.

***

Ketika Yua sampai di apartemennya, betapa kagetnya melihat seorang Kouchi Yugo tidur di atas ranjangnya, terlelap sambil memeluk boneka milik Yua. Malam ini memang karena ada beberapa pengumuman Yua pulang lebih malam dari biasanya. Kouchi memang memegang kunci duplikat apartemen Yua, begitu juga sebaliknya. Maka Yua berinisiatif untuk berjalan ke sebelah, mengetahui penyebab sahabatnya sampai tidur di ranjangnya.

Pemandangan pertama yang menyambut Yua adalah ruangan yang penuh dengan pakaian kotor dan beberapa sampah berserakan, sambil mendumel dalam hati Yua mengangkat pakaian kotor milik Kouchi dan memasukan sampah-sampah itu ke dalam sebuah plastik besar.

Selalu begini. Setiap kali Kouchi kedapatan bermalam di apartemennya berarti tempatnya sendiri dalam keadaan tidak manusiawi, anehnya juga Yua selalu merasa bertanggung jawab untuk membereskan apartemen sahabatnya itu. Tidak sampai tiga puluh menit ruangan milik pemuda itu terlihat sedikit lebih baik, Yua menyimpan baju kotor Kouchi di dekat mesin cuci sebelum kembali ke kamarnya, berniat untuk membangunkan Kouchi.

Okaeri,” Kouchi ternyata sudah bangun dan sudah duduk di depan televisi, pemuda itu menepuk tempat kosong di sebelahnya, sudah tersedia secangkir teh hangat di meja, “Sini… sini,” ucapnya sumringah.

“Harusnya kau membereskan apart…” kalimat itu tidak bisa diselesaikan oleh Yua karena mulutnya sudah tersumpal oleh sepotong croissant rasa coklat.

Kouchi mengangguk-angguk, “Dan Ichigo Yua, sahabatku tersayang ini paling tau kalau aku paling malas beres-beres,” Kouchi memberikan senyum terbaiknya pada Yua, yang sama sekali tidak mempan merayu sahabatnya itu.

“Kou!!” mata Yua terbelalak menatap Kouchi dengan marah.

“Yuaa!!” balas Kouchi dengan mata sama-sama terbelalak menatap Yua.

Yua mendesah, tidak ada gunanya bertengkar dengan kepala batu macam Kouchi, ia pun memilih menikmati croissantnya sambil sesekali menyesap teh hangat yang disiapkan Kouchi.

“Ngomong-ngomong, tadi siang itu kau bicara soal apa sih?”

“Tadi siang?” seketika Yua ingat soal Aika dan bandnya, “Oh! Kau diajak main band.”

“Kau tau aku sudah lama tidak main band,”

“Percayalah Kou-chan, kau merindukan panggungmu,” mulut Kouchi sudah terbuka namun Yua buru-buru menambahkan, “jangan coba-coba membantah!”

Kouchi menghembuskan napas berat, “Baiklah, asal kau menemaniku besok,”

Yua mengacungkan jempolnya, “Traktir croissant lagi ya…”

Jawaban dari Kouchi adalah cubitan keras di pipi Yua lalu si pemuda beranjak meninggalkan apartemen Yua sebelum gadis itu bisa mengejarnya.

“Kou-chaaaannn!!”

***

Jalanan Tokyo tidak pernah sepi, bahkan ketika malam sudah tidak lagi muda dan hari hampir berganti. Mobil sport merah itu sepertinya masih betah membelah jalanan Tokyo dengan kecepatan tinggi.

“Lebih baik kita pulang, Aika,” Jesse, pria dibalik kemudi itu menatap Aika yang lagi-lagi menggelengkan kepalanya, “Sudah malam, dan aku harus mengantarmu pulang,” ucap Jesse lagi.

Aika kembali menggeleng, “Aku tidak mau pulang,” karena walaupun pulang hanya mansion kosong yang menyambutnya, pulang sekarang atau besok tidak ada bedanya, “aku mau ke rumah Jesse-kun saja,”

Karena kaget Jesse menginjak pedal rem sekuat tenaga, beruntung jalanan cukup kosong sehingga tidak ada mobil dibelakang mereka, “Aika-chan, kau jangan bercanda,”

“Aku tidak bercanda. Aku malas pulang ke rumahku,” Aika menatap Jesse tanpa berkedip, meyakinkan si pemuda bahwa ucapannya tidak main-main.

Jesse menimbang-nimbang dan akhirnya mengikuti permintaan Aika. Belum sampai mansion milik Jesse, Aika ternyata malah terlelap di kursi penumpang, memaksa Jesse memapah gadis itu naik ke lantai dua puluh lima, tempat mansionnya berada.

Pintu lift terbuka, Jesse membawa tubuh Aika ke dalam kamarnya, merebahkan tubuh gadis itu di atas kasurnya. Jesse menggeleng tak percaya, sebagai gadis keturunan bangsawan bukankah harusnya Aika lebih menjaga dirinya sendiri? Dengan leluasa tertidur dan bermalam di apartemen laki-laki, bagaimana jika Jesse melakukan hal jahat padanya? Sebelum keluar kamar Jesse menutupi tubuh Aika dengan selimut. Malam ini terpaksa ia tidur di kamar tamu.

***

“Mizutani-san itu teman di sekolahmu dulu?” Hokuto menyerahkan satu kaleng bir lagi pada Taiga yang langsung diteguk oleh pemuda itu.

“Uhm, begitulah, sudah lama sekali aku tidak bertemu dengannya,” ucap Taiga, matanya menerawang menatap langit-langit apartemen tua itu, “Kenapa kau tidak pindah ke apartemenku saja, sih?”

Hokuto menjawabnya dengan senyuman, “Tidak terima kasih, itu berarti kau mau membayari sewa dan membayari makanku, tidak Taiga,”

Jam dinding berwarna putih di ruangan itu sudah menunjukkan pukul satu pagi, tapi kedua pemuda itu masih saja betah mengobrol kesana kemari, padahal subuh itu Hokuto harus berangkat mengantar susu. Taiga merasakan getaran di sakunya, ponselnya menunjukkan sebuah telepon, “Ya?”

“Buka pintu dong, aku di depan,” suara itu terdengar dekat.

Taiga beranjak, membuka pintu apartemen, “Ojamashimaaassuuu,” gadis itu melewati Taiga dan menghampiri Hokuto yang tengah duduk menatap televisi, “Hoku-taaannn,” gadis itu tanpa basa-basi memeluk Hokuto, “Kudengar dari Juri kalian di sini, jadi aku ke sini,”

Alih-alih senang Taiga menjawil pipi si gadis, “Hazuki, kau tau ini jam berapa?!”

Hazuki dengan polosnya melihat jam tangan hitam di pergelangan tangan kirinya, “Uhm.. jam satu,”

“Kau ini seorang perempuan! Harusnya kau bilang mau kesini jadi bisa kujemput!” Hazuki menempatkan telunjuknya di bibir Taiga.

“Ssshht! Cerewet banget sih yang penting aku sudah di sini dan aku bawa makanaaannn!!” Hazuki mengangkat dua kresek putih berisi makanan cina yang ia beli sebelum datang ke tempat Hokuto.

“Wow! Arigatou, Hazuki!” Hokuto ber-high five dengan Hazuki sementara Taiga masih sewot dengan kecerobohan Hazuki.

Huh! Taiga gak asik,” ucap Hazuki tak peduli dan membuka bungkusan makanan itu yang ia berikan pada Hokuto dan membuka satu bungkusan lain untuk dirinya sendiri.

Karena kedatangan Hazuki yang tiba-tiba, rencana Hokuto untuk tidur pun terlupakan, mereka terus mengobrol hingga makanan habis dan Hazuki benar-benar terlelap di sofa coklat milik Hokuto. Taiga pun sebenarnya merasa ngantuk, namun mengingat Hokuto harus berangkat sebelum jam lima pagi, Taiga berinisiatif untuk menemani Hokuto hingga pagi.

“Sejak kapan seorang Taiga takut menyatakan cintanya?” Keduanya sedang duduk di balkon, membiarkan Hazuki tertidur dan takut membuat keributan jika mereka mengobrol di dalam.

Taiga terkekeh pelan, “Sialan!” Taiga meninju pelan bahu Hokuto, “Hazuki itu terlalu rumit, aku tidak bisa membaca pikirannya, dia tidak seperti gadis lain.”

“Jadi Kyomoto Taiga sudah menentukan pilihannya, mengejar satu wanita?” Hokuto hapal betul Taiga yang bisa berganti pacar setahun lima sampai tujuh kali, tapi rasanya Taiga belum berpacaran lagi sejak tahun lalu.

Taiga menatap Hazuki yang terlelap di dalam, “Entahlah, aku juga tidak bisa membaca hatiku sendiri sekarang,”

***

“Uhm… wangi sekali,” Aika menajamkan penciumannya dan campuran keju dengan roti menyambut indera penciumannya. Matanya menangkap pemandangan yang tidak biasa, “Eh? Aku dimana?” gumamnya, ruangan ini maskulin sekali membuat Aika sedikit merasa terintimidasi dengan dominasi warna abu-abu dan merah, desain kamar ini pun sangat minimalis masa kini.

Pintu terbuka dan sosok Jesse Lewis muncul hampir membuat jantung Aika copot, “Eh, Jesse-kun!” Oh NOOO!! Aika bergerak pelan membuka selimutnya dan merasa lega ketika bajunya masih utuh sejak semalam.

“Aku tidak akan melakukannya dengan paksaan,” ucap Jesse dengan nada santai, tidak mengindahkan efeknya pada jantung Aika saat ini, “Ayo sarapan,” Jesse menghampiri Aika dan wangi parfume si pemuda menusuk langsung ke hidungnya, memberikan sensasi tersendiri bagi Aika, membuatnya ingin memeluk kekasihnya itu.

Aika menyambut genggaman tangan Jesse yang membawanya ke dapur yang bersatu langsung dengan ruang tengah, semua desain rumah ini sudah jelas minimalis modern. Di meja makan sudah tersedia sandwich dan susu coklat.

“Kenapa seorang Kimura Aika tidak mau pulang ke rumahnya sendiri?” tanya Jesse ketika Aika sudah memulai sarapannya dan pemuda itu duduk tepat di hadapannya.

Rasanya mustahil memandang langsung ke mata Jesse saat pemuda itu memerhatikannya dengan seksama, sorot mata Jesse yang tajam membuatnya salah tingkah, “Uhm… hanya malas saja,” Aika meneguk susu coklatnya seraya memandang Jesse yang sedang menikmati kopinya, “Kalau nanti aku mau kesini lagi, boleh kan?”

Jesse tersenyum dan tangannya terulur ke arah wajah Aika, mengusap pelan ujung bibir Aika, “Tentu saja, kau kan pacarku,”

Pasti Aika akan tersedak kalau sekarang ia sedang minum, Jesse masih memerhatikannya dengan menopang dagunya, “Kalau ngunyah yang benar, aku antar ke mansion mu ya,”

“Ke studio saja deh, aku ada sedikit urusan di sana,”

Jesse beranjak ke kamarnya sementara Aika ke kamar mandi untuk mencuci mukanya dan menggosok gigi.

“Duh, aku kan tidak bawa sikat gigi,” keluh Aika namun melihat dua sikat gigi yang sama persis dan hanya berbeda warna di wastafel kamar mandi.

“Sikat gigimu sudah aku siapkan ya, Aika,” seruan itu terdengar dari luar pintu kamar mandi, “Punyamu yang warna hijau,”

“Oh, iya Jesse-kun, arigatou,”

Ya ampun. Dia punya sikat gigi sendiri di tempat Jesse, hatinya melonjak-lonjak bahagia, rasanya senyum ini tidak akan hilang untuk sisa hari ini. Senyumnya terus mengembang hingga Aika diantar Jesse ke studio.

***

Ketika hendak membuka kunci studio Aika sedikit aneh karena pintu tidak terkunci. Secara perlahan Aika membuka pintu studio dan mendapati Juri terlelap di sofa merah yang sengaja disimpan di sana untuk bersantai ketika mereka tidak latihan. Studio ini memang milik Aika namun semua personil memegang kunci duplikatnya.

Aika tidak tega membangunkan Juri, apalagi pemuda itu terlihat sangat kelelahan, Ia memerhatikan wajah Juri yang terlelap dan niat isengnya pun muncul. Perlahan Aika mendekai Juri, tangannya mengambil lipstik di dalam tas, dengan gerakan sangat lambat Aika berusaha untuk membubuhkan lipstik berwarna pink itu di bibir Juri. Ia hampir terkikik ketika bibir Juri bergerak-gerak terganggu dengan apa yang dilakukan Aika.

Wajah Juri bergerak-gerak, dahinya berkerut terganggu, detik berikutnya Juri berguling dan tepat saat itu Aika kaget, melemparkan lipstik yang ia pegang. Tangannya otomatis menarik kaos yang dipakai Juri sehingga si pemuda terjun bebas dari sofa, tepat di atas tubuh Aika.

BRUKK!

“Awww!!” Juri terbangun dan kaget ketika melihat Aika yang ada di bawahnya, “Aduh Jurrriiii!! Bangun dong kamu beraaattt!!” protes Aika.

Juri masih terpaku menatap Aika dan detik berikutnya seakan tersadar Juri segera melepaskan dirinya dari Aika, tak lupa membantu Aika bangun, “Lagian kamu ngapain, sih?!” walaupun terdengar galak hati Juri sebenarnya kembang kempis, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Aika manyun menahan kesalnya, “Tidak apa-apa,” jawabnya asal.

Saat Juri menoleh dan bayangannya terlihat di kaca sebelah, ia melihat bagian bibir atasnya ada warna lipstik pink, ini pasti kerjaan Aika.

“Aikaaaa!!”

Aika terbahak-bahak dan menghindari amukan Juri dengan mengunci dirinya di dalam tempat latihan, “Ahahaha, habis Juri-kun kayaknya cantik kalau didandani!”

Juri mengambil tissue dan mencoba membersihkan lipstik itu, “Errgghh… kau ini ada-ada saja!”

“Lagian, Juri-kun ngapain tidur di sini?” Aika melihat Juri sudah tidak ingin mengejarnya lagi, sehingga ia kembali keluar dari tempat latihan menuju sofa merah tempat dimana Juri sedang menggosok-gosokkan tissue ke bibirnya.

“Pulang kemalaman, aku ketinggalan kereta terakhir jadi kuputuskan tidur di sini saja,”

Aika mengangguk-angguk mengerti, “Kenapa kau pakai baju yang kemarin?” tanya Juri dengan pandangan curiga, “Kau bermalam dimana?”

“Di rumah Jesse-kun dong,”

Seakan terkena bogem mentah Juri hanya bisa megap-megap ingin memarahi Aika, namun tak punya kuasa karena sejatinya dirinya hanyalah teman Aika, tidak lebih. Akhirnya Juri hanya bisa menatap Aika yang kini sibuk dengan keyboardnya.

Apakah selama ini Aika memang tidak menyadarinya? Atau Juri yang kurang menunjukkannya? Juri beranjak menghampiri Aika, mengambil gitarnya dan duduk menghadap langsung ke arah Aika, menatapnya dengan seksama, ‘Apakah masih ada harapan? Atau sudah saatnya ia mundur, sadar diri, melupakan Aika?’

***

“Benar ini alamatnya?” Kouchi mengedarkan pandangannya, dan tak satupun bangunan dengan nama studio.

Yua melihat kartu nama itu berkali-kali dan rasanya ia tak mungkin salah, “Benar ko, harusnya sih di sini, ya?” sebuah bangunan yang juga semacam toko souvenir itu pun tidak sepi, ada beberapa pengunjung di dalamnya.

“Mencari apa?” seorang pegawai berseragam merah muda menghampirinya, hampir saja membuat Yua terlonjak.

“Ini… saya mencari studio,” Yua menyerahkan kartu nama itu pada si pegawai.

“Oh, naik saja, ada di lantai tiga,”

Kouchi dan Yua akhirnya naik setelah berterima kasih pada si pegawai, samar-samar terdengar dentuman suara dari dalam, namun tidak begitu kentara, pasti soundproofing di dalam cukup bagus meredam suara sekencang itu.

Yua mencoba menghubungi Aika dan di respon dengan cepat oleh gadis itu. Pintu terbuka, sosok Aika muncul di hadapannya, “Hey! Ayo masuk!”

Ojamashimasu,” ucap Kouchi dan Yua ketika keduanya masuk.

“Sebelumnya, mari aku perkenalkan terlebih dahulu, ini Tanaka Juri gitaris kami,” pemuda yang disebut Juri itu mengangkat tangannya sekilas untuk menyapa, “Lalu ini Kirie Hazuki, drummer kami,”

Yoroshiku!” Hazuki berdadah-dadah dengan bersemangat.

“Aku sendiri Kimura Aika, keyboardis, dan…” Aika menoleh, “Mana Taiga?” tanyanya pada Juri.

“Kurasa ke toilet,”

Taiga keluar dari toilet, alangkah kagetnya Yua, OMG OMG OMG!! Itu pria cantik, eh pria tampan di kantin kemarin kaaann?!! Seru Yua dalam hati.

“Kyomoto Taiga, vokalis kami,”

Taiga menunduk, “Eh! Ice capucinno-san!” ucapnya sambil menunjuk Yua.

“Eh?” DIA INGAT AKUUUU??!!

Ice capucinno-san?” tanya Aika pada Taiga.

Taiga menggeleng, “Tidak ada apa-apa, hey!” mata Taiga beralih pada Kouchi yang berdiri di sebelah Yua.

“Hey, namaku Kouchi Yugo, yoroshiku,”

“Baiklah kita mulai saja, bagaimana? Kau bisa mengikuti kami, kan?” Taiga menyerahkan partitur yang ada di hadapan Juri, “Kalau klop, kau bisa langsung gabung dengan kami,”

Kouchi mengangguk sementara Yua mundur, duduk di sofa memerhatikan Taiga. Saat mulai bernyanyi Yua tidak bisa tidak terpesona, suaranya bagus sekali, sudah diputuskan Yua akan menjadi fans Kyomoto Taiga, itu pasti.

***

Sudah berkali-kali Airin mencoba menghubungi Sonata dan hasilnya tetap nihil. Sahabatnya itu tetap menolak mengangkat teleponnya tanpa alasan yang jelas. Bukankah Sonata tidak menyukai Shintaro? Lalu kenapa sepanjang festival Sonata menghilang dan menghubungi Airin lewat teks kalau dia tiba-tiba sakit perut. Hingga akhir pekan, Sonata belum juga membalasnya.

Tebakan Airin benar, sebenarnya Sonata menyukai Shintaro tapi terlalu gengsi untuk mengakuinya.

“Sona belum mengatakan apapun padamu?” tanya Airin pada Shintaro yang kini duduk di sebelahnya, kekasihnya itu menggeleng.

“Tapi rasanya dia normal-normal saja selama di kelas,” Shintaro menggaruk kepalanya, menatap Airin, “Lagian kenapa dia ngambek sih? Kita kan tetap sahabatan, walaupun aku dan kamu pacaran,” ungkap Shintaro lalu mengambil ponselnya.

“Aku pernah bilang ini bisa jadi masalah, kan?”

Sebelum memutuskan menerima Shintaro, Airin sudah mengatakan resiko terhadap persahabatan mereka dengan Sonata, namun Shintaro meyakinkan Airin bahwa hal itu tidak akan terjadi.

“Sepi ya, kalau ada Sona dia kan cerewet sekali,” Shintaro merebahkan kepalanya di bahu Airin, “Dia juga jadi pendiam di kelas,”

“Apa Shin-kun menyukai Sona-chan?” pertanyaan spontan itu membuat Shintaro otomatis duduk tegak dan menatap Airin tak percaya.

Shintaro menggeleng cepat, “Yang aku suka hanya Ai-chan!!”

Atau kau memang belum menyadarinya, bisik Airin dalam hati. Shintaro menyatakan cintanya dan Airin menerimanya karena Airin membutuhkan Shintaro. Airin membutuhkan pemuda itu untuk mengobati rasa patah hatinya, selama ini Shintaro memberikan perhatian lebih padanya yang membuatnya merasa nyaman dan Airin pun memutuskan untuk menjadi egois, walaupun Airin tau, Sonata menyukai Shintaro. Tidak sulit melihat gelagat Sonata selama ini, dan Airin menutup mata, membiarkan dirinya menyambut cinta Shintaro walaupun harus membuat Sonata sakit hati.

“Ya sudah, mungkin Sona sedang mendinginkan kepalanya, kita pergi ke bioskop saja, yuk!” seperti biasa pemuda ini kadang random sekali, Airin tersenyum menyambut uluran tangan Shintaro yang kemudian menggenggam tangannya.

“Memangnya kita mau nonton apa?” Airin menatap jajaran jadwal film yang ada di depannya, tidak ada yang menarik buatnya.

“Itu saja yuk!” Shintaro menunjuk sebuah film film horror yang sedang terkenal dimana-mana, sejujurnya saja Airin tidak begitu menyukai film horror namun untuk kali ini dia mengalah dan mengiyakan permintaan Shintaro dan menunggu Shintaro membeli tiket mereka.

Airin memilih duduk di sebuah kursi sambil menunggu Shintaro membeli tiket, sekali lagia ia mencoba menghubungi Sonata yang hanya berakhir dengan panggilan tak terjawab. Airin pun mencoba mengirimkan pesan, berharap sahabatnya itu mau membalasnya.

Shintaro mengajak Airin masuk beberapa menit sebelum film dimulai, suasana bioskop tidak begitu penuh, mungkin karena film ini sudah cukup lama berada di bioskop sehingga penontonnya pun tidak begitu banyak. Sepanjang film berdurasi kurang lebih seratus menit itu Shintaro tidak melepaskan genggaman tangannya dengan Airin, bahkan Airin bisa merasakan Shintaro sedikit gugup dan berkali-kali menoleh untuk menatapnya.

Cerita di layar sedang tidak begitu menarik, Airin mendapati Shintaro menoleh dan wajahnya mendekat sedikit demi sedikit. Uh oh! Airin mengerjapkan matanya, ini sudah radius cium dan Airin hampir tersedak ketika tiba-tiba penonton lain berteriak dan membuat Shintaro kaget, ternyata gambar di layar menampilkan sosok hantu dalam film.

“Pffttt,” Airin menutup mulutnya, kejadian ini malah lucu sekali untuknya padahal mereka sedang menonton film horror.

Shintaro ikut menahan tawanya dan terlihat sedikit malu, “Ssshht, jangan ketawa dong,” bisiknya dan Airin hanya bisa menutup mulutnya, sejak bersama Shintaro ada-ada saja kelakuan pemuda itu yang membuatnya terhibur. Airin ingin melupakan laik-laki yang sudah membuatnya patah hati, mungkin Shintaro adalah jawabannya, walaupun harus mengorbankan persahabatannya.

***

“Sebaiknya okaa-san tidak usah kerja dulu,” Sonata menatap ibunya yang sejak tadi terus terbatuk-batuk tanpa henti dan masih berkeras untuk berangkat kerja.

“Sudahlah aku tidak apa-apa,” untuk mengatakan satu kalimat utuh saja ibunya harus terbatuk beberapa kali, membuatnya khawatir saja, apalagi jarak tempat kerja ibunya dengan rumah cukup jauh dan perlu naik bis dua kali untuk sampai kesana.

“Bu, aku saja yang pergi menggantikan ibu, bagaimana?”

“Sona, kau lebih baik belajar saja, sebentar lagi ujian masuk universitas,” saat mengatakannya ibunya tiba-tiba saja runtuh dan terduduk sambil memegangi dada kirinya.

“Kaa-san!! Ya ampun!!” Sonata mendekati ibunya, memapahnya ke kamar dan dengan sigap membawakan segelas air hangat untuk ibunya, “Kumohon bu, kita ke rumah sakit saja, ya?” Sonata hampir menangis dan ibunya tetap menggeleng.

Tadaima,” sebuah suara di pintu membuat Sonata melompat dan berlari ke arah pintu.

“Hoku-nii!!” tangis Sonata pun tumpah ruah saat menghambur ke pelukan Hokuto yang baru saja sampai di depan rumah. Gelombang panik mendera Sonata dan rasanya lega sekali melihat sosok kakak semata wayangnya ada di rumah.

“Ada apa Sona?”

Tanpa menjawab Sonata menarik kakaknya ke kamar ibunya, “Ini.. nii-chan,” isakan tangis Sonata semakin keras.

Okaa-san, kita ke Rumah Sakit saja ya,” Hokuto memapah ibunya dan menginstrusikan Sonata untuk menelepon taksi, “Sudah jangan menangis terus, Sona, bantu nii-chan mengambil tas ibu,”

Sonata bergegas mengambil tas ibu dan mengikuti langkah Hokuto keluar dari rumah.

***

Lewis Bakery miliknya. Miliknya pribadi walaupun dengan uang bantuan dari Ayah ia cukup bangga bisa mengelolanya hingga sekarang. Keluarganya sendiri bergerak di bisnis makanan sejak zaman kakeknya di Amerika, Ayahnya yang kebetulan menikah dengan pribumi di Jepang membawa bisnis ini ke Jepang dan hingga sekarang mereka masih bergerak di bidang yang sama. Jesse sendiri memilih roti sebagai usaha pertamanya.

Sudah sebulan lebih ia tak mendatangi tokonya, ada beberapa urusan yang harus Jesse lakukan. Dia menyebutnya ‘Operasi menaklukan hati Aika’ siapa Aika? Kebetulan gadis yang ternyata satu kelas dengannya di kelas bahasa inggris dasar adalah anak dari Kimura Kazuya, seorang chef ternama yang punya restoran Prancis di tengah kota Tokyo yang sudah sangat terkenal. Bisa dibayangkan jika Jesse bisa bersanding dengan Aika? Toko bakery miliknya akan ikut terkenal, dan mungkin Ayah akhirnya akan bisa meliriknya sebagai penerus tunggal bisnis Ayahnya. Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada dipandang sebelah mata oleh Ayahnya sendiri, dianggap tidak pantas menjadi penerus bisnis keluarga.

Jesse melangkah masuk ke dalam toko bernuansa eropa itu, tidak ada yang berubah, malah rasanya semakin ramai saja. Ia tersenyum ke beberapa pengunjung dan bergerak langsung ke depan etalase yang memajang roti-roti siap makan yang pastinya terlihat menggiurkan.

Ohayou,” sapa Jesse kepada seorang pegawainya yang sedang menunduk menyimpan roti yang baru matang.

“Jesse-kun, uhm… Lewis-san,” ucapnya belepotan.

Jesse tersenyum, “Sudah kubilang panggil Jesse saja, Rui, bisa tolong bukakan pintu samping? Kunciku ketinggalan,” ucapnya pada Ruika yang disambut anggukan cepat dari gadis itu.

Pintu samping terbuka dan Jesse menatap Ruika yang berdiri di hadapannya dengan mata terpaku pada sosok Jesse, “Kenapa?”

Ruika menggeleng, “Tidak apa-apa, sudah lama tidak bertemu,” bisik Ruika pelan.

Ruika sedikit kaget ketika merasakan tangan Jesse mempir di atas kepalanya, menepuknya pelan, “Gomen, membuatmu khawatir,” detik berikutnya Ruika merasakan Jesse mendekapnya sekejap lalu melepaskannya, “Aku ke dapur dulu,” dan Ruika hanya bisa mengangguk.

Ada satu rahasia yang hanya Ruika dan Jesse yang tau. Sejak malam itu, hati Ruika milik Jesse, sejak malam itu di onsen saat seluruh pegawai diajak Jesse berlibur akhir tahun. Hanya saja sebagai syarat dari Jesse, hubungan mereka adalah rahasia.

***

Airin dan Shintaro berlari-lari di sepanjang lorong Rumah Sakit, mereka melihat Sonata yang duduk bersama Hokuto. Langkah mereka menjadi sedikit lebih tenang dan segera menghampiri keduanya.

Aniki,” sapa Shintaro pada Hokuto yang dijawab anggukan pelan.

“Ibumu tidak apa-apa?” tanya Airin yang langsung duduk disamping Sonata yang matanya terlihat sembab karena terlalu banyak menangis.

Sonata mengangguk, “Sudah tidak apa-apa kok, sekarang sedang istirahat,”

Airin memeluk Sonata, kaget sekali ketika Sonata meneleponnya tadi sambil terisak-isak, untung saja Hokuto pulang pada saat yang tepat, “Lebih baik kau juga istirahat,” kata Airin pelan.

Sonata mengangguk-angguk, “Nanti saja,”

“Kau pulang saja, Sona, biar aku yang menunggui ibu,” ucap Hokuto, “Kau tidur dulu dan bawa pakaian ibu, ya?”

Shintaro berdiri, “Kalau begitu biar aku yang mengantar Sona-chan, nanti aku yang bawakan pakaian bibi kesini,” tawarnya.

“Ide bagus, terima kasih, Shintaro,” kata Hokuto.

Sonata berdiri dengan gontai, Airin sempat berpesan untuk menjaga Sonata sampai rumah. Shintaro bilang ia akan mengantar Airin pulang setelah kambali dari rumah Sonata yang dijawab anggukan oleh Airin.

“Ini,” Airin berdiri di hadapan Hokuto, mengulurkan sekaleng kopi dingin di hadapan pria itu, “Kesukaanmu, kan?”

Hokuto menerimanya, mengangguk dan tersenyum, “Arigatou, Ai-chan,”

Duduk di sebelah Hokuto selalu membuatnya gugup. Selalu. Matsumura Hokuto, cinta pertamanya, sekaligus orang yang menolaknya mentah-mentah. Airin tidak pernah berencana menyatakan cintanya, namun setelah lama memendam perasaan pada Hokuto, Airin akhirnya memberanikan diri menyatakan cintanya namun Hokuto langsung menjawabnya dengan ucapan “Terima kasih Ai-chan, tapi untuk sekarang aku tidak bisa bersamamu dan lagipula, kau sudah seperti adikku sendiri,”

Cinta pertamanya pun harusnya berakhir saat itu, tapi Airin mendapati dirinya tetap tidak bisa melupakan Hokuto. Sedikit lega ketika Hokuto pindah ke apartemen dan dirinya tak perlu bertemu dengan Hokuto setiap ke rumah keluarga Matsumura, nyatanya sebenarnya Airin masih selalu merindukan Hokuto dan itu membunuhnya. Itulah alasan Airin menerima cinta Shintaro, ia butuh seseorang untuk melupakan Hokuto. Sonata memang tidak pernah tau bahwa sebenarnya Airin menyukai Hokuto.

***

To Be Continue~

Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] Little Things Called Love (#2)

  1. magentaclover

    Magentaclover di sini ♡
    Aku suka banget sama hubungan yua x yugo!!! Aku menantikan kisah mereka hahahaha
    Terus aikanya sedih banget digituin sama jes tapi aku suka xD dan karakter aika waktu sama juri beda banget kalo dibandingin pas dia sama jesse.

    Suka pas juri x aika! Coret-coret muka juri pake lipstick pink fav aku xD

    Reply
  2. elsaindahmustika

    lanjut kakk!!!>< ceritanya karena banyak oc gitu kadang suka bingung, yang afal oc aku doang *plak:'v tapi yang paling nyesek wkwk. kehibur bagian yua kouchi, mereka lucu haha. ceritanya gak berat, gampang dimengerti(?) pokoknya suka lah! ganbare for next chapter!!^^

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s