[multichapter] Chapter 2 – histoire du passe

Judul : chapter 2 – histoire du passe
Pairing : Nagano Hiroshi x Sakamoto Masayuki (V6)
Genre : Romance
Rating : PG
Note : Terinspirasi dari AADC 2. (Sekarang dan nanti) untuk Ayu ❤

Sepanjang perjalanan dari pameran ke hotel tempat mereka bertiga menginap Miyake dan Morita diam seribu bahasa. Berbeda dari saat mereka meninggalkan Tokyo sampai tadi sore. Nagano berasumsi temannya mungkin lapar (lagi) atau mengantuk atau mungkin keduanya, karena itu ia berinisiatif mengajak Morita dan Miyake mampir ke restoran steak yang sudah direkomendasikan oleh 2 majalah dan belasan website kuliner. Alas, kedua temannya tetap terdiam.

“Hei… Kalian kenapa? Kuperhatiin dari pulang pameran kalian diam terus.”
Morita dan Miyake berpandangan. Mereka belum siap menyampaikan hasil perbincangan mereka dengan Sakamoto sore tadi.
“Nggak ada apa-apa.” Morita menggeleng pelan.
“Ayolah. Emangnya aku jadi teman kalian udah berapa lama? Cuma tiga hal yang bisa bikin kalian diam begini. Antara kalian lapar, ngantuk atau lagi kesel. Apa kalian berantem?”
“Nggak Hiro-kun… Kita baik-baik aja” Kata Miyake sambil menyesap mojitonya.
“Lalu?” Mata Nagano tidak berhenti menyelidik menatap kedua teman baiknya yang duduk berhadapan dengannya.

Morita menatap Miyake. Seolah bisa membaca pikiran Morita, Miyake berdeham sebelum mempersiapkan dirinya “menjatuhkan bom” disesi makan malam mereka yang nyaris tenang. “Ano…. Hiro-kun, tadi kita ketemu sama Sakamoto Masayuki.”

Nagano terdiam. Hatinya langsung dingin beku saat mendengar nama itu disebutkan. Nagano berusaha menahan badai di hatinya yang siap meletus kapan saja. Namun tidak ke kedua teman baiknya ini, hanya kebetulan saja mereka berdua bertemu dengan masa lalunya yang ingin sekali ia buang tapi melekat seperti permen karet kering di baju.

“Lalu?”
Melihat ada sinyal lampu kuning dari temannya, Miyake menambahkan. Ia menceritakan pertemuannya dengan Sakamoto. Miyake dan Morita sudah sepakat untuk menceritakan apa adanya ke Nagano karena biar bagaimanapun, Nagano berhak tau. Mau jadi seperti apa nantinya itu tergantung keputusan Nagano.

“Dan Hiro-kun, Sakamoto bilang dia ingin ketemu.”
“Mau ngapain?”
“Dia mau jelasin kenapa dia harus minta putus ke kamu.”
“Jelasin apa lagi? Udah bertahun-tahun ilang kenapa baru sekarang dijelasin? Udah basi banget. Aku juga udah lupa dia kayak gimana orangnya, mukanya.”
“Kita pikir juga begitu, tapi sepertinya ada hal penting yang ingin dia ceritain ke kamu, Hiro-kun.”
“Kamu jadi belain dia sekarang?” Nagano mendengus kesal menghabiskan minumannya dalam sekali teguk.
“Kita nggak belain dia, Hiroshi. Hanya aja kita nggak mau kamu kecewa, mungkin ada penjelasan dari dia yang layak kamu dengar. Lebih baik kamu dengar daripada kamu mengambil kesimpulan sendiri dan berakhir dengan penyesalan.”
Nagano tahu perkataan Morita serius dari cara Morita memanggil dirinya. Hanya saat seperti ini Morita memanggil dia lengkap nama kecilnya, biasanya sahabatnya itu memanggil dengan lebih kasual seperti Hiro-kun atau Hiro-chan atau ‘mama Nagano’ karena sifat Nagano yang sering keibuan.

“Tapi kita hargai keputusanmu. Jika memang kamu tidak mau ketemu sama Sakamoto, baiklah. So be it.” Morita mengangguk ke arah Nagano yang semakin galau.
“Nggak. Aku nggak mau ketemu sama dia. Lagipula aku sudah tunangan, mau dengerin apa lagi ujungnya akan sama. Aku akan lupain dia. Dia akan lupain aku, kita sama-sama lanjutin hidup kita masing-masing kayak sekarang seperti kita nggak pernah kenal satu sama lain.” Nagano memesan lagi minuman yang sudah habis, begitu 15 menit ini menguras emosi dan tenaganya.

Setelah habis 2 gelas minuman, barulah Nagano terlihat agak tenang. “Besok kita ke kuil, kita jalan-jalan sesuai rencana. Oke?”

****

Kuil tidak terlalu ramai hari ini, setelah mereka bertiga berdoa didepan kuil, mereka memutuskan melihat-lihat ke sekeliling kuil yang cukup besar. Nagano melangkah menapaki daun daun musim gugur yang menguning. Meninggalkan Miyake yang sibuk selfie dengan handphonenya. “Ken-chan aku ke belakang kuil ya, mau duduk sebentar.”
Miyake memberikan jempol sebagai jawaban kepada temannya.

Nagano lega menemukan bangku yang kosong. Ia duduk disana dan menghela napas dalam-dalam, memejamkan mata dan berserah kepada angin yang membelai wajahnya. Cahaya matahari merambat melalui celah daun yang tersisa dari pohon kenari menyinari kulih wajahnya yang putih.
“Hiroshi….”
Suara yang familiar itu.

Kemarin ia bohong kepada Miyake dan Morita. Ia masih ingat Sakamoto Masayuki. Wajah, cara berjalan, cara makan, cara tersenyum, lekuk giginya yang tidak rata. Bagaimana lubang hidungnya semakin terkembang saat Sakamoto tertawa. Semua keunikan dan keanehan Sakamoto yang ia tahu. Nagano pasrah akan pikirannya sendiri yang selalu mematrikan ingatan akan mantannya. Mantan terindah, kalau kata orang.

“Hiroshi…”
Lagi. Suara yang sayup seperti datang dari mimpi. Terlalu sayang untuk dibuang, terlalu berat untuk dikenang. Namun saat tangan itu menjamah jemarinya, ia yakin ia tidak sedang bermimpi.
Nagano terkesiap melihat sosok didepannya. Buru-buru ia menarik tangannya. “Hiroshi…. Apa kabar?”
Nagano sulit membaca pikiran Sakamoto. Matanya menunjukan simpati, khawatir, kangen….. Cinta?

“Kamu siapa?”
“Hiroshi… Aku mau bicara sebentar.”

Miyake memandang kaget dari kejauhan. Kenapa Sakamoto bisa ada disini? Apa takdir sedang mempermainkan mereka atau ada dalang yang sengaja mengatur pertemuan Sakamoto dan Nagano? Miyake melihat sekeliling dan menemukan Morita disana. “Go! Apa yang kamu lakukan?” Kata Miyake melalui tatapannya ke pria berambut pirang itu. Miyake menggeleng. Ia pikir sahabatnya sudah keluar jalur, mereka sudah sepakat akan menghargai keinginan Nagano dan kemarin keputusan Nagano bulat. Ia tidak mau bertemu dengan Sakamoto. Titik. Tidak ada pengecualian.

Sakamoto menyusul Nagano yang berjalan menjauhinya.
“Aku ingin bicara denganmu.” Sakamoto meraih pergelangan tangan Nagano yang dengan segera ditepis. “Tapi aku nggak mau, Masayuki.” Langkah Nagano semakin cepat, Nagano hanya berhenti sebentar saat ia berhadapan dengan kedua temannya. “Aku kecewa sama kalian.” Hanya itu yang diucapkan Nagano sebelum ia berjalan menerabas kedua temannya.

Miyake menatap Morita. “Sudah kuduga akan begini jadinya.”

Mereka duduk terdiam sepanjang perjalanan menuju Hotel. Bubar sudah semua rencana yang disusun apik untuk hari ini karena dengan paksa mempertemukan Sakamoto dengan Nagano. Nagano tahu temannya ingin yang terbaik untuk dirinya, tapi mereka juga harusnya tahu Nagano belum siap bertemu dengan Sakamoto. Sampai di hotel, Nagano meraih kopernya dan membereskan semua perlengkapan yang dia letakan di kamar Hotel.

“Hiroshi. Mau ngapain?”
“Pulang.”
“Tapi…”
“Kamu tahu betul aku kesini untuk apa, Go. Kamu malah mempertemukan aku sama dia. Nggak kusangka kamu bisa begini. Aku pikir kamu cukup pengertian.” Nada suara Nagano meninggi. Bagi orang yang panjang sabar seperti Nagano, sudah pasti Nagano sedang sangat amat marah sekarang.

“Walau kamu bilang nggak mau ketemu, tapi aku yakin sebagian kecil dari hati kamu masih butuh penjelasan dari Sakamoto.”
“Go, hanya karena kamu orang tuamu cerai dan mamamu ngejar-ngejar ayahmu bukan berarti semua orang sama. Bukan berarti aku ingin mengais harapan dari orang yang udah buang aku, mungkin cara itu bisa kamu simpan untuk kamu sendiri Go!”
Terjadi kesunyian yang terasa cukup lama sampai Nagano menutup mulutnya. Yang Nagano tahu adalah punggung rendah Morita berjalan keluar dari kamar hotel. Nagano menutup wajahnya. Kenapa ia bisa tega mengungkit masa lalu Morita? Tidak seharusnya ia bicara sekasar itu ke sahabatnya. Setelah ia sadar, temannya sudah pergi entah kemana karena tas dan ponsel sahabatnya ditinggal di bangku.

****

Sudah ke ratus sekian kalinya Nagano menatap jam yang bertengger di dinding kamar. 22.30 tapi temannya belum balik. Miyake sudah berusaha mencari Morita disekitaran hotel tapi nihil. Kalau temannya tidak kembali Nagano merasa itu salahnya.

Miyake duduk di sisi Nagano sambil mengelus punggung sahabatnya, temannya tidak pernah terlihat lebih stress dari saat ini sebelumnya dalam 3 tahun terakhir. Namun, saat jam menunjukkan pukul 12, pintu ruangan hotel terbuka. Mereka berdua sontak berdiri dan melihat sosok Morita datang sambil membawa kantung plastik minimarket berisi minuman.

“Kenapa? Aku nggak akan kabur juga kok….” Tanpa banyak kata Nagano mendatangi Morita dan menampar pipi kanan Morita sebelum memeluk erat sahabatnya.
“Gomenasai Go-kun…”
“Gomenasai….” Morita tertunduk di pelukan Nagano. Bertiga mereka berpelukan seolah sudah lama tidak bertemu.

Paginya, mereka duduk bertiga diruang tamu yang tersedia di lobi. Nagano berdeham. Setelah mengorbankan perasaan Morita kemarin demi emosinya semata, ia ingin mengikuti saran dari Morita, yaitu pergi menemui Sakamoto. Morita sudah menghubungi Sakamoto untuk mengatur jadwal mereka berdua bertemu.
“Jadi pagi ini aku akan ketemuan sama Sakamoto, gak akan lama. Aku akan balik sebelum jam makan siang, sesudah itu kita lanjutin acara kita yang tertunda kemarin.” Kedua temannya mengangguk.

Nagano sempat kebingungan mencari pakaian yang tepat untuk bertemu dengan Sakamoto, pakaian yang cukup kasual sudah dikenakannya kemarin dan sekarang belum kembali dari laundry. Sisanya adalah kaus berwarna terlalu cerah atau kaus tipis. Ia salah memprediksi kota ini bisa lebih awal dinginnya. Nagano memutuskan untuk mengenakan setelan polo berwarna putih dan celana kargo berwarna cokelat muda. Di cuaca yang dingin biasanya Nagano mengenakan lip balm untuk mencegah bibirnya kering dan mengelupas, saran dari Miyake juga. Tapi setelah melihat pantulannya dicermin, Nagano memutuskan untuk menghapus lip balmnya karena ia tidak ingin terlihat mengharapkan apapun dari Sakamoto. Dan memang tidak.

Nagano melangkah masuk ke kafe, pandangannya menyisir lantai 1 kafe yang dimandikan cahaya pagi. Sekali lihat ia sudah tahu, Sakamoto sedang duduk membelakanginya sambil sesekali menyesap kopi di cangkirnya. Nagano menghela napas panjang, melangkahkan kakinya dan menepuk pundak bidang pria itu. “Masa….”

Tbc

Advertisements

One thought on “[multichapter] Chapter 2 – histoire du passe

  1. ayu

    uwaaaaaaaa… gak sbar nungguin kelanjutannyaa… baguuusss bangeeeet… sukaaa… jdi ikut deg2an mreka bklan ngomongin ap..

    terus senyum2 sendri pas bag mreka ber3 pelukan breng.. so sweeet.. mkash buat ficnya yg bgus bgt… arigatougozaimasu…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s