[Oneshot] Teman Masa Gitu

Teman Masa Gitu
By. Upich
Genre: Friendship, Shounen, Fantasy, Romance
Type: Oneshot
Cast: Yamada Ryosuke, Nakajima Yuto, Arioka Daiki (Hey! Say! JUMP), Yamazaki Kento, Yoshida Yo dan segenap OC yang bertugas (?)
Disclaimer : This is just a fiction. Kesamaan cerita dan karakter merupakan imajinasi dan ketidaksengajaan semata. Segala yang ada di dalam cerita ini tidak bermaksud untuk menyinggung pihak manapun karena cerita ini dibuat untuk hiburan semata. Please enjoy!^^

coverTMG

Mungkin sekarang adalah zamannya di mana sebuah rasa percaya itu sudah tak dianggap berharga. Lihat saja fenomena-fenomena perpecahan suatu hubungan dalam sebuah persahabatan. Keegoisan nampaknya mulai bangkit dari tidurnya, dan masa jahilliyah akan kembali menjadi senjata yang ampuh untuk manusia masuk neraka dengan mudahnya.

Contohnya saha seperti seorang pemuda bernama Nakajima Yuto yang kini sedang terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan kabel-kabel yang terpasang di tubuhnya. Hidup enggan mati pun tak mau, sebuah kalimat yang cocok untuk hidupnya sekarang. Ia bernafas dengan normal, namun ia selalu tertidur. Kesepian, kata-kata ini muncul saat kau melihat wajah Yuto.

*

Terdengar suara musik hiphop dalam sebuah toko fashion. Seorang pemuda yang tingginya tak seberapa itu sedang mencari aksesoris untuk kepalanya yang sekiranya pas dengan pakaian yang ia gunakan sekarang. Long Tee putih dengan layers jaket membuatnya tampak modis.

“Ne, Yama-chan! Aku harus pilih yang mana?” ujar seseorang yang sedang kebingungan memilih sepatu namun ia sangat bersemangat.

“Tumben sekali bingung memilih sepatu! Apapun yang kau pilih, kau selalu mempunyai selera yang bagus kok, Dai-chan!” balas Yamada kemudian meninggalkan barisan topi bermerk yang dipajang itu.

“Ah, ini bukan buat aku kok! Aku akan memberikan ini sebagai hadiah untuk seseorang.” Balas Dai-chan dengan gembira.

Yamada tak mempertanyakan untuk siapa sepatu itu, karena ia terlalu senang melihat Dai-chan terlihat gembira dan bersemangat seperti ini. Ia mengira pasti terjadi sesuatu yang baik telah terjadi. Ia pun membantu Arioka untuk memilih sepatu mana yang sekiranya cocok untuk orang itu.

Dua hari berlalu, Yamada sedang nongkrong di bangku taman kota sembari asyik menatap wanita-wanita yang menggunakan rok super pendek yang melintas di hadapannya. Seorang wanita tak sengaja menjatuhkan ponselnya, sehingga ia harus jongkok untuk mengambil ponselnya tersebut. Mata Yamada mengikuti pergerakan tersebut, sehingga ia jadi sedikit menunduk. Matanya begitu berbinar melihat pemandangan yang jarang ia temui di kampus karena ia melanjutkan studinya di fakultas yang hanya ada pria di dalamnya.

Mata Yamada kini tak lagi berbinar, karena ia melihat sesuatu yang mengherankan. Sepatu yang ia pilihkan untuk Daiki beberapa waktu lalu nampak digunakan seseorang. Langkah kaki orang yang menggunakan sepatu itu semakin mendekat. Setelah melihat siapa pemakai sepatu tersebut, ia sedikit kaget.

“Mengapa Daiki begitu bersemangat waktu itu, kalau ternyata hadiah itu hanya untuk dia? Wah, Daiki tidak normal.” Gumam Yamada tepat sebelum orang itu berhenti melangkah di dekatnya.

“Habis lihat apa, Yama-chan?” goda orang itu kemudian duduk di samping Yamada.

“Maha karya tuhan yang indah tiada duanya, tentu saja!” balas Yamada dengan konyol.

“Kau hanya perlu mendekati mereka dan kemudian mengajaknya melakukan itu. Kau kan pria populer!”

“Ah, mungkin aku memang mesum. Tapi aku hanya ingin melakukan itu bersama jodohku saja, Yuto-kun!”

“Baka! Ahaha…” ejek Yuto dengan suara cemprengnya itu.

Keadaan sempat hening sejenak. Yuto sedari tadi hanya menunduk, menatap sepatu yang ia kenakan itu. Kemudian ia mulai angkat bicara setelah mengambil nafas panjang.

“Ne, Yama-chan.. aku sedang kesal dengan Daiki.” Ucap Yuto mulai mencurahkan isi hati.

Yamada bingung mendengarnya, “Memangnya ada apa dengan dia?”

Sambil melipatkan dua tangannya di depan dada, “Ah, dia tuh tidak becus melakukan sesuatu. Kerjaannya tidak pernah bagus. Aku sebenarnya lebih menyukai Takaki daripada dirinya.”

Yamada diam sejenak. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Bagaimana bisa, seseorang yang baik padamu tapi kau justru menjelek-jelekkan dia di depan orang lain? Dan lagi, Takaki, ia baru bertemu dengannya di universitas tapi mengapa ia bisa menjelekkan sahabatnya dan membandingkannya dengan orang yang baru ia kenal?

“Tunggu dulu, bukannya kau sudah berteman dengan Daiki sejah masih kecil ya? Dan bukannya Daiki selalu berbuat baik padamu?” jawab Yamada berhati-hati.

“Memang sih. Tapi ya bagaimana lagi ya,  kualitasnya dalam berpidato jelek. Dan aku tidak suka itu. Mungkin aku harus lebih dekat dengan Takaki daripada Daiki.”

Yamada tak mampu menanggapi lebih jauh lagi. Hanya sebuah senyuman tak percaya yang muncul di wajahnya.

*

Brrrt… Brrtt…

Sebuah pesan diterima. Daiki yang tengah sibuk menghafal materi pidato untuk ujian tengah semester terpaksa mengambil ponselnya yang sedaritadi ia anggurkan itu.

09/04/2016 11:30 PM
Yuto: Daikiiiii.. tolong aku!

Kemudian Daiki segera membalas pesan itu, air mukanya berubah khawatir.

09/04/2016 11:31 PM
Me: Ada apa? Kau baik-baik saja, kan?

09/04/2016 11:32 PM
Yuto: Aku belum selesai mengerjakan paper mata kuliah management, nih! TT Aku juga belum membuat teks pidatoku sama sekali T^T

09/04/2016 11:32 PM
Me: Yabbaiiii! Kau harus segera menyelesaikannya..

09/04/2016 11:33 PM
Dakara… aku mau minta tolong padamu. Tolong bantu aku kerjakan paperku ya.. jika aku menyelesaikan paper ini, maka aku tidak akan sempat membuat teks pidatoku. Onegai T^T

Daiki berfikir sejenak, ia merasa bahwa ia sanggup membantu Yuto. Toh, dia sudah menyelesaikan papernya dan juga ia sudah menulis naskah pidatonya.

09/04/2016 11:37 PM
Boleh. Aku akan membantumu..

09/04/2016 11:38 PM
Majide?? Arigatou! Kau benar-benar teman sejatiku!
Kalau begitu aku akan mengirimkan bahannya ya!

09/04/2016 11:39 PM
Baiklah.. jangan sungkan

Tak lama kemudian, Daiki menerima sebuah email. Kemudian ia akan melakukan belaian di keyboard laptopnya semalaman suntuk. Email yang dikirimkan Yuto segera ia baca.

“Demi apa………..” gumam Daiki saat  membuka file doc yang dilampirkan Yuto.

Daiki melepas kacamatanya, mengusap wajahnya dengan perasaan aneh.

“Belum selesai? Kau bahkan hanya membuat judul dan abstraknya saja… huh, untung kau itu temanku. Kalau bukan, mana sudi aku mengerjakkannya!” gumam Daiki lagi, kemudian ia dengan legowo mengerjakan paper milik Yuto.

*

“Yesss! Daiki memang yang nomor satu!” ucap Yuto setelah membaca balasan chat terakhir dari Daiki.

Ia memasukkan ponsel ke saku celananya saat seorang wanita memanggil namanya dengan sedikit berteriak. Musik lantang, bau alkohol dari segala arah dan lampu warna-warni khas pub. Ya, Yuto sedang bersenang-senang.

“Anooo, sepertinya aku sudah harus pulang.” Teriak Yuto di telinga seorang perrempuan berambut pendek.

“Masih jam segini, sudah mau pulang? Kau benar-benar masih anak kecil ya..” balas wanita itu.

“Aku harus mengerjakan tugasku, Yoshida-san.” Balas Yuto dengan mendekatkan kepalanya ke telinga wanita itu.

“Baiklah kalau begitu, temani aku sampai 15 menit lagi.” Balas wanita itu kemudian memeluk tubuh Yuto dengan manja.

*

Perasaan kikuk muncul, udara terasa kering dan tidak nyaman begitu saja. Aneh! Yamada tak tahu harus menanggapi apalagi. Bagaimana tidak, jika ada orang yang menjelekkan salah seorang sahabatmu tepat dihadapanmu! Dan perasaan complicated semakin menjadi.

“Waaah, rasanya aku rindu masa SMA! Apa kau juga merasa begitu?” tanya Yamada mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia merasa tak nyaman, karena Daiki merupakan salah satu teman terdekatnya saat SMA.

Yuto hanya tersenyum tipis menanggapinya. Mungkin ia merasa tertampar dengan pertanyaan Yamada. Bagaimana tidak, Yuto dan Daiki sewaktu SMA seperti perangko! Di mana ada Daiki, pasti di sana juga ada Yuto.

Yuto, Daiki dan Yamada adalah sahabat baik, saat SMA mereka juga terkenal karena wajah mereka yang “pacar-able”. Namun Yamada adalah yang terpopuler saat itu. Karena bosan di kelilingi wanita, Yamada akhirnya memilih untuk kuliah di sebuah fakultas yang jarang ada peminat perempuannya. Ia mengambil jurusan seni murni meskipun ia bisa juga masuk ke jurusan musik. Yuto dan Daiki masuk ke universitas yang berbeda dengan Yamada, mereka masuk ke universitas yang cukup terkenal dan mengambil jurusan ilmu komunikasi.

 

“Yuto-san..” suara seorang wanita berhasil memecahkan keheningan yang ada di antara kedua pemuda tampan itu.

Yamada mendongak, mendapati seorang wanita dewasa berhenti tepat di depan Yuto. Seketika Yuto menyenggol lengannya seakan memberi isyarat ‘waktuku sudah habis’ kemudian ia berdiri di samping wanita tersebut.

“Jaa, kalau begitu aku duluan ya! Ada urusan. Sampai besok!” ujar Yuto berpamitan, lalu tangan wanita itu menggelayut di lengan Yuto.

Yamada memiliki perasaan aneh ketika melihat mereka berdua berjalan menjauh. Ah mungkin karena ia jomblo sehingga merasa aneh kalau melihat temannya bersama pacarnya, pikirnya. Kemudian ia membuang jauh-jauh perasaan aneh yang muncul seketika itu.

*

“Wah lukisanmu tidak buruk juga, Yamada!” ujar Yamazaki Kento teman satu kelasnya.

“Aduh, aku dipuji master lukis… rasanya aku mau meleleh. Kyaaa~” balas Yamada sembari meletakkan palet dan kuasnya.

“Minjijikkan, jangan ikuti gadis-gadis itu dong..” jawab Yamazaki geli. Ia salah satu ikemen yang ada di fakultas ini.

Kedua  “Yama” yang tampan ini di pertemukan saat upacara penerimaan mahasiswa baru di kampus. Mereka bertemu saat bersembunyi di gedung belakang dari gadis-gadis yang mengejar mereka. Mungkin prodi mereka, atau bahkan fakultas mereka hanya memiliki pria tampan yang hanya dapat dihitung dengan jari. Dan yang paling laris diantaranya adalah duo Yama ini, Yamazaki dan Yamada. Keduanya berteman, namun juga saling bersaing. Ada kabar bahwa keduanya menyukai seorang gadis yang sama.

“Jadi, kenapa kau melukis dengan ekspresi sedih? Bukankah tiga orang yang kau lukis itu saling berangkulan dengan senyum yang cerah?” tanya Yamazaki sembari melanjutkan lukisannya.

Yamada menghela nafas panjang, “Saaa.. entahlah.”

“Hei, apa kau sudah minta izin kepadaku?” lanjut Yamada sembari meletakkan kedua tangannya di pinggang.

Yamazaki mengintip Yamada dari balik kanvasnya, “Hah? Izin untuk apa?”

“Izin untuk melukis gadisku..” ujar Yamada dengan tatapan dingin serta amarah yang muncul di matanya.

 

*

 

“Benarkah? Hebat sekali! Kapan pamerannya?” ujar Yuto gembira saat Yamada menelponnya.

“Emm.. seminggu lagi. Bagaimana, kau bisa datang?” suara Yamada tak kalah gembiranya.

“Pasti dong! Aku sangat menantikannya!”

“Kalau begitu, sampai jumpa minggu depan!”

“Tut..tut..tut..tut..” Yuto baru menutup ponselnya setelah Yamada memutuskan panggilannya.

“Siapa yang menelpon? Tampaknya kau begitu gembira?” ujar Yoshida kemudian bersandar manja di bahu Yuto.

*

Pagi yang cerah membuat Daiki bersemangat kuliah, meskpun ia berangkat sendirian. Kehidupannya sedikit berubah semenjak ia sebatangkara tanpa ada seorang sahabat yang menemaninya. Di depan sana ia melihat Yuto yang akan memasuki gedung perkuliahan. Ia memberanikan diri untuk menyapa Yuto meskipun ia masih kecewa dengannya.

“Yuto! Selamat pagi!” sapa Daiki kikuk.

Yuto hanya menatapnya dingin, bahkan Elsa dan Jack Frost kalah dinginnya. Lalu ia jalan lagi, seakan menganggap bahwa Daiki tidak ada di sana. Daiki menarik tangan Yuto tiba-tiba, dan tentu saja Yuto menepisnya.

“Kau kenapa sih? Aku berbuat salah denganmu? Kenapa kau seperti ini, menghindariku?” tanya Daiki emosional.

“Karena kau buruk dalam melakukan pekerjaan apapun, jadi kita tidak level. Jangan mendekat padaku lagi.”

“Wah, kau jujur sekali.” Ucap Daiki tak percaya.

“Bukankah lelaki memang harus jujur?”

“Ne, Yuto-kun, jika aku buruk dalam melakukan pekerjaan apapun, lalu mengapa sejak dulu kau selalu memintaku membantumu melakukan segala hal?”

“Karena kau mudah untuk dimanfaatkan..”

Dada Daiki seakan tertancap sesuatu, sakit. Oksigen yang masuk juga seakan lenyap, nafasnya terasa berat. Apakah ini yang namanya kecewa? Apakah ini yang namanya dimanfaatkan? Apakah ini yang dinamakan terlalu baik?

Daiki tak lagi menahan Yuto. Ia hanya menatap punggung Yuto yang semakin menjauh. Kemudian ia bertanya-tanya dalam hati, apakah ada yang namanya mantan sahabat?

*

Peluh yang bercucuran membasahi tubuh para mahasiswa seni itu nampaknya justu menjadi pemandangan yang menyenangkan bagi beberapa oknum.

“Ah, lihat! Keringat Kento di dagunya! Seksi sekali!!” ujar seorang gadis di tengah gerombolan gadis pengintai lainnya.

“Lihat deh, ototnya Ryosuke! Ampun, perutnya kotak-kotak begitu. Aduh ngga nahan..”

“Kyaaaaa, pingin ena-ena sama Ryosukeee!” ujar seorang gadis yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari para gadis lainnya.

“Kalian, kalau hanya menutupi jalan lebih baik kalian pergi saja!” ujar seorang penanggung jawab pameran yang sukses membuat gadis-gadis itu lari terbirit-birit karena auranya yang galak.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Semua persiapan pameran berjalan dengan lancar. Semua lukisan dan karya-karya mereka sudah di display dengan baik.

“Yoshaaa! Semuanya selesai!” hampir semua orang bersorak gembira.

“Besok waktunya menunjukkan ini. Aku harap dia senang.” Ujar Yamazaki sambil tersenyum mengamati karyanya sendiri.

“Ckk.. dasar curang! Aku pasti tidak akan kalah darimu. Lihat saja siapa yang menang.” Balas Yamada kemudian memukul dada Yamazaki lemah.

Kemudian semua orang membersihkan segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan pameran mereka. Sampah-sampah mereka punguti sambil bercanda ria karena gembira karya mereka akan di pamerkan ke publik pertama kalinya. Setelah semuanya selesai, lampu galeri dimatikan dan semua orang pulang untuk beristirahat.

Suasana yang begitu sepi melekat di galeri tersebut, hanya cahaya bulan yang masuk melalui celah-celah ventilasi. Seharusnya, semua orang sudah pulang. Namun ada seseorang yang masuk galeri dengan cara ilegal. Ia membobol kunci pintu masuk galeri dengan mahir. Tubuh yang cukup tinggi itu mengenakan pakaian serba hitam, dan tak lupa mengenakan masker dan sarung tangan untuk menutupi identitasnya.

Setelah berhasil membobol pintu, ia masuk dengan hati-hati. Di kepalanya juga terdapat senter kecil yang menerangi pengelihatannya. Ia menelusuri lukisan-lukisan yang di pajang, seakan-akan mencari-cari nama dari sang pelukis.

“Ini dia!” ucap orang itu ketika menemukan sebuah lukisan. Kemudian orang itu membuka tas yang ia bawa.

*

“Wah, ada apa ini?” ujar Daiki kaget melihat kerumunan orang yang berada di depan galeri. Ia mencoba menyusup diantara kerumunan orang-orang tersebut.

“Maaf, pameran ditutup sementara dan akan dibuka kembali nanti sore!” ucap seorang dosen pembimbing berharap para pengunjung tidak melihat apa yang terjadi. Namun Daiki berhasil menyusup masuk di tengah kerumunan itu.

“Ini pasti ulahmu! Bangsat!!!” teriak seseorang dengan nada tinggi.

Daiki kaget, orang itu berteriak ke arah Yamada. Para pengunjung juga ikut tersontak. Ada perkelahian saat open gate pameran ini.

“Are? Ada apa ini?” ucap Yuto polos. Daiki juga mengeluarkan ekspresi polos saat melihat Yuto tiba-tiba berdiri disampingnya.

“Apakah ini takdir? Apakah ini yang di rencanakan tuhan? Aku dan Yuto pasti dipertemukan untuk membantu Yamada! Terimakasih tuhan!!” batin Daiki.

“Ore janai!” bantah Yamada dengan nada tak kalah tingginya. Daiki menoleh ke arah Yuto, ia mengangguk memberi isyarat untuk maju dan membantu Yamada.

“Uso! Kau pasti pelakunya, kan? Mengaku saja!” balas Yamazaki semakin memanas. Ia maju beberapa langkah dan berdiri tepat di depan wajah Yamada.

“Oyaoya, apa yang terjadi? Astaga, kenapa lukisan wanita cantik itu bisa rusak seperti itu?” tanya Yuto.

“Orang ini merusaknya!” saut Yamazaki sambil mendorong Yamada mundur.

“Ore janai!”

“Kau merusaknya, karena merasa kalah saing dengan Yamazaki-san?” tanya Yuto

“Ore janai yo!” balas Yamada yang masih tidak mengakui kesalahannya.

“Aku tak menyangka kau akan berbuat hal sekotor ini. Kau bukan Yama-chan yang ku kenal.” Ucap Yuto semakin mendramatisir.

Yamazaki terus-terusan mendorong Yamada. Wajahnya frustasi, sedih dan seakan tidak percaya. Ia baru berhenti ketika Yamada menghentikan serangan itu.

“Ore Janai yo!” ucap Yamada dengan tegas.

Yamazaki memegang pundak Yamada. Ia menunduk. Sedetik kemudian ia merangkul Yamada dengan ekspresi sinis.

“Bukan Yamada pelakunya, tapi kau!” ucap Yamazaki sembari menunjuk Yuto dengan dagunya.

“Hah? Apa-apaan ini? Aku pengunjung disini!” ujar Yuto berlagak. Bahkan Daiki mengangguk saat Yuto membantah.

“Daiki, kau masih percaya dengannya? Jangan bercanda!” ucap Yamada miris.

“Lihatlah ini.” Susul Yamazaki kemudian memberikan sebuah tablet kepada Daiki.

Di tablet tersebut terdapat sebuah video, bukti bahwa Yuto adalah pelaku perusakan karya Yamazaki. Di dalam video tersebut tampak jelas, seorang pria berpostur tinggi dengan mengenakan pakaian serba hitam sedang mencermati lukisan milik Yamazaki. Kemudian pria itu melepaskan maskernya, kemudian menyeringai lalu mengeluarkan cat semprot. Ia menurunkan lukisan tersebut, kemudian dengan pisau kecil, ia merobek lukisan tersebut.

Mata Daiki menatap Yuto pilu, ia sedih melihat kenyataan yang ada. Yuto kini bak makhluk asing, bukan hanya itu, ia juga sumber kesedihan dari orang-orang disekitarnya.

“Tidak mungkin. Aku sudah mematikan semua sistem keamanannya kemarin!” gumam Yuto saat ia merasa terdesak.

“Kami juga memasang beberapa kamera pengintai di beberapa tempat. Tujuan awalnya untuk merekam ekspresi orang-orang saat melihat dan mengamati karya kami, bukan untuk merekam tindakan kurang ajarmu itu!”

Yuto mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Tiba-tiba ia menyerang Yamada tanpa aba-aba. Membuat semua orang kacau.

“Yuto, aku bukan Daiki yang diam saja ketika kau jatuhkan. Aku muak denganmu! Aku tidak percaya aku memiliki teman seperti dirimu!” ucap Yamada emosional namun tersirat kesedihan di matanya. Keduanya adu hantam, sama-sama kuat sehingga belum ada yang jatuh.

“Aku tidak perduli! Aku hanya ingin melihatmu susah, itu membuatku senang!” balas Yuto sambil mengelap darah di sudut bibirnya. Sedetik kemudian ia kembali menyerang Yamada. Matanya penuh dengan rasa haus darah, haus akan menyiksa orang, haus akan kesengsaraan orang lain.

“Oii, sadarlah. Apa yang terjadi denganmu, bangsat!” kali ini Yamada menghindari semua serangan dari Yuto. Ia marah, namun ia juga sedih karena sosok yang ia panggil sebagai teman justru melakukan tindakan yang tidak masuk akal.

Karena Yuto menyerang dengan segala barang yang ada di sekitarnya, Yamada memutuskan untuk berlari keluar galeri. Ia tak ingin pameran tersebut hancur karena perkelahian tersebut. bahkan ketika sudah di luar gedung sekali pun, nafsu Yuto untuk menghabisi Yamada tidak luntur satu persen pun.

Beberapa ada yang berteriak melihat kedua pemuda itu babak belur. Ikemen manapun, kalau sudah babak belur wajahnya juga pasti akan menakutkan. Banyak ibu muda yang menutupi mata anaknya agar tak melihat perkelahian dua orang tersebut.

“Sampai kapan kau akan melarikan diri, hah?!” teriak Yuto membuat Yamada berhenti melangkah.

Gawat. Yamada sudah tersenyum. Ia menunduk sesaat sebelum akhirnya berbalik badan dan berjalan ke arah Yuto. Kini keduanya saling bertatapan. Mata Yuto menatap Yamada dengan tajam, tidak ada ampun. Matanya seakan memancarkan sesuatu yang negatif. Mata Yamada terbelalak seketika ketika menyadarinya.

“Aku akan menghabisimu..” ucap Yuto setipis hembusan angin.

Mata itu. Bukan mata Yuto. Sesuatu telah mengganggunya, Yamada yakin. Ia terpaku melihat kilauan mata yang bukan milik temannya itu. Sampai-sampai, ia harus menerima pukulan keras di pipinya karena tak percaya.

Yuto meluncurkan pukulan itu secara tiba-tiba, membuat Yamada jatuh tersungkur. Serangan selanjutnya datang secara bertubi-tubi. Yamada berhasil menghindarinya. Namun ia sadar, perkelahian ini tak akan ada habisnya jika ia hanya menghindari serangan Yuto. Ia ingin menyadarkan Yuto, ia ingin membawa Yuto yang lama.

Yamada berdiri, kemudian melemparkan pukulan ke pipinya. Selanjutnya ia tendang perut Yuto sehingga ia berhasil membuat Yuto sedikit terpojok. Yamada tidak membiarkan kesempatan itu hilang begitu saja.

Yamada membanting Yuto, dan kemudian ia duduk di atas tubuh Yuto. Meskipun Yuto memiliki tubuh yang lebih tinggi daripada Yamada, kemampuan Yamada dalam berkelahi cukup baik. Sebelum bertemu dengan Yuto dan Daiki saat SMA, Yamada pernah terjerumus masuk dalam sebuah geng sekolahan yang cukup brandal.

“Sadarlah! Kau ingin membunuhku?” teriak Yamada sebelum melayangkan tinjuan ke wajah Yuto.

“Cukuupppp!! Stop! Berhentilah!” suara Daiki muncul dari kerumunan orang yang menonton perkelahian mereka. Daiki terengah-engah, ia berlari mencari kedua temannya ini. Lalu dibelakangnya, muncul Yamazaki dan beberapa teman lainnya yang menyusul.

“Kau tahu, betapa tersiksanya aku dan Daiki atas sikapmu?” Yamada kembali emosional, air matanya mengalir dan berjatuhan di wajah Yuto.

Daiki terdiam. Ya, ia tersiksa atas sikap Yuto terhadapnya. Juga, ia terdiam karena khawatir atas keselamatan kedua temannya itu.

“Aku tidak peduli.” Jawab Yuto tak acuh.

Raut wajah Daiki menjadi sedih. Yamada yang melihatnya kembali naik pitam, sedih, kecewa dan rasa tak percaya bercampur menjadi satu.

“Jika dalam suatu hubungan persahabatan ada sebuah perkelahian, seharusnya perkelahian itu nantinya akan menguatankan rasa persahabatan tersebut, kan? Aku tidak ingin berkelahi lebih jauh lagi, jika nantinya justru akan merusak persahabatan yang telah kita buat selama ini.” Ucap Yamada, suaranya bergetar.

“Cih, sudah cukup! Aku muak!” balas Yuto kemudian mendorong Yamada.

Yuto kembali menegakkan tubuhnya, siap menyerang Yamada dengan seluruh tenaga yang tersisa.

Yamada menunduk, “Hah, yang benar saja..” ucapnya lagi. Matanya dan bahkan senyum yang ia pamerkan saat ini mengandung kesedihan yang mendalam.

Tangan Yuto mulai mengepal, ia melangkah maju seraya srigala yang akan menyerang mangsanya. Ganas. Merupakan kata yang cocok untuk mencerminkan Yuto saat itu. Yamada tersungkur saat menerima pukulan tersebut namun kembali bangkit. Air mata Yamada mengalir begitu saja saat itu.

Sakit. Itu yang ia rasakan. Bukan hanya fisiknya namun hatinya, perasaannya. Fisik yang sakit dapat diobati dan bisa segera pulih. Tapi bagaimana jika hati yang sakit? Nafas terasa berat dan dadanya sesak, tapi ia tak tahu alasannya.  Lalu, bagaimana cara menyembuhkan hati yang terluka?

“Yamada…” ucap Yamazaki miris saat Yuto meluncurkan pukulannya.

Daiki menangis saat itu. Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia tak ingin kedua orang itu saling melukai lebih lama lagi. Dan saat Yuto melayangkan serangan selanjutnya, Daiki berlari mendekatinya. Ia mendorong Yuto agar ia tak menyerang Yamada lagi.

Benar. Yuto tak akan bisa menyerang Yamada lagi. Ia terdorong dan keluar dari trotoar. Sebuah mobil yang melesat menghantam tubuh Yuto yang kehilangan keseimbangan saat di dorong Daiki.

Ciiiittttt…. mobil itu mengerem mendadak.

Bagi Daiki dan Yamada, dunia sekan dalam mode “mute” dalam sekejap.  Dada yang terasa sesak, apakah sebuah pertanda?

“Yutoooo!!!!” teriak Yamada dan Daiki bersamaan. Keduanya berlari ke arah yang sama, di mana banyak darah berlumuran di aspal jalanan.

Air mata keduanya juga tak dapat di bendung lagi. Daiki memluk Yuto dengan erat, ia berteriak. Sebuah teriakan yang penuh dengan rasa penyesalan dan kepedihan yang mendalam. Begitu juga dengan Yamada, ia menangis tanpa suara dan meratapi Yuto yang tergeletak di jalan.

Yuto sekarat.

*

Putih dan sepi. Hanya hembusan angin yang diam-diam memasuki celah jendela rumah sakit serta rasa menyesal yang menemani hari-hari Yuto di rumah sakit. Ia terbaring lemah dengan banyak kalbel yang menempel pada tubuhnya. Serta berbagai perban yang membalut beberapa bagian tubuhnya.

Seseorang menggenggam tangan Yuto yang tidak di perban. Mengelusnya dengan lembut dan penuh perhatian serta kasih sayang.

“Aku tidak akan mengira seperti ini akhirnya..” ucap seorang wanita berambut pendek. Ia datang entah dari mana asalnya.

“Padahal aku masih membutuhkanmu.. selalu..” lanjutnya kemudian meremas tangan Yuto dengan kasar.

“Yo.. Yoshida-san..” ucap Yuto lemah, akhirnya ia siuman.

“Otsukaresamadeshita, sayangku.. terimakasih telah membuatku kembali menjadi muda.”

Tak ada jawaban dari Yuto.

“Terima kasih telah menjadi pionku selama ini. Terima kasih sudah mengumpulkan semua rasa kepedihan, kekecewaan, tersiksa untukku. Dengan rasa yang menyedihkan yang telah kau buat dari teman-temanmu itu, aku bisa meresapnya dan menjadikan diriku kembali belia.”

“Ja..jadi.. kau berkencan denganku, untuk memanfaatkanku?”  balas Yuto dengan nada tak percaya dan kesedihan di dalamnya.

“Aaah.. segar sekali rasanya meresap kesedihan dari kekasihku sendiri…” gumam Yoshida bahagia. Kemudian ia maju beberapa langkah, ia menjambak rambut Yuto.

“Aku akan memberitahumu beberapa rahasiaku, dengarkan baik-baik.” Ujarnya kemudian dan mendekatkan wajahnya ke arah Yuto.

Hening. Tak ada jawaban dari Yuto.

“Kau adalah pemuda yang ke 78 yang pernah bersamaku.” ujar Yoshida kemudian melepaskan jambakannya. Lalu mundur beberapa langkah.

Masih tak ada jawaban dari Yuto. Ia diam seribu bahasa.

“Lihat aku baik-baik.” Ujar Yoshida kemudian menutupi setengah wajahnya dengan tangan kirinya. Beberapa detik kemudian, ia membuka wajahnya dengan seringaian di wajahnya.

“Tidak mungkin… tidak mungkin!” akhirnya Yuto mulai bersuara.

“Umurku sudah menginjak 264 sayang…. terimalah bahwa ini kenyataannya.” Ujarnya kemudian menutupi wajahnya untuk mengembalikan wajahnya yang cantik.

“Hahah.. Jadi, aku telah dikencani seorang nenek tua pengguna ilmu sihir? Kasihan sekali kau ini Yuto..”

Yoshida teriak. Bunyi nyaring yang membuat telinga sakit.  “Jangan panggil aku seperti itu!!” teriaknya kembali.

Yoshida kembali mendekati Yuto. “Jangan buat aku sedih..” ujarnya lagi.

“Aku.. aku berharap bahwa kau adalah reinkarnasi dari orang itu. Aku.. aku mencintaimu, Yoshida. Aku ingin kau terlahir kembali.. aku ingin bersamamu, aku mencintaimu.” Ucap Yuto pedih. Air matanya mengalir tanpa rencana.

“Aku tidak bisa lebih dari ini. Kau sudah banyak menderita. Kau tak dapat lagi membuat orang-orang disekitarmu bersedih, karena kau sudah menjadi sumber kesedihan bagi setiap orang yang ada. aku tak bisa..” balas Yoshida kemudian ia mengecup bibir Yuto yang pucat itu.

Yoshida mundur kembali. “Kau adalah kekasih favoriteku. Karena itu, lupakanlah aku. Aku akan menghapus segala ingatanmu tentang diriku, namun tidak dengan kesedihan dan penyesalan yang telah kau buat. Selamat tinggal, kekasihku…”  ucap Yoshida sebelum merapelkan sebuah mantra.

Ruangan itu. Menjadi lengang. Seakan-akan partikel oksigen juga menghilang dari tempat itu. Membuat suasana menjadi aneh. Yuto kembali terlelap, dengan air mata yang mengalir di sudut matanya.

 

*

 

Suara langkah kaki yang tergesa-gesa membuat suara bergema di ruangan itu. Yoshida menghilang dan Yuto terlelap.

“Apa yang harus kita lakukan?” ucap salah satu pemuda yang kini berdiri di depan ranjang Yuto.

“Yappari kono onna..” gumam pemuda yang wajahnya penuh dengan plester.

Kedua pemuda itu kini mengerti, mengapa Yuto berubah begitu drastis. Ketika Yamada dan Daiki berada di koridor, mereka melihat sekelebat bayangan yang aneh. Kemudian mereka berdua mengikuti bayangan tersebut yang akhirnya masuk ke ruangan Yuto.

Percaya tidak percaya, kedua pemuda itu panas dingin mendengarkan percakapan yang terjadi antara Yoshida dan Yuto. Cinta telah mebuat Yuto buta. Ah, bukan. Yoshida telah mengelabuinya dengan atas nama cinta.

“Ka.. kalian..” ucap Yuto lirih.

“Ha! Kau sudah sadar?!” ucap Daiki kaget.

“Mengapa kalian ada disini? Aku bahkan tak ada nyali untuk bertemu dengan kalian setelah apa yang aku lakukan terhadap kalian..”

“Baka! Jangan membuatnya semakin rumit!” balas Yamada dengan sinis.

“Kami disini, karena khawatir. Jangan lakukan hal bodoh lagi ya.” Ujar Daiki lembut.

“Kami disini, untuk membantumu bangkit. Sou, karena kita ini teman, kan?” imbuh Yamada..

“Minna…” jawab Yuto lemah, matanya berkaca-kaca.

Daiki mendekatinya dan kemudian memeluknya.  “Kami akan selalu ada untukmu..”

Kemudian Daiki memberi kode Yamada untuk bergabung dengannya, memeluk Yuto. Yamada tersenyum dan akhirnya ia bergabung.

“Terimakasih.. maafkan aku..” ujar  Yuto sambil menangis.

“Bodoh! Jangan menangis! Aku juga ikut menangis nih.” Balas Yamada..

“Tidak apa-apa kok, aku juga menangis!” timpal Daiki konyol yang akhirnya membuat mereka bertiga tertawa.

Hidup mereka lambat laun kembali normal, walaupun banyak orang yang kemudian tak suka dengan Yuto. Daiki dan Yamada selalu menemaninya dan membantunya dalam berbagai hal. Mereka membatu Yuto agar benar-benar terlepas dari segala pengaruh yang pernah Yoshida berikan padanya. Mereka mebantunya bangkit. Dan pada akhirnya, mereka kembali membuat kenangan indah dalam kehidupan mereka.

Akhir cerita, kisah pertemanan mereka terselamatkan. Perseteruan itu pasti ada. Namun teman sejati tak akan saling menyakiti. Rasa cinta itu perlu, namun ia tak akan menjadi cinta yang sesungguhnya jika cinta itu justru menjerumuskan.

 

 

-END-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s