[Multichapter] Chapter 1 – Histoire Du Passe

Judul : prolog – histoire du passe

Author : Nikonikofic
Pairing : Nagano Hiroshi x Sakamoto Masayuki (V6)
Genre : Romance, Drama
Rating : PG
Note: Terinspirasi dari film AADC 2. (Masih) Untuk Ayu.❤

“If you want to forget something or someone, never hate it, or never hate him/her. Everything and everyone that you hate is engraved upon your heart; if you want to let go of something, if you want to forget, you cannot hate – C Joybel C.”

Tiga tiket perjalanan pulang pergi dari Kyoto ke Tokyo sudah dipesan, begitupun dengan akomodasi penginapan selama 5 hari 4 malam disana tepat setelah kedua temannya menyetujui rencana Nagano untuk “menculik” mereka ke kota tetangga. Untung saja keduanya bisa menyanggupi keinginan Nagano yang tiba-tiba ini. Awalnya Miyake Ken dan Morita Go tidak percaya Nagano mengajak mereka jalan-jalan keluar kota kurang dari h-2 dari tanggal keberangkatan. Setahu Miyake dan Morita, Nagano adalah orang yang sangat berhati-hati dan penuh perencanaan. Perjalanan ter “mendadak” yang mereka lakukan adalah saat salah satu teman SMA mereka mengadakan perkawinan di Hiroshima dan perjalanan itu juga direncanakan sebulan sebelumnya, tidak seperti ini. Namun saat Nagano menjelaskan kenapa dirinya harus jalan-jalan, tanpa banyak tanya temannya mengiyakan. Mereka paham betul segala sesuatu yang berhubungan dengan Sakamoto Masayuki tidak pernah mudah. Plus Nagano mengiming-imingi tiket dan penginapan gratis ke kedua sahabatnya itu. Siapa yang menolak akomodasi gratis untuk jalan-jalan 5 hari 4 malam? Lagipula semua orang butuh piknik dalam hidupnya.

*****


Rombongan Nagano tiba di Kyoto pukul 1 siang, waktu pas untuk mengisi perut mereka yang sudah mulai berdendang. Tapi sebelum mereka menjelajah kuliner di salah satu kota antik di Jepang, mereka terlebih dulu harus check in di hotel yang telah mereka pesan sekalian menaruh koper di kamar yang tersedia.

Nagano sengaja menyewa satu kamar yang cukup untuk 3 orang dengan pemandangan langsung ke pemandian air panas yang bisa mereka nikmati saat malam hari. Nagano melihat kamar pilihannya dan mengangguk puas, ia tidak salah pilih. Selamat tinggal masa lalu. 5 hari 4 malam ini menjadi kunci kebebasan dia dari pengalaman yang pahit. Nagano meletakan kopernya dan mengambil barang seperlunya sebelum pergi menyusul Miyake dan Morita yang sudah menunggu di lobi.

Jadwal pertama kedatangan mereka bertiga adalah mengunjungi kedai ramen yang menjadi tempat favorit Nagano setiap kali penggila kuliner itu datang ke Kyoto. Untuk urusan perut Miyake dan Morita bisa menyerahkan semuanya ke Nagano. Pilihan Nagano selalu enak dan tidak mengecewakan. Terbukti dari Miyake yang sering memperhatikan porsi makanannya karena alasan kecantikan dan kesehatan berhasil dibuat membeli 2 porsi shoyu ramen di kedai mie itu.

Setelah puas dengan mie yang berhasil membuat mereka “kenyang bodoh”, perjalanan dilanjutkan menuju pameran kaligrafi infusi aliran jepang dan cina. Pameran yang biasanya diselenggarakan 3 hari di kota-kota besar di Jepang menarik perhatian Morita. Pria berambut pirang sudah menetapkan jadwal kunjungan mereka di hari pertama. Karena letaknya tidak jauh dari kedai ramen tempat mereka makan siang, keinginan Morita mudah diwujudkan.

Ketiganya memasuki ruangan bergaya jepang kuno dengan pendingin yang dipasang di pojok ruangan, menghalau panas yang mereka terima dari sepanjang jalan menuju tempat eksibisi. Nagano membaca katalog kaligrafi yang berisi informasi latar belakang pelukis kaligrafi yang dipajang di dinding-dinding pameran. Sebetulnya Nagano tidak terlalu paham dengan gaya kaligrafi seperti ini. Tapi untuk menambah wawasan ia tidak menutup diri untuk melihat hal yang baru. Sementara itu Morita sedang asik berada di ruangan lain memperhatikan dengan seksama talk-show yang diadakan oleh salah satu pelukis kaligrafi yang karyanya juga dipajang di ruangan itu. Dirinya fokus kepada penjelasan historikal kaligrafi sampai Miyake merenggut lengan tangannya.

“Apa!” Kata Morita singkat, jelas dirinya terusik oleh gangguan Miyake.
“Mau ke wc? Ada di lantai dua tuh…” Tebak Morita asal, yang ia tahu memang Miyake menghabiskan 3 gelas ocha dingin saat di kedai mie tadi jadi dia berspekulasi temannya ingin ke kamar kecil.

“Bukan, Go-kun… Itu…. Ada dia disini!”
“Siapa?”
“Ma… Masayuki. Sakamoto Masayuki..”
Morita berusaha mencerna perkataan sahabatnya itu. Mungkin sekali Miyake salah lihat. Dari segala tempat dan waktu yang ada, kenapa harus ditempat ini? Kenapa harus sekarang? Saat Nagano kesini untuk berusaha keras melupakan 1 orang itu. Morita berdoa semoga Miyake salah.

“Sakamoto yang mana?”
Miyake menggaruk kepala yang bukan karena gatal. “Kamu pikir Sakamoto Masayuki yang mana lagi? Sakamotonya Nagano lah! Lihat ke bangku baris kedua dari depan, kedua dari paling kiri.” Miyake menggedikan kepalanya sampai poni didepan wajahnya agak tersibak kesamping.

Dada morita berdegup kencang. Dari belakang memang terlihat betul seperti Sakamoto, hanya saja memori Morita akan Sakamoto pria itu berambut agak panjang dan pirang. Beda dengan orang yang ditunjuk Miyake yang berambut agak pendek dan berwarna hitam. “Bisa aja itu orang lain kan. Udahlah Ken, aku lagi dengerin pembicaranya nih.”

“Oke aku panggil ya!”
“Eh.. Jang…”sebelum Morita sempat menghentikan sahabatnya, Miyake keburu memanggil nama yang nyaris tabu diucapkan itu, terutama didepan Nagano.
“Sakamoto!”
Suara Miyake tidak kencang. Namun desibel yang agak cempereng membuat panggilan itu sampai ke telinga orang yang hendak dituju. Pria berkemeja hitam itu menolehkan kepala ke belakang dan membelalakan mata melihat Miyake dan Morita yang duduk disana.

Pecah sudah pikiran Morita, dirinya sudah tidak fokus lagi mendengarkan apapun yang dibicarakan orang di podium. Ia bangkit berdiri bersama dengan Miyake yang mengkode Sakamoto untuk mengikuti dirinya.

Sakamoto mengikuti jalan kedua bocah pendek itu keluar gedung pameran.
“Kenapa kamu disini?” Miyake angkat bicara pertama kali. Dirinya tidak sabar untuk tidak menghardik Sakamoto yang menurutnya lancang untuk bisa satu kota, bahkan satu negara dengan Nagano.
“Saya tidak paham pertanyaan kamu. Saya memang kesini karena ada urusan kembali ke Kyoto. Salah satu penyelenggara pameran adalah saudara saya dan dia meminta saya untuk membantu dia dalam pameran ini.”

“Ngejelasin putusnya kamu sama Nagano termasuk dalam daftar “urusan” kamu nggak?” Tembak Morita gamblang.
“Iya. Sehabis mengurus pameran rencananya saya akan ke Tokyo untuk menemui Hiroshi.”
“Masih berani manggil Nagano dengan nama kecilnya?” Salak Miyake. Morita memegang tangan Miyake menenangkan pria berkaca mata korea itu. Miyake memang lebih mudah tersulut emosi, apalagi jika berhubungan dengan orang yang pernah menyakiti sahabatnya. Walau dari penampilan Miyake terlihat tidak bisa melakukan banyak, tapi ia sudah mengantongi Poom-1 dalam tae kwondo yang digelutinya sejak SMA.

“Kalau memang kamu bisa ketemu sama Hiroshi. Kamu mau bicara apa aja?”
“Saya akan jelasin semuanya, alasan kenapa saya harus putus sama dia 5 tahun yang lalu.”
“Baru jelasin sekarang?” Morita mengangkat salah satu alisnya.
“Dan kamu membuatnya seolah tindakan mutusin sepihak tanpa alasan itu sesuatu yang heroik. Nggak, Go-kun, aku ga akan biarin orang ini ketemu Nagano lagi.” Miyake menggelengkan kepalanya.
“Ketemu atau tidak bukan kamu yang menentukan.”

Miyake berdengus tapi sebelum ia menyemprot Sakamoto dengan kata-kata tersarkas yang sudah dikumpulkannya sejak ia melihat Sakamoto didalam gedung pameran sejak kali pertama, Morita sudah keburu memberikan tanggapan.
“Semua orang bisa bilang begitu, tapi kita yang ada di sisi Nagano saat ia terpuruk saat diputuskan sepihak. Kita yang ada di sisi Nagano saat dia memutuskan untuk menutup diri dari dunia luar dan menguci dirinya sendiri di kamar. Kita yang ada di sisi Nagano disaat terburuknya Nagano. Dan sebenenya bukan kamu sih yang bawa Nagano ke rumah sakit karena Nagano collapse. Ya, jadi kita yang menentukan kamu layak ketemu sama Nagano atau tidak.” Tegas Morita.
“Nagano dirawat di rumah sakit? Karena saya?”
Morita melambaikan tangan didepan mukanya seolah mengacuhkan kekhawatiran Sakamoto. “Udah telat mau khawatir juga.”
“Jadi… Masih kamu berani melihat wajah Nagano lagi setelah kamu tahu apa yang udah kamu lakuin ke sahabat saya?” Tanya Miyake yang sudah berhasil sedikit mereda emosinya.
“Ya, lusa saya akan ke Tokyo menemui dia.”

Tepat saat itu handphone Miyake berbunyi, pria stylish itu melirik ke arah layar handphonenya dan menyunggingkan senyum ironi. “Lucu ya… Karena Nagano juga ada diruangan pameran ini….”

TBC

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Chapter 1 – Histoire Du Passe

  1. ayu

    kyaaaaaaaaaaaaa… lagiiii… lagiiii….. sukaaa bangeet… bgus bgt, dan bikin ikutan pengen ngamuk ke sakamoto kyak goken…

    arigatou gozaimasu buat ficnya yg bgus bgt… 😍😍

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s