[Oneshot] Hit the Floor: One More Chance

Hit the Floor sequel: One More Chance

Hey! Say! JUMP Inoo Kei

Fujiwara Kumiko

Sato Miharu

Kanagawa Miki

Song: Fukkatsu Love – Arashi

Seperti sebelumnya, ff ini didedikasikan untuk ultah Erica. jujur, membuat ff ini penuh dengan kestresan (revisi TA terjadi saat ff ini dibuat). tapi akhirnya selesai dengan penuh kegajean dan saya cukup bahagia. :’)

Happy reading~

 

Aroma semerbak memenuhi ruangan. Bunyi pisau yang sedang memotong pun terdengar dari sana. Kumiko melirik masakannya di atas kompor, meletakkan pisaunya lalu mengambil sendok untuk mencicipi masakannya.

“Umm… Kei pasti suka!” serunya sambil tersenyum. Tangannya memasang api kecil agar masakan itu tidak cepat matang sebelum bahan lainnya dimasukkan ke sana.

Untuk beberapa waktu selanjutnya, Kumiko masih setia berada di dapurnya. Mood-nya malam ini sangat bagus karena kekasihnya berjanji akan pulang cepat. Itulah alasannya untuk membuat makanan kesukaan pacarnya dan menolak ajakan Miharu untuk ke club.

Senyum Kumiko semakin lebar saat melihat makanan buatannya sudah tertata rapi di meja makan mininya. Dia duduk sambil terus melihat makanan-makanan itu. Di kepalanya tergambar akan suasana mereka sedang makan bersama dengan penuh canda tawa karena memang mereka bukan tipe pasangan romantis layaknya pasangan lainnya, melainkan seperti teman.

Kumiko mulai gelisah, dia sudah duduk setengah jam namun sosoknya tak pernah muncul. Ia melirik jam, ini sudah terlalu larut untuk masih berada di kantor.

“Kemana dia? Jangan bilang dia lupa!” Wajah Kumiko sudah masam. Dia meraih handphone-nya lalu menelepon orang yang dimaksud.

Moshi moshi. Kei, kau dimana?” tanyanya.

“Ah, Kumi-chan gomen. Pekerjaanku belum selesai. Kau istirahat saja, tidak usah menungguku. Aku mungkin akan pulang satu atau dua jam lagi.”

“Tapi, Kei…. kau kan sudah janji..”

Gomen..” Kumiko sama sekali tidak menjawab, “Ah, sudah dulu ya. Aku sedang sibuk. Oyasumi.”

Telepon diakhiri. Kumiko menatap layar terpanya, “Kei no baka.”

Kumiko menyimpan ponselnya lalu mulai memakan semua makanan yang sudah dia siapkan tadi. Dia sudah tidak peduli dengan program diet atau segala macam cara agar bobot tubuhnya tidak bertambah. Yang dia inginkan hanya mood-nya kembali baik dan juga kehadiran kekasihnya.

 

***

 

Alarm berbunyi, Kumiko merenggangkan tubuhnya sebelum membuka matanya. Saat membuka mata, dia melihat pacarnya tertidur di sampingnya namun dia tidak begitu peduli. Kumiko langsung bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju dapur. Membiarkan alarm itu terus berbunyi. Ia memasukkan beberapa roti ke dalam panggangan.

“Kumi-chan, matikan alarm-nya.” ucap kekasihnya. Kumiko hanya melihat ke arah kamarnya tanpa ada niat untuk melakukan itu.

Kumiko kemudian melanjutkan mengurusi dirinya sendiri, mengabaikan pacarnya yang sempat berteriak frustrasi mendengar alarm yang tidak berhenti berbunyi.

Wanita bermarga Fujiwara itu duduk di meja makannya dengan beberapa helai roti panggang yang sudah diolesi selai dan segelas susu. Penampilannya sudah sangat rapi. Dia menggigit roti panggang itu dengan kesal.

Biasanya di pagi hari ia akan memasak karena kekasihnya juga akan pergi bekerja. Hari ini dia tidak melakukan itu, terlalu kesal karena kejadian kemarin. Bahkan untuk membangunkan pria itu saja Kumiko tidak mau. Biasanya akan ada ciuman selamat pagi, bergelut di tempat tidur dan barulah melakukan aktivitas pagi sebelum berangkat ke kantor masing-masing.

 

***

 

“Kenapa kau tidak membangunkanku??”

Kumiko yang menerima telepon dari kekasihnya itu menaikkan alisnya, “Habis kau tidur nyenyak sekali, lalu karena kemarin lembur jadi—”

“Tapi hari ini aku tetap masuk kerja!” potongnya.

“Maaf.” ucap Kumiko namun wajahnya sama sekali tidak menunjukkan penyesalan, “Oh iya, aku sudah menyiapkan roti panggang di meja.”

“Ya sudah, aku tutup dulu teleponnya. Aku sedang buru-buru.”

Hai, jaa ne..”

“Hm.. Pacarmu ya?”

Kumiko menoleh ketika seseorang mengajaknya bicara, “Ah, Miharu! Kau bikin kaget saja.”

“Eh?” Miharu mengerutkan keningnya, “Aku sudah dari tadi disini. Bikin kaget apanya.”

“Berisik. Aku sedang tidak ingin bicara.” Kumiko mempercepat langkah, meninggalkan Miharu yang kebingungan.

“Dasar aneh.” Miharu menggelengkan kepala heran.

 

***

 

Kumiko melangkah ke luar gedung kantor, menatap langit yang sudah gelap. Dia sengaja pulang lebih lama karena malas untuk pulang. Dan untungnya, Miharu dan Miki bisa membuatnya sedikit lupa dengan masalahnya.

Kumiko melanjutkan langkahnya untuk pulang. Dia juga sedang berusaha memantapkan hatinya untuk melupakan kekesalannya.

“Apa tidak apa-apa?” tanyanya pada dirinya sendiri. Namun sampai di apartemen pun, dia tidak mendapatkan jawaban apa-apa.

Ia membuka pintu apartemennya, terlihat sangat gelap. Kumiko menekan sakelar lampu lalu menghela napas, “Pulang lama lagi ya? Baiklah.”

Kumiko menyeret kakinya masuk ke dalam, meletakkan tasnya lalu bergerak menuju kamar mandi. Tampaknya ia harus menenangkan diri sambil berendam.

 

***

 

Sudah beberapa minggu sejak Inoo Kei pulang larut malam dan beberapa hari tidak pulang karena harus menginap di kantor untuk menyelesaikan pekerjaan.

Kumiko merasakan tidak mengerti lagi dengan hubungan mereka. Semenjak Inoo mendapat proyek besar, ia selalu pulang larut malam. Apa memang seperti itu pekerjaannya? Pertanyaan Kumiko beberapa waktu ini.

Sudah setahun sejak mereka berpacaran, tapi baru kali ini Kumiko merasa hubungan mereka akan segera rusak.

“Hei, jangan melamun~” ucap Miki sambil meletakkan botol minuman dingin di pipi Kumiko. Kumiko tersentak, “Kau pesan susu dingin kan? Ini.”

Kumiko menerimanya, “Terima kasih.”

“Apa ada? Kau sedang ada masalah?” tanya Miharu yang baru bergabung dengan mereka.

“Ya, begitulah.”

“Dengan Inoo-san? Apa dia ketahuan selingkuh juga kayak Yamada-san?” tanya Miharu lagi. Sebelum pertanyaannya dijawab, ia mendapatkan dua tatapan membunuh yang dibalasnya dengan senyuman.

“Kenapa kau terlihat begitu antusias, Miharu?” Miki menatapnya sinis, Miharu hanya cengengesan.

“Sepertinya hubunganku dengannya akan segera berakhir.”

“Eh?” Miharu dan Miki memelototi Kumiko tidak percaya.

Kumiko menyeruput minumannya, “Aku sudah tidak tahan lagi.”

“Eh? Eh? Apa yang terjadi sebenarnya?” Miki melihat Kumiko, memberi sinyal agar dia mau menceritakan masalahnya.

“Tidak ada yang terjadi. Tapi….” Kumiko menggantungkan perkataannya, membuat Miharu dan Miki penasaran, “Dia lebih mencintai pekerjaannya daripada aku, aku tidak bisa seperti ini terus.”

“Kenapa tidak bilang saja padanya? Kurasa kalau kau bilang langsung, dia akan mengerti.” kata Miharu, Miki mengangguk mengiyakan.

Kumiko menopang kepalanya dengan tangan, “Bagaimana bisa aku bilang seperti itu. Dia lebih dulu mengenal tentang arsitek daripada aku.”

“Kan kau hanya minta waktu dan perhatiannya sedikit saja, bukan berarti dia harus meninggalkan arsitek. Aku benar kan, Miharu?”

“Iya, begitu maksudku.” jawab Miharu.

Kumiko menatap kedua temannya, “Baiklah, akan kucoba.”

“Semoga masalahmu cepat selesai. Sayang kalau kalian berpisah, kau dengan Inoo-san itu cocok sekali.” ujar Miharu.

Wajah Kumiko sedikit memerah mendengarnya, “M-maksudmu apa?”

“Ya, cocok saja. Kalian serasi.” Rona merah di wajah Kumiko semakin terlihat. Ia membuang wajahnya ke arah lain. Miharu tersenyum jahil.

“Sudah, Miharu. Berhenti menggodanya, kau ini selalu saja menggoda kami.”

Miharu tertawa keras, “Ahahahaha… Habis kalian lucu sih kalau digoda begini.”

“Awas ya, nanti kami juga akan menggodamu! Nantikan saja~” kata Miki tidak mau kalah.

“Oh!” Miharu berpura-pura terkejut, “Coba saja! Ahahaha…” Dia kembali tertawa keras sambil memegang perutnya.

Kumiko tersenyum melihat tingkah teman-temannya yang terlihat kurang waras itu, “Ih, kalian berisik!”

“Peduli amat!” ucap Miharu, membuat Kumiko sedikit tersentak kaget.

“Miharu!!”

“Ahahahahaha…..”

 

***

 

Kumiko menggigit bibirnya sambil menatap jam dinding. Ia masih bingung bagaimana cara mengatakan perasaannya. Tapi kalau dia tidak segera bilang, dia tidak merasa nyaman. Entah kenapa tampak serba salah.

Bunyi jarum jam menemani Kumiko yang bergulat sendiri dengan pikirannya. Matanya terus melirik jam dinding tiap menitnya, pergerakan jam terasa begitu lamban baginya.

Kumiko menoleh ke arah pintu saat mendengar bunyi kenop pintu yang diputar. Ia menarik napas, membuat dirinya serileks mungkin.

“Eh? Kau belum tidur?” suara lembut yang dirindukan Kumiko bertanya. Untuk sesaat, Kumiko terdiam. Inoo mendekatinya, “Kumi-chan?”

Kumiko tersadar dari lamunannya, “A-ah.. belum, aku belum mengantuk.”

Inoo mengangguk mengerti lalu meninggalkan Kumiko yang masih di posisinya. Kumiko kembali duduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Kenapa? Kenapa aku tidak bisa bilang satu kata pun??” bisiknya. Untuk beberapa saat dia merutuki dirinya sendiri.

Bau sabun tercium, Kumiko menoleh ke asal bau itu. Melihat Inoo yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang dibiarkan basah dan handuk menggantung di lehernya. Kumiko menelan ludah, entah kenapa dia merasa deg-degan melihat itu. Rasa-rasanya seperi baru kali ini melihat Inoo seperti itu.

“Kumi-chan? Kau baik-baik saja?” Inoo menatapnya heran. Ia mendekati Kumiko dan memegang pipinya. Kumiko terkejut saat tangan Inoo yang dingin menyentuh kulit wajahnya, “Apa kau sedang sakit?”

Kumiko menggeleng, “Tidak kok.” Dia segera menjauh dan berjalan menuju dapur, menyiapkan makanan untuk kekasihnya.

Inoo masih melihatnya dengan tatapan heran. Ia mengikuti gadis itu menuju dapur dan mengambil segelas air mineral.

“Maaf ya..”

Kumiko memalingkan wajahnya ke arah Inoo, “Untuk apa?”

“Maaf tidak bisa menghabiskan waktu bersamamu akhir-akhir ini.” Inoo meneguk airnya sampai habis.

Kumiko tersenyum, “Tidak apa-apa, Kei. Aku mengerti kok.” Hah? Mengerti apanya?, teriak Kumiko dalam hati. Walau begitu, dia tetap tidak bisa mengucapkan apa yang ada di dalam hatinya. Dia hanya mengaduk-aduk masakannya yang ada diatas kompor.

Kumiko merasa pinggangnya dipeluk, aroma sabun yang dipakai Inoo juga menusuk hidungnya begitu kuat. Kumiko terdiam.

“Aku takut kau marah.” bisik pria itu. Benar, Kumiko memang sudah ujung batas amarahnya dan sudah-sangat-berniat untuk mengutarakan apa yang dia rasakan selama Inoo pulang larut malam. Tapi kalau begini, siapa yang bisa marah?

Kumiko luluh, dia melepaskan pelukan itu dan berbalik badan, “Sudahlah, Kei. Itu kan demi pekerjaan, aku bisa mengerti.”

Mereka saling bertatapan. Inoo memajukan wajahnya, hendak mencium Kumiko. Kumiko pun ikut terbawa suasana, dia pun mendekatkan wajahnya ke wajah Inoo.

Kreuuuk

Tinggal beberapa milimeter lagi, suara perut kelaparan menyadarkan mereka. Inoo mundur beberapa senti, salah tingkah. Kumiko tertawa.

“Aku sudah memasak makanan kesukaanmu, Kei duduk saja dulu. Sebentar lagi akan kusiapkan.”

“Setelah itu… boleh aku menciummu sampai puas?” tanya Inoo dengan menggoda.

Mata Kumiko membesar, “Mesum!” Ia memukul pelan lengan Inoo dan kemudian mereka tertawa bersama.

 

***

 

Miharu dan Miki saling melirik, kemudian melihat ke arah Kumiko dan kembali saling melirik. Begitu beberapa kali sampai mereka berdua sepakat untuk bertanya apa yang terjadi.

“Kumiko?” Miharu memiringkan kepala melihat Kumiko.

“Iya?” tanyanya dengan nada bahagia. Membuat Miharu dan Miki semakin heran.

Miki memegang bahu Kumiko, “Kau baik-baik saja kan?”

Kumiko mengangguk semangat, “Aku sangat-sangat-sangat baik!”

Miki dan juga Miharu menganga. Kumiko tidak pernah segirang ini—selain saat Kumiko resmi berpacaran dengan Inoo. Miharu dan Miki kembali beradu pandang dan melihat Kumiko yang sedang menyuap mulutnya dengan wajah cerah.

“Bahkan dia membawa bekal, apa dia masak terlalu banyak ya?” bisik Miki.

Miharu mengangkat bahunya, “Entahlah. Sepertinya begitu.”

“Kayaknya hubungan dia dengan Inoo-san membaik deh.”

“Baguslah. Kita tidak perlu mengurusi dua orang wanita yang murung sepanjang hari hanya karena lelaki.” ucap Miharu. Miki memukul kepala Miharu, “Hei, sakit!!”

“Enak saja, aku tidak murung karena si tukang selingkuh itu ya!”

Miharu nyengir, “Oke, oke, wanitanya Yaotome-san~”

“Aku belum berpacaran dengannya, Miharu!” pekik Miki. Miharu tertawa terbahak-bahak.

Kumiko melihat dua gadis yang berdebat itu, “Hei, kalian kenapa? Tampaknya seru sekali.”

Hening, Miharu dan Miki mematung mendengar pertanyaan Kumiko, “Makanya, jangan berkhayal terus!”

 

***

 

Kumiko menatap kalender dengan penuh senyuman, tinggal dua minggu lagi adalah hari ulang tahunnya. Berharap tahun ini Inoo memberinya kejutan seperti tahun lalu. Dia melingkari tanggal ulang tahunnya dengan spidol merah sambil mengucapkan beberapa harapannya untuk tanggal tersebut.

Hubungannya dengan Inoo juga masih berjalan di tempat, tapi Kumiko sudah tidak mau mengeluh lagi. Setidaknya, sampai hari ulang tahunnya.

Kumiko meraih ponselnya, membuka gallery foto dan melihat foto-foto yang ada di sana satu per satu. Tangannya terhenti di sebuah foto dirinya bersama dengan Inoo. Menatapnya intens, berbagai perasaan yang tidak bisa Kumiko mengerti membuncah di dadanya. Rasa sedih, rasa bahagia, semua keluar di saat yang sama.

Tiba-tiba handphone-nya berbunyi tanda pesan masuk. Kumiko langsung membukanya, dari Miki.

“Eh? ‘Kapan kita akan merayakan ulang tahun kita? Tanggalku atau tanggalmu?’? Apa ini?” Kumiko tertawa kecil dan menggeleng, “Dasar.”

 

***

 

Kumiko melihat sekelilingnya, berada di ruangan VIP di sebuah restoran mewah yang entah dimana itu membuatnya menganga. Belum lagi ruangan itu di dekor dengan banyak balon serta ada tulisan ‘Happy Birthday Miki and Kumiko’. Di ruangan itu hanya ada dirinya, Miharu, Miki dan Hikaru—yang sekarang sudah menjadi pacarnya. Tidak itu saja, kue ulang tahun dan makanan lainnya juga terlalu mewah. Sebelumnya dia sudah bingung, kenapa mereka pergi dengan mobil. Dan ternyata Hikaru-lah yang membuat ini.

“Kenapa Inoo-san tidak diajak? Sibuk?”

Kumiko mengangguk, “Hm.. Dia bilang hari ini sangat sibuk. Kau sendiri, tidak membawa pacarmu, Miharu?”

Miharu mematung. Sepertinya dia tidak menyangka akan ditanya balik, “Ehehe… Memangnya kenapa? Kau penasaran dengan pacarku?” tanya Miharu balik.

“Tentu saja! Memang sudah berapa kita kenal? Sampai saat ini kami belum pernah melihat pacarmu. Bahkan fotonya saja tidak pernah kau kasih lihat!” jawab Kumiko geram.

Miharu tertawa geli, “Sudahlah. Ayo kita nikmati pesta bertambah tuanya kau dan Miki. Ahaha…”

“Miharu ini… apa tidak pernah mulutnya tidak menggoda atau berkata kasar?” kata Miki yang mendengar omongan Miharu sambil menggeleng.

 

***

 

Kumiko melambaikan tangannya sambil tersenyum saat mobil yang dia tumpangi melaju meninggalkannya. Kemudian ia melirik jam tangannya, sudah jam duabelas lewat. Matanya sedikit melebar dan segera berlari menuju gedung apartemennya.

Setelah sampai di depan pintu apartemennya, dia menarik napas kuat-kuat kemudian membukanya pelan-pelan. Gelap. Tempat tinggalnya tidak ada cahaya. Apa pacarnya sedang menyiapkan sesuatu untuknya? Hari ini kan sudah hari ulang tahunnya.

Kumiko meraih sakelar lampu dan menekannya. Tidak ada apa-apa, bahkan pernak-pernik ulang tahun tidak menghiasi ruangan. Gadis itu menghela napas berat.

Oke, hari ini baru saja dimulai., ucap Kumiko pada diri sendiri sambil tersenyum. Dia pun segera beristirahat.

 

***

 

Subject: gomen

 

Kumi-chan, gomen! Aku tidak pulang untuk beberapa hari ke depan karena sedang di luar kota. Maaf baru memberi tahu karena kemarin ponselku mati. -Kei-

 

Mata Kumiko seakan-akan mau keluar dari tempatnya saat membaca email dari Inoo. Dia terus membacanya berulang-ulang, siapa tahu saja dia salah membaca.

“APA-APAAN DIA ITU?? INI KAN HARI ULANG TAHUNKU!!!” teriak Kumiko di pagi hari. Dia tidak peduli kalau tetangganya bisa mendengar suaranya.

Tidak, Kumiko sudah tidak tahan. Dia ingin mengakhiri hubungan ini saja.

Kumiko yang kesal melempar-lempar bantalnya ke lantai. Mood-nya sangat buruk. Sepertinya dia mau bolos kerja saja hari ini.

 

***

 

Ojamashimasu…” ucap Miki dan Miharu berbarengan.

Mereka segera masuk setelah Kumiko mempersilakan. Sebenarnya Kumiko tidak ingin ada yang mengunjunginya hari ini, tapi kedua makhluk itu terus saja merengek dan mengekorinya sampai ke gedung apartemen. Mau tidak mau, Kumiko pun membawa mereka dengan setengah hati.

“Kalian tahu, bahkan dia memberi selamat saja tidak. Aku ini penting tidak sih?” keluh Kumiko sambil memberi sekaleng bir pada Miharu dan Miki masing-masing, “Aku tidak perlu sesuatu yang romantis, bilang ‘Selamat ulang tahun, Kumi-chan~’ juga sudah cukup!”

Miki dan Miharu saling menatap dalam diam, membuka kaleng birnya dan meminum isinya sambil mendengar segala ocehan Kumiko. Padahal mereka mengunjungi Kumiko dengan niat untuk menghibur gadis itu, tapi sepertinya membiarkan gadis itu meluapkan apa yang dirasakan adalah cara yang tepat saat ini.

 

***

 

Beberapa hari berlalu sejak ulang tahun Kumiko, dia sama sekali tidak menghubungi kekasihnya. Pria itu pun begitu. Tekad Kumiko sudah bulat, sepulangnya Inoo dari luar kota, dia akan mengakhiri hubungan mereka. Kalau pun tidak bisa, dia akan terus bertanya apa arti dirinya di mata pria bermarga Inoo tersebut.

Hari ini Kumiko mengambil libur, dia berencana untuk menghabiskan waktunya dengan berjalan-jalan dan pulang saat sore. Lumayan untuk me-refresh pikirannya yang kusut.

Kumiko melihat list yang sudah dia buat kemarin, kemana saja dia akan pergi sudah dibuat dalam list itu. Kumiko tersenyum, kemudian beranjak menuju lemari pakaian. Mengacak-acak isi lemari dan beberapa menit kemudian dia menemukan pakaian yang pas untuk dia kenakan. Dia juga menggunakan make up tipis dan mengatur rambutnya. Kumiko tersenyum melihat pantulan dirinya di cermin.

Ia melirik jam dinding sekilas, “Ups, saatnya pergi~” katanya lalu keluar dari rumah.

Tanpa terasa, hari pun berganti menjadi sore. Sudah waktunya bagi Kumiko untuk pulang. Ia melihat list-nya sekali lagi. Semua sudah tercapai, mencicipi kue di toko kue yang baru buka, membeli manisan, memakan es krim dengan rasa terbaru, sampai ikut lomba makan pun sudah dia ikuti. Tapi dia tidak ingin pulang. Kumiko pun memilih untuk duduk di taman sambil memakan crepe yang baru saja dia beli.

Kumiko menggigit crepe-nya lalu merasakan angin berhembus lembut di kulitnya. Gadis itu merasa begitu tentram, untuk sementara dia lupa akan masalahnya. Kumiko tersenyum lembut.

Saat gigitan terakhir pada crepe-nya, handphone Kumiko berbunyi. Kumiko melihatnya dan membuka email yang baru saja masuk.

“Eh?” kagetnya. Kumiko langsung beranjak dari taman dan berlari.

 

***

 

Tada—”

Okaeri, Kumi-chan.” sambut Inoo, Kumiko tersenyum.

Kumiko berjalan masuk, “Apa kau lelah?” katanya. Tapi matanya sedang mencari-cari sesuatu. Entah kenapa dia berharap ada sebuah kotak berisi kue tart khusus untuk merayakan ulang tahunnya. Terdengar kekanakan, tapi dalam benak Kumiko ia benar-benar menginginkan sebuah kejutan dari pria spesialnya itu.

“Yah, begitulah..” Inoo duduk di sofa, meletakkan kepalanya di kepala kursi.

Sementara Kumiko sudah berada di dapur, membuka lemari es dan masih berharap ada tart. Sayangnya, imajinasinya terlalu tinggi. Inoo sama sekali tidak membuat kejutan apapun, mungkin saja laki-laki itu lupa dengan ulang tahunnya.

“Ah, Kumi-chan.. aku lapar, tolong buatkan aku makanan.” suruh pria itu. Alis Kumiko menaik, ia dipanggil karena ini? Kumiko bukanlah juru masak!

“Kei..” panggilnya dengan suara datar.

“Hm?”

“Kau menyuruhku pulang hanya untuk memasak?”

“Ya, aku lapar karena tidak makan sama sekali sejak pagi.”

Alis Kumiko berkedut, “Hah? Terus kau pikir aku ini pelayanmu?”

“Kau kenapa?” Inoo melihatnya, Kumiko masih berada di dapur, “Sudahlah, aku mohon.”

“Tidak! Aku tidak akan memasak untukmu! Aku bukan pelayanmu!”

Inoo yang sudah letih mulai ikut naik darah dan berdiri, “Maksudmu apa sih? Siapa yang menganggapmu pelayan?”

“Kau!” Kumiko menunjuk pria itu, “Kau bahkan tidak mengingat ulang tahunku! Aku ini pacarmu bukan sih?”

“Berhenti kekanakan!” bentak Inoo. Amarah Kumiko makin menjadi.

“Aku pikir kau memanggilku karena ingin memberi kejutan, tapi ternyata kau menyuruhku memasak. Selama ini kau juga tidak pernah menghabiskan waktu denganku, pasti selingkuh kan? Tapi kau bilang kau sibuk padaku.”

Inoo memijit keningnya, “Kumi-chan, cukup..”

“KAU BILANG CUKUP? Aku mempunyai kekasih, tapi merasa tidak punya sama sekali! Dimana kau ketika aku membutuhkanmu? Dimana? Apa aku memang penting bagimu? Yang kau pikirkan hanya kerja, kerja dan kerja saja. Kapan kau memikirkanku?!” Kumiko sedikit meninggikan suaranya. Matanya mulai berair, sakit saat mencoba menahan luapan emosinya sendiri.

Inoo sendiri menatap nanar ke arah Kumiko. Ia mulai tidak bisa menahan dirinya sendiri.

“Kenapa? Kalau kau memang tidak bisa menjawab, ya sudah. Kita berhenti sampai disini saja.”

“Oh, begitu? Baiklah, terserah kau saja!” jawab Inoo.

Mereka saling beradu pandang, Kumiko mengendus kesal lalu berjalan menuju kamar mereka. Mengemasi barang-barang miliknya dengan terburu-buru ke dalam koper lalu berjalan ke luar apartemen dan barulah airmata Kumiko mengalir.

Sementara Inoo tersadar dari amarahnya saat Kumiko sudah ada di luar gedung apartemen. Ia mengejarnya namun wanita itu sudah berada di dalam sebuah taksi yang segera melaju. Inoo hanya bisa melihat taksi itu sampai tak terlihat lagi.

 

***

 

Ting Tong~

Miharu yang sibuk dengan masakannya sedikit jengkel mendengar bunyi bel. Dia tidak suka diganggu saat sedang memasak. Ia mematikan kompornya dan membuka celemeknya lalu berjalan menuju pintu. Miharu melihat ke arah monitor dan terkejut siapa yang ada di depan pintunya.

“Kumiko?” tanya Miharu saat membuka pintu dan langsung diserbu oleh Kumiko dengan pelukan, “Ada apa? Ayo masuk.”

Miharu menyeret Kumiko beserta kopernya masuk ke dalam dan menutup pintu. Kumiko menatap Miharu dengan tatapan kosong. Miharu bisa menebak apa yang terjadi pada gadis itu.

“Ah, sebentar ya. Tadi aku sedang memasak dan sedikit lagi selesai. Aku tinggal dulu tidak apa-apa ya?” ucapnya. Kumiko tersenyum tipis lalu mengangguk, “Kau mau minum apa?”

“Air mineral sudah cukup.” katanya dengan suara parau. Sepertinya selama perjalanan menuju apartemen Miharu, ia menangis.

“Baiklah, akan aku ambilkan.”

Miharu berlalu ke dapur, Kumiko melihat sekeliling apartemen Miharu. Sudah banyak berubah sejak dia terakhir kesini.

 

***

 

Miharu meletakkan piring di depan Kumiko, Kumiko meliriknya, “Kare!”

Miharu tersenyum, “Makan sepuasnya, Kumiko.”

“Huh, yang ada aku jadi ingat orang itu! Ini kan makanan kesukaannya!”

“Ah, begitu ya.. Maaf.” Miharu duduk di sebelah Kumiko, “Jadi apa yang terjadi?”

“Ya begitu, aku putus dengannya lalu pergi dari tempatnya~” Kumiko menyuap mulutnya, “Hm.. oishii!”

Miharu melirik koper Kumiko, “Jadi kau berencana untuk tidur disini?”

Kumiko mengangguk cepat, “Un, boleh ya? Kau kan tinggal sendiri. Kalau ditempat Miki, tidak mungkin kan. Dia pasti bersama Yaotome-san.” Kumiko mengangkupkan tangannya di depan wajahnya, “Boleh ya? Aku mohon…”

Miharu menghela napas, “O—”

Tadaima!”

“Heh? Miharu tinggal dengan seseorang? Siapa?” tanya Kumiko mencoba melihat ke arah pintu.

Sementara Miharu membesarkan matanya lalu menghalang-halangi Kumiko melihat ke pintu.

“Eh?” kaget Kumiko. Miharu seakan-akan tidak bisa bernapas. Kumiko pasti sudah melihat sosok yang datang ke tempatnya, “Presdir Sakurai?!”

“Ah, kau Fujiwara-san kan?” tanya orang yang dipanggil presdir itu dengan senyum, Kumiko mengangguk.

“Miharu, kau berpacaran dengan Presdir? Pantas saja kau tidak mau menunjukkannya kepada kami.”

Miharu menggeleng kuat, “Bukan, ini bukan seperti yang kau bayangkan, Kumiko. Percaya padaku.”

Kumiko menaikkan alisnya bingung, “T-tapi.. Dia bilang tadaima, berarti kalian tinggal bersama kan?”

“Bukan!” marah Miharu. Pria bermarga Sakurai itu tertawa melihat mereka, “Sho-san, tolong jelaskan yang sebenarnya. Buat dia tidak salah paham.”

“Bukannya kita memang berpacaran?” Sho tersenyum manis, Miharu melihatnya dengan tampang terkejut, “Bercanda. Kami ini bertetangga.”

“Tetangga?” Kumiko tahu kalau Miharu tinggal di apartemen yang cukup mewah, namun untuk seorang Presdir sepertinya aneh.

“Ada banyak hal yang terjadi.” jawab Miharu. Kumiko mengangguk mengerti.

“Ah, lapar~ Kau masak apa, Miharu?” Sho berjalan menuju dapur, “Ah, kare!”

Miharu dan Kumiko melihat pria itu. Kumiko lumayan terkejut melihat presdirnya berbeda dengan di kantor dan di sini dan juga hubungan temannya dengan atasannya itu, “Miharu, bagaimana ceritanya kau bisa sedekat ini dengan presdir?”

Miharu tersenyum penuh arti, “Begini…” Kumiko sudah membuka telinganya besar-besar, “Kenapa kau tidak cerita saja dulu masalahmu sampai tuntas?”

 

***

 

“Kumiko…”

“Ya?” Kumiko berbalik badan, sudah ada Miki di sana, “Ada apa?”

“Kemarin, kau kemana saja? Kau tahu, Inoo-san berkali-kali meneleponku. Nomormu juga tidak aktif.”

“Eh?” Kumiko kaget namun seketika berekspresi datar, “Untuk apa dia mencariku? Kami kan sudah tidak berhubungan lagi.”

“Eh???”

Kumiko mengibaskan tangannya, “Sudahlah, ganti topik~”

“Bagaimana bisa itu terjadi? Kau kan..”

“Kubilang ganti topik!” kesal Kumiko, walau sebenarnya didalam hati ia merasa sedikit senang karena Inoo mencarinya.

 

***

 

Seorang pria berdiri di depan sebuah gedung yang dia ketahui sebagai tempat kekasihnya bekerja. Ia melirik jam, jam pulang masih cukup lama. Dia sengaja pulang lebih awal agar bisa bertemu dengan tambatan hatinya. Ya, dia ingin meminta maaf.

Ia berjalan bolak-balik di depan gedung itu. Bahkan sudah beberapa kali Satpam di sana menegurnya dan menyuruh menunggu di dalam namun ia menolak.

“Kumi-chan…” ucapnya saat melihat gadis itu keluar dari lift bersama dua temannya. Wajahnya terlihat ceria, membuat pria itu melukis senyum tipis di wajahnya. Lega kalau wanitanya baik-baik saja.

“Miharu, nanti kau masak apa?” tanya Kumiko penasaran.

Miharu berpikir sejenak sambil meletakkan telunjuknya di bibir bawahnya, “Hm… aku belum memikirkannya sih.”

“Apa orang itu yang menentukan menu masakanmu?”

“Orang itu?” Miki kebingungan. Miharu menyikut Kumiko untuk diam, tapi dia malah tertawa. Selama menuju pintu gedung, dia tertawa dan Miki terus bertanya karena bingung. Sementara Miharu memilih untuk diam.

“Kumi-chan…”

Mata Kumiko melebar, langkahnya terhenti. Panggilannya yang hanya berasal dari orang itu. Suara yang memanggilnya sangat ia kenal. Suara Inoo Kei. Pria itu berjalan mendekati Kumiko, Miharu dan Miki hanya bisa saling beradu pandang.

“Kumi-chan, kita harus bicara.” Inoo menatap gadis itu dengan penuh harap.

“Bicara apa lagi? Kita sudah tidak ada hubungan lagi.”

“Tapi…”

“Tidak ada tapi-tapian.. Miharu, ayo..” Kumiko pergi meninggalkan Inoo yang terus melihatnya. Andai bukan ditempat umum, ia ingin sekali menyeret gadis itu kemudian memeluknya.

“Maaf, Inoo-san. Aku juga tidak bisa membujuknya.” Miharu menunduk pada Inoo.

Inoo tersenyum, “Tidak apa-apa, aku yang akan berusaha membujuknya.”

“Miharu!” Miharu melirik Kumiko, wanita itu memandangnya kesal.

“Sato-san, tolong jaga Kumiko. Aku akan segera menjemputnya.”

“Baiklah, serahkan padaku.”

Inoo kembali tersenyum lalu pamit pada Miharu dan Miki.

“Lihat? Inoo-san itu pria yang baik.” ucap Miki.

Miharu mengangguk membenarkan, “Tapi dia juga salah sih.”

“Benar juga..”

 

***

 

“Kumiko!” panggil Miharu, “Kumiko!!”

“Apa?” jawab Kumiko malas. Ia duduk dengan menempelkan wajahnya ke meja makan, Miharu yang melihatnya dari dapur hanya bisa menghela napas.

Handphone-mu berbunyi terus! Mengganggu saja!”

Kumiko melihat layar terpanya, nama Inoo tertera sebagai panggilan tak terjawab. Entah sudah berapa kali pria itu memanggilnya, namun Kumiko enggan untuk menjawabnya.

“Kenapa tidak diangkat sekali saja? Mungkin dia akan berhenti meneleponmu.” saran Miharu. Ia mulai emosi mendengar dering Kumiko, Kumiko pun tampak tidak mau mematikan suaranya.

Sesaat kemudian, handphone itu kembali berdering. Ia melihat Miharu, seakan-akan bertanya haruskah dijawab dan Miharu mengangguk. Mau tidak mau ia menuruti temannya itu.

Moshi moshi..”

“Akhirnya kau menjawab teleponku, Kumi-chan.”

Kumiko memutar bola matanya, “Ya, ya. Ada yang mau kau sampaikan? Kalau tidak, akan aku matikan”

“T-tunggu.” Hening sejenak. Kumiko sedikit penasaran dengan apa yang akan Inoo sampaikan, “Aku ingin kita kembali seperti dulu.”

Dalam hatinya, Kumiko masih menyayangi pria itu. Tapi ego yang dia miliki menahannya untuk mengatakan hal itu.

“Aku tahu aku salah, tolong maafkan aku. Kalau kau tidak bisa memaafkanku sekarang, aku akan menunggu sampai kau bisa memaafkanku, Kumi-chan.”

“Itu saja yang mau kau sampaikan? Baiklah, akan kumatikan. Selamat malam.” kata Kumiko kemudian menyimpan handphone-nya di saku celana.

“Bagaimana?” tanya Miharu. Kumiko berjalan mendekati wanita itu, mengambil bahan masakan yang akan Miharu ambil dan memasukkannya ke dalam panci.

“Dia meminta maaf.”

“Lalu? Kenapa kau tidak memaafkannya?”

Kumiko menghela napas, “Kau tahu kan, aku sudah menanggung kesedihan selama ini sendirian. Mana mungkin semudah itu aku memaafkannya.”

“Tapi… tidak semua pria bisa melakukan apa yang Inoo-san lakukan.” ucap Miharu.

Kumiko menyerah, “Baiklah, baiklah. Akan aku pikirkan.” Miharu memberikan senyumnya pada Kumiko, “Kau sebenarnya mau mengusirku dari sini biar kau bisa lebih banyak waktu dengan presdir Sakurai kan?”

“Jangan membuat gosip yang tidak-tidak!” Miharu mencubit lengan Kumiko dengan keras.

“Akh, ampun.. ampun.. Baiklah, aku tidak akan menggodamu lagi.” Kumiko menepis tangan Miharu lalu mengelus bekas cubitan Miharu, Miharu tersenyum penuh kemenangan.

 

***

 

Selama seminggu terakhir, Inoo mengirimkan banyak email pada Kumiko. Sama persis saat Inoo sibuk dan Kumiko terus-terusan mengirimkan email. Dan kumiko bertindak sama seperti yang Inoo lakukan saat itu, membacanya dan tidak membalasnya.

“Ayolah, Kumiko. Aku sudah capek jadi tempat Inoo-san mencari info tentangmu. Dia benar-benar khawatir padamu.” kata Miki. Kumiko hanya melihat Miki tanpa menanggapi ucapannya.

“Kau ini seperti anak kecil. Kalau masih suka, ya bilang saja suka. Kalau tidak, selesaikan dulu masalah kalian.”

Kumiko memajukan bibirnya mendengar perkataan Miharu, “Aku ingin memberinya pelajaran. Aku hanya ingin dia merasakan apa yang aku rasakan selama ini.”

Miharu dan Miki hanya memberikan Kumiko tatapan yang seolah-olah berkata ‘terserah.’. Tiba-tiba Miki mendapatkan sebuah ide. Ia mengambil ponselnya dan dengan cepat mengetik lalu mengirimkannya kepada Miharu.

Miharu menyatukan alisnya bingung saat nama Miki tertera dilayar telepon genggamnya. Dia melihat Miki sejenak, Miki member isyarat untuk membuka pesan tersebut. Miharu pun membukanya dan membacanya.

Bagaimana kalau kita mempertemukan Kumiko dengan Inoo-san? Tapi jangan sampai Kumiko tahu.

Miharu melirik Kumiko lalu ke arah Miki, senyum mengembang di wajahnya lalu mengangguk. Miki ikut melakukan hal itu.

 

***

 

“Kumiko, kau sedang apa?” tanya Miharu saat memasuki kamarnya yang sekarang dibagi dengan Kumiko.

Kumiko yang sedang membuka gallery fotonya tersentak kaget lalu mematikan layar handphone-nya, “Tidak ada, hanya berjelajah di internet.” Miharu mengangguk, “Apa Sakurai-san sudah selesai makan?”

“Hn, dia sudah pulang setelah makan.”

“Heh… Hubungan kalian aneh sekali. Hanya tetangga, tapi selalu menumpang makan di rumahmu. Jangan-jangan dia suka padamu, Miharu.” kata Kumiko menggoda.

“Ya, biarkan saja dia suka padaku. Asal bukan aku yang suka padanya dan menjadi gila saat aku tidak bisa bersamanya.” sindir Miharu dan tepat sasaran.

“Apa maksudmu?”

Miharu hanya tersenyum, “Tidak ada. Ngomong-ngomong, jalan yuk.”

“Eh?” Kumiko manyun, “Kemana? Kenapa tidak bersama Sakurai-san saja?”

Miharu menjitak kepala Kumiko, “Kenapa selalu membawa-bawa nama Sho-san sih? Sudahlah, ayo ikut denganku.” Miharu menarik tangan Kumiko sampai gadis itu meninggalkan tempat tidur.

 

***

 

“Miharu, ini kemana sih?”

“Ke taman, masa kau tidak tahu?”

Kumiko melihat taman itu. Tempat yang sangat berarti baginya, ada sebuah kenangan ditempat itu.

“Untuk apa kesini, Miharu?”

“Aku tidak pernah bilang ya? Kalau aku sedang ada masalah, aku selalu datang ke tempat ini.”

Kumiko menatap Miharu dalam-dalam. Kalimat itu sangat familier, kalimat yang keluar dari bibir Inoo Kei dulu.

“Ah, kau tunggu disini sebentar ya. Aku mau beli minuman dulu, mau titip?” tanya Miharu, Kumiko menggeleng, “Oke, tunggu sebentar saja.”

Miharu berlari menjauh dari Kumiko. Kumiko melihat sekeliling taman, teringat akan kejadian itu. Tempat dimana ia dan Inoo memulai cintanya.

“Kumi-chan..” panggil seseorang membuyarkan lamunannya, melihat ke asal suara dan terlihat Inoo berjalan mendekatinya.

Kumiko memaki-maki Miharu dalam hatinya, pasti dia sudah merencanakan ini sebelumnya, “Kau lagi. Apa tidak bosan menggangguku terus?”

“Tidak, sampai kau mau memaafkanku.”

Kumiko menghela napas, “Oke, aku memaafkanmu. Sudah kan?”

“Kumi-chan, aku benar-benar menyesal. Aku berjanji akan berubah, aku akan lebih memperhatikanmu. Tolong berikan aku kesempatan sekali lagi, kembalilah padaku.” Kumiko menatap wajah Inoo yang penuh penyesalan, “Kau tahu, waktu itu aku sedang sangat capek dan akhirnya aku terpancing emosi. Aku tidak bermaksud untuk mengakhiri hubungan kita.”

Kumiko bukan orang yang tega, melihat Inoo mengiba padanya membuat wanita itu ingin sekali memeluk pria itu dan mengatakan kalau Kumiko juga tidak pernah mau berpisah dari Inoo.

“Tapi kalau memang kita ti–“

“Oke, aku akan memberikan satu kesempatan lagi. Tapi..” Wajah Inoo tampak sedikit merasa lega, “Kalau kau melakukan hal yang sama sekali lagi, kita benar-benar putus dan tidak akan saling menghubungi satu sama lain. Bagaimana?”

“Baiklah, aku tidak akan mengingkari janjiku.” jawab Inoo. Kumiko memberikan senyumannya pada Inoo dan dibalas oleh pria itu, “Err.. Kumi-chan?”

“Iya?”

“Boleh aku memelukmu?”

Kumiko tertawa kecil, “Baka!” Ia merentangkan tangannya, memberi sinyal untuk dipeluk. Inoo langsung memeluknya erat, seakan-akan tidak ingin dia lepas lagi selamanya. Kumiko membalas pelukan itu, ia merindukan kehangatan seperti ini.

“Aku tidak akan membiarkanmu pergi lagi, Kumi-chan.” ucapnya, mengeratkan pelukannya. Kumiko mengangguk dalam pelukan hangat itu. Cintanya kembali dimulai ditempat yang sama, di taman yang penuh kenangan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s