[Multichapter] Flavor Of Love (Chap 8)

Flavor Of Love
By. Dinchan
Multichapter (Chapter 8)
Genre   : Romance, Friendship, Family, Drama
Rating   : PG-13
Starring  : Takaki Yuya, Inoo Kei, Yaotome Hikaru, Yabu kota, Arioka Daiki (Hey! Say! JUMP); Ueno Asami, Tanaka Shiori, Yaotome Hikari, Suzuki Yuina, Mitsumiya Kanon (OC)
Disclaimer : I don’t own all characters here. Hey! Say! JUMP members are under Johnnys & Associates; the rest of the casts are my own original characters.
COMMENTS ARE LOVE. It’s just a fiction please read it happily. Fanfiksi ini adalah murni karena saya terlalu banyak ide dan ingin sekali dituangkan pada sebuah cerita. Hahaha. PLEASE COMMENT IF YOU READ, your comment means so much for me.. ^^

Yuina membiarkan Yabu dan Shiori berlalu dari hadapannya. Dia pun mulai mencari baju yang pantas diberikan pada Yukari, yang harganya pun masih terjangkau olehnya. Mengingat Yukari yang sabar menunggunya jika ia terlambat menjemput, atau jika melihat gadisnya itu hanya tertawa saat ulang tahun kemarin tidak sempat ia belikan kado, rasanya sudah seharusnya sekarang Yuina membelikan sesuatu untuk Yukari, walaupun tidak mahal.

Ia bergerak ke deretan baju natal, tidak praktis membelikan baju pesta natal, lagipula mereka tidak akan menghadiri pesta apapun. Ia menimbang-nimbang apakah  sebaiknya membelikan baju, sepatu atau bahkan tas, dengan pertimbangan jika membeli tas maka akan bisa dipakai lebih lama.

“Biru atau ungu ya?” Yuina bergumam sambil membalik-balik tas yang sedang dia pegang.

“Beli buat siapa?”

Yuina otomatis hampir melompat karena kaget, dan ketika menoleh ternyata Hikaru yang sedang menyapanya, “Demi Tuhan Hikkaaaa!!” Yuina mencubit pipi Hikaru yang lalu beraduh-aduh karena kesakitan.

“Aduuhhh, sakit tau!” Hikaru mengelus-elus pipinya yang kini merah karena cubitan Yuina, “Untuk Yukari-chan?” Hikaru ikut-ikutan melihat-lihat tas untuk anak kecil itu.

Yuina mengangguk, “Ngapain di sini?”

“Sebenarnya mau cari hadiah untuk istriku, karena pagi ini aku harus ke hotel karena ada acara dan Hikari sepertinya agak ngambek,” ucap Hikaru.

“Ya sudah sana cari kadonya! Jangan tunggu istrimu marah!”

“Hahahaha, aku tunggu kau sebentar deh! Nanti tolong pilihkan ya, Yui,” Hikaru memerhatikan Yuina yang akhirnya mengambil sebuah tas berwarna biru bergambar panda dan mengikuti langkah Yuina ke kasir setelahnya.

Yuina tiba-tiba mengingat momen natalnya bersama Hikaru bertahun-tahun lalu. Saat itu Hikaru dan Yuina berjanji untuk bertukar kado, karena Yuina jarang sekali mendapat kado dari Ayahnya, bahkan ketika natal tiba. Saat itu mereka masih SMP kelas satu, dan Yuina berusaha membuatkan sebuah syal rajutannya sendiri, mengerjakannya sejak bulan Oktober. Wajah Hikaru saat menerimanya memang tidak bisa Yuina lupakan, berseri-seri walaupun rajutan tangannya masih jauh dari kata rapi. Tapi Hikaru menghargainya, dan masih ia pakai sampai mereka tidak bertemu lagi saat Hikaru pindah ke Tokyo. Hadiah dari Hikaru saat itu adalah sebuah buku diary yang tebalnya mengalahkan tebal sebuah novel, masih Yuina simpan hingga sekarang.

“Yui, gimana? Mending kalung atau gelang?” Hikaru mengambil gelang dan kalung yang ia minta pada petugas, menunjukkannya pada Yuina.

“Uhm… kayaknya gelangnya lebih bagus deh,” ucap Yuina.

Hikaru melihatnya lagi dengan seksama dan akhirnya memutuskan untuk membeli gelang seperti yang Yuina katakan.

“Mau makan sebelum pulang?” tanya Hikaru, namun Yuina menggeleng.

“Hey ini hari natal loh, kamu harus cepat-cepat menemui istrimu!” katanya mengingatkan ketika mereka berjalan keluar dari toko perhiasan.

Hikaru akhirnya memeluk Yuina sekilas, “Baiklah, ketemu lagi di…” belum sempat Hikaru menyelesaikan kalimatnya, sebuah derap langkah cepat terdengar dan menghampiri mereka.

“YUINA!!” ternyata suara itu datang dari mulut seorang Yabu Kota yang berlari menghampiri mereka berdua, “Hikaru?” pandangannya menatap hikaru heran, namun Shiori menarik-narik baju Yabu seperti ingin mengatakan sesuatu, “Komplikasi terjadi pada Ayahmu! Kita harus segera ke Rumah sakit!!”

Yuina tiba-tiba merasa dunianya gelap, ia panik sementara Hikaru menarik Yuina dan segera menghubungi supirnya, kebetulan tadi Hikaru datang dengan supir kantor karena malas berkendara dalam keadaan macet.

Yabu berkata bahwa ia akan ambil mobil dengan Shiori sementara Hikaru dan Yuina menunggu supir Hikaru menjemput mereka.

“Tenang Yui… tenang, jangan panik,”

Tidak bisa dibendung lagi, Yuina menangis sejadi-jadinya.

***

“Kau mau apa?” pertanyaan yang keluar dari mulut Ruiko begitu lantang, di sela jarinya terselip sebatang rokok, “Putus? Kau bercanda?” Ruiko menghembuskan asap rokoknya ke udara, seakan-akan asap tersebut adalah rasa stressnya yang kini ia coba buang jauh-jauh.

“Iya. Aku sudah ingin mengatakannya semalam,” tapi kau menyerangku begitu aku masuk ke apartemen, tambah Daiki dalam hati. Daiki beranjak mengambil boxernya, dan kaos hitam yang ia pakai semalam untuk menutupi tubuhnya. Ia bergerak ke arah dapur untuk mengambil sebotol air mineral.

Ruiko terlihat menggeleng frustasi, “Aku mencintaimu, Dai-chan,” nada suaranya nyaris putus asa dan wajah Ruiko terlihat sedih, dengan gerakan cepat Ruiko menyimpan rokoknya di atas asbak dan menghampiri Daiki, berdiri tepat di hadapan pemuda itu dan kini memeluk Daiki dengan posesif, “Aku mencintaimu,”

Alasan klasik. Berjuta-juta kali Ruiko mengatakannya, Daiki semakin lama semakin tidak percaya.

Daiki mendesah dan melepaskan dekapan Ruiko, “Kalau kau benar mencintaiku, kau mau meninggalkan suamimu demi aku?”

Keheningan lalu tercipta dengan wajah Ruiko yang terlihat kaget, “Kau tau kalau aku melakukan itu, Ayah dan Ibuku….”

“Itu masalah Ayah dan Ibumu atau kau memang tidak mau melepaskan kenyamanan yang kau rasakan sekarang?” Daiki menjauh dari Ruiko, “Bisakah kau melepaskan kehidupan mewahmu? Lalu hidup bersamaku, di apartemen ini, aku hanya pegawai magang, mungkin kau juga nanti harus bekerja paruh waktu, bagaimana?”

Wajah Ruiko seketika terlihat bingung dan menimbang-nimbang jawaban yang harus ia lontarkan pada Daiki.

“Pernahkah kau benar-benar memikirkan untuk pisah dengan suamimu dan bersamaku saja? Atau kau tidak benar-benar menginginkannya?”

Walaupun Ruiko tidak menjawab, Daiki bisa memperkirakan apa yang sedang dipikirkan Ruiko yang terlihat serba salah, membuat Daiki menggeleng dan mendesah pelan, “Aku harus pergi,” Daiki melangkah ke kamar mandi untuk bersiap-siap mendatangi Kanon seperti janjinya.

Ruiko masih duduk di atas kasur, dalam diam ketika Daiki selesai mandi dan mengambil beberapa baju dari lemarinya, “Aku akan ambil barang-barangku nanti,” katanya sambil berlalu dari hadapan Ruiko, keluar dari apartemennya.

Daiki merasa melangkah lebih ringan, hatinya lebih leluasa setelah memberikan pernyataan tegas kepada Ruiko. Sudah lama sebenarnya dia ingin sekali menanyakan hal itu pada Ruiko, tapi bibirnya kelu setiap kali Ruiko merayunya dan memberikan janji setia kepadanya.

“Dai-chan?” suara Kanon di ujung telepon saat Daiki mengangkat ponselnya.

“Di mana?” tanya Daiki yang sudah sampai di apartemen milik Kanon namun tidak menemukan wanita itu dimanapun.

“Aku akan pulang agak malam,” ucapnya terdengar lirih, membuat Daiki jadi cemas.

“Kau tidak apa-apa?!”

Kanon terdengar berdehem, “Nanti aku ceritakan, maaf ya Dai-chan,” Rencana mereka ke Yokohama memang sudah hancur gara-gara pekerjaan mereka, dan walaupun begitu mereka ada rencana untuk pergi saat malam tahun baru saja.

Daiki memutuskan untuk tidur dulu saja sambil menunggu Kanon datang, dia tiba-tiba saja mengingat terakhir kalinya menelepon Ibunya, sepertinya sudah lama sekali dia tidak menghubunginya. Karena melawan Ayah, Daiki pergi dari rumah selepas lulus SMA, Ayah menginginkan dirinya kuliah di jurusan kedokteran, dan Daiki menolaknya, dia lebih memilih bekerja serabutan sambil bersekolah design saat itu. Maka ia memutuskan untuk menghubungi Ibu, bagaimanapun ia harus tau kabar mereka.

Moshi-moshi?” suara Ibu masih sama, tiba-tiba saja ia memikirkan makanan buatan Ibu yang selalu dia rindukan.

“Ibu… ini Daiki,” membuka pembicaraan dengan ibunya memang selalu sulit, terlebih karena ia merasa bersalah kepada Ibu.

“Dai-chaaannn, apa kabarmu?” Daiki yakin kini Ibunya sedang tersenyum, “Apa kau baik-baik saja?” perasaan Daiki menghangat mendengar suara Ibu.

“Baik bu, aku dapat pekerjaan yang lebih baik,”

“Syukurlah. Kau harus makan yang benar, jangan terlalu sering makan ramen cup, ya?” kata-kata yang selalu sama, setiap kali ia menelepon dan Daiki mendapati dirinya selalu tersenyum ketika mendengar kata-kata itu.

“Tentu saja bu, jangan khawatir, walaupun aku tetap ingin makan masakan Ibu,” Daiki mengatakannya sambil menunggu ramen cup nya matang. Ia tidak menemukan makanan di kulkas dan terpaksa makan ramen cup untuk sekarang.

“Makanya kau cepat pulang. Kakakmu akan menikah, kau harus pulang kalau dia menikah,”

Duh, bertemu Ayah bukanlah hal yang mudah.

“Ayah sudah memaafkanmu, ibu yakin, diam-diam dia suka menatap fotomu di ruang keluarga, Ibu juga sudah sangat kangen padamu,” suara Ibu terdengar khawatir dan sedih.

“Iya bu. Aku mengerti, kabari saja aku kalau Aniki menikah, aku pasti datang,”

Daiki adalah anak bungsu keluargnya, kakaknya yang hanya berbeda tiga tahun dengannya, Daisuke, sudah lama tidak menghubunginya. Berbeda dengan dirinya yang pembangkang, kakaknya sangat penurut dan sudah sukses menjadi dokter di salah satu Rumah Sakit di Chiba, bahkan sekarang aniki nya itu akan menikah, pasti Ayah sangat bangga kepadanya.

“Ya sudah ya bu, aku makan malam dulu,” Daiki mengakhiri teleponnya dan mulai memakan ramen cup nya. Matanya terasa basah, ia kangen sekali pada masakan ibunya, ia kangen suasana rumahnya, dan walaupun ia pulang pasti suasananya tidak bisa kembali ke sebelum ia membangkang dan keluar dari rumah, tiba-tiba saja Daiki merasa sedih karenanya.

***

Jujur saja Kanon akui wanita di hadapannya ini sangan mengintimidasi dirinya. Bukan hanya karena wangi parfum mahalnya yang mampir langsung ke hidung Kanon, tapi juga dandanan serba mahal serta berlian yang bertengger di telinga serta di leher wanita itu. Kanon merasa menjadi seorang upik abu hanya karena menatap wajah wanita yang secara harfiah memiliki kulit yang sangat terawat dan tanpa cacat sedikitpun. Kanon merasa dia seharusnya tidak di sini, tapi mau apalagi kalau kenyataannya dia mendapatkan undangan itu dan bosnya tercinta dengan semena-mena memintanya untuk datang menggantikan dirinya.

“Nao bilang kau sangat berbakat, aku menunggu sekali rancangan tokoku!” ucapnya dengan senyum lebar yang memamerkan deretan gigi putih terawat.

Kanon hanya bisa tersenyum tanpa bisa menjawabnya.

“Chika, kau ditunggu….” mata itu menatap langsung kepadanya, sedikit kaget namun akhirnya bisa menguasai diri, “Kanon Mitsumiya,” ucapnya agak canggung. Jujur saja akhirnya mereka bertemu lagi, karena terakhir kali Kanon meeting mengenai Toko fashion Ishizaki Chika, ia hanya meeting dengan asisten pribadi Chika, tidak bertemu dengan Chika maupun Naoya.

“Halo, Ishizaki-san, sudah lama tidak bertemu,” ucap Kanon dengan senyum yang ia paksakan.

Naoya tersenyum. Kanon ingat ia selalu senang berlama-lama menatap senyum Naoya ketika sedang melukis, atau sedang hanyut membaca buku kesukaannya. Kanon ingat ia mengabadikannya di ponsel dan Naoya selalu bilang bahwa tidak seharusnya sebuah senyum diabadikan di dalam gambar, tapi cukup dalam hati saja.

“Aku ingin selalu bisa melihatnya, walaupun aku tidak disampingmu, tuan Ishizaki,” ucap Kanon kala itu, dan Naoya akan menghadiahinya sebuah kecupan di bibir.

Kanon segera mengerjapkan matanya, memarahi dirinya sendiri telah berfantasi mengenai Ishizaki Naoya, pria tak berperasaan yang sudah meninggalkannya demi wanita yang kini bergelayut manja di sebelahnya.

“Mitsumiya-san, sendirian?” tanya Naoya dengan intonasi suara yang sudah kembali normal, tidak lagi canggung.

“Ya, sendirian, bosku minta maaf dia tidak bisa datang,” jelas Kanon, “Kurasa aku harus ambil minuman, tenggorokanku kering,” dan aku ingin muntah, melihat Chika bergelayut manja dengan senyum lebar penuh kepalsuan, tidak, dia sedang tidak ingin menonton opera sabun didepan matanya.

Noriyuki enterprise malam ini mengadakan pesta natal untuk semua kolega bisnisnya. Tidak secara kebetulan Naoya adalah menantu tunggal dari Noriyuki enterprise, yang secara otomatis akan menjadi pimpinan ketika ayah Chika lengser nanti.

Kanon berjalan ke arah tempat minuman dan mengambil sampanye untuk dirinya sendiri, meneguknya hingga tandas sehingga bahkan dia harus mengambil gelas kedua. Ia sedikit menyesali keputusannya untuk tidak meminta Daiki menemaninya malam ini.

“Kenapa melarikan diri terus?” suara itu terlalu familiar membuatnya merinding karena dikatakan tepat sekali di telinganya.

“Naoya!!” seru Kanon kaget, “Karena… karenaaaa,” Kanon berharap dia tidak menangis saat ini, “Aku tidak punya hal yang ingin aku bicarakan denganmu, dan…” Kanon mundur beberapa langkah, “Kau lebih baik kembali ke istrimu, dia akan mencarimu,”

Kurang menyebalkan apa saat Naoya tersenyum dan menyentuh tangan Kanon dengan sengaja, menyapu tangannya dengan ujung jarinya, “jadi Mitsumiya Kanon masih menyimpan rasa padaku?”

Baru saja Kanon ingin membantahnya, “Tidak Kanon, kau tidak bisa membohongiku, aku terlalu mengenalmu,” ucapnya kembali mendekat pada Kanon, beberapa detik kemudian tiba-tiba saja tangan Naoya menarik tangan Kanon, menuntunnya ke belakang, lorong kamar mandi yang jelas sekali kosong, Naoya mendorong tubuh mungil Kanon ke tembok dan memepetnya di dinding, “Aku tidak bisa berhenti memikirkanmu,” ucap Naoya.

Kanon berusaha mendorong tubuh Naoya namun tnetu saja sia-sia karena tenaga Naoya yang jauh lebih kuat darinya, “Nao! Sudah kubilang kita sudah selesai!” Kanon hampir berteriak, beruntung di ballroom sedang ada seorang penyanyi yang pasti suaranya tidak akan terdengar hingga ballroom.

“Nao! Lepas!!” Naoya menahan tangan Kanon di tembok dengan kuat sehingga Kanon merasa kesakitan, mata Naoya berkilat-kilat marah dan Kanon merasa ketakutan sekarang, ia tidak tau apa yang akan dilakukan Naoya selanjutnya.

Pertanyaan di dalam kepala Kanon terjawab ketika Naoya menyentuhkan bibirnya pada bibir Kanon, ciuman Naoya terburu-buru dan menuntut, Kanon menutup mulutnya rapat-rapat, ia merasa terhina sekali sekarang. Ketika terdengar ketukan kaki orang, Naoya segera melepaskan diri dari Kanon.

“Naoya-nii?” mata orang itu bergantian menatap Naoya dan Kanon dengan curiga, setelah itu Naoya berjalan cepat menuju kamar mandi pria sementara Kanon masih shock dan terdiam menatap pria yang lewat itu.

“Kau…. sepertinya aku kenal,” ucapnya.

Alih-alih menjawab, Kanon terduduk dan air matanya tidak lagi bisa dibendung.

***

Sekali lagi Hikari menatap ponselnya, belum ada tanda-tanda Hikaru akan meneleponnya dan dalam keadaan seperti ini tentu saja membuatnya sedikit kesal. Seharusnya mereka sudah berangkat ke rumah orang tua Hikari dan sampai hampir tiga jam dari waktu yang dijanjikan oleh Hikaru, sama sekali tidak ada tanda-tanda keberadaan Hikaru.

“Asamicchi, kau dimana?” Tanya Hikari tanpa basa-basi setelah menempelkan ponselnya di telinga.

“Kerja, belum habis shiftku,” jawabnya sedikit berbisik, “Ada apa?”

“Bisa kita ketemu?”

Shiftku selesai pada jam empat sore, kutemui kau setelahnya, oke?” ucap Asami lagi.

Hikari menatap jam yang ada di dindingnya, “Okay, aku kesana sekarang,” katanya sambil menutup sambungan dan setelahnya mengambil kunci mobil dan mantelnya sebelum mengunci apartemennya.

Ponselnya berbunyi tak lama setelah Hikari masuk ke mobil dan keluar dari gedung apartemen. Hikari yakin ia tadi menyimpannya di tas dan yang ia lakukan sekarang adalah mencari-cari dimana keberadaan ponselnya, merogoh di setiap sisi tasnya namun belum juga ia temukan. Hikari menoleh untuk memastikan ia merogoh di tempat yang benar ketika tiba-tiba terdengar suara klakson yang sangat keras dan ketika Hikari menoleh, sebuah mobil van menabrak mobilnya dengan cukup kleras.

“AWWW!!” Hikari merasakan kakinya terjepit diantara perseneling dan selanjutnya ia melihat sebuah balon besar di depan wajahnya. Ya, air bag tepat mengenai wajahnya dan bunyi klakson terdengar nyaring di sekitarnya.

Hikari tidak terlalu ingat apa yang terjadi setelahnya, ia mendengar orang-orang berseliweran di sebelahnya dan mencoba mengeluarkannya dari mobil. Ia sadar, tapi karena sangat shock ia hanya mengangguk, naik ke taksi dengan seorang wanita paruh baya yang memeganginya hingga ke Rumah Sakit terdekat dari tempatnya kecelakaan tadi.

***

Asami mengedarkan pandangannya ke tempat parkir, tidak ada tanda-tanda keberadaan mobil milik Hikari, ia segera menghubungi gadis itu, mungkin saja Hikari malah tertidur bukannya berangkat. Beberapa kali nada dering akhirnya diangkat juga.

Moshi-moshi? Asamicchiii… aku kecelakaan,” kalimat Hikari menggantung.

“APAAAA??!! DIMANAAA??!!” Asami tiba-tiba dilanda rasa panik.

Terdengar desahan suara Hikari di seberang, “Jangan teriak-teriak! Aku hanya terkilir, sepertinya, aku di Rumah Sakit,”

“Rumah Sakit dekat rumahmu?” tanya Asami yang segera menghentikan sebuah taksi.

“Iya… aku belum bisa menghubungi Hikka,” ucapnya lagi.

“Baiklah, bertahanlah… aku kesana sekarang!”

Tidak sampai lima belas menit kemudian Asami sudah sampai di Rumah Sakit, ia segera berlari ke ruangan UGD dan menemukan Hikari tersenyum sambil memainkan ponselnya di atas kasur bangsal Ruang Gawat Darurat.

“Hey!” sapanya sambil menutup ponselnya.

Asami segera mencubit pipi Hikari, “Astaga Hikari, kupikir kau kenapa-kenapa!!”

“Aku baik-baik saja, ahahaha, hanya kakiku terjepit persneling dan ta~ da~ natal yang hebat aku kini pincang untuk beberapa minggu!” serunya.

“Hikaru belum bisa dihubungi?” Asami duduk di sebuah kursi yang disediakan pihak Rumah Sakit.

Hikari menggeleng, “Ponselnya mati sejak siang, entah dia dimana. Bisa kau tanyakan pada Yuya?”

“Yuya ada pesta di Noriyuki corp. Sejak tadi pagi, jadi kupikir mereka tidak bersama tapi aku akan menanyakannya,” Asami lalu sibuk menulis pesan kepada Yuya lewat ponselnya.

“Asamicchi, belikan aku minum, tolong??” kata Hikaru, sejak tadi ia hanya berbaring dan belum minum sama sekali.

Asami beranjak dari kursi, membawa dompetnya dan ponselnya, “Okay! Tunggu sebentar ya,” ia selesai mengetik pesan pada Yuya ketika ia mendengar suara Hikaru.

“Tidak apa-apa, Yui… tidak apa-apa,” Asami menoleh, Hikaru sedang memeluk seorang wanita dan secara otomatis Asami bersembunyi dibalik tembok. Beberapa saat kemudian mereka masuk ke dalam ruangan, Asami mengerenyitkan dahinya. Ada apa dengan Hikaru? Siapa wanita itu??

***

“Maafkan aku, Suzuki-san,” Yabu Kota, Tanaka Shiori dan beberapa dokter senior berada di ruangan itu, sementara Yuina masuk dengan Hikaru dalam keadaan sangat shock.

“Waktu kematian, pukul empat tiga puluh delapan menit,” ucap Shiori sambil melihat jam tangannya.

“Ayah,” Yuina mendekati tubuh Ayahnya yang terlihat kaku. Operasi Ayahnya memang berhasil, namun terjadi infeksi setelahnya dan memang itu adalah salah satu resiko dari operasi ini. Wajah Ayahnya terlihat sangat tenang, Yuina hanya bisa memandanginya ketika semua alat bantu hidup Ayahnya dicabut, “Gomennasai, aku tidak bisa menyelamatkan Ayah,”

Sementara semua dokter keluar, Hikaru masih berada di samping Yuina, mengelus punggung wanita itu dengan lembut, ia tak bisa mengeluarkan kata-kata penghiburan, untuknya ini sangat mengagetkan apalagi sekarang sedang hari natal, dimana seharusnya mereka sedang berbahagia.

“Yui, kita harus mengurus jenazahnya,” bisik Hikaru saat Yuina terlihat sudah agak tenang.

Yuina berbalik dan memeluk Hikaru. Untuk saat ini, ia tidak punya siapapun kecuali Yukari dan mungkin Hikaru, “Baiklah, tapi aku harus menjemput Yukari,” uapnya di antara isak tangisnya.

“Begini saja, biar kau di antar supir kantor, aku akan mengurus semua di sini, oke?”

Yuina akhirnya mengangguk. Hikaru memapahnya menuju ke parkiran, membisikkan kata-kata penenang padanya, “Aku akan telepon Yuya, kita bisa membawa Ayahmu ke Sendai kalau kau mau,”

Lagi-lagi Yuina hanya mengangguk. Ketika mobil datang, Hikaru menginstrusikan supir kantor untuk ke hotel menjemput Yukari dan ke apartemen Yuina untuk mempersiapkan diri ke Sendai. Sementara dirinya kembali ke dalam untuk mengurus dokumen-dokumen yang diperlukan.

“Hikka-kun…”

Hikaru terperanjat ketika melihat Asami berdiri di sampingnya, “Bodoh! Aku bisa jantungan!” Hikaru menatap Asami dengan kaget, “Ngapain kamu di sini?!”

Asami tersenyum simpul, “Pertanyaan pertama, kenapa ponselmu mati? Hikari menunggumu, yang lebih parah kini Hikari di Emergency Room, dia kecelakaan…”

“HAH?! MAKSUDMU??!! Dimana diaaaa?!” gelombang panik segera menghantam pikiran Hikaru, ia merogoh ponselnya yang ternyata daya baterainya habis sama sekali sehingga tidak bisa dinyalakan.

“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, jawab pertanyaan keduaku, siapa wanita tadi? Kau selingkuh?” Asami meraih kerah kemeja Hikaru dan meremasnya, “Jangan macam-macam, Yaotome Hikaru, aku tidak sungkan menyakitimu kalau kau sampai menyakiti Hikari!”

Dengan sedikit kesal Hikaru melepaskan cengkraman Asami di kerah bajunya, “Aku akan menjelaskannya tapi, kumohon, dimana Hikari?!”

“Ikut aku!” Asami berjalan melewati Hikaru dan menuntun pria itu ke bangsal gawat darurat, ketika itulah ia melihat Hikari berbaring di atas blangkar.

“Hikari!” Ia membalik tubuh Hikari, istrinya menatapnya dengan heran, ia kaget kenapa ada Hikaru di sana, “Ya ampun!! Kau tidak apa-apa?!” Hikaru memeriksa wajah dan tubuh Hikari yang sepertinya tidak ada bekas kecelakaan parah.

“Itu… hanya kakiku terkilir,” Hikari menunjuk pada kakinya yang kini di perban, tiba-tiba saja ia ingin menangis, seluruh pertahanan sok kuatnya runtuh seketika ketika melihat suaminya datang. Hikari menghambur ke pelukan suaminya, tangis khawatir dan ketakutannya kini tumpah ruah, “Huhuhu… aku khawatir padamu,”

Hikaru mengelus pelan kepala istrinya, “Gomen na, aku akan menjelaskannya nanti

***

“Lebih baik kau kuantar pulang, Mitsumiya-san,”

“Tidak Takaki-san, arigatou, aku akan baik-baik saja,” Kanon tersenyum pada Yuya, pria yang tadi menyelamatkannya dari Naoya.

“Tidak apa-apa, kupikir lebih baik aku mengantarmu, oke? Lagipula kita searah,” Yuya mengambil kunci mobilnya dari petugas vallet lalu membukakan pintu di sebelah kirinya, Kanon akhirnya menurut dan masukke mobil sport itu.

“Terima kasih, Takaki-san,”

Yuya hanya mengangguk dan menyalakan sistem audio nya untuk mendengarkan lagu. Meskipun tersenyum, Yuya tau sebenarnya Kanon masih tertekan dan Yuya tidak ingin bertanya macam-macam.

Sementara itu Kanon hanya bersandar pada jendela dan menatap kilatan cahaya lampu di luar. Ia merasa terhina, dan tak bisa memaafkan dirinya sendiri karena secercah rasa senang karena perkataan Naoya soal dirinya masih memikirkan Kanon sekilas menghampirinya. Dan itu membuatnya merasa bersalah pada dirinya sendiri karena membiarkan Naoya membuatnya goyah kembali. Pandangannya semakin kabur, air matanya menolak untuk berhenti.

“Mitsumiya-san, di sini kan?” Kanon menghapus air matanya, melihat gedung apartemennya di depan mata lalu mengangguk.

Anou Takaki-san, aku benar-benar minta maaf karena sudah mengganggumu dan bahkan merepotkanmu,” ucap Kanon sambil melepaskan sabuk pengamannya.

Yuya tersenyum, “Tidak masalah, lagipula aku tidak merasa direpotkan,”

Kanon turun dari mobil Yuya dan menunduk sekilas sebelum mobil itu berlalu dari hadapannya. Kanon nak lift ke lantai empat, hendak membuka kunci kamarnya namun ternyata pintunya tidak terkunci.

Tadaima,” ucap Kanon di pintu masuk, namun tidak ada jawaban.

Langkahnya terhenti ketika melihat Daiki di sofa depan televisi, bergelung dengan televisi menyala dengan volume yang sangat kecil. Kanon menghampiri Daiki, berlutut di dekat tubuh Daiki yang sepertinya sedang tertidur pulas.

Tadaima,” bisik Kanon, takutnya membangunkan pemuda itu dari tidurnya.

Okaerinasai,” mata Daiki terbuka, menatap Kanon yang sepertinya kaget karena ternyata Daiki tidak tidur, “Kau baik-baik saja?” tanya Daiki ketika melihat muka Kanon yang sembab dan make up nya yang tidak lagi segar seperti biasanya.

Kanon mengangguk, “Aku tidak apa-apa kok, Dai-chan,”

Dengan gerakan lambat Daiki duduk di sofa dan menarik tangan Kanon untuk bergabung dengan dirinya di atas sofa, “Aku sudah putus dengan Reiko-san,” bahu mereka bersentuhan satu sama lain, Kanon tiba-tiba saja merasa dirinya ingin menangis karena suara lembut Daiki.

Air matanya pun mengkhianati dirinya, mengalir begitu saja tanpa diperintah.

“Kenapa malah menangis?” Daiki menyentuh dagu Kanon, menariknya dengan lembut agar wajah Kanon langsung menghadap kepadanya.

Kanon menggeleng, “Tidak apa-apa, bagaimana kalau kita rayakan?” Kanon beranjak dan mengambil beberapa kaleng bir, ia berusaha menenangkan dirinya, mengusap air matanya agar berhenti. Niatnya untuk menceritakan apa yang terjadi tadi pun menguap sudah, ini bukan waktu yang tepat.

“Jadi, kapan Dai-chan bisa pindah kesini?” Kanon menyandarkan kepalanya di bahu Daiki, tangannya memegang sekaleng bir.

Daiki ikut menyadarkan kepalanya di atas kepala Kanon, “Secepatnya, aku menunggu Ruiko-san agak tenang, aku akan mengembalikan apartemennya,”

Yokatta,” setidaknya satu masalah dalam hidupnya sudah berlalu dan Daiki kini jadi miliknya seutuhnya. Tidak ada waktu untuk bersedih, ia akan memulai kehidupan barunya dengan Daiki, Naoya hanyalah masa lalunya dan akan selalu jadi masa lalunya.

***

“Kau baik-baik saja?”kata itu yang muncul pertama kali saat Yuya tiba di Rumah Sakit, pertanyaan itu ditujukan tentu saja kepada Asami, karena gadisnya itu terdengar sedikit kecewa ketika meneleponnya tadi.

Asami mengangguk, “Tapi karena Hikka harus mengurus sesuatu, kita harus ke rumah Hikari dulu sebelum ke rumahmu, tidak apa-apa kan?” Yuya mengangguk sebagai jawaban seraya memeluk Asami dan mencium puncak kepala gadisnya itu.

Sebenarnya cukup menjengkelkan untuk Asami ketika mendengar bahwa Hikaru tetap harus mengurus sesuatu sebelum pulang dan memintanya untuk mengantarkan Hikari. Bukan karena dia tak mau, tapi ia kesal pada sikap Hikaru yang mendadak penuh rahasia begini.

“Sepi sekali, putar musik dong,” ujar Hikari dari kursi belakang.

Asami menengok ke bangku belakang, “Kau benar-benar tidak apa-apa?”

Terlihat sedikit kecewa dan sedih, namun Hikari mengangguk, “Aku akan baik-baik saja,”

“Aku bisa menemanimu kalau kau mau, Yuyan akan mengerti, iya kan?” Asami menengok ke arah Yuya yang disambut gumaman dari pria itu.

Hikari menggeleng, “Tentu saja tidak boleh begitu, ini Natal dan kau harusnya ada di rumah Yuya, kan? Aku benar-benar baik kok, hanya sedikit lelah,” jelas Hikari lalu tersenyum kepada Asami.

Perjalanan itu memakan waktu cukup lama, namun mereka berhasil sampai sebelum malam tiba dan Hikari pun segera masuk ke dalam rumah setelah sebelumnya pamit kepada Asami dan Yuya, tak lupa berterima kasih karena sudah diantarkan.

“Hikari, katakan pada paman aku akan mampir nanti ya, gomen, aku sudah terlambat soalnya.” Ucap Asami sebelum Hikari turun. Ayah Hikari adalah pamannya Asami karena mereka adalah sepupu.

Tadaima,” Sudah cukup lama ia tidak pulang, mungkin sekitar enam bulan lamanya. Rumah bertuliskan Ueno itu masih saja seperti dulu, klasik, tenang, membuatnya kangen dengan segala sesuatunya.

Okaerinasai,” ‘ibunya’ menyambutnya dan memeluknya, “Gadis nakal, kau tidak pulang selama enam bulan, kukira kau tidak akan datang natal ini,” ucapnya sambil melangkah masuk ke dalam ruangan makan dimana Ayahnya sedang duduk sambil minum kopi di depan TV.

“Ayaahh!!” Hikari menghambur ke pelukan Ayahnya.

“Mana Hikaru?” tanya Ayah, “kau tau Taku, aku selalu aneh kalo memanggil nama menantu kita,”

Disambut tawa dari ibunya, “Kau tidak mau memelukku?”

“Tentu saja Taku-chan, aku merindukanmu juga,”

Ya, keluarganya tidak seperti keluarga lainnya. Hikari punya dua ayah, walaupun Hikari sering memanggil yang satunya dengan sebutan Ibu, dan mereka tidak pernah protes. Hikari adalah anak kandung Taku-chan, ia di kandung oleh seorang wanita yang hingga kini ia tidak pernah tau siapa melalui proses bayi tabung. Di awal kehidupannya Hikari selalu bingung kenapa ia tidak punya ibu seorang wanita seperti teman-temannya, mengapa ia punya dua ayah. Pertanyaan-pertanyaan itu terus membuatnya marah hingga Hikari jatuh sakit terkena leukimia dan tertolong karena sumsum tulang belakang Taku-chan. Sejak saat itu Hikari mengubah pola pikirnya, bahkan sangat bahagia dengan kedua Ayahnya.

“Hikka akan ke sini ko, hanya telat saja,” ucapnya sebelum akhirnya duduk di sebelah Ayahnya, “Dia ada urusan mendadak,” tambahnya.

“Baiklah, kalau begitu kau mau kue? Aku beli kue kesukaanmu lo, black forest,” ucap Taku dijawab anggukan oleh Hikari.

“Pulang-pulang, kakimu terluka pula, kau baik-baik saja?” tanya Ayah saat Taku pamit sebentar mengambil kue.

Ayah menatap Hikari dengan seksama, “Ayolah, ada masalah apa denganmu dan Hikaru?”

Hikari menggeleng, “Sudahlah Ayah, aku dan Hikka-kun baik-baik saja,”

Walaupun terlihat tak percaya namun Ayah akhirnya mengangguk, dan menyesap kembali kopinya. Hikari merebahkan kepalanya di bahu Ayah, selama dua tahun pernikahannya dengan Hikaru baru kali ini ia merasa sedikit curiga pada suaminya. Hikaru tidak biasanya menggunakan kata-kata ‘Nanti saja aku ceritakan’ biasanya Hikaru selalu menceritakan apapun yang terjadi pada Hikari.

***

Tadaima,” Yuya membuka pintu rumahnya dan beruntung keluarga besarnya belum mulai makan malam.

Okaeri,” Mama menyambut Yuya dan Asami yang dipeluk erat, “Aku merindukanmu,” ucapnya.

Perayaan di rumah Yuya walaupun temanya sederhana pasti tidak pernah benar-benar sederhana. Lihat saja gaun yang dipakai Mama, atau ketika Asami melangkah ke dalam ruang utama, setidaknya ada lima puluh orang lebih merayakan natal bersama mereka. Termasuk Ayahnya Asami yang juga hadir, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Asami menghampiri Ayahnya, “Ayah, maaf kami telat,” walaupun tadi ia sudah mengabari Ayahnya via telepon mengenai keadaan Hikari.

“Tapi Hikari baik-baik saja kan?” Ayah menyambut pelukan Asami dan menyalami Yuya.

“Iya, dia sudah di rumah Paman ko,”

“Baiklah, selamat malam semuanya,” suara dentingan gelas terdengar dan semua percakapan berhenti, “Terima kasih sudah mampir di rumah kami dalam perayaan Natal tahun ini,” disambut tepuk tangan oleh seluruh tamu, “Tahun ini kami sangat bersyukur karena satu tahun lagi penuh kesuksesan dan semoga tahun-tahun selanjutnya kita semua diberi kesuksesan. Sebelum kita makan-makan lagi, dengen gembira saya mengumumkan pertunangan putra saya, Takaki Yuya, dengan salah satu anak chef hotel kami, Ueno Asami,”

Baik Asami dan Yuya saling berpandangan karena sama sekali tidak mendengar soal pertunangan ini. Yuya menggeleng tanda ia sama sekali tidak merencanakan ini semua. Sementara Asami tidak mampu bergerak dari tempatnya karena selain dirinya kini terserang shock, pakaiannya benar-benar tidak pantas. Asami hanya menggunakan baby doll yang sama sekali tidak cocok untuk acara malam ini karena sudah tidak sempat untuk ganti baju tadi.

Arigatou,” Yuya tersenyum kepada semua tamu tanpa maju ke depan, mengangkat gelas champagne nya, “Terima kasih banyak,”

Pesta kembali ramai, Asami melarikan diri ke balkon ruang atas tanpa mengatakan apapun kepada Yuya.

***

To Be Continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s