[Minichapter] Impossible Love (Chap 4)

Impossible Love
By. Nadia Sholahiyah Utami
Genre: Romance, Friendship
Type: Minichapter
Chapter : 4
Starring: Inoo Kei (HSJ), Sato Miharu (OC), dan selentingan orang lewat

Inoo harus membopong Miharu di punggungnya karena gadis itu tidak bisa diam dari tadi, meskipun sudah tidak bisa lagi berdiri dengan benar.

“Paaarrriiiss~ nyaaaaa~” Miharu terus berteriak di dekat telinga Inoo sampai membuat pria itu kesal.

Akhirnya Miharu memang berteriak tepat di telinga pria itu dan membuat Inoo kaget dan melepaskannya tiba-tiba.

“Ittaaaaii~” keluh Miharu sambil menggosok bokongnya.

Inoo berdiri didepan gadis itu dan memandangnya dengan kesal. Lalu pria itu berlutut di depan Miharu, mensejajarkan pandangannya dengan gadis itu dan memandangnya lurus.

“Kalau tidak kuat minum, kenapa kau minum sebanyak itu?” keluh Inoo.

Miharu memandang Inoo dengan linglung karena masih mabuk, “Tapi wine itu enaaakk~ dan aku tidak mabuk, aku masih sadaaarr… hik”

Inoo geleng-geleng kepala melihat istrinya saat ini. Dalam hatinya pria itu terus bertanya, apa kira-kira yang membuat gadis itu sedih dan berakhir seperti ini.

“Meski kau masih belum bisa membagi kebahagiaanmu, setidaknya bagilah kesedihan dalam hatimu padaku, Miharu” desis Inoo sambil mengelus pelan pipi Miharu.

“Naaannii~? Aku tidak dengaaarrr~” tanya Miharu.

Inoo hanya menggeleng sambil tersenyum, “Aku akan menggendongmu, tapi kali ini kau harus diam. Ini sudah sangat malam dan kau akan mengganggu orang-orang kalau berteriak seperti tadi. Kau mengerti?” kata Inoo.

Miharu meletakkan satu jari di bibirnya sendiri dan mengangguk. Inoo tersenyum dan mengelus lembut kepala istrinya itu. Setelahnya, pria itu kembali menggendong Miharu di punggungnya. Miharu kini lebih kalem dibanding tadi, namun gadis itu kini malah bernyanyi dibanding berteriak.

“Haaade.. ni tobiiii.. taku naru youunaaaa… konyaaa waaa… ore niii… atsumari naaa.. sawaaagu.. crazziiii naaiiitt…”

“HAHAHAHAHAHAHA” Inoo tertawa lepas saat mendengar bait yang dinyanyikan oleh istrinya saat itu. Sejak kapan Miharu bisa sefrontal itu menyanyikan lagu dengan lirik yang erotis?

 

Hingga mereka tiba di hotel mereka. Inoo masih harus menggendong istrinya hingga tiba di dalam kamar. Inoo membaringkan istrinya diatas tempat tidur karena Miharu sudah tertidur sejak diperjalanan tadi. Namun tiba-tiba Miharu bangkit dan buru-buru berlari ke kamar mandi. Inoo mendengar istrinya muntah-muntah dengan hebat didalam sana, kemudian buru-buru menyusulnya. Inoo saat itu benar-benar tidak peduli dengan kondisi istrinya yang sedang berantakan. Pria itu menepuk pelan punggung Miharu yang masih muntah-muntah di wastafel kamar mandi. Hingga akhirnya selesai, Miharu membasuh wajahnya dan Inoo sudah disampingnya menyodorkan handuk yang ada di hotel itu pada istrinya.

“Kau baik-baik saja?” tanya Inoo dengan nada sangat khawatir. Miharu mengangguk sambil menerima handuk itu.

Inoo kemudian membimbing Miharu kembali kedalam kamar dan mendudukkan istrinya ditempat tidur. Pria itu kemudian mengambilkan segelas air dan menyodorkannya pada Miharu yang masih menatapnya dengan pandangan linglung.

“Ini minumlah,” Miharu menerima gelas itu dan menegak airnya dan memberikannya lagi pada Inoo.

Pria itu lalu meletakkan kembali gelas itu diatas meja tempatnya tadi dan kini duduk disamping Miharu.

“Kau baik-baik saja? tidur saja kalau masih pusing,” kata Inoo masih dengan nada khawatir.

Miharu masih diam memandang Inoo dengan ekspresi yang sulit dibaca. Inoo ingin bicara lagi, namun tiba-tiba saja dia dibungkam oleh Miharu yang menciumnya. Inoo ingin melepas ciuman itu namun lengan Miharu memeluk lehernya dengan sangat erat. Inoo merasakan ciuman Miharu berubah menjadi lebih panas dibanding sebelumnya. Beberapa saat ciuman itu terlepas sesaat, Inoo terdiam saat melihat ekspresi Miharu sekarang. Belum pernah dia melihat Miharu seperti ini sebelumnya. Pandangan gadis itu menuntut lebih padanya. Miharu mendorong Inoo hingga berbaring di tempat tidur lalu duduk diatas tubuh pria itu. Miharu melepas terusan yang membalut tubuhnya dan membuangnya ke lantai lalu ganti melepas kancing kemeja Inoo serta melonggarkan ikat pingga pria itu.

“M… Miharu, tung…” Inoo masih mencoba menghentikan Miharu yang tidak seperti biasanya namun gadis itu telah membungkamnya lebih dulu dan memberikan ciuman yang lebih panas. Inoo merasakan lidah Miharu mulai mengekplorasi rongga mulutnya.

‘Sial! Gadis ini sulit ditolak’ pikir Inoo kemudian. Akhirnya Inoo menyerah pada keadaan dan membiarkan Miharu memegang kendali akan dirinya pada malam itu. Diluar sana, cahaya bulan meredup malu-malu bersembunyi dibalik awan. Namun seberkas cahayanya terlihat menyinari dengan lembut sepasang sejoli itu.

***

Sinar matahari sudah memenuhi ruangan kamar hotel Miharu dan Kei pagi ini, dan lagi Kei yang terbangun duluan sedangkan Miharu masih terlelap dalam mimpinya.

Mata Kei melihat lembut ke arah Miharu yang tertidur dengan tenang, tangannya mengelus lembut pipi istrinya yang kini sudah sepenuhnya milik Kei karena kejadian semalam.

Mengingat itu, seketika wajah Kei memanas ia tak percaya hal itu akan terjadi, di Paris pula, dengan cepat Kei menggelengkan kepala dan ia pun bangkit dari tidurnya, turun dari kasur dan memakai kembali pakaiannya, setelah itu memakaikan baju Miharu dan kembali menyelimuti gadis itu.

Baru saja Kei ingin melangkah ke kamar mandi, namun langkahnya berhenti karena handphone Miharu berdering, awalnya Kei abaikan karena takut Miharu marah.

Tapi, handphone itu terus saja berbunyi hingga akhirnya Kei memutuskan untuk mengangkatnya, siapa tahu saja penting.

Tanpa melihat siapa yang menelpon Kei langsung menempelkan benda itu ke telinganya.

Moshi-moshi” tubuh Kei menegang saat mendengar suara seorang perempuan, baru sadar kalau ia tidak melihat siapa yang menelpon akhirnya Kei pun kembali menjauhkan benda itu dari telinganya dan melihat display name yang tertera di layar.

Miki, melihat nama itu Kei menghela nafasnya.

Miharu…” Kei mendengar suara Miki dari handphone itu dan kembali di tempelkannya di telinga.

Miharu. Apa kau marah? Aku mohon maafkan aku….kau sekarang kan sudah punya suami” ada nada cemas dari ucapan Miki.

Keheningan sejenak tercipta di sana, hingga Kei yakin kalau Miki sudah selesai bicara.

“Memang apa yang membuat Miharu marah?”

Eh?”

“Kau tahu, setelah Miharu menerima telepon dari mu, dia  mabuk” Kei hampir saja teriak, tapi ia tahan saat melihat Miharu sedikit bergerak mengubah posisi tidurnya.

Ano…” Suara Miki membuat Kei kembali fokus mendengarkan penjelasan gadis itu.

Aku…memberitahu Miharu..kalau aku sudah memiliki kekasih, tolong maafkan aku, aku tidak tahu kalau akhirnya akan mabuk” setelah mendengar itu, Kei menghela nafas beratnya, menutup wajahnya dengan sebelah tangan.

Kini dia mengerti, ternyata Miharu masih menyimpan rasa terhadap Miki, dan juga Nino.

Kenapa nasibnya seburuk ini?

“Baiklah aku mengerti, tenang saja aku akan membuatnya mengerti” kata Kei akhirnya, kali ini lebih tenang.

Inoo-san” Miki kembali bersuara. “Anoo arigatou

Kei tersenyum, ternyata Miki manis juga pantas Miharu suka, pikir Kei.

“Itu sudah tanggung jawab ku, Miki chan.. Sudah dulu ya” setelah berpamitan Kei pun memutuskan sambungan mereka, meletakan kembali handphone Miharu dan melangkah ke kamar mandi.

Saat Inoo keluar dari kamar mandi, dilihatnya istrinya sudah bangun dan sedang duduk di pinggir tempat tidur sambil memegang kepalanya.

“Ohayou. Kenapa? Kau baik-baik saja?” tanya Inoo sambil mendekati istrinya.

Miharu menatap linglung kearah Inoo sebelum kembali menunduk dan memegang kepalanya.

“Kepalaku pusing, badanku sakit, apa yang terjadi semalam?” tanyanya.

Inoo menyerit, “semalam? Kau mabuk berat setelah minum lima gelas wine, lalu aku harus menggendongmu pulang ke hotel, dan semalam kau muntah-muntah hebat, lalu….. apa kau tidak ingat?” tanya Inoo balik.

“Entahlah…” miharu masih memegang kepalanya, “Ahh… aku benar-benar tidak bisa bersahabat dengan alkohol, badanku tidak enak,” rutuk Miharu.

Inoo menyodorkan segelas air mineral pada Miharu dan diterima gadis itu dengan bingung.

“Ada apa denganmu? Kenapa jadi perhatian sekali?” tanya Miharu.

Inoo hanya diam dan terlihat berpikir, jadi malam tadi gadis itu benar-benar tidak ingat dengan apa yang dilakukannya?

“Ah, aku mau ke kamar mandi dulu… air panasnya menyala kan? Aku ingin berendam sebentar,” Miharu menyeret kakinya yang terasa sangat berat.

Saat hampir mencapai pintu kamar mandi, Inoo tiba-tiba menahan tangannya.

“Kenapa?” tanya gadis itu.

“Aku keluar sebentar, akan ku bilang untuk membawakan sarapanmu ke kamar,” kata Inoo.

Meski heran dengan sikap Inoo yg mendadak manis padanya, Miharu hanya mengangguk.

Tiba-tiba saja Inoo meraih kepalanya dan mengecup ubun-ubunnya lembut, “Terima kasih untuk semalam,” kata pria itu sambil mengedipkan satu matanya sebelum keluar.

Meninggalkan Miharu sendiri terdiam shock di tempat.

“HAH? Dia ngomong apa? Memangnya semalam……. aku ngapain?” tanya Miharu sendiri.

***

Miharu menenggelamkam seluruh tubuhnya kedalam bak mandi yang berisi air hangat. Dirasakannya otot-otot kakunya melemas. Namun tangannya menyentuh bekas-bekas kebiruan yang tercetak di tubuhnya. Ini bukan kali pertamanya bekas-bekas seperti ini timbul disana, dulu hal ini pernah terjadi, saat Nino masih ada. Jadi dia sudah bisa menebak kira-kira apa yang terjadi semalam.

“Dasar Kei brengsek. Beraninya dia mencuri kesempatan saat aku mabuk. Awas saja nanti…” ancam gadis itu.

Gadis itu membasuh tubuhnya hingga tangannya menyentuh liontin di lehernya. Miharu terdiam. Dia teringat saat itu… kejadian dua tahun yang lalu.

“Miharu mitte” saat itu ia bersama Nino sedang berada di Okayama, mengunjungi berbagai jenis kebun yang berada di sana seperti saat ini Miharu dan Nino sedang mengunjungi kebun apel.

Nino berlari ke arah Miharu yang sedang memetik apel, melihat kekasihnya bingung.

Nino meletakan keranjang apelnya di samping Miharu saat ia berada di samping gadis itu, lalu mengambil salah satu apel dari keranjang tadi, “cobalah ini, ini sangat manis rasanya” tangan Nino menyodorkan sebuah apel itu ke wajah Miharu.

Miharu tersenyum lalu mengigit apel yang Nino beri, sesaat gadis itu terdiam sambil mengunyah apel barusan, sedangkan Nino melihat Miharu dengan tatapan penuh tanya.

“Bagaimana?” Tanya Nino, tak lama setelah itu Miharu megangguk semangat.

“Oishii ini manis sekali!” Seruan Miharu sukses membuat senyum Nino mengembang dengan manisnya, semanis apel yang ia beri tadi kepada Miharu.

Gadis itu menelan apel yang baru saja ia kunyah “lihat saja nanti apel ku ini tidak akan kalah manisnya seperti punya mu” ucap Miharu tak mau kalah.

“Hm?” Wajah Nino menyerngit “apel apel ini manisnya masih kalah dari pada senyum mu”

Ucap Nino dengan wajah innocent nya, dan kembali berlalu untuk menimbang apel-apel yang telah ia petik, sedangkan Miharu hanya terdiam menyentuh pipinya yang sesaat terasa panas.

.

Malam telah datang, Nino dan Miharu akhirnya kembali ke rumah sewaan mereka.

Mereka sengaja menyewa rumah yang berada di Okayama dekat dengan perkebunan.

Selain agar jarak ke kebun tidak jauh, mereka juga ingin melihat pemandangan yang berada di daerah rumah sewa itu.

“Lelah sekali” ucap Miharu sambil meranggangkan tubuhnya di lantai, sedangkan Nino membuka jendela yang langsung terpampang pemandangan sawah dan di atasnya terdapat taburan bintang bintang yang begitu indah.

“Miharu” panggil Nino tanpa melepaskan pandangan yang sedang melihat keluar jendela,  Miharu memposisikan tubuhnya duduk lalu menatap kekasihnya itu “apa kau senang hari ini?” Tanya Nino, kemudian menatap Miharu dan tersenyum ke arahnya.

Miharu tersenyum manis “aku senaaaaaang sekali, apalagi bersamamu, tentu saja senang mana mungkin tidak” lalu gadis itu tertawa.

Nino ikut tertawa, lalu mendekati Miharu, duduk di hadapan gadis itu dan memeluknya, Miharu terkejut dengan gerakan Nino yang tiba-tiba.

“N-nande?” Meskipun bingung, tapi tangan Miharu bergerak membalas pelukan Nino. Tak lama Nino melepaskan pelukan mereka dan Miharu merasakan ada yang menggantung di lehernya.

Refleks Miharu menunduk, menatap kalung yang kini sudah menghiasi lehernya, kalung berliontin apel kecil.

Setelah melihat itu, Miharu menatap Nino dengan wajah bingung sekaligus senang. “Apel?”

“Ya, apel, apel manis seperti senyuman mu yang manis” jari telunjuk Nino menyentuh hidung Miharu.

Miharu langsung memeluk tubuh Nino dengan erat “arigatou” ucapnya hampir berbisik.

Nino membalas pelukan Miharu “un aishiteru yo”

TOK TOK

Lamunan Miharu buyar saat mendengar ketukan pintu dari luar, ia yakin itu pasti Kei.

Tapi ia tetap diam sambil menghapus air matanya “sarapan mu aku letakan di meja dekat tempat tidur ya”

“Iya” setelah itu, keheningan kembali terjadi.

.

“Jadi, kau mabuk karena Miki tadi malam?” Kei bertanya tentang kejadian semalam, saat Miharu dengan sadar meminum wine dan akhirnya mabuk, Miharu mengangguk.

“Kau tidak senang kalau Miki punya pacar?” tanya Kei, Miharu hanya mendumel ditempatnya.

“Kau sayang pada Miki, bukan?” tanya Kei lagi.

“Kenapa kau bertanya terus sih? Memangnya aku kriminal diintrogasi terus dari tadi,”

“Ck… kau bukan kriminal, tapi sakit jiwa,” kata Kei.

Miharu merasa kesal lalu melempar Kei dengan bantal yang diraihnya dari dekat tempat tidur.

“Kau yang sakit jiwa! Dasar pencuri kesempatan! Maniak!!” maki Miharu.

“Hei, kalau ngomong di rem dulu kenapa?” Kei balas melempar istrinya itu.

“Aku bertanya, hanya untuk memastikan. Kalau kau benar-benar menyayangi Miki, seharusnya kau memikirkan kebahagiaannya, bukan malah menyiksa dirimu sendiri. Kalau kau sakit, Miki pasti lebih cemas lagi. Tidak hanya Miki, pikirkan juga orang-orang disekelilingmu, ayah dan ibumu paling tidak,” kata Kei bijak.

Miharu terdiam ditempatnya. Gadis itu menunduk sambil memikirkan semua yang dikatakan Kei barusan padanya.

“Habisnyaaa… dia tidak mau menerima perasaanku, dia juga tidak mau menghentikan pernikahanku kemarin, sekarang dia malah mendadak punya pacar,”

“Ck… kau ini tidak mengerti ya. Coba tempatkan dirimu di posisi Miki, lalu pikirkan apa kira-kira alasan Miki melakukan itu semua,” kata Kei lagi.

“Karena dia gadis normal dan aku lesbian?” tanya Miharu.

“Pasti lebih dari sekedar itu, kau lebih mengenalnya dibanding aku, pikirkan saja sendiri. Kalau perlu tanya saja dia.” kata Kei.

Miharu terdiam lagi ditempatnya.

Tiba-tiba dirasakannya tangan Kei mengelus kepalanya lagi, dengan cara yang sama seperti tadi pagi. Pria itu kini tersenyum hangat memandangnya.

“Cepat habiskan makanmu, kita jalan-jalan lagi. Kau ingin lihat Eifel bukan?” kata pria itu.

.

Senja itu, Kei dan Miharu kembali pergi kali ini mereka pergi ke menara Eiffel.

“Sugoiiii~” Kei tersenyum saat melihat istrinya kembali riang, apalagi mereka saat ini tepat berada di bawah kaki menara tersebut. Perasaan senang dan lega bisa melihat senyum Miharu lagi, sudah membuat hati Kei terasa hangat.

“Kireii~” seru Miharu lagi saat melihat langit mulai berwarna orange, dengan sigap ia mengambil kamera yang menggantung di lehernya dan memotret langit tersebut.

“Ne Miharu, ayo kita naik ke atas sana” tangan Kei mengamit sebelah tangan Miharu, sedangkan sebelah tangannya yang bebas menunjuk ke arah puncak menara itu.

“Eh? Memang bisa?” Tanya Miharu, wajahnya ia arahkan ke wajah Kei, lalu kembali menatap ke atas.

“Tentu bisa di sana lebih indah, ayo” tanpa persetujuan istrinya lagi Kei langsung menarik tangan Miharu untuk masuk dan naik ke puncak menara itu. Toh, Miharu pasti mau.

“Aduh!” Tiba-tiba tubuh Miharu di tabrak seseorang saat baru saja keluar dari lift, ia menatap tajam wajah orang itu.

Namun niatnya untuk marah Miharu urungkan, karena melihat orang yang ia tabrak adalah bule, percuma saja ia berdebat dengan orang yang tidak mengerti dengan bahasanya.

Dan tanpa Miharu sadari, sesuatu jatuh saat insiden tadi

Saat sampai, mereka langsung melihat suasana luar, sunset terlihat jelas dari sana, ketika Miharu sibuk memotret pemandangan, Kei malah sibuk melihat wajah Miharu untuk mengabadikan senyuman istrinya ke dalam ingatan Kei.

“Kau benar” Kei masih memandang Miharu yang sedang tersenyum sambil menggantungkan lagi kameranya di leher “disini sangat indah” kata Miharu lagi.

Angin yang berhembus membuat rambut pendek Miharu yang kini sudah sedikit mulai panjang berterbangan, senyum di wajah Miharu juga terlihat sangat indah di mata Kei karena di hiasi dengan langit berwarna orange hampir kemerahan.

Dan entah sadar atau tidak, tangan Kei kini meraih wajah Miharu dan mulai mendekatkan wajahnya dengan istrinya itu “m-mau.. Apa kau?” Tanya Miharu gugup.

Tapi Kei malah semakin jadi “kalau berani cium aku akan teriak” tangan Miharu mulai beraba dada dan sekitar lehernya, mencari kalung dari Nino untuk ia genggam.

Tapi, Miharu tidak merasakan kalung itu ada. “Loh?” refleks Miharu menunduk mencari kalung itu, dan membuat wajah Kei menjauh.

Sadar kalau Miharu sedang mencari sesuatu, Kei jadi ikut panik.

“Miharu, kenapa?” Tanya Kei mengguncang bahu Miharu pelan.

“Kalung…” Kei diam “kalung dari Nino hilang, tidak ini tidak boleh terjadi” sejenak, Kei merasa sakit hati lagi. Dadanya kembali nyeri ketika Miharu menyebut nama itu.

Tapi pemuda itu menggeleng dan memaksakan senyum untuk istri tercinta “kalungnya seperti apa? Aku akan bantu cari” ucap Kei lembut.

“Liontin nya berbentuk apel kecil” kata Miharu yang kini sedang fokus menunduk menatap lantai, berharap kalau saja kalung itu bisa di temukan.

Alih-alih kalung, liontinnya saja jika di temukan gadis itu akan sangat senang.

“Kemanaaaa??” Suara Miharu sudah mulai bergetar, ia terduduk di lantai sambil menangis tanpa peduli orang-orang sekitar sudah melihat Miharu dengan tatapan aneh.

Kei menghampiri Miharu, membantu istrinya berdiri dan memeluk gadis itu dari samping sambil membawa gadis itu untuk masuk ke dalam lift.

“Coba di bawah ya.. Siapa tahu jatuh di sana” ucap Kei menenangkan. Miharu tak bergeming, gadis itu masih sibuk dengan isakannya.

Saat mereka ingin masuk lift, pintu lift itu tertutup hingga Miharu dan Kei harus menunggu pintu itu terbuka lagi.

Suasana hening di antara mereka berdua, Kei tidak tahu harus apa menghadapi Miharu yang sedang kehilangan kalungnya, terlebih kalung itu adalah pemberian dari Nino, mantan kekasih Miharu.

Wajah Kei semakin menunduk karena tangisan Miharu yang tak juga reda, namun sesaat Kei merasa beruntung karena saat ia menundukan kepala, Kei menemukan kalung berliontin apel.

Ya, jangan-jangan itu adalah kalung milik Miharu, langsung saja Kei membungkuk dan mengambil kalung itu.

Baru saja ingin ia tunjukan pada Miharu, tapi pintu lift sudah terbuka, buru-buru Kei memasukan kalung itu ke saku celananya dan masuk ke dalam lift bersama Miharu dan pengunjung yang lain, untuk menuju ke lantai dasar.

Hingga sampai di lantai bawah, Miharu terus berjalan sambil menunduk. Berharap menemukan kalungnya.

Tapi sudah hampir setengah jam mencari disana, kalung itu belum juga ketemu. Miharu panik. Itu adalah satu-satunya peninggalan dari Nino yang dia punya.

“Dimanaaaa…” suara Miharu semakin bergetar. Tangisannya sudah tidak bisa dibendungnya lagi.

“Miharu, ini sudah semakin malam, ayo kita pulang saja,” kata Kei.

Miharu menggeleng, “Tidak, harus ketemu dulu, itu benda berhargaku”

“Apa sebegitu berharganya?” tanya Kei.

Miharu mengangguk sambil terisak, “itu kenangan terakhir Nino yang kupunya, kalau itu tidak ada…. kalau itu…”

Kei memandang istrinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Rahangnya mengeras menahan emosi. Akhirnya dia merogoh sakunya lalu mengulurkannya pada Miharu.

Mata gadis itu membulat saat melihat benda yang diulurkan pria itu padanya. Itu kalungnya. Kalungnya ketemu. Tapi…

“Aku menemukannya tadi didepan pintu lift… tapi saat aku…”

PLAAAKK!!!

Satu tamparan mendarat keras di pipi Kei sebelum sempat pria itu menjelaskan apa-apa

“Kau brengsek Inoo Kei!! Kejadian ini akan kuingat selamanya. Aku sangat membencimu!!” Miharu berteriak lalu berlari dari situ.

“Ck..” Kei berdecak dengan kesal sambil menyentuh bekas tamparan itu.

Tapi pria itu langsung berlari mengejar Miharu. Ini negara orang, dan dia tidak ingin Miharu hilang. Dia sudah berjanji pada ayah dan ibu gadis itu untuk menjaganya. Miharu boleh memukulnya, marah padanya, tapi tidak untuk pergi darinya.

To Be Continued

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s