[Oneshot] Hit the Floor

Hit the Floor

Kanagawa Miki

Hey! Say! JUMP Yaotome Hikaru

Fujiwara Kumiko

Sato Miharu

dan nama yang tak terduga(?)

Song: Hit the Floor – Ohno Satoshi

By: Shield Via Yoichi

yo~ yo~ happy birthday, Nadia~ sebenernya mau post ini waktu tanggal ultah tapi ternyata gak bisa karena sibuk dengan perkulihan. dan akhirnya memutuskan untuk di post setelah berlalu 2 bulan AHAHAHAHAHAHA…. dan untuk Fujiwara Kumiko, pinjem dulu namanya yaks~ terinspirasi dari lagu Ohno, ya pokoknya selama pembuatan ini denger lagu Hit the Floor mulu sambil liat liriknya, fufufu.. DAAAN, maaf kalo gaje, ini dibuat saat sedang gila ama Tugas Akhir, ahahaha

Happy reading~

 

 

“Miki, apa ada?”

Wanita berumur duapuluh lima tahun itu memandang orang yang mengajaknya bicara.

“Lihat, kau hanya mengacak-acak makanan yang ada di piringmu.” kata Kumiko.

Miharu mengangguk membenarkan, “Kau masih memikirkan Yamada sialan itu? Bodoh sekali.”

Miki meletakkan sendoknya pelan dan memegang gelas berisi lemon tea. Tangannya meraih sedotan lalu memainkannya sama seperti yang dilakukannya dengan isi yang ada di piringnya tadi.

“Ya ampun, cepat habiskan makan siangmu. Jam istirahat akan segera berakhir.” Miharu sedikit meninggikan suaranya, “Cepat atau aku suapi?” ancamnya. Miki menelan ludah melihat Miharu melotot sementara Kumiko menutup mulutnya menyembunyikan tawanya.

Miki mengambil sendoknya lalu menyuapi mulutnya sambil menghela napas. Miharu dan Kumiko beradu pandang, bingung harus bagaimana.

“Untuk apa sih kau memikirkannya? Kalau dia memang sayang padamu, dia pasti datang padamu dan minta maaf. Benar kan, Miharu?”

“Benar. Tapi kalau aku sih, langsung minta putus.”

Miki tetap tidak mengeluarkan suaranya. Ia terus saja diam sambil melakukan aktivitas makanan yang sesekali melirik kedua temannya dengan raut wajah yang cukup menyedihkan.

“Bicara dong! Biasanya kau yang paling cerewet!” marah Miharu, mendorong pelan bahu Miki.

Miki menghela napas untuk kesekian kalinya, “Memangnya Miharu pernah pacaran?” tanyanya, setelah sekian lama pertanyaan ini dia simpan dalam hatinya karena takut mengganggu privasi Miharu. Namun dalam kondisi mood yang sangat buruk ini ia tidak bisa menahan bibirnya.

Mata Miharu membesar, dia tidak menyangka akan ditanya seperti ini. Di sisi lain, Kumiko juga penasaran. Diantara mereka bertiga, hanya Miharu yang tertutup soal cinta. Dia bahkan tidak pernah menyebutkan nama pacarnya.

“K-kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Kau bilang kalau punya pacar yang selingkuh seperti Ryo, kau langsung minta putus. Memangnya kau pernah mengalaminya?” Miki menatap Miharu, wanita itu terlihat bingung tapi berusaha untuk bersikap biasa.

Miharu memutar otaknya untuk mencari topik lain. Ia melihat keadaan sekitar, melihat ke arah meja, melirik jam tangannya lalu tersenyum kecil saat menemukan sesuatu untuk tidak menjawab.

“Sudah, ayo kembali ke kantor. Jam istirahat tinggal sepuluh menit lagi. Jangan sampai kita terlambat.” Dia berdiri dari duduknya lalu berjalan meninggalkan Kumiko dan Miki.

Kumiko cemberut, “Miharu curang! Kenapa mengalihkan pembicaraan?”

 

***

 

Miki masih mematung melihat berkas yang seharusnya dia ketik, ia tidak bisa fokus sama sekali.

“Kanagawa-san.” panggilan itu tidak membuatnya sadar dari lamunan, “Kanagawa-san!”

Miki tersentak kaget saat namanya dipanggil dengan suara yang cukup keras. Dia memutar kepalanya pelan, takut akan sosok yang memanggilnya dengan formal. Mungkin saja kan manajernya yang memanggilnya. Bisa gawat kalau itu terjadi.

“Ah, Miharu yang memanggil ternyata…” ucapnya dengan perasaan lega sambil menutup mata.

Miharu menaikkan alisnya, “Maksudmu? Aku kesini untuk meminta data yang sedang kau kerjakan. Apa sudah—”

“Ah!” pekik Miki dengan suara keras yang membuat para karyawan lain melihatnya termasuk Miharu yang melihatnya heran, “Ano… itu.. belum selesai.” jawabnya sedikit berbisik.

“Hah? Makanya kau jangan melamun saja!” Miharu mencubit pipi Miki, “Cepat kerjakan, aku akan menunggu disini.”

Kumiko yang duduk di sebelah Miki melihat keluar dari biliknya, “Apa kau butuh data itu segera, Miharu?” Miharu mengangguk cepat, “Kalau begitu, biar aku saja yang ketik.”

Kumiko memberikan kode pada Miki untuk pindah tempat duduk, mau tak mau Miki melakukannya.

“Kau tahu, Miharu, pekerjaan Miki hari ini hampir semuanya terbengkalai.” kata Kumiko sambil mengetik, “Waktunya dihabiskan dengan melamun saja.”

“Heh…… Seharusnya kau profesional dong, Miki.”

“M-maafkan aku…” Miki menunduk dalam. Dia merasa bersalah dan mengutuk pria yang membuatnya seperti ini dalam hati.

“Hm.. bagaimana kalau kita cari hiburan?” usul Miharu tiba-tiba.

Kumiko memutar kursinya, “Kemana?”

“Ke club malam?”

“Hari ini? Aku tidak bisa.” sahut Kumiko.

Miki tidak ikut bicara karena dia tahu, dia tidak mungkin menolak. Teman-temannya sedang berusaha membuatnya terhibur.

“Yah… kalau begitu aku dan Miki saja dong.” Miharu memasang raut sedih.

“Maaf ya. Tapi aku tidak bisa hari ini.” maaf Kumiko, “Ah, ini. Sudah selesai ku ketik dan ku cetak.”

“Oke. Terima kasih.”

 

***

 

Dentuman musik yang dimainkan DJ menghantam gendang telinga milik gadis bermarga Kanagawa dengan keras. Ia tampak sedikit tidak nyaman, dia tidak suka dengan musik-musik keras seperti ini. Di depannya sudah ada segelas minuman beralkohol yang dipesan oleh Miharu dengan seenaknya. Miki sendiri tidak begitu tahu apa nama dari minumannya itu.

“Miki, nikmati malammu~” kata Miharu menyentuhkan gelas miliknya dengan gelas milik Miki.

“Ugh..” seru Miki saat rasa pahit menjalar ke seluruh lidahnya setelah meneguk sedikit minumannya. Dia tidak pernah bisa bersahabat dengan minuman seperti ini.

Miharu memutar posisi duduknya dari meja bartender ke arah lantai dansa dan melakukan hal yang sama dengan tubuh Miki lalu merangkulnya, “Lihat, disini banyak kesenangan. Disini juga banyak yang bisa menghiburmu, move on dong!” katanya dengan suara setengah berteriak karena suara musik yang sangat keras sedang dimainkan.

Miki melirik Miharu sebentar, lalu melihat ke lantai dansa. Terlintas pikirannya untuk menari di sana, tapi, tidak. Ia bukan penari yang baik dan juga, dia sedang dalam keadaan yang tidak bersemangat. Matanya tertuju pada segerombol orang-orang yang mendadak membuat lingkaran dan bersorak dengan semangat. Miki memicingkan matanya.

Seorang laki-laki sedang menggerakkan tubuhnya dengan lincah, sesuai dengan tempo musik. Menggoyangkan pantatnya, bergerak ke kiri dan ke kanan, melompat dan berbagai hal lainnya. Saat musik berakhir, dia mengangkat tangannya ke udara. Ia tampak seperti penari profesional.

Mata Miki masih tertuju pada orang itu, entah kenapa laki-laki asing itu menarik perhatiannya. Mata mereka beradu, orang asing itu berjalan mendekati Miki, memberikan senyum yang membuat Miki semakin terpana.

“Mau ikut denganku?” bisiknya. Dia mengambil gelas minuman Miki yang tinggal setengah, meneguknya hingga tandas dan melangkah pergi.

Entah dengan gerakan apa, Miki mengikutinya, meraih tangan besar laki-laki asing itu yang terbuka ke arah belakang dan meninggalkan Miharu sendiri di meja bartender.

“Eh? Miki kemana?” tanya Miharu setelah sadar temannya sudah tidak ada di sampingnya.

“Tadi aku lihat dia sudah pergi dengan seseorang.” jawab bartender.

Miharu mengangguk, “Ah, sou.. Sepertinya dia menemukan sesuatu yang menarik.”

Bartender itu tersenyum, “Mau tambah lagi?”

Miharu menaikkan alisnya bingung, si bartender memberi kode ke gelas Miharu, “Ahahaha… boleh.”

 

***

 

Miki masih mengikuti orang yang tidak dia kenal itu, tidak ada rasa takut atau rasa lain yang membuatnya ingin kabur. Terlebih ada rasa nyaman yang diberikan laki-laki itu lewat senyum dan nada bicaranya.

Are you sure? Kau yakin benar-benar ingin ikut denganku?” tanya orang itu lagi setelah sampai di depan pintu sebuah kamar, ia memasukkan kuncinya dan membukanya. Dia masuk satu langkah dan berbalik melihat Miki. Miki hanya menatapnya dalam diam. Entah sihir apa yang diberikan pemuda itu, Miki tidak ingin lepas dari sihir itu.

Laki-laki itu memeluk Miki tiba-tiba. Rasa hangat yang diberikannya membuat Miki terbawa emosi. Dia meremas pakaian orang itu dan menangis di pelukannya. Orang itu melonggarkan pelukannya, mendongakkan wajah Miki ke arahnya dan tersenyum saat melihat wajah Miki yang basah. Jarinya menghapus airmata Miki dan mencium bibirnya sekilas.

“Aku akan menunjukkan dunia lain yang pasti kau suka.”

Miki menutup pintu dengan kakinya saat mereka mulai berciuman dan mulai mengenal satu sama lain melalui cara mereka sendiri.

 

***

 

“Wow, kau hampir terlambat.” seru Kumiko saat melihat Miki sedang menghela napas lega karena bisa datang ke kantor beberapa menit sebelum jam kantor dimulai, “Ada apa?”

Kumiko melihatnya intens. Kanagawa Miki selama ini tidak pernah datang terlambat. Dia selalu hadir tiga puluh menit sebelum jam kantor atau paling lama lima belas menit sebelumnya. Sedangkan hari ini ia datang tiga menit sebelum jam kantor. Tentu saja teman dekatnya ini heran.

“Tidak apa-apa, Kumiko. Aku hanya telat bangun.” jawabnya.

Kumiko mengangguk-angguk mengerti dan kembali melihat layar komputernya.

“Miki, bagaimana kemarin?” tubuh Miki seketika menegak saat mendengar suara Miharu.

Miki memutar kursinya dan mendapati Miharu sudah berdiri di belakang kursinya sambil tersenyum.

Kumiko melihat mereka bingung, “Kenapa? Ada sesuatu yang terjadi, Miharu?”

“Kemarin malam saat di club, Miki meng—umhp!” gerakan bibir Miharu terhenti ketika tangan Miki menutupnya, bahkan sudah mengunci pergerakan Miharu yang akan melepaskan tangan Miki.

“Miharu! Bicaranya nanti saja saat istirahat!” marahnya.

Kumiko menaikkan alisnya, dia penasaran tentang yang Miki dan Miharu alami kemarin malam.

 

***

 

“Eh? Menghabiskan malam bersama orang tidak dikenal?” tanya Kumiko dengan suara keras saking terkejutnya.

Miki meremas rambutnya, “Aduh, Kumiko. Jangan bicara keras-keras!”

“Hahahaha…. lucu sekali. Jadi, tadi pagi kau tidak melihatnya lagi?”

“Ketika aku bangun, hanya aku yang ada di kamar itu.” jelasnya, “Bahkan dia tidak meninggalkan nomor teleponnya.”

“Hee~” seru Kumiko dan Miharu bersamaan.

“Apa kau melihat orang itu, Miharu?” Kumiko melihat Miharu dengan tatapan ingin jawaban.

“Hm..” Miharu mengkerutkan alisnya, “Aku melihatnya, tapi aku tidak begitu ingat. Lagian, Miki bukannya bilang dulu padaku kalau mau pergi.”

“Kau sibuk sih dengan si bartender.” kata Miki santai sambil meminum minuman pesanannya.

Kumiko mengangkat alisnya, melihat ke arah Miharu, “Ah, Miharu mencoba menggaet pria bartender.”

“Apaan sih. Bukan seperti yang kalian pikirkan.” Miharu mengibaskan tangannya beberapa kali. Kumiko dan Miharu pun mulai berdebat tentang itu, Miki sendiri tidak begitu peduli dengan yang mereka debatkan.

Miki sedikit tersentak saat aroma si orang asing itu tercium oleh hidungnya. Dia mencoba melihat kiri-kanan tapi nihil. Dia menghela napas. Sepertinya ada yang memakai parfum yang sama dengannya duduk disini, batinnya.

 

***

 

Seminggu berlalu, Miki masih mencari sosok itu. Mungkin saja bisa bertemu di suatu tempat, pikirnya secara naif. Dia terus menoleh ke kiri dan ke kanan selama perjalanan.

Kumiko memutar bola matanya. Tindakan ini entah sudah keberapa kalinya dia lakukan pagi ini. Tidak mengerti dengan apa yang Miki lakukan.

“Kau kenapa sih? Sudah seminggu kau bertingkah aneh seperti ini.” katanya. Tapi Miki tidak menjawab, “Kalau kau masih mencarinya kenapa tidak datang lagi ke club? Mungkin saja kan.”

“Aku tidak suka tempat berisik seperti itu.” kata Miki beralasan. Sebenarnya dia sudah ke sana berkali-kali. Sampai-sampai bartender yang dekat dengan Miharu itu mengingat wajahnya, menunggu beberapa jam dan orang itu tidak pernah muncul di hadapannya.

“Dan… dimana Miharu?” tanya Kumiko. Miki mengangkat bahu tidak tahu.

Kumiko memutar bola matanya, “Kalian kenapa aneh seperti ini sih?”

 

***

 

Miki menelusuri jalanan, siang ini dia tidak istirahat bersama Kumiko dan Miharu. Dia ingin mencari laki-laki itu, orang yang membuatnya gila setiap hari padahal mereka tidak saling mengenal. Bagaimana bisa dia terjerat dengan orang yang bahkan namanya saja Miki tidak tahu?

Miki larut dalam lamunannya namun kakinya masih terus melangkah. Untuk beberapa saat dia masih dalam keadaan seperti itu sampai dia sadar dari lamunannya dan kakinya berhenti karena menabrak seseorang dan terjatuh.

“Aduh…” bisiknya, ia mengelus bagian yang sakit.

“Makanya, gadis cantik tidak boleh melamun sambil jalan lho.”

Miki melihat orang yang berbicara padanya namun teriknya matahari dan cerahnya langit saat itu membuatnya sulit untuk melihat wajah orang itu dengan jelas. Tapi dia seperti mengenali suara itu.

Orang itu mengulurkan tangannya, Miki melihat tangan itu dan meraihnya lalu berdiri dengan bantuan orang itu.

Mata Miki membesar ketika melihat orang itu, dia tersenyum pada Miki.

“Akhirnya kita bertemu lagi.”

 

***

 

“Kau bekerja dekat sini?” Miki mengangguk, “Kenapa kau tidak mengeluarkan suara? Apa kau tidak suka makanannya?” Miki menggeleng. Orang itu melihatnya agak cemas namun Miki tersenyum dan menyuapkan makanan itu ke mulutnya membuat orang itu membalas senyumnya.

Miki tidak tahu harus melakukan apa. Dia terlalu gugup dekat orang itu. Ia senang bisa kembali bertemu, tapi jantungnya berdetak sangat kencang membuatnya tidak mengerti harus bagaimana. Bahkan mencium parfumnya dari dekat seperti ini membuat Miki salah tingkah.

“Apa kau tidak senang bertemu denganku lagi?” tanya orang itu yang tampaknya khawatir dengan situasi mereka yang hening itu.

Miki menatapnya, “B-bukan begitu.”

“Oh, kau gugup karena dekat denganku kan?” Pertanyaan retoris itu membuat Miki semakin canggung dan salah tingkah, “Ah, iya. Aku Yaotome Hikaru.” Ia menyodorkan tangannya.

“K-kanagawa Miki.” ucap Miki dengan suara kecil sambil menyambut tangan Hikaru. Miki melirik jam tangannya, “A-aku harus segera kembali. Jam istirahatku sebentar lagi akan habis.”

“Oh, begitu? Biar aku antar.”

 

***

 

“Pokoknya aku kesal. Memangnya salah kalau aku cuma menanyakan kabar?”

“Ya kalau kau bertanya tentang kabarnya setiap saat pasti dia marah dong, Kumiko.”

Kumiko mengendus, “Huh, memangnya Miharu mengerti apa? Apa pacarmu seperti itu?”

Maa..” Miharu mengangkat bahunya. Entah kenapa dia jadi teringat dengan seseorang yang sedang mencoba dekat dengannya.

“Ah, aku tidak peduli. Aku mau cari orang lain saja yang lebih bisa menerimaku apa adanya dan lebih menyayangiku daripada pekerjaan.” ucap Kumiko dengan penuh emosi. Dia melihat ke arah Miharu, gadis itu sudah beberapa langkah di depannya membuat Kumiko semakin kesal. Ia menghampiri Miharu, “Apa kau dengar aku?”

Miharu tidak menggubrisnya, “Kumiko, lihat itu.” Miharu menunjuk mobil putih yang sedang berhenti. Seorang gadis keluar dari sana dan beberapa saat kemudian mobil itu meninggalkan gadis itu.

“Miki?”

Miki melihat mobil yang melaju itu sampai hilang dari pandangan matanya lalu berbalik arah, berjalan menuju kantornya. Belum sempat dia mencapai gedung, matanya menangkap dua orang wanita yang sedang melihatnya. Matanya membesar, namun dia mendekati mereka.

“Siapa dia itu?”

“Apa dia orang yang itu?”

Pertanyaan yang sudah bisa Miki terka menghujaninya. Walau temannya itu cuma dua orang, tapi mulut-mulut penasaran mereka terus saja bertanya.

Miki mengangguk, “Un. Aku tidak sengaja bertemu dengannya.”

“Lagi?” Miharu mengangkat alisnya, “Jangan-jangan kalian memang berjodoh.”

Mendengar itu, pipi Miki yang sedikit memerah semakin memerah.

“Lihat, Miharu. Kau membuatnya memerah begitu.” kata Kumiko. Miharu tertawa.

“Sudah, berhenti menggodaku!” ucap Miki namun dia ikut tertawa.

Bahagianya hari ini tidak akan pernah Miki lupakan.

 

***

 

Maaf ya, akhir-akhir ini aku sibuk sekali. Jadi aku hanya bisa mengirimkan kue ini. Apa kau suka?

 

Miki membaca surat kecil yang ada di atas kotak kue itu. Dia menautkan alisnya, sudah seminggu sejak Hikaru pertama kali mengirimkan paket padanya. Anehnya, semua itu adalah hal-hal yang Miki suka. Bunga, tiket bioskop, cokelat, buku dengan pengarang kesukaan Miki dan yang terakhir, kue kesukaan Miki. Miki senang, tapi dia heran bagaimana Hikaru mengetahui kesukaan sebanyak itu? Miki melihat surat itu sekali lagi.

 

ps: itu aku yang buat lho~

 

Miki tersenyum kecil setelah membaca itu. Lalu menggigit kue itu sedikit, “Uhm… enak.”

“Wah, wah.. Bahagianya punya pacar seperti Yaotome-san.”

Miki menoleh ke asal suaranya, matanya menemukan Miharu yang sedang tersenyum padanya, “Apaan sih, Miharu. Dia bukan pacarku.”

“Oh.. Bukan pacar tapi selalu memberikan apa yang kau suka, enaknya~” seru Miharu. Dia duduk di samping Miki kemudian membuka bekal miliknya.

Miki melihatnya, “Oh, iya. Kenapa akhir-akhir ini kau suka sekali membawa bekal? Dan kasihan Kumiko, dia tidak bisa makan bersama kita.”

“Hm.. Ada banyak hal yang terjadi yang membuatku jadi bawa bekal.” jelasnya. Miki hanya mengangguk. Dia tidak bisa bertanya lebih karena Miharu pasti tidak akan mau membahasnya.

“Kau tahu, menurut yang kubaca bunga Carnation artinya ‘pesona’ dan bunga mawar itu artinya ‘aku cinta padamu’. Tidakkah seharusnya kau membalasnya?” Miharu menyuapkan makanannya dengan sumpit.

Miki menyatukan alisnya, “Maksudmu?”

Miharu berusaha menelan makanannya segera, “Bunga-bunga yang Yaotome-san kirim padamu itu adalah ungkapan perasaannya secara tersirat. Dia menyukaimu dari pesonamu, mungkin artinya begitu. Aku tidak paham soal bunga juga sih, hehe..”

Miki melihat kotak kue itu, Miharu ada benarnya. Mereka sudah kenal selama tiga bulan, tidakkah seharusnya Miki maju ke langkah berikutnya? Hikaru sendiri juga senang bersamanya kan? Dan pria itu bukan orang asing lagi bagi Miki.

Dering handphone Miki membuyarkan pikirannya, dia melihat nama penelepon, Yaotome Hikaru.

“Sebentar ya, Miharu.” katanya. Miharu mengangguk, Miki lalu menjauh dari Miharu dan menjawab telepon itu, “Halo..”

“Miki, ayo nanti bertemu!”

“Eh??” Miki kaget, bukannya pria itu sedang sibuk?

“Iya, ayo bertemu. Pekerjaanku sudah selesai!”

Sebuah senyuman terkembang di wajah Miki, “Oke, baiklah.”

“Nanti aku jemput, oke?”

“Oke. Sampai jumpa.”

Miki kembali ke dekat Miharu dengan senyum bahagia.

“Pasti Yaotome-san..” tebak Miharu, “Apa katanya?”

Masih dengan senyum, Miki melihat Miharu yang begitu penasaran, “Dia akan menjemputku nanti.”

“Asyik, pasti mau pergi kencan nih.” goda Miharu. Wajah Miki langsung memerah. Dia berusaha menyembunyikannya dari Miharu sebelum dia digoda lagi, “Ah, wajahnya memerah~”

“Berisik, Miharu!”

 

***

 

“Yaoteme-san, kita mau kemana?” tanya Miki yang baru saja keluar dari lift dan langsung bertemu Hikaru yang menunggunya di tengah lobby. Pria itu langsung menarik tangannya begitu melihat Miki di depannya menuju ke mobil.

“Lihat saja nanti!” ia membuka pintu dan mempersilakan Miki untuk masuk kemudian dia pun masuk lalu supir taksinya melajukan mobilnya.

Tanpa mereka sadari, seseorang di dalam sebuah mobil sedang mengamati mereka dari jarak yang cukup jauh.

“Ck!” ia berdecak kesal, lalu memutar kemudinya untuk mengikuti mereka.

 

***

 

“Untuk apa ke pantai begini?” Miki mengikuti Hikaru yang sudah lebih dulu lari menuju pantai. Hikaru tidak menjawabnya, dia hanya terus berlari dan berhenti beberapa langkah kemudian. Dia merentangkan tangannya, merasakan angin menerpa wajahnya.

“Ah, kimochi!” serunya. Miki juga berhenti di sampingnya dengan napas tidak beraturan, Hikaru menatapnya lalu tertawa.

“Kenapa tertawa?”

Hikaru tersenyum, “Tidak apa-apa. Bagaimana, enak kan angin disini?”

“Ke pantai hanya untuk merasakan angin?”

“Tidak juga. Lihat, matahari sebentar lagi terbenam. Kau akan melihat view yang paling indah disini.”

Miki melihat ke ujung pantai. Langit yang kemerahan membuat Miki terpukau, “Kirei…”

“Benar kan?” Hikaru melirik Miki, senyum menghiasi wajah mereka berdua, “Apa kau masih ingat dengan kata-kataku waktu itu?”

“Kata-katamu?” Miki menyeritkan keningnya, mencoba mengingatnya.

“Hn, saat pertama kali kita bertemu.”

’Aku akan menunjukkan dunia lain yang pasti kau suka.’ Itu?”

Senyum Hikaru semakin lebar, “Ternyata kau mengingatnya.”

“Tentu saja, aku cukup bingung dengan itu awalnya…”

Hikaru menaikkan alisnya, “Tapi sekarang sudah kau mengerti?”

Miki mengangguk, “Un! Aku sangat menyukai dunia yang kau berikan, Hikaru.” Hikaru cukup terkejut saat Miki memanggilnya dengan nama kecilnya, “Tapi aku masih heran, bagaimana bisa kau tahu semua yang kusukai?”

Hikaru kembali tersenyum, tangannya mengacak pelan rambut Miki, “Suatu saat aku akan memberitahumu, tapi tidak sekarang.”

“Kenapa?” tanya Miki sedikit kecewa.

“Ah! Indah sekali~” Hikaru kembali melihat matahari terbenam, Miki tahu dia sedang mengalihkan pembicaraan.

Miki menarik tangan Hikaru, “Beritahu aku sekarang, Hikaru!” Namun Hikaru sama sekali tidak peduli.

 

***

 

“Brengsek kau, Hikaru! Teman macam apa kau!”

Hikaru menghentikan langkahnya dan berbalik menuju asal suara, “Ah, kau rupanya, Ryo-chan.”

“Tidak usah bermanis ria di depanku!”

“Apa maksudmu?”

Orang yang dipanggil Ryo-chan itu mendengus, “Aku tahu semuanya. Hentikan sandiwaramu itu, menjijikkan.”

Hikaru tertawa, “Ahahahaha… Bukankah kau yang lebih menjijikkan? Kau berpacaran dengan Miki tapi juga tidur dengan wanita-wanita lain. Dan baru sekarang kau merasa kalau Miki penting untukmu? Aku tahu kau itu tampan, Yamada Ryosuke. Tapi kau lebih menjijikkan lagi.”

Yamada menggertakkan giginya kesal, “Miki itu masih milikku. Akan kurebut dia darimu, lihat saja!”

Hikaru memasang senyum termanisnya, “Silakan, tuan Tampan!”

 

***

 

“Hei, berhenti senyum-senyum sendiri!” kata Kumiko pada Miki yang sejak pagi tidak pernah melepaskan senyumnya dari wajahnya, “Apa wajahmu tidak pegal?”

“Kumiko, sudahlah. Dulu kau juga seperti itu, tahu! Baru menerima email dari Inoo-san saja kau sudah kayak orang gila.” jelas Miharu, “Kau hanya iri~”

“Huh, bela aku dong. Buat aku melupakannya gitu mungkin.” Kumiko cemberut, Miharu tertawa.

“Membuatmu lupa dengan Inoo-san? Aku tidak salah dengar kan?” tanya Miharu, tangannya diletakkan dibelakang telinganya, “Kemarin saja Miki bilang Inoo-san mencarimu, kau bahkan bertanya terus-terusan itu betul atau tidak.”

Kumiko membuang pandangannya dari wajah Miharu yang sedang mengejeknya, “Miharu tidak peka!”

“Bukan aku yang tidak peka, kau saja yang terlalu gengsi!”

Mereka berjalan keluar dari pintu kantor. Tak berapa jauh dari pintu kantor, langkah mereka berhenti. Mata mereka menangkap satu sosok yang baru saja berdiri di depan mereka.

“Miki..”

Miki menaikkan alisnya, “Untuk apa lagi kau disini?”

“Aku… Maafkan aku..”

“Heh… baru sekarang kau meminta maaf, Yamada-san?” tanya Miharu, “Itu tidak ada gunanya lagi.”

“Tapi…”

Kumiko mendekati Yamada, “Sudahlah, tuan. Pulanglah. Kau tidak pantas lagi untuk teman kami karena dia sudah menemukan orang yang pantas untuk jadi pendampingnya.”

Mendengar itu, Yamada merasa emosi, “Siapa? Siapa dia? Jawab aku, Miki!”

“Untuk apa kau perlu tahu? Kau menghilang selama tiga bulan ini dan kau tiba-tiba muncul seperti ini. Apa maumu?”

“Aku hanya ingin kita seperti dulu.”

Miki mendengus kemudian tertawa mengejek, “Ahahahaha….. Seperti dulu? Maaf, tapi kita sudah tidak ada hubungan lagi, Yamada-san.”

Yamada terdiam, Miki sudah tidak memanggilnya dengan nama kecilnya lagi. Dia sudah lama dibuang dari hati wanita itu.

“Baiklah. Semoga kau bahagia dengan Hikaru.” Untuk sejenak, mereka saling beradu pandang. Yamada berbalik dan meninggalkan Miki, Miharu dan Kumiko yang sedang saling memandang bingung satu sama lain.

“Ada apa? Kenapa kalian bengong seperti itu?”

Mereka tersentak kaget, Hikaru sudah berdiri di depan mereka.

“Tidak apa-apa, Yaotome-san.” ucap Kumiko.

Miharu mengangguk, “Baiklah, kami duluan ya..” ucapnya, “Ayo, Kumiko!” Miharu menarik tangan Kumiko.

“Ng? Ah, sampai jumpa besok, Miki!” Keduanya segera melangkah pergi dari sana, meninggalkan Miki dan Hikaru. Hikaru menatap Miki, menanti jawaban pertanyaannya tadi.

“Boleh aku tahu…. Apa hubunganmu dengan Yamada Ryosuke?”

 

***

 

“Kenapa tidak bilang dari awal kalau kau temannya Yamada?” tanya Miki sedikit kesal dengan pria itu.

Hikaru menyeruput minumannya, “Kau tidak bertanya sih.”

“Kan aku tidak tahu.” Miki menghempaskan tubuhnya ke sofa di sebelah Hikaru. Wajahnya ditekuk.

“Ah, benar juga.” Hikaru mengangguk, “Kita tidak saling menukar kartu nama ya..”

Miki melihat Hikaru sambil menaikkan alisnya bingung, “Memang ada apa di kartu nama?”

“Mungkin…” Hikaru mengeluarkan kartu namanya dan memberikannya pada Miki, “…kau akan terkejut.”

Mata Miki membesar melihat nama perusahaan yang ada di kartu nama itu, “Kau kerja di tempat yang sama dengan Yamada?”

“Tidak hanya itu, ayahku adalah pemilik perusahaan itu,” Miki melihat Hikaru tidak percaya. Memang selama ini mereka tidak pernah membicarakan tentang latar belakang mereka. Hanya membahas hal-hal yang menyenangkan saja, “tapi karena aku tidak mengikuti apa yang dikatakan ayahku dan membuat sebuah toko kue, ayahku pun meletakkanku di bagian karyawan supaya aku mau datang ke kantor.”

Miki mengangguk mengerti, “Baiklah, lalu dari mana kau tahu semua tentangku? Sampai kau bisa tahu semua yang kusukai.”

Hikaru menggaruk kepalanya, “Itu saat Yamada bercerita kalau dia ikut kencan buta bersama beberapa karyawan. Dia menceritakan semua tentangmu, setiap hari. Semenjak itu, aku pun mencari tahu tentangmu.”

“Jadi kau selama ini membuntutiku, begitu? Sulit dipercaya.”

Hikaru mengelus rambut Miki, “Kira-kira begitu. Aku jatuh cinta padamu sebelum kita saling bertatap muka. Lucu ya?”

Miki menatap Hikaru yang tersenyum lembut padanya, merasakan tangan Hikaru mengelus pelan rambutnya. Nyaman, itu yang dia rasakan saat ini. Dia tidak pernah merasa senyaman ini sebelumnya.

“Jadi, apa kau menyukaiku juga?” tanya Hikaru. Berkali-kali ia bertanya tentang itu, namun Miki sama sekali tidak menjawabnya. Alih-alih menjawab, wanita itu malah mencari topik lain.

Tubuh Miki sedikit kaku saat mendengar itu, lalu mengalihkan pandangannya. Membuat Hikaru gelisah karena merasa dia akan ditolak.

“Apa kau benci padaku karena aku mengambilmu dari si Yamada itu?”

Sesaat ruangan itu hening, Hikaru mulai sedikit gugup. Tak berapa lama, Miki tertawa keras.

“Ahahahahaha….” Miki menoleh pada Hikaru, mengusap pipinya lembut sambil tersenyum, “Untuk apa aku membenci dengan orang yang membuatku selalu nyaman kalau bersamanya. Seharusnya aku senang karena kau telah merebutku darinya. Dan dunia yang kau tunjukkan itu sangat indah.”

“Jadi…?”

Should I told you about it?” tanya Miki menggoda.

Hikaru menyeringai, “Sure, baby.”

“Tapi aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.”

Hikaru tersenyum jahil, “Kalau begitu, dengan cara yang lain saja.”

Mengerti maksud Hikaru, Miki mencubit tangan Hikaru, “Mesum!”

Keduanya tertawa, kemudian saling berangkulan, Hikaru sedikit mengeratkan pelukannya.

Suki da yo..”

Atashi mo. Hikaru no koto ga suki desu.”

Mereka beradu pandang, saling melihat wajah lawan yang sedang tersenyum. Jarak di antara mereka semakin lama semakin kecil dan ciuman yang manis pun tercipta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s