[Minichapter] Impossible Love (Chap 3)

Impossible Love
By. Nadia Sholahiyah Utami
Genre: Romance, Friendship
Type: Minichapter
Chapter : 3
Starring: Inoo Kei (HSJ), Sato Miharu (OC), dan selentingan orang lewat

Kei kini melihat sekeliling kamar hotel itu. Malam ini mereka memang menginap sementara di hotel sebelum besok akan berangkat bulan madu langsung ke tempat yang telah Kei rencanakan dengan pesawat pagi.

Pria itu merasakan tubuhnya terlalu letih karena acara pernikahan mereka yang padat. Pria itu juga menduga kalau Miharu juga sangat capek.

Well. Sepertinya dia harus bersabar dulu. Lagipula, mood istri tersayangnya sedang tidak baik.

Tepat saat itu, Miharu keluar dari kamar mandi. Gadis itu tampak sudah mandi dan berganti pakaian dengan piyama. Kei sedikit menelan ludah saat melihat rambut Miharu yang basah karena baru keramas.

“Kau tidur dimana?” tanya Miharu.

“Di tempat tidur,” kata Kei kalem. Pria itu sudah mengambil posisi di satu sisi tempat tidur King Size yang ada di tengah ruangan itu.

“Lalu aku tidur dimana?” tanya Miharu lagi.

“Ya ditempat tidur,” jawab pria itu santai. Pria itu lalu melepas bajunya di bagian atas lalu bergelung masuk kedalam selimut.

“Dengamu? Disana?” Miharu bergidik ngeri.

“Memangnya dimana lagi? Atau kau punya ide untuk menghabiskan malammu setelah seharian berdiri menyalani ratusan tamu undangan, sayang? Well terserah kau saja,” kata pria itu lagi.

Miharu kembali mengoceh tidak jelas merutuki suaminya itu. Namun dia memang tidak punya pilihan lain. Lagipula badannya benar-benar letih. Akhirnya dengan terpaksa, dia menyeret kakinya ke sisi tempat tidur satunya lalu berbaring disana.

“Awas kau kalau macam-macam,” ancam Miharu.

Tapi karena tidak terdengar jawaban, gadis itu memandang ke sebelahnya dan terlihat sosok disana sudah terpejam dengan hembusan nafas yang teratur. Tidur.

Sejenak Miharu memandang sosok itu dalam diam. Namun dia buru-buru menggelengkan kepalanya lalu mematikan lampu kamar itu dan memejamkan matanya.

Pagi mulai datang, sang rembulan sudah kembali ke peraduannya.

Sinar matahari mulai masuk ke cela jendela kamar hotel Miharu dan Kei.

Pagi itu, Kei terbangun karena ia tak tahan dengan sinar matahari yang menganggu matanya dan akhirnya ia memilih untuk membuyarkan mimpi indahnya, sementara merenggangkan badan, Kei melihat sosok Miharu yang sudah bergerak gusar tapi kembali bergelung di dalam selimut tebalnya.

Melihat itu, membuat semyuman licik tercipta dari bibir Kei.

Perlahan pria berperawakan cantik itu mendekati tubuh ke wanita yang kemarin telah resmi menjadi istrinya, wajahnya ia dekatkan dengan wajah Miharu.

“Heh nekko-chan~” bisik Kei di telinga Miharu “bangun…” Tak ada respon, tangan Kei mulai jahil menekan-nekan pipi Miharu.

“Nekko-chan.. Okite yo~~” masih tak ada respon. Sesaat Kei diam untuk berpikir bagaimana caranya membangunkan istri tercinta nya.

Dan tiba-tiba Kei memliki ide, perhalan Kei mendekatkan bibirnya ke telinga Miharu dan mulai membuka mulutnya “ada Miki disini”

“Mana?” Dan benar saja, Miharu langsung duduk dari tidurnya.

Kei terkikik geli “ada di dapur” kata Kei santai.

Perlu di ingatkan, hotel ini dapurnya ada pembatas dengan kamar tidur, jadi dari tempat tidur dapur tidak akan terlihat.

Dengan terburu-buru Miharu menuju dapur, dan mulai celingukan “tidak ada!” Seru Miharu kesal.

“Memang, nah sekarang masakan aku sesuatu, aku mau mandi” Kei beranjak dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi.

Sementara itu, di dapur Miharu sedang menggeram kesal karena Kei telah membohonginya “Inoo Keeeiii!!”

Terkutuklah dirinya. Miharu mendumel dalam hati saat melihat diatas meja kini sudah tersedia dua porsi smoke beef dan telur untuk sarapan lengkap dengan dua gelas jus jeruk, tidak hanya untuknya tapi juga untuk Inoo Kei. SEJAK KAPAN DIA MERASA PUNYA KEWAJIBAN SEPERTI INI??? Padahal dia menolak 100% pernikahan ini.

“Waaahh, baunya enak sekali,” celetuk Inoo saat keluat dari kamar mandi. Pria itu tidak memakai apaapun, hanya sehelai handuk yang melilit di pinggangnya dan satu helai handuk lagi tersampir di pundaknya setelah digunakan untuk mengeringkan rambutnya.

“Apa yang kau lakukan berkeliaran seperti itu?” tanya Miharu hampir berteriak.

“Kenapa? Apa salahnya?” tanya Kei santai.

“Tentu saja salah. Sana pakai bajumu!!” marah Miharu lagi.

“Memangnya kenapa? Bukankah kau bilang kau tidak ada selera dengan pria? Kenapa kau merasakan sesuatu padaku?” goda pria itu.

Miharu terdiam. Pria itu benar. Seharusnya dia bersikap biasa saja. Lalu kenapa dia merasa salah tingkah?

“Aku mau cuci muka dulu,” kata gadis itu kesal.

Namun saat berjalan melewati Kei, tangan gadis itu ditahan. Dan dalam detik berikutnya pinggangnya sudah dipeluk erat oleh pria itu.

“Mau kemana, sayang?” Nada bicara pria itu berubah menggoda.

Miharu meronta dan memukul dada Kei.

“Menjijikkan! Lepaskan aku dasar brengsek!” rutuk Miharu

“Kenapa? Kau belum menjawab pertanyaanku sayang.” nada suara pria itu makin menggoda.

Miharu semakin meronta. Tiba-tiba saja, satu tangan Kei menyusup masuk kedalam baju Miharu dan meraba punggung gadis itu.

“HEI! Apa yang kau lakukan?” Miharu membelakkan matanya saat merasakan tangan Kei semakin nakal.

“Sepertinya aku ingin mengubah menu sarapanku. Aku sarapan kau saja , bagaimana? Soal penerbangan kita, bisa kita tunda ke penerbangan berikutnya, bukan?” tanya Kei semakin seductive.

Miharu merasakan tangan pria itu sudah mulai bermain di tali bra nya. Dan dalam satu sentakan saja, kaitan disana sudah berhasil dilepas.

Miharu merasakan bahaya yang mengancam. Gadis itu lalu menggigit pundak Kei dan membuat pria itu langsung melepaskan pelukannya.

“Ittaaaaii~” keluh pria itu sambil menyentuh tempat yang digigit Miharu.

“Rasakan itu dasar hentai. Kei brengsek!!!” Miharu langsung berlari masuk kedalam kamar mandi.

Sementara itu di luar, Kei menggeram dengan kesal.

“Sial!” rutuknya.

***

Siangnya Miharu dan Kei sudah berangkat ke bandara dan melakukan penerbangan meninggalkan Okinawa, tempat kelahiran mereka. Dan juga meninggalkan negara Jepang.

Meninggalkan Jepang?

“Sebenarnya kita mau ke mana?” Tanya Miharu saat menyadari kalau penerbangan mereka belum juga berakhir setelah beberapa jam. Kei hanya tersenyum.

 

“Lihat saja nanti, dan kau akan tahu” kata Kei, dia memang sengaja merahasiakan kemana ia membawa Miharu.

 

Siapa tahu saja Miharu bisa senang dan melupakan mantan pacarnya si Nino itu, ya. Kei ingin sekali Miharu melupakan orang yang telah membuatnya berubah dalam sekejap untuk beberapa tahun yang lalu.

“Aaaa tsukaretaa~” Miharu merenggangkan badannya saat turun dari pesawat, duduk berjam-jam membuat pinggang Miharu pegal.

Ia tercengang saat melihat orang-orang di sekelilingnya sudah berubah menjadi bule semua.

“Kei ini dimana?” Tanya Miharu lagi, tanpa sadar ia memeluk tangan Kei–takut.

“Haha nanti kau juga lihat” kata Kei dan mengajak Miharu untuk keluar dari bandara dan masuk ke dalam taxi.

Beberapa menit mereka mulai menyusuri negara yang Miharu tak tahu, dan saat terlihat ada menara Eiffel bsrulah Miharu sadar kalau sekarang mereka ada di Paris.

“Paris!!” Seru Miharu senang sambil menempelkan kedua telapak tangannya di kaca mobil.

Kei tersenyum puas, misinya berhasil.

Perancis. Paris. Dikenal sebagai kota kekasih. Kota paling romantis di dunia. Salah satu kota di eropa yang paling ingin dikunjunginya. Eifel, Sungai Siene, NotreDame, dan berbagai bangunan dengan arsitektur kuno yang berkesan mewah, dengan ciri khas abad pertengahan lainnya.

“Howaaaaaaaa… ini seperti mimpi,” kata Miharu masih takjub melihat keluar jendela.

Disampingnya Kei hanya tersenyum memandang istrinya yang terlihat berbinar.

“Ne, ne Kei..” tanpa sadar Miharu menepuk lengan Kei dan menggenggamnya, membuat pria itu sedikit kaget karena perubahan tiba-tiba ini, “Itu sungai Siene kan? Bisa kita kesana nanti malam? Katanya suasananya kalau malam hari lebih indah,” tanya Miharu menggebu.

“Sepertinya bisa, hotel kita menginap di dekat sana, sebentar lagi kita sampai.” jawab Kei.

Miharu memandang Kei sambil tersenyum lebar, dan tiba-tiba saja memberikan pelukan kilat pada pria itu sebelum kembali memandang keluar jendela taxi. Miharu tidak menyadari tindakannya telah memberikan efek besar terhadap suaminya.

“Wah, aku tidak menyangka akan seperti ini” gumam Kei dengan senang.

Selang beberapa  menit kemudian, mereka tiba di hotel. Inoo melakukan check in sementara Miharu menunggu sambil duduk di loby hotel.

“Ayo” kata Kei setelah selesai dan mengajak Miharu untuk masuk ke dalam kamar mereka.

Miharu menurut dan mengikuti langkah Kei “tunggu” mereka berhenti saat hendak memasuki lift.

Kamar Miharu dan Kei ada di lantai 8, dan tentu saja untuk sampai ke sana harus menggunakan lift kalau tidak mau capek naik tangga “ada apa?” Kei menyerngit.

“Kunci kamar ku mana?” Tangan Miharu mengadah ke hadapan Kei, pria itu sedikit terkejut lalu tertawa geli, gantian Miharu yang menyerngit.

“Kau lupa kita sekarang suami istri?” Kei kembali terbahak sambil menggeleng.

Miharu sedikit menggeram “ya sudah aku pesan kamar sendiri saja”

“Yakin? Uang mu sekarang kan di aku semua” kata Kei mengejek.

Kesal, Miharu hanya bisa mendelik ke arah Kei dan akhirnya menyerah untuk sekamar dengan Kei.

.

Saat sampai di kamar, Kei kembali terkejut dengan perubahan Miharu yang seketika lagi.

“Sugooiii” Miharu membiarkan koper nya di depan pintu dan langsung merebahkan diri di kasur king size hotel itu “aahh kimochii~”

Melihat itu Kei hanya menggeleng sambil tersenyum dan membawa koper Miharu masuk dan menyusun baju mereka berdua.

Terbalik, sepertinya Kei yang cocok menjadi seorang istri.

“Kau senang?” Tanya Kei saat selesai menyusun baju mereka di dalam lemari, ia melihat Miharu masih tertidur nyaman di sana sambil tersenyum dan mengangguk “ya, Nino-kun”

Deg!

Salah dengarkan Kei?

“A-apa?” Tanya Kei meyakinkan, seketika Miharu membuka matanya dan melihat Kei sudah duduk di sampingnya “eh. Maksud ku, Kei” Miharu tersenyum canggung.

Saat seperti ini malah mengingatkannya dengan Nino dulu.

“Haha.. Aku haus” Miharu langsung duduk dan berdiri dari kasurnya untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka, namun Kei menarik Miharu hingga ia kembali tertidur dan Kei berada di atasnya tubuh Miharu.

Kei mendekatkan wajahnya ke wajah Miharu, menatap mata istrinya dalam-dalam.

“Tidak bisa kah kau melupakannya?” Tanya Kei dengan suara rendahnya, dan itu sukses membuat jantung Miharu hampir lepas.

Agak lama mereka seperti itu, hingga akhirnya Miharu menelan ludah dan mulai bersuara “…tidak”

“Ck” Kei berdecak kesal dan melepaskan diri dari Miharu.

“Aku mau mandi, habis itu kau ya dan kita makan nanti malam kita mau ke sungai Siene kan?” Miharu hanya mengangguk masih dengan posisi tertidurnya, sedangkan Kei sudah masuk ke kamar mandi terlebih dahulu.

“Sial” batin Kei kesal.

 

***

Seperti janji Kei, mereka berdua berjalan menysuri sungai Siene pada malam hari. Suasana disana benar-benar ramai. Ditengah sungai ada perahu yang lewat. Dari sungai Seine mereka juga bisa melihat menara Eifel dengan jelas. Salah satu simbol kota paris itu berdiri kokoh tak jauh dari mereka.

“Ini indah sekali, ah… seperti salah satu mimpiku jadi kenyataan,” kata Miharu dengan riang.

Inoo tersenyum melihat istrinya itu. Satu lagi sifat Miharu yang dilihatnya. Sepertinya dengan perlahan, Miharu menjadi dirinya sendiri di hadapan Inoo. Meski gadis itu sendiri tidak sadar. Tapi itu hal yang bagus bukan? Bukankah itu artinya Miharu perlahan merasa nyaman bersama dirinya? Entah kenapa kenyataan itu membuat Inoo senang.

“Ne, Kei… kita mau makan malam dimana? Aku lapaaarr,” tiba-tiba saja Miharu merengek manja padanya.

Oh! Coba lihat itu, dia benar-benar menjadi seorang gadis yang sangat manis sekarang.

Kei menunjuk satu tempat yang ada diseberang mereka berdiri sekarang, tepatnya di seberang sungai Seine.

“Disana ada restoran, kudengar makanan disana lumayan,” kata Inoo.

“Kalau gitu ayo! Aku sudah sangat lapar,” kata Miharu lagi.

Inoo tersenyum sambil mengangguk. Miharu berjalan duluan didepan Inoo masih sambil memotret sekelilingnya. Sampai akhirnya Miharu tiba lebih dulu di jembatan yang menghubungkan dua sisi sungai, gadis itu baru menyadari Inoo tidak ada lagi dibelakangnya.

“Kei, Kei! Kau dimana? Kei, Ini tidak lucu! Inoo Kei!” Miharu sedikit panik sambil melihat kesekeliling.

Tersesat di tempat asing, tanpa uang, meski di dalam tas kecilnya dia membawa kartu identitas dan passport.

Tiba-tiba saja, satu tangan terjulur didepan wajahnya, sambil menunjukkan sebuah benda yang digenggamnya. Sebuah gembok. Miharu lalu memandang si pemilik tangan yang ternyata adalah Inoo.

“Kei, brengsek! Kau kemana saja meninggalkanku sendirian seperti tadi?” Miharu berkata dengan kesal sambil memukul pria itu.

“Aw! Maaf, aku ingin membeli ini. Tadi kau sudah ku panggil, tapi sepertinya kau tidak mendengar,” Inoo menghentikan pukulan itu dan menahan tangan Miharu, lalu meletakkan gembok tadi ditangan gadis itu.

“Ini apa?” tanya Miharu lemah,

“Gembok Cinta,” jawab Inoo singkat.

“Ha?” Miharu bertanya tak mengerti.

“Kau tidak sadar kita dimana? Ini jembatan yang terkenal itu. Kau tidak lihat sekelilingmu? Ku dengar perempuan suka yang seperti ini,” katanya.

Miharu melihat sekelilignya dan baru tersadar. Di pagar jembatan itu, banyak tergantung gembok-gembok berwarna-warni. Miharu lalu lalu melihat gembok di tangannya. Disana ada sebuah hati dan namanya sudah terukir diatasnya, namun dibawahnya kosong.

“Kenapa ini kosong?” tanya Miharu.

Inoo tampak menggaruk kepalanya. “Konon katanya kan nama pasangan yang mengunci gembok di tempat ini, cinta mereka akan abadi. Aku sih tidak percaya, tapi biasanya kan anak perempuan percaya yang begitu. Aku ingin mengukir nama kita sebenarnya, tapi aku tidak ingin kau ngamuk lagi dan nekat melompat ke sungai, jadi ku kosongkan saja,” Inoo terlihat salah tingkah sambil menjelaskan.

“Tentu saja, aku ingin mengukir namaku dan Miki disini,” kata Miharu, gadis itu merogoh tasnya mencari spidol namun tidak ada.

“Kau ada spidol?” tanya Miharu pada Inoo.

“Tidak.”

“Lalu ini ditulis pakai apa tadi?”

“Spidol penjualnya,”

“Ah, menyebalkan! Apa boleh buat,” gerutu Miharu. Gadis itu lalu menggantungkan gemboknya disana begitu saja. “Suatu saat aku akan kembali dan menulisnya,” kata gadis itu. Setelahnya dia melempar kunci gembok itu di dalam sungai.

Tiba-tiba saja tangannya satu lagi digandeng oleh Inoo. Miharu kaget dan ingin menyuarakan protes, tapi diputus oleh pria itu.

“Biar kau tidak nyasar lagi,” kata pria itu singkat lalu segera menarik istrinya dari sana. “Kau lapar bukan? Aku juga lapar sekali,” kata Inoo dengan riang. Mengabaikan Miharu yang menggerutu, namun sama sekali tidak melepaskan gandengan itu.

.

Ratatouille, makanan berjenis semur yang berisi sayuran dan bisa di makan bersama nasi, Miharu hanya diam melihat makanan asing yang ada di hadapannya ini.

Dan, sebotol wine yang ada di meja mereka. Membuat Miharu menganga, entah ia harus senang atau apa karena semuanya ia rasa asing.

“Miharu, kau jangan minum ini ya” kata Kei mengingatkan Miharu yang masih diam, menelan ludahnya lalu mengangguk seperti anak kecil yang menurut akan suruhan ibunya.

Kei tersenyum melihat tingkah Miharu yang baru saja ia tahu, kepolosan Miharu terlihat sangat lucu di mata Kei saat ini.

“Ayo makan itadakimasu” Kei pun mulai menyuapkan ratatouille miliknya, dan tak lama Miharu juga mulai menyuapkan makanan khas Paris itu ke dalam mulutnya.

“Oishiii~” seru Miharu senang dan matanya mulai berbinar.

“Benarkan? Ini tidak buruk” Kei tertawa, tangannya terulur untuk mengambil segelas jus yang ia pesan.

Sambil menikmati jus, dan kembali makan Kei menatap Miharu yang makan dengan begitu lahap.

Tiba-tiba handphone seseorang berdering, dan ternyata itu milik Miharu saat gadis itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya.

“Miki..” Bisik Miharu pelan, Kei menyerngit.

“Sebentar… Aku mau angkat telpon” Kei mengangguk membiarkan istrinya bertelpon ria dengan ‘mantan lesbiannya’ ups.

Sayup-sayup Kei dengar kalau ia berseru kesal, lalu menutup sambungan mereka dengan kasar, saat kembali duduk pun Miharu memasang wajah cemberut–kembali seperti biasa.

“H-hey.. Ada apa?” Tanya Kei melihat tingkah istrinya yang kembali…galak.

Alih-alih menjawab, Miharu malah mengambil botol wine dan menuangkannya di gelas kecil miliknya.

“M-miharu! Kau bisa mabuk” Kei mencoba menarik botol itu, tapi terlambat Miharu sudah minum setenggak.

Oke, baru setenggak.

Tapi, Miharu kembali menuangkannya dan minum lagi.

“Miharu apa yang kau lakukan?!” Panik Kei dan akhirnya berhasil menjauhkan botol itu setelah Miharu minum sebanyak tiga gelas, benar saja Miharu mulai sempoyongan.

Gadis itu mendekati Kei dan memeluknya “aah… Aku tidak tahan… Aku ingin pulang~” igau Miharu sambil memeluk Kei dengan manja.

Itu memberi efek yang amat besar terhadap Kei, tentu saja. Kei menelan salivanya “b-baiklah k-kita pulang.”

TBC

Advertisements

One thought on “[Minichapter] Impossible Love (Chap 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s