[Minichapter] Impossible Love (Chap 2)

Impossible Love
By. Nadia Sholahiyah Utami
Genre: Romance, Friendship
Type: Minichapter
Chapter : 2
Starring: Inoo Kei (HSJ), Sato Miharu (OC), dan selentingan orang lewat

“Selain untuk merayakan ulang tahun istri saya, pesta malam ini digelar sekaligus sebagai pesta pertunangan putri kami, Sato Miharu dan Inoo Kei.”

Ditempatnya, Miharu terdiam shock sambil memandang kedua orang tuanya. Apa yang tadi dikatakan ayahnya?

“A…apa?!”

“Untuk Miharu dan Kei silahkan naik ke atas panggung” ucap ayah Miharu dan di sambut tepukan tangan dari para tamu undangan.

Kei membuka setengah tangan sebelahnya bermaksud untuk mengandeng Miharu, senyum tak lepas dari pria itu. Tapi Miharu hanya diam sambil terus memberikan tatapan tajam ke arah pria bermarga Inoo di sampingnya.

Karena geram, Ibu Miharu memaksa anaknya untuk menggandeng Kei dengan tatapan tajamnya, dan akhirnya Miharu menurut, setelah di rasa sudah cukup barulah kedua pasangan itu naik ke atas panggung.

Kei tersenyum dan Miharu memasang tampang cemberutnya. Tapi tamu undangan terus saja bertepuk tangan hingga mereka sampai di atas panggung.

“Senyum Miharu” bisik Kei.

Dengan paksaan Miharu sedikit tersenyum dan mencoba untuk tampak mesra bersama Kei di hadapan para tamu, ia melihat ibunya tersenyum sanang.

“Nah inilah mereka berdua. Karena kalian sudah ada disini, apa yang akan kau katakan dengan calon tunangan mu Kei?” Tanya ayah Miharu memberi isyarat agar Kei segera melamar putri nya.

Kei melepas gandengan tangan Miharu lalu berlutut di hadapan gadis itu sambil mengulurkan sebuah cincin yang berada di dalam kotak merah berbentuk hati.

“Untuk Sato Miharu… Sahabat kecil ku…” Ayah Miharu mengarahkan sebuah mic ke dekat mulut Kei “banyak hal yang sudah kita lewati bersama, senang, sedih, aku berusaha selalu berada di samping mu. Dan setelah kita beranjak dewas, apalagi dua tahun aku tidak menemui mu, aku merasakan rindu terhadap mu di setiap harinya..”

“…hingga suatu hari aku menyadari kalau aku ternyata menyukai mu, aku mencintai mu Miharu” sebelah tangan Kei meraih tangan kanan Miharu “maukah kau menikah dengan ku?” kata-kata terskhir Kei sontak membuat semuanya berseru, Kei menatap mata Miharu dengan penuh harap.

Semua tamu undangan bersorak agar Miharu menerima lamaran Kei, Miharu melihat ke arah Ibunya dan tepat saat itu ibu Miharu mengisyaratkan agar Miharu menerima nya.

Jujur, Miharu tidak mau bertunangan dengan pria menyebalkan di hadapannya ini. Dia tidak punya hasrat lagi terhadap pria.

Dia malah kepikiran dengan keadaan Miki saat ini, namun saat itu Miharu kaget karena Kei mengeratkan genggamannya membuat Miharu sedikit kesakitan.

“Ya… Aku mau” ucap Miharu singkat, jelas, dan padat.

Tepat setelah itu Kei langsung memasangkan cincin ke jari manis Miharu lalu mencium tangan gadis itu.

Sorak sorai dari tamu undangan kini bergema di ruang tamu megah rumah Miharu.

Terkutuklah kau Miharu. Makinya dalam hati.

……..

Selesai acara inti, Miharu menyingkir dari kerumunan orang. Pernikahannya akan digelar 3 hari dari sekarang, dan yang ada didalam pikirannya saat ini adalah Miki.

Gadis itu mencoba menghubungi Miki namun dia sama sekali tidak diangkat. Miharu mendadak cemas sambil mengutuk apa yang sudah terjadi pada dirinya.

“Ayolah Miki, angkat telponnya. Hidup matiku sedang dipertaruhkan disini.” gumam Miharu sambil menghubungi gadis itu.

“Siapa yang mau mati?” Miharu langsung berbalik saat mendengar seseorang mendekatinya. Namun langsung mendelik saat melihat siapa yang datang. Inoo Kei.

“Ngapain kesini?” kata Miharu dengan nada yang sama sekali tidak bersahabat.

“Siapa yang mau mati?” tanya pria itu.

“Bukan urusanmu!” jawab Miharu. Gadis itu kembali berusaha menelpon melalui ponselnya.

“Menelpon siapa?” tanya Kei lagi sambil memandang Miharu.

“Sudah sana, ini bukan urusanmu!” Miharu berusaha menghindar.

“Tentu saja ini sudah menjadi urusanku. Kau sudah menjadi tunanganku.” kata Kei lagi sambil mendekati Miharu lagi.

Miharu menyimpan ponselnya kedalam pouch miliknya lalu memandang lurus ke Inoo Kei.

“Dengar ya! Aku menerima pertunangan ini karena terpaksa. Ibuku mengancam pendidikan ku di Tokyo jika aku tidak pulang dan mengikuti kemauannya. Ku ingatkan, kalau aku tidak suka padamu. Aku benci seluruh pria di dunia ini kecuali ayahku. Jadi jangan salah tanggap denganku,” jelas gadis itu dengan menggebu-gebu.

Kei diam mendengar perkataan gadis itu dan sedikit menyerit.

“Kau benci pria? Jadi kau ini apa? Lesbian?” tanya Kei dengan nada sedikit mengejek.

Miharu semakin kesal saat mendengar pertanyaan itu, “Kalau iya kenapa? Apa urusannya denganmu? Aku memang lesbian. Aku menyukai wanita. Aku benci pria. Puas?!” Miharu langsung berbalik pergi dari sana meninggalkan Kei yang kaget ditempatnya.

Inoo Kei mengutuk dirinya sendiri dalam hati setelah kepergian Miharu. Namun tiba-tiba saja pria itu nyengir.

‘Kau pikir aku akan mundur, Miharu? Sama sekali tidak. Kau boleh saja membenci seluruh pria di dunia, tapi kau akan mencintaiku.’ desisnya.

***

Besoknya, Kei sudah mengingatkan Miharu pergi dengannya untuk memesan gaun pengantin.

Tapi sebelum Miharu pergi ia kembali mencoba untuk menghubungi Miki, Dan akhirnya Miharu dapat bernafas lega karena Miki mengangkat telponnya.

“Moshi-moshi… Miharu?” Suara Miki di sebrang sana.

“Miki! Dari mana saja kau? Aku menelpon mu dari kemarin tapi tidak kau angkat” seru Miharu seperti kereta api.

Sejenak Miki terkekeh pelan “kau merindukan ku?” Miharu terdiam sial, wajah Miharu seketika memerah “aku kan kerja Miharu… Jadi aku tidak sempat mengangkat telpon mu saat aku bekerja.” Jelas Miki yang kembali terkekeh pelan, membuat Miharu geram saja. “oh ya kau sudah ke Okinawa ya? Barusan aku ke apartement mu tapi pintunya terkunci” lanjut Miki.

“Makanya aku kemarin menelpon mu, ibu yang membawa ku kemari” Miharu mendengar gumaman singkat dari Miki “sebenarnya aku ingin cerita sesuatu kepada mu”

“Apa itu?” tanya Miki antusias.

“Kau tahu tidak dengan Inoo Kei? ituloh pria menyebalkan yang pernah aku ceritakan dengan mu” Tanya Miharu, ia memutuskan untuk bercerita tentang ini siapa tahu saja Miki bisa menghentikan pernikahannya.

“Iya aku tahu” sahut Miki.

“Nah… Semalam aku di Lamar… Dan pernikahan kami akan di laksanakan 2 hari lagi”

Ada keheningan sejenak dari tempat Miki, tak lama itu Miharu mendengar dengan jelas kalau Miki sedang tertawa keras.

“Hoi. Kenapa kau ketawa?” Ketus Miharu sebal.

“Yaaa… Hahahaha setidaknya aku bersyukur… Dengan begitu kau tidak menjadi lesbian lagi” kata Miki dan tawa nya mulai mereda “kau harus bisa move on dari Nino niichan, Miharu”

“Tidak! Ah kau ini menyebalkan aku kira kau akan membuat mood ku membaik tapi sama saja” belum sempat Miki kembali berkata Miharu sudah lebih dulu menutup telponnya.

Miharu terus mendumel kesal sambil memandang kearah ponselnya tanpa menyadari seseorang sudah berdiri dibelakangnya.

“Menelpon siapa? Pacarmu?” tanya orang itu. Inoo Kei tentu saja.

Miharu semakin kesal melihat orang yang paling tidak ingin ditemuinya kini ada di hadapannya.

“Wah, gadis itu cantik juga,” celetuk Kei saat melihat layar hape Miharu. Gadis itu buru-buru menutupnya.

“Apaan sih,” dumel Miharu sambil menyimpan kembali hapenya ke kantong celananya.

“Gadis tadi ya pacarmu? Kawaii. Tapi sayang…” Kei sengaja menggantungkan kalimatnya untuk membuat Miharu penasaran, dan benar saja. “Sayang… gak normal,” lanjut pria itu lagi.

“Jangan bicara seolah kau tau segalanya. Kau tidak tau apapun tentang Miki,” kata Miharu kesal.

“Jadi namanya Miki. Manis sekali. Apa aku menikah dengan dia saja ya?” celetuk pria itu lagi tanpa mempedulikan gadis didepannya sedang menunjukkan raut wajah kesal.

“Inoo Kei Brengsek!! Kau mau apa sebenarnya?” kali ini Miharu benar-benar tidak bisa lagi mengontrol emosinya.

Inoo nyengir mendengar Miharu. Memang rencana sebenarnya tadi adalah menggoda gadis itu.

“Mauku? Aku mau seharian ini kau jadi kucingku yang paling manis,” jawabnya.

Tiba-tiba saja pria itu mengambil ponsel Miharu dari dalam saku celana gadis itu dan menyimpannya di saku celananya sendiri.

“Kei brengsek! Apa yang kau lakukan?” Miharu kesal berusaha mengambil kembali ponselnya namun tangannya segera ditahan Kei.

“Tidak. Hari ini kau harus mengikuti semua kataku kalau ingin hapemu kembali. Jadi sekarang ayo kita pergi membeli perlengkapan pernikahan kita, calon istriku.” Kei mengedipkan sebelah matanya sambil tersenyum nakal dan langsung menarik tangan Miharu dan pergi dari sana.

****

Tempat pertama yang mereka kunjungi adalah toko busana, yap seperti yang biasa orang lain lakukan saat menyiapkan pesta pernikahan yang pasti mereka akan memesan baju pengantin terlebih dahulu.

“Bagaimana dengan yang ini?” Seorang pelayan di sana bertanya kepada Kei yang sedang duduk santai menunggu Miharu mengganti bajunya.

Tepat saat itu Miharu keluar dengan gaun putih yang kelihatannya sangat sederhana, polos, Miharu memutar tubuhnya malas karena suruhan Kei.

“Tidak tidak” wajah Kei cemberut “ganti lagi”

“Hey! Ini sudah yang ke 10 kalinya aku ganti baju! Mau mu apa?” Geram Miharu kesal melihat tingkah Kei yang menurutnya sudah keterlaluan.

Tidak memperdulikan ucapan Miharu, Kei memberikan sebuah gaun cantik berwarna cream dengan sedikit corak kupu-kupu di bagian bawahnya, terlihat sederhana namun elegan.

“Suruh dia coba ini…” Kata Kei saat pelayan itu menghampirinya dan mengambil baju yang Kei pilih.

Gaun itu adalah pilihan pertama Kei karena gaun yang daritadi Miharu pakai adalah pilihannya sendiri.

“Tidak mau!” Tolak Miharu.

“Cepatlah kucing manis~ atau kita menginap disini sampai kau mau mencoba gaun itu?” Goda Kei memberi senyuman jahilnya.

Miharu bergidik, jalan hari ini dengan pria itu saja sudah membuat Miharu sebal, apalagi kalau sampai menginap “baiklah baiklah…” Dengan malas Miharu mengambil gaun itu dan masuk kembali ke kamar pas.

Agak lama Kei menunggu hingga pria itu berkali-kali melihat arloji nya, hingga akhirnya kamar pas itu terbuka dan pelayan juga kembali bertanya apakah gaun yang Miharu pakai sudah bagus atau belum.

Miharu keluar dari kamar pas, tepat seperti dugaan Kei, gadis itu terlihat sangat cocok memakai gaun yang ia pilih, yaa walaupun wajah Miharu sudah cemberut.

“Bagaimana dengan ini?!” Tanya Miharu galak.

Kei berdiri dari duduk nya menghampiri Miharu, lalu mengelilingi tubuh gadis itu sambil menggosok-gosok dagunya.

“Pesan yang seperti ini satu, untuk calon istri ku” di kata-kata terakhir Kei melirik Miharu dengan memasang senyum manisnya.

“Ugh…” Miharu memutar bola matanya.

Pelayan itu mengangguk singkat dan kembali meminta Miharu ganti baju seperti semula.

.

“Apa kau gila?! Barang sebanyak ini aku yang bawa semuanya?!” Miharu menjerit di tengah jalan, dengan susah payah Miharu membawa barang-barang belanjaan itu sedangkan Kei jalan dengan santai di depannya.

Mereka sudah selesai belanja segala macam untuk acara pernikahan, karena waktunya singkat jadi semuanya harus di beli cepat.

Yang membuat Miharu kesal, pria itu dengan santainya menyuruh Miharu membawa barang-barang itu dengan alasan ‘kan semuanya aku yang bayar’.

“Ya… sebentar lagi kita sampai ke mobil, begitu saja kau sudah menyerah? Dasar manja” diam-diam Kei terkekeh geli.

“Apa?! Kau bilang aku manja? Baiklah akan ku buktikan kalau aku tidak manja!” Miharu kembali membenarkan posisi bawaannya dan mulai berjalan cepat melewati Kei.

Melihat itu Kei kertawa terbahak-bahak apalagi saat mengetahui kalau Miharu berjalan sangat jauh melewati mobil yg Kei bawa.

“Sudah kau pulang jalan kaki aku naik mobil!!” Jerit Kei, langkah Miharu berhenti dan langsung melihat ke belakang.

Ia tercengang saat mendapati kalau Kei sudah masuk ke dalam mobil dan meghidupkan mesin mobilnya.

“Inoo Kei brengsek!!” Cepat-cepat Miharu berlari ke arah mobil itu tapi sayang mobilnya sudah jalan lebih dulu menjauhinya.

“Awas kau!!” Dengan kesal Miharu menurunkan barang belanjaan dan menggeram kesal.

TIIN TIIN

Miharu terlonjak kaget mendengar klakson mobil dari belakangnya, dan tak lama mobil itu berada di samping Miharu untungnya jalanan sedang sepi saat itu.

Kaca mobil dari sebelah Miharu terbuka.

“Ada apa nona? Apa kau di tinggal seseorang?” Kei terkekeh geli melihat raut wajah Miharu yang sudah kusut.

Mengetahui yang ada di dalam mobil itu adalah Kei, Miharu langsung menendang nendang body mobil tersebut “Baka!! Pergi kau!! Dasar brengsek!! Inoo Kei sialan!!” Cercah Miharu masih menendang mobil milik Kei.

Kei hanya tertawa geli melihat reaksi gadis itu.

Tapi, semakin ia diamkan Miharu semakin membabi buta(?) “Hey! Hentikan! Miharu hentikan!!” Kei turun dari mobilnya lalu langsung menarik tubuh Miharu agar gadis itu tidak lagi meyakiti mobil kesayangannya, namun itu tindakan yang salah, Kei malah memeluk tubuh Miharu.

Ada keheningan sejenak di antara mereka, dan itu kesempatan Kei untuk memeluk Miharu dengan erat, beruntungnya Miharu juga diam saja.

Seakan baru sadar kalau tubuhnya di peluk oleh Kei, Miharu langsung mendorong Kei hingga pria itu menabrak body mobilnya.

“Itte” ringis Kei mengelus punggungnya.

“Iihh harus mandi… Aku harus mandi pulang ini…..” Gumam Miharu sambil mengelus tubuhnya yang habis di peluk Kei.

Kei yang menyadari itu merengut “ya! Kau kira aku apa??” Seru Kei galak.

“Aku jijik di peluk oleh mu!” Sergah Miharu.

“Y-yaa yasudah masuk mobil dan kita pulang” akhirnya Kei menyerah dan memilih masuk ke dalam mobil di bagian pengemudi dan Miharu di sampingnya setelah memasukan barang belanjaan.

Tidak ada percakapan di antara mereka, keduanya diam dalam pikiran masing-masing. Miharu yang sedang komat kamit karena pelukan Kei tadi, sedangkan Kei sedang salah tingkah karena tidak sengaja memeluk Miharu.

Ditengah jalan Kei kembali menghentikan mobilnya didepan sebuah toko. Miharu sedikit menyerit bingung kearah pria itu.

“Mau ngapain kesini?” tanya gadis itu.

“Membelikan kalung untuk kucingku yang sudah bersikap manis hari ini,” jawab Kei lugas.

“Ha?!” Miharu belum sempat mencerna kata-kata Kei karena pria itu sudah lebih dahulu menarik tangannya untuk keluar dari mobil dan masuk kedalam toko.

Ternyata toko itu adalah toko emas. Sampai didalam, Kei langsung fokus pada deretan cincin yang dipajang di lemari kaca disana. Sedangkan Miharu, gadis itu memandang ke satu meja display yang memamerkan koleksi kalung cantik dan dipikirannya langsung terbayang Miki.

Kei mendapat beberapa rekomendasi cincin, namun segera sadar Miharu tidak lagi ada disampingnya. Pria itu langsung menarik Miharu dan mendudukkannya disampingnya.

“Apaan sih?” keluh gadis itu.

“Ada yang kau suka diantara cincin ini?” tanya Kei.

Miharu memandang malas ke deretan cincin didepannya lalu mengangkat bahunya tak acuh. Dia tidak tertarik.

“Terserah kau sajalah,” kata Miharu lagi sambil mengalihkan pandangannya ke sekeliling.

Kei menghela nafas panjang. Tiba-tiba matanya mendapati sepasang cincin sederhana dan lingkaran dalamnya ada sebuah tulisan, “premiere”

“Boleh lihat yang itu?” kata pria itu.

Si penjaga segera menunjukkan cincin yg diinginkan Kei. Pria itu lalu mengambil yang untuk perempuan dan memakaikan ke jari manis Miharu. Ukurannya cocok. Pria itu terlihat puas dan melepaskannya lagi.

“Untuk apa sih beli cincin?” tanya Miharu.

“Kau harus bertanya lagi? Memangnya kau tidak pernah ke pesta pernikahan apa?” tanya Kei balik.

Miharu langsung cemberut lalu memandang kearah lain. Selesai memesan cincin, keduanya kembali kedalam mobil.

“Kau mau kemana lagi?” tanya Kei pada Miharu.

“Ha? Memangnya masih butuh apalagi?” tanya Miharu balik.

“Tidak ada, keperluan lainnya sudah diurus orang tua kita,” jawab Kei.

“Yasudah kalau gitu. Pulang saja.”

“Yakin? Tidak mau makan dulu?” tanya Kei lagi.

“Ha?! Tidak!! Aku bisa alergi lama-lama bersamamu. Pulang! Aku mau pulang!” jawab Miharu.

Kei berdecak kesal. Pria itu lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Miharu hingga gadis itu tersudut.

“Mau apa kau?” tanya Miharu waswas.

“Bisa tidak kau bicaranya tidak kasar begitu? Aku bisa berbuat sesuatu loh biar kau jadi kucing penurut yang paaaaaling manis,” Kei berkata dengan nada yang sangat berbahaya.

“K… kau mau apa?” Miharu semakin waswas.

“Saa…. apa ya? Aku bisa bebas melakukan apa saja, karena kau adalah calon istriku. Jika terjadi apa-apa juga, lusa kita akan menikah,” pria itu nyengir memandang  Miharu.

“Hahaha.. lucu sekali,” kata Miharu sinis, “Kau pikir bisa mengancamku seperti itu? Aku bisa mencolok matamu kalau kau macam-macam, Kei brengsek!” gantian Miharu yang mengancam.

Kei kemudian mundur kembali dan menyalakan mobilnya.

“Kau sama sekali tidak manis, dasar..” kata pria itu.

Miharu kembali menghela nafasnya dan duduk dengan biasa di mobil itu. Untuk sesaat dia merasakan perutnya kesemutan saat Kei menahan posisinya seperti tadi.

“Lagipula mau menghindar bagaimanapun, kurang dari 48 jam lagi, kau akan menjadi nyonya Inoo,” kata Kei singkat sambil menjalankan mobilnya. Tidak peduli saat itu Miharu sedang menatap tajam kearahnya.

….

Dua hari kemudian, acara pernikahan Kei dan Miharupun akhirnya akan di laksanakan siang ini.

Selama di dandani Miharu terus saja merengut padahal wajahnya sudah begitu cantik, bagaimana tidak? Semalam Miharu menelpon Miki meminta gadis itu untuk datang ke acara pernikahannya dan menghentikan acara ini, tapi gadis itu bilang ia tak bisa karena harus bekerja.

Tentu saja Miharu kesal.

“Sudah cantik, aku keluar sebentar ya” kata penata rias yang mendandani Miharu, gadis itu mengangguk singkat lalu sang penata rias keluar dari kamar Miharu.

Dalam diam, Miharu menatap wajahnya dari pantulan cermin. Rambut pendek mengembang, wajah yang sudah berbalut bedak yang berlapis-lapis namun tetap terlihat natural, bibir berwarna pink muda. Miharu tak suka itu meski ia akui dirinya saat ini terlihat sangat cantik.

TOKTOK

Miharu sedikit kaget saat ada yang mengetuk pintu kamarnya, setahu Miharu penata rias tadi baru saja keluar. “Masuk..” Kata Miharu.

Tak lama, pintu itu terbuka dan masuklah seseorang yang Miharu telpon semalam, orang yang ia rindukan beberapa hari ini.

“Miki!” Pekik Miharu melihat sosok gadis itu dari cermin dan langsung menghampirinya, memeluk tubuh Miki dengan erat.

“Aahh aku merindukan mu” rengek Miharu manja tanpa melepas pelukannya, perlahan Miharu merasakan kalau Miki membalas pelukannya.

“Aku juga..” Miki melepas pelukan mereka “ne… Selamat ya atas pernikahannya” ucap Miki tulus sambil tersenyum manis.

“Miki… Hentikan pernikahan ini” kata Miharu memohon.

Sejenak Miki menggeleng “tidak, ini hidup mu. Kau harus menikah dengannya. Sadarlah Miharu selama ini perasaan mu dengan ku itu salah” Miki menatap mata Miharu dengan penuh keyakinan.

“Tapi aku menyukai Miki. Tidak ada yang lain selain Miki,” Miharu kembali memelas.

Miki tersenyum lembut pada sahabatnya satu itu, “Aku tau, aku juga suka padamu. Tapi rasa sukamu itu hanya delusi semata, Miharu.” katanya.

 

Miharu masih menatap Miki memelas. Gadis itu kembali melanjutkan.

“Kita pernah mencobanya bukan? Aku pernah bertanya padamu, Apa kau merasakan sesuatu dari ciuman waktu itu? Tapi kau tidak bisa menjawabnya. Bungkamnya dirimu sudah menjelaskannya padamu sendiri, Miharu. Kau sahabatku dan aku menyayangimu. Sudah cukup kau hidup dalam ketakutan masa lalu. Karena itu kali ini raihlah kebahagiaanmu.”

Miharu ingin menjawab namun ketukan pintu menghalanginya. Sesaat pintu terbuka terlihat ayah Miharu masuk.

“Miharu, sudah saatnya,” kata pria itu.

Miki tersenyum pada ayah Miharu yang akan menjadi pendamping Miharu berjalan menyusuri altar. Gadis itu memandang lagi kearah sahabatnya, menggenggam tangannya sejenak untuk menguatkan. Miharu masih memandang Miki dengan memelas berharap gadis itu mau menolongnya, namun Miki segera melepaskan genggaman itu dan keluar dari sana.

Kini di hadapan Miharu berdiri sang ayah. Pria itu menyodorkan lengannya untuk digandeng oleh putri satu-satunya itu. Tidak ada pilihan lain, Miharu menyambut uluran itu dan menggandengnya dengan sangat terpaksa.

“Ayah…” desis gadis itu.

“Putriku adalah pengantin yang paling cantik diseluruh dunia. Raihlah kebahagiaanmu, sayang. Ayah tau bahwa Kei adalah pria yang tepat untuk mendampingimu,” kata pria itu.

Miharu tidak sanggup lagi berkata-kata. Rengekannya hanya akan menjadi racun dalam kebahagiaan ayahnya. Dia bingung apalagi yang bisa dilakukan untuk membatalkan pernikahan ini.

Tanpa sadar, gadis itu sudah berjalan memasuki capel. Berjalan berlahan menuju altar dimana diujung sana, Inoo Kei sudah menantinya dalam balutan jas senada dengan gaun Miharu. Di deretan tamu di sebelah kanan, dia melihat Miki tersenyum sambil memegang kamera dan tengah memotretnya. Hingga tiba di hadapan pria itu. Ayah Miharu menyerahkan tangan putrinya pada Inoo dan kini gadis itu ganti menggandeng lengan pria yang paling dibencinya diseluruh dunia itu. Keduanya kini berdiri menghadap altar dimana pendeta mulai membacakan beberapa bait kalimat dari kitab yang dipegangnya.

“Sudah ada yang bilang kalau kau sangat cantik hari ini? ” tanya Kei.

“Diam kau!” cecar Miharu setengah berbisik.

“Marah pun kau terlihat semakin cantik,” kata Kei lagi tidak peduli.

“Pengantin wanita, Sato Miharu. Bersediakah kau menerima Inoo Kei sebagai suamimu? Saling mencintai dan mengasihi dikala sedih maupun senang, sakit maupun sehat, selalu menghormatinya dan menjalankan tugas dan kewajibanmu sebagai istri?” kata pendeta.

Miharu bungkam untuk sesaat, namun tiba-tiba saja Inoo Kei menginjak kakinya.

“Haaaiii~” jerit tertahan gadis itu.

“Selanjutnya, pengantin pria Inoo Kei. Bersediakah kau menerima Sato Miharu sebagai istrimu. Berjanji akan saling mencintai dan mengasihi di saat sedih maupun senang, sakit maupun sehat, selalu menghormati dan menjalankan tugas serta kewajibanmu sebagai seorang suami?”

“Hai, chikaimasu!” kata Inoo dengan mantap.

“Dengan nama Tuhan, kunyatakan kalian diberkati sebagai pasangan suami dan  istri. Kau boleh mencium pengantin wanitamu.” kata pendeta itu lagi.

Inoo dan Miharu kini berdiri berhadapan. Pria itu membuka cadar selayar yang menutupi wajah Miharu. Gadis itu langsung menatap tajam kearah Inoo.

“Awass kau!! Jangan coba-coba menciumku!” ancam gadis itu.

Inoo mendesah menyerah. Pria itu lalu memposisikan tubuhnya dengan Miharu sehingga baik dari sudut mata sang pendeta maupun audience, mereka terlihat seperti sedang berciuman. Padahal tidak.

“Ne… Miharu chan,” kata Inoo sedikit berbisik. “Apa kau tau, kalau seseorang sudah menikah, maka yang mendominasi adalah suaminya?” tanyanya.

Miharu sedikit menyerit mendengar pertanyaan itu, “maksudnya?”

Inoo nyengir licik. Pria itu lalu memeluk pinggang Miharu dengan erat dan melahap bibir soft pink milik Miharu. Gadis itu membulatkan matanya sesaat karena kaget. Sebelum dia berusaha melepaskan pria itu darinya, namun sia-sia saja karena tenaga pria manis itu lebih besar darinya.

……

Setelah acara inti, akhirnya mereka di suruh pembawa acara untuk melempar bunga kepada para tamu, semuanya sudah siap berkumpul di belakang Kei dan juga Miharu untuk menangkap bunga tersebut.

“Dasar gila, Kei sialan. Awas saja kau nanti. Bibir ku rasanya harus di sterilkan habis ini, ugh kesal sekali. Dasar brengsek lelaki tak tahu malu” dumel Miharu pelan saat akan melakukan lempar bunga.

Omelannya berhenti saat mc mulai menghitung mundur “3…2…1!” Refleks Miharu melempar bunga itu ke belakang.

Dan saat di lihat, ternyata Miki yang mendapatkannya “horeeeee” seru gadis itu sambil meloncat senang, otomatis Miharu tersenyum melihatnya, tapi tunggu. Miharu melihat kalau Miki memeluk seorang pria yang ia tahu itu adalah Chinen, rekan kerja Miki yang pernah Miki ceritakan.

Oh, mereka pacaran toh, pikir Miharu.

“Hahaha.. Lihat dia senang sekali” Kei merangkul Miharu sambil tertawa, Miharu yang melihat wajah Kei seketika ia mendumel lagi dalam hatinya.

Akhirnya acarapun selesai dan kini waktunya Miharu dan Kei pulang dengan mobil pengantin yang telah di hias dengan sangat bagus, terdapat hiasan bunga besar di cap depan mobil itu.

Saat Kei dan Miharu keluar dari gedung sambil bergandengan tangan, dan tamu tamu menebarkan bunga ke arah mereka, sayup-sayup Kei mendengar kalau Miharu bicara menyumpahi dirinya.

Tapi Kei diam saja, pria itu sudah terbiasa akan ocehan istrinya.

…..

“Sudah ngocehnya?” Tanya Kei saat mereka sudah sampai di kamar?

“Lagi pula siapa suruh kau mencium ku?” sergah Miharu kesal.

Kei terkekeh “apa salahnya? Kau istri ku sekarang tidak ada yang melarang kan?” Bantah Kei, dengan santainya pria itu merebahkan dirinya di atas kasur tepat di samping Miharu yang sedang duduk di sana.

Melihat itu Miharu langsung berdiri tapi tidak jadi karena tangannya di tahan oleh Kei “mau kemana kucing manis?” Tanya Kei dengan nada yang membuat bulu kuduk Miharu merinding.

“Ganti baju” jawabnya singkat, seketika Miharu merasakan geli di perutnya dan juga dadanya bergemuruh.

“Hmm mau aku bantu?” Tanya Kei lagi, kali ini ia menarik tangan Miharu hingga posisinya di timpa oleh gadis itu.

Mata Miharu melotot “Kei gila. Baka, sialan brengsek!!!” Tangan Miharu berontak dan memukuli wajah Kei hingga pria itu berkali-kali mengaduh kesakitan.

Setelah puas Miharu lari menuju kamar mandi dan masuk, ia memegang dadanya sambil menunduk “shimatta!” Gumamnya pelan.

Sementara itu diluar Kei memegang wajahnya yang barusaja dipukuli Miharu.

“Hebat. Tenaganya besar juga,” gumam pria itu.

Ets, masih TBC

Advertisements

One thought on “[Minichapter] Impossible Love (Chap 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s