[Minichapter] Impossible Love (Chap 1)

Impossible Love
By. Nadia Sholahiyah Utami
Genre: Romance, Friendship
Type: Minichapter
Chapter: 1
Fandom: HSJ
Starring: Inoo Kei (HSJ), Sato Miharu (OC), dan selentingan orang lewat

***

Sinar mentari pagi mulai masuk dari celah tirai kamar sebuah apartemen di pusat kota Tokyo. Mengusik lelap dari seorang gadis berambut coklat pendek yg masih berlayar di lautan mimpi. Gadis itu mulai bergerak dalam tidurnya saat merasakan cahaya matahari mulai menyapa wajahnya dengan hangat. Berguling ke kiri dan kenan, dan membuka matanya perlahan. Gadis itu mengerjapkan beberapa kali matanya untuk membiasakan dengan kamarnya yang sudah sangat terang.

Saat merenggangkan tubuhnya, tiba-tiba dia merasakan lengannya menyentuh sesuatu, atau seseorang. Gadis itu mengalihkan pandangannya dan mendapati ada seseorang lagi yang kini menempati sisi satu tempat tidurnya dan masih terlelap. Seorang gadis manis dengan rambut hitam panjang.

Perlahan senyum gadis bersurai madu itu terkembang. Gadis itu kembali berbaring dengan posisi miring menghadap si gadis bersurai legam dengan menumpukan kepala dengan satu lengannya. Matanya menyusuri tiap lekuk wajah manis yg masih terlelap itu dengan ujung jarinya. Sentuhan itu sangat pelan seolah takut untuk membangunkannya.

Namun tiba-tiba saja gadis bersurai legam itu bergerak, membuatnya langsung menarik tangannya dan kembali bangkit tempat tidur.

“Ohayou… Miharu. Sudah pagi ya?” sapa si gadis bersurai legam itu sambil bangkit dari tempat posisi tidurnya dan mengucek matanya.

“Ohayou Miki chan. Aku akan buat sarapan untuk kita,” kata Miharu yang baru saja selesai memakai celana cargo selutut dan segera berjalan keluar kamar. Gadis itu tadi hanya memakai celana dalam dan kaos tanktop putih saja.

“Baiklah….” kata Miki masih mengantuk.

Miharu segera berjalan kedapur sambil berusaha menenangkan dirinya.

Hampir saja ketahuan. Pikirnya.

Tak lama Miharu keluar, Miki akhirnya ikut keluar kamar untuk menuju kamar mandi.

Aroma omelete dari dapur telah menyambut hidung Miki saat gadis itu melewatinya.

“Miki-chan, hari ini kau tidak kerja kan?” Tanya Miharu mengingat kalau hari ini adalah hari Sabtu, saatnya berlibur bukan?

“Eh? Iya memang kenapa?” Tangan Miki meraih handuk yang berada di dekat pintu kamar mandi lalu diam sejenak, menunggu jawaban dari Miharu.

“Aku ingin mengajak mu jalan-jalan hari ini” ucapnya, Miki manggut-manggut mengerti.

“Baiklah” dan di sambut senyuman oleh Miharu.

…..

Sato Miharu, si gadis feminim yang periang kini berubah menjadi gadis tomboy. Sikapnya berubah sejak kekasihnya–yang telah melamar Miharu secara pribadi– meninggal dalam kecelakaan.

Semenjak itu, Miharu jadi pendiam dan beberapa kali ingin mengakhiri hidup, tapi Miharu beruntung karena sahabatnya Miki selalu menenangkan Miharu agar gadis itu tidak selalu mengurung diri dan menyakiti diri sendiri.

Miki, kini di pikiran Miharu hanya ada gadis mungil bersurai legam berkacamata yang ada di samping nya saat ini.

“Oishii~” seru Miki merasakan sensasi dingin menghambur di tenggorokannya saat sesendok es krim itu masuk ke dalam mulut Miki.

Miharu tersenyum senang melihat senyuman gadis itu “habis ini mau ke mana lagi?” Tanya Miharu.

Miki mengangkat bahunya “aku tidak tahu.. Oh iya, semalam aku dapat telpon dari ibu mu, dia menyuruh mu pulang ke Okinawa” lagi, Miki kembali menyendokan es krim ke dalam mulutnya tanpa melihat eskpresi Miharu yang seketika berubah menjadi tegang.

“I… ibu menelpon?” tanya Miharu lagi memastikannya.

Miki mengangguk, “Katanya kalau kau tidak pulang minggu ini, dia sendiri yg akan menyeretmu pulang,”

“Ck” Miharu berdecak kesal.

Dia tidak mau pulang. Titik. Bukan karena dia punya masalah dengan keluarganya, tetapi Okinawa adalah tempat penuh kenangan dan selalu mengingatkannya dengan mantan tunangannya itu.

Dua tahun sejak terakhir kali sejak kejadian itu.

Hari itu tepat hari perayaan hari jadian mereka. Hari itu tepat sebulan setelah orang itu resmi melamarnya.

Namun… saat itu dia berdiri di seberang jalan, tepat di hadapannya, Miharu langsung berlari ingin menghampirinya. Tanpa mempedulikan apapun disekelilingnya, tatapannya hanya tertuju pada orang itu.

Lalu semua terjadi seperti potongan film. Sebuah truk melaju kencang dari ujung jalan. Tiba-tiba Miharu merasakan tubuhnya ditarik dan membuatnya jatuh terduduk di aspal. Saat dia sadar, darah segar mengalir di dekatnya. Namun darah itu bukan miliknya, namun milik pria yang kini terbaring tidak sadarkan diri di dekatnya.

“Miharu… Miharu…” panggilan Miki menyadarkan Miharu kembali dari lamunannya. Tanpa sadar gadis itu merefleksikan ingatan masa lalunya.

“Daijoubu? Wajahmu terlihat pucat, kau tidak enak badan?” Miki berkata dengan nada khawatir dan langsung menempelkan jidatnya ke jidat Miharu tanpa tau bahwa tindakannya sudah memberikan efek berbeda pada Miharu.

“D… Da… Daijoubu, Miki.” gugup. Miharu merasakan wajahnya memanas.

“Benarkah?” tanya Miki lagi memastikan.

Miharu mengangguk dan memaksakan sebuah senyuman.

“Da…daijoubu desu. Se…sebaiknya kita lanjutkan jalan-jalannya,” katanya.

“Baiklah,” jawab Miki.

Hari telah malam dan kedua gadis itupun akhirnya memutuskan untuk pulang saja ke apartement, dan akhirnya inilah mereka berdua tertidur di atas ranjang mereka sesaat setelah membereskan barang-barang belanjaan.

Miharu merenggangkan tubuhnya yang berakhir dengan memiringkan badan menghadap Miki.

Ya, gadis mungil itu kini sedang memejamkan matanya, Miharu tak tahu pasti ia sudah tidur atau belum tapi hasrat di dirinya membuat Miharu mengelus lembut sahabat nya itu.

“Miki-chan..” Ucap Miharu hampir berbisik masih dengan mengelus lembut wajah gadis itu “aku tak tahu mengapa…aku menyukai mu”

“Sebagai sahabat?” Miharu tersenyum.

“Lebih..”

“Eh? Kau sudah gila” detik berikutnya, Miharu baru sadar kalau Miki dari tadi bicara dengannya dan mendengar kata-kata yang selama ini Miharu pendam.

Langsung saja Miharu beranjak duduk dan menunduk malu. Begitu juga dengan Miki.

Namun, bukannya Miki memarahi Miharu, tapi ia malah mengangkat dagu Miharu dan membuat Miharu menatapnya.

Sial, pekik Miharu.

“Apa kau serius dengan kata-kata mu?” Tanya Miki, masih tak lepas menatap wajah Miharu.

Rasanya Miharu ingin mati saja, jujur ia menyukai Miki. Tapi Miharu takut mengakuinya di hadapan gadis itu.

Karena Miharu berpikir kalau Miki tahu, Miki pasti akan menjauhinya.

“Miharu, jawab aku!” kata Miki lagi.

Miharu tidak sanggup menatap mata Miki dan hanya menunduk. Miki kembali mengangkat wajah Miharu untuk menatapnya.  Tiba – tiba saja Miki mendaratkan bibirnya ke bibir Miharu. Miharu kaget tentu saja. Tapi belum sempat dia berpikir apapun, Miki sudah melepaskan diri.

“Miki….” desis Miharu.

“Bagaimana? Apa yang kau rasakan?” Miki menatap lurus mata Miharu.

“Aku…..” Miharu masih terlalu shock dengan apa yang terjadi.

“Kau merasakan degdegan? Sesuatu terasa bergerak-gerak di perutmu?” tanya Miki lagi.

Miharu bingung ingin menjawab seperti apa. Dia sendiri tidak mengerti dengan apa yang dirasakannya saat itu.

Tiba-tiba saja ponsel Miki berdering. Gadis itu melirik ke display ponselnya sejenak sambil mendesah singkat sebelum menjawab panggilan itu. Tidak lama. Hanya menjawab beberapa pertanyaan dan sedikit berdebat singkat dengan si penelpon, sebelum memutuskannya lagi.

“Maaf, Miharu. Tadi Dai-nii yang menelpon. Aku disuruh pulang kerumahnya . Sepertinya aku tidak jadi menginap lagi disini.” kata Miki.

Miharu memaksakan sebuah senyuman dan mengangguk ke arah gadis bersurai legam itu.

“Sampai besok,” kata Miki saat Miharu mengantarnya sampai depan pintu.

Setelah Miki masuk ke dalam lift, barulah Miharu menutup kembali pintu apartemennya. Gadis itu seperti baru sadar dari shock nya lalu segera melompat kembali ke tempat tidur.

“Arrggg Miharu BAKA!!!” Katanya mengutuk dirinya sendiri.

***

TEEEEETTT TEEEETTTT

Suara bel pintu apartemen yang dibunyikan berkali-kali dengan keras membuat Miharu mau tidak mau bangkit dari tidurnya. Sambil merengut, gadis itu berjalan ke pintu dan membukanya.

“Ya tuhan, Miharu!! Kau tidur atau mati? Dan apa-apaan dengan penampilanmu ini?!” kesadaran Miharu langsung meningkat saat mengenali sosok yang kini berdiri didepan pintu kamar apartemennya.

“Okaasan?!”

Wajah kusut begitu juga dengan rambutnya. Ruang tamu berantakan dengan majalah-majalah dan baju, dapur berantakan dengan makanan yang tidak tahu lagi letaknya di mana bahkan terdapat telur pecah di dekat kompor.

Melihat itu, sang ibu hanya bisa berdecak kesal lalu menatap Miharu yang sudah tersenyum canggung.

“Gomenna…”

“Miki tidak memberitahu mu kalau kau harus ke Okinawa?” Cercah ibunya tanpa ampun, Miharu menggaruk kepala yang tidak gatal lalu cengengesan tidak jelas.

“Bilang kok..”

“Lalu kenapa tidak pulang?”

“Anoo.. Okaasan lebih baik masuk dulu ya.. Aku akan menyiapkan teh untuk mu” Miharu membawa ibu duduk ke sofa lalu beranjak ke dapur. Tapi sang ibu malah kembali berdiri dan menyeret anaknya ke dalam kamar.

“Bereskan barang-barang mu dan kita langsung berangkat ke sana”

“Eehhh???”

“Cepatlah!” Tidak mau di cap anak durhaka. Miharu hanya bisa pasrah mengikuti kata sang ibu.

….

Okinawa.

“Hahah.. Iya besok aku akan ke rumah bibi untuk melihatnya. Haik, baiklah sampai ketemu besok” sambungan terputus lalu ponsel itu ia simpan ke dalam saku celana nya.

“Keeiii cepat turun makan malam sudah siaap” yang di panggil menoleh ke arah sumber suara.

“Iya kaachaan aku datang” sebelum ia turun, pemuda yang di panggil Kei itu sejenak menatap keluar jendela.

Di sana terlihat sebuah rumah yang ada jendela transparan menunjukan penampilan ruang tamu. Terdapat seorang wanita berambut pendek sedang duduk di sofa ruang tamu. Wajahnya di tekuk, sukses membuat Kei tertawa pelan.

“Keeeiii!!!”

“I-iyaa iyaa” segera setelah itu Kei menutup jendela nya dan keluar dari kamar untuk turun menyantap makan malam bersama keluarga.

“Kei, besok kau tidak kemana-mana kan?” tanya ibunya.

Kei Inoo, pria berparas manis dengan kulit wajah putih dan halus, menggelengkan kepalanya sambil menyumpit nasi ke mulutnya.

“Besok temani mama ke pesta ulang tahun Bibi Sato, tetangga kita.” kata sang ibu lagi.

“Aku terserah saja, lagipula memang sedang tidak ada kerjaan,” kata Kei lagi.

Ibu pemuda itu tersenyum dengan lebar lalu beralih kepada suaminya.

“Sayang, kau tau, kudengar Miharu sudah pulang. Katanya dia tiba sore tadi,” kata wanita itu lagi penuh semangat.

“Benarkah? Miharu yang dulu sering bermain kerumah?” suaminya menanggapi dengan penuh minat.

“Iya benar… Miharu yang dulu sering dijahili Kei sampai menangis itu. Anak manis itu, bagaimana ya kabarnya? Sepertinya sudah dua tahun sejak dia terakhir pulang dan….” tiba-tiba tersadar akan sesuatu wanita itu langsung menghentikan ocehannya.

“Dia pasti berusaha keras setelah hari itu” kata ibu Kei dengan nada sedih.

“Sudahlah, tidak baik membicarakan hal-hal sedih saat makan,” kata suaminya.

Kei hanya mendengar pembicaraan itu dalam diam. Sejujurnya dia penasaran dengan kabar gadis itu.

Sato Miharu. Teman masa kecilnya.

Cinta pertamanya.

Malam itu, sambil menghias ruangan untuk ulang tahun sang Ibu Miharu terus mendumel tidak jelas.

Dia sangat kesal, kembalinya ia ke Okinawa malah membuat Miharu teringat akan tunangannya dulu. Tidak hanya sekedar itu, dia juga meninggalkan Miki yang masih berada di Tokyo, meskipun Miharu tahu Miki akan aman-aman saja karena ada kakaknya.

Tapi kan tetap saja.

“Miharu, kerja yang benar” tegur sang ayah saat melihat Miharu hanya melamun sambil memeluk balon.

Segera Miharu menoleh dan mengerjakan kembali tugasnya.

Sudah sejam mengerjakan itu, Miharu berniat untuk keluar dari rumah dan menghirup udara segar di atap rumahnya.

“Aaaa tsukaretaaaa~” gumam Miharu merenggangkan tubuhnya.

“Maaf ya tidak bisa membantu” suara itu membuat Miharu terlonjak kaget dan berdiri dari tempatnya.

“Kei!!”

“Yeah it’s me. Ada apa? Kau melihat hantu?” Kepala Kei celingukan ke sana kemari.

“Bukan itu! Bagaimana kau…”

“Hahahahaha kau lupa, aku kan tinggal di sebelah rumah mu” Kei mengangkat dagunya memberi isyarat agar Miharu melihat rumahnya. “Sepertinya kau juga lupa aku bisa melihat mu juga dari jendela saat kau duduk di ruang tamu” tawa jahil Kei membuat telinga Miharu gatal.

“Argh kau ini, aku ke sini untuk menenangkan diri bukan untuk melihat mu” tegas Miharu.

Tangan Kei menarik tangan Miharu agar duduk di sebelahnya, lalu merangkul pundak gadis itu, meskipun Miharu berontak tapi rasanya percuma saja, tenaga Kei lebih kuat.

“Kau ini… Bukannya melihat ku sudah membuat mu tenang?” senyum manis Kei terlihat. Tapi itu tidak berpengaruh bagi Miharu.

“Pede sekali” ucap Miharu malas.

“Selangit! And you know it so well, baby!” Kei mengedipkan sebelah matanya pada Miharu sambil tersenyum jahil.

Miharu langsung memukul pria itu dan tepat kena kepala belakang.

“Hei! Nanti aku jadi bodoh!” Katanya sambil mencubit kedua pipi Miharu.

“S… sakit! Lepaskan aku, dasar BakaKei!!” pertarungan sengit itu berlanjut sampai ibu Miharu datang menghampiri mereka.

“Selamat malam, bibi Sato.” sapa pria manis itu yang langsung melepaskan Miharu.

“Dasar muka dua! Kei brengsek!!” kali ini giliran Miharu yang memukul pria itu saat dirinya sudah terlepas.

“Miharu! Tidak baik seperti itu,” kata sang ibu lalu beralih pada sosok Inoo Kei, “Sudah lama tidak melihatmu jam segini, Kei.” katanya.

“Ibu. Aku loh yang jadi korban. Ibu tidak lihat tadi dia mencubitku dengan keras?” Miharu hampir berteriak histeris namun ibunya hanya memandangnya tajam.

Disisi lain Inoo Kei terpaksa harus menahan tawanya dan ganti tersenyum memandang wanita paruh baya itu.

“Maaf bibi, aku jarang datang untuk menyapa. Biasanya aku masih dikantor jam segini. Tapi mulai hari ini aku sedang mengambil cuti ku, jadi ya begitulah,” jelasnya.

Ibu Miharu menggeleng dan tersenyum lembut pada Kei. “Tidak apa, ibumu juga sering cerita tentang dirimu. Miharu, kau tau, Kei sudah bekerja di sebuah perusahaan arsitek terkenal loh. Padahal masih semuda ini. Besok harus datang ya Kei di acara ulang tahun bibi,” ibu Miharu terlihat sangat bersemangat.

Namun tidak bisa berlama-lama, karena sepertinya beliau dipanggil oleh pekerja lainnya.

“Dasar iblis. Muka dua! Kau santet apa ibuku sampai terpesona pada iblis sepertimu?!” seru Miharu kesal.

“Aku memang mempesona. Seperti tidak tau saja. Dan berhenti merutu seperti itu, lihat mukamu berkerut dimana-mana,” kata Kei lagi sambil mencubit kembali pipi gadis itu.

“Hyaaa!! Sakit!! Iblis!! Berhenti menjahiliku!!!” Kei langsung lari dari sana dan Miharu mengejarnya sambil membawa bantal untuk memukul pria itu.

….

Gaun indah yang sudah di siapkan oleh Ibu kini tergeletak di atas kasur Miharu, kata Ibu ia sengaja menyiapkan gaun itu khusus untuk putrinya, karena biasanya Miharu akan senang jika di beri gaun.

Tapi tidak untuk sekarang, Miharu malah terlihat risih melihat gaun itu, baru melihat saja belum memakainya.

“Miharu cep– ya kau ini. Acara sudah mau mulai dan kau belum apa-apa?” Oceh ibunya saat masuk ke dalam kamar dan mendapati Miharu masih memakai kaos santai dan celana pendeknya.

Miharu baru saja ingin protes saat Ibu nya mendekat tapi berhenti ketika Ibunya sudah sukses membuka bajunya.

“Kyaaaaaa Ibuuu! Apa yang kau lakukaann!” Seru Miharu menutupi tubuhnya dengan tangan.

“Apa yang ku lakukan? Ya mengganti baju mu. Kau ini bayi atau apa baju saja harus di pakaikan” protes ibunya.

“Aku bisa pakai sendiri!”

“Diam, Ibu akan mendandani mu acara sudah mau di mulai” oh well baiklah nasib jadi anak memang harus nurut dengan orang tua kan?

Lagian Miharu juga heran, kenapa dirinya harus memakai gaun? Ini tidak biasa.

Kei yang sudah datang dan melihat acara belum di mulai ia memilih untuk ngobrol dengan ayah Miharu dan juga ayahnya–yang kebetulan mereka sangat akrab.

“Jadi bagaimana? Mau di laksanakan hari ini juga biar skalian?” Tanya ayah Kei membuka pembicaraan baru di antara mereka.

“Aku sih.. Terserah saja, yang penting anak mu mau atau tidak? Hahah” canda ayah Miharu menanggapinya.

 

Kei sedikit tertawa “aku mau saja…”

Jawab Kei pelan, mendengar perkataan anaknya ayah Kei tertawa senang begitu juga dengan ayah Miharu.

Tak lama kemudian, ruangan menjadi hening dan Kei melihat tatapan para tamu kini semuanya tertuju ke arah tangga, karena penasaran Kei akhirnya ikut melihat apa yang membuat semua orang diam.

Kei terkejut mengetahui di sana terdapat Miharu dan ibunya sedang turun dari tangga. Miharu terlihat sangat cantik dengan gaun berwarna pink pasta membalut tubuh Miharu yang ramping. Di tambah rambut Miharu yang pendek di buat mengembang dan sedikit ikal membuat nilai tambah dalam daftar kecantikannya.

“Sepertinya memang sudah siap menjadi tunangan mu” ayah Kei menyikut Kei membuat pemuda manis itu tesadar dari lamunannya.

“Ah iya ayah” sial dia cantik sekali. Rutuk Kei dalam hati.

Tanpa ia sadari pipi Kei panas, mungkin saat ini sudah memerah layaknya tomat.

“Ibu, aku risih. Gaun ini bikin gatal-gatal” keluh Miharu.

Namun tangannya yang ingin menggaruk langsung ditahan ibunya.

“Kau ini. Ada apa denganmu? Itu sudah bagus, kau tenang saja!” kata ibunya tajam.

Miharu diam sejenak, namun beberapa saat kemudian, dia kembali mengeluh. “Bu, aku ganti baju saja ya? Aku diam dikamar juga gak apa deh,”

“Ck. Anak ini kenapa lagi? Sudah diam. Dan ikut ibu saja! Atau namamu akan ibu coret dari daftar keluarga!” ancam wanita itu sambil tetap menarik putrinya.

Miharu tidak punya pilihan lain dan hanya mengikuti sang ibu sambil merutuk dalam hati. Gadis itu ditarik ibunya ke tengah ruangan dimana sebuah kue tart besar dan sepasang lilin dengan angka 48 diatasnya. Di dekat sana tidak hanya ada ayah Miharu namun juga ada kelurga Inoo.

Miharu kini berdiri diantara ibunya dan Inoo Kei. Pria itu tidak melepas sedikitpun pandangannya dari Miharu disampingnya.

“Lihat apa kau?” tanya Miharu setengah berbisik.

“Kau cantik” kata Kei tulus.

Namun Miharu mendelik sadis pada Kei sebagai jawabannya.

“Baiklah, perhatian semuanya. Malam ini sebelum acara inti dimulai, kami akan membuat pengumuman yang penting,” kata ayahnya Miharu.

Ibu Miharu merangkul putrinya sambil memandang penuh senyum ke Inoo Kei sejenak dan beralih ke audience.

“Selain untuk merayakan ulang tahun istri saya, pesta malam ini digelar sekaligus sebagai pesta pertunangan putri kami, Sato Miharu dan Inoo Kei.”

Ditempatnya, Miharu terdiam shock sambil memandang kedua orang tuanya. Apa yang tadi dikatakan ayahnya?

“A…apa?!”

 

To Be Continue

Advertisements

One thought on “[Minichapter] Impossible Love (Chap 1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s