[Oneshot] Bittersweet Birthday

Bittersweet Birthday

Hey! Say! JUMP Chinen Yuuri

Kanagawa Miki

Dan beberapa member JUMP lainnya serta OC milik para author

Genre: Romance

By: YamAriena, Dinchan, Shield Via Yoichi

Happy birthday, Nadia~~ Cie nambah umur :v ff ini kami persembahkan untuk kamu yang baru nambah umur sebulan yang lalu XDDD

Happy reading~!

“Okinawa? Ngapain?”

“Liburan, tentu saja. Kita belum pernah liburan bareng setelah rujuk.” celetuk nada jahil di saluran seberang sana.

Arina memutar bola matanya mendengar seruan jahil tuangannya yang sedang kumat saat itu.

“Rujuk apanya?! Lagipula aku masih harus bekerja, dan juga bukankah jadwalmu ke Okinawa minggu depan itu untuk bertemu dengan klien penting?” gerutu Arina lagi.

“Oh, ayolah… Pertemuan itu hanya 3 hari, setelah itu kita bisa bersenang-senang. Kau juga magang di perusahaan otousan, pasti gampang untuk mengajukan cuti..” terdengar rengekan lagi di seberang sana.

Arina menghela nafasnya untuk ke sekian kali, “aku diterima magang di perusahaan ayahmu dengan rekomendasi direktur, kau pikir berapa banyak kesulitan yg harus kuterima karena itu???”

“Memangnya itu masalah buatku?? Lagipula kau kan calon bos mereka. Dan berhentilah keras kepala. Atau kau juga bisa mengajak teman serumahmu sekalian.. aku tidak keberatan.”

Arina mengulum sebuah senyuman, “Bukan hanya aku, kau juga sangat keras kepala dan pemaksa, kau tau itu!” Arina menghela nafasnya lagi, “Akan ku pikirkan, nanti akan ku kabari lagi.” kata gadis itu menyerah.

That’s my girl. Baiklah, kututup dulu. Mimpi indah, Ricchan~”

Arina meletakkan ponselnya diatas meja. Matanya melirik kalender di meja belajarnya dan melihat ada satu tanggal yang dilingkari disana.

“Benar juga, minggu depan ulang tahunnya Miki.” gumamnya.

Arina lalu berjalan keluar kamarnya. Gadis itu mendapati di ruang tengah rumahnya kini berisi empat orang yang terlihat sedang berdiskusi dengan serius. Sora, Miharu dan pacar keduanya.

Konbanwa..” sapa Arina sambil menuruni tangga.

“Arina-nee, kupikir nee sudah tidur tadi. Ayo gabung kesini,” ajak Miharu.

“Sedang membicarakan apa?” tanyanya.

Surprise party untuk ulang tahun Miki, kami kebingungan untuk tempatnya. Sepertinya sedikit sulit untuk melakukan persiapan dirumah tanpa ketahuan olehnya, dan butuh dana besar jika ingin menyewa tempat.” kata Sora.

“Tumben sekali mau dirayakan,” celetuk Arina lagi.

“Ini inisiatif pacarnya, dia menghubungi Sora untuk minta tolong. Dan anak itu sedang mengajak Miki keluar saat ini.” kata Takaki.

Arina hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf ‘O’ tanpa suara sambil menangguk. Tiba-tiba saja dia teringat ajakan Yamada tadi lalu menceritakannya pada semua orang yang ada disana.

“Ide bagus. Aku tidak keberatan sama sekali,” kata Inoo bersemangat.

“Kau yakin? Tidak akan menganggu kesibukan kalian? Karena kita akan disana 5-6 hari,” kata Arina lagi.

Miharu menggeleng, “Aku sedang tugas akhir, begitu juga dengan Kei, dan baru bimbingan tadi pagi. Sepertinya tidak masalah,” kata Miharu.

“Aku sudah dua bulan tidak mengambil jatah cuti ke bosku, kalau bulan ini kuambil tidak akan masalah,” kata Sora.

“Aku juga sedang tidak sibuk,” kata Takaki.

Arina mengangguk, “Baiklah, akan ku kabarkan Yamada sekarang,” katanya sambil beranjak kekamar mengambil ponselnya.

“Aku juga harus mengabarkan Chinen-kun.” kata sora sambil mulai mengetik di ponselnya.

“Sebenarnya, tunangan Arina-chan sekaya apa?” tanya Inoo dengan takjub.

“Percayalah, sulit untuk menghitungnya,” kata Miharu sambil tertawa.

***

Miki mengembungkan pipinya bosan, “Yuri, kita sedang kencan kan?” Chinen melihatnya lalu mengangguk, “Lalu kenapa kau selalu melihat handphone-mu?”

“Eh?” Chinen menggaruk kepalanya tidak gatal, “Tidak apa-apa.”

“Masa sih? Dari awal kita masuk ke cafe ini sampai sekarang kau pasti bolak-balik melihat handphone-mu. Ada apa? Jangan-jangan kau selingkuh ya?” Tangan Miki mencoba meraih ponsel Chinen yang ada ditangannya, namun Chinen langsung menyimpannya ke saku celananya, “Tuh kan! Kenapa disimpan waktu aku mau lihat??”

Chinen memegang tangan Miki dan mengelusnya, “Tidak ada apa-apa kok, Miki. Cuma kepikiran tugas saja. Lagian, mana mungkin aku selingkuh.” kata dengan senyuman. Namun Miki sama sekali tidak terpesona dengan senyum itu kali ini.

“Bohong, aku mau ngambek saja!” ucapnya. Dengan cepat dia melepaskan pegangan tangan Chinen pada tangannya. Wajahnya terlihat kesal.

“Jangan gitu dong. Sesekali tukaran gitu, aku yang ngambek.” Chinen mencoba membuat lelucon tapi sepertinya tidak memberikan efek apa-apa.

“Huh, tidak lucu!”

***

“Kenapa kita cuma berangkat berlima?” Miki menatap Inoo dan Miharu, Arina yang sibuk dengan ponselnya, serta Chinen yang duduk menunggu pesawat siang itu.

“Ryo-chan kan disana ada rapat direksi jadi dia berangkat duluan,” jawab Arina menatap Miki.

“Takaki-san dan Sora-nee masih ada urusan jadi mereka akan telat,” jawab Miharu. Rencana mereka memang Yuya dan Sora akan datang telat untuk membawa perlengkapan pesta mereka agar tidak ketahuan oleh Miki. Lagipula pekerjaan Sora tidak bisa ditinggal untuk hari ini jadi Sora akan berangkat besok dengan Yuya.

Souka…” Miki mengangguk-angguk. Hatinya sangat excited karena inilah kali pertama mereka semua berlibur bersama, dan walaupun masih bulan April pemandangan pantai pasti tidak akan mengecewakan.

“Ayo!” Arina beranjak dari kursinya, menarik koper merah menyala yang sangat mencolok.

“Ngomong-ngomong tiket pesawat kita mana sih?” Inoo heran sejak tadi mereka di lobby VIP tapi tidak mendapat tiket untuk naik pesawat.

“Kita gak butuh tiket..” bisik Miharu.

Ketika mereka tiba di landasan pacu, barulah Inoo menyadari mereka tidak naik pesawat komersil. Badan pesawat bercat merah putih itu bertuliskan Yamada co.

***

Ketika mereka mendarat di Okinawa, sebuah mobil sudah siap menjemput mereka. Butuh waktu beberapa jam untuk sampai di sebuah rumah di pinggir tebing dengan pemandangan langsung ke laut.

“Ayo silahkan masuk,” Arina membuka pintunya dan segera empat orang lainnya menatap kagum pada bangunan gaya Eropa yang ditampilkan rumah itu. Memang tidak begitu besar, namun sangat nyaman terutama untuk berlibur apalagi dengan beberapa tempat terbuka dan sebuah kolam renang di belakang rumah.

“Di bawah ada tiga kamar, di atas ada dua..” jelas Arina, “Jadi pembagian kamarnya seperti apa maunya?”

Alih-alih menjawab, semuanya malah saling menatap satu sama lain.

“Ppfffttt…” Arina menahan tawanya saat melihat wajah salah tingkah yang lain.

“Ini memang liburan, tapi gak ada yg tidur dengan pacar masing-masing,” kata gadis itu sambil memandang sadis satu per satu pasang mata yang lain, “Miharu, kau berdua dengan Sora-nee, pilih saja kamarnya.. Miki, kau bersamaku di kamar atas. Inoo-kun, Chinen-kun, terserah kalian mau berdua atau masing-masing berbagi dengan Takaki-san dan Ryo…” kata Arina lagi.

“Kenapa nee tidak sekamar dengan Yamada-san saja?” tanya Miharu dengan kalem.

Arina kembali memberikan tatapan sadisnya, namun Miharu hanya senyum-senyum kalem.

“Jangan menghayal yang tidak-tidak… Miki, ayo kita letakkan barang-barang di kamar dulu,” ajak Arina sambil menarik kopernya dan diikuti Miki yang terlihat sangat antusias.

Akhirnya Inoo dan Chinen memutuskan untuk berbagi kamar, mereka dan Miharu memutuskan menggunakan kamar yang ada di bawah setelah mempertimbangkan bahwa besok Sora dan Takaki akan datang sambil membawa perlengkapan, lebih mudah menyusupkannya dengan Miki yang berada di lantai atas.

***

“Ya, kami sudah sampai… Baiklah… Sampai jumpa nanti sore…” Arina lalu memutuskan sambungan panggilan itu lalu membuka pintu kamarnya dan Miki.

“Woooaaahhh… besar sekali…” celetuk Miki sambil menarik kopernya lebih dulu dan seketika langsung menghempaskan tubuhnya di kasur yang berukuran King Size itu.

Arina hanya tersenyum sambil membongkar kopernya sendiri dan mulai mengatur barang-barangnya sesuai dengan tempatnya di kamar itu.

Nee, nanti aku minta sabun mandimu ya, aku lupa bawa. Ku kira kita akan menginap di hotel, jadi aku tidak perlu bawa sabun,” kata Miki dari balik bantal.

“Dasar anak-anak, sukanya gratisan,” celetuk Arina yang baru saja keluar dari kamar mandi setelah meletakkan perlekapannya disana.

“Siapa yang tidak suka gratisan sih? Bisa liburan gratis seperti ini juga menyenangkan sekali, aku senaaaanngg,” kata Miki sambil berguling di kasur.

Tiba-tiba saja ponsel gadis itu berdering, dari Chinen.

Moshimoshi…. sekarang? Boleh saja… baiklah, aku turun sekarang.” kata Miki lagi dengan riang.

“Mau kemana?” tanya Arina melihat Miki yang terlihat merapikan rambutnya di depan cermin besar yg di pintu lemari.

“Yuri mengajakku berkeliling…” jawab Miki

“Tidak merapikan barangmu dulu?”

“Nanti saja nee, pergi dulu yaa…”

“Hati-hati, kembalilah sebelum waktu makan malam,” kata Arina dari balik pintu lemari.

“Ya…” teriak Miki.

***

“UWAAAAAAAH!!” teriak Miki yang berjalan di pinggir pantai.

“Kau senang?”

Miki mengangguk, “Un! Senaaaaaaaang sekali!” Dia melompat-lompat kegirangan. Ia melepaskan genggaman tangan Chinen pada tangannya lalu berlari menelusuri pantai.

“Hei, Jangan berlari-lari! Nanti kau jatuh!” Chinen mengejarnya, senyum menghiasi wajahnya. Berharap rencana mereka bisa berjalan sempurna sampai hari H tiba.

Bruk! Mata Chinen membesar saat mendengar suara jatuh yang berasal dari Miki. Dia langsung mendekati Miki yang meringis kesakitan.

“Aduh…” Ia mengelus kedua lututnya bergantian sambil sesekali meniupnya.

“Miki, tidak apa-apa?” tanya Chinen. Wajahnya begitu khawatir.

Miki mengangguk, “Aku tidak apa-apa kok. Hanya terjatuh.”

“Hanya terjatuh kau bilang? Kalau kau terluka bagaimana??”

Miki tertawa kecil, “Yuri khawatir padaku?”

“Tentu saja, Miki bodoh!” Chinen mencubit pipi Miki, geram.

Chinen tidak membantu Miki berdiri, ia ikut duduk di sebelah Miki, kini merebahkan badannya di hamparan pasir pantai, Miki hanya bisa memandangi Chinen yang terlihat menikmati apa yang dilakukannya.

“Hari yang benar-benar cerah ya, rasanya jadi sedikit tenang…” ucap Chinen sambil menutup matanya.

Miki ikut merebahkan badannya di samping Chinen, dan bukannya menatap langit, gadis itu lebih memilih untuk menatap wajah Chinen yang terlihat damai dan bahagia.

“Yuri sering ke sini?” tanya Miki, karena sepertinya Chinen sedikit tau mengenai daerah sini.

Chinen membuka matanya dan menatap Miki, “Dulu, aku sering menghabiskan waktu liburan panas di sini bersama orang tua dan kakakku. Pada saat kelas tiga SMP aku bahkan tinggal di daerah sini selama Musim panas, tapi rasanya sudah tiga tahun aku tidak kesini,”

“Eh? Kenapa?”

Chinen tiba-tiba duduk, “Tidak apa-apa, mungkin aku bosan, hehe….. Ngomong-ngomong bagaimana kalau kita ke toko sebelah sana, kita beli sedikit makanan ringan untuk yang lain?”

Sebagai jawaban Miki mengangguk dan mengikuti Chinen yang berjalan ke arah sebuah pertokoan sederhana tak jauh dari daerah pantai itu.

“Mau apa? soda kali ya? Uhmmm.. aku mau snack ini juga..” Chinen mengambil beberapa snack yang terpajang, begitu juga dengan Miki, “Sudah semua?” tanya Chinen.

“Boleh aku beli es krim?” Miki menunjuk box es krim yang berada di dekat pintu toko. Chinen mengangguk dan membawa belanjaan mereka ke kasir.

“Selamat datang,” Chinen yang masih menengok melihat Miki, selanjutnya menoleh kepada petugas kasir.

“Eh? Yuri-kun?!”

Mata Chinen membulat, ia tidak pernah bermimpi akan bertemu lagi dengan wanita itu, wanita yang sepuluh tahun lebih tua darinya, cinta pertamanya.

“Mi… Mimori-senpai?” desis Chinen.

Gadis itu memaksakan seulas senyum pada Chinen, “Hisashiburi.. sudah lama ya sejak hari itu…” kata gadis yang dipanggil Mimori-senpai oleh Chinen tadi.

Chinen tersenyum sedih dan mengangguk menanggapinya, “Un… sudah hampir tiga tahun. Bagaimana kabar senpai?”

“Aku baik. Kau sendiri? Ku tebak sekarang kau pasti sudah kuliah,” kata gadis itu.

Chinen tersenyum sedikit lebih lebar dari yang sudah di berikannya sebelum ini.

“Aku baik, dan ya, aku sudah kuliah” katanya.

Tepat saat itu Miki datang menghampiri mereka.

“Yuri, aku sudah mengambil es krimnya,” kata Miki dengan riang, namun seperti baru sadar suasana yang tiba-tiba terasa canggung disekitarnya.

“Eh? Ada apa?” Tanya Miki yang bingung karena dipandangi oleh kedua orang yang ada disana.

Gadis yang dipanggil Mimori tadi tersenyum ke arah Miki dan mulai menghitung belanjaan keduanya.

“Eh? Yuri? Kenalanmu?” Tanya Miki masih penasaran.

Chinen berdehem sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena salah tingkah.

“Nanti ku ceritakan.” kata pria itu singkat.

Kanojo? Kawaii yo!” celetuk Mimori kepada Chinen.

Arigatou, oneesan.” kata Miki sambil tersipu.

“Berapa semuanya?” tanya Chinen.

“624 yen.” jawab gadis itu.

Chinen lalu membayar belanjaan itu, lalu dibawa Miki yang di beri isyarat oleh Chinen untuk pergi duluan.

“Aku akan menghubungi senpai nanti, nomor senpai masih yang dulu bukan? Pastikan saja kali ini senpai menjawabnya atau…” pria itu sengaja menggantungkan kalimatnya dan tersenyum penuh makna kepada wanita itu.

Gadis yang bernama Mimori itu menghela nafas dan mengangguk pelan, “Baiklah,” katanya.

Chinen lalu berjalan keluar menghampiri Miki yang menunggunya disamping pintu masuk.

“Yuri, kau mengenalnya?” tanya Miki sedikit tidak nyaman.

Chinen menghela nafas dan mengangguk, “Namanya Fuchigami Mimori, dia…. dulu pernah menjadi guru privatku.” katanya.

“Oh begitu,” Miki hanya mengangguk, tapi entah kenapa hatinya masih merasa tidak nyaman.

“Tidak ada hubungan lain kan?” tanya Miki lagi.

Alis Chinen menaik, “Kenapa bertanya seperti itu?”

Miki menggeleng dan tersenyum paksa, “Tidak, hehe..”

Miki tidak mungkin salah melihat. Saat itu, pandangan Chinen dengan wanita bernama Mimori itu bukan hanya pandangan antara guru dan murid yang rindu bertemu. Malah itu lebih dari sekedar itu.

Miki melirik Chinen, senyumnya semenjak bertemu kenalannya itu tidak pernah hilang di wajahnya. Seharusnya Miki senang melihat pacarnya bahagia, tapi tidak kalau kebahagiaan itu berasal dari wanita lain. Bukan dari dirinya. Namun Miki memilih diam, saat Chinen bertanya ini-itu ia hanya menjawab dengan gumaman. Biasanya Chinen akan sangat khawatir kalau Miki sudah seperti itu, tapi kali ini ia sama sekali tidak peka.

Miki benar-benar ingin tahu lebih lagi tentang wanita itu dan seberapa besar hubungannya dengan Chinen.

Sementara itu di rumah peristirahatan sedang terjadi sedikit kekacauan karena Sora dan Takaki tidak bisa dihubungi. Entah sedang apa mereka berdua tapi baik Arina, Miharu dan Inoo tidak bisa menghubungi mereka.

“Sudah coba cek social media-nya Sora-nee?” tanya Arina pada Miharu.

“Untuk apa?” Miharu mengerenyitkan dahinya.

“Mengecek apakah dia on di tempat lain?” balas Arina.

“Ponselnya tidak aktif, Ricchan…” Miharu mengangkat ponselnya.

“Tapi kita harus tanya kapan mereka berangkat, dan tentang barang-barang yang harus dibawa,” sebelum Arina semakin mengomel, Miharu berdiri dan menepuk bahu Arina.

“Tenang Ricchan.. tenang.. semuanya baik-baik saja, jangan panik!” kata Miharu dan Arina hanya memutar bola matanya tidak tertarik.

“Iya, Ricchan… apa kau selalu seserius ini?” Inoo menatap Arina yang se siangan ini khawatir terus menerus.

“Jangan panggil aku Ricchan!” seru Arina galak pada Inoo.

Tadaimaaa!” Chinen dan Miki masuk ke rumah dan melihat ketiga temannya masih di rumah.

“Kalian tidak jalan-jalan?” tanya Miki heran.

“Kita, aku maksudnya.. masih capek,” jawab Miharu.

Miki mengangguk dan menyimpan belanjaan mereka di atas meja ruang tengah, “Ada beberapa snack…” sebelum Miki selesai bicara, Chinen terlihat sibuk dengan ponselnya.

“Sebentar.. aku harus angkat telepon,” Chinen keluar dari ruangan itu.

Miki mengerenyitkan dahinya, buat apa Chinen menghindar? Telepon dari siapa itu? Tiba-tiba saja dia merasa terganggu. Chinen belum pernah seperti ini sebelumnya.

Miki berjalan mengikuti Chinen keluar, meninggalkan Miharu dan Arina yang mulai berdebat kembali dengan Inoo yang menjadi penengah. Sayup-sayup terdengar suara Chinen yang tertawa kecil. Dari tempatnya Miki bisa melihat Chinen masih menelpon, namun……

“Yu…ri…?” desisnya.

Kekasihnya terlihat tersenyum bahkan tertawa lepas di tempatnya. Dan entah kenapa hal itu membuat Miki semakin gelisah.

“Baiklah Mimori-senpai… besok aku akan ketempatmu dan kita langsung pergi… Baiklah, sampai jumpa.” seru Chinen mengakhiri telponnya.

Miki buru-buru pergi dari sana, kembali ke ruang tadi yang kini sudah sepi. Gadis itu duduk di sofa sambil mengutak-atik ponselnya.

“Ah, Miki, mana yang lain?” tanya Chinen yang baru saja tiba.

“Ah… itu… mereka…” Miki sedikit gelagapan namun beruntung diselamatkan oleh Yamada yang baru saja datang.

Tadaimaa~” sapa Yamada.

Okaeri~” balas Miki dan Chinen hampir bersamaan.

“Miki, Chinen-kun, makan malam sudah siap… ah, Ryo chan, okaeri.” kata Arina yang keluar dari ruang makan sambil mengenakan apron memanggil mereka.

Gadis itu lalu menghampiri Yamada dan memgambil mantel serta tas yang di pegang pemuda itu.

“Mau makan dulu atau mandi dulu? Ah iya, barang-barangmu sudah ku susun dikamarmu,” kata Arina dengan santai.

“Aku makan dulu saja,” jawab Yamada.

“Arina-san dan Yamada-san sudah terlihat seperti pasangan pengantin baru saja,” gurau Chinen.

“Diam kalian! Kenapa masih disini, ayo sana ke ruang makan! Inoo-kun dan Miharu sudah menunggu kalian dari tadi,” kata Arina sambil mendelik.

Chinen lalu menggandeng Miki dan menariknya ke ruang makan.

“Duluan saja, akan kuletakkan dulu ini dikamar,” Miki dan Chinen masih mendengar sayup percakapan ringan Yamada dan Arina di belakang.

Miki memandang ke arah Chinen. Bertanya dalam hati, kenapa pemuda itu belum bercerita padanya. Karena biasanya dia akan memceritakan apapun kejadian kecil yang dialaminya pada Miki.

“Anoo… Yuri?” seru Miki membuka suara.

“Ada apa?” tanya Chinen.

“Besok….” Miki menggantungkan kalimatnya, mempertimbangkan untuk menanyakannya atau tidak.

Chinen masih menanti Miki membuka suara ditempatnya, “Besok… mau menemaniku jalan-jalan lagi tidak?” tanya Miki.

Sepersekian detik kemudian dia merutuki dirinya sendiri karena keberaniannya mendadak menguap untuk bertanya.

“Ah, maaf Miki. Besok sepertinya tidak bisa… aku lupa harus membeli perlengkapan untuk tugas kuliahku. Besok kau jalan-jalan dengan yang lain saja ya, tidak masalah kan?” kata Chinen.

Kenapa kau berbohong? Bukankah besok kau ingin bertemu dengan senpai-mu itu? celos Miki dalam hati.

Namun alih-alih bertanya Miki hanya mengangguk sebagai jawaban.

“Ah, Miki, Chinen… kemana saja? Ayo cepat habiskan makanan kalian.” kata Miharu yang sedang meletakkan semangkuk sup di depan Inoo. Gadis itu juga memakai apron.

“Miharu-san dan Inoo-san juga kenapa terlihat seperti pasangan pengantin baru?” canda Chinen.

Inoo tertawa dan menanggapi candaan itu, menggantikan Miharu yang sudah duduk ditempatnya dengan wajah yg merona.

Hanya Miki yang duduk ditempatnya dalam diam, larut dengan pikirannya sendiri.

Miki memainkan alat makannya dengan bosan. Belum ada satu suap pun yang masuk ke mulutnya. Mood-nya tiba-tiba turun karena Chinen tidak jujur padanya. Kemudian dia mengedarkan pandangannya, di depannya Miharu dan Inoo sedang cubit-cubitan. Tidak perlu dia bertanya apa yang terjadi, Miharu pasti yang pertama kali mencubit Inoo karena kesal digoda dan Inoo kembali menggodanya dengan membalas cubitan. Lalu dia melihat Chinen yang duduk di sampingnya sedang makan sambil sesekali tertawa melihat pasangan itu. Miki menghela napas keras.

“Miki, kenapa belum makan?” Chinen membuka suara. Sepertinya dia baru menyadari Miki tampak tak berselera.

“Apa kau sakit?” tanya Miharu. Ia menggeleng.

“Jadi kenapa? Apa kau tidak suka makanannya?” tanya Inoo kemudian. Miki kembali menggeleng.

“Aku hanya sedang tidak mood untuk makan. Gochisousama.” Dia beranjak dari duduknya lalu berjalan keluar dapur.

“Eh, kau sudah selesai makan?” tanya Arina saat berpapasan dengan Miki. Namun Miki tidak menghiraukannya dan terus berjalan menuju tangga.

“Kenapa dia?” tanya Yamada yang ada di samping Arina.

Mereka berjalan menuju dapur dengan bingung dan semakin bingung melihat keadaan dapur yang hening.

“Ada apa?”

Miharu menggeleng, “Tidak, hanya saja Miki tidak makan sama sekali.”

Arina memutar bola matanya, “Kenapa lagi dengan anak itu? Kau apakan dia tadi, Chinen?”

“Eh? Tidak ada, aku tidak melakukan apa-apa. Mungkin dia kenyang karena tadi dia makan es krim.” jawab Chinen cuek dan menghabiskan makanannya.

“Mungkin saja tapi… tidak seperti biasanya..” ucap Miharu, Arina mengangkat bahunya bingung.

“Sudahlah, mari nikmati malam ini!” kata Yamada mencoba menghilangkan rasa canggung itu, “Iya kan, sayang?” Ia melihat ke arah Arina, menaikkan alisnya beberapa kali sambil tersenyum jorok.

“Apa? Kita tidak akan tidur berdua! Aku tidur dengan Miki, dan kau dengan Takaki-san.” jelas Arina dengan senyum penuh kemenangan.

“Eeeeeeh? Kenapa seperti itu? Aku kan sengaja mengajakmu liburan biar bisa berduaan lebih lama!” Yamada memeluk Arina dari belakang dengan erat, sementara Arina mencoba melepaskannya

Melihat itu, Chinen, Inoo dan Miharu tertawa tertahan. Ternyata Yamada bisa juga bertingkah seperti anak kecil.

“Apaan sih, Ryo. Lepaskan!”

“Tidak mauuuuu…”

“Aku bilang lepas!” Arina menghempaskan tangan Yamada yang melingkari tubuhnya, Yamada cemberut. Chinen, Inoo dan Miharu tertawa lepas, mereka tak sanggup lagi menahan tawa lebih lama, “Oh iya, apa ada kabar dari Sora-nee dan Takaki-san?”

***

Sora mengambil ponselnya dari dalam tas, dan alangkah kagetnya ketika melihat ponselnya mati, dia lupa men-charge-nya tadi sebelum berangkat naik pesawat.

“Yuyan, ponselku mati,” Sora melihat Yuya berjalan ke arah tempat merokok dan buru-buru menarik tas cowok itu, “Pinjam ponselmu!!” serunya galak.

Yuya merogoh tas dan sakunya, “Eh? mana ya? Aku bawa kok… sebentar,” Yuya menyelipkan sebatang rokok di mulutnya dan terus merogoh tas selempangnya, “Kayaknya ketinggalan di rumahmu deh pas tadi angkat barang-barang.”

“APA?!! terus gimana kita bisa dijemput kalo begini caranyaaa?” keduanya memang terpaksa naik penerbangan komersil karena tidak bareng dengan rombongan, tapi Yamada memberikan tiket kelas VIP untuk keduanya.

“Uhm… kita naik taksi saja gimana?!” Ugh, Takaki Yuya memang selalu happy-go-round di saat begini.

“Dengan barang-barang ini?” melihat dua troli yang dibawa mereka, rasanya akan melelahkan sekali.

“Gimana lagi? kita kan gak bisa menghubungi siapapun sekarang, supirnya Arina juga gak bisa jemput kita…”

Good point. Walaupun kesal akhirnya Sora mengiyakan ide dari Yuya. Padahal dia kesal sekali bisa-bisanya Yuya tidak bawa ponsel di saat genting begini.

Mereka menyetop sebuah taksi dan memasukan barang-barang mereka, bahkan sebagian harus di simpan di tempat duduk.

“Ke mana, tuan?”

Sora menyebutkan sebuah daerah, yang ia ingat sbagai daerah tempat villa milik Yamada berada. Kalo boleh jujur, Sora juga sebenarnya agak lupa dengan alamatnya karena semua tersimpan di ponselnya.

“Kau yakin?” tanya Yuya.

Sora mengangguk. Taksi pun meluncur ke arah yang Sora sebutkan. Sudah lebih dari satu jam dan mereka hanya berputar-putar saja. Mereka bahkan berdebat bagaimana bentuk rumah yang fotonya dikirim oleh Arina kemarin.

“Ini, Yuyan!! Aku yakin!!” Sora menunjuk sebuah rumah besar bergaya Eropa.

“Aku ingat Inoo bilang rumahnya jauh dari keramaian, jadi pasti kita belum sampai!” Yuya tak mau kalah.

“Jadi bagaimana, tuan? Kita mau kemana?” tanya si supir taksi kebingungan.

“Ah… Eh… Eh.. sebentar.. Itu… Stop! stop!!” Sora menepuk-nepuk kursi supir dan turun dari taksi.

“CHINEN-KUN!!” Sora berteriak kepada Chinen yang hendak masuk ke dalam sebuah toko, namun sepertinya Chinen tidak mendengarnya maka Sora pun berlari ke arah toko itu sementara Yuya hanya bisa memandangi Sora yang tergopoh-gopoh berlari dengan sepatu hak tingginya.

Saat Sora sampai di depan pintu masuk, dia melihat Chinen berbicara dengan seorang wanita dan terlihat sangat akrab bahkan mereka seperti menertawakan sesuatu.

“Chinen-kun?” Sora membuka pintu masuk itu, dan Chinen tersenyum pada Sora.

“Sora-san!!”

“Ngapain di sini?” tanya Sora pada Chinen.

“Ah.. ini Mimori-senpai, dia teman lamaku,” jelas Chinen.

Sora mengangguk sekilas, “Bisa antar aku ke villa?” Sora menjelaskan keadannya dengan Yuya.

“Aku teleponkan Arina-san saja ya, gomen, aku ada janji dengan Mimori-senpai,”

Sora hanya bisa setuju, padahal dia heran sekali pada Chinen. Bukankah harusnya dia membuat Miki ‘sibuk’ selama persiapan pesta Miki? kenapa malah sekarang Chinen sibuk sendiri?

Sora dan Takaki memutuskan turun di depan tempat dimana dia bertemu dengan Chinen. Pria itu sudah menelpon Arina dan gadis itu mengatakan bahwa dia akan menjemput mereka segera. Setelahnya Chinen pergi dari tempat itu dengan seorang wanita.

Sambil menunggu Arina datang, Sora terlihat mendiskusikan hal itu dengan Takaki.

“Aneh sekali, padahal rencananya Chinen akan menyibukkan Miki sementara kita akan melakukan persiapan yang dibutuhkan, kenapa dia malah pergi sendiri?” keluh Sora.

“Entahlah… Apa terjadi sesuatu dengan mereka berdua lagi? Dan tadi anak itu tampaknya pergi bersama wanita lain,” kata Takaki.

“Jangan-jangan wanita itu penyebabnya?” kata Sora lagi dengan curiga.

“Tidak mungkin… Wanita itu juga tampaknya lebih tua dari Chinen,” kata Takaki mencoba berpikir positif.

“Jaman sekarang, apapun bisa terjadi, Yuya.” kata Sora tidak mau kalah.

Tiba-tiba saja diskusi mereka terhenti ketika satu mobil berjenis Merci berwarna merah berhenti di depan mereka.

“Sora-san, Takaki-san, ayo masuk!” seru orang yang mengendarai mobil itu dan baru saja turun menghampiri mereka.

“Yamada-kun?” gumam Sora sedikit takjub.

Pria itu membuka bagasi mobilnya dan membantu Takaki memasukkan barang yang mereka bawa.

“Bukannya Arina yang mau menjemput? Dimana dia?” tanya Sora saat sudah duduk didalam mobil.

Gadis itu duduk dibelakang, sementara Takaki duduk disamping Yamada yang menyetir.

“Ricchan menelponku tadi, dia sedang mengajak Miki belanja, sepertinya akan pulang sedikit terlambat. Dan dirumah hanya tinggal Miharu dan Inoo-kun. Aku baru selesai rapat dan memutuskan untuk makan siang di penginapan kita saja. Nanti sore baru aku akan pergi lagi, jadi sekalian saja.” jelas Yamada.

Sora hanya mengangguk mendengar penjelasan itu.

***

“Miharu, aku bosan.” ucap Inoo, ia meletakkan kepalanya di pangkuan Miharu. Miharu menatapnya, Inoo membalasnya dengan tatapan manja.

“Kau bisa meniup balon ini kalau merasa bosan.” Miharu memasukkan ujung balon ke bibir Inoo. Gadis itu kembali berkutat dengan beberapa pita dan mengalungkannya di leher.

Inoo melempar balon itu ke lantai dan beranjak duduk, “Ayolah. Kenapa kita tidak ke luar saja? Mumpung hari ini bagus.”

“Kita harus melakukan persiapan dengan perlengkapan yang kita punya sebelum perlengkapan lainnya yang dibawa Sora-nee dan Takaki-san datang. Kita juga sedang menunggu mereka datang kan..”

“Tapi kan hari ulang tahunnya masih beberapa hari lagi. Kenapa sudah sibuk sekarang? Ayolah, ini kan liburan.” rengek Inoo.

Miharu menghela napas, “Besok saja ya, Kei?”

“Janji?” tanya Inoo. Dia dengan sengaja membuat mimiknya seperti anak kecil.

“Un, janji.” jawab Miharu. Ia tersenyum sesaat lalu kembali berkutat dengan barang-barang untuk mendekorasi, “Tapi sebenarnya aku malas ke pantai.”

“Kenapa? Karena kau tidak bisa berenang?”

Alis Miharu berkedut kesal, “Bukan!”

“Jadi, kenapa dong?”

“Tidak ada alasan khusus!”

Suasana sempat hening karena tidak tahu mau membahas apa lagi. Tapi bukan Inoo namanya kalau tidak bisa menjahili Miharu. Tangannya meraih ujung-ujung pita yang terkalung di leher Miharu lalu menarikkan membuat Miharu tertarik ke arahnya. Wajah mereka begitu dekat, tatap mereka beradu. Inoo menatapnya sendu lalu mendekatkan wajahnya pada Miharu. Namun, gadis bermarga Sato itu bergerak cepat. Ia menusuk dagu bagian bawah Inoo dengan jarinya dan membuatnya gagal mencium Miharu.

“Hei—”

“Apa? Seharusnya kau bantu aku dong!” marah Miharu.

Inoo senyum penuh arti, “Aku bantu yang lain saja ya?” Dia menggelitik pinggang Miharu, gadis itu memukul tangannya.

“Jangan menggelitikiku!” Miharu menghindar tapi tangan panjang Inoo selalu bisa mencapainya, “Inoo Kei!”

“Iya, sayang?” ucap Inoo, tangannya masih terus menggelitiki Miharu.

Miharu berusaha mendorong tangan Inoo dengan kuat, “Berhenti!”

“Tidak~ tidak~ tidak~ tidak akan sampai aku tidak bosan lagi~”

Miharu yang sudah sekuat tenaga menahan tawa akhirnya menyerah. Dia tertawa namun masih mencoba menghindar dari tangan-tangan jahil Inoo yang tidak berhenti menggelitikinya, “Ahahaha… Kei, ahahaha… hentikan!”

“Tidak, aku masih merasa bosan.”

Miharu pun merasa lemas karena tenaganya terbuang hanya untuk tertawa dan melawan tangan Inoo. Ia tidak kuat untuk mengelak lagi dan tergeletak lemas di dada Inoo.

“Kumohon, hentikan. Aku mohon, Kei.”

Inoo memeluknya dan mengelus rambut kekasihnya lembut. Tidak hanya Miharu, ia juga merasa lelah.

Miharu mendengar deru napas Inoo yang berat, “Kei lelah?” Miharu mendongak.

“Iya. Mungkin aku tidak akan lelah lagi kalau sudah menciummu.” Miharu langsung memukul pelan lengan Inoo. Inoo tertawa.

Pria mendekatkan wajahnya, kali ini Miharu tidak menolak. Ia menutup matanya, tangannya sudah melingkar di leher Inoo.

Ta….. daima..” suara Yamada tiba-tiba memelan saat melihat Inoo dan Miharu hampir saja ciuman, “Sepertinya tugas kalian bukan untuk melakukan itu deh.” katanya. Inoo dan Miharu salah tingkah dan langsung memperbaiki posisinya.

“Sora-nee!!” pekik Miharu saat melihat Sora dan Takaki. Dia langsung berlari menuju Sora, membiarkan pita-pita yang tadi sempat melilitnya berjauhan di lantai. Setidaknya ia berusaha memecahkan suasana canggung tadi.

***

“Hm…” Arina melirik Miki yang berhenti di salah satu counter makanan. Untuk beberapa detik mereka masih berdiam diri.

“Mau beli apa?” tanya Arina akhirnya.

“Hm…” Miki kembali bergumam. Dia terlihat serius melihat makanan-makanan itu bergantian.

“Ada yang menarik perhatian?”

“Hm…” Alis Arina berkedut kesal. Pertanyaannya hanya dijawab gumaman, “Ah, tidak ada.”

Miki berjalan menuju counter lain dan melakukan hal yang sama membuat kesabaran Arina hampir habis. Arina menggenggam keranjang dengan kuat, menyalurkan rasa kesalnya ke sana. Untung saja, selama Miki berdiri di countercounter itu, ia mengambil bahan-bahan makanan yang dibutuhkan.

“Kau kenapa sih?” tanya Arina setelah keluar dari supermarket.

“Tidak.”

“Kau tidak bisa berbohong padaku, Miki.”

“Err…” Miki memainkan jarinya, “Aku mau tanya pada Arina-nee..”

Arina menaikkan alisnya, “Apa? Apa?”

“Itu…. hm… apa yang akan Arina-nee lakukan kalau tahu Yamada-san selingkuh?”

“Hah?” Arina mengerutkan keningnya, “Apa yang aku lakukan? Kenapa kau tanya begitu? Apa Chinen selingkuh?”

“Ahahaha… tidak, bukan begitu. Hanya kepikiran saja.” Miki tersenyum kecut.

“Sudah, jangan pikir yang aneh-aneh. Ayo, temani aku ke tempat lain!” Arina menarik tangan Miki.

“K-kemana?”

“Sudah, ikut saja.”

***

Arina memarkirkan mobilnya, mengambil beberapa barang dan menyuruh Miki untuk masuk duluan membawa belanjaan mereka, Arina harus ke rumah sebelah untuk memantau apa saja yang sudah diselesaikan oleh Miharu, Inoo, Takaki dan Sora.

“Mau kemana, nee?” Miki melihat Arina bukannya masuk ke rumah.

“Sebentar.. aku mau ambil barang di gudang…” ucap Arina dan Miki hanya mengangguk masuk ke rumah setelahnya.

Villa milik Yamada ini memang terdiri dari dua bangunan. Bangunan depan yang mereka tempati dan satu lagi agak ke belakang, sebenarnya bangunan belakang itu hanya tempat leha-leha dan beristirahat dengan pemandangan paling bagus dari seluruh tempat ini, namun mereka sepakat untuk mengatakan pada Miki bahwa bangunan belakang itu hanyalah sebuah gudang dan disitulah surprise akan diberikan kepada Miki.

Pintu dibuka, ada dua orang yang tertidur berpelukan, dan dua orang duduk di teras, pacaran. Ruangan sama sekali belum terdekor, bahkan masih berserakan barang-barangnya.

“KALIAAAANNNN!!”

BRUK!

Miharu mendarat sempurna di lantai kayu dan beraduh-aduh, Inoo kaget dan baik Sora maupun Takaki hanya menengok ke arah Arina.

“Ricchan!!” Sora tersenyum pada Arina yang disambut dingin oleh gadis itu.

“Tugas kalian mendekor tempat ini.. Astaga.. Malah belum selesai sama sekali??!!” Arina menggeleng frustasi.

“Santai, Ricchan.. Kita pasti menyelesaikannya sebelum acara kok.. jangan panik, okay?” Sora menepuk nepuk bahu Arina.

“Sekarang sebelum Miki curiga, kalian bertiga… sana ke rumah utama, biar aku dan Sora yang mendekor ini…” ucap Yuya, “Bilang saja kami belum sampai,” tambahnya.

“Benar juga!” Inoo, Miharu dan Arina kembali ke rumah utama, sebelumnya Arina sudah mewanti-wanti agar Takaki dan Sora benar-benar bekerja dan tidak bermalas-malasan.

Ketika Arina sampai di rumah utama, di ruang tengah, Miki sedang menatap ponselnya dengan bingung.

“Kenapa?” tanya Miharu.

“Aku telepon Yuri, yang angkat wanita dan karena kaget aku langsung matikan, tapi… Ketika aku telpon lagi, ponselnya tidak aktif…” Muka Miki terlihat bingung, marah dan khawatir.

Arina heran, Chinen yang harusnya berperan paling penting di ulang tahun Miki ini malah tidak kelihatan sejak pagi, bahkan sekarang malah bersama wanita lain? Maunya apa sih dia?

Arina menarik Miharu, “Kau dan Inoo, pergi sekarang cari Chinen sampai ketemu dan seret dia ke sini sekarang,” bisiknya.

***

Inoo menelpon Chinen berkali-kali dan selalu mati. Hari sudah hampir gelap saat pria itu mendapati Chinen sedang berjalan pulang sendirian sambil menenteng banyak kantong belanjaan. Inoo langsung menghampirinya.

“Kau dari mana saja? Semua mencoba menghubungimu dari tadi, kenapa ponselmu kau matikan? Kau pergi dengan siapa? Siapa wanita yang mengangkat ponselmu?”

“Ah itu… tadi…” Chinen menjadi gelagapan saat diserbu dengan banyak pertanyaan oleh Inoo seperti itu.

Tepat saat itu Miharu datang dan menghampiri mereka berdua.

“Chinen, syukurlah kau sudah disini. Kau tau, Miki mengurung diri dikamar sejak siang. Dia tidak mau makan bahkan membuka pintu kamarnya untuk kami, semua jadi khawatir.” Kata gadis itu.

“Ya tuhan, aku akan ke kamar Miki kalau gitu,” kata Chinen yang menjadi cemas dengan kabar Miharu.

Namun saat pria itu ingin pergi dari sana, lengannya di tahan oleh Inoo.

“Tunggu dulu, sebelum itu… Sebaiknya kau ke rumah belakang, Arina mencarimu.” kata Inoo lagi.

Chinen berhenti sejenak. Arina mencarinya, besar kemungkinan gadis itu akan memarahinya. Miki pernah bilang kalau gadis itu marah, dia bisa menghancurkan apa saja disekelilingnya, dan Chinen memilih untuk menghindari hal itu. Tapi kalau dia tidak kesana sekarang, Arina mungkin akan lebih naik darah lagi. Jadi sebaiknya dia memang menghindari kemungkinan yang paling buruk.

Akhirnya Chinen berjalan menuju rumah belakang bersama Inoo dan Miharu. Sesampainya disana, terlihat Sora, Takaki, Yamada dan Arina baru saja keluar.

“Chinen? Kau baru pulang? Kau darimana saja?” tanya Sora, Takaki, dan Yamada hampir bersamaan.

Namun tidak dengan Arina, gadis itu memandang dingin kearah Chinen. Menyadari hal itu Chinen berjalan perlahan menghampiri gadis itu.

Anoo… Arina… aku…” Chinen bingung ingin memulai dari mana.

“Kita bicara didalam. Yang lain duluan saja ke rumah utama,” kata gadis itu tidak kalah dinginnya dengan tatapannya saat itu.

Mau tidak mau, Chinen mengikuti Arina kembali ke masuk ke rumah itu. Yang lain hanya berpandangan dengan khawatir.

Maa… kalian tidak perlu khawatir. Masuk saja duluan, biar aku disini saja untuk mencegah jika ada hal yang buruk terjadi,” kata Yamada pada yg lain.

Mereka bisa sedikit bernapas lega. Memang hanya Yamada yang bisa menangani pacarnya jika sudah menjadi buas. Takaki menepuk sekilas pundak Yamada sebelum merangkul Sora dan mengajaknya kembali, menyusul Inoo dan Miharu yang sudah berjalan lebih dulu. Sementara itu Yamada masuk kedalam rumah belakang menyusul Arina dan Chinen.

Ano… Arina…” Chinen membuka suaranya. Sudah beberapa menit sejak mereka ada di dalam ruangan itu, Arina hanya melihatnya dengan tatapan dingin. Kalau sudah begini, Chinen bingung sendiri. Ini pertama kalinya melihat Arina semarah itu.

“Kau tau kan untuk apa kita kesini? Terus, kau kemana saja? Apa yang kau lakukan? Masih ingat kan semua rencana yang kita buat? Kenapa malah kau yang merusak rencananya?” Chinen menelan ludah, terlalu banyak pertanyaan yang diberikan Arina. Arina menaikkan alisnya, “Kau masih niat kan membuat surprise ini? Kalau tidak, kita pulang saja malam ini.”

“Jangan!” ucap Chinen. Arina menatapnya dengan kesal, “Aku begini ada alasannya.”

“Apa alasanmu? Dan siapa wanita yang mengangkat telepon dari Miki tadi? Kau tau, karena kau Miki jadi bertingkah aneh beberapa hari ini. Jangan menambah beban pikiranku!”

“Arina, tenanglah.” kata Yamada yang berada di sampingnya sejak tadi. Arina meliriknya tajam, namun Yamada hanya tersenyum. Berharap pacarnya bisa tenang.

Chinen menunduk, “Maaf..”

Arina mencibir, “Sekarang, jelaskan semuanya padaku apa yang terjadi. Terutama siapa wanita itu.”

Chinen mengangkat kepalanya, melihat Arina yang aura dinginnya sedikit menghilang. Ia menelan ludah, “Jadi, begini. Saat aku dan Miki ke pantai waktu itu…..”

Sementara di dalam rumah, Miharu, Inoo, Sora dan Takaki bingung harus menghadapi Miki seperti apa. Masalahnya, Miki adalah gadis yang paling sulit untuk dibujuk, pikirannya selalu dihantui oleh pikiran negatifnya sendiri.

“Bagaimana ini?” tanya Sora.

“Biar aku yang coba membujuknya. Sora-nee dan Takaki-san makan saja dulu. Ari-nee pasti sudah menyiapkan makanan kan?” kata Miharu, “Kau juga makanlah dulu, Kei.”

“Tapi..” Sora gelisah. Seharusnya Miki dibuat senang selama liburan ini, tapi malah patah hati begini.

“Sora-nee, dia kan masih tidak tau kalau kalian sudah disini, jadi biar aku saja ya..”

Sora akhirnya mengangguk, “Baiklah.” Dia bersama Takaki dan Inoo berjalan menuju dapur, sementara Miharu menaiki tangga menuju kamar Miki dan Arina.

“Miki, buka pintunya!” teriak Miharu sambil menggedor pintu dan memutar kenop pintunya. Miki hanya melihat ke arah pintu, matanya sudah sembab karena menangis.

Gadis itu melipat kakinya di depan dada dan memeluknya, airmatanya masih deras mengalir.

“Miki, makan dulu! Jangan mengurung diri seperti ini, nanti kau sakit!”

Suara Miharu masih memanggil-manggil dirinya, tapi Miki tidak peduli. Perutnya sedari tadi sudah berbunyi, tapi dia sama sekali tidak ingin mengisi perutnya. Ia juga tidak bisa keluar dengan penampilan seperti ini. Dia sebenarnya merasa bodoh menangis, tapi hatinya terlanjur sakit.

Sejak awal diajak liburan, ia sudah membayangkan hal-hal yang indah. Menikmati pantai bersama Chinen, makan malam bersama Chinen, jalan-jalan bersama Chinen dan segala hal bersama Chinen, sang kekasih. Tapi sekarang….. dia ada di kamar, mengunci diri dan menangis karena Chinen malah asyik menghabiskan waktu bersama wanita lain. Bukan dengan Miki.

Dan yang paling membuatnya kesal, kenapa harus di dekat hari ulang tahunnya? Kenapa bukan di hari lain saja? Oke, Miki tidak pernah berharap kalau Chinen selingkuh, tapi tidak bisakah membuat hari-hari menjelang hari ulang tahunnya itu indah? Miki tidak mengerti kenapa hal buruk ini harus terjadi.

Miharu kembali ke ruang makan, semua melihat ke arahnya. Termasuk Chinen, Arina dan Yamada yang sudah ada di sana. Miharu mengedarkan pandangannya lalu menggeleng.

“Sudah kuduga..” kata Chinen, “Biar aku saja yang-”

Arina memotong ucapan Chinen, “Tidak. Yang ada kau akan memperkeruh suasana.”

“Ah, begini saja.” ucap Yamada, “Miharu, kau masuk ke kamar Miki sambil membawa makan malamnya.”

Miharu dan yang lain menatap Yamada bingung, “Tapi kan pintunya dikunci dari dalam.”

“Maksudku, masuk dengan kunci lain. Setiap pintu disini punya kunci duplikat, hehe…” Yamada menggaruk kepalanya tidak gatal. Miharu pun mengangguk dan langsung menyiapkan makan malam untuk Miki.

“Tapi kau juga harus makan dulu.” kata Inoo saat Miharu sudah mau mengantar makanan Miki.

Miharu menatapnya lalu menghela napas, “Baiklah.” Miharu duduk di samping Inoo.

Ketika makan malam tiba semuanya menjadi serba canggung. Miki sama sekali tidak mau keluar kamar.Miharu mengantarkan makanan Miki ke dalam kamarnya, membuat gadis itu mau tidak mau menerima kedatangan Miharu ke kamar itu.

“Mau coba bicara dengan Chinen?” tanya Miharu saat menunggui Miki makan, karena gadis itu pasti tidak akan makan jika ditinggalkan begitu saja.

Miki menggeleng, “Tidak perlu. Aku ingin kembali ke Tokyo saja, nee…”

“Tapi kita masih akan disini hingga akhir minggu, dan harusnya kita bersenang-senang, kan? bagaimana kalau besok kita berangkat main saja?!” usul Miharu, “Sora-nee dan Takaki-san juga sudah sampai tadi sore,”

Miki menatap Miharu lama, “Uhmmm.. harus ikut kah?”

“Tentu saja, semuanya ikut…”

Berarti termasuk Chinen.. Entahlah… Miki bahkan tidak nafsu untuk melihat Chinen.

***

Hari ini Yamada sudah bebas tugas, meeting-nya beres dan akhirnya dia bisa ‘kencan’ dengan Arina.

“Ricchan sayang,” Yamada membuka pintu tanpa aba-aba dan Arina yang sedang berusaha mengancingkan baju terusannya langsung berguling ke kasur menutupi tubuhnya.

“Ryo!! aku lagi ganti baju!” hardik Arina.

Yamada tersenyum jahil, “Ayolah.. tidak seperti aku belum pernah melihatmu-” kata kata Yamada terpotong karena lemparan bantal yang tepat menghantam mukanya.

“Hari ini kita berangkat main berdelapan ya..” ucap Arina setelah berhasil menutup bajunya dengan sempurna.

“Ugh.. aku ingin berduaan.. Tapi, baiklah.. Terserah saja..” Yamada menarik tangan Arina keluar dari kamar, dilihatnya ketiga pasangan lain yang sudah ada di ruang tengah.

Kondisinya kacau. Semuanya terlihat canggung sekali.

“Takaki, kau bawa mobilku yang hitam, aku bawa yang merah,” ucap Yamada sambil menyerahkan kuncinya pada Yuya.

Sudah diputuskan Yamada, Arina, Chinen dan Miki akan satu mobil, sementara dua pasangan lain di mobil satunya.

“Bolehkah aku sama Miharu-nee saja?” Miki mendekat ke Miharu sementara Chinen tidak bisa berbuat apapun.

“Sudah begini saja.. cowok di mobil Yamada, cewek di mobil Arina.. biar aku yang bawa mobilnya!” kata Sora mengambil kunci di tangan Yuya.

Let’s gooooo!!” seru Inoo lalu menggandeng Miharu ke depan.

Arina komat kamit dalam hati, semoga tidak ada peristiwa aneh-aneh hari ini. Kalau Chinen macam-macam lagi, dia sudah siap naik pitam.

Yamada menghela napas untuk kesekian kalinya saat dia melihat para cewek sudah berjalan masuk kedalam mobil satunya. Takaki mendekati pria itu dengan kebingungan. Namun Yamada langsung menyodorkan kunci mobilnya pada Takaki.

“Ini, tolong kau saja yang menyetir,” kata Yamada.

“Kenapa kau?” tanya Yuya.

“Kenapa susah sekali untuk bisa berdua saja dengan Ricchan… Percuma saja liburan kalau begini ceritanya,” keluh Yamada sambil berjalan lemas ke mobilnya.

Inoo tertawa mendengar keluhan pria itu, Takaki tersenyum geli, namun Chinen menampilkan wajah bersalah pada Yamada.

“Mau gimana lagi, tujuan dia mau menerima ajakan liburanmu adalah untuk surprise ulang tahun Miki!” kata Inoo.

Gomen ne, Ryosuke-kun.. andai saja kemarin aku mengikuti jadwal dengan benar, mungkin Miki tidak akan marah dan kau jadi punya waktu dengan Arina,” seru Chinen dengan masih merasa bersalah.

“Sudahlah… Ayo kita pergi saja. Ayo kita nikmati hari ini, waktu liburan kita tinggal hari ini dan besok, lusa kita sudah pulang, bukan?” kata Takaki menyemangati para pria itu. Takaki lalu menjalankan mobil itu menyusul mobil para cewek yg sudah melaju terlebih dahulu.

***

“Miki? Kau baik-baik saja?” tanya Miharu yang duduk di kursi penumpang disamping Sora yang sedang mengemudi.

Sedari tadi Miki hanya melamun sambil memandang keluar jendela.

“Tidak apa-apa nee, aku baik.” seru Miki pelan.

“Kau terlihat tidak menikmatinya, masih bertengkar dengan Chinen?” tanya Sora.

“Begitulah… aku sedang tidak ingin membicarakannya.” kata Miki lagi.

Arina, Miharu, dan Sora saling bertukar pandangan dalam diam. Miki dan Chinen harus ditenangkan, atau surprise party nanti malam akan berantakan.

“Ah sudahlah. Lupakan sejenak para pengacau itu. Sebaiknya kita nikmati saja hari ini, lusa juga kita akan pulang ke Tokyo,” kata Arina mencoba menenangkan Miki.

“Pengacau? Terjadi sesuatu lagi dengan nee dan Yamada-kun?” tanya Miharu sambil nyengir.

“Kau tau? Si chibi hentai itu tiba-tiba masuk ke kamarku saat aku belum selesai ganti baju. Dia mikir apa sih masuk ke kamar wanita seenaknya begitu?” cecar gadis itu.

Miharu dan Sora tertawa kencang bersamaan. Miki sedikit mengalihkan pandangannya ke Arina yang menggerutu saat itu.

“Maklum saja nee, sejak sampai disini belum sekalipun kalian menghabiskan waktu berdua. Nee juga tidak mau sekamar dengannya.” kata Miharu lagi sambil nyengir jahil.

Arina memelototi Miharu dari kaca depan mobil. “Sekamar? Dengan psikopat hentai kayak dia???? kalau sampai kami sekamar aku tidak tau akan jadi apa aku saat kembali ke Tokyo nanti,” Arina menggeleng ngeri.

Mendengar hal itu Miki tersenyum geli menanggapinya. Sora melihat iti dari sesekali melirik ke kaca depan dan ikut tersenyum.

“Syukurlah, kau sudah tersenyum lagi Miki,” kata Sora.

Miki memandang ke Sora dan tersenyum tipis, “Arigatou, Sora-nee.” seru Miki pelan.

Setibanya ke tempat tujuan, mereka semua berkumpul. Suasana kembali canggung. Miki yang terus saja menempel pada Miharu membuat Inoo sedikit kesal, tapi dia diam saja karena tahu dengan situasi yang tidak nyaman itu. Yamada melirik Arina, gadis itu menatapnya ngeri, berbeda dengan Takaki dan Sora yang tenang-tenang saja. Sementara Chinen begitu berharap Miki melihat ke arahnya.

Lama dalam suasana hening, Inoo menarik tangan Miharu yang bebas, “Ayo!”

“Eh?” Miharu melihat Inoo dengan wajah kaget, “Kemana?”

“Tentu saja bersenang-senang!”

Miharu melirik tangannya sebelah yang dipeluk Miki, “Tapi, Kei..”

“Aku tidak mau tau, kemarin kau sudah janji.” Dia kembali menarik tangan Miharu sampai pegang Miki pada tangan gadis itu terlepas, “Semuanya, kami duluan ya!”

Inoo langsung merangkul Miharu yang terus menatap Miki, tak rela meninggalkan gadis yang sudah dianggapnya seperti adiknya itu sendiri. “Ah, sebelum hari gelap kita harus sudah kembali disini. Oke?”

Yang lain hanya melihat sepasang kekasih itu pergi menjauh. Arina menelan ludah. Miki menghela napas.

“Sora..” panggil Takaki. Dengan gerakan mata, gadis itu mengangguk paham dan pergi mengikuti pria itu meninggalkan dua pasang kekasih lainnya setelah beradu pandang dengan mereka.

Yamada mendekati Arina, “Ayo, biarkan mereka berdua..” bisik Yamada. Arina melirik Yamada sebentar, benar juga yang Yamada bilang. Arina kemudian menghela napas dan mengangguk.

“Chinen, tolong jaga Miki ya.” ucap Arina kemudian berlalu bersama Yamada yang mencoba menggandengnya tapi Arina mengelak. Lumayan membuat orang yang melihatnya tertawa, tapi tidak untuk Miki dan Chinen saat ini.

“Miki…” panggil Chinen dengan hati-hati, Miki hanya melihat dengan wajah datar, “Maaf kalau aku membuatmu marah. Aku… aku tidak bermaksud begitu.”

Miki memutar bola matanya, “Ck, alasan saja..”

“Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak tau kenapa kau marah, tapi kumohon.. jangan seperti ini terus.” Chinen meraih tangan Miki, Miki membelalak.

“Lepaskan!” Miki menarik tangannya, namun tenaga Chinen lebih kuat, “Kubilang, lepas!”

“Tidak! Aku—”

“Yuri-kun?”

Chinen menoleh saat dia merasa ada yang memanggilnya. Matanya mendapati Mimori melihat ke arahnya. Miki yang juga melihat ke arah wanita itu semakin kesal. Dia menghempaskan tangan Chinen dan kemudian berlari.

“Miki! Tunggu! Jangan pergi!” teriak Chinen mencoba mengejarnya, tapi Miki semakin berlari meninggalkannya.

Miki terus berlari sekencang yang ia bisa tanpa menoleh ke belakang. Dia tidak peduli lagi dengan penjelasan Chinen. Semua kenangannya dengan Chinen tiba-tiba berhamburan di dalam kepalanya, bagaikan cuplikan cuplikan film romantis, sayangnya kini potongan adegan adegan itu malah menyakiti dirinya, kenyataan bahwa Chinen dan dirinya mungkin tidak bisa lagi mengulang masa-masa indah mereka.

Chinen bodoh! Chinen bodoh! rutuk Miki dalam hati, tangisnya pun tak bisa lagi ia bendung. Ia berhenti ketika melihat pemandangan laut di kejauhan,hanya melihat sekilas lalu ia menunduk, terisak keras tak peduli ada yang melihatnya.

Saat Miki perlahan tangisnya berkurang, ia menoleh ke kanan dan kiri, lalu sadarvia tersasar, dan saat merogoh sakunya, satu kesalahan fatal lagi, ponselnya tertinggal di meja restoran tadi.

***

“Hah? apa maksudmu?!!” Sora yang sedang menikmati es krimnya hampir tersedak.

“Aku sudah mencari kemana-mana.. Belum ada tanda-tanda dirinya!!” seru Chinen di ujung telepon sana.

Chinen menelepon Sora karena hanya Sora yang saat ini kemungkinan besar tidak begitu marah padanya, berbeda dengan Miharu atau Arina.

“Ugh.. Ya sudah aku dan Yuyan akan ke daerah selatan, iya… Kau cari di daerah sana dulu!” Sora beranjak setelah menutup ponselnya.

“Ada apa?” Yuya menatap Sora lalu mematikan rokoknya di asbak, “Miki atau Chinen?” tebaknya.

“Miki menghilang dan meninggalkan ponselnya… jadi….” Sora menatap Yuya.

“Kita harus mencarinya?” tanya Yuya yang dijawab anggukan oleh Sora.

“Lebih baik jangan bilang siapa-siapa dulu.. takutnya.. Ricchan marah lagi..” ucapnya sambil berjalan ke parkiran. Kebetulan tadi mereka memakai mobil milik Yamada.

“Jika dalam satu jam Miki tidak ketemu, kupikir yang lain harus diberi tau,” Kini Yuya dan Sora sudah menyusuri jalanan Okinawa untuk mencari Miki.

Satu jam sudah, dan Miki belum juga kelihatan, apalagi Chinen mengabarkan bahwa dia juga belum menemukan Miki. Sora akhirnya memutuskan untuk memberitahu Arina dan Miharu lewat pesan singkat.

“Pasti Ricchan telepon sebentar lagi,” kata Yuya.

Dan beberapa detik kemudian ponsel Sora berbunyi.

Sora menatap Yuya dengan ngeri, “Jauh jauh dari kuping,” ucapnya sambil tertawa, Sora mencubit pipi Yuya.

“Ya? Ricchan?”

“Sora nee? Apa yang terjadi? Apa maksudnya Miki menghilang? Kapan? Kalian dimana sekarang? Chinen ada disana? Berikan telpon padanya aku mau bicara! Apa saja yang dilakukan pria itu?? Hei… heh!!”

Takaki tertawa tanpa suara saat Sora memang benar-benar harus menjauhkan telpon dari telinganya, karena Arina langsung mencecarnya dengan berbagai pertanyaan hingga Takaki pun bisa mendengarnya.

Moshimoshi, Sora-san?” sepertinya sambungan disebelah sudah beralih ke seseorang dan Sora yakin itu Yamada, gadis itu kembali mendekatkan ponselnya kembali le telinganya.

“Ricchan, kau diam dulu, biar aku saja yang bicara,” terdengar suara berdebat di seberang sana yang membuat Sora tersenyum.

Moshimoshi, Yamada-kun?” sapa Sora.

“Tolong jelaskan padaku apa yang terjadi?” pinta Yamada dengan suara tenang.

Sora pun menjelaskan apa yang terjadi. Semuanya. Dari panggilan Chinen sejam yang lalu, penjelasan Chinen, hingga meminta tolong pada Yamada untuk membantu mencarinya.

“Baiklah aku mengerti, kami akan mencoba mencari menggunakan mobil,” kata Yamada kemudian.

“Maaf merepotkanmu Yamada-kun, aku akan menghubungi Miharu dan Inoo juga.” kata Sora lagi.

“Kulihat mereka tadi pergi disekitar pantai, mungkin mereka bisa mencari di dekat sana,”

“Terima kasih lagi.. Oh iya, tolong tenangkan Arina yah. Kasihan juga Chinen nanti kalau harus di marahi lagi, dia juga pasti punya penjelasan kenapa bisa ini terjadi” kata Sora.

“Tenang saja, Arina jinak bersamaku,” kata Yamada sambil tertawa, namun Sora mendengar suara bantahan Arina sepersekian detik kemudian, “Kau diam saja disana atau mau ku cium disini sekarang!” dan kali ini terdengar suara ancaman dari Yamada.

“Baiklah Sora-san, ku tutup dulu ya, jangan lupa kabari jika sudah mendapat kabar.” kata Yamada lagi sebelum mengakhiri sambungan.

Sora lalu kembali memandang kearah Yuya dan mengangguk. Dilihatnya Yuya juga baru saja mengakhiri panggilan dari ponselnya.

“Siapa?” tanya Sora.

“Kei. Mereka juga sudah mulai mencari,” katanya.

Sora mengangguk. Mereka juga mulai mencari lagi di sekitar sambil berdoa semoga Miki tidak kenapa-kenapa.

***

Miki berjalan menuju sebuah rumah makan, tempat terdekat yang dijumpainya. Barangkali mereka memiliki telpon umum yang bisa dipinjamnya.

“Selamat datang, untuk berapa orang?” sapa salah satu pelayan disana saat Miki masuk.

Miki terdiam sesat saat melihat pelayan yang menyapanya saat itu. Dia. Dia wanita yang tadi ditemuinya bersama Chinen. Berarti….

Miki memandang sekeliling dan mencari sosok pria itu disana, tetapi nihil. Dia tidak mendapati sosok Chinen disana. Apa maksudnya ini?

“Anoo… apa kau temannya Yuri kun?” tanya pelayan itu lagi pada Miki.

Sial. Dia ingat! keluh Miki dalam hati.

“Ah, aku pergi saja…” kata Miki sambil tersenyum tipis dan berbalik.

“Tunggu!” tahan wanita itu, Miki pun menghentikan langkahnya dan berbalik, “Ayo masuk saja dulu. Kulihat kau sedikit kelelahan. Aku juga ingin mengobrol denganmu.” kata wania itu sambil tersenyum lembut.

Miki menimbang-nimbang sesaat. Dia tidak kenal daerah ini, dan sepertinya dia berjalan terlalu jauh dari tempat berkumpul yang dikatakan Takaki. Dia juga butuh untu meminjam telpon. Akhirnya Miki menyerah dan mengangguk. Gadis itu mempersilahkannya duduk disalah satu meja sambil menghidangkan segelas Teh dingin di atas meja. Gadis itu kemudian duduk di kursi dihadapan Miki.

***

Chinen sudah berulang kali berkeliling, namun tidak mendapatkan hasil apa-apa. Dia mulai menyerah dan kembali menelepon Sora.

“Apa? Kau sudah menemukan Miki?” tanya Sora langsung tanpa basa-basi.

“Belum, aku belum menemukannya.” kata Chinen putus asa, “Aku sudah mencari ke seluruh tempat, aku harus cari kemana lagi?”

“Bagaimana dengan yang lain? Apa mereka sudah menemukannya? Kami disini juga sama sekali tidak melihatnya.”

Chinen menggeleng, padahal Sora tidak bisa melihat gelengannya itu, “Aku belum bertanya pada mereka.”

“Kenapa?” tanya Sora lagi, “Yuyan, mereka ada memberi kabar?” Chinen bisa mendengar percakapan mereka.

“Belum, tidak ada yang menelepon.”

Helaan napas panjang terdengar ke telinga Chinen, “Belum ada yang menemukannya dan hari sudah mulai gelap. Apa kita kembali ke tempat kita berpisah tadi saja?”

“Baiklah.”

“Nah, kau telepon Miharu, aku telepon Ricchan.” Sambungan pun terputus.

Chinen mencari nomor Miharu. Saat dia menemukannya, dia menahan napas. Takut kalau gadis itu membentaknya. Dia pun memutuskan untuk menelepon pacar gadis itu, Inoo. Belum dia menekan tombol panggil, handphone-nya berdering.

“Inoo-kun?”

“Kami menemukannya! Kami melihat Miki!”

Mata Chinen membesar, “Dimana?” tanyanya dengan tidak sabaran.

“Di rumah makan tidak jauh dari pantai. Cepatlah kemari, Miharu sudah menelepon yang lainnya juga.”

“Oke, aku akan segera ke sana.”

Chinen menutup telepon itu dan segera berlari menuju tempat yang dibilang Inoo.

***

“Aduh, mereka lama sekali.” gerutu Miharu yang sedang duduk di sebuah meja di pojok dengan Inoo, dari sana mereka bisa melihat Miki dengan jelas, “Lagian kenapa bukan kita sih yang ke dekat Miki?”

“Sudah, tenanglah. Ini urusan Miki dengan Chinen. Biar mereka yang menyelesaikannya.”

Miharu menaikkan alisnya sebelah, “Tumben bijak.”

“Maksudnya?”

“Biasanya kau itu hentai! Suka maksa, gombal, pl—ukh!!!” Ucapan Miharu terhenti saat tangan lentik Inoo mencubit pipinya.

Inoo tersenyum lembut, “Diam dan pantau saja Miki. Kalau cerewet lagi, bibirmu akan menerima hukuman.”

“Aku melihatnya kok!” Miharu mengelus pipinya saat Inoo melepaskan cubitannya, “Lagian apa salahku sampai dihukum?”

“Karena—”

“Miharu, Inoo-kun! Kalian sudah lama disini?” Chinen terengah-engah karena capek berlari.

Miharu segera mengangguk, “Tapi.. kita gak berani mendekat. Soalnya dia kayaknya lagi serius bicara dengan wanita itu,” tunjuk Miharu dan barulah Chinen sadar dia berada dimana.

“Aduh! Sial!” keluh Chinen.

***

Mimori adalah wanita yang sangat lembut dan cantik. Sejak tadi Miki memperhatikan wajah Mimori yang melayani dirinya.

“Kau menunggu Yuri-kun?” tanyanya. Dengan senyum manis dan menawan. Ugh.. Miki kesal karena walaupun wanita ini yang ia curigai sebagai selingkuhan Chinen, tapi rasanya Miki tidak bisa membencinya.

Akhirnya Miki menggeleng sebagai jawaban pertanyaan Mimori.

“Ngomong-ngomong, namaku Fuchigami Mimori,” ucapnya.

“Uhm.. Miki desu,” jawabnya, “Anooo.. Fuchigami-san kenal sejak kapan dengan Chinen-kun?” Ia sengaja memanggilnya dengan –kun agar kesannya mereka hanya teman.

Mimori tersenyum, “Yuri-kun dulunya adalah murid privatku. Setiap musim panas sejak kecil dia akan datang ke sini, karena kerabatnya kebetulan ada di sini juga. Sejak dia SD sepertinya,” jelas Mimori “Tapi sejak tiga tahun lalu Yuri-kun tidak lagi ke sini. Kerabatnya sudah pindah dan… begitulah…” walaupun tersenyum Miki bisa mendengar nada suara Mimori yang sedih dan kecewa.

Suara pintu restoran terdengar dan Miki melihat Mimori tersenyum ke arah pintu, “Yuri-kun!” sapanya.

Miki pun ikut menoleh dan kaget melihat sosok Chinen yang masuk ke dalam restoran, “Hei, senpai!” Chinen menyapa Mimori namun fokusnya kepada Miki yang masih kaget melihatnya, “Ayo pulang Miki-chan,” tangan Chinen menyambar tangan Miki, “Sekarang!”

“T… tunggu!” kata Miki.

Namun Chinen tidak mendengarkan Miki maupun panggilan dari wanita bernama Mimori itu dan terus menarik Miki keluar dari restoran.

“Yuri, tunggu!” Miki menghentikan langkahnya dan menghempaskan genggaman Chinen di tangannya.

Chinen kaget mendapatkan respon seperti itu. Terlebih lagi saat dilihatnya air mata Miki mulai jatuh mengalir di pipinya.

“Kenapa kau? T-takut? Takut kalau aku tau k-kau pacaran…. dengannya?” suara Miki terdengar bergetar bersamaan dengan kata-katanya.

Chinen terlihat kaget namun buru-buru menggeleng kepalanya dengan kuat.

“Tidak! Bukan seperti itu. Miki, kau salah paham!” kata Chinen.

Pria itu berusaha meraih Miki namun langsung ditepis Miki.

“Salah paham dimana? Kau berbohong padaku! Padahal Yuri dulu pernah berjanji akan selalu jujur padaku, tapi kau berbohong!” kata Miki lagi.

Chinen berusaha meraih Miki namun berkali-kali ditepis kembali oleh gadis itu, “Bukan begitu, aku tidak pernah berbohong padamu. Miki dengarkan dulu!”

“Hentikan! Aku tidak mau dengar!!!” Miki histeris sambil menutup telinganya.

Melihat keadaan semakin memanas, Miharu dan Inoo yang dari tadi mengawasi dari jauh langsung menghampiri keduanya. Miharu langsung merangkul Miki yang terlihat sudah terduduk menangis dan menyembunyikan wajahnya di antara kedua lututnya.

“Miki…” panggil gadis itu.

“Mi-Miharu.. nee” Miki segukan sambil memandang kearah Miharu dan langsung memeluknya.

“Kita pulang saja dan selesaikan dirumah. Tidak enak dilihat orang begini,” kata Inoo sambil menepuk pundak Chinen.

Miharu mengangguk menyetujui usulan kekasihnya dan mulai membawa Miki yang tidak mau lepas darinya.

Chinen memandang kearah Inoo dan memberikan isyarat untuk mengikutinya. Keduanya kembali sejenak kedalam restoran dan terlihat menghampiri gadis yang bernama Mimori tadi yang ternyata sedang melihat mereka dengan tatapan khawatir.

Mereka bertiga tampak berbicara sejenak sebelum akhirnya Inoo dan Chinen keluar dari sana dan menyusul ke tempat Miharu dan Miki yang sudah bersama dengan Sora dan Takaki. Tepat saat itu juga Yamada dan Arina baru saja tiba.

***

Semua terlihat sedang menikmati makan malam di meja makan dalam keheningan kecuali Miharu dan Miki. Sejak tiba dirumah, Miki sama sekali tidak mau melepaskan pegangannya pada Miharu. Sehingga gadis itu memang tidak bisa bebas kemana-mana. Akhirnya Miharu menyerah dan meminta agar makan malam untuk mereka berdua dibawa ke kamar Miki sambil Miharu menenangkannya.

“Jadi bagaimana dengan acara malam ini?” tanya Sora membuka suara .

“Tentu saja jadi. Kalau tidak sia-sia saja kerja keras kita.” kata Inoo.

“Miki bagaimana?” tanya Takaki.

“Miharu akan memastikan akan membawa Miki ke rumah belakang nanti malam,” celetuk Yamada.

“Dia tidak mau mendengar penjelasanku. Tapi akan kupastikan nanti dia akan mendengar semuanya!” kata Chinen dengan yakin.

Semua tampak mengangguk dan memberi sebuah senyuman pada Chinen untuk menguatkan pria itu. Semua kecuali satu orang.

“Arina-chan, kenapa diam saja?” tanya Takaki.

Arina hanya memandang Takaki dalam diam dan lanjut fokus pada makanannya kembali. Yamada memberikan sebuah isyarat dan yang lain mengangguk mengerti.

Makan malam saat itu adalah steak. Dan saat itu mereka semua menggunakan pisau dan garpu. Dan saat itu Arina sedang mengalihkan emosinya pada daging steak didepannya, terlihat dari betapa berantakannya potongan daging di dalam piring itu.

Miharu memandang Miki yang sedang asyik dengan pisau, garpu dan tentu saja steak. Dia memotong steak itu dengan penuh emosi, sementara airmata masih mengalir deras di pipinya.

“Aduh, Miki. Sudah, jangan menangis.” ucap Miharu. Miki malah semakin kencang menggoyangkan pisaunya memotong daging yang ada di depannya, Miharu menelan ludah ngeri.

Miharu tidak punya jalan lain selain diam dan menikmati makan malamnya. Menunggu sampai gadis itu berhenti menangis dan bisa diajak bicara.

Tak lama kemudian, Miki menarik lengan baju Miharu yang membuat gadis yang sedang menyuapi mulutnya itu menoleh padanya. Mereka beradu pandang untuk beberapa saat.

“Ada apa?” tanya Miharu akhirnya.

“Aku mau putus dari Yuri.”

Miharu menaikkan alisnya, “Jangan bercanda!”

“Aku tidak bercanda, Miharu-nee. Dia sudah selingkuh dariku!” kata Miki dengan suara keras, Miharu sedikit tercekat kemudian tertawa sambil menggelengkan kepala.

“Kenapa kau bisa menyimpulkan seperti itu kalau kau saja tidak mendengar penjelasannya?”

Miki hanya bungkam. Benar kata Miharu, dia enggan mendengar keterangan dari Chinen. Melihat wajahnya saja membuat Miki muak, apalagi untuk mendengar suaranya.

Handphone Miharu berdering, Miharu merogohnya dari saku celana pendeknya lalu bergerak menjauh dari Miki, “Halo?”

“Kau sudah bisa membujuknya?”

“Memangnya kenapa, Kei?” tanya Miharu sambil berbisik.

“Sudah, ikuti saja instruksiku. Ajak dia untuk ke rumah sebelah, bagaimana pun caranya kau harus bisa membawanya.”

Miharu menyatukan alisnya, “Eh?”

“Ini demi hubungan mereka. Cepatlah, Chinen sudah menunggunya di sana.”

“Oke, oke.” jawab Miharu sambil mengangguk, “Aku usahakan.” Miharu menyimpan ponselnya dan mendekati Miki.

Miki masih mencacah steak itu semakin sadis, meluapkan semua emosinya kesana. Airmatanya sudah kering di pipi halusnya.

“Miki, jalan-jalan yuk.” ajak Miharu. Berharap Miki tidak mencurigainya.

“Hah?” Miki menggerakkan tubuhnya ke arah Miharu, membuat pisau yang dia pegang mengarah ke Miharu. Miharu sedikit mundur dari posisinya, “Kemana?”

“Berkeliling di villa ini, kau kan belum pernah melihat seluruh bagian dari villa ini.”

“Aku sedang malas. Miharu-nee pergi dengan Inoo-san saja ya?”

Miharu menaikkan alisnya kemudian mencubit pipi Miki geram, “Kau yang butuh hiburan, kenapa malah aku yang pergi, huh?”

“Kyaa!! Sakit!!” teriaknya sambil memegang tangan Miharu yang mencubit pipinya, “Kalau Miharu-nee terus mencubitku, aku tidak mau dekat Miharu-nee lagi!”

“Aku tidak peduli!” Miharu semakin mencubit pipi Miki dan menambah cubitan di pipi sebelahnya.

“Ampun, Miharu-nee!!” Miki meronta, “Baiklah, aku akan pergi! Sakiiiiiit!!”

Miharu tersenyum penuh kemenangan, “Nah gitu dong!” Miki masih meringis sambil mengelus pipinya yang mungkin sedikit bengkak karena cubitan Miharu yang terlalu keras itu, “Hari sudah gelap sih, tapi kita masih bisa melihatnya dengan jelas. Jangan takut.”

“Maksud nee?”

Miharu hanya tersenyum penuh arti, Miki menaikkan alis bingung. Sepertinya ke-random-an Inoo Kei sudah menular pada kekasihnya. Mau tak mau dia pun pergi bersama Miharu menelusuri villa itu setelah Miharu dengan paksa menyuap mulut Miki dengan steak yang sudah tidak keruan bentuknya.

Miki meraih tangan Miharu karena hampir saja tersandung. Lagipula malam-malam begini apa yang mau dilihat? Miki jadi bingung dibuatnya.

“Pelan-pelan, nee..” ucap Miki.

“Sebentar lagi sampai,” kata Miharu.

Miki rasanya belum pernah ke daerah rumag sebelah belakang ini. Suasananya sangat gelap, Miki berasumsi itu adalah gudang villa mewah ini.

Nee.. udahan saja yuk. aku takut,” Miki menarik-narik ujung baju Miharu namun sama sekali tak digubris.

“Sekarang buka pintunya,” Miharu menunjuk kenop pintu gudang.

“Eh? Nee.. Ngapain sih? Balik ke rumah aja yuuuk….” Miki masih berusaha menghindar.

“Sebentar saja, please.. oke? oke?”

Dengan takut-takut Miki memutar kenop pintu dan mendorong sedikit demi sedikit pintu itu hingga terbuka.

“Miki-chan, Otanjoubi Omedeteooouuu!!” dan betapa kagetnya Miki melihat ruangan menjadi terang, seluruh ruangan berhiaskan atribut pesta dengan tulisan besar-besar MIKI-CHAN HAPPY BIRTHDAY berwarna biru.

Kue tart besar ada di tangan Chinen Yuri.

Kekasihnya, oops.. mantan? Eh.. Apa ini maksudnya?

Mata Miki berhenti pada sosok Mimori yang juga duduk di antara teman-temannya.

“Ngapain dia di sini?” wajah Miki seketika berubah marah, “Keterlaluan! mau buat momen ini sebagai tanda kita putus?!” ia berteriak pada Chinen dan sebelum pemuda itu sempat bereaksi, Miki berbalik keluar dari ruangan. Sudh cukup. Malam ini Miki sudah putuskan akan pulang saja. Entah bagaimana caranya tapi ia akan pulang malam ini. Air matanya mengalir deras.

“MIKI!! Sebentar!!” Miki kaget ketika sebuah tangan meraih tangannya, Sora ternyata.

“Kumohon sebentar… dengarkan aku. Kamu tidak boleh begitu, harusnya dengarkan dulu penjelasannya baru boleh bereaksi,” kata Sora dan Miki memeluk neechannya itu sambil sesenggukan, “Mau ya? ada yang mau berbicara denganmu dan kali ini, Miki harus janji mendengarkan dan tidak boleh kabur,”

Walaupun enggan namun akhirnya Miki mengangguk dan ternyata di belakang Sora ada Mimori.

“Tapi neechan temani aku,” ucapnya pada Sora, dan Sora pun mengiyakan.

“Miki-chan.. maafkan aku sebelumnya kalau kedatanganku membuatmu tidak nyaman.. Tapi.. Bisa kita duduk dulu?” Mimori menunjuk sebuah kursi taman dan ketiganya duduk di situ.

“Chinen memang pernah suka padaku, tepatnya tiga tahun lalu seperti yg aku ceritakan ia sering main ke sini.. awalnya aku tidak pernah menyadari perasaan Yuri-kun, aku sudah menganggapnya adikku sendiri, lalu sampai pada tiga tahun yang lalu, Yuri-kun menyatakan cintanya padaku. Tapi, aku menolaknya dan kubilang padanya aku hanya menganggapnya sebagai adikku saja. Belakangan ketika aku bertemu lagi dengannya, aku bercerita bahwa aku akan menikah dan Yuri-kun bersedia untuk membantuku dalam beberapa hal dalam persiapan pernikahanku,”

Miki yang hampir protes lalu terdiam, ia tau benar kekasihnya yang baik pada semua orang itu, yang pasti bersedia membantu kakaknya, dan Miki tiba-tiba merasa bersalah.

“Yuri-kun tidak bercerita soal ia kesini dengan pacarnya, aku memang sedang repot dengan persiapan dan mengelola restoran sehingga Yuri-kun bersedia membantuku. Tapi aku jadi merasa bersalah karena mengganggu liburannya denganmu,” ucap Mimori penuh penyesalan, “Aku harap kamu mau memaafkan Yuri-kun, ini semua salahku..”

Miki tiba-tiba ingin menangis. Coba saja kalau dia mau mendengarkan apa yang Chinen utarakan dan tidak membuat kesimpulan sendiri.

“Perjalanan ini juga ide Chinen loh Miki,” sambung Sora, “Ia bersusah payah membuat semua persiapan ulang tahunmu disini. Sekarang lebih baik kamu bicara dengannya.”

Ketika Miki menoleh, Chinen, Takaki, Inoo, Miharu, Yamada dan Arina sudah berdiri dengan membawa kue dan setelahnya nyanyian selamat ulang tahun pun bergema.

“Miki-chan, maafkan aku ya…” Miki berdiri ketika Chinen menghampirinya dengan sebuah kue ulang tahun, “Selamat Ulang Tahun, Miki-chan…”

Alih-alih meniup lilin, Miki menghambur ke pelukan Chinen, “Gomeeen, uhuhuhu.. maafkan akuuu…” untung saja kue ulang tahunnya sempat diselamatkan oleh Inoo.

“Cieee.. Baikan, cieee..” goda Yamada yang disambut sikutan dari Arina.

“Bagaimana kalau kita kembali ke ruangan dan pestaaaa!!” seru Takaki yang disambut teriakan setuju dari yang lain.

Minna.. Arigatou…” ucap Miki sebelum akhirnya mereka kembali ke dalam ruangan, melanjutkan pesta yang tertunda.

***

Inoo dan Miharu tertidur dengan posisi Miharu dipeluk oleh Inoo, di sofa. Sementara Yuya dan Sora menghilang dari ruangan. Yamada dan Arina tidur bersebelahan di karpet, dan ruangan yang sudah terlihat seperti kapal pecah. Itulah pemandangan yang menyambut Miki pada pagi harinya. Sedangkan Mimori sudah pamit semalam.

Rasanya ia masih ngantuk, mereka baru tidur menjelang subuh setelah bermain Truth or Dare dan Jenga hingga kelelahan.

“Yuri,” Miki melihat Chinen ada di balkon luar, ia segera menghampiri pemuda itu, “Ohayou,” Miki menyodorkan sebotol air mineral.

Ohayou.. pemandangan di sini indah sekali ya…” memang baru saja matahari terbit dan membuat pemandangan laut menjadi lebih indah.

“Soal kemarin.. aku..” belum sempat Miki meneruskan, bibir Chinen sudah melumat bibir Miki membuat gadis itu kehilangan kata-kata. Chinen menarik pinggang Miki mendekat sementara bibirnya terus saja bermain-main di atas bibir Miki, menyesapnya seolah-olah Chinen sangat merindukannya.

“Lain kali jangan ngambek terus ya, aku hampir diancam dibunuh oleh Ricchan, hehehe..”

“Enak saja!! Siapa yang mengancam?!” suara Arina menyahut membuat Chinen dan Miki kaget, dan melihat keenam temannya ternyata sedang memperhatikan mereka, bahkan Takaki Yuya kini bersuit-suit heboh.

“Ayo sarapan.. tadi aku dan Yuya ke rumah depan untuk ambil sarapan,” ucap Sora.

“Dari semalem kali ke rumah depannya,” kata Yamada menyahut, “Kayak kita ga tau aja.. ahahaha giliran kita yuk, Ricchan…”

Arina mendelik ke arah Yamada dan menjauhkan wajah Yamada dari wajahnya, “You Wish!” ucapnya galak, disambut gelak tawa semua orang.

THE END

~OMAKE~

Semua sudah selesai sarapan dan kembali ke rumah utama. Karena ini hari terakhir, Yamada menelpon pengurus villa untu bersih-bersih, terutama di rumah bekas pesta tadi malam.

Sora dan Arina baru selesai cuci piring, sementara Miharu dan Miki sedang di ruang tengah, duduk berangkulan dengan pacar masing-masing.

Namun tidak di salah satu sofa dimana Takaki baru saja menyalakan satu batang rokoknya sambil mengecek ponselnya. Disampingnya Yamada terlihat duduk diam dengan pandangan mata yg tidak lepas dari Arina dan Sora yang masih mengobrol dekat meja pantry dapur.

Ne, Yuri.. hari ini jalan kemana?” tanya Miki memeluk manja kekasihnya itu.

“Terserah Miki saja. Aku oke kemana saja,” jawab Yuri sambil mengelus sayang kekasihnya itu.

“Hari ini beli oleh-oleh saja, lalu jalan dibsekitar pantai,” usul Miharu.

“Boleh, ide yang bagus.” kata Inoo.

Takaki yang merasakan aura tidak enak disampingnya, langsung memandang kearah Yamada.

“Kau kenapa dari tadi diam saja?” tanya pria itu.

“Uuggghhh… Aku sudah tidak sabar,” kata Yamada yang tiba-tiba saja bangkit dari kursinya. “Gomen na, minna… Rencana hari ini kita tunda dulu sementara,” katanya lagi.

Lima pasang mata itu hanya melihat keheranan saat Yamada tiba-tiba berjalan dengan cepat menghampiri Sora dan Arina yang masih ngobrol di dapur.

“Ryo…chan?” desis Arina.

Gomen, karena ini hari terakhir aku tidak mau bersabar lagi,” kata pria itu.

Arina menjerit tertahan saat Yamada tiba-tiba saja menggendongnya ala bridal style dan langsung membawanya naik ke tangga.

“Turunkan aku!!! Kau mau ngapain hah?! Hei, Ryosuke!!” Arina mendadak histeris dan berusaha melepaskan diri.

“Jangan bergerak, nanti kita bisa jatuh menggelinding dari sini. Bahaya!” kata Yamada dengan santai.

“Karena itu turunkan aku, bodoh!!” jerit Arina lagi.

“Iya, iya, nanti setelah sampai dikamar!” kata Yamada lagi.

Takaki tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala saat melihat insiden kecil itu. “Bisa juga dia, hahahaha” kata Takaki.

“Sora-nee, itu…. gak apa-apa dibiarin?” tanya Miki hati-hati.

Namun Chinen langsung menepuk pundaknya dan tersenyum menenangkan. Miharu hanya tersenyum geli sambil memandang kearah Inoo yang juga saat itu sedang tertawa geli.

“Ku harap, nanti Arina masih bisa ikut jalan bersama kita,” celetuk Sora sambil menghampiri Takaki.

Semuanya langsung tertawa setelah mendengar Sora. Gadis itu lalu mengambil remote televisi dan menyalakannya, membesarkan volume untuk jaga-jaga mendengar suara-suara yang tidak diinginkan. Mereka semua lalu memfokuskan diri untuk menonton.

~end~

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] Bittersweet Birthday

  1. miki

    Kyaaaaaaa aku terkejut tiba2 di kasih ff O(≧∇≦)OO(≧∇≦)Oヽ(*≧ω≦)ノヽ(*≧ω≦)ノヽ(*≧ω≦)ノ( ^∇^)( ^∇^)( ^∇^)( ^∇^)(^ω^)(/^▽^)/(/^▽^)/(/^▽^)/(/^▽^)/ DEMI APA AKU TERKEJUT DAN AKU SENANG HAHAHAHAHAHA 💙❤❤ LOPELOPE BUAT KALIAN
    ITU APA2AN CHINEN SAMA TANTE2 😤😤😤 TAPI SWEET YAH PESTANYA DI RAYAIN SAMA KALIAN HAHAHHAHA OKEDEH MAKASIH KALIAN AKU BENCI KALIAN (BENAR BENAR CINTA) maaf capslock ini bukti aku terlalu senang
    Pokoknya aku cinta kalian /peluk satu2//cium chinen/ 💋💋💋💋💋

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s