[Oneshot] Daisuki Desu!!!

DAISUKI DESU!!!

Author : yotsubakaito

Genre : romance

Cast : Nagase Ren (Johnny’s Jr) | Sato Nishi (OC) | Nishino Nanase (Nogizaka46)

Disclaimer : All casts belongs to themselves. Author owns the plot.

Note : FF ini terisnpirasi dari lagu daisuki desu-nya Kis-My-Ft2 yang pernah dinyanyikan oleh Ren ^^. Bagi yang sempat membaca ini, terimakasih sudah membacanya ^^.

Di saat teman-temannya sedang membicarakan Nagase Ren, Sato Nishi justru berkutat dengan laporan data klub komputer yang dipimpinnya. Saat musim panas mereka akan mengadakan pelatihan komputer bagi murid-murid yang berminat. Tidak disangka peminatnya cukup banyak.

“Ren itu populer banget ya ~ setiap hari ada saja gadis yang mencarinya. Tadi aku lihat dia ditemui oleh anak kelas 1 di koridor kantin. Menurut kabar, anak itu paling cantik di kelasnya. Ren hebat bisa membuatnya jatuh cinta.”

Nishi tetap sibuk dengan urusannya sendiri meski Iriyama Shuuka berceloteh panjang lebar.

“Ren memang hebat,” teman Nishi yang berkacamata bernama Tamaki Miku ikut menyahut. “Tapi Nishi adalah cewek yang kuat. Memiliki pacar yang populer seperti Ren tentu saja membuat hati cemburu setiap hari. Tapi Nishi tidak pernah terganggu sama sekali.”

Sato Nishi sang ketua klub komputer adalah kekasih Nagase Ren, cowok kelas 2 yang paling populer di SMA Kitagawa.

“Eh itu Ren datang. Sepertinya dia sudah selesai ngobrol dengan anak kelas 1 itu.” ujar Shuuka menoleh ke pintu kelas.

Nishi dan Miku ikut menoleh.

“Ren memang populer, tapi aku ini pacarnya. Aku percaya sepenuhnya pada Ren. Dengan siapapun dia pergi, tetap saja dia akan kembali padaku.” Nishi kembali menatap kedua temannya dengan percaya diri.

Cowok tinggi berlabel Nagase Ren itu berjalan menuju bangku tempat Nishi dan yang lainnya duduk. Dia tersenyum saat tatapannya bertemu tatapan Nishi.

“Menjadi populer itu menyebalkan juga ya. Aku jadi batal ke kantin karena anak kecil itu memanggilku.” Ren mengambil kursi lalu ikut berbaur dengan ketiga gadis itu.

Nishi tersenyum. “Apa dia sudah mengatakannya?”

Ren tampak mengerti. “Ya, dan kau tahu, dia bukan tipeku sama sekali, jadi aku menolaknya.”

“Gadis seperti apa yang menjadi tipe Ren?”

“Pertanyaannya bukan tipe apa. Tapi siapa. Aku cuma suka Nishi, kan?”

Nishi menoleh pada kedua temannya dengan senyum kemenangan. Shuuka dan Miku rasanya ingin meleleh mendengar ucapan Ren barusan. Sekarang mereka percaya kekuatan cinta antara Ren dan Nishi memang terjalin kuat.

Nagase Ren menjadi sangat populer di sekolah setelah masuk klub musik dan membentuk band sekolah bernama Mr. KING bersama Hirano Sho dan Takahashi Kaito yang juga merupakan murid SMA Kitagawa. Mereka kerap muncul di event-event sekolah dan tampil mengagumkan. Mereka bahkan punya basis fans sendiri yang mereka namai Venus. Hampir semua murid perempuan mendaftar jadi anggota. Salah satu gadis yang tidak tertarik menjadi bagian dari itu adalah Sato Nishi, pacar Ren sendiri. Alasannya karena Nishi tidak menyukai keramaian.

Sato Nishi adalah ketua klub komputer yang memiliki pembawaan tenang, tidak seperti gadis-gadis lain yang melakukan segala cara untuk menarik perhatian Ren. Dia bahkan tidak melakukan apapun hingga mereka pacaran setahun yang lalu.

Nishi tidak terlalu mempermasalahkan kepribadian mereka yang bertolak belakang. Mereka bebas melakukan apa saja yang mereka suka selama tidak menyakiti salah satu pihak. Nishi tidak akan cemburu jika Ren mendapat pernyataan cinta dari gadis lain. Itu karena dia percaya pada komitmen yang mereka buat.

***

Musim panas akhirnya tiba. Nishi disibukkan dengan kelas komputer yang dibuatnya, sementara Ren juga latihan dengan band-nya. Mereka akan tampil di festival musim panas nanti. Tapi saat hari menjelang sore, mereka akan pulang bersama dan saling berdebat tentang makanan apa yang harus mereka makan untuk makan malam. Hari ini Nishi sangat ingin makan ayam goreng, sementara Ren ingin makan ramen saja. Sebuah perdebatan kecil disertai jankenpon akhirnya dimenangkan oleh Ren yang tersenyum puas melihat Nishi menekuk bibirnya.

“Nishi lucu deh. Kalau makan ramen kadar lucunya nambah. Yuk!”

Nishi mengikut saja saat Ren menariknya ke sebuah kedai ramen di sekitar Yoyogi Park. Makan makanan apapun, asal makannya dengan Ren pasti jadi enak, pikir Nishi.

“Kita sudah berapa kali ya ke tempat ini?” tanya Ren ketika mereka sudah menemukan tempat di kedai itu. Pelayan baru saja menuliskan pesanan mereka.

Nishi tampak berpikir. “3 kali, kurasa.”

“Baru segitu? Padahal kupikir aku sudah sering mengajak Nishi keluar. Setelah ini kita harus sering-sering pergi bersama.”

“Ren kan juga sibuk dengan KING.”

“Mereka bisa mengerti kok. Sekolah, band dan pacaran bisa jalan bersamaan, kan?”

Nishi terkekeh tanpa menimpali.

“Kalau bagi Nishi, mana yang lebih penting, aku, sekolah, atau klub?”

“Apa harus memilih?”

“Tentu saja.”

“Aku tidak bisa memilih. Tapi jika harus, aku pilih sekolah, klub lalu Ren.”

“Kenapa aku yang terakhir?” Ren menunggu jawaban Nishi dengan jantung berdegup kencang.

“Karena sekolah dan klub tidak bisa memilihku. Akulah yang memilih mereka. Sementara Ren sudah memilihku. Meskipun aku tidak memilih Ren, kita bisa tetap bersama, kan?”

Ren menatap Nishi sambil bertanya dalam hati, apa sebenarnya yang ada dipikiran gadis itu.

“REN!!!”

Merasa dirinya dipanggil, Ren menoleh ke sumber suara, lalu muncullah seorang gadis yang sudah lama tidak ditemuinya.

“Nanase?!”

Gadis itu memiliki postur tubuh yang tinggi seperti model. Style-nya sangat mengagumkan. Tampak sekali dia sangat mengikuti tren mode saat ini. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai. Cantik sekali. Dengan langkah pelan dia mendekati Ren.

“Lama tidak bertemu!” seru Nanase seolah tidak percaya bisa bertemu dengan Ren.

“Aku juga tidak menyangka kita bisa bertemu lagi. Aku pikir kau akan betah tinggal di Amerika.”

“Aku merasa tidak bisa berlama-lama meninggalkan Jepang. Jadi kuputuskan pindah kuliah di sini. Manajemenku juga sudah mengatur agar aku bisa berkarir di sini.”

“Nanase ternyata masih betah jadi model. Pasti sekarang sudah jadi model terkenal.”

“Tidak juga kok.”

Nishi hanya diam mendengarkan obrolan tersebut tanpa berniat menyelanya. Ren-lah yang pertama kali menyadari kesalahannya sudah mengabaikan Nishi.

“Ah, Nanase, kenalkan ini pacarku, Nishi.” Ucap Ren memperkenalkan.

Nanase yang baru menyadari keberadaan Nishi pun tersenyum dan mengulurkan tangan. Nishi melakukan hal yang sama.

“Senang bertemu denganmu, Nishi.”

“Aku juga.”

“Nanase, ikutlah makan bersama kami.” Ajak Ren.

“Waahh… aku baru saja selesai makan. Jadi maaf aku menolak ajakan kalian. Tapi aku akan tinggalkan nomor telepon agar Ren bisa menghubungiku.” Nanase mengeluarkan kartu nama dari dompet dan menyerahkannya pada Ren. “Jya, aku pergi dulu ya.”

Sepeninggal Nanase, Nishi penasaran ingin bertanya, “Temannya Ren, ya?”

“Un, dia juga mantan pacarku.” Jawab Ren tanpa menutupi apapun.

“Hooo… dia cantik banget, ya! Kalian berdua serasi banget, loh!”

Sekali lagi Ren menatap Nishi dengan tatapan tidak percaya, bagaimana bisa dia mengatakan hal seperti itu dengan santainya?

***

“Otsukareeeee!!!”

Jam dinding di ruangan itu menunjuk angka 5. Pelatihan komputer hari ini pun berakhir. Nishi mengucapkan terimakasih kepada peserta dan timnya. Masih ada beberapa hari lagi sebelum mereka menyelesaikan semuanya. Shuuka, Miku dan beberapa teman-teman dari klub komputer ikut membersihkan ruangan lab komputer yang baru saja mereka pakai.

Sambil membersihkan papan tulis, Shuuka menoleh pada Nishi yang memperbaiki letak keyboard. “Ne, Nishi, aku dengar hari ini KING kedatangan tamu. Siapa?”

“Nishino Nanase maksudmu? Dia kan model terkenal dari Amerika. Apa kau tidak mengenalnya?”

“Bagaimana Ren bisa mengenalnya?”

“Mereka pernah pacaran saat Ren SMP lalu putus karena Nanase berangkat ke Amerika untuk debut modelnya.”

“HAH?! Gadis itu mantannya Ren?!” entah sejak kapan Miku memperhatikan obrolan kedua temannya. Sepertinya topik ini sangat menarik baginya.

“Iya, Nanase itu mantannya Ren.” Sahut Nishi santai sambil tetap membersihkan keyboard komputer.

Shuuka dan Miku berpandangan penuh arti.

“Kau tidak cemburu melihat mereka?” tanya Miku dengan ekspresi cemas seolah Ren dan Nanase baru saja mengumumkan mereka akan pacaran kembali.

Seperti prediksi kedua temannya, Nishi menanggapinya dengan senyuman dan tatapan penuh percaya diri seperti biasanya. “Aku percaya pada Ren.”

Bagi Shuuka dan Miku, pikiran Nishi paling sulit untuk dibaca. Isi hatinya pun tidak bisa ditebak. Normalnya, seorang perempuan yang pacarnya kembali dekat dengan mantannya tentu akan bersikap waspada dan protektif pada pacarnya. Alih-alih, Nishi bahkan tidak terlihat seperti pacar Ren. Apapun tentang Ren selalu ditanggapi biasa olehnya.

“Apa kalian sudah selesai? Aku mau pergi melihat KING latihan. Mau ikut?” Ujar Nishi yang sudah menyelesaikan pekerjaannya.

Shuuka dan Miku mengiyakan bersamaan.

Ruangan yang dipakai KING latihan adalah sebuah studio musik yang dibangun khusus untuk klub musik. Letaknya ada di lantai 3, jadi mereka harus menaiki satu anak tangga lagi untuk sampai ke sana. Dari koridor tempat mereka berjalan, terdengar suara tawa anak-anak laki-laki dan suara anak perempuan di antaranya. Nishi masuk lebih dulu ke studio.

“Ah, Nishi, sudah selesai?” tanya Ren. Dia berdiri meninggalkan drum-nya menyusul Nishi.

“Baru saja. Ren gimana?” Nishi balik bertanya lalu tatapannya beralih pada Nanase yang sejak tadi menatapnya. “Terimakasih sudah menemani Ren hari ini.”

Nanase tersenyum tipis. Ada sorot aneh yang terpancar saat melihat Ren dan Nishi berdua di hadapannya.

“Yosh!” sang vokalis, Sho, berdiri lalu melemparkan ide yang baru saja melintas di kepalanya. “Kurasa ini waktu yang tepat untuk merayakan sesuatu.”

Sesuatu?” Kaito, member termuda yang menjadi keyboardist grup penasaran dengan sesuatu yang dimaksud Sho.

“Eh?!” Sho menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Ide itu baru saja datang, tapi saat Kaito menanyakannya, dia sendiri tidak tahu apa maksud ucapannya sendiri. “Eee… sesuatu seperti, bertemunya Ren dan Nanase kembali, atau perayaan sebelum kita tampil 3 hari lagi. Yah, seperti itu!”

“Dasar tidak jelas!” seru Kaito lalu ikut bergabung dengan keenam orang yang lain. “Tapi, kakak Sho, traktir Kaito makanan yang enak ya!”

“Dasar kau ini otak traktiran!” Sho menepuk pelan kepala Kaito sambil tertawa. “Kalian semua harus ikut ya! Tapi bayar sendiri-sendiri dong ehehehehehe.”

“Huuuu… aku pikir Sho akan mentraktir kita semua.” Sahut Shuuka.

“Kalau KING sudah jadi band yang terkenal dan punya banyak uang, aku pasti mentraktir kalian semua.”

“Aku akan mentraktir kalian semua.”

Keenam orang itu serentak menoleh ke arah satu-satunya orang yang tidak mengenakan seragam SMA Kitagawa.

Nanase kembali menegaskan ajakannya. “Biarkan aku mentraktir kalian semua. Karena kalian temannya Ren, anggap saja ini sebagai rasa terimakasih karena telah menjaga Ren selama ini.”

“Nanase baik banget deh. Terimakasih ya~~~” Nishi adalah orang pertama yang mengiyakan ajakan Nanase.

Akhirnya mereka bertujuh pergi ke sebuah restoran yang disarankan oleh Nanase. Karena Nanase yang membayar, jadi dia-lah yang harus memilih tempatnya. Tempat itu adalah restoran kelas menengah yang terletak di Ginza.

Bagi anak sekolah yang baru pertama kali ke restoran seperti ini, keenam murid SMA Kitagawa itu tampak terkesan. Nanase yang sudah menjadi model sejak di Amerika punya banyak uang untuk membayar makanan mereka malam ini. Seorang pelayan berseragam hitam putih mengarahkan mereka ke sebua meja panjang yang bisa diisi 8 orang. Ren duduk di tengah-tengah Nishi dan Nanase, Shuuka dan Miku duduk di depan mereka, sementara dua sisi yang lain diisi Sho dan Kaito yang sudah tidak sabar ingin memesan.

“Pesanlah apapun yang ingin kalian pesan.” Ucap Nanase. Dengan sekali gerakan tangan seorang pelayan menghampiri mereka. Satu persatu akhirnya mulai memesan.

Kemudian setelah itu mereka mulai mengobrol panjang lebar. Dengan cepat Nanase bisa berbaur dengan teman-teman Ren. Tapi saat bertatapan dengan Nishi, tatapannya terasa aneh. Berulang kali dia berusaha mencari perhatian Ren dari Nishi. Shuuka adalah orang pertama yang menyadarinya, kemudian Miku juga merasakan hal yang sama. Nishi sama sekali tidak bereaksi apa-apa. Saat Nanase tidak sengaja menumpahkan air minum dan membasahi bajunya, dia meminta bantuan Ren. Nishi melihat kejadian itu tanpa reaksi sama sekali. Padahal menurut Shuuka dan Miku hal itu sudah sangat tidak wajar.

Ketika selesai makan malam, mereka keluar bersamaan dari restoran. Nanase segera menelpon sopir untuk menjemputnya, namun hingga panggilan keenam tidak ada jawaban.

“Jadi bagaimana?” Ren bertanya dengan nada khawatir.

Nanase menarik napas panjang. “Mau bagaimana lagi, aku harus pulang naik kereta.”

“Eh? Tapi Nanase tidak bisa pulang sendiri naik kereta. Rumahmu jauh sekali dari sini. Biar aku temani.”

Keempat anak lain selain Nishi menahan napas, tidak percaya apa yang baru saja Ren katakan. Dia mau mengantar gadis lain dan mengacuhkan pacarnya sendiri?

“Nishi, aku harus menemani Nanase pulang. Dia punya trauma pulang sendiri dengan kereta. Tidak apa-apa, kan?”

Senyum Nishi rasanya tidak pernah luntur. “Tidak apa-apa. Aku kan bisa pulang dengan yang lain. Kasihan Nanase kalau pulang sendiri. Ren juga hati-hati. Kalau begitu kami pulang dulu. Nanase, terimakasih untuk malam ini. Hati-hati di jalan ya.”

Nishi melambaikan tangan lalu beranjak pergi bersama kedua temannya.

Sho dan Kaito juga ikut pamit. Mereka mengambil arah yang berbeda dengan ketiga gadis itu.

Ren dan Nanase juga meninggalkan restoran menuju stasiun.

Nishi terus berjalan tanpa menyadari tatapan Nanase yang menusuk punggungnya sambil tersenyum penuh kemenangan.

***

Nishi menjatuhkan tubuhnya di atas kasur ketika baru saja masuk ke kamar. Tatapannya menerawang ke langit-langit. Sebenarnya dia tidak suka membahas tentang masalalu Ren dengan Nanase, tapi pernyataan Shuuka saat mereka pulang tadi tiba-tiba saja mengganggunya.

Aku tidak tahu apa yang Nanase pikirkan. Tapi jika tidak hati-hati, bisa saja dia merebut Ren darimu. Mungkin saja kau tetap akan berpegang pada komitmen yang kalian buat, tapi jangan lupa, Nanase pernah menjadi pacar Ren untuk waktu yang lama.”

Nishi menghela napas. “Shuuka itu apa-apaan sih? Kenapa malah dia yang meragukan Ren? Ini Ren loh! Tidak mungkin dia melakukan itu. Dia tidak mungkin memutuskanku dan kembali pada Nanase. Mereka kan sudah lama putus.”

Tubuh Nishi berguling ke kanan. Rasa capek hari ini membuatnya ingin segera tidur dan melupakan semua yang terjadi malam ini. Besok pagi Ren pasti masih jadi pacarnya. Baru beberapa detik memejamkan mata, ponselnya berdering. Dari Ren. Nishi sudah mengatur nada dering khusus untuk pacarnya itu.

“Iya, Ren, ada apa? Apa sudah selesai mengantar Nanase?” Nishi memulai percakapan.

“… Nishi, kenapa kau selalu menanyakan Nanase?”

“Eh? Memangnya ada yang salah?”

“…Nishi, bisakah kau berhenti berpura-pura seperti ini? Aku tidak suka melihatnya.”

“Aku tidak mengerti maksud Ren apa?” Nishi berganti posisi duduk di atas kasur. Dia ingin mendengar ucapan Ren dengan jelas.

“Kau selalu bersikap tidak peduli terhadap perasaanmu sendiri. Tidak pernah cemburu saat aku didekati gadis lain, bahkan tidak marah saat aku mengantar mantan pacarku pulang. Kau ini sebenarnya tidak peduli pada perasaanmu atau memang tidak ada perasaan sama sekali?!”

Wajah Nishi memucat mendengar suara Ren yang keras. Baru kali ini dia mendengar Ren marah.

“Ren, aku…,”

“Nishi tidak benar-benar mencintaiku, kan?!”

“Ren, tolong berhen—,”

“Kalau Nishi mencintaiku, saat ini aku tidak akan berada di depan rumah Nanase. Aku tidak mau mengantar Nanase pulang. Tapi Nishi sama sekali tidak marah. Apa yang ada dalam pikiranmu sebenarnya?!”

“Aku bisa menje—,”

“Aku capek, Nishi…. Mungkin hanya aku saja yang terlalu berlebihan. Nishi tidak pernah mencintaiku sama sekali.”

“Ren…,”

“Kurasa kita harus berhenti. Aku tidak bisa menebak isi hati dan pikiran Nishi. Semuanya terasa kosong. Aku ingin menyerah saja.”

“Ren, tolong ja—,”

KLIK. Ren sudah memutuskan sambungan teleponnya.

Nishi menjatuhkan ponsel dari tangannya. Rasanya tubuhnya tidak memiliki tulang lagi. Semuanya terasa lemas.

“Apa yang baru saja terjadi???!!!” tanya Nishi pada diri sendiri dengan mata berkaca-kaca.

***

3 hari kemudian…

Festival Musim Panas SMA Kitagawa berlangsung hari ini. Para murid-murid sudah melakukan persiapan yang matang untuk festival tahun ini. Lapangan sekolah sudah disulap menjadi blok-blok tenant dengan panggung yang tidak terlalu besar di tengah-tengahnya. KING akan tampil di sana malam nanti.

Berbeda dengan pengunjung lain yang berjalan santai untuk menikmati setiap booth yang ada, Nishi berlari menaiki lantai 3 menuju studio. Dia harus bertemu Ren hari ini. Ada sebuah surat yagn harus Ren baca. Masalah di antara mereka belum selesai karena Ren menghindari Nishi akhir-akhir ini.

Nishi sampai di depan studio. Satu-satunya orang yang dilihatnya adalah gadis tinggi memakai yukata ungu, Nanase.

Nanase tersenyum penuh arti pada Nishi yang berdiri mematung di depan pintu.

“Mana Ren?”

“Kau tidak lihat? Ren tidak ada di sini.” Jawab Nanase dengan suara yang dibuat-buat. Dia sudah tahu apa yang telah terjadi di antara mereka. Malam itu dia sengaja mencuri dengar percakapan Ren dan Nishi di telepon.

“Tolong, Nanase, aku harus bertemu Ren.”

“Kau tidak bisa menemui Ren lagi. Kalian sudah putus, kan?”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Ren yang memberitahuku.” Dusta Nanase.

Nishi kehabisan kata-kata. Ren bahkan sudah memberitahu Nanase tentang masalah mereka. Bersamaan dengan itu Ren muncul dari pintu.

“Ren~~~” dengan suara manja yang dibuat-buat Nanase melangkah ke pintu menyambut Ren. “Persiapannya sudah semua, kan?”

Ren mengangguk pada Nanase dan berpura-pura tidak menyadari kehadiran Nishi.

“Ren…,”

“Nanase, bisa temani aku ke bawah? Aku mau makan es serut.”

“Tentu saja.” Nanase merangkul lengan Ren di depan Nishi.

Ren yang tidak menolak perlakuan Nanase lalu berujar, “Nanase cantik banget pakai yukata ungu.”

Mata Nishi berkaca-kaca. Kepercayaan dirinya selama ini hancur sudah. Ren sudah tidak melihatnya sama sekali. Rasa percaya diri yang dibangun Nishi sejak pertama kali pacaran dengan Ren kini tidak ada lagi artinya. Dia tidak menyangka kehilangan Ren akan sesakit ini.

“Loh? Nishi?” Kaito yang baru masuk melihat Nishi menangis. “Ada apa?”

Nishi bergeming. Ketika sudah tidak tahu harus mengatakan apa lagi, dia berlari keluar tanpa menyadari suratnya terjatuh tepat di kaki Kaito.

Kaito memungut surat itu lalu membukanya dengan lancang. Matanya menatap tidak percaya. “Apa Ren sudah membacanya? Aku harus menyerahkannya pada Ren.”

***

Anak-anak KING sudah berada di posisi masing-masing. Sekarang giliran mereka untuk tampil. Lampu-lampu mulai dinyalakan karena senja sudah mulai tampak. Nanase berdiri di barisan penonton paling depan agar Ren bisa melihatnya. Nishi juga berada di sana. Hanya saja dia terlalu malu menampakkan diri di hadapan Ren, jadi dia berdiri paling belakang. Meskipun Ren tidak melihatnya, dia harus ada di sana untuk mendukung KING.

Sho berdiri memberi aba-aba, lalu mereka pun memulainya. Lagu pertama yang mereka nyanyikan adalah Love You Only, sebuah lagu dari band terkenal bernama TOKIO.

Saat Sho menyanyikan setiap liriknya, Nishi tidak bisa menahan aliran airmatanya. Ren selalu menyanyikan lagu itu di depannya.

Selanjutnya ada jeda saat lagu pertama selesai dinyanyikan. Nishi pikir saat Sho mulai memegang mikrofon lagi, lagu kedua akan dimainkan. Alih-alih, Sho mengatakan hal yang lain, “Nishi, ada sesuatu yang ingin dikatakan Ren untukmu. Dimana pun kau, tolong tampakkan dirimu!”

Nanase sangat terkejut mendengar kalimat barusan. Nishi pun sama terkejutnya. Orang-orang menoleh kesana kemari mencari sosok Nishi. Orang-orang yang sadar Nishi ada di sekitar mereka segera menjaga jarak agar Ren dapat melihat Nishi dari depan.

Nishi memandang ke depan. Tatapannya dengan Ren akhirnya bertemu. Ren turun dari stage, Nanase mencoba menahan, tapi dengan keras Ren menghentakkan tangan Nanase dan tetap berjalan menemui Nishi.

Nishi berdiri dengan gemetar sambil menebak-nebak apa yang akan dikatakan Ren padanya.

Nande?”

Nishi tidak mengerti. “Apanya yang apa?”

“Kenapa tidak mengatakannya secara langsung? Kenapa harus pakai surat?”

“Bagaimana kau bisa membacanya?” Nishi yang terkejut belum menyadari kalau suratnya terjatuh.

Ren yang tidak ingin mengatakan apa-apa lagi memeluk Nishi dengan paksa. Pelukan itu sangat erat sampai-sampai Nishi merasa Ren tidak akan melepaskannya.

“Pikiran Nishi benar-benar sulit terbaca. Lain kali tolong katakan semuanya dengan jelas di depanku.” Ren masih memeluk Nishi di tengah-tengah kerumunan orang.

Airmata Nishi kembali mengalir. “Aku hanya berusaha untuk tidak jadi pacar yang mengikat Ren. Aku hanya ingin Ren merasa nyaman denganku. Punya pacar yang terkenal memang beresiko, kan? Aku tidak ingin menyusahkan Ren dengan perasaan-perasaan seperti itu.”

“Tapi itu terlihat seperti Nishi tidak peduli sama sekali.”

“Aku peduli dengan caraku sendiri.”

“Kalau begitu, katakan sesuatu yang menunjukkan kau mencintaiku.”

Nishi melepaskan diri dari pelukan Ren lalu kedua lengannya dikaitkan di leher cowok itu. “Ren-kun, daisuki desu!!!

Nishi bergerak lebih dulu memajukan wajahnya ke wajah Ren hingga bibir bertemu. Ren menyambut gerakan Nishi dengan senang hati.

Di belakang mereka, seperti sudah diatur sebelumnya, KING yang hanya menyisakan Sho dan Kaito mengalunkan lagu ‘Daisuki desu!’ milik band Kis-My-Ft2.

THE END

Advertisements

4 thoughts on “[Oneshot] Daisuki Desu!!!

  1. Matsuyama Retha

    kyaaaakkkk mamiiiii XD
    suki sm critanya haduuh XD ini epep menginspirasi banget :3 ga kebayang Ren jd gitu haduuhhh >///<

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s