[Minichapter] VENUS #2 (Aku menemukannya)

Venus

Author : yotsubakaito

Genre : Friendship, romance

Type : minichapter

Cast : Hirano Sho | Nagase Ren | Takahashi Kaito | Hirate Chie | Amano Junko | Miyachi Yuri

Disclaimer : All cast belongs to themselves. OC and plot are mine.

Happy Reading ^^

Minggu pagi di SMA Kitagawa ramai sekali. Hari ini murid kelas 2 akan berangkat ke Sapporo untuk field trip selama seminggu penuh. Beberapa bis sudah terparkir di halaman sekolah yang luas itu. Satu persatu anak-anak menaiki bis sesuai kelas masing-masing. Sebentar lagi mereka akan berangkat.

Ren dan Kaito mengambil tempat di kursi paling belakang. Kaito duduk dekat jendela setelah memenangkan jankenpon dengan Ren yang juga menginginkan tempat yang sama. Namun karena Ren kalah, dia harus rela duduk di tengah.

“Eh, kita belum mengabari Sho kalau kita akan berangkat.” Ujar Ren.

“Oh iyaaa. Biar kutelpon dulu dia.” Kaito mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan mencari kontak bernama ‘Tennen Sho’. “Halo, Sho? Kau dimana?” tanya Kaito saat teleponnya sudah tersambung.

“Hhhgg?”

“Yaampuuunn… kau masih di tempat tidur?!” seru Kaito dan langsung bertukar pandangan dengan Ren yang menatapnya penasaran.

“Jangan berisik. Aku tidur terlalu malam karena belajar. Lagipula, kenapa menelpon sepagi ini?!” Sho berusaha mengumpulkan ‘nyawanya’.

“Kami berangkat sebentar lagi.”

“Ya sudah, berangkatlah.”

“Hah?! Kau tidak ingin mengucapkan salam perpisahan dengan sahabat-sahabatmu ini?”

“Tidak perlu. Seminggu lagi kita akan berkumpul lagi.”

Kaito tidak dapat berkata apa-apa lagi. Rasanya dia ingin menjitak kepala Sho sekarang.

“Ya sudah kalau begitu. Aku tutup teleponnya ya.”

“Iyaaa… cepat tutup! Aku masih mau tidur nih~”

“Iya iya! Sampai jumpa!” Kaito segera mematikan sambungan telepon dengan sedikit kesal.

“Dasar Sho baka! Dia pasti tidur lagi.” ujar Ren yang sudah tahu tabiat Sho kalau sekolah sedang libur. Dia bisa tidur seharian kalau tidak ada yang membangunkan.

“Kau mengenalnya dengan baik, Ren.” Kaito memasang headphone ke telinganya dan memutar playlist lagu kesukaannya. “Kita harus menikmati field trip ini dan membanggakannya di depan si baka itu.”

“Hahahahaha,” Ren tertawa puas. “Kau benar juga.”

“Anak-anak, mohon duduk di tempat kalian masing-masing. Kita akan berangkat sekarang.” Seorang guru memberi informasi.

Lalu, bus-bus itupun melaju keluar Kitagawa dan membelah Nakano dengan kecepatan sedang. Mereka akan tiba di Sapporo besok pagi.

***

Di saat kedua sahabatnya sedang menikmati liburan mereka di tempat yang menyenangkan, Sho disibukkan dengan jadwal ujian di Meiji hari ini. Pag-pagi sekali dia sudah bersiap-siap. Lebih tepatnya sih dia dipaksa oleh Ayahnya agar bergegas dan tidak terlambat masuk ujian.

Sho berjalan gontai keluar dari stasiun. Kalau bukan karena ingin menyenangkan sang Ayah, dia sudah tidak mau lagi sekolah. Baginya, sekolah itu penyiksaan. Seperti yang sering Ren katakan, Sho tidak suka belajar, berbeda sekali dengan Kaito.

Dua hari tidak bertemu, Sho tiba-tiba merindukan kedua anak itu. Sho ingin menghubungi mereka, tapi takut mengganggu. Mereka belum tahu kalau dirinya ujian hari ini.

“Kira-kira mereka sedang apa ya?” sambil bertanya pada dirinya sendiri, Sho sudah sampai di depan Universitas Meiji.

Sama seperti dirinya, ada banyak murid SMA yang masuk ke sana mengenakan seragam sekolah masing-masing. Melihat wajah-wajah itu nyali Sho mendadak ciut.

“Sial, mereka semua pasti pintar-pintar. Kenapa aku bisa terjebak di tempat seperti ini.” Umpatnya dalam hati.

Begitu masuk ke dalam, Sho segera mencari ruangan ujiannya, mengikuti penjelasan yang tertera pada selebaran yang sedang di pegangnya. Sho menaiki tangga setelah mengetahui ruang ujiannya berada di lantai 2. Saat masuk ke dalam kelas, sebagian bangku sudah terisi anak-anak yang siap ujian. Sejauh matanya memandang, tidak ada satupun anak Kitagawa selain dirinya sendiri. Karena keseringan main dengan kedua adik kelas itu, dia tidak sempat lagi menanyakan universitas mana yang dituju teman-teman kelasnya.

Sho menemukan kursinya, deretan kedua dari belakang di sudut kanan. Di depannya duduk seorang laki-laki berjas coklat muda. Sho tidak tahu anak itu berasal dari SMA mana. Mengabaikan anak yang tidak dikenalnya itu, Sho melayangkan pandangan ke pintu masuk. Bersamaan dengan itu masuklah seorang gadis berambut pendek. Dia memakai seragam yang jarang dipakai di Tokyo. Sepertinya dia berasal dari luar Tokyo, pikir Sho sok tahu.

Sho terperanjat ketika gadis itu tersenyum saat pandangan mereka tidak sengaja bertemu.

“Kawaiiiiiiii~~~~,” Sho berbisik pelan agar tidak ada yang mendengarnya.

“Chie!”

Gadis itu menoleh saat seseorang memanggil namanya.

“Ah, Karen. Kau duduk di situ?”

“Iya. Dan kau duduk di depanku.”

“Benarkah? Senangnya~ aku pikir kita akan beda kelas.”

Sho menyimak baik-baik percakapan kedua gadis itu tanpa melepaskan sedetik pun pandangannya pada gadis yang baru diliatnya itu.

Chie-chan, yoroshiku!!!” teriak Sho dalam hati. Dia tidak sabar menceritakannya pada Ren dan Kaito.

***

“Chie-chan cantiiiiiikkk bangeeeeettttt!!!”

Pada jam istirahat seperti ini mereka naik ke atap gedung sekolah. Sho akan bercerita tentang gadis cantik yang ditemuinya beberapa hari yang lalu.

PLAK!!!

Ren menabok kepala Ren dengan buku tulis. “Berisik!!!”

Sho tampaknya tidak peduli meski kepalanya terus-terusan ditabok. Perasaannya sedang bahagia sekarang. Sehari saja bersama Chie sudah membuatnya tergila-gila.

“Sekarang ceritakan dengan santai seperti apa Chie-chan yang sudah membuatmu semakin terlihat bodoh seperti ini.” Ujar Ren yang merasa geli melihat ekspresi Sho yang benar-benar mabuk cinta.

Sho menarik napas. “Kita tunggu Kaito dulu.”

“Aku datang!” Kaito muncul dengan napas tersengal. Dia menaiki tangga dengan berlari-lari.

“Ini dia! Kemana saja beli makan siang selama itu?!” Gerutu Sho mulai tidak sabar ingin menceritakan tentang Chie.

“Yang belanja di kantin kan bukan cuma aku!” Kaito menggerutu kesal di sebelah Ren.

“Sudah, tidak usah diperdebatkan. Nah, karena kita bertiga sudah di sini, sekarang Sho harus menepati janjinya. Ceritakan tentang Chie.”

Sho kembali menarik napas. Sambil membayangkan wajah gadis bernama Chie, dia pun bercerita pada temannya.

Ren dan Kaito mendengarnya dengan seksama, namun saat Sho selesai, mereka tidak berkomentar apa-apa.

“Apa? Kenapa kalian tidak mengatakan sesuatu?” tanya Sho.

“Sho kalah taruhan!” seru Kaito dan Ren bersamaan.

“Hah???!!! Kenapa bisa begitu? Bukankah aku sudah bertemu dengan Chie? Aku sudah menemukan gadisku. Kenapa aku kalah?”

Ren berdiri dari bangku. “Sepertinya Sho tidak memahami isi perjanjian kita minggu lalu. Kaito bilang, Sho baru bisa menang kalau sudah berpacaran dengan seorang gadis. Sementara kau, berbicara dengan Chie saja belum. Kau bahkan hanya tahu nama belakangnya. Jadi, itu tidak bisa dianggap kemenangan.”

“Ren benar,” Kaito menambahkan dari tempatnya. “Sho hanya mengenal Chie, belum pacaran. Artinya Sho kalah. Dan sesuai perjanjian, ada sebuah taruhan untuk kekalahan.”

“Tunggu dulu! Ini tidak adil. Aku baru beberapa hari yang lalu mengenal Chie. Bagaimana bisa aku memacarinya? Semua kan butuh waktu?!”

“Sho sendiri yang menyanggupi taruhan itu, kan?” Kaito menambahkan dengan senyuman penuh kemenangan.

Sho menjatuhkan dirinya di kursi. Dia merasa telah dipermainkan kedua bocah tengil ini. “Baiklah baiklaaahhh… aku mengaku kalah. Katakan saja apa sanksinya?”

Ren dan Kaito bertukar pandangan penuh arti. Kaito memberi kode agar Ren saja yang mengatakannya.

“Traktir kami makan di restoran Eropa.”

Tanpa penolakan berarti Sho menerima kekalahan dan sanksinya. “Malam ini jam 7. Kalau kalian terlambat, traktirannya batal!”

“Jangan khawatir. Jam 5 kami sudah ada di sana.” sahut Kaito cepat.

Lalu kemudian tawa Ren dan Kaito meledak bersamaan.

Meski kalah, Sho belum menyerah pada Chie. Diam-diam dia ingin mencari gadis itu lagi.

***

Terjadi perubahan rencana malam itu. Padahal Ren dan Sho sudah ada di Shibuya, tapi tiba-tiba saja Kaito tidak bisa datang karena sebuah alasan yang membuat kedua sahabatnya tercengang.

“Jadi bocah dekil itu mengabaikan kita berdua karena janjian dengan seorang? Apa gadis itu pacarnya?!” Sho bertanya tidak santai.

Ren mengedikkan bahu lalu membaca email Kaito sekali lagi. “Di sini dia bilang tiba-tiba saja ada seorang gadis yang ingin mengajaknya bertemu. Dia tidak mengatakan apa-apa tentang gadis itu. Tapi kenapa tiba-tiba sekali ya? Padahal kita sudah janjian. Aku tidak mau makan di tempat itu kalau tidak ada Kaito.”

“Aku juga. Tapi kita jangan menyalahkan anak itu. Mungkin saja gadis itu memang penting untuknya,” Sho mencoba bijak. “Sebagai gantinya, aku traktir kau makan pizza saja. Sama-sama makanan eropa, kan?”

Ren berpikir sejenak. “Ya sudah deh dari pada tidak sama sekali. Tapi izinkan aku menjewer anak itu sekali saja kalau kita bertemu dengannya.”

Sho menimpali dengan tawanya yang khas.

“REEEENNN!!!! SHOOOO!!!!!!!”

Mendengar nama mereka dipanggil seseorang dari belakang, Sho dan Ren kompak menoleh. Lalu terlihatlah seorang anak laki-laki berlari ke arah mereka.

“Loh? Bukannya ada janji dengan seorang gadis?” tanya Sho dengan wajah keheranan.

Ren mengamati raut wajah Kaito yang tampak sedih. “Ada masalah apa?”

“……dia tidak bisa datang.” Kaito menjawab lesu.

Sho menyentuh pundak Kaito. “Daijoubu, besok besok bisa ketemu lagi, kan?”

“Yuri-chan tidak tinggal di Tokyo. Dia dari Yamagata. Kami hanya bisa bertemu hari ini. Tapi dia tiba-tiba pulang tanpa menemuiku.”

“Hhmm… rupanya hubungan jarak jauh ya,” Ren mengomentari. “Tapi kenapa Kaito tidak pernah soal Yuri?”

“Sebenarnya, aku juga baru mengenalnya. Aku menyukai Yuri-chan sejak pertama kali bertemu. Makanya aku ingin sekali bertemu dengannya.”

“Tunggu sebentar!” Sho menyela. “Karena kita semua sudah berkumpul, kita makan masakan eropa sambil dengar cerita Kaito, yuk!”

Ren tersenyum senang. Akhirnya jadi juga. Sambil merangkul bahu Kaito dia berkata, “Sudah, tidak usah terlalu sedih. Kan bisa berhubungan lewat telepon.”

“…….sebenarnya Yuri-chan itu bisu.”

Ren dan Sho terkejut bersamaan.

 

To be Continued….

Advertisements

5 thoughts on “[Minichapter] VENUS #2 (Aku menemukannya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s