[Oneshot] Double Trouble

Double Trouble
by. Nadia Sholahiyah Utami
Type: Oneshot
Genre: Romance, Angst(sedikit)
Fandom: HSJ
Starring: Inoo Kei, Chinen Yuri (HSJ), Inoo Raura (OC)

“Setiap tahun, diam-diam aku datang ke sini tanpa sepengetahuan Raura, aku melihatnya dari jauh. Mencium keningngnya saat dia tidur” kentara sekali air mata mengalir deras di pipi mulus pria itu, suaranya juga bergetar “hingga akhirnya aku sadar. Kalau aku mencintainya.”

“Niichan menyebalkan!! aku benci sama niichan!!”

“Raura!! bukan itu, kau tidak pantas bermain dengannya”

“Sudah sana, aku tidak mau melihat niichan lagi!! Ikut ayah saja keluar negri, aku tidak mau satu sekolah dengan niichan”

“Raura… bangun!!” wanita tua itu kembali menjerit, karena anaknya–Raura belum bangun juga dari tadi.

“Raura cepat bangun!!”

Kali ini Raura malah semakin nyenyak. Karena geram dengan tingkah anaknya tangan keriput namun tetap terlihat cantik itu mengambil bantal Raura, membuat si anak tersadar.

“Kyaaa” seketika tubuhnya serasa mau jatuh ke jurang. Raura langsung terduduk dan mengerucutkan bibir saat melihat sang ibu sudah ada di hadapan Raura yang sedang melipat tangannya di depan dada.

“Sudah jam berapa ini? Kau mau telat lagi? Okaachan lelah terus-terusan di panggil ke sekolah karena kau sering te–”

“Ya okaachan aku akan bangun dan segera mandi” potong Raura sambil beranjak dari tempat tidur–menyeret tubuhnya menuju kamar mandi.

Saat di kamar mandi, Raura bercermin dan memasang wajah kesal. Karena saat ia berkaca Raura selalu saja ingat dengan kembarannya yang kini sedang berada di luar negri bersama sang Ayah.

“Niichan. Kenapa kau terus ada di mimpi ku?” rutuk Raura di depan kaca.

***

Musim gugur, di mana kini jalanan sedang di penuhi oleh guguran bunga sakura yang membuat ranting pohon kosong dan tidak cantik lagi menghiasi pohon-pohon tersebut.

Namun, tidak bagi kedua orang tersebut yang sedang jalan bersama menuju ke sekolah. Keduanya terlihat indah karena di hujani oleh bunga-bunga sakura yang berguguran sambil berpegangan tangan.

“Raura” si pemuda, kekasih Raura memanggil gadisnya karena Raura sedari tadi melamun saja di sela perjalanan menuju sekolah

Seketika, Raura sadar dari lamunan dan menoleh ke arah kekasihnya “Nani? Yuri-kun?”

“Memimpikan kakak mu lagi? Kelihatannya murung sekali” Yuri–itulah sapaan manis dari Raura, tahu sekali kalau Raura murung seperti itu pasti habis memimpikan kakak nya, karena kakak Raura sedang berada di luar negeri semenjak mereka menginjak bangku Sekolah Dasar. Setidaknya itu yang Yuri tahu dari cerita Raura.

Raura mendengus lalu mengerucutkan bibirnya “ya, dan di dalam mimpi ku dia selalu saja hadir di saat yang menyebalkan”

“Sudah, mungkin kau merindukannya” Yuri terkikik jahil.

Detik berikutnya Yuri sudah menerima pukulan dari Raura “Itte! aiish..”

“Mana mungkin! Menyebalkan, aku jalan duluan”

“Hey!! Tunggu!!” Yuri mengejar Raura yang sudah berlari duluan meninggalkan dirinya.

.

.

Tanpa mereka sadari, di belakang mereka sedari tadi ada yang mengawasi dengan memakai topi dan kacamata.

Penguntit? Bukan, dia sedaritadi hanya mengikuti dua sejoli itu.

“Yappari, kau tambah cantik saja. Raura” orang misterius itu membuka kacamatanya, terlihat sudah wajah cantik nya “Tadaima, Raura-chan”

 

***

 

“Sugoi~ kekasih ku memang sangat pintar” celetuk Chinen saat Raura menunjukan hasil ulangannya dengan nilai yang memuaskan.

Raura tertawa senang “Berkat kau mengajari ku, tentu saja aku bisa”.

Tangan laki-laki bermarga Chinen itu mengacak rambut Raura singkat lalu mencubit hidung gadisnya “itu juga karena kau pintar”

“Oh ya, Yuri-kun. Katanya hari ini ada murid baru di kelas mu?” tangan Raura bergerak untuk mengambil sepotong sandwitch yang Chinen bawa, tapi langsung di tepis oleh Chinen.

“Jangan maling, iya ada. Marganya sama seperti mu” sesaat, gerakan Raura langsung berhenti dan matanya bergerak ke arah Chinen.

“Demi apa? Namanya siapa?”

“Inoo Kei, tapi aku belum melihat wajahnya tuh” jawab Chinen dengan cuek dan langsung menyuapkan sandwitch miliknya ke mulut Raura.

“Kenapa kau tidak melihat wajahnya?” Raura berbicara sambil mengunyah, karena Chinen menyuapkan sandwith dengan ukuran cukup besar.

Setahu Raura setiap murid baru pasti akan memperkenalkan diri mereka di depan kelas kan? Bahkan seluruh murid sekolah di dunia inipun tahu itu.

“Aku sibuk dengan tugas ku. Jadi aku hanya mendengar suaranya saja” ah ya gadis itu baru ingat kalau Chinen sudah sibuk dengan tugasnya ia tidak akan memperdulikan apapun.

Raura mengangguk mengerti lalu menelan makanan yang ia kunyah.

Tak lama kemudian, Raura dan Chinen di kejutkan dengan histeria para siswi di sekolah terutama di dalam kantin. Mereka tak pengerti apa yang terjadi sehingga semua murid berjerit tidak jelas. Seakan baru saja kedatangan seorang artis.

“Ada yang kenal Raura? Di mana dia?” tubuh Raura mematung saat mendengar seorang lelaki yang kini menjadi objek histeria para siswi, bertanya akan keberadaannya.

Ia tahu betul suara itu, beberapa kali orang itu menelponnya akhir-akhir ini, membuat Raura merinding.

Cepat-cepat Raura bersembunyi di belakang tubuh Chinen, saat seorang murid menunjukan keberadaan Raura dan orang ‘itu’ menghampirinya.

“Kyaa otoko kireeii!!!” seru siswi-siswi itu saat objek yang jadi pusat perhatian lewat di hadapan mereka. Telinga Raura semakin panas dibuatnya.

“Konnichiwa, Inoo Kei desu. Kau melihat Raura disini?” Inoo Kei, yang kini berhadapan dengan Chinen memasang senyuman manisnya.

Demi sandwith yang Chinen suapkan kepada Raura tadi, Chinen tak yakin bahwa pria di hadapannya kini benar-benar ‘pria’, to the point. Dia cantik!

Lelaki cantik itu melihat sekeliling lalu pandangannya kembali fokus pada Chinen, lebih tepatnya fokus dengan orang yang berada di belakang Chinen.

“Yappari, itu dia… kenapa dia kembali?” bisik Raura dalam hati.

“Raura-chan… kenapa kau menghindari ku? Apa aku begitu menakutkan?” Kei memasang senyum di sudut bibirnya dan mulai melangkah menghampiri Raura.

“Chotto matte, kau siapanya Raura?” Chinen akhirnya ikut bersuara. Heran juga melihat murid baru yang amat sangat narsis, soksokan pula mengenal kekasihnya.

Dan…tunggu wajah Kei mirip sekali dengan Raura. Oh Tuhan kenapa ia baru sadar sekarang? Apa matanya mulai sakit, huh?

“Aku? Raura tidak pernah menceritakan tentang ku dengan mu?” tanya Kei menimpali. Keduanya diam, dan tanpa mereka sadari seisi kantin kini memperhatikan mereka bertiga.

Begitu juga para reader’s *abaikan.

“Kau begitu melupakan ku, Raura-chan?” pertanyaan menijijikan(menurut Raura) itu keluar dari mulut Kei.

“Urusai!!” kini Kei ikut diam karena jeritan Raura.

“Kenapa kau kembali? Aku bilang kau tidak usah kembali kan? Aku menyesal punya kembaran seperti mu” kaki Raura melangkah, mendekati Kei yang masih diam memandanginya.

“Kau boleh saja ada disini, tapi aku tidak akan pernah menganggap mu ada” tangan Raura langsung menarik Chinen dan keluar dari kantin.

Sedangkan setelah mereka pergi, suasana kantin kembali seperti semula. Berisik dan para siswa kini sibuk membicarakan hal yang baru saja terjadi.

Tapi Kei. Kelihatannya dia sangat kesal pemuda itu hanya bisa mengepalkan tangannya hingga memerah.

Saat yakin tak ada satupun yang memperhatikannya, bibir Kei membentuk senyum penuh rencana.

.

.

.

 

“Ternyata…dia kembaran mu…” Chinen tak mempercayai itu, Raura tidak pernah memberi tahu kalau kembarannya adalah seorang pria.

Chinen kira, kembaran Raura juga perempuan. Karena itulah yang sering terjadi bukan?

“Iya, aku sama sekali tidak pernah berharap dia kembali” Raura berkata dengan nada sangat pelan, masa lalu yang selalu terbayang di kepala Raura, tidak pernah membuat gadis itu terima kalau kalau Kei adalah kembarannya.

“Kau tidak merindukannya?”

“Buat apa merindukan orang yang menyebalkan seperti dia? Semua teman-teman ku jadi jauh karena dia. Dia membuat aku terpuruk tidak memiliki teman. Apalagi kalau aku berteman dengan laki-laki, dia pasti..akan melukai teman ku itu” terbongkar sudah padahal Raura berjanji pada dirinya sendiri untuk merahasiakan ini kepada siapapun termasuk Chinen. Di akhir cerita, suara Raura semakin terdengar lirih sukses membuat hati Chinen ikut tersayat.

Masih begitu hangat ingatannya tentang Kei yang dari dulu memang tidak pernah membuatnya tersenyum.

Maka dari itu Raura sangat benci dengan Kei dan lebih suka ia sendirian di rumah di bandingkan ada Kei di dalam rumah itu.

“Wakatta” tangan Chinen bergerak untuk mengelus pelan puncak kepala Raura “yang aku tahu pasti dia sangat menyayangi mu” meskipun Chinen tak mengerti kenapa Kei sampai nekat melukai teman laki-laki Raura.

***

“Tadaima…” Raura masuk ke rumahnya dan langsung mengganti sepatu dengan sandal rumah.

Saat ia melangkah untuk ke kamar, Raura di kejutkan oleh kehadiran Kei yang berada di sofa depan televisi sambil memakan cemilan miliknya. Padahal Raura sengaja menyimpan itu untuk nonton bersama Chinen hari Minggu nanti.

Yuri, jangan salahkan aku kalau besok aku akan marah-marah tidak jelas di depan mu karena orang idiot ini. Dumel Raura dalam hati.

“Kei!!” Raura merampas cemilan itu dari tangan Kei dan memasang wajah marah.

“Nani? Ah kau merindukan ku ya? Aku tahu itu” narsisnya, Kei berdiri dari sofa menghampiri Raura yang masih menatapnya dengan wajah marah.

“Kowaii”

“Terserah kau saja, tapi jangan sembarangan mengambil cemilan orang. Baka” tidak mau berurusan lagi dengan kembarannya itu, Raura pun langsung meninggalkan Kei di ruang tivi sambil menghentak kesal.

“Siapa pria itu? Pacar mu?” langkah Raura berhenti saat itu juga “Lumayan, katakan pada nya besok aku akan menemuinya. Ah tidak aku akan menemuinya langsung, dia teman sekesal ku bukan?”

Raura yakin Kei pasti sedang tersenyum– sebut saja smirk di belakangnya. Tapi, dugaannya salah saat Raura memutar tubuhnya menghadap makhluk menyebalkan itu.

Ternyata Kei sedang duduk santai di atas sofa sambil menggonta ganti channel tivi.

“Kei-nii..” Kei mengalihkan perhatiannya dari tivi ke Raura “kalau kau sampai menyakitinya. Aku akan benar-benar meminta ayah menjemput mu kembali keluar negri”

“O’ow seram sekali dik. Tenang saja, aku akan bicara baik-baik dengan dia” mata Kei mengerling ke arah Raura, membuat Raura merinding dan cepat-cepat masuk ke dalam kamar.

Tidak, Raura harap ini hanyalah mimpi buruk di siang bolong. Tidak mungkin Kei benar-benar kembali.

***

Sayang di sayang. Ternyata kejadian kemarin bukanlah mimpi, atau khayalan buruk milik seorang Raura.

Tapi ini NYATA teman, terbukti saat pagi-pagi sekali dirinya sudah di bangunkan oleh twin sucks nya itu.

Sarapan bersama, hingga berangkat ke sekolah pun bersama. Hora, ibu mereka malah asik menyusul sang Ayah ke Amerika tadi malam.

Jelas saja jika wajah Raura saat sampai dikelas sangat kusut bagaikan cucian yang baru di angkat dari jemuran.

Bahkan saat istirahat tiba, raut wajah Raura malah semakin kusut.

“Ra–are kenapa wajah mu menyeramkan hari ini?” tanya Chinen saat datang ke kelas Raura, entah itu ejekan atau kekhawatiran untuk Raura.

“Kei nii” jawab Raura malas.

“Kembaran mu?” andai saja Raura bisa menonjok muka Chinen saat menyebut ‘kembaran’ tapi Raura tak sanggup membuat wajah tampan kekasihnya jadi biru lebam.

Raura memutar bola matanya, mendengus “siapa lagi?”

Setelah mengerti, Chinen bergerak duduk di samping sang kekasih lalu merangkulnya dengan sayang.

Demi ibunya yang ke Amerika, wajah Raura mungkin sudah memerah saat ini. Bahkan, kekesalannya kepada Kei mungkin sudah larut ikut dengan darah Raura yang mengalir deras.

“Begini..” tangan Chinen meraih sebelah tangan Raura yang ada di dekatnya “bagaimana pun dia itu kakak mu. Aku yakin apa yang dia lakukan itu karena dia sayang dengan mu”

Watados!! Wajah merah Raura seketika berubah jadi wajah geram saat itu juga.

Bukannya membela pacar, tapi dia malah membela orang menyebalkan itu.

Raura berdiri dari duduknya, mata coklat milik Raura menatap Chinen dengan kesal “kau tidak mengerti. Lebih baik kau diam saja!!” bentak Raura.

Sumpah demi apapun, baru kali ini Raura membentak Chinen apalagi ini di dalam kelas.

Baru saja Raura akan pergi tapi Chinen sudah lebih dulu menahannya “mau kemana?”

“Bertemu orang idiot itu”

“Tidak usah” lagi-lagi mata Raura menatap kekasihnya dengan kesal.

“Apaan sih?”

“Kalau untuk marah-marah lebih baik kau disini” Chinen berniat untuk menarik Raura ke dalam pelukannya. Ets, tapi gagal karena Raura sudah menepis tangan Chinen dengan kuat dan segera berlari keluar kelas.

Baru sadar kalau daritadi ia di perhatikan oleh penghuni kelas Raura, Chinen-pun tersenyum manis dan melenggang santai keluar dari kelas.

Teriakan norak dari para siswi itu terdengar di telinga Chinen. Ya, dirinya memang bagaikan little prince di sekolahnya.

.

.

.

Sinar matahari dari jendela kelas membuat wajah putih mulus pria cantik itu semakin terlihat cantik.

Inoo Kei, memandang indahnya karya ciptaan Tuhan, sendirian, di dalam kelas. Kesempatan Kei untuk melayangkan pikirannya sendiri entah kemana. Tidak, bukan artinya Kei berpikiran yang jauh-jauh. Tapi dia sedang mengingat pertemuannya bersama Chinen tadi.

“Cih” decihnya sambil tersenyum remeh.

“Itu bukan persaingan, tapi jebakan mu. Bodoh”

“Siapa yang kau jebak dan siapa yang bodoh?” Kei terkesiap mendengar suara familiar. Menusuk tepat di gendang telinganya.

Raura, siapa lagi kalau bukan kembarannya itu?

“Hahaha” tawa Kei menggelegar di antero kelas. Dengan santai Kei melangkahkan kaki ke arah Raura.

Mendekatkan wajah ke kembarannya itu dengan sangat seduktif, kalau saja Raura terlambat mundur bibir mereka pasti sudah bertaut.

Kening Raura mengkerut “apa yang kau lakukan?”

“Kau ingin tau maksud perkataan ku tadi apa?” Kei mengangkat alisnya tinggi.

“Huh hahaha… itu tidak penting~” tangan Raura mengibas tepat di depan wajahnya, masa bodo dengan urusan saudara menyebalkan itu.

“Yang aku ingin tahu, kau mengatakan apa kepada Chinen? Sehingga dia selalu membela mu? Kau pikir dengan begitu aku akan baik denganmu? Huh?” lagi, Raura tertawa bahkan kini lebih keras dari sebelumnya sampai Raura memegang perut dan mengeluarkan air mata.

Seakan tak peduli kalau lawan bicaranya jengkel dengan tindakannya itu.

“Tidak akan , ingat? Aku tidak mudah di taklukan siapapun untuk memaafkan mu. Kei!”

“Ck, Raura kita ini kembar–”

“TAPI BUKAN BERARTI KAU BISA MELARANG KU BERTEMAN DENGAN SIAPAPUN” kesabaran Raura nampaknya sudah habis. Air mata yang selama ini dia tahan akhirnya keluar juga dari persembunyiannya.

“Kau!!” telunjuk Raura tepat berada di depan wajah Kei “bukan siapa-siapa aku!!”

Lemas, kakinya serasa lumpuh seketika sehingga dia harus kembali duduk di tempatnya.

Bahkan dia tak sadar kapan Raura pergi dan di gantikan dengan kedatangan murid-murid yang lain, termasuk Chinen.

Kekasih Raura itu melihat Kei heran, bukan pandangan biasa Kei seperti orang linglung begitu.

Chinen kira lelaki itu selalu terlihat angkuh. Tak mau ambil pusing reaksi si imut Chinen hanya mengangkat kedua bahunya.

“Kau mengatakan itu kepada Kei?” tanya Chinen terkejut saat Raura cerita kejadian sebelum masuk kelas tadi.

Mereka jalan berdua menuju rumah, karena Raura menolak untuk pulang bersama kembaran–walau ia tak menganggap Kei adalah kembarannya.

Raura mengangguk.

“Kau gila?”

“Aku gila?” Raura memutar bola matanya “dia yang gila”

“Raura..”

“Dia itu psikopat”

“Raura..”

“Dia itu posesif banget aku risih”

“Raura..”

“Dia itu menyebalkan!”

“Raura hentikan”

“Aku benci dia!!”

“RAURA HENTIKAN!!”

Hening, langkah mereka yang awalnya sama kini berbeda karena Chinen menghentikan langkahnya tanpa peduli Raura meninggalkannya.

“Dia itu kakak mu sudah berapa lama kalian terpisah? Dia pasti sudah berubah” omel Chinen menatap punggung Raura yang membelakanginya.

Hingga akhirnya Raura memutar badannya seratus delapan puluh derajat untuk melihat ke arah Chinen. Astaga air mata sudah merembes ke pipi mulus gadis itu.

“Kakak kakak, kembaran AKU MUAK AKU HANYA ANAK TUNGGAL TIDAK PUNYA SAUDARA” setelah makiannya selesai Raura langsung berlari meninggalkan Chinen sendiri.

Ya, Chinen mengerti kalau kekasihnya itu pasti trauma. Bukannya susah untuk di bujuk.

Tangan Chinen bergerak masuk ke dalam saku celananya, mengambil benda pintar untuk menelpon seseorang. Saat menemukan nama itu ia langsung men-dial nomor itu.

“Gomen… rasanya hari ini belum bisa” lawan bicara di sana bersuara, tak lama ia meringis malas “usaha sendiri aku menyerah” Chinen kembali diam.

“Aah baiklah-baiklah terserah kau saja”

Saat di rasanya cukup Chinen langsung mematikan sambungan mereka.

***

Satu bulan sudah berlalu, hari terus berganti tapi sifat Raura untuk Kei masih sama tidak-menganggap-kei-kembarannya.

Kei sudah mencoba segala cara, mulai mengajak Raura jalan-jalan, masak makan malam, membelikan DVD kesukaan Raura. Tapi nihil.

Hingga terakhir Raura mengucapkan satu kata kapada Kei pagi tadi. “berhenti menganggu ku”

Sedangkan kisah cinta antara Raura dan Chinen masih berlanjut.

“Bagaimana ini? Kalau begini caranya kita akan gagal bersaing”

“Apa pula ide konyol mu itu menyuruh ku untuk membujuknya? Usaha sendiri”

“Oke, tapi aku akan buat hubungan kalian hancur hari ini juga”

“Ck” mata pemuda itu berkilat ke arah lawan bicaranya “hanya itu ancaman mu?” sindirnya.

“Aku akan membawa nya ke luar negeri bersama ku” BINGO ia berhasil buat pemuda imut itu diam.

“Aah” tangannya mengibas, lalu mengangkat pantatnya dari lantai atap sekolah mereka “baiklah, kau itu selalu saja bisa membuat ku diam. Kei”

“Hehehe~” sumpah demi neptunus, tawa Kei membuat bulu kuduknya merinding.

“Karena aku tahu titik kelemahan mu, Chii”

Chinen memutar bola matanya “yaa terserah kau saja.”

“Membawanya keluar negeri?” Chinen dan Kei langsung terkesiap saat mendengar suara wanita itu dari belakang mereka.

“Siapa maksudnya? Kalian…tidak, Kei mau membawa siapa?” pertanyaan menohok itu malah membuat mereka diam tidak berkutik barang sedikit pun.

“Jawab aku” lagi, Raura kembali bersuara dan kali ini nadanya mulai meninggi.

Cukup lama Raura tidak mendapatkan jawaban dari dua pria itu, hingga akhirnya Kei ikut berdiri di samping Chinen dan memutar tubuhnya untuk menghadap Raura.

“Kamu” sekarang gantian Raura yang terkesiap “Kamu akan ikut aku keluar negeri”

“Tidak, enak saja kau mengatur kehidupan ku Inoo Kei” tolak Raura mentah-mentah. Raura menekankan nada suaranya saat mengucapkan nama Kei.

“Aku ini saudara mu!”

“Sudah ku bilang kau bukan siapa-siapa!” kaki Raura dengan sendirinya bergerak untuk turun dari atas atap, oh Tuhan bahkan dia lupa tujuannya ke sini untuk mencari Chinen.

Tapi kejadian ini malah membuat gadis itu kesal, dan lupa dengan tujuannya sendiri.

“Raura tunggu!” suara Kei, coba saja yang mengejar itu adalah Chinen sudah di pastikan Raura akan berhenti saat itu juga.

Tenang, masih ada dua lantai lagi untuk sampai ke lantai satu.

“Kena kau!!” o’ow, tangan Raura sudah terlebih dahulu di tangkap oleh Kei.

“Ah!” gadis itu meringis karena Kei mendorong tubuhnya ke tembok dengan keras “lepaskan ak–”

“Sstt” telunjuk Kei tepat berada di bibir Raura, entah setan apa yang lewat Raura malah diam tak berkutik. Otaknya serasa mati.

Raura tak tahu bagaimana sampai kini posisinya ada di hadapan Kei dengan pria itu memojokannya. Ugh gerakan pria itu sangat cepat.

Agak lama posisi mereka seperti itu, hingga Chinen mampu menyusul mereka dan langsung berhenti barang dua anak tangga di atas mereka.

Dan, astaga para murid lain juga memperhatikan dua musuh bebuyutan kembar itu.

“Dengarkan aku” seru Kei dengan suara beratnya, dapat di bayangkan betapa dagdigdugnya jantung Raura saat ini, posisi mereka sangat dekat di tambah suara Kei yang lebih berat dari biasanya, membuat pipi Raura panas.

“Aku seperti ini ada alasan tertentu kepada mu, bukan karena aku jahat” satu tangan Kei menggapai pipi Raura, tanpa penolakan dari gadis itu ibu jari Kei mengelus pipi panasnya dengan lembut. Kedua onyx gadis itu bertemu dengan manik hitam milik Kei.

Nafas mereka beradu karena keduanya tersengal habis berlarian menuruni tangga. Membuat Kei harus menghentikan dulu ucapannya sebelum kembali berkata “aku mempunyai rasa lebih dengamu, Raura” ucap Kei penuh dengan penegasan, Raura menatap mata Kei mencari jawaban yang pasti kalau saja pria itu bohong. Tapi ternyata tidak, Raura tidak menemukan kebohongan di mata Kei.

Seakan tahu Raura mengangkat tangan untuk menamparnya. Kei langsung mengunci pergerakan tangan Raura ke tembok tepat di samping kepala gadis itu, dan kepala Kei maju untuk–menikmati bibir kembarannya.

“Eeh??” seru para siswi melihat adegan di hadapan mereka.

Ya, Kei mencium Raura walau yang di cium tidak ada respon sama sekali. Satu kecupan, dua kecupan, bahkan sampai berkali-kali kecupan dibibir Raura dari Kei tak ada tanda kalau Raura akan merespon atau menolak.

Bosan dengan ciuman itu, Kei melepasnya dan beralih untuk mencium le–

“Hentikan Kei, kau sudah keterlaluan!” lengkingan Chinen menghentikan pergerakan Kei saat itu.

Dan tangis Raura mulai pecah, rasa malu, kesal, kecewa, bercampur jadi satu.

Kaki Chinen kembali melangkah untuk menghampiri mereka, melepas kungkungan Kei terhadap Raura dan langsung mengenggam tangan gadis itu.

“Aku menyesal sempat membela mu di hadapan Raura” mata Chinen beralih untuk menatap Raura yang sedang menunduk “ayo kita pergi” anggukan kecil mewakili jawaban setuju dari Raura.

Raura pasrah saat tangannya di tarik oleh Chinen, membawa gadis itu keluar dari kerumunan murid-murid lain, bisikan, tatapan, Raura merasakan itu sepanjang jalan koridor sekolah.

“Tak usah perdulikan mereka” lagi, Raura hanya mengangguk patuh dengan apa kata kekasihnya.

“Ini” Chinen menyodorkan segelas teh hangat untuk Raura, dan di terimanya walau kepala gadis itu masih menunduk.

Desahan pelan terdengar dari mulut Chinen, sebelum ia mengambil tempat duduk di samping Raura.

“Kenapa kau diam saja saat di cium dia, Raura?” pertanyaan dingin dari Chinen hanya di sambut dengan keheningan.

Tidak ada jawaban dari yang di tanya, Chinen melirik gadis itu. Tertunduk, terkadang air mata mengalir dipipinya, dan tangan Raura sibuk meremas gelas teh yang Chinen beri sebelumnya.

“Raura..”

“Gomenna…” kemudian isakan yang keluar dari mulut itu, Chinen hanya diam. Menunggu kata-kata selanjutnya yang akan keluar dari mulut Raura.

“A-aku… tadi… tidak tahu harus apa, aku ingin menolak tapi otak ku tidak bekerja sama sekali. Yang aku tahu hanya, jantung ku rasanya ingin keluar saat itu” mata Chinen membulat dengar kata-kata Raura “maafkan aku, Yuri. Aku–jujur aku menikmati c–hmmp” belum sempat Raura berkata apa-apa lagi, Chinen sudah mencium bibir Raura terlebih dahulu.

Lembut, tapi tampak kemarahan, kekecewaaan, entahlah Raura tak mengerti apa perasaan Chinen saat ini ketika menciumnya, sebelum akhirnya Chinen melepas pagutan mereka.

Panasnya ciuman tadi membuat keduanya tersengal, dan tangan Chinen langsung merengkuh tubuh mungil Raura ke dalam pelukannya.

Memeluk gadis itu erat, sangat erat. Bahkan Raura merasakan sesak karena pelukan itu.

“Y-yuri..”

“Biarkan seperti ini, nanti aku akan jelaskan semuanya.”

“Jelaskan…semuanya?” Raura menyerngit.

“Ya, makanya biarkan aku memeluk mu dulu” oh well. Raura tak bisa melakukan apapun jika Chinen sudah memaksanya. Berlahan tangan Raura ikut merengkuh tubuh kekasihnya itu.

Tugas matematika, sebenarnya Chinen sangat mengerti hayal tetek bengek soal yang penuh dengan angka itu.

Tapi konsentrasinya terganggu karena sedari tadi seseorang terus berbisik memanggil namanya dari sisi kiri Chinen.

“Chinen Yuri” lagi, suara ku menganggu gendang telinga Chinen meskipin hanya sebuah bisikan jauh.

Karena kesal, akhirnya Chinen menoleh ke sumber yang menganggunya, oh ternyata seorang Inoo Kei yang memanggil Chinen.

Kei tersenyum melihat Chinen, saat lelaki imut itu mengangkat dagunya seolah bertanya ‘ada apa?’ Kei langsung menunjukan bukunya yang sudah ada tulisan untuk Chinen di sana.

Mata Chinen menyipit guna melihat tulisan Kei ‘jam ke 4 kita ke atas atap. Ada yang ingin ku bicarakan’

Sontak Chinen menggeleng tegas, tapi mendapati plototan dari Kei, membuat Chinen bergidik dan mau tak mau ia setuju.

“Apa yang ingin kau bicarakan, Inoo Kei?” dan disinilah mereka akhirnya.

Atas atap sekolah.

Kei terkikik sebentar, lalu melihat ke arah Chinen “kau tahu? Aku siapa?”

“Inoo Kei?” Kei meringis.

“Bukan itu, baka”

“Lalu?”

“Aku kembaran Raura” yeah Chinen langsung mengangguk ngerti.

“Kenapa jadi? Aku lihat dia sepertinya takut sekali dengan mu. Oh ya dia juga bilang kalau dulu kau sering sekali membuat teman-teman Raura jadi jauh dengan dia” Chinen menyilangkan kedua tangannya di depan dada “sebenarnya apa maksud mu itu?”

“Hahaha” tawa Kei terdengar hambar “ya.. memang, kami dulu hmm bahkan sampai sekarang adalah keluarga yang berkecukupan. Aku, bocah tengik di saat itu begitu angkuh hingga tidak mau Raura bergaul dengan orang yang menurut ku lebih rendah dari kami”

Kei mengambil nafasnya “dia sangat kesal, dan menyuruh ku sekolah ke Amerika bersama ayah ku yang sedang bekerja di sana. Mulai saat di sana aku merasa bersalah kepada Raura, kau tahu kenapa?” Kening Chinen mengkerut.

“Karena aku sadar sosialisasi bersama orang itu sangat berarti, baik itu dengan orang rendah ataupun sederajat dengan kami. Jujur, aku sangat sangat menyesal saat itu. Tapi, aku tidak berani untuk menemui Raura karena merasa malu.”

“Setiap tahun, diam-diam aku datang ke sini tanpa sepengetahuan Raura, aku melihatnya dari jauh. Mencium keningngnya saat dia tidur” kentara sekali air mata mengalir deras di pipi mulus pria itu, suaranya juga bergetar “hingga akhirnya aku sadar. Kalau aku mencintainya.”

“Nani?” Chinen rasa ia harus mengorek kupingnya dulu “kau bilang apa?” yah.. setidaknya tadi pagi ia sudah membersihkan telinganya.

“Aku mencintainya Chinen, aku mencintai saudara ku sendiri!! Gila memang tapi ini nyata.” kini Chinen tak bisa berkata apa-apa lagi.

Chinen sadar, cinta dapat datang pada siapa saja dan kapan saja, tak peduli hubungan mereka saudara atau memang orang lain yang jatuh cinta dengan pandangan pertama. Cinta buta itu nyata, bung.

Tanpa sadar air matanya mengalir, cepat-cepat ia seka kristal itu hingga tak tersisa.

“Chinen, bisa kau bantu aku?” wajah Chinen menengadah menghadap Kei, mengingat kalau tubuhnya lebih pendek dari Kei.

“Apa?”

“Bantu aku untuk baikan bersama Raura lagi, aku menemuinya untuk menyatakan perasaan ku. Ketika dia baik lagi dengan ku, aku akan menyatakan perasaan ini. Tapi kalau hatinya masih untuk mu. Aku menyerah, mungkin saat itu aku hanya bisa katakan sesuatu untuk mu” tangan Kei memegang kedua bahu Chinen dan menatap mata pemuda mungil itu “tolong jaga dia untuk diri ku”

“Dan aku setuju dengan permintaan itu, aku rasa hubungan kalian harus membaik Raura” Chinen mengakhiri ceritanya saat dirinya dan Kei berbicara untuk yang pertama kali.

Raura kembali menunduk, merasa sangat berdosa terhadap kakak kembarnya itu. Makian, keangkuhan, ketidak perduliannya terhadap Kei, terngiang di otak Raura, andai ada tombol off untuk menghentikan itu. Tapinya nyatanya itu tidak mungkin.

“K-kei Nii” kepala Raura nenengadah untuk menatap Chinen “aku ingin bertemu dengannya” air mata Raura kembali merembes, bahkan lebih deras.

“Aku ingin menemuinya Yuri aku mohon hiks” tangan Chinen menarik tubuh Raura ke dalam pelukannya, kini lebih lembut hayal untuk menenangi gadis itu.

“Iya… sekarang sudah jam pulang sekolah aku antar kau pulang ya” anggukan tegas mewaikili jawaban dari Raura.

Chinen lupa sudah berapa jam mereka bolos sekolah dan pergi ke taman.

***

Singkat cerita, Raura dan Kei kini berhubungan baik layaknya kembaran pada umumnya. Tak heran jika terkadang Chinen merasa cemburu akan keakraban mereka.

Bahkan untuk sekarang, bisa di hitung dengan jari dirinya dan Raura kencan. Gadis itu sibuk dengan kembarannya itu.

“Sudah bilang kalau cinta dengannya?” tanya Chinen kepada Kei yang sedang tersenyum senang menatap langit biru. Begitu indah ciptaan Tuhan.

“Hoy”

“Ah?” Kei terkesiap lalu tertawa, kali ini terdengar sangat ceria “ya.. sudah…” dengan malu, Kei menggaruk tengkuknya “dia bilang, dia juga mencintai ku” hmm oke. Chinen coba tahan.

“Dia akan menerima ku, jika kau sudah pergi ke Spanyol selepas SMA nanti” lengkap, keputusan Chinen untuk kuliah di sana kini semakin mantap.

Chinen mendengus, namun senyuman manis itu menghiasi wajah imutnya “baiklah, tolong jaga dia untuk diri ku”

“Hey itu kata-kata ku!” seru Kei tak terima.

“Aku pinjam” mata Chinen mengerling ke arah Kei dan langsung berdiri melangkahkan kaki turun dari tangga, seraya Kei mengikutinya walaupun sambil tertawa seperti orang gila.

Saat di tangga Chinen menemui Raura dan langsung merangkul mesra kekasihnya itu.

Biarkan aku seperti ini, setidaknya sampai bulan depan.

Minggu lalu Chinen mendapatkan beasiswa untuk kuliah di Spanyol, awalnya ia ragu untuk menerima itu. Tapi melihat sikap Raura yang semakin lama semakin pudar, dengan berat hati Chinen menerima tawaran beasiswa tersebut.

THE END

Sepanjang jalan kenangan :”D

akhirnya selesai kaklau!! Yey!! penuh perjuangan ini bikinnya. Maaf lama yah, yang penting udh selesai nih. hahaha oke. Jya~

Advertisements

One thought on “[Oneshot] Double Trouble

  1. Raura

    <////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////////3
    YUUUUURRRRRIIIIIIIIIIIIIIIIIII!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! DONT LEAVE MEEEEEEEEEEEEEH!!!!!!!!!!!!!!!! I STILL LOVE YOOOOOOOOOOOUUUU!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! STAY BY MY SIDE, YURIIIIIIIIIII!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! ;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;A;;;;;;;;;;;;;;;;;;;

    “Kau begitu melupakan ku, Raura-chan?” pertanyaan menijijikan(menurut Raura) itu keluar dari mulut Kei.
    .
    .
    .
    .
    maafkan aku Kei, tpi kali ini aku setuju sama author.. kmu menjijikkan di ff ini :''''')
    tapi kamu brani bgt nyium Raura ddpn siswi2 kyaaaaaa ❤ ❤ ❤ ❤ ❤ //////<

    sbnrnya ga suka endingnya sih gara2 tiba2 Raura malah pindah hati gitu aja… /tendangraura /ketendang
    tpi yaaaa kiss-scene, hug-scene, kabedon, sama pas Yuri nyuapin Raura itu lumayan dapet lah feelsnya~~ ❤

    makasih nadnad~~ lope you~ :*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s