[Oneshot] Listen

Title: Listen
Cast: Yamada Ryosuke (HSJ), Fujigaya Hikari (OC), Fujigaya Taisuke (Kis-My-Ft2), Yabu Kota (HSJ) dan segelintir orang lewat.
Rating: PG-16
Genre: Family, Friendship, Romance dikit
Setelah melewati perjalanan yang panjang dan beberapa halangan dari tugas dan uts, akhirnya fanfic ini selesai juga, meskipun agak terlambat dari jadwal aslinya. Happy reading dan silahkan berikan komentar. o(^ω^)o

Seorang pria menggunakan masker, kacamata hitam dan topi berjalan menuju sebuah pusat perbelanjaan. Pria itu berjalan melalui sebuah gedung. Di gedung itu ada sebuah layar yang menyerupai televisi raksasa yang menampilkan preview lagu sebuah band. Pemuda itu melihat ada dua orang siswi SMA yang sedang berteriak senang melihat preview lagu itu.

“Nee, nee… Aku dengar lagu Kis-My-Ft2 yang ini dibuat untuk Yamada Ryosuke.”

“Benarkah? Apa salah satu dari mereka bepacaran dengan Yamada-san?”

“Muri dayo… Mereka kan pria.”

Pria itu tersenyum kemudian berjalan meninggalkan mereka berdua menuju tempat yang ia tuju.

***

Seorang gadis berjalan ke sebuah sekolah. Gadis berambut panjang dengan tinggi 150 cm berjalan menyusuri halaman depan sekolahnya. Gadis itu berjalan kearah kelasnya. Gadis itu memasuki sebuah ruang kelas. Gadis itu mencari-cari seseorang di dalam kelas itu.

“Ricchan!!!”

Gadis yang dipanggil Ricchan itu terperanjat. Ternyata orang yang dia cari baru saja datang dengan diiringi beberapa penggemarnya yang terlihat seperti dayang-dayangnya. Pemuda itu mengajak gadis itu ke tempat duduk mereka.

“Katanya tadi kamu mencariku?” tanya pemuda itu.

Gadis itu mulai bercerita tentang masalah yang terjadi antara dirinya dengan kakaknya. Pemuda itu hanya menyimak dan menjawab jika diperlukan.

“Hah… Belakangan ini aku tidak ada inspirasi untuk menulis lagu. Tapi Oniichan terus memintaku untuk menyelesaikan lagunya.” Keluh gadis itu.

Pemuda itu tersenyum dan mengusap pelan kepala gadis itu.

“Ganbare! Ricchan pasti bisa! Aku akan membantu sebisaku.” Jawab pemuda itu dengan semangat.

Pemuda itu bernama Yamada Ryosuke. Seorang member Hey! Say! JUMP. Sedangkan gadis itu adalah Fujigaya Hikari. Dia hanya gadis biasa berumur 16 tahun. Dia sudah berteman dengan Yamada lumayan lama. Pertemuan pertama mereka merupakan sesuatu yang tidak terduga.

***

Flashback…

Yamada berjalan kearah sebuah taman yang tidak jauh dari rumahnya. Hari ini dia sedang tidak bersemangat karena dia harus menyelesaikan sebuah lirik lagu. Lirik itu masih kekurangan beberapa bagian, tapi Yamada sudah kehabisan ide. Yamada berjalan dengan pandangan kosong. Ketika Yamada sampai ke taman itu, Yamada melihat seorang gadis duduk sambil menulis sesuatu di kertasnya. Seharusnya sudah tidak ada orang yang mengunjungi taman itu, mengingat hari sudah sangat malam. Taman itu memiliki penerangan yang cukup sehingga memungkinkan untuk menulis disana.

Yamada menyipitkan matanya dan berusaha untuk melihat gadis itu. Gadis itu mengambil gitarnya dan memainkan beberapa bait nada kemudian menulisnya. Gadis itu menatap catatannya yang terletak disampingnya dan menyanyikan sebuah lagu yang belum pernah Yamada dengar.

Proookkk Proookkk Prookkk!!!

Tanpa sengaja Yamada bertepuk tangan ketika gadis itu selesai bernyanyi. Yamada mendekati gadis itu dan meraih tangan gadis itu.

“Mulai sekarang kita berteman ya?” ucap Yamada dengan semangat.

“Eh?”

End flashback

***

“Natsu kashi na…” ucap Yamada sambil memandang kearah langit-langit kelas.

“Apanya? Jangan bilang Ryo-chan mengingat pertemuan pertama kita?” tanya gadis itu.

“Memangnya kenapa?” tanya Yamada balik.

“Bukan kenapa!!! Tapi pertemuan kita itu sangat aneh. Tiba-tiba kamu bilang “Mulai sekarang kita berteman” tanpa berkenalan dulu. Itu aneh tahu!” jelas gadis itu panjang lebar.

Yamada hanya tertawa melihat tingkah temannya itu.

“Jelas-jelas saat itu Ryo-chan hanya memanfaatkanku untuk menulis lirik.” Ucap Hikari kesal.

Yamada hanya bisa tertawa mendengar perkataan Hikari. Sementara di sisi lain kelas, ada beberapa siswi yang melihat mereka dengan pandangan sinis. Semua siswi di sekolah itu membenci Hikari. Bukan hanya karena Hikari itu dekat dengan Yamada, tapi juga karena mereka tidak bisa membully Hikari. Hikari adalah anak pemilik sekolah ini. Meskipun dia sekarang tinggal berdua bersama kakaknya, itu tidak mengubah statusnya sebagai anak pemilik sekolah. Jika ada yang berani membullynya, secara langsung mereka akan dikeluarkan.

Selain jaminan keamanan yang ia dapat dari sekolah, dia juga mendapat jaminan keamanan dari Yamada Ryosuke. Selama Yamada masih hidup, tidak akan ada siswi atau siswa yang berani melukai Hikari. Hikari melihat kearah siswi yang menatapnya dengan tatapan tidak peduli. Dia sudah tahu jika para siswi itu ingin membullynya.

“Ne Ricchan… Kamu sedang melihat apa?” tanya Yamada.

“Nani mo nai.” ucap Hikari sambil melemparkan senyum kearah Yamada.

Tidak ada percakapan diantara mereka setelah itu. Hikari hanya terdiam sambil menatap kearah keluar sekolahnya. Dia menatap langit mendung sambil memikirkan hidupnya yang dramatis. Hikari mempunyai saudara laki-laki yang lebih tua darinya. Lima tahun lalu, kakak Hikari memutuskan untuk hidup sendiri. Dia tidak mau mengambil tanggung jawab untuk mengambil alih perusahaan. Jadi Hikarilah yang mengambil alih perusahaan itu. Hikari sebenarnya tidak keberatan dengan hal itu. Tapi dia sangat khawatir dengan kehidupan kakaknya.

Dia tahu pasti jika kakaknya mengikuti audisi suatu band dan merintis karirnya dari awal. Hikari menghela nafas panjang. Dia kembali teringat dengan saat pertama kali kakaknya pergi dari rumah.

“Ne, Ricchan…” panggil Yamada sambil menusuk-nusuk pipi Hikari.

Hikari menoleh kearah Yamada. Hikari hanya memberikan senyuman pada Yamada.

***

Hikari berjalan kearah rumahnya ditemani Yamada. Meskipun Hikari anak orang kaya, dia tidak pernah ingin menunjukkan kekayaannya. Yamada juga begitu. Dia lebih suka jika pulang bersama Hikari daripada harus dijemput oleh pelayannya.

“Ricchan…” sapa Yamada untuk memecah keheningan.

“Aku… Aku tidak bisa melakukannya.”

Yamada kebingungan dengan perkataan Hikari.

“Papa menyuruhku untuk mengambil alih perusahaan. Aku tidak bisa.” ucapnya lagi.

“Mengambil alih perusahaan…itu berarti…”

“Un. Aku akan menikah dengan pria pilihan papa.”

Yamada menatap sedih kearah Hikari dengan sedih.

“Iya da na Ryo-chan… Jangan memasang wajah seperti itu. Sudah takdir kita begitu.” ucap Hikari sambil tertawa untuk memecah keheningan.

Yamada hanya tersenyum masam pada Hikari.

***

Hikari berjalan memasuki sebuah hotel mewah bintang lima. Hari ini Hikari terlihat sangat cantik. Dia didandani habis-habisan oleh pelayannya untuk bertemu dengan ayahnya. Tentu saja ini hukan pertemuan biasa. Dia tahu pasti jika ini adalah acara perjodohan. Dia sudah lima kali melewati hal ini. Kali ini ayahnya sudah muak dengannya dan tidak mau mendengarkan alasan Hikari lagi. Hikari terpaksa menerimanya. Tentu saja Yamada tidak tahu jika Hikari sudah ditunangkan sebanyak lima kali.

“Perkenalkan. Ini putri saya, Hikari.”

Hikari hanya menunduk dengan sopan. Dihadapannya sudah ada dua orang pria dan seorang wanita paruh baya. Seorang pria muda yang terlihat beberapa tahun lebih tua darinya. Pria yang satunya seusia wanita paruh baya itu.

“Hikari-chan sangat cantik ya…” ucap wanita itu.

Hikari hanya tersenyum manis.

“Kota desu. Kamu bisa memanggilku Kou saja.” ucap pria itu sambil mengulurkan tangannya.

***

Hari ini tunangan Hikari datang untuk ikut mengantar Hikari. Hikari tidak bisa menolak karena ayahnya memaksa. Hikari pun menghubungi Yamada dan meminta maaf kepadanya karena tidak bisa berangkat sekolah bersama Yamada.

“Sampai disini saja mengantarnya.” ucap Hikari dengan sopan.

Karena tunangannya, hari ini Hikari terpaksa berangkat dengan mobil tunangannya. Hikari turun begitu mobil tunangannya berhenti di depan gerbang sekolahnya. Hikari melihat Yamada berjalan masuk ke gerbang sekolah. Hikari pun berlari menuju Yamada.

“Ryo-chaaaannn…”

Yamada menoleh dan langsung menghampiri Hikari.

“Ric-”

Yamada berhenti ketika melihat ada seorang pria yang ia kenal berjalan mengikuti Hikari.

“Yabu-kun?”

Hikari dan Yabu terkejut.

“Bagaimana Ryo-chan kenal dengan tunaganku?” tanya Hikari.

“Tu-tunangan?”

Yamada mundur selangkah dan jatuh terduduk.

“R-Ryo-chan… Daijoubu desu ka?” tanya Hikari dengan panik.

Yamada langsung pergi meninggalkan Hikari masuk ke dalam gedung sekolahnya.

***

Yamada memperhatikan pelajaran guru matematika dengan seksama. Padahal, biasanya dia tidak pernah mau memperhatikan dan melakukan kegiatan lain. Hikari yang duduk disebelah Yamada bingung dengan perubahan sikap Yamada.

Bel jam istirahat berbunyi. Begitu bel berbunyi, Yamada langsung berjalan keluar kelas meninggalkan Hikari. Hikari berusaha mengejarnya, tapi Yabu menahannya.

“Kita pergi bicara dengannya bersama-sama.” Ucap Yabu.

***

Seperti dugaan Hikari, Yamada sekarang sedang duduk diatap sekolah sambil mendengarkan lagu. Yamada tertegun ketika Hikari datang bersama Yabu. Yamada berusaha untuk mengalihkan pandangan dan pergi meninggalkan mereka, tapi Yabu menahan Yamada.

“Jangan jadi pengecut dan lari dari masalah. Dengarkan penjelasan kami dulu.” Ucap Yabu dengan dingin.

Hikari meraih tangan Yamada dan menggenggam tangan Yamada dengan erat.

“Ini salah paham. Aku dan Kou-chan tidak tahu tentang pertunangan ini. Semuanya diatur oleh keluarga kami. Kami tidak pernah menginginkan ini terjadi.” Jelas Hikari.

Yamada membalikkan badannya dan seketika memeluk Hikari di depan Yabu. Yabu agak terkejut. Dia tidak bisa melakukan apapun. Dia hanya menatap tunangannya dipeluk oleh teman baiknya.

***

Begitu sampai di ruang latihan, Yamada merasa moodnya sudah sangat buruk karena harus bertemu dengan Yabu. Yang lebih parahnya lagi, Yabu itu leadernya, mau tidak mau dia harus mengikuti perintahnya. Para member lainnya yang merasa ada yang tidak beres diantara Yamada dan Yabu langsung bertanya, tapi tidak ada jawaban dari keduanya. Takaki yang sejak tadi tidak menyukai suasana mencekam ini, langsung mencairkan suasana dengan mengajak mereka makan di dekat tempat latihan mereka. Semua member Hey! Say! JUMP keluar meninggalkan Yamada dan Yabu.

Sebernarnya mereka tidak meninggalkan Yamada dan Yabu, hanya saja mereka keluarnya yang paling terakhir. Yamada berhenti berjalan dan menghadap kearah Yabu.

“Padahal kau tahu aku menyukainya!!!”

BHUGGG!!!!

Sebuah pukulan mendarat di pipi Yabu. Yabu meringis memegang pipinya.

“Padahal aku selalu menceritakan semuanya denganmu!!! Tidak ku sangka kau akan melakukan ini padaku!!!”

Yabu membalas pukulan Yamada. Sekarang giliran Yamada yang meringis kesakitan.

“DENGAR YA!!! AKU TIDAK TAHU SOAL INI SEBELUMNYA!!!”

Yamada kembali memukul Yabu.

“TAPI KAU PASTI SUDAH DIBERITAHU!!!! KAU MENCINTAINYA KAN????”

Yabu kembali membalas pukulan Yamada.

“IYA!!! BENAR!!! AKU MENCINTAINYA!!! KAU PUAS SEKARANG???!!!”

Yamada memukul Yabu lagi.

“STOOOPPPP!!!!” teriak seseorang.

Ternyata itu adalah Inoo Kei. Dia berhasil merelai perkelahian itu. Para member Hey! Say! JUMP lainnya segera datang ketika Inoo memanggilnya dan membawa Yabu dan Yamada pulang ke rumahnya masing-masing.

***

Hikari datang ke sekolah sedirian dengan riangnya. Dia melihat Yamada dan Yabu berjalan beriringan menuju sekolahnya.

“Oha- EEH???”

Hikari terkejut melihat Yamada dan Yabu datang dengan banyak perban dan luka lebam di wajah mereka. Yabu dan Yamada tidak memberikan penjelasan apapun. Hikari meraih kedua tangan mereka dan tersenyum.

“Kalian habis berkelahi ya? Berkelahi itu tidak baik. Apalagi kalian itu teman.” Ucap Hikari sambil tersenyum.

Hikari mengaitkan tangan Yabu dengan tangan Yamada.

“Sekarang bersalaman dulu dan segera berbaikan.”

Yamada dan Yabu tertegun melihat Hikari yang berusaha mendamaikan mereka. Yamada dan Yabu tersenyum dan segera membawa Hikari menuju sekolahnya.

***

Ternyata Yabu datang ke sekolah mereka sebagai guru magang. Yabu cukup pintar dalam mengajar Matematika, jadi ayah Hikari mempekerjakan Yabu sebagai guru disana. Tentu saja ini adalah permintaan Yabu. Selain untuk mengisi waktu luang, dia juga melakukannya agar bisa bertemu dengan Hikari setiap hari.

BRUKKK!!!

Yabu memukul kepala Yamada dengan buku yang dia pegang. Yamada memang benci pelajaran Matematika, apalagi gurunya adalah Yabu, itu membuat dia semakin malas untuk belajar. Yamada pun memutuskan untuk tidur di kelas selama Yabu mengajar dan tanpa ia sangka, Yabu membangunkannya dari tidurnya. Para siswi yang melihat Yamada baru bangun dari tidur, langsung berteriak kegirangan karena melihat wajah kawaii Yamada yang baru bangun tidur.

“Kamu itu mau lulus atau tidak? Jangan tidur selama aku mengajar.” Ucap Yabu.

Hikari tersenyum melihat kedua pria itu sudah akur seperti yang ia harapkan.

***

Hikari berjalan ke sebuah apartemen mewah. Dia memasuki lift dan menekan tombol lantai 45. Lantai dimana terletak ruangan sweet room yang paling mahal dan paling bagus. Hikari berjalan kearah kamar 2045 dan membuka kamar itu dengan kuncinya.

“Tadaimaaaa….”

“Okaeri….” jawab seorang pria yang terlihat beberapa tahun lebih tua darinya.

Hikari tersenyum dan tiba-tiba melompat kepelukan pria itu sampai pria itu jatuh terbaring keatas sofa yang empuk.

“Oniichan… Tadaima.” Ucap Hikari sambil tersenyum.

Pria itu adalah Fujigaya Taisuke. Salah satu member dari band Kis-My-Ft2. Dia adalah kakak Hikari. Taisuke sebenarnya adalah pewaris sah perusahaan ayahnya, tapi dia tidak mau mengambil alih perusahaan. Lima tahun lalu, Taisuke memutuskan pergi dari rumah dan menjalani kehidupan seperti yang dia inginkan. Dia membentuk sebuah band dengan beberapa temannya dan memulai debut di tahun 2005.

“Oniichan besok ada konser?” tanya Hikari.

“Tidak ada. Aku dengar kamu ditunangkan dengan anak rekan kerja ayah.”

Hikari melepaskan pelukannya dan duduk disamping Taisuke. Hikari hanya tersenyum kearah Taisuke tanpa berbicara sepatah katapun.

“Kamu tidak suka ya?” tanya Taisuke sambil tersenyum.

“Eh?”

“Kelihatan jelas loh dari wajahmu.”

Hikari tidak bisa mengelak karena memang itu yang dia rasakan. Taisuke mengusap kepala Hikari perlahan. Dia tahu betul bagaimana sikap ayahnya dalam mengatur kehidupan mereka. Dia juga tahu jika Hikari terpaksa menerima pertunangan itu.

“Gomen ne… Harusnya Oniichan yang ada di posisi itu. Seharusnya Oniichan yang melakukan hal itu.”

Hikari menggeleng kemudian tersenyum.

“Semua ini bukan salah Oniichan. Sebagai gantinya, Oniichan harus hidup dengan baik. Aku akan mengambil perusahaan ayah untuk mendukung Oniichan. Siapa tahu, suatu hari nanti Oniichan membutuhkanku, aku akan membantumu. ” jawab Hikari sambil tersenyum.

Taisuke memandang sedih kearah adiknya seraya memeluknya. Hikari melepaskan pelukan kakaknya sambil berkata jika ia baik-baik saja. Hikari melihat ke sekeliling kamar Taisuke.

“Apa kamar ini tidak terlalu besar untuk satu orang?” tanya Hikari.

“Siapa bilang kamar ini untuk satu orang?”

“Memangnya ada orang lain?” tanya Hikari lagi.

Taisuke mendorong Hikari hingga Hikari terbaring di sofa.

“Kamar ini aku beli untuk kita berdua. Hari ini kamu tidak menginap disini?”

Hikari mendorong Taisuke dan kembali duduk di sofa seperti semula.

“Aku menginap. Papa pergi ke Osaka. Jadi hari ini aku akan menginap.” Jawab Hikari sambil tersenyum.

***

Hikari berbaring di tempat tidur dan memakai selimutnya. Taisuke berbaring disebelah Hikari tanpa memakai selimut.

“Oniichan… Tidak bisakah kita tidur bersama?” tanya Hikari.

Taisuke memukul kepala Hikari dengan pelan.

“Dame! Hikari kan sudah besar. Jadi tidak boleh tidur bersama Oniichan.”

Hikari menggelembungkan pipinya dan langsung membelakangi Taisuke. Taisuke tersenyum dan mulai menggelitik badan Hikari. Hikari yang merasa geli langsung tertawa dan langsung berbalik kehadapan Taisuke.

“Kali ini saja ya?” ucap Taisuke.

Hikari mengangguk.

Taisuke mengambil selimutnya dan mulai berbaring disebelah Hikari. Mereka bertatapan sejenak.

“Oniichan…”

“Hm?”

“Oniichan tambah keling.” Ucap Hikari tanpa ekspresi.

Taisuke kebingungan, antara malu dan panik. Hikari tertawa melihat reaksi kakaknya. Hikari mencium pipi Taisuke kemudian tersenyum.

“Oyasuminasai Oniichan.”

Hikari pun tertidur meninggalkan Taisuke yang masih terbangun dengan muka memerah.

***

Hikari berjalan menuju sekolahnya bersama Yamada dan Yabu. Seperti biasa, mereka berdua masih berebut untuk pergi ke sekolah bersama Hikari. Hikari yang tidak ingin ada masalah di pagi hari pun menyarankan agar mereka bertiga pergi ke sekolah sama-sama. Yamada memeluk erat lengan kanan Hikari sedangkan Yabu memeluk lengan kiri Hikari. Yamada tidak ingin kalau Hikari tiba-tiba ditarik Yabu dan dibawa pergi oleh Yabu. Demikian dengan Yabu, dia juga tidak ingin hal yang sama juga terjadi. Apalagi dia tahu kalau Yamada itu adalah makhluk licik berwajah malaikat. Hikari hanya bisa menghela nafasnya melihat kedua pria itu yang tidak bisa akur satu sama lain.

***

Hikari berjalan memasuki sebuah gedung industri musik tempat kakaknya bekerja. Hikari memasuki gedung itu tanpa ragu. Setiap orang yang lewat, memberikan senyum kepada Hikari. Semua orang yang bekerja disana sudah mengenal dia. Selain karena dia adik dari Fujigaya Taisuke, dia juga seorang pencipta lagu band Kis-My-Ft2. Rata-rata lagu yang mereka mainkan adalah lagu yang Hikari tulis. Hikari berjalan dengan perlahan sambil berusaha mencari kakaknya. Tanpa sengaja, ada seorang pria yang menabraknya hingga ia terjatuh. Pria itu meminta maaf dan membantu Hikari berdiri.

“Hikari-chan?” sapa pria itu.

“Senga-senpai?”

Pria itu adalah Senga Kento. Dia adalah salah satu anggota band kakaknya.

“Senga janai yo… Demo Kento.” Jawab pria itu.

“Hai, hai. Senpai melihat kakakku tidak.”

Senga mengalihkan pandangannya. Dia bingung ingin memberikan jawaban apa kepada Hikari. Tiba-tiba seorang pria datang menghampiri mereka berdua. Dia adalah Tamamori Yuta. Dia juga seorang anggota band yang sama dengan kakaknya.

“Mencari Taisuke? Dia ada di ruang atas. Ini kuncinya.”

Segera setelah menerima kunci dari Tamamori, Hikari langsung bergegas pergi ke tempat kakaknya.

“Sore wa ii desu ka Yuta-san? Bukannya Taisuke-san sedang…”

“Tidak apa-apa. Sesekali Taisuke harus diberi pelajaran.” Potong Tamamori.

“Tapi… Adiknya bisa sakit hati.” Elak Senga.

“Sudah, ayo kita minum pergi minum saja.”

***

Hikari berjalan menyusuri lorong-lorong gedung itu. Dia mencari ruangan yang ditunjukkan oleh Tamamori. Hikari sampai disebuah ruangan dan melihat nomor ruangan yang sama dengan nomor yang tertera dikunci itu. Hikari membuka kunci itu dan membuka pintunya. Betapa terkejutnya dia melihat kakaknya sedang berada di ruangan itu bersama seorang wanita. Kakaknya sedang tidur tanpa mengenakan bajunya, begitu juga dengan gadis itu. Makanan yang tadinya Hikari bawa langsung jatuh dan tumpah. Taisuke yang mendengar suara itu langsung terbangun dan terkejut melihat Hikari yang sedang berdiri di depan pintu.

Gadis yang bersama kakaknya juga terbangun. Gadis itu menyingkap selimutnya untuk menutupi tubuhnya dan memeluk Taisuke.

“Taisuke-kun, siapa dia?” tanya gadis itu.

Hikari langsung berlari meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah katapun. Taisuke yang berusaha mengejarnya, dihentikan oleh gadis itu. Taisuke tidak mengidahkan gadis itu dan segera mengejar Hikari. Taisuke terus mengejar Hikari, tapi tidak sempat tekejar. Hikari menghilang begitu saja dari gedung itu.

***

Taisuke memarkirkan mobilnya di halaman depan rumahnya. Taisuke berlari masuk ke dalam rumahnya. Taisuke mencari Hikari ke segala tempat di rumahnya, tapi Hikari tidak ada di rumah itu. Taisuke terus menelpon Hikari tapi ponselnya mati. Taisuke segera masuk ke mobilnya ketika dia mengingat suatu tempat yang mungkin dikunjungi oleh Hikari.

***

Taisuke berdiri cukup lama di depan rumah itu. Dia tidak berani masuk ke dalam rumah itu. Tiba-tiba seorang pria paruh baya.

“Sedang apa kamu disini?” tanya pria itu.

Taisuke hanya diam. Dia tidak bisa berkata apapun. Pria itu adalah ayah Taisuke dan Hikari. Beberapa tahun yang lalu, Taisuke meninggalkan rumah ayahnya dan tidak pernah kembali. Sejak saat itu pula ayahnya jadi membenci Taisuke karena Taisuke dianggap tidak bertanggung jawab.

“Kalau kamu datang kesini untuk bertemu dengan Hikari, lebih baik kamu pulang saja. Dia tidak mau bertemu denganmu.” ucap ayahnya.

“Tapi, aku harus menjelaskan sesuatu ayah.” jawab Taisuke.

“Sejak kapan kamu memanggilku ayah??? Kamu itu sudah bukan anakku lagi setelah kamu pergi dari rumah ini!!! Cepat pergi!!!”

Ayah Taisuke mengusir Taisuke dari rumah itu. Taisuke yang merasa bersalah kepada ayahnya dan Hikari, tidak bisa berbuat apapun. Taisuke pun pergi meninggalkan tempat itu.

***

“Ricchan… Nee.. Ricchan… Buka pintunya… Ini aku Ryosuke…”

Sudah lima hari Hikari tidak keluar kamarnya. Dia tidak mau makan atau pergi ke sekolah. Dua hari yang lalu, Yabu juga datang kerumahnya, tapi dia tidak bisa membujuk Hikari untuk membuka pintunya. Hari ini, giliran Yamada yang mencoba untuk membujuk Hikari untuk keluar kamar. Yabu juga ada disana untuk membujuk Hikari.

Yamada mencoba untuk mengetuk pintu kamar Hikari.

“Ricc-”

Hikari tiba-tiba membuka pintunya. Yamada pun masuk ke dalam kamar Hikari sedangkan Yabu menunggu di depan kamar Hikari. Yamada melihat kamar Hikari yang gelap, langsung menghidupkan lampu di kamarnya. Betapa terkejutnya Yamada ketika melihat kamar Hikari yang berantakan. Di dinding kamarnya, penuh dengan goresan dan darah. Kamar Hikari cukup dingin karena Hikari menyalakan pendingin ruangannya cukup besar. Yamada menghampiri Hikari yang duduk di pojok kamarnya. Hikari terlihat sangat kacau. Rambutnya acak-acakan, tubuhnya penuh dengan bekas darah dan goresan benda tajam.

Yamada mengusap pelan pipi Hikari. Hikari menangis dihadapan Yamada. Yamada memeluk Hikari yang masih terus menangis. Yamada hanya terdiam sambil memeluk Hikari. Tak lama setelah itu, Hikari tertidur diperlukan. Yamada. Saat Hikari itu tertidur, Yabu masuk ke dalam kamar Hikari dan membereskan kamar Hikari, sedangkan Yamada membersihkan luka ditubuh Hikari.

***

Hikari terbangun diatas tempat tidurnya. Hikari duduk dan melihat kamarnya yang sudah tidak berantakan lagi. Pandangannya langsung teralih ketika melihat Yamada masuk membawa makanan.

“Ah… Ricchan sudah sadar!!!”

Yamada langsung menyerahkan makanan yang ia bawa kepada Yabu dan langsung memeluk Hikari. Hikari hanya terdiam.

“Sekarang, Ricchan makan dulu ya?” ucap Yamada sambil tersenyum kearahnya.

Masih tidak ada jawaban dari Hikari. Hikari menatap tangannya yang penuh dengan perban. Yabu datang sambil membawakan makanan. Saat Yabu menyuapkan makanan itu kepada Hikari, tidak ada reaksi ataupun respon dari Hikari. Hikari hanya diam sambil menatap kosong kearah tangannya. Yamada meletakkan tangannya di puncak kepala Hikari. Hikari yang kaget langsung menatap Yamada yang sedang tersenyum kearahnya.

“Daijoubu. Subete wa daijoubu.” Ucap Yamada.

Hikari terdiam.

“Bagaimana jika besok kamu pergi ke sekolah? Kamu kan sudah lama tidak pergi ke sekolah?” saran Yabu.

Hikari hanya mengangguk.

***

Besoknya Hikari datang ke sekolah bersama Yamada dan Yabu. Dan seperti biasa, mereka berdua berebut berjalan bersebelahan dengan Hikari. Hikari masih diam dan tidak mau bicara. Hikari berhenti berjalan di depan gerbang sekolah. Yamada dan Yabu juga ikut berhenti.

“Daijoubu. Pasti akan menyenangkan.”. ucap Yamada sambil mengelus kepala Hikari.

***

Hikari masuk ke dalam kelasnya bersama Yamada. Tanpa diduga, teman-teman sekelas Hikari langsung menghampiri mereka berdua dan menanyakan keadaan Hikari. Tentu saja Yamada yang menjawab pertanyaan teman-temannya karena Hikari masih belum mau berbicara.

“Gomen ne minna. Hikari belum sembuh total. Dia masih belum bisa bicara.” ucap Yamada sambil berusaha meredakan kekhawatiran teman-temannya.

Hikari duduk dikursinya dan mulai memandang langit. Dia merasa sudah lama sekali dia tidak pergi ke sekolah dan memandang langit dari tempat kesukaannya. Tak lama kemudian, guru mereka masuk ke kelas. Kebetulan pelajaran pertama adalah pelajaran matematika. Tentu saja Yabu yang mengajar. Kali ini Yabu mengajar tentang pelajaran yang cukup sulit. Yabu melihat Hikari yang duduk sambil memperhatikan keluar jendela. Hikari tidak memperhatikan pelajaran Yabu. Yabu pun berjalan kearahnya.

“Shiina-san, tolong kerjakan soal ini di depan.” Tegur Yabu.

Hikari hanya mengangguk dan mengerjakan soal itu dengan benar. Yabu agak terkejut, meskipu Hikari tidak memperhatikan pelajarannya, dia bisa mengerjakan soal itu dengan benar. Hikari kembali duduk dibangkunya. Yabu pun melanjutkan pelajarannya. Saat Yabu melewati tempat duduk Hikari, Yabu melihat buku catatan Hikari yang penuh. Meskipun Hikari tidak memperhatikan pelajaran Yabu, dia tetap mencatat semua yang Yabu jelaskan karena itu dia bisa menjawab soal yang Yabu berikan dengan benar. Yabu hanya tersenyum dan kembali melanjutkan pelajarannya.

***

Saat jam istirahat, Hikari berjalan keatap sekolah sambil membawa makan bekal makan siangnya yang ia buat sendiri. Hikari memang belum mau bicara, tapi dia sudah bisa beraktifitas dengan normal. Begitu dia sampai diatap sekolah, dia melihat Yamada dan Yabu sudah ada disana.

“Aku pikir tadi Hikari-chan tidak memperhatikan pelajaranku.” Ucap Yabu.

Hikari hanya diam sambil memakan bekalnya. Yamada berjalan kearah Hikari dan mencubit pipi Hikari dengan keras.

“ITAAAAAIIII!!!! ITAAIII YO RYO-CHAN!!! YAMETE YO!!!” teriak Hikari.

Yamada melepaskan pipi Hikari.

“Nah… Begitu dong… Bicara. Jangan diam saja.” Ucap Yamada sambil tersenyum.

“Hiks.. Hidoi yo Ryo-chan… Pipiku sakit sekali.” Ucap Hikari sambil memegangi kedua pipinya yang memerah.

“Shikatanai na. Yama-chan!” sahut Yabu.

“Hai, hai… Kali ini saja ya…” jawab Yamada.

Tanpa Hikari duga, mereka berdua langsung mencium pipi Hikari.

“Sakit, sakit. Hilanglah bersama dengan ciuman ini.” Ucap Yamada sambil tersenyum.

Muka Hikari semakin memerah begitu mereka melepaskan ciumannya.

“A-Apa…Apa- apaan kalian ini!!! Dan juga, lagu macam apa itu??? Mana mungkin pipiku bisa sembuh kalau kalian menciumku.” Ucap Hikari sambil marah-marah.

Yamada tiba-tiba mendorong Hikari sampai Hikari menyentuh dinding yang ada dibelakangnya.

“Kalau dipipi tidak mempan, bagaimana kalau disini?” goda Yamada sambil menyentuh lembut bibir Hikari.

Yabu yang tadinya diam saja, langsung mencengkram bahu Yamada dengan kuat.

“Yama-chan… Tolong lepaskan tunanganku sekarang juga.” Ucap Yabu sambil menahan amarahnya.

Yabu dan Yamada pun bertengkar sementara Hikari masih tesipu sambil memegangi mukanya yang semakin memerah.

“SAA, HIKARI, SIAPA YANG KAMU PILIH?!” ucap mereka berdua secara serempak.

Hikari semakin kebingungan. Hikari melihat ke kanan dan melihatke kiri, Hikari semakin kebingungan.

“SHIRANAIIII!!!!” jawab Hikari sambil berlari meninggalkan mereka berdua.

***

Hikari berjalan pulang bersama Yabu dan Yamada. Kali ini mereka berjalan melewati Akiba. Hikari ingin membeli game baru disana. Hikari meliat ponselnya dan terkejut melihat surel tentang member Johnny’s Entertaiment.

“Mite, mite… Ryo-chan masuk sebagai member yang paling disukai.” Ucap Hikari dengan riang.

“Tentu saja. Aku kan memang yang paling tampan.” Ucap yamada sambil mengibaskan rambutnya dengan tangannya.

Yabu yang dari tadi berdiri disana, sudah bersiap untuk melemparkan sepatunya kepada Yamada, tapi Hikari menahannya.

“Eh? Kore wa…”

Hikari terkejut melihat kakaknya masuk ke dalam deretan member Johnny’s Entertaiment yang paling tidak disukai.

“Kakakmu dan juga Kei-chan…” ucap Yabu.

Hikari hanya mengangguk.

“Saa, kita harus cepat. Sepertinya hujan akan turun.” Ajak Hikari.

***

Benar dugaan Hikari, tidak lama setelah mereka sampai di pusat perbelanjaan otaku, hujan mulai turun. Hikari menghabiskan banyak waktu untuk melihat dan memilih game yang ia sukai.

“Ah… Hujannya belum berhenti.” Keluh Hikari.

“Aku membeli payung.” Ucap Yabu sambilmenyodorkan payung kepada Yamada dan Hikari.

Hikari berjalan melewati distrik perbelanjaan di Akiba. Disana biasanya banyak orang yang membagikan brosur. Hikari sebenarnya tidak ingin lewat sana karena dia tidak ingin mendapat brosur apapun.

“Onegaishimasu… Tolong datang ke konser kami.”

Hikari mendengar suara yang dia kenal di dekat sebuah toko makanan. Hikari berlari menuju arah suara itu. Dan benar saja itu adalah suara kakaknya yang sedang membagikan brosur bersama teman satu bandnya.

“Ah… Fujigaya-san. Sepertinya mereka sedang ada reality show.” Ucap Yamada.

Hikari pun berbalik meninggalkan tempat itu.

“Ah!”

Hikari yang terkejut, langsung menglihat kearah kakaknya yang jatuh terduduk karena di dorong oleh seorang pria. Pria itu juga membuang brosur yang kakaknya berikan. Hikari yang melihat kejadian itu, langsung berlari kearah kakaknya tanpa memakai payung. Yamada dan Yabu juga ikut berlari kearah Taisuke sambil membawa payung Hikari.

“Oniichan! Daijoubu?” tanya Hikari dengan panik.

Taisuke tersenyum kearah Hikari.

“Walaupun kamu pergi karena sakit hati, sekarang kamu datang karena mencemaskanku.” Ucap Taisuke.

“Oniichan bicara apa sih??? Ayo kita kesana! Oniichan sudah basah sekali.”

***

Untungnya ada toko yang menjual pakaian di dekat sana. Hikari pun menyuruh kakaknya untuk berganti pakaian. Selama kakaknya berganti pakaian, Hikari duduk sambil memandang brosur yang dibawa oleh kakaknya.

“Ryo-chan, Kou-chan, apa kalian bisa membantuku?”

***

Taisuke keluar dari ruang ganti sambil berusaha mencari Hikari. Taisuke tidak menemukan Hikari dimanapun. Saat Taisuke keluar toko itu, Taisuke melihat Hikari bersama dengan Yamada dan Yabu membagikan brosur yang ia bawa.

“Onegaishimasu…” ucap Hikari dengan riang.

Melihat Yabu dan Yamada yang membagikan brosur, tiba-tiba langsung banyak wanita yang mau mengambil brosur itu. Hikari juga tidak mau kalah. Tidak ada orang yang menolak brosur yang ia berikan. Tidak butuh waktu lama, mereka bertiga sudah langsung kehabisan brosur, tapi kerumunan para wanita yang mengelilingi Yabu dan Yamada semakin banyak.

“Hashire!” ucap Yamada sambil menarik tangan Hikari.

Yamada menarik tangan Hikari dan mengajaknya berlari. Begitu juga dengan Yabu dan Taisuke. Tanpa sadar, sudah ada beberapa fans yang mengelilingi mereka. Mereka pun berlari mengikuti Yamada dan Hikari. Yamada terus berlari membawa Hikari menuju sebuah gang sempit, sangking sempitnya, gang itu hanya bisa dilewati oleh tiga orang saja. Yamada menahan Hikari ke dinding sambil memeluknya. Setelah fans-fansnya lewat, barulah Yamada melepaskan pelukannya. Yamada dan Hikari terdiam. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Tidak lama setelah itu, Yamada menatap Hikari lekat-lekat dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Hikari. Semakin lama. semakin mendekat dan tidak terasa, wajah mereka hanya berjarak beberapa inci lagi. Hikari tidak melawan dan hanya diam. Perlahan tapi pasti, Yamada semakin mendekatkan wajahnya ke Hikari.

“Hey! Mereka sudah pergi!” sahut Taisuke.

“UWAAAAAA!!!!”

Mereka berdua teriak berbarengan ketika Taisuke datang dan mengejutkan mereka.

“Kalian berdua sedang apa?” tanya Taisuke dengan polos.

“Na-Nan demo nai!” ucap mereka secara serempak.

Muka Yamada dan Hikari sama-sama memerah. Yabu yang baru saja datang, segera menghampiri Yamada begitu melihat kejanggalan di wajah Hikari.

“Apa yang kamu lakukan pada Hikari-chan???” tanya Yabu sambil memegang kerah baju Yamada.

“A-Aku tidak melakukan apapun.” jawab Yamada dengan panik.

“Kalau tidak melakukan apapun, mukanya tidak akan seperti itu.” ucap Yabu sambil menunjuk kearah Hikari.

Dan lagi-lagi, Yamada dan Yabu bertengkar karena Hikari, sementara Hikari masih terdiam sambil memegangi pipinya.

“Hikari, siapa yang kamu pilih??” tanya mereka serempak.

Begitu mereka berbalik, mereka sudah tidak melihat Hikari disana. Taisuke membawa Hikari lari menjauh dari mereka berdua.

“MATTEEEE SENPAIII!!!! HIKARI-CHAN KAISITE!!!!”

***

Malamnya Hikari harus perencanaan acara pertunangannya dengan Yabu secara resmi. Hikari datang dengan gaun putih simpel dengan sebuah bando putih dengan pita besar yang menghiasi rambutnya yang terurai. Hikari berjalan menuju balkon restoran itu untuk menghirup udara segar. Dia masih bingung harus memilih untuk bertunangan secara resmi dengan Yabu atau tidak. Disisi lain, Hikari masih menyimpan sedikit rasa suka kepada Yamada.

“Hikari-chan, malam ini kamu cantik sekali.”

Tiba-tiba datang seorang pria yang memeluknya dari belakang. Itu adalah Yabu. Hikari tidak menolak pelukan itu karena ia merasa sangat nyaman berada disisi Yabu.

“Ayo, kita temui Otousan.”

Yabu menggandeng tangan Hikari. Hikari tidak keberatan sedikitpun. Tapi dia belum siap jika harus bertunangan dengan Yabu.

“Hikari-chan, bagaimana? Apa kamu setuju dengan pertunangan ini?” tanya ayah Yabu.

Hikari hanya diam. Dia masih terlalu bingung harus menjawab apa. Tiba-tiba ada seorang pria muncul dari pintu restoran itu.

“Tentu saja dia tidak setuju. Karena Ricchan akan jadi tunanganku.”

Hikari menoleh dan mendapati Yamada sedang berdiri dibelakangnya. Dia terlihat sangat tampan dengan tuxedo hitamnya. Yamada menghampiri Hikari dan memeluknya dari belakang.

“Dia milikku. Dari kecil sampai sekarang, dia tetap akan jadi milikku.” ucap Yamada.

“Eh!!! Mana bisa!!! Aku yang akan jadi tunangannya!!” sangkal Yabu.

“Kamu yang jadi tunangannya, aku yang jadi suaminya.” balas Yamada dengan nada mengejek.

Disela-sela pertengkaran itu, Hikari mendengar ada orang yang memanggilnya dan ternyata itu adalah kakaknya. Kakaknya mengisyaratkan kepada Hikari agar segera kabur. Hikari pun mundur perlahan dan berlari kearah kakaknya. Taisuke pun menyambutnya dan bersiap membawa Hikari pergi.

“Ah!!! Putriku diculik lagi!!!” teriak Yamada.

“Hey!!! Dia bukan putrimu!!! Dia tunanganku.” elak Yabu.

Taisuke segera memanfaatkan kondisi itu untuk segera lari dari tempat itu. Yamada dan Yabu yang baru saja tersadar, langsung segera mengejar Taisuke.

“SENPAIII!!! MATTEEEE!!!! HIKARI-CHAN KAISITEEE!!!”

Hikari dan Taisuke terus berlari sambil terus tertawa melihat tingkah kedua pria itu.

***

Listen…
Dengarkan laguku
Dengarkan lagu yang tulis dengan segenap hatiku
Sebuah lagu untuk saudaraku
Sebuah lagu untuk teman terbaikku
Dan sebuah lagu untuk orang yang aku cintai

OWARI

Advertisements

2 thoughts on “[Oneshot] Listen

  1. fukinyan

    Ceritanya lucu xD hikari nya jadi rebutan XD cuma ending nya gantung, aku jadi penasaran akhirnya hikari pilih siapa :3

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s