[Minichapter] VENUS #1 (Prolog)

Venus
Author : Yotsubakaito
Genre : Friendship, romance
Type : Minichapter
Cast : Hirano Sho | Nagase Ren | Takahashi Kaito | Hirate Chie | Amano Junko | Miyachi Yuri
Disclaimer : All cast belongs to themselves, OC and plot is mine.
selamat membaca ^^
***

Hari menjelang senja. Langit membiaskan warna keemasan yang terasa hangat. Kegiatan SMA Kitagawa telah berhenti beberapa saat yang lalu. Tapi masih ada 3 anak yang sedang bermain melempar bola di lapangan baseball.

“Haaaaaa~~~ rasanya aku ingin mati saja~” ujar seorang laki-laki berambut coklat kekuningan sambil melempar bola baseball ke arah anak laki-laki di depannya.

“He? Kenapa Sho bicara seperti itu?” tanya laki-laki berkulit coklat yang baru saja menerima bola. “Apa ada sesuatu yang terjadi?” dia melempar bolanya ke laki-laki ketiga.

“Dia pusing memikirkan ujian masuk universitas nanti,” laki-laki ketiga menjawab. “Sho kan tidak suka belajar.”

Bola kembali terlempar ke arah laki-laki pertama bernama Sho.

“Begitu ya. Padahal belajar itu menyenangkan kok.” Sahut anak kedua dengan tatapan serius ke arah Sho.

Sho terkejut mendengar penuturan anak itu. Di antara mereka bertiga memang anak itu yang paling rajin belajar. “Ya mau bagaimana lagi, aku tidak seperti Kaito yang menganggap sekolah itu seperti tempat bermain. Semuanya terasa menyenangkan untuk Kaito, kan? Satu-satunya yang kuinginkan sekarang adalah lulus sekolah dan masuk universitas seperti yang diinginkan Ayahku.”

“Kok kedengarannya seperti tertekan sekali ya,” Kaito menatap laki-laki ketiga, “Nah, Ren, pikirkanlah sesuatu untuk menghibur teman kita ini.”

“Apa ya? Mungkin karaoke bisa sedikit menghibur.” Ren memberi saran yang langsung ditanggapi dengan anggukan setuju oleh Kaito.

“Itu tidak akan ada artinya. Kesenangan seperti itu hanya sementara. Aku harus tetap menghadapi ujian sialan itu.” suara Sho terdengar sangat putus asa seolah sudah tidak ada kesempatan baginya untuk bahagia. “Kalian tidak mengerti karena belum merasakan apa yang kurasakan. Kalian berdua kan masih kelas 2.”

“Gomen, kami hanya ingin membantu.” Ren merasa tidak enak. “Terus harus bagaimana dong?”

“Pulang yuk!”

Sho dan Ren saling memandang. Seperti biasa, Kaito selalu berpindah topik di saat yang tidak terduga.

“Sudah hampir gelap. Aku sudah janji pada Ibu akan pulang sebelum makan malam.”

“Dasar anak mami~” ejek Ren sambil berjalan menuju podium penonton untuk mengambil tasnya. Kedua temannya mengikuti.

“Ibuku bilang kita bisa melakukan apapun yang kita sukai dan meninggalkan apapun yang tidak disukai. Jangan selalu memaksakan diri. Kalau merasa tidak sanggup, tinggalkan saja.” Kaito memandang Sho sambil tersenyum dengan caranya yang khas.

Sho memakai kembali seragam sekolahnya yang dia lepas sebelum bermain tadi, “Kurasa masalahnya tidak semudah itu. Meskipun aku tidak menyukai ujian itu, Ayah akan terus mendesak agar aku kuliah di sana. Ayah begitu bersemangat memasukkanku ke Meiji. Apa dia tidak tahu kemampuan anaknya sendiri? Tidak dapat nilai di bawah 50 saja sudah beruntung sekali, kan?”

Ren menahan tawanya di belakang Sho.

Ponsel Kaito berdering di dalam saku blazernya. Kaito membuka ponselnya lalu tersenyum. “Pulang sekarang yuk! Ibuku membuat dessert strawberry cake.”

“Kau ini benar-benar anak Ibumu ya.” Sho tertawa.

“Hahahahahahahha.” Ren juga sudah tidak bisa lagi menahan tawanya.

Meskipun ditertawakan, Kaito tidak marah. Setidaknya itu bisa sedikit mengurangi rasa galau seorang Hirano Sho.

Mereka berjalan berbarengan keluar sekolah dan mengambil jalur ke arah kiri menuju stasiun. Meskipun sekolah mereka terletak di Nakano, tidak ada satupun dari mereka yang tinggal di distik itu. Sho tinggal di Nogizaka, Ren di Nerima sementara Kaito di Suginami.

“Ngomong-ngomong, 2 hari lagi kelas 2 akan field trip kan?” tanya Sho di tengah perjalanan menuju stasiun.

“Un~ rasanya gak sabar deh!”

“Kaito selalu bersemangat setiap kita jalan-jalan.” Ren berkomentar.

“Apa kubilang tadi, Kaito menganggap sekolah itu tempat bermain yang semuanya terasa menyenangkan.” Ujar Sho.

“Tapi aku juga menantikannya loh,” sahut Ren. “Trip kali ini akan berbeda. Kita akan pergi ke wilayah paling utara di Jepang.”

“Sapporoooo, matte neee~~~” Kaito bersemangat sekali dengan perjalanan mereka kali ini.

Sementara itu Sho terlihat semakin sedih. “Kalau kalian berdua ke Sapporo, aku dengan siapa?”

“Ikutlah dengan kami!” ajak Kaito. “Pasti akan jadi perjalanan yang menyenangkan. Kita bertiga kan belum pernah ke Sapporo bertiga.”

“Tidak,” Ren menyahut cepat-cepat. “Sho harus tetap di sini agar dia bisa berkonsetrasi dengan pelajarannya. Kalau tidak sekarang mulainya, kapan lagi, kan?”

Kaito mengangguk kecil. “Benar juga ya~ Tapi, Sho, meskipun kau tidak ikut dengan kami, kami tidak akan melupakanmu. Pulang nanti aku bawakan oleh-oleh khas Sapporo. Tapi apa ya?”

“Aku dengar gadis-gadis di sana cantik-cantik. Bawakan ak—,”

BLETAK!

Satu jitakan dari Ren mendarat di kepala Sho.

“Itteeeeeeee~~~ Ren hidoiii!”

“Jangan pikirkan perempuan dulu. Ingat, fokus utamamu adalah belajar agar bisa lolos ujian masuk Universitas.”

Meskipun berusia lebih muda darinya, Sho menganggap ucapan Ren adalah nasehat yang harus diterima dan disimpan dalam hati. Di antara mereka bertiga, Ren adalah yang pemikiran dan tingkahnya paling dewasa.

Melihat cara Ren menasehati Sho yang menurutnya sangat keren, Kaito ikut-ikutan menambahkan, “Aku akan pergi ke kuil paling besar di Sapporo dan berdoa agar Sho bisa lulus ujian.”

“Terakhir kali kita ke kuil kau malah berdoa dengan cara yang aneh.” Ujar Ren sarkatis.

Kaito hanya bisa cengengesan.

Sementara itu, mereka sudah sampai di stasiun. Seperti biasanya, Kaito membeli tiket sekaligus untuk mereka bertiga. Ren dan Sho menunggu di depan vending machine setelah membeli 3 botol ocha.

“Harga tiket naik 50 yen hari ini. Kalian berhutang padaku.” Ujar Kaito saat memberikan lembaran tiket pada kedua temannya.

Ketiganya masuk ke stasiun setelah melewati palang khusus dan langsung berbaur dalam antrian penumpang yang mengantri untuk masuk ke dalam kereta.

Sho yang berdiri paling depan di antara teman-temannya tiba-tiba merasa tertarik dengan pemandangan di antrian gerbong sebelah. Sepasang anak laki-laki dan perempuan berseragam SMA sedang berada dalam percakapan yang menyenangkan. Si gadis beberapa tertawa cekikikan setelah si anak laki-laki menceritakan sesuatu.

“Sho, apa yang kau lihat?” tanya Kaito yang mengikuti arah pandangan Sho.

“Kaito, mereka berdua apa terlihat bahagia?” Sho balik bertanya.

Kaito menggerakkan kepalanya seolah sedang berpikir dalam pengamatannya. “Sepertinya iya.”

“Memangnya kenapa kalau mereka terlihat bahagia?” Ren tiba-tiba masuk dalam percakapan itu.

Tatapan Sho masih tidak lepas dari pemandangan di depan mereka. “Kalau aku punya pacar sepertinya aku juga akan bahagia.”

“HAAAHHH??!!”

Suara Ren dan Kaito yang agak besar mengangetkan penumpang yang ada di sana, termasuk pasangan yang tadi mereka perhatikan. Mereka berdua menundukkan kepala karena malu.

“Semua ini karena Sho.” Ren berbisik.

“Hah? Kenapa aku?”

“Ucapanmu tadi mengagetkan sekali,” sahut Ren masih berbisik. “Bagaimana bisa kau mengatakan itu? Apa ada seorang gadis yang kau sukai?”

Sho menggeleng. “Aku hanya sekedar bicara. Memangnya tidak boleh?”

“Bukan begitu, ta—,”

“Bagaimana kalau kita taruhan?!” Kaito menyela Ren tiba-tiba.

“HAAAAHHHH??!!”

Kejadian yang sama terulang lagi.

“Kaito bicara apasih?” Ren sama sekali tidak mengerti.

“Iya, aku juga tidak mengerti sama sekali apa yang kau bicarakan.” Tambah Sho.

Alih-alih menjawab, Kaito menatap kedua temannya sambil tersenyum. Setelah beberapa saat diapun menjawab, “Karena Sho sepertinya bersemangat dengan pacaran, bagaimana kalau kita taruhan. Selama kami di Sapporo, Sho harus mencari seorang gadis yang bersedia dijadikan pacar. Dan saat kami kembali, Sho harus mengenalkannya pada kami. Kalau Sho gagal mendapatkan gadis itu maka akan ada sanksi.”

“Apa sanksinya?” tanya Sho yang merasa tertantang.

“Belum kupikirkan. Pokoknya, kalau Sho merasa keren, cari saja gadis itu. Bagaimana?”

“Taruhan macam apa itu?” Ren tertawa sendiri.

“Bagaimana?” tanya Kaito lagi.

Merasa dirinya yang tampan bisa mendapatkan gadis dalam waktu cepat, Sho mengiyakan tanpa membuang waktu. “Siapa takut.”

Bersamaan dengan itu pintu kereta yang mereka tunggu akhirnya terbuka. Mereka bertiga pun masuk ke sana bersama antrian yang lain.

 

TO BE CONTINUED…..

Advertisements

9 thoughts on “[Minichapter] VENUS #1 (Prolog)

  1. magentaclover

    Uwahhhhh suka ceritanya ringan dan minya dibaca terus *mau langsung ada lanjutannya/plak* Kaito manis banget, tapi kusuka Ren *dorrr*

    Semangat nulisnya author xD

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s