[Oneshot] Daisuki desu, Yuto onii-san

Daisuki Desu, Yuto onii-san
By. Matsuyama Retha
Type: Oneshot
Rating : PG-16
Genre: Romance, Fluff
Cast:
Nakajima Yuto (Hey! Say! JUMP!)
Gek Vira as Yaotome Yura (OC) [Hikaru’s young sister]
Yaotome Hikaru (Hey! Say! JUMP!)
Saito Yuri (OC)
Disclaimer    :
Just have a story :”D
This is Yaotome Yura’s POV
Mendadak dapet ide ini dan capcus bikin sampe End 😀 maaf ya buat dek Vira kalau FF nya jelek dan ga sesuai harapan :’D
Happy reading and enjoy it!!

Lagi-lagi aku menemuinya …

Dialah pria idamanku. Pria yang kusukai …

Rambutnya yang cukup panjang –melebihi batas rambut pria ideal- wajahnya yang lucu dan juga tubuh yang tinggi, telah menyita pandanganku untuk terus memandangnya.

Dari kejauhan …

Benarkah dia yang akan dijodohkan oleh orang tuaku? Benarkah dia teman dekat Hika-nii? Benarkah itu semua?

Tapi, aku merasa ia tak mengenalku. Bahkan kami jarang sekali komunikasi. Ia memang terkenal di Universitas-ku dan banyak yang menyukai sosoknya itu. Tapi, dia sama sekali tak tahu diriku.

Ingin sekali dekat dengannya. Mengenalnya lebih jauh lagi, tapi … itu mustahil.

Mengapa mustahil? Ia sudah mempunyai pacar disana. Pacarnya pun tak kalah tenarnya dengan pria yang kusukai itu. Hanya saja, gadis itu memiliki sifat memaksakan kehendak dan hal-hal buruk lainnya. Tapi aku tak tahu mengapa pria yang kusukai itu menjadi pacarnya gadis itu. Sebut saja nama gadis itu Saito Yuri.

Sakit hati memang, tapi jika dibandingkan denganku, akulah tipe yang cocok untuk pria yang kusukai itu. Sayangnya, dia tak mengenalku. Hanya mengenal Hika-nii.

Aku Yaotome Yura, adik perempuan sekaligus adik kesayangan kakak-ku, Yaotome Hikaru. Kata Hika-nii, aku adalah gadis termanis yang pernah ia temui. Sempat ia berkata padaku andai saja aku bukanlah adik Hika-nii, mungkin aku sudah menjadi pacar Hika-nii. Memang menggelikan sekali.

Sosok pria yang kusuka saat ini adalah Nakajima Yuto. Dia teman dekat Hika-nii. Bisa dikatakan kalau Yuto-niisan seumuran dengan Hika-nii. Usia-ku dengan mereka berdua terpaut 2 tahun, jadi wajar saja kalau aku menyukai seseorang yang lebih tua dariku.

Akhir-akhir ini, aku selalu memikirkan Yuto-niisan. Ternyata sosoknya itu manis, ramah, baik hati, dan aku rasa tidak sombong juga. Dia tipe orang yang mudah bergaul dengan siapapun yang dalam kata kutip kalau siapapun itu tidak merugikannya. Benar-benar luar biasa.

Sejujurnya, aku sudah membahas masalah ini dengan Hika-nii dan berkata padanya untuk tidak memberitahu masalah ini pada Yuto-nii. Aku takut malah dia jadi tidak suka dan pada akhirnya aku tidak bisa melihatnya dari kejauhan saat di kampus.

“Sampai kapan kau terus menyembunyikan perasaanmu, Yura-chan ?” Hika-nii terus saja bertanya seperti itu. Bahkan aku pun juga menjawab yang sama seperti biasa, “Belum waktunya, Hika-nii. Bahkan kita belum saling mengenal.”

Hika-nii selalu gemas terhadapku ketika ia mendapatkan jawaban dariku yang tidak sesuai dengan hatinya. Memang benar, belum saatnya dan juga diantara aku dan Yuto-niisan belum saling mengenal. Sudah berkali-kali Hika-nii memaksaku untuk berkenalan dengan Yuto-nii, tapi aku selalu menolak dengan alasan aku takut kalau dia akan marah atau lainnya.

Hal yang tidak kusadari, ketika orang tua-ku mengatakan bahwa …

“Yura-chan, kau tahu Nakajima Yuto?”

“Eh? Ano, aku tahu Ma. Memangnya ada apa?”

“Kau akan dijodohkan dengannya, Yura-chan.”

“Hee? Hontou desu ka ?”

Bahwa aku akan di jodohkan dengan Nakajima Yuto. Ya, dialah pria yang kusuka saat ini. Dialah yang telah menyita pandangan mataku dari pria yang lain. Aku tak menyangka bisa jatuh cinta padanya.

Aku mengenalnya ketika Yuto-niisan berkunjung kerumahku. Tentunya bukan untuk menemuiku, melainkan kakakku. Hika-nii. Yuto-niisan sering sekali berkunjung kerumahku untuk menemui Hika-nii. Sekadar mengobrol, bergosip ria, terkadang tertawa bersama.

Diam-diam aku memperhatikannya saat itu. Sosoknya benar-benar ceria dan juga ramah. Doki-doki desu

Tapi saat itu, ketika aku mencuri dengar pembicaraan mereka, ada satu hal yang membuatku terkejut …

Sebenarnya, aku sudah berpacaran dengan Saito Yuri-san, Hikachan. Tapi, aku tidak menganggap serius hal ini karena pada dasarnya aku tidak suka dengan sosoknya yang buruk itu.

Lalu, kenapa kau menerimanya, Yuto?

Dia terlalu memaksaku. Padahal aku sudah berbohong padanya kalau aku punya pacar. Tapi, dia tetap tidak percaya. Haaa~

Saito Yuri adalah teman seusiaku sejak di bangku SMP. Memang kami tidak kenal dekat, tapi sifatnya yang selalu buruk (menurut orang-orang disekitarnya) itu dan juga didukung oleh perbuatannya telah membuatku cukup mengerti tanpa perlu mengenalnya lebih dekat. Mendengar percakapan Hika-nii dan juga Yuto-niisan membuatku sebal. Bagaimana tidak? Yang dibahas selalu Saito Yuri. Memang cantik, tapi hatinya tidak!!

Tapi, tidak selamanya aku sebal. Ada waktu dikala aku ingin mengharapkan Yuto-niisan. Semua selalu saja tentang dia. Bahkan ketika Yuto-niisan sudah kembali pulang, aku selalu banyak bertanya pada Hika-nii tentang Yuto-niisan. Tak sedikitpun info berceceran jika Hika-nii yang mengatakannya.

Setelah itu, Hika-nii selalu saja bertanya padaku tentang hal yang sama seperti biasa, “Kapan kau akan mengatakannya, Yura-chan ?” dan selalu aku jawab, “Kami belum saling mengenal dan juga aku takut dia akan marah, Hika-nii.”

Dalam hatiku, sebenarnya aku ingin sekali mengatakannya pada Yuto-niisan. Tapi, aku belum siap dan juga aku takut kalau Yuto-niisan marah dan membenciku. Lebih baik diam daripada aku dikatakan wanita tidak tahu diri.

Masalah curahan hatiku ini tidak hanya kubicarakan pada Hika-nii saja, melainkan sahabatku juga, Fujigaya Reya. Dia termasuk beruntung mempunyai pacar bernama Okamoto Keito itu. Pria yang seperti mempunyai blasteran antara Jepang-Inggris. Pengalaman-pengalaman mereka pun diceritakan padaku. Sesekali mereka tersenyum malu sambil menundukkan kepala. Aku melihatnya hanya tertawa pelan karena perilaku mereka lucu sekali.

“Kalau kau benar-benar menyukainya, setidaknya jangan takut untuk mengatakannya, Yura-chan.” begitulah saran dari Reya padaku.

Namun, aku hanya menunjukkan ekspresi lesu dan berkata, “Aku takut kalau dia marah nantinya.” Beberapa saat kemudian aku dapat mendengar suara tawa Keito-san dan juga Reya-chan. hal itu sedikit membuatku menautkan kedua alisku. Menatap mereka heran.

“Hei, mana mungkin Yuto akan marah padamu? Kau tahu sendiri kalau dia itu tipe anak ramah, kan?” ucap Keito-san tanpa menghentikan tawanya. Begitu pula dengan Reya-chan yang hanya menganggukkan kepalanya sambil tertawa.

Aku hanya mengerucutkan bibirku, merasa sebal. Namun disisi lain, lucu juga ternyata aku ini.

“Yura-chan, kalau kau mau mendaftar jadi pelawak, pasti diterima. Hahaha!! Mana mungkin orang yang sedang menyatakan rasa sukanya itu akan mendapat amarah langsung dari orang itu. Justru aku malah mengira kalau Yuto-senpai itu merasa beruntung. Hahaha! Lagipula kau cantik dan baik hati, Yura-chan.”

Yuto-niisan merasa beruntung jika dirinya tahu kalau aku menyukainya? Benarkah?

“Tapi, apa itu …”

“Tentu saja. Apa perlu kalian berkenalan dulu? Lagipula Yuto-senpai itu teman dekat Keito-kun juga. Bagaimana?”

“A-aku …”

“Sudahlah, jangan takut ya. Mulai besok aku akan mengenalkanmu dengan Yuto.”

Oh, ya ampun. Benarkah mereka akan memperkenalkan Yuto-niisan padaku? Sebenarnya aku merasa senang bisa dibantu, tapi … aku takut.

Masalah perkenalan ini pun aku ceritakan pada Hika-nii. Namun, aku hanya mendapat respon berupa tawa darinya. Hal itu cukup membuatku memutar bola mataku dengan bosan. Lagi-lagi di ketawa’in sama Hika-nii. Menyebalkan!!

.

.

Sang Raja pagi pun kini telah menampakkan dirinya di ufuk timur. Memberikan sinar yang hangat di pagi musim semi ini. Membangunkan semangat penduduk Tokyo untuk beraktifitas seperti layaknya setiap harinya. Hari ini aku mendapat jadwal pagi ke Universitas Tokyo. Sejujurnya, aku sedang bosan dan lelah. Lagipula dosen yang mengajar hari itu adalah dosen killer semua.

Tapi, aku pun tetap bersemangat karena setiap kali aku di kampus, aku dapat melihat Yuto-niisan. Meskipun aku melihatnya dari kejauhan.

Ittekimasu !!”

Itterashai. Berhati-hatilah ketika melewati jalanan seperti biasa kita lewati itu ya, Yura-chan.” setelah selesai sarapan, aku langsung berpamitan dan berangkat menuju kampus dengan perasaan was-was.

Biasanya aku selalu pergi dengan Hika-nii, tapi khusus hari ini tidak. Hika-nii mendapat jadwal siang hari. Jadi aku berangkat sendirian.

Jalanan yang kulewati rawan sekali terhadap tindakan kriminal. Sayangnya, tak ada jalan lain selain lewat jalanan itu. Setiap berangkat ke kampus bersama Hika-nii cukup membuatku was-was, terlebih jika tidak ada dia, aku lebih was-was lagi. Semoga saja tidak terjadi apapun seperti saat bersama Hika-nii. Tapi …

BRRAKKK

Tiba-tiba saja aku terjatuh ketika seseorang dari belakang mendorongku. Dan aku merasakan bahwa ada yang ganjal. Masaka …

“PENCURI !!!” teriakku kemudian ketika aku sadar kalau tas yang biasa kubawa ke kampus itu dicuri oleh orang yang menabrakku.

“TOLONG !! ADA PENCURI !!” aku kembali berteriak meminta tolong sembari berlari mengejar orang itu.

Langkahnya benar-benar cepat sekali. Bahkan aku tidak kuat kalau harus berlari secpeat itu agar bisa menyamakan posisiku dengan orang itu. Inilah salah satu kelemahanku, fisikku benar-benar lemah. Berlari saja aku tidak tahan, walau cuma jarak pendek.

Siapapun tolong …

JDUAK …

“Heh kau!! Jangan hanya berani dengan perempuan!! Bila perlu lawan aku!!”

Tiba-tiba saja pencuri itu jatuh tersungkur akibat pukulan dari seorang pria bertubuh tinggi. Kedua tangan pria itu mengepal dan bersiap untuk menghajar pencuri itu. Pria itu … pria itu …

“Yuto-niisan ?? Maji desu ka ?”

Mengejutkan sekali, pria berpostur tubuh tinggi itu adalah Yuto-niisan. Pria yang kusukai saat ini. Ah, beruntungnya ketika Yuto-niisan jadi pahlawanku

Kini Yuto-niisan mulai berkelahi dengan pencuri itu. Tujuan Yuto-niisan adalah mengambil tas-ku yang telah dicuri oleh pencuri itu. Sudah kupastikan Yuto-niisan tidak tahu kalau aku adalah pemiliknya. “Bagaimana ini? aku tidak bisa berbuat apapun untuk membantu Yuto-niisan.”

Tanpa kusadari, Yuto-niisan mengulurkan tangannya yang membawa sebuah tas milikku. Sontak hal itu membuatku kaget. “Ini, milikmu Nona?” tanyanya padaku sembari tersenyum manis. Aku hanya terpaku melihatnya karena jarak wajah kami lumayan dekat. ‘Kawaii

“Eh? Kawaii ? dare ?

Astaga!! Tanpa sadar aku menggumam kata kawaii dihadapan Yuto-niisan. Gawat bagaimana ini?

“Ah, ma-maaf. Ano, terima kasih sudah menolongku.” Kataku kemudian sembari mencoba untuk tidak salah tingkah. “Iie yo. Kenapa kau cuma sendirian disini?” tanyanya padaku.

“Ah, itu … biasanya aku pergi bersama kakakku ke kampus. Tapi, berhubung dia ada jadwal siang sementara aku ada jadwal pagi, jadinya aku berangkat sendirian.”

“Ah, kau mahasiswa juga ya. Mahasiswa dari mana, gadis manis?”

Apa? Ga-gadis manis? Kyaaaahhh aku dipuji oleh Yuto-niisan !!!

“Universitas Tokyo.” Ucapku secara singkat. Aku tak yakin kalau wajahku seperti kepiting rebus saat ini. “Eh? Universitas Tokyo? Wah, sama juga!! Ah iya, kenalkan aku Nakajima Yuto. Namae wa ?”

Aku sudah tahu namamu, Yuto-niisan. Bahkan saat ini aku menyukaimu … mungkin aku juga mecintaimu …

“Yaotome Yura desu.” Ucapku yang menyebutkan namaku.

Yoroshiku onegaishimasu, Yura-san.”

Yoroshiku onegaishimasu. Maaf merepotkanmu, Nakajima-san.” ucapku yang terpaksa menyebut nama marganya. Jika aku memanggil Yuto-niisan, pasti dia akan curiga.

Iie yo. Panggil saja Yuto, Yura-san. Saa, daripada terjadi kasus pencurian lagi, bagaimana kalau kita berangkat bersama?”

Aku hanya melongo ketika sekilas mendengar ucapan dari Yuto-niisan. Mengajak pergi bersama? Apa aku bermimpi sekarang?

“Yura-san ? daijoubu ?”

“Ah, un. Daijoubu desu.”

Sa, ikou !!”

Kalau aku sedang bermimpi sekarang, kenapa aku dapat merasakan sakitnya tanganku ketika di genggam erat sekali oleh Yuto-niisan ? Yaa .. aku yakin sekali kalau ini bukan mimpi. Berkenalan dengan Yuto-niisan sekaligus.

Arigatou, Kami-sama ….

.

.

Akhirnya bisa pulang juga. Saat ini waktu menunjukkan jam 3 sore. Kegiatan di kampus tadi benar-benar menguras tenaga dan pikiranku. Namun itu tidak jadi masalah jika aku memikirkan kejadian beberapa jam yang lalu ketika tas milikku dicuri oleh pencuri dan pada saat itu juga aku bertemu Yuto-niisan yang menjadi pahlawanku.

Ah, aku berhutang budi padanya …

Ketika aku sudah sampai dirumah, ingin sekali bisa cepat-cepat cerita dengan Hika-nii tentang kejadian saat aku berangkat menuju ke kampus. Namun, ketika aku sudah sampai dirumah …

Tadaima … Ah, Shinju-neesan.”

Mengejutkan sekali. Pacar Hika-nii tiba-tiba saja berkunjung ke rumahku. Namanya Rururin Shinju. Dia termasuk cantik dan juga baik hati. Aku bahkan menyukai sosoknya itu. Tak salah jika Hika-nii memilih Shinju-neesan menjadi pacarnya, terlebih menjadi istrinya kelak di kemudian hari.

“Ah, Yura-chan. Hisashiburi.” Ucapnya dan tersenyum padaku. Kawaii

Ne, sejak kapan Shinju-neesan kembali dari London?”

“Baru kemarin, Yura-chan. Oh iya, aku ada oleh-oleh untukmu.”

Uwaa … kawaii …

Mengapa aku berkata kawaii ? Karena aku diberi sebuah boneka jerapah yang lucu sekali. Ya, kebetulan aku memang suka hewan jerapah karena tubuhnya tinggi dan juga wajah jerapah itu imut. Bahkan aku juga menganggap …

“Kau suka? Bahkan kau juga mengatakan Yuto-san itu mirip seperti jerapah.” Perkataan dari Shinju-neesan membuatku kaget.

Ya, memang benar. Aku menganggap Yuto-niisan itu seperti jerapah karena postur tubuhnya yang tinggi itu dan lehernya yang jenjang itu. Benar-benar pria top.

“Hahaha!! Neesan tahu saja.” Aku hanya tersenyum malu sembari menyembunyikan wajahku.

Ne, tadi kau kelihatan ceria sekali, memangnya ada apa?” tiba-tiba saja Hika-nii mulai bersuara setelah beberapa saat yang lalu terdiam. “Ano, sebenarnya aku sedang bahagia.”

“Eh? Bahagia? Cerita dong!!”

Lagi-lagi aku tersenyum malu. Mau tak mau aku juga harus cerita sama Hika-nii dan juga Shinju-neesan. Aku pun mulai bercerita yang berawal saat tas milikku di curi oleh seorang pencuri yang tiba-tiba menubrukku dari belakang. Lalu aku berusaha berteriak meminta tolong sembari mengejar pencuri itu. Namun, ada orang yang tiba-tiba menghajar pencuri itu sampai babak belur dan orang itu adalah Yuto-niisan sendiri. Dan di akhir cerita yang sangat mengejutkan, ia mengajakku pergi ke kampus bersama.

Kembali membayangkan hal itu membuatku doki-doki.

“Aa~ Begitu rupanya. Berarti tidak perlu di kenalkan dong?”

“Berarti juga, Yura-chan sudah tidak perlu bantuan kita-kita untuk menguntit Yuto lagi dong. Hahaha!!”

“Ah, Niisan !! Neesan !! jangan membuatku malu!!”

“Hahaha!!”

Duh … mereka benar-benar serasi. Sama-sama menggodaku. Memang menyebalkan, tapi tidak seru kalau tidak menyebalkan. Hahaha. Tapi, bukan berarti aku tidak butuh bantuan lagi, justru aku lebih banyak membutuhkan bantuan karena aku dan Yuto-niisan baru saja saling mengenal.

.

.

Hari demi hari terus berlalu. Kini aku semakin akrab dengan Yuto-niisan. Baru saja kemarin Yuto-niisan memutuskan hubungannya dengan Saito Yuri. Bahkan dia sempat mencari masalah denganku dan menyalahkanku bahwa aku adalah penyebab hubungan Saito Yuri dengan Yuto-niisan berantakan.

Tapi, hal yang mengejutkan, Yuto-niisan selalu berpihak padaku. Selalu membelaku dan membenarkanku. Yaa .. melegakan juga karena selama itu aku terus ditikam oleh Saito Yuri. Bahkan aku sempat berpikir kalau inilah peluangku supaya bisa semakin dekat dengan Yuto-niisan.

Selama ini aku dan Yuto-niisan sering berkomunikasi juga. Seringnya mengirim email. Kalau menelepon hanya sesekali saja jika masih ada banyak pulsa. Hahaha.

Ingin rasanya mengungkapkan seluruh perasaanku pada Yuto-niisan. Aku ingin dia tahu perasaanku yang sebenarnya. Sangat .. sangat mencintainya …

Tapi, akankah dia marah? Entahlah …

“Yura-chan, cepat bersiap-siap.”

“Eh? Siap-siap untuk apa, Ma?”

“Sebentar lagi kita akan menemui keluarga Nakajima.”

“Heee ?? Ah, baiklah.”

“Dandan yang cantik ya, Yura-chan.”

Keluarga Nakajima? Keluarga Yuto-niisan ? ah entahlah. Saat ini Cuma bisa menuruti perkataan Mama barusan. Segera saja aku langsung masuk kamar mandi untuk membersihkan diri dan tentunya mempersiapkan diri juga.

10 menit berlalu, kini aku sudah selesai mandi. Segera saja aku mencari pakaian yang cocok dan juga sederhana. Ketika aku memilah-milah baju di lemari, salah satu baju kini menyita pandanganku untuk melihatnya. Baju yang diberikan oleh Yuto-niisan.

Tipe baju itu simple, berwarna kuning cerah seperti kulit jerapah, dan juga terdapat gambar bunga kecil di sekitar baju itu. Modelnya lengan pendek, panjangnya selutut, dan bentuk kancingnya seperti model-model baju di China. Benar-benar cantik.

 Aku akan memakai baju ini

.

“Ah, pasti Yura-chan cantik sekali.”

“Dan tentunya manis.”

“Ah, kalian terlalu memuji.”

Sebelum menuruni tangga, sekilas aku mendengar percakapaan 4 orang di ruang tamu. Tak lain 2 orang diantaranya adalah orang tuaku. Mungkin 2 orang yang lain adalah Keluarga Nakajima. Sembari sibuk dengan pemikiranku, aku pun mulai menuruni tangga dan menuju ke ruang tamu.

“Nah, itu dia.” Kata Papa-ku sembari menunjuk kearahku. Aku hanya mengangguk pelan dan tersenyum kecil.

“Benar dugaanku, ternyata anakmu cantik sekali Yuka-san.”

“Ah, kau bisa saja Rika-san.”

Dapat ku dengar bahwa wanita itu memujiku. Yaa, aku sangat berterima kasih sekali bisa dipuji seperti itu. Tapi, aku tetap merasa bahwa wajahku biasa saja. Namun, tiba-tiba saja aku merasakan hal yang mengganjal …

“Ah, kalau kau mau bertemu dengan anak kami, ia ada didepan. Maaf tidak mengajaknya masuk karena dia sedang malu saat ini. Hahaha!!”

“Temui dia, Yura-chan.” ujar Mama yang menyuruhku untuk menemui seseorang di depan. Huh, benar-benar aneh. Seharusnya pria yang mendatangi wanita. Bukan sebaliknya.

Namun rasa ingin tahuku akan siapa orang itu telah melenyapkan rasa sebalku. Sebenarnya siapa orang itu?

Kakiku kini terus melangkah demi mencari sosok orang yang dimaksud. Tujuan utamaku menuju ke taman belakang rumahku. Biasanya disanalah tempat orang yang sedang menunggu salah satu keluarga kami. Bisa dikatakan tempat favorit.

Tak lama pula aku sudah tiba di taman belakang. Pandangan mataku terus menelusuri disetiap sudut taman. Mencari seseorang … dan …

Tepat di dekat air mancur, ada seorang pria bertubuh tinggi sedang melihat kearah air mancur. Pria itu membelakangiku saat ini, jadi ia tak sadar akan kehadiranku.

Chotto … kenapa pria ini sama persis seperti ….

Ano …” tubuh pria itu mulai bergetar seperti orang kaget. Ya maklum saja karena aku mendadak mengagetkannya.

Namun posisinya tetap disana dan tidak berbalik sama sekali. Hal itu cukup membuatku bingung. Sebenarnya siapa dia? Kenapa sama persis seperti …

“Yura-chan …”

Masaka ? Suara ini … aku sangat mengenalinya …

Dan postur tubuhnya itu aku juga sangat mengenalinya. Tapi … apa benar dugaanku ?

Hai ? anata wa dare ?” bersamaan dengan pertanyaanku, pria itu kini membalikkan tubuhnya yang tinggi sehingga secara perlahan namun pasti sosoknya diketahui. Dan …

Konbanwa, Yura-chan.”

“Y-Yuto-niisan ? K-kau …”

“Maaf kalau membuatmu kaget, Yura-chan.”

Ya Tuhan! Dugaanku benar adanya. Ternyata dia adalah Yuto-niisan. Pria yang sangat kusukai sekaligus kucintai ini. Tak kusangka bahwa dia akan menemuiku.

“Tujuanku kesini untuk …”

Daisuki desu, Yuto-niisan.”

“Eh?”

Anata wa daisuki desu !!”

Baiklah. Saat ini aku sudah menyatakan perasaanku pada Yuto-niisan. Sungguh, aku tidak bisa menahan perasaanku lebih lama. Aku sudah terlalu jatuh cinta padanya saat pandangan pertama. Tak bisa kupungkiri kalau aku terlambat mengakui perasaanku pada Yuto-niisan.

Baka !”

“Eh?”

“Yura-chan wa baka ! Aku juga ingin mengatakan hal itu, Yura-chan.”

“Ah, Hee? Hontou ni desu ka ?”

Un. Ternyata aku menyukaimu sejak pandangan pertama.”

“Eh? Ba-bagaimana bisa?”

“Aku menyukaimu saat menolongmu membasmi pencuri yang mencuri tasmu. Hahaha!”

Aku hanya bisa tersenyum malu mengingat kejadian itu benar-benar mengesankan buatku.

“Lalu, sejak kapan kau menyukaiku, Yura-chan ?”

Etto, sejak .. sejak ..”

“Chuu~”

Aku yakin mataku saat ini membulat sempurna. Bagaimana tidak? Tiba-tiba saja aku mendapat first kiss dari Yuto-niisan. Ciuman yang benar-benar lembut. Seakan-akan tidak ada kebohongan apalagi keterpaksaan disana. Ya, aku bisa merasakannya. Merasakan ketulusan dari Yuto-niisan.

“Aku tidak peduli sejak kapan kau menyukaiku. Terpenting, perasaanku terbalaskan. Haha!”

Arigatou ne, Yuto-niisan.”

“Karena kau resmi menjadi pacarku, sekarang panggil aku Yuto-kun.”

Un.”

Kini, perasaanku benar-benar terbalaskan. Selama ini aku selalu mengira jika aku mengungkapkan seluruh perasaan sukaku pada Yuto-niisan –eh- maksudku Yuto-kun, akan marah dan tidak mau berteman denganku lagi.

Namun kali ini aku salah besar. Ternyata Yuto-kun juga menyukaiku. Benar-benar bahagia jika seseorang yang kau cintai itu juga mencintaimu. Hidup serasa bahagia selalu …

Kuharap … bisa terus seperti ini …

-THE END-

Advertisements

3 thoughts on “[Oneshot] Daisuki desu, Yuto onii-san

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s