[Oneshot] A Battle Of Love

A Battle of Love
by. Matsuyama Retha
Type: Oneshot
Genre: Romance, Fluff, (Little bit) Violence
Rated: NC-16
Fandom: Johnny’s Jr. and 48Family
Cast:
Abe Aran (Johnny’s Jr.)
Author as Matsumoto Rinne (OC)
Meguro Ren (Johnny’s Jr.)
Iwahashi Genki (Johnny’s Jr.)
Ayu Ratna Dewi Utami as Takahashi Yuri
Takuya Mizuno as Matsumoto Mizuno (OC)
Murashige Anna (HKT48) ß \(OAO\)

Disclaimer :
Just have a story and also Abe Aran XDDv
This FF special for Abe Aran birthday at August, 30th 2014 (17 years old) XDv

Flash Back 1 Year Ago~

Angin sepoi-sepoi kini melanda daerah Hokkaido. Lebih tepatnya pada sebuah daerah yang cukup ramai pengunjung. Terlebih untuk kedua manusia ini. Aran dan Rinne.

Keduanya saling menyukai satu dengan lainnya. Saling mengerti, percaya, dan hal-hal lainnya. Itulah yang membuat sepasang kekasih ini merasa dirinya sendiri paling beruntung di dunia.

Suatu hari …

“Rinne-chan, aku mau pergi belanja. Kau mau ikut?” Aran pun menghampiri Rinne yang saat ini menjadi sekretaris di kantor perusahaannya. Saat ini Aran telah menjadi direktur sebuah perusahaan ternama di Jepang. 

Maklumlah, saat ini dia menggantikan ayahnya yang saat ini bekerja di luar negeri.

“Tentu saja.” Jawab Rinne dengan senyuman khas-nya. Sesekali membuat Aran tersipu. “Lain kali kalau tersenyum jangan membuatku tersipu, sayang.” Aran pun memalingkan wajahnya kearah lain. Melihatnya telah membuat Rinne tertawa. Tingkah laku Aran lucu sekali.

“Haha. Lagipula senyumku hanya untukmu saja, Aran-kun.” jawab Rinne dan bangkit dari kursi dan berjalan menghampiri Aran yang saat ini membelakanginya. 

Rinne pun memeluk Aran dari belakang. “Anata wa aishiteru yo.” Bisik Rinne dengan lembut. Aran berbalik dan langsung memeluk Rinne. “Boku mo anata wa aishiteru yo.” Kini Aran mengangkat dagu Rinne sehingga secara otomatis kepalanya terangkat dan salinglah mereka beradu manik mata.

Tanpa diragukan, Aran pun mencium bibir Rinne dengan lembut dan langsung dibalas oleh Rinne sendiri.

.

.

Jum’at malam, daerah Hokkaido benar-benar ramai pengunjung. Mall, supermarket, kedai-kedai, dan berbagai macam arena permainan pun tiada satupun tanpa pengunjung.

Aran dan Rinne, tangan mereka saling bertautan. Menyusuri tiap jalanan Hokkaido yang penuh dengan gedung-gedung besar, tak lain adalah Mall.

Kedua insan ini saling tertawa dan saling bercerita. Terkadang mereka saling memuji juga. Terlihat dalam diri mereka sebuah kebahagiaan.

Pasangan yang pada akhirnya naik di pelaminan …

“Aku ingin membeli sesuatu di toko perhiasan. Tidak apa-apa?” Aran pun menyampaikan pendapatnya pada Rinne jikalau ia ingin pergi ke toko perhiasan.

“Itu terserah padamu. Aku hanya menemanimu, Aran-kun.” jawab Rinne dan tersenyum untuk kesekian kalinya terhadap Aran. “Mulai sekarang, panggil aku Naru-chan.” bisik Aran dan setelahnya meraih pergelangan tangan Rinne dan segera membawanya masuk ke dalam toko perhiasan.

  

15 menit pun berlalu setelah sepasang kekasih ini keluar dari toko perhiasan tadi. Mereka melanjutkan perjalanannya lagi untuk melihat-lihat sepanjang jalanan Hokkaido yang pada malam itu juga tidak ada kendaraan berlalu lalang disana. Hanya terdapat orang-orang yang jalan kaki.

Aran dan Rinne mulai mengunjungi satu per satu toko yang cukup terkenal di daerah Hokkaido. Mulai dari foodcourt, butik, supermarket, dan lainnya.

Dan hal itu memakan waktu hampir 2 jam penuh. Pada pukul 9 malam, mereka berdua kembali pulang.

*+*+*+*

Keesokan harinya … hari kerja pun tidak libur. Sabtu pagi, lebih tepatnya pukul 9 pagi, Rinne bersiap untuk bekerja.

“Ohayou, Rinne-chan!” sapa seorang pria dengan postur tubuhnya yang tinggi dan juga usianya yang terlihat sudah 29 tahun.

“Ohayou, Mizuno-niichan!” sapa Rinne pada pria yang dipanggilnya Mizuno-niichan itu. Matsumoto Mizuno. Kakak kandung Matsumoto Rinne.

“Hari ini, ulang tahun Aran-kun.” – “Aku tahu, Oniichan. Bahkan aku sudah menyiapkan kado untuknya.” Dengan sigap Rinne menjawab. Rasa semangatnya kini telah membara dalam dirinya. Membuat Mizuno hanya tertawa. “Kalau begitu, semangat ya Rinne-chan. Aku mendukungmu.” Ucap Mizuno dan mengangkat kepalan tangannya ke atas. Pertanda memberi semangat pada Rinne.

“Un. Arigatou, Oniichan.” 

 

TING TONG … suara bel rumah itu membuat ricuh suasana kediaman Matsumoto.

“Rinne-chan!!” suara seseorang yang terkesan sedikit melengking, kini ada di balik pintu ketika Rinne membukanya. Takahashi Yuri.

“Eh? Yuri-chan. Hahaha!” sapa Rinne dan kemudian tertawa. Yuri hanya bisa menunjukkan barisan giginya yang setengah rapi dan setengahnya lagi terdapat gigi gingsul di sudut kanan atas. Menambahkan ciri khas-nya yang terlihat imut.

“Kita berangkat kerja bersama-sama, ya.” Ajak Yuri kemudian dan langsung disetujui oleh Rinne berupa anggukan kepala. 

Rinne pun kembali masuk. Lalu mengambil tas yang sering dibawanya saat bekerja dan setelahnya ia pamit pada kakaknya itu, “Oniichan, aku berangkat dulu. Ittekimasu!” suara Rinne cukup keras sehingga terdengar sampai kedalam rumahnya. Terlebih sampai dimana tempat Mizuno berada. Di dapur.

“Itterashai!!” 

.

Sepanjang perjalanan, Yuri dan Rinne saling bertukar cerita. Tentang cinta, teman, dan juga keluarga mereka sampai mereka terbawa suasana. Tiada bahan pembicaraan yang membosankan. Melainkan selalu ada canda tawa yang menghiasi suasana hati Yuri dan Rinne.

“Rinne-chan. Aku ingin kita bisa menikah dengan orang yang kita cintai bersama-sama.” Tiba-tiba saja Yuri berkata cukup serius. Membuat langkah Rinne terhenti dan memandang Yuri dengan penuh pertanyaan dalam pikirannya. “Apa maksudmu?”

“Maksudku, di saat kita menikah nanti aku ingin kita bisa menikah dengan orang yang kita cintai dengan waktu, tanggal, dan juga tempat yang bersamaan.” Cukup mengerti akan penjelasan Yuri, Rinne pun mengangguk.

“Ternyata itu maksudmu, Yuri-chan. Tentu saja aku mau. Asalkan Genki dan juga Aran ingin bersamaan pula. Hahaha!” Rinne pun tertawa dan merasa geli akan ucapannya barusan. Yuri pun juga ikut tertawa dan merasa geli akan apa yang diucapkan Rinne

“Ngomong-ngomong, itu pasti kado buat Aran, ya?” tiba-tiba saja Yuri menunjuk sebuah kotak berukuran sedang yang dibawa oleh Rinne. Tas yang dibawa Rinne tidak cukup tempat untuk menyimpan kotak kado itu.

“Iya. Hari ini ulang tahunnya. Kemarin saat pergi jalan-jalan dengannya, aku sengaja meluangkan waktu untuk membeli ini sendiri tanpa sepengetahuan Naru-chan.” jelas Rinne. “Hah? Naru-chan?”

“Eh! Ah, maksudku Aran-kun! Hahaha!” Rinne langsung memperbaiki akan kesalahan ucapannya tadi.

Setelah pembicaraan serius yang terkesan singkat ini, kedua manusia bersahabat ini mulai melanjutkan perjalanannya menuju tempat kerja mereka yang tinggal beberapa meter lagi sudah sampai.

 

Selama perjalanan, pembicaraan terhadap mereka kembali dilanjutkan …

.

“Rinne-chan, bukankah itu Aran-kun?” mendadak Yuri menyiku lengan Rinne sebelah kiri. Membuat Rinne kebingungan dan pada akhirnya mengarahkan pandangannya kearah yang dilihat Yuri saat ini.

“Iya, itu Aran-kun. Ada apa ya?” pandangan mata Rinne masih tertuju kearah depan. Lebih tepatnya mengarah sebuah taman yang bersebelahan dengan tempat kerjanya dengan Yuri.

“Apa yang sedang ia lakukan dengan gadis itu?” Yuri pun pada akhirnya merasa curiga. Begitu pula dengan Rinne.

Di taman itu, sudah dipastikan bahwa pria yang bersama seorang gadis itu adalah Aran. Seorang gadis yang tidak dikenali oleh Rinne maupun Yuri.

Tampaklah Aran menggenggam tangan gadis itu, gadis yang merupakan perpaduan Jerman-Jepang, dan ia memeluk gadis itu. Jarak Rinne dan Yuri pada Aran dan gadis itu lumayan dekat. Sehingga dengan pasti mereka mengetahui bahwa pria itu benar-benar Aran.

“Aaaahhhh.” Suara terkejut kini telah sukses diucapkan oleh Rinne.

Aran mencium bibir gadis yang ada dihadapannya itu. Melihatnya serasa menyayat hati Rinne saat ini. Kekasihnya ~ah~ melainkan calon suaminya saat ini telah mencium gadis lain. Bahkan status Rinne dan juga Aran sudah ‘bertunangan’.

Seakan dunia terhenti pada saat itu juga. Pergerakan tangan Rinne terhenti sehingga kado yang dibawanya terjatuh dan membuat Yuri terkejut yang kemudian memutuskan untuk mengambilnya. Merasa tidak ada pilihan lain, Yuri pada akhirnya memulai untuk memanggil Aran.

“Aran-san!! Apa yang kau lakukan!!” Yuri mengeraskan volume suaranya sehingga terdengar oleh Aran dan juga gadis yang bersamanya itu.

Pada akhirnya Aran menoleh dan terkejut. Rinne mengetahui semua perbuatan Aran barusan. Dan ia langsung panik sekali. “Rinne-chan.”

Merasa tidak tahan, Rinne langsung berbalik dan pergi menjauh dari tempat itu dan secara otomatis Yuri mengejarnya yang diikuti oleh Aran dibelakang. Sesungguhnya hari itu adalah waktu kerja Rinne dan juga Yuri, namun karena situasi yang mendadak seperti ini, membuat Rinne menjadi tidak bersemangat. Seakan semangatnya dilalap habis oleh rasa putus asa.

“Rinne-chan!! Matte!!” Aran berteriak memanggil Rinne.

Yuri hanya bisa diam dan tidak menyuruh Rinne untuk berhenti, walau sesungguhnya ia berharap kalau Rinne berhenti sekarang dan mendengar semua penjelasan dari Aran atas perbuatannya itu.

Dengan penuh perjuangan, Aran pun berusaha bisa menyamai posisinya dengan Rinne dan menghentikannya dengan cara menarik lengan Rinne yang secara otomatis terhenti.

“Lepaskan aku!” Rinne menyuruh Aran untuk melepaskan tangannya. Namun Aran tidak mempedulikannya. Sekarang yang dipikirkannya itu adalah .. menjelaskan semuanya. Genggaman Aran pada pergelangan tangan Rinne semakin kuat membuat Rinne merintih kesakitan.

“Aran-kun!! Lepaskan aku!! Tanganku sakit!!” kembali Rinne meronta dan tidak dipedulikan oleh Aran. “Dengarkan aku dulu, Rinne!! Dan panggil aku Naru-chan!” – “Tidak mau!!”

“Rinne-chan, aku mohon! Dengarkan aku dulu.” Ucap Aran dan kemudian membalikkan tubuh Rinne sehingga ia bisa berhadapan dengan Rinne.

Setetes demi setetes air mata, kini mulai keluar dari pelupuk mata Rinne … Aran merasa tidak tega. Dengan cepat diraihnya kepala Rinne dan kemudian menghapuskan air matanya. Namun …

“Jangan sentuh aku lagi! Mulai hari ini …” seketika itu juga Rinne menepis tangan Aran yang berusaha untuk menghapus air matanya. tiba-tiba saja ia mengangkat tangan kirinya dengan punggung tangannya ditujukan kearah Aran.

Siapa sangka, Rinne menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari manis tangan kirinya. Cincin yang sama seperti Aran. Cincin pertunangan.

“Aku bukan calon istrimu lagi!!” bersamaan dengan ucapannya, Rinne melepaskan cincin yang tadinya terpasang di jari manis tangan kirinya itu. Kemudian membuangnya jauh menuju jalanan yang cukup ramai itu.

Aran tidak menyangka bahwa Rinne bisa marah sekali seperti itu sehingga dengan perasaan tidak peduli, ia membuang cincin pertunangannya ke jalanan yang cukup ramai.

Pada akhirnya, Aran langsung menuju ke jalanan itu dimana Rinne membuang cincin pertunangannya dan tidak mempedulikan berbagai bunyi klakson setiap kendaraan itu. Rinne yang berada di seberang jalan sana, tampak tidak mempedulikan. Walau sesungguhnya dia cukup gelisah.

DIN … DIN …

CIIITTTT … BBRRAAKK …

 

FLASH BACK OFF~

“Rinne-chan, jangan melamun terus. Ayo makan.” Ajak Mizuno pada Rinne yang sejak tadi hanya melamun.

“Maaf, Oniichan. Sepertinya aku tidak nafsu makan.” Dengan lesu Rinne bangkit dari kursi dan berencana menuju ke kamar.

Mizuno hanya bisa ikut bersedih ketika ia mengetahui kejadian setahun yang lalu.

*+*+*

Usia Rinne 22 tahun. Usia yang hampir sama dengan calon suaminya itu, Abe Aran. Kejadian setahun yang lalu tidak bisa dilupakan Rinne begitu saja. Kejadian yang menimpa Aran sudah merupakan kesalahan terbesar bagi Rinne. Dengan teganya ia membuat Aran kecelakaan saat peristiwa itu.

Aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri!!! Itulah yang selalu diucapkan oleh Rinne, setiap saat.

Andai aku bisa menggantikan posisimu, Naru-chan ….

*+ Matsumoto Rinne POV +*

DRET DRET DRET … getaran ponselku kembali terasa. Aku bisa mendengarnya dari getaran itu sendiri yang terletak di atas meja.

Siapa yang mengirimku pesan malam-malam begini?

From            : Meguro Ren

Subject         : Happy Birthday, Rinne ^o^)/

Rinne-chan!! Otanjoubi Omedetou Gozaimasu!! Wish you all the best!! May your dream come true …

By the way, aku ada kejutan untukmu. Bisakah kau keluar? Aku ada didepan rumahmu sekarang 🙂

APA?! Meguro Ren di depan rumahku? Untuk apa dia kemari?

Aku hanya bisa membuang nafas dan bingung. Hari ini ~ah, maksudku besok adalah hari ulang tahunku yang ke 23. Hari ini adalah malam hari ulang tahunku. Tanpa menunggu banyak waktu, aku segera keluar dari kamar dan ~ tentunya ~ berjalan perlahan menuju ke ambang pintu rumah.

Aku melakukan ini karena aku tidak ingin ketahuan oleh Oniichan. Dia terlalu protektif sekali padaku, sehingga setiap kemana aku pergi selalu ditanya olehnya.

Dulu, saat masih bersama Aran, Oniichan selalu menyerahkan keselamatanku pada Aran karena ia tahu bahwa Aran juga sama seperti Oniichan. Protektif sekali padaku. Tapi … itu hanya menjadi kenangan. Saat ini Aran tidak bersamaku. Ia mungkin meninggal sejak kecelakaan setahun yang lalu. Tepat disaat hari ulang tahunnya.

“Selamat pagi!!” ujar Ren ketika aku sudah membuka pintu rumahku.

Wajar saja ia mengucapkan selamat pagi karena saat ini waktu sudah menunjukkan pukul 12 tengah malam. Yah, kalau mau dikatakan masih malam juga bisa. Hari dan tanggal telah berganti dengan bulan yang sama. Maret~

“Untuk apa malam-malam kesini? Untung saja kau tidak menekan bel rumahku!” gerutu-ku pada Ren yang malah membuatnya tertawa. Huh! Dasar Ren!

“Seperti di kiriman pesan dariku. Aku akan mengajakmu untuk pergi kesuatu tempat dimana aku bisa memberikan sebuah kado untukmu.” Ujar Ren dan tersenyum padaku. Mendengarnya, membuatku hanya bisa memiringkan kepalaku sedikit kearah kanan. Bingung~

“Sudahlah! Ayo ikut aku!” Ren kemudian meraih tanganku dan membawaku pergi ketempat yang akan ditunjukkannya padaku.

.

Untuk apa Ren mengajakku kemari? Bukankah ini tempat …

“Nah, disinilah kau akan melihat kejutannya, Rinne-chan!” ucap Ren yang terlihat bersemangat itu.

Ternyata aku dibawa kesebuah taman di pinggir jalan sekitar daerah Hokkaido. Taman yang merupakan kenangan terindah bagiku sendiri. Tempat dimana Aran menyatakan rasa sukanya padaku dan tempat dimana kami saling bertukar cincin disaat hari pertunangan kami.

“Oh, Naru-chan.” gumamku kemudian. Kenangan itu kembali terngiang di benak-ku.

“Naru-chan? Siapa dia?” tiba-tiba saja aku terkejut ketika Ren menanyakan hal itu padaku. Jelas tidak mungkin jikalau aku mengatakan bahwa Naru-chan calon suami-ku.

“Jangan bilang kalau Naru-chan yang kau maksud …” – “Ah, bukan siapa-siapa, Ren-kun.” segera saja aku menyela ucapannya supaya ia tidak menjadi salah sangka.

Sesungguhnya, Ren sangat membenci Aran. Begitu pula dengan Aran. Mereka seperti beradu cepat untuk mendapatkan cintaku. Namun pada akhirnya aku memilih bersama Aran daripada Ren.

Dulu, ketika aku masih SMA, hampir saja Ren menodaiku. Tapi pada saat itu juga Aran datang menyelamatkanku sehingga Ren tidak berbuat macam-macam terhadapku. Setelah pertengkaran kecil yang dilakukan Aran maupun Ren, yang pada akhirnya Aran memenangkan pertengkarannya itu, ia langsung membawaku menjauh darinya.

Pada awalnya aku sempat trauma ketika Aran ingin sekali memelukku dan menenangkanku. Tapi, ia tetap berusaha dan pada akhirnya memberikanku ketenangan melalui sebuah pelukan hangat dan berkata “Aku akan selalu melindungimu”. Kata-katanya kini secara perlahan mulai bisa ku-percaya. Sampai di sinilah aku yang sebentar lagi menjadi istri Abe Aran.

Tapi musibah itu … membuatku putus asa dan merasa bersalah!

“Argh! Lagi-lagi kau memikirkan Aran! Dia itu sudah mati!!” tiba-tiba saja Ren mengguncangkan bahuku dan bersuara sedemikian kerasnya sehingga membuatku terkejut. Merasa tidak nyaman dengan kata-kata terakhirnya, aku menatap manik mata Ren dengan tajam. “Naru-chan tidak mati!! Ingatlah itu!!”

“Dia itu sudah mati!! Kau tidak sadar apa? Kejadian maut setahun yang lalu telah merenggut nyawanya!!” Ren semakin mengeraskan volume suaranya dan dengan beberapa penekanan pada tiap lafal bicaranya.

“Tidak! Kau pasti salah!! Aku yakin Naru-chan masih hidup!!” kini aku juga meninggikan suara. Walau sesungguhnya aku lelah.

BBRRAAKK … “Ittai!!” aku pun merintih disaat Ren menyandarkanku pada sebuah pohon sakura besar yang ada di taman ini. Aku terkejut ketika Ren mengunci pergerakanku sehingga aku tidak bisa menghindarinya. Aku mohon kami-sama! Semoga tidak terjadi lagi …

“Pokoknya hari ini juga, kau harus menjadi milikku!” geramnya dan mengcengkeram kuat bahu-ku. “Tidak! Aku sudah menjadi milik Aran! Jangan seenaknya! Lepaskan!!” aku pun meronta. Memaksakan diri agar bisa terlepas dari rengkuhan tangan Ren yang cukup kuat itu. “Ren!! Lepaskan!!” ucapku sekali lagi.

Sayang sekali di taman ini sepi. Tidak ada satupun pengunjung disini sehingga aku tidak bisa meminta bantuan orang lain. Lalu aku harus bagaimana?

“Disini sepi. Jadi tenang saja, aku bisa memuaskanmu dan juga bisa lebih baik dari Aran! Inilah balas dendamku pada Aran. Menjadikanmu milikku sepenuhnya!” ucap Ren dengan licik dan kemudian ia mendekatkan wajahnya kearahku. Dipaksanya aku untuk mendekatkan wajahku padanya, namun aku tidak mau.

Ciuman ini … hanya untuk Naru-chan …

“Lepaskan!! Aku tidak akan mau hidup bersamamu!! Pria bangsat!” ketusku seberani mungkin. Jika tidak begini, Ren semakin menguasaiku.

“Apa kau bilang?!!” BBRRAAKK.

Ternyata aku kalah cepat dengan Ren. Kali ini ia berhasil menjedukkan kepalaku di batang pohon Sakura yang kuat itu dan telah sukses membuatku menjadi pusing berat.

BBRRUUKK …

*+POV END+*

Rinne pingsan tepat di pelukan Ren. Dengan posisi Rinne  yang membungkuk kearah punggung belakang Ren. Kali ini ia berhasil membuat Rinne jatuh pingsan.

“Rinne … sayang sekali ya … kali ini kau akan jadi milikku sepenuhnya!! Tidak akan ada pria lain, terutama Aran, yang bisa mendapatkanmu. Hahaha!!”

Dengan cepat ia menopang tubuh lemas Rinne dan membawanya ke dalam mobil yang dibawa oleh salah seorang suruhannya sejak pertama kali sebelum ia menjalankan rencana jahatnya. Namun …

“Meguro-san!! Berhenti!!” suara seorang pria kini mengusik Ren.

“Kau? Mizuno-san?” gumam Ren ketika ia mengetahui sang pemilik suara itu adalah Mizuno. ~Matsumoto Mizuno.

“Ya ampun, kau apakan Rinne-chan?!!” suara melengking seorang gadis kini juga tak kalah mengusiknya dengan Mizuno. Takahashi Yuri.

“Lepaskan Rinne-san sekarang juga!!” Iwahashi Genki, kini juga ikut mengusik Ren. Merasa tidak terima kalau sahabat kekasihnya sendiri hampir mau diculik.

“Ck. Kalian tidak berhak menyuruhku memberikan Rinne pada kalian. Saat ini juga aku akan menjadikan Rinne milikku!!” ketus Ren setelah membawa masuk tubuh lemas Rinne ke dalam mobil.

“Tidak bisa!! Adikku sudah bertunangan dengan Aran-kun. Jadi kau tidak berhak untuk menjadikannya milikkmu, Meguro-san!!” Mizuno pada akhirnya menghampiri tempat Ren berdiri. Berusaha mencegah Ren untuk membawa Rinne.

“Cih!! Aran sudah mati!! Jadi sudah wajar kalau aku menjadikan Rinne istriku!! Dan aku berani menjamin akan membuatnya bahagia!!” setelah berucap beberapa kata, Ren mulai memasuki mobil itu. Namun sebelum itu …

BBRRAAKK … Mizuno menahan pintu mobil yang akan ditutup oleh Ren dan kemudian Mizuno membawa Ren keluar dari mobilnya itu.

“Jangan harap kau bisa mengambil Rinne dengan mudahnya!!”

BBRRAAKK …  sekali pukulan, Mizuno berhasil membuat Ren mendadak tidak berdaya. Rasa amarahnya kini telah membara di dalam diri Mizuno.

“Ba .. bagaimana kau .. bi .. bisa tahu kalau .. a .. aku membawa Rinne?” tanya Ren yang keadaannya masih tidak berdaya itu. “Dari keluarnya Rinne dari rumah, aku mengikuti kalian dari belakang dan secara sembunyi-sembunyi. Kau pikir jam segini aku sudah berada di alam mimpiku, hah?” ujar Mizuno dengan malas. “Brengsek!” ketus Ren dan berusaha bangkit kembali. Namun …

BBRRAAKK … secara otomatis, Mizuno langsung memukul lagi dengan pukulan yang cukup kuat. Disaat Ren masih belum bisa bangkit lagi, Mizuno segera memberi isyarat pada Yuri dan juga Genki untuk mengambil kembali Rinne yang saat ini masih terbaring lemas di dalam mobil.

“Hey!! Apa yang kalian lakukan?! Lepaskan dia!!” sang sopir mobil langsung terkejut ketika Yuri dan Genki secara serentak mengambil kembali Rinne yang terbaring di jok mobil bagian tengah.

“Genki-kun, hajar sopir itu. Biar aku yang membawa keluar Rinne-chan!” Yuri pun segera memberi instruksi pada Genki dan langsung mendapat jawaban dari Genki sendiri. Setelahnya, Genki mulai mengurus sopir itu dan sebaliknya, Yuri berusaha membawa keluar Rinne.

“Rinne-chan. Aku mohon sadarlah!”

.

Di sisi lain, lebih tepatnya diluar area taman itu, tampaklah seorang pria dengan postur tubuh tinggi terlihat khawatir akan kejadian yang menimpa di daerah taman itu.

“Kami-sama, semoga saja calon istri-ku baik-baik saja. Tolong lindungilah calon istri-ku ini dari tangan orang-orang jahat.” Gumam pria itu dan segera pergi dari tempat itu.

10 menit pun telah berlalu …

“Oniisan, kami sudah mendapatkan Rinne kembali.” Ujar Yuri dan Genki bersamaan. Dan seketika itu juga, Mizuno menghentikan aktivitasnya yang memukul Ren itu. “Mulai saat ini juga, aku akan pastikan kalau kau tidak bisa mendapatkan Rinne!! Ia hanya milik Aran seorang!! Jikalau kau berani menyentuh Rinne sedikitpun, siap-siaplah mati ditanganku!!” setelah memberikan peringatan pada Ren, Mizuno dan juga yang lainnya segera pergi meninggalkan Ren sendirian disana. Kini keberhasilan diraih oleh Mizuno, Yuri, dan juga Genki.

*+*+*+*

“Aran-kun!! Matte!!” seorang gadis kini tampak mengejar dan memanggil seorang pemuda yang berada jauh di depan. Panggilannya tidak terdengar oleh pemuda yang ada di depannya.

Sesaat langkah gadis itu terhenti ketika ia melihat pemuda itu bersama seorang gadis lain. Gadis yang merupakan perpaduan Jerman-Jepang yang menjadi ciri khas tersendiri, telah tersenyum pada pemuda itu. Gadis ini, Matsumoto Rinne, hanya bisa mematung dengan raut wajah shock-nya itu ketika melihat pemuda itu dengan seorang gadis didepannya.

“Di depan bait suci ini, saya Abe Aran, akan menikahi Murashige Anna dengan segenap cinta saya. Selalu ada untuknya dalam suka maupun duka. Menjadi kepala keluarga sekaligus ayah yang baik untuk istri dan juga anak-anak kami.”

“Silahkan pada mempelai wanita. Ucapkanlah janji sucimu disini.” Ujar seorang pendeta dan mengarahkan microfone pada gadis bergaun putih dengan kepalanya yang masih tertutup hiasan kepala berupa tirai putih bening. Murashige Anna.

“Di depan bait suci ini, saya Murashige Anna, akan menikahi Abe Aran dengan segenap cinta saya. Selalu ada untuknya dalam suka maupun duka. Menjadi pendamping suami saya sekaligus menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kami.” Anna pun menyudahi ucapan janji sucinya itu. Dilihatnya Aran, yang saat ini ada dihadapannya itu sedang tersenyum.

Rinne yang melihatnya dari kejauhan, merasa tertekan dan tidak berdaya. Melihat calon suaminya yang sebentar lagi akan menjadi status suami, kini menikah dengan gadis lain. Tak lain adalah teman Rinne sendiri.

“Silahkan Abe-san, kau buka tirai pada istrimu ini.” ucap sang pendeta memberikan instruksi.

Aran pun menurutinya dan segera membuka tirai itu.

“Dan … sekarang kau boleh mencium istri-mu sebagai tanda sayangmu pada istri-mu.” Pendeta itu kembali memberika instruksi dan Aran langsung menyetujuinya. Kemudian, Aran mendekatkan wajahnya kearah Anna yang saat ini menutup matanya dan ….

“Aaaaaa YAMETE!!!!!!!!”

.

.

.

“Naru-chan, dame!!!!” tanpa sadar Rinne langsung bangkit dari tidurnya dan berteriak memanggil Naru-chan. ~Abe Aran. Yang saat ini keberadaannya tidak diketahui.

“Rinne-chan? daijoubu?” tanya Yuri disebelahnya. Sudah pasti ia terbangun karena teriakan Rinne. “Aku … aku bermimpi buruk.” Gumam Rinne seakan tak bisa menghirup nafas dengan bebas.

“Mimpi buruk? Ceritakan padaku, Rinne-chan!” Yuri pun pada akhirnya memaksa Rinne untuk bercerita.

“Tadi, aku sempat bermimpi kalau … Naru-chan .. ah, maksudku Aran-kun telah resmi menikahi gadis lain selain diriku.” Pada akhirnya Rinne bercerita. Wajahnya menunduk dan ia menangis. Tidak bisa ia bayangkan bahwa Aran akan benar-benar menikahi gadis itu. “Dan sekilas ketika aku melihat wajah gadis itu, dia .. dia .. seperti gadis yang dulu pernah kita temui setahun yang lalu.” Jelas Rinne lagi dengan keadaan masih menunduk.

“Apa? Gadis yang itu? Benarkah?” pertanyaan dari Yuri hanya dijawab dengan sekali anggukan oleh Rinne sendiri. “Kalau tidak salah, namanya Murashige Anna.”

“APA? Murashige Anna? Ah, pantas saja! Aku hampir tidak mengenalinya 1 tahun yang lalu saat kita menemuinya yang sedang bersama Aran-san. Wajahnya benar-benar berubah sejak setahun yang lalu.” Tiba-tiba saja Yuri merasa kesal sendiri. Entah karena apa …

“Mungkin … dia operasi plastik.” – “Sudah jelas, Rinne-chan! Dia melakukan operasi plastik wajahnya supaya bisa menarik simpati Aran-san. Kamu ingat, bukan? Setahun yang lalu itu?” ketus Yuri dan mengguncangkan bahu Rinne.

“Yuri-chan. Aku mohon jangan bahas masalah itu lagi. Saat ini aku bingung. Antara marah, sedih, kecewa, dan juga … rindu.” Merasa tidak tahan, Rinne akhirnya menyudahi ucapan Yuri yang berkenaan dengan masa lalunya itu.

“Gomen ne, Rinne-chan.” Yuri menyesal dan pada akhirnya membawa Rinne kedalam pelukannya. Berusaha untuk menenangkannya. “Arigatou, Yuri-chan.”

*+*+*+*

Keesokan harinya adalah waktu Rinne dan Yuri untuk bekerja. Tentunya tempat kerja mereka masih sama seperti dulu. Hanya saja, semenjak peristiwa 1 tahun yang lalu, Rinne meminta cuti dan selama ia cuti hanya berdiam diri di kamar. Merutuki semua kesalahannya.

“Ittekimasu!!” ucap Rinne dan Yuri secara bersamaan.

“Itterashai!!” balas kata Mizuno dan melambaikan tangan ke arah Rinne dan juga Yuri yang sudah berangkat bekerja.

Kemarin, Yuri memang menginap di kediaman Matsumoto yang pada awalnya kediaman itu hanya di tempati oleh Mizuno dan juga Rinne. Sejak kejadian tadi malam, itu membuat Mizuno menjadi khawatir sehingga meminta Yuri untuk menemaninya di rumah.

.

Selama perjalanan, Yuri tidak berani berkata apapun pada Rinne. Sebenarnya, ia sendiri merasa gelisah pada Rinne. Sahabatnya itu. Ingin menghiburnya, takut membuat Rinne semakin sedih. Mungkin dari luarnya Rinne dalam keadaan baik, tapi dari dalam … tidak seperti apa yang ada di luar.

“Ne, Yuri-chan.” tiba-tiba saja Rinne mulai bersuara setelah sampai di tempat kerjanya. “Iya? Ada apa?” tanya Yuri pada akhirnya.

Namun sesaat Rinne terdiam. Ia bingung antara memilih menceritakannya atau tidak.

“Betsuni. Sekarang kita langsung masuk saja.” Ujar Rinne dan kemudian mengajak Yuri untuk masuk ke tempat kerja mereka secara bersamaan.

“Kau yang bernama Matsumoto Rinne?” tiba-tiba saja, seorang gadis menghalangi jalan Rinne dan Yuri. Kehadiran gadis itu langsung membuat Rinne dan juga Yuri terkejut. Gadis ini bukannya yang bersama Aran dulu?

“Iya. Ada masalah apa?” ucap Rinne dan berusaha untuk lebih santai. Seakan-akan tidak terjadi masalah apa-apa. “Ikut aku!” kini gadis itu memaksa Rinne untuk mengikutinya dengan cara mencengkeram pergelangan tangan Rinne. Seketika itu juga, Rinne meronta. “Apa mau-mu, hah?!” ketus Rinne dan berusaha melepaskan genggaman gadis itu di tangan Rinne.

“Aku ada urusan sebentar sama kamu. Ini berkenaan dengan Naru-chan!” gadis itu tetap berkutat untuk membawa Rinne keluar dari tempat kerjanya. Saat ini tujuannya adalah taman belakang di sekitar daerah tempat kerjanya itu. Yuri yang sejak tadi kebingungan hanya bisa mengikuti mereka secara diam-diam.

Tugasnya kali ini adalah …. mencuri dengar pembicaraan antara gadis itu dan juga Rinne.

“Untuk apa kau membawaku ke sini?” tanya Rinne dengan nada ketusnya.

“Sebelumnya perkenalkan, aku Murashige Anna. Gadis yang kau ketahui setahun yang lalu di sini bersama dengan Naru-chan.” jelas gadis yang bernama Anna itu pada Rinne. “Aku tidak menanyakan namamu!! Kau tuli, hah?!” ketus Rinne yang mendadak amarahnya mulai keluar.

“Hoho. Tenang dulu, Nonya Abe, ah .. aku lupa kalau kau belum menjadi istri Naru-chan!” dengan santainya Anna berkata hal seperti itu pada Rinne dan membuatnya mengepalkan tangan-nya.

“Ck. Kau tidak salah memanggilku Nonya Abe karena sebentar lagi aku akan menjadi istri dari Abe Aran!!” Rinne juga tidak kalah santainya dengan Anna. Kali ini Rinne menunjukkan senyuman mautnya ke arah Anna.

“Ck. Seharusnya kau sadar diri, Rinne-san! Satu tahun yang lalu, lebih tepatnya di saat hari ulang tahun-nya, ia menyatakan cintanya padaku.” Secara bergantian, Anna menunjukkan senyuman mautnya kearah Rinne yang saat ini sedang terkejut akan apa yang diucapkan Anna barusan.

“Tidak mungkin! Naru-chan hanya mencintaiku seorang!” Rinne merasa tidak terima pada perkataan Anna jika calon suaminya itu, Abe Aran, telah menyatakan cintanya pada gadis lain.

“Cih. Kau ini memang gadis pembawa sial!”

“Ah~ Ittai!!” Rinne merintih kesakitan ketika rambutnya di cengkeram dengan keras oleh Anna.

Di sisi lain, Yuri langsung terkejut ketika mengetahui sahabatnya itu, Rinne, telah di sakiti oleh gadis bernama Anna itu. “Dasar wanita jalang!!” setelah Yuri menyiapkan tenaganya itu, segera saja ia bangkit dari tempat persembunyiannya. Akan tetapi …

“Yuri-chan, jangan di ganggu.” Seorang pria dengan postur tubuh yang hampir sama dengan Yuri kini langsung mencegahnya pergi. “Genki-kun? kenapa kau malah menyuruhku untuk tidak mengganggu mereka?” protes Yuri pada pria yang di panggilnya Genki-kun. Iwahashi Genki.

“Sesungguhnya aku juga tidak tega kalau Rinne-san di perlakukan seperti itu oleh Anna-san. Tapi, kondisi saat ini tidak memungkinkan.” Jelas Genki secara perlahan dan berusaha untuk membuat Yuri mengerti. Namun fakta berkata sebaliknya. “Tidak memungkinkan bagaimana? Rinne sekarang dalam masalah. Jika aku tidak menghajar wanita jalang itu maka … itu semakin membuat hubungan Rinne dan Aran-san menjadi berantakan.” Ketus Yuri yang mulai emosi.

Merasa daerah itu terlalu umum, pada akhirnya Genki meraih pergelangan tangan Yuri dan mengajaknya ke suatu tempat yang lumayan privasi. “Kita mau ke mana, Genki-kun?” – “Sudahlah ikut saja.”

Genki membawa Yuri menjauh dari jangkauan Rinne, Anna, dan jangkauan banyak orang. Lebih tepatnya Genki mengajak Yuri untuk ke tempat yang cukup privasi. Meskipun masih di sekitar taman.

“Ada apa, Genki-kun?” tanya Yuri dengan rasa penasarannya itu.

“Fiuh~ Sampai kapan kau terus seperti ini, Yuri-chan? Aku tidak tahan lagi.” Mulailah Genki berbicara. “Apa maksudmu?” tanya Yuri sekali lagi.

“Kita ini sudah berencana untuk menikah dan persiapannya sudah beres semua. Tapi, kau selalu menunda-nunda waktu demi menunggu Rinne-san. Aku tahu kau sangat menyayanginya seperti saudaramu sendiri. Tapi, bukan seperti ini caranya.” Pada akhirnya Genki meluapkan semua isi hatinya pada Yuri yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.

“Aku tahu, Genki-kun. Tapi, Rinne-chan sedang dalam masalah saat ini. Kita tidak bisa berbagi kebahagiaan jikalau Rinne-chan sendiri tidak bahagia. Pernikahan itu adalah suatu hal yang akan membuat semua orang bahagia. Terlebih kedua manusia yang saat itu sedang merayakannya. Percuma saja kalau kita merayakannya, tapi hati kita sedang tidak bahagia saat itu. Lagipula bahagia itu bukan karena terpaksa. Melainkan kebahagiaan tersendiri dan tulus.” Genki pun terdiam ketika ia mendengar ceramah dari Yuri. Seakan ceramahnya itu membuat Genki tutup mulut.

“Jika kita tetap melaksanakan pernikahan kita, yang ada aku hanya akan terpaksa bahagia. Bukan bahagia secara tulus ataupun jujur jikalau Rinne-chan saat ini sedang ada masalah yang rumit. Aku mohon mengertilah, Genki-kun.”

Merasa tidak ada hal yang harus di bicarakan lagi, Yuri langsung memeluk Genki dengan erat dan menangis dalam pelukannya.

“Sesungguhnya aku ingin bisa cepat menikah denganmu, Genki-kun. Tapi, aku tidak bisa biarkan kalau sahabatku tidak bahagia ketika melihat kita sedang bahagia di atas pelaminan.” Sesekali Yuri terisak. Genki hanya bisa membelai lembut punggung Yuri dan membenamkan kepalanya di bahu Yuri sebelah kanan.

“Maaf .. maaf karena telah memaksamu, Yuri-chan. Aku sangat bahagia bisa memilikimu. Seseorang yang sangat pengertian pada sahabatnya sendiri dan rela untuk tidak bahagia terlebih dahulu ketika sahabatnya sedang jatuh dalam berbagai masalah.” Ucap Genki di sela pelukannya itu.

“Genki-kun. Hontou ni arigatou.” Bisik Yuri yang masih terisak itu.

Setelahnya, Genki melepaskan pelukannya pada Yuri dan kemudian di raihnya wajah Yuri untuk menghapus sisa air mata yang keluar dari pelupuk mata Yuri.

“Aku harap semua masalah Rinne-san cepat berakhir dan ia bisa bertemu dengan Aran-kun.” Yuri mengangguk setuju akan apa yang diucapkan oleh Genki.

“Un. Aku yakin kalau Aran-san masih hidup. Cinta Rinne-chan dan juga Aran-san terlalu kuat untuk bisa di patahkan. Aku yakin sekali bahwa Aran-san akan kembali untuk Rinne-chan!” ucap Yuri dengan penuh keyakinan. “Dan aku tidak akan biarkan siapapun mengganggu hubungan mereka. Terlebih Meguro Ren-san dan juga Murashige Anna-san!!”

“Hahaha!! Ternyata istri-ku benar-benar lucu. Tidak salah aku memilihmu, Yuri-chan!” – “Ha? Istri? Kita belum menikah, Genki-kun.” Yuri memanyunkan bibirnya sehingga membuat Genki semakin gemas padanya.

“Tidak masalah. Aku menyatakan bahwa kau sudah resmi menjadi istriku. Dalam tanda kutip ‘belum pemberkatan’. Hahaha!!” Genki tertawa. Merasa bahwa ucapannya benar-benar lucu dan Yuri juga ikut tertawa.

“Hahah!! Dasar Genki .. ummhh ..” belum juga Yuri menyelesaikan kata-katanya, Genki sudah langsung mencium bibir tipis Yuri secara sekilas.

“Hadiah dariku. Sekarang kita kembali ke tempat tadi. Memastikan Rinne-san baik-baik saja.” Ajakan dari Genki tersebut telah mendapat jawaban langsung berupa anggukan kepala dari Yuri.

.

.Back to Rinne and Anna part.

“Aku katakan padamu kalau akulah yang akan menjadi istri Naru-chan!!” untuk ke-sekian kalinya, Anna mengeluarkan kata-kata ketusnya pada Rinne. Begitu pula dengan Rinne yang juga tak kalah ketusnya pada Anna.

“Apa buktinya, hah?!!” Rinne meninggikan suaranya. Sampai suaranya hampir serak karena beradu mulut dengan Anna. “Cincin ini. Naru-chan sendiri yang memberikannya padaku.” Seketika itu juga, Anna langsung mengangkat tangan kirinya dan menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari manis itu.

Melihatnya telah membuat Rinne shock. “Tidak mungkin. Bagaimana bisa cincin itu ada padamu?!!” tanya Rinne dengan suara yang hampir habis. Bahkan tenaganya juga sudah terkuras habis akibat pertengkaran yang di lakukan oleh Rinne dan juga Anna. “Suatu hari kau akan mengetahuinya. Yang jelas Aran memberikan cincin ini padaku! MENGERTI!!”

BBRRAAKK …

Dengan sengaja, Anna mendorong Rinne hingga ia terjatuh dan mengenai rumput-rumput yang ada di taman itu. Anna pergi meninggalkan Rinne sendirian di sana.

“Rinne-chan!! Daijoubu ka?” Yuri yang sejak tadi bersembunyi di balik pohon besar itu, segera datang menghampiri Rinne yang masih terduduk di atas rerumputan taman itu. Genki hanya bisa mengikuti Yuri dari belakang.

“Daijoubu. Sepertinya aku harus pulang.” Ujar Rinne dengan lemas. Membuat Yuri semakin khawatir padanya. “Aku akan mengantarmu pulang, Rinne-chan.” bersamaan dengan ucapan Yuri, ia langsung membantu Rinne untuk bangkit.

“Tidak perlu, Yuri-chan. Aku tidak ingin merepotkanmu dan Genki juga.” Rinne merasa sungkan ketika ia terus-menerus menerima bantuan dari orang lain. Terlebih sahabatnya sendiri.

“Daijoubu. Genki mengerti akan kondisimu saat ini, Rinne-chan. Dan kami merasa tidak di repotkan olehmu.” Ucap Yuri yang di ikuti dengan senyuman di wajahnya. “Hontou ni arigatou, Yuri-chan, Genki-san.”

*+*+*

1 tahun kemudian ..

Selama 1 tahun, Matsumoto Rinne menjalankan hari-harinya seperti biasa. Tanpa ada seorang Abe Aran di sisinya. Semenjak 2 tahun yang lalu mengenai peristiwa maut itu, kabarnya tidak di ketahui. Tiap bulan hingga berganti tahun telah di lalui oleh Rinne. Tentunya dengan bantuan dari Takahashi Yuri, Iwahashi Genki, dan juga kakaknya, Matsumoto Mizuno.

Pada bulan April tahun lalu, Rinne memutuskan untuk pindah pekerjaan di tempat lain. Jika tidak, maka kenangannya pada Aran tidak akan menghilang dan juga akan selalu menghantui pikiran Rinne. Selain itu, ia akan mendapatkan masalah dari Meguro Ren dan juga Murashige Anna yang tiada hentinya menyiksa Rinne.

“Sudah berganti tahun, tapi masih saja sama.” Ucap Rinne pelan dan memandangi langit malam yang pada hari itu terdapat banyak sekali bintang yang bersinar. “Kirei na!!” tanpa sadar Rinne memuji bintang-bintang yang bertaburan di angkasa.

30 Agustus tahun lalu, adalah hari ulang tahun Aran yang ke-24. Rinne memperingatinya dengan menyendiri di kamar saat itu.

Begitu juga saat ini. Tanggal 30 Agustus besok adalah ulang tahun Aran yang ke-25, sedangkan Rinne sendiri sekarang berumur 24 tahun. Usia yang berbeda setahun.

“Aku berharap kita bisa bertemu, Naru-chan. Sudah 2 tahun aku merindukanmu dan menantikanmu kembali padaku.” Mulailah sepucuk harapan di ucapkan oleh Rinne. Berharap tahun ini ia bisa bertemu dengan Aran kembali dan memperbaiki hubungan mereka.

.

Keesokan harinya, Rinne kembali bekerja di tempat kerjanya yang baru dengan harapan ia bisa bekerja lebih baik lagi dari pada di perusahaan milik Aran.

Hari itu cukup sibuk. Semua karyawan di sibukkan dengan berbagai macam hal yang berkenaan dengan produksi desain baju fashion untuk pada model-model ternama di Jepang.

Seorang pria dengan usia yang seumuran dengan Rinne, kini menghampiri ruang kerja milik Rinne yang saat ini menjadi status sekretaris.

“Rinne-san. Bisakah nanti malam kita merundingkan masalah desain baju?” tanya pria itu yang merupakan pemilik dari perusahaan tempat Rinne bekerja.

“Hanya kita saja, Kageyama-san?” tanya Rinne sebelum ia menyetujui ajakan pria itu yang bernama Kageyama itu. ~Kageyama Takuya.

“Tidak. Melainkan nanti kita akan kedatangan desainer terkenal dari Amerika.” Jelas Kageyama yang terkesan meyakinkan Rinne. Tanpa meminta penjelasan lagi, Rinne pun menyetujuinya.

Pada malam hari, lebih tepatnya tanggal 29 Agustus, Rinne telah menyiapkan dirinya se-rapi mungkin karena nantinya ia akan bertemu dengan seorang desainer dari Amerika.

“Oniichan, aku pergi dulu. Ittekimasu!!” dengan cepat Rinne berpamitan pada Mizuno yang saat ini masih duduk di meja makan. “Itterashai!!” balas Mizuno dengan mulut yang masih penuh dengan makanan yang sedang di lahapnya.

Seiring waktu Rinne keluar dari rumahnya, tampaklah di sisi lain seorang pria dengan postur tubuh tinggi sedang mengawasi gerak-gerik Rinne. Raut wajahnya terkesan tidak tenang. Takut sesuatu hal yang tidak di inginkan akan terjadi.

Tuhan, tolong lindungilah Rinne-chan!” ucap pria itu dalam hati. Dengan cepat pria itu menyusul Rinne yang sudah menjauh. Tentunya dengan sembunyi-sembunyi.

Kini langkah pria itu sampai pada sebuah cafe ternama di Jepang. Di lihatnya Rinne sedang berjabat tangan dengan seorang pria juga yang usianya se-umuran dengan dirinya. Pria itu tampak ingin berbuat hal tidak sepantasnya pada Rinne dan hal itu membuat dirinya merasa curiga pada pria itu.

“Kami-sama. Semoga pria itu tidak melakukan tindakan yang macam-macam pada Rinne-chan!” ucapnya dan segera mendekat ke arah cafe itu.

Setelah Rinne beserta rombongannya masuk terlebih dahulu, pria itu segera mencari tempat yang cukup dekat dengan posisi Rinne. Saat ini pria itu menutupi wajahnya agar tidak ketahuan oleh Rinne, meskipun pada akhirnya Rinne akan menyadari hal tersebut. Kacamata hitam yang di gunakan untuk menutup identitas pria itu dan juga di lengkapi topi berwarna coklat yang justru membuatnya semakin tidak bisa di kenali.

Sekarang ia di cafe, daripada tidak ada pekerjaan selain mengawasi pergerakan Rinne, yang saat ini masih menjadi status calon istrinya, pria itu memilih untuk memesan secangkir kopi hangat pada pelayan cafe itu.

Setelah 10 menit berlalu, kopi yang di pesan oleh pria itu telah datang. Kemudian pria itu segera mengeluarkan selembar uang dan langsung diberikan pada pelayan itu. “Ini uangnya. Jika ada kembalian, ambil saja.” – “Terima kasih, Tuan.” Pria itu mengangguk dan pada akhirnya pelayan itu pergi.

“Saat ini kita akan membuat desain yang cocok untuk model kita.” Ucap Kageyama pada Rinne dan 2 orang pria lainnya di sana.

“Direktur ingin seperti apa desainnya?” tanya Rinne yang kemudian menundukkan wajahnya menatap beberapa lembar desain yang dibawanya.

Sebelum Kageyama menjawab, tiba-tiba saja salah satu dari ke-2 pria yang duduk di sebelah Rinne menyela. “Maaf, saya harus ke toilet dulu. Permisi.” Ucap pria itu dan segera undur diri mengarah ke belakang.

Mengetahui rencana itu, Kageyama berusaha menarik simpati Rinne agar tidak langsung terkejut bahwa pria itu hanya melakukan aktingnya. Dan …

“Uuummmhhh!!” perlahan namun pasti, Rinne langsung pingsan ketika pria itu membiusnya dari belakang. “Cepat bawa dia pada Meguro-san.”

Di sisi lain, seorang pria yang sejak tadi mengawasi gerak-gerik orang-orang itu langsung terkejut begitu mengetahui bahwa Rinne telah di bius oleh salah satu dari ketiga pria tersebut.

“Brengsek! Mereka apakan Rinne-chan?! Aku harus mengejarnya!!”

Dengan cepat pria itu meletakkan cangkir kopi di meja dan langsung mengejar Rinne yang di bawa pergi oleh ke-3 pria tadi.

*+*+*

Selama perjalanan, pria itu mengikuti ke-3 pria yang bersama Rinne tadi. Sempat terpikir oleh pria yang satu ini, untuk apa mereka membawa Rinne? Dan apa tujuan mereka? Tanpa banyak berpikir lagi, pria itu segera mengikuti ke-3 pria yang membawa Rinne pergi tadi. Tentunya dengan sembunyi-sembunyi agar tidak ketahuan.

Ya Tuhan! Untuk apa mereka membawa Rinne ke tempat ini?” pria itu membatin. Tidak ia sangka ke-3 pria tadi telah membawa Rinne ke tempat yang lumayan gelap dan lumayan kotor.

Pria itu kini mempunyai firasat buruk tentang Rinne. Dengan cepat ia masuk ke dalam tempat itu dan segera menyelamatkan Rinne.

.

Semoga saja mereka tidak bertindak macam-macam terhadap Rinne-chan.

Hahaha!!! Bagus sekali Kageyama-san. Ternyata kau benar-benar direktur yang bisa aku andalkan. Aku berani jamin kalau perusahaanmu akan sukses besar.” Terdengarlah sebuah suara yang asalnya dari dalam tempat itu. Tak lain suara seorang pria. “Sebenarnya siapa dia?” pikir pria yang satu ini tampak mengenali suara seseorang yang berada di dalam.

Untungnya, di tempat itu terdapat jendela. Kini pria itu berusaha untuk melihat keadaan di dalam tempat itu melalui jendela. “Benarkah itu suara Meguro Ren?” kata pria itu secara pelan dan kembali berkutat pada pikirannya.

Sebenarnya siapakah pria ini? Semenjak Rinne keluar dari rumahnya hingga ia di sini. Apakah benar pria ini yang selama ini di nantikan Rinne?

“Apa? Meguro? Untuk apa dia meminta orang-orang itu untuk membawa Rinne? Dan siapa itu Kageyama?” 3 buah pertanyaan kini telah di ucapkan oleh pria ini sambil arah pandangan matanya menelurusi setiap sudut ruangan itu melalui sudut kiri bawah jendela tempat itu.

Terima kasih atas dukungannya, Meguro-san. Aku harap hasil kerja-ku bisa menyenangkan anda. Kalau begitu saya permisi dulu.” Ujar pria yang bernama Kageyama itu dan segera undur diri. Pada awalnya pria yang mengintip di balik sudut jendela itu tampak terkejut dan segera saja ia membungkuk dan menunggu Kageyama keluar dari tempat itu.

“Dia Kageyama? Bukankah dia Direktur dari sebuah perusahaan desain ternama di Jepang? Dan untuk apa dia membawa Rinne-chan kemari?” tidak menunggu banyak waktu lagi, pria itu segera menghajar Kageyama sehingga ia jatuh tersungkur di tanah.

“Aku peringatkan kau. Dengan bukti seperti ini kau bisa di penjara.” Ujar pria itu yang mengancam Kageyama. “Kau? Bagaimana kau bisa hidup?” tanya Kageyama pada pria itu. “Ck. Pada awalnya aku memang hidup dan aku tidak bisa biarkan Rinne bersama Meguro!” – “Ah, mungkin sebentar lagi polisi akan datang kemari. Jadi, kau ikut aku masuk ke dalam!!” ucap pria itu dengan kasar dan kemudian mengangkat Kageyama secara paksa.

“Tidak!! Aku tidak akan mau!!” pria itu menatap Kageyama dengan tatapan mematikan. “Kau juga harus di hukum karena mengikuti kehendak Meguro. Ayo!!” tanpa menunggu waktu lagi, pria itu langsung membawa paksa Kageyama kembali masuk kedalam tempat itu. ~ Tentunya untuk menemui Meguro Ren.

Di dalam, tampaklah Meguro membuat sekujur tubuh Rinne berantakan. Lengan baju yang di pakainya telah di sobek oleh Meguro sendiri. Saat ini Rinne masih dalam keadaan pingsan akibat obat bius yang membuatnya pingsan cukup lama.

“Ah, Rinne-chan! Malang sekali nasibmu. Mulai sekarang, kau akan menjadi milik-ku sepenuhnya!!” ucap Meguro dengan santainya. Akan tetapi …

BBRRAAKK … suara pintu yang terbuka dengan pukulan keras kembali terdengar. Hal itu mengejutkan Meguro yang hampir saja ingin melakukan sesuatu yang tidak berkenan pada Rinne.

“Kau tidak akan pernah bisa mengambil Rinne dari-ku, Meguro!!” seorang pria yang selama ini menjadi saingan Meguro telah tampak di depan pintu itu. Dan ia membawa Kageyama masuk juga. Pria itu mendorong Kageyama itu sehingga ia jatuh ke lantai yang cukup kotor itu. “Kau!! Bagaimana kau bisa hidup?!” tanya Meguro terhadap pria itu.

“Demi menjaga keselamatan Rinne, aku rela hidup meskipun ia saat ini sedang membenciku.” Ujar pria itu dan segera menghampiri Meguro.

“Rasakan ini, pria tak tahu diri!!” kini pria itu bersiap-siap melayangkan sebuah pukulan tepat di wajah Meguro.

BBRRUUKK … Dengan sekali pukulan, Meguro langsung jatuh ke lantai.

“AKU … AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMBIARKAN RINNE HIDUP BERSAMAMU. MENGERTI!!” merasa tidak terima, pria itu langsung memukul lagi wajah Meguro dan menghajarnya habis-habisan.

Tak lama kemudian, Kageyama mulai berusaha untuk melarikan diri dari pria itu dan juga Meguro. Akan tetapi …

TUING .. TUING .. (?)

Suara sirine mobil polisi telah terdengar dan hal itu membuat Kageyama terkejutnya bukan main. “Benarkah anda Kageyama Takuya?” tanya petugas polisi itu pada Kageyama. Namun tak ada jawaban. Kemudian ia berusaha untuk bisa melarikan diri. Tapi, “Maaf Kageyama-san. Anda akan kami tangkap karena telah membius seorang wanita dan juga gugatan korupsi.” Ucap petugas itu dan segera mengeluarkan rantai berbentuk 2 buah lingkaran yang tujuannya akan di pasangkan di kedua tangan Kageyama. “Tidak bisa, Pak!! Saya tidak korupsi!!”

“Maaf, tuan. Tapi semua pembuktiannya sudah terbukti. Jadi tuan akan kami tangkap.” Petugas polisi itu memberikan isyarat pada petugas lainnya untuk membawa masuk Kageyama ke dalam mobil polisi dan menyuruhnya untuk membawa Kageyama ke kantor polisi.

Di dalam ruangan itu ….

“Ck. Sebentar lagi kau juga akan di tangkap, Meguro! Bukankah kau dulunya pernah di penjara dan berusaha kabur?” ucap pria yang sejak tadi menghajar Meguro habis-habisan di dalam ruangan itu.

Meguro berdesis. Kali ini usahanya untuk memuaskan diri atas gadis bernama Rinne telah sia-sia.

“Maaf, Abe-san. Kami sedikit terlambat.” Tak menunggu banyak waktu, petugas polisi itu langsung masuk ke dalam. Dan pada akhirnya, terungkaplah siapa pria ini sebenarnya. “Terima kasih, Miyachika-san.” ucap pria bernama Abe itu dan segera menyerahkan Meguro yang dalam keadaan lemas. “Selamat bersenang-senang di penjara, Meguro Ren!” bisik Abe di telinga Meguro. “Awas kau, Abe Aran!! Aku tidak akan tinggal diam!!” ketus Meguro pada akhirnya dan kemudian ia segera di pasangkan rantai berbentuk 2 buah lingkaran di bagian pergelangan tangannya. Petugas polisi bernama Miyachika itu segera menyerahkan Meguro pada petugas polisi yang lainnya.

“Miyachika, terima kasih atas bantuannya.” Ucap Abe yang berterima kasih pada Miyachika. “Tidak masalah. Sekarang aku akan mengantarmu dan Rinne pulang. Kasihan dia.” Suara Miyachika merendah. Kini di lihatnya Rinne yang masih dalam keadaan pingsan itu dengan tatapan sedihnya. Begitu pula dengan Abe. Kemudian ia menghampiri Rinne dan menopang tubuh lemasnya itu kembali pulang.

“Ikut padaku saja. Aku pasti akan mengantar kalian pulang.” Ucap Miyachika menawarkan. “Terima kasih.” Ucap Abe dan segera membaw Rinne masuk ke dalam mobil polisi. Kali ini Miyachika mengantar mereka sampai di rumah Rinne.

*+*+*

Keesokan harinya …

“Ummhh..” kembali Rinne menggeliat. Ternyata obat biusnya itu telah membuat dirinya terlelap sampai pagi. “Ah~ Rinne-chan daijoubu ka?” suara khas Yuri kembali terdengar. Ia terkejut ketika mengetahui Rinne telah menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan sadar.

“Di mana aku?” tanya Rinne dengan lemas.

“Di rumah. Tadi malam, Aran-san yang membawamu kemari.” Ketika Yuri mengakatan nama ‘Aran’, Rinne langsung terbangun dan membulatkan matanya.

“Apa? Aran-kun yang membawaku kemari? Benarkah itu? Tapi, kenapa kau tidak membangunkanku tadi malam?” mendadak suara Rinne memelas, namun Yuri tidak bisa berbuat apa-apa lagi. “Maaf. Tapi tadi malam Aran membawamu dalam keadaan pingsan, jadinya ya, aku tidak berani membangunkanmu.” Ucap Yuri dan pada akhirnya ia menunduk.

TOK TOK TOK …

Suara pintu kamar Rinne kembali terdengar. Membuat Rinne maupun Yuri terkejut.

“Oniichan?” Rinne pun segera bangkit dan menyambut kakaknya yang bernama Matsumoto Mizuno itu.

“Mulai sekarang, kalian berdua lekas mandi. Hari ini juga kalian berdua akan menikah bersama-sama.” Baik Rinne maupun Yuri langsung kebingungan ketika mendengar ucapan Mizuno barusan. Namun, beberapa detik kemudian Yuri mendadak ingat sesuatu. “Ah, iya. Hari ini kita berdua mulai menikah.” Ucap Yuri yang sama seperti apa yang di ucapkan oleh Mizuno.

“Apa? Tapi, aku tidak tahu pengantin pria-nya. Jadi bagaimana bisa kalau aku menikah tanpa mengetahui pengantin pria-nya. Lalu bagaimana dengan pemberkataannya?” Rinne pun langsung panik jika berkenaan dengan masalah ini.

“Semuanya sudah beres, kau tetap akan melakukan pemberkatannya dan tanpa mengetahui terlebih dulu pengantin pria-nya. Sudahlah, kamu turuti apa kataku. Aku berani jamin kau pasti bahagia.” Ucap Mizuno dan segera mendorong pelan tubuh Rinne untuk masuk ke dalam kamar mandi.

Bagaimana pun juga Rinne tetap menurut pada kakaknya itu. Meskipun dari dalam hatinya ia masih bertanya-tanya.

*+*+*

Persiapan pun telah selesai, kini Rinne dan juga Yuri sudah bersiap menuju ke salon untuk melakukan make up. Wajah Rinne tampak tidak bahagia. Bagaimana bisa dia menikah tanpa tahu pengantin pria-nya?

“Sudahlah Rinne-chan. Aku yakin kau pasti bahagia nantinya. Jangan cemberut begitu.” Yuri berusaha membuat sahabatnya yang satu ini tersenyum.

“Apakah ini kejutan?” tanya Rinne. “Hmm .. mungkin .. hahaha!! Nanti juga kau akan mengetahuinya sendiri.”

Selama perjalanan mereka menuju salon, bahan pembicaraan kini selalu di perbincangkan oleh kedua manusia bersahabat ini.

.

.

Skip 3 hour …

Pada jam 10 pagi wkatu setempat, Rinne maupun Yuri sudah berdandan dengan rapi. Tirai pengantin yang di kenakan oleh Rinne lumayan tebal sehingga saat tirai itu menutup wajah Rinne, ia tidak akan mengetahui siapa pengantin prianya. Lebih parahnya lagi, disaat pengantin pria nya mengucapkan janji suci di depan altar, Rinne di berikan sepasang earphone kecil supaya suara dari pengantin pria nya tidak di ketahui. Hal ini sempat membuat Rinne sebal. Tapi mau bagaimana lagi?

Pada jam 12 siang, acara pemberkatan pun telah selesai. Tirai pengantin milik Rinne masih tertutup hingga ia sampai pada sebuah hotel. Begitu pula dengan Yuri. Tetapi, Yuri masih bisa mengetahui suara Genki. Tapi, tidak bagi Rinne.

“Sudah sampai. Untuk sementara ini aku buka tirai pengantinnya ya.” Ucap Yuri dan segera membuka tirai pengantin milik Rinne ketika mereka sudah sampai di hotel.

“Huh, menyebalkan. Bagaimana bisa seperti ini?” Rinne pun memasang raut wajahnya yang cemberut itu sehingga membuat Yuri tertawa tertahan. “Kamu juga kenapa tertawa?” tanya Rinne dengan sebal.

“Hahaha! Kamu lucu sekali, Rinne-chan. Sudahlah, percaya saja sama aku dan juga Mizuno-niisan. Aku yakin kamu nanti bahagia.”

Mulai saat itu juga, Rinne maupun Yuri beristirahat sejenak sebelum nanti malam melakukan resepsi pernikahan dengan Rinne yang tidak mengetahui pengantin pria nya dan Yuri dengan Iwahashi Genki.

.

.

Pada jam 6.30 malam, Rinne dan Yuri sudah berada di kursi pengantin yang terletak di atas panggung. Semua tamu undangan sudah pada berdatangan. Mizuno beserta lainnya sedang menerima tamu undangan yang masuk kedalam.

Para tamu undangan sempat kebingungan dengan tidak adanya pengantin pria. Dan beberapa di antaranya juga berpikir bahwa pengantin pria-nya datang belakangan. Hal itu membuat Rinne semakin panik dan Yuri yang justru semakin santai.

“Sebentar lagi, Rinne-chan. Aku yakin kau pasti langsung senang.” Bisik Yuri pada Rinne yang masih panik. Tapi, ia mencoba untuk percaya pada Yuri.

“Selamat malam para tamu undangan sekalian. Pada malam hari ini, saya Tsukada Ryoichi akan menjadi pembawa acara. Baiklah!! Kita sambut kedatangan 2 pengantin pria.” Ujar sang MC sambil mengarahkan tangan kanannya menuju ke sudut depan ruangan itu. Tepat di jalan keluar masuk.

Tiba-tiba saja tim pemusik langsung menyiapkan diri … dan hal itu mengejutkan Rinne.

kanawa nai negai nado nai to omotte iru
kimi e no omoi wa icchokusen sora kakeru

Bukankah ini suara Aran-kun?
nē konya wa kimi mo (get close to me) onaji yumemi teru ka na
yozora ni hashigo o kakete mukae ni ikou ka

Lalu ia bernyanyi dengan siapa?
furueru kimi no te ni atsui kisu kisu kisu on aisu
sora tobu neko ga iru to iu nara boku wa shinjiru yo
itoshii kimi no te ni atsuku kisu kisu kisu on aisu
(kisu on aisu)
dakedo kono koi wa mada futari dake no himitsu da kara
daisuki desu daisuki desu daisukidesu (kisu on aisu)
daisukidesu daisukidesu daisuki desu (kisu on aisu)

Sosoknya mulai muncul… dan dia ….
kimi to issho ni iru to itsu datte senobi shi te
hontōwa mahō datte tsukaeru to omot teru

Ah~ kenapa Genki-san yang baru keluar?
kimi wa arisu ja nai ( get close to me) hoshizora no michishirube
mayowa zu tadori tsuke tara kono mune no naka e

Suara Aran … aku yakin ini suaranya … tapi dimana dia?
dakishime te ageru yo hanare ran nai unmei da yo
mise te ageru sa kono iryūjon kitto shinjiru yo
donnani hanare te ite mo itsumo all my love to you (love to you)
dakedo kono koi wa mada futari dake no himitsu da kara

Aran? … benarkah dia adalah Aran? Pria yang saat ini sedang kunanti?
daisuki desu daisuki desu daisukidesu (love to you)
daisukidesu daisukidesu daisuki desu (love to you)
daisukidesu kisu on aisu
daisuki desu Yes kisu on aisu

(Pada lirik ini, Aran maupun Genki mulai berjalan menuju ke panggung …)
I’ll sing for you kono hoshi ni negai wo
Dreamin’ with you kimi o hitorijime shitai yo
1000 nen saki mo issho da yo yubikiri shiyo u endoresurabu
sora tobu neko ga iru to iu nara boku wa shinjiru yo
itoshii kimi no te ni atsuku kisu kisu kisu on aisu
dakedo kono koi wa mada futari dake no himitsu da kara

(Pada lirik ini, Aran menyentuh tangan Rinne … dan Genki menyentuh tangan Yuri)


I’ll feel better when the season’s gone
kimi wa boku no mono dayo
You’ll feel better when the season’s gone
boku wa kimi no mono dayo
daisuki desu daisuki desu daisukidesu
daisukidesu daisukidesu daisuki desu

Setelah lagu ini berakhir … Aran langsung mencium bibir tipis Rinne. Kemudian Genki juga langsung mencium bibir tipis Yuri.

Sorak-sorai tamu undangan kembali terdengar …. membuat pesta pernikahan ini semakin meriah …

Okaerinasai …. Abe Aran ….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s