[Multichapter] Part Time Lover #2

ptl

Author : Mari-chan
Type : Multichapter
Genre : Romance, Friendship
Casts : Yamada Tsugi (OC), Yamada Ryosuke, Inoo Kei, Chinen Yuri, Tegoshi Yuya, Matsumoto Jun, other OCs

Disclaimer : I do not own the casts except the OCs. The poster is made by myself.

 Langit biru hari ini mengingatkanku akan hari itu.. Hari dimana aku terakhir bertemu dengannya.

Chapter 2

16 Februari 2015

Sudah kurang lebih 5 minggu lamanya aku terus sms-an dengan laki-laki misterius ini. Lagi-lagi belum ada balasan, pikirku. Aku memasukkan kembali hpku ke dalam tas. Hari ini aku ada janji kencan dengan Ryosuke. Kencan ini terjadi karena kecemburuannya pada Jun-senpai. Akhir bulan kemarin, aku terpaksa disuruh ayahku untuk pergi makan malam dengannya. Kami pergi makan malam di sebuah restoran berbintang lima. Gara-gara itulah aku jadi berjanji akan kencan dengan Ryosuke. Aku tidak ingin dia marah berlarut-larut.

 

“Kurasa kamu daritadi terus mengecek hpmu ya” bisik Ryosuke yang entah muncul darimana.

 

“Ryo-chan!” teriakku kaget. Aku benar-benar kaget mendengar suaranya sangat dekat. “Kamu muncul darimana sih!”

 

“Dari…..hatimu mungkin?” jawabnya sambil tersenyum. Dia mengelus kepalaku dengan lembut. “Maaf kau jadi menunggu lama.”

 

“Iya, benar. Cowok macam apa kamu, berani-beraninya membuatku menunggu begini” jawabku ketus tetapi bercanda.

 

“Kan sudah kubilang aku akan terlambat. Aku ada urusan penting tau.”

 

“Baiklah terserah kamu saja. Ayo cepat sekarang kita kemana?”

 

“Tsugi-chan” katanya dengan nada sangat lembut. Tangannya mendekat menyentuh kedua pipiku. Ia lagi-lagi tersenyum dan bertanya, “Kau tahu mengapa aku sangat ingin bersamamu?”.

 

Pertanyaan macam apa itu. Aku melepaskan tangannya dari kedua pipiku dan menyikutnya. “Sudah jangan banyak bercanda. Mau kemana kita sekarang?”

 

“Kau yang menentukan. Apa tempat yang sangat kau ingin kunjungi?”

 

“Hmm…tidak ada” jawabku singkat. ‘Kenapa aku yang harus menentukkan? Memangnya aku yang ingin kencan..’ gumamku.

 

Ryosuke nampaknya mendengar gumamanku. Ia mengeluarkan hpnya dan menelpon seseorang. Aku tidak dapat mendengar apa-apa karena ia berjalan menjauh saat menelpon orang tersebut. Ia kembali sambil memasukkan hp ke saku celananya.

 

“Kau menelpon siapa?”

 

“Kita sudahi saja ya…” katanya sambil tersenyum pahit. Pandangannya tidak menatapku saat berbicara. “Rasanya aku sudah capek terjebak dalam keadaan satu pihak begini.”

 

“Apa maksudmu…?”

 

“Iya, aku sudah capek.” Ia tersenyum dan membungkuk, “Maafkan aku tapi sepertinya lebih baik kita pulang saja. Maaf juga aku tidak dapat mengantarmu pulang”.

 

“Apa maksudmu, Ryosuke? Apa yang terjadi? Siapa orang yang kau telpon tadi?”

 

“Aku benar-benar minta maaf” jawabnya singkat dan pergi meninggalkanku.

 

Entah kenapa saat itu hatiku rasanya retak. Aku merasa sangat terpukul. Apa maksud dari semua ini? Apa salahku? Semua pertanyaan itu terus muncul di benakku. Walaupun ia pergi, aku tetap berdiri disana. Terus berdiri dan berharap dia akan kembali. Sudah 2 jam dan dia memang tidak kembali. Hujan tiba-tiba turun dengan derasnya. Tanpa kusadari, air mataku mengalir bersamaan dengan hujan yang turun malam ini. Setelah beberapa lama kehujanan, aku akhirnya masuk ke sebuah café untuk berteduh. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan orang yang kukenal. Aku bertemu dengan Matsumoto Jun, kakak seniorku.

 

 

Ryosuke’s POV

 

                “Chinen” sapaku sembari berjalan ke arahnya.

 

                “Yo! Ada apa ini sebenarnya? Mengapa kau tiba-tiba membatalkan rencana surprisenya?” tanya Chinen yang sedang menaruh gelas kopinya.

 

                “Aku menyerah.”

 

                “Karena?” tanya Chinen masih mengerti.

 

                Aku tidak menjawabnya dan tetap diam sambil menatap kotak kecil yang daritadi berada di sakuku. Di dalam kotak ini terdapat sebuah kalung yang ingin kuberikan kepada Tsugi sebagai hadiah ulang tahunnya. Tetapi rencana itu semuanya gagal.

 

                “Oi Ryosuke, jawab aku. Ada apa sebenarnya? Bukankah kau sudah susah payah merencanakan surprise ini?” tanya Chinen lagi.

 

                “Itu memang benar, tapi apalah dayaku.. Aku awalnya berniat mengantarnya ke tempat yang ingin dia kunjungi…”

 

                “Tapi…?”

 

                “Tapi…dia justru memperlihatkan ketidaknyamanannya untuk pergi kencan bersamaku. Saat melihatnya begitu dan mendengar ia bergumam begitu, aku tidak tega memaksanya lebih lagi. Mungkin memang sudah saatnya semua ini berakhir. Aku tidak ingin terus memaksanya masuk ke duniaku dengan egois begini.”

 

                “Jadi kau mau menyerah?”

 

                “Bisa dibilang begitu.”

 

                Chinen pun terdiam dan begitu pula aku. Aku tidak dapat berkata apa-apa lagi. Semua rencanaku gagal, termasuk rencana dimana aku akan menembakknya hari ini. Aku sudah mempersiapkan semuanya tetapi semua ini sia-sia. Semua rencana ini seharusnya kulakukan pada saat ulang tahunnya, 30 Januari kemarin. Tetapi rencana itu gagal karena dia harus pergi makan malam dengan anak rekan ayahnya itu. Aku sangat kecewa dan marah. Akhirnya ia yang berjanji bahwa akan kencan denganku. Tetapi sekarang ya begini. Aku tidak bisa lagi menahan semuanya. Sudah cukup aku berada dalam cinta yang bertepuk sebelah tangan begini. Aku menyerah.

 

 

***

 

“Tsugi-chan?” sapa Jun sambil menghampiriku. “Apa yang terjadi? Bukankah kamu seharusnya sedang kencan dengan Yamada? Kok kamu malah basah kuyup begini?”

 

“Senpaii..” aku tak dapat menahan tangisku dan memeluknya. Ia menenangkanku dan membawaku ke tempat yang lebih sepi untuk mengobrol.

 

“Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?”

 

“Yamada, meninggalkanku.”

 

“Alasannya?”

 

“Tidak ada.”

 

Aku kembali menahan air mataku keluar. Dadaku terasa sangat sakit. Apa sebenarnya yang sedang kurasakan? Aku tidak mengerti lagi. Aku mencengkram ujung dress yang sedang kugunakan. Aku berpakaian rapih hari ini karna aku ingin memberikan kesan yang lebih nyata tentang kencan ini. Tetapi sepertinya dress ini tidak membawa keberuntungan kepadaku.

 

“Jangan menangis lagi, biarkan dia pergi. Kau punya aku sekarang” kata Jun yang tiba-tiba memelukku dengan erat. Aku terdiam kaget. Aku tidak menyangka ia akan memelukku. Entah apa arti dari pelukannya, tapi aku merasa sangat tenang sekarang. Aku merasa aku aman dan bisa dengan lega meninggalkan Ryosuke.

 

Setelah perasaanku menjadi lebih tenang, Jun mengantarku pulang dan memastikan aku tidak apa-apa. Sesampainya di rumah, aku tidak menyangka akan melihat saudara tiriku di rumah. Ia sedang membereskan pakaiannya. Oh ya, dia habis menginap di rumahku karena ayahku dan ibunya sedang pergi ke luar kota. Mereka menitipkannya kepada ibuku meskipun dia anak laki-laki dan sudah cukup besar untuk menjaga dirinya. Aku menghapus air mata yang masih tersisa di mataku sambil masuk ke kamar.

 

                Knock knock..

 

“Tsugi-chan?”

 

“Chinen? Ada apa?”

 

“Boleh aku masuk?”

 

“Silahkan.”

 

Chinen masuk dan berdiri di sebelah pintu.

 

“Ada apa? Ada sesuatu yang bisa kubantu?”

 

“Aku dengar dari Ryosuke….”

 

“Oh, haha kenapa?” aku tertawa kecil agar berusaha mencairkan suasana.

 

“Apakah..kau tidak berniat memperbaiki hubungan kalian?” tanya Chinen.

 

“Hahaha sepertinya kau salah paham. Kami tidak memiliki hubungan yang sejauh itu..” aku tersenyum pahit. “Tapi apapun keputusan Yamada, aku akan menghargainya. Perkataan yang diucapkan seorang lelaki sangat bermakna bukan? Aku akan terus berpegang dengan apa yang ia katakan” jelasku.

 

“Tetapi apa kau tidak penasaran dengan alasannya mengatakan itu semua?”

 

Aku tersenyum lagi. Kali ini aku tersenyum ikhlas. “Aku sudah lama mengenalnya, Chinen. Aku sangat tahu jika ia mengatakan sesuatu pasti dia punya alasan yang kuat. Untuk itu, aku akan menghargai alasannya dan tidak mencoba mencari tahu. Dan lagi…”

 

“Apa..?”

 

“Dan lagi…aku tidak berhak apa-apa untuk terus menyakitinya. Mungkin memang lebih baik begini, lebih baik kita menyudahi semuanya. Entah menyudahi apa yang ia maksud. Maaf Chinen tapi bolehkah kamu meninggalkan kamarku? Aku ingin ganti baju.”

 

“Ah iya maaf. Aku sekalian pamit ya.”

 

“Iya, hati-hati ya. Titip salam untuk papa, mama, dan…..tolong sampaikan ke Yamada, terima kasih atas semuanya ya. Semua yang kulakukan bersamanya selalu menyenangkan.”

 

Chinen mengangguk dan meninggalkan kamarku. Sesaat pintu kamarku tertutup, air mataku kembali membanjiri wajahku. Kali ini aku tidak dapat menahan tangisanku. Air mataku terus mengalir hingga mataku sembab. Sepertinya aku tidak dapat datang ke sekolah besok. Aku meraih hpku dan melihat galeri. Aku membuka folder yang berisi foto-foto kenanganku dan Ryosuke. Aku tidak menyangka semuanya akan kacau begini. Aku masih ingat janji yang kuucapkan kepadanya. Aku berjanji bahwa aku tidak akan dekat dengan laki-laki selain dirinya. Dekat dalam arti spesial. Aku berjanji bahwa aku akan terus bersamanya. Sekarang semua janji itu tidak dapat kutepati, maafkan aku Ryosuke.

 

Tiba-tiba saja hpku bergetar. Ada sms masuk. Aku dapat menebak siapa yang mengirim sms di saat seperti ini. Ya, laki-laki misterius itu.

 

Selamat malam, sayang! Apakah kau menikmati jalan-jalan hari ini? Ayo ceritakan kepadaku. Maaf baru bisa membalas smsmu sekarang. Aku sibuk sekali hari ini. Jangan lupa istirahat ya!

 

Aku menghapus air mataku dan membalas sms tersebut.

 

Apakah aku boleh menelponmu lagi?

                                                                                                                Message Sent

 

 

Aku menaruh hpku di ranjang dan hendak mencuci mukaku yang kusut ini karna hampir seharian menangis. Namun hpku kembali berdiring. Aku ingin tidak menghiraukannya tetapi aku tidak bisa. Akhirnya aku meraih kembali hpku dan membuka sms yang masuk.

 

Sepertinya kau sedang merasa sedih? Tentu kau boleh menelponku kapan saja. Bagaimana kalau kita bertemu? Aku yakin kau juga sangat penasaran dengan diriku kan?

                Aku tidak tahu harus berbuat apa tetapi memang benar aku sangat penasaran dengan laki-laki misterius itu. Akhirnya aku memutuskan untuk bertemu dengannya untuk pertama kalinya. Aku segera mencuci mukaku dan ganti baju yang lebih nyaman. Aku meraih sweaterku dan berangkat.

 

 

***

 

“Apa yang ingin kau bicarakan sampai harus bertemu denganku hari ini juga?” tanya Ryosuke kepada Jun.

 

“Aku memberimu kesempatan terakhir. Apakah benar kau akan menyerah dan meninggalkan Tsugi-chan? Apa kau yakin dengan keputusanmu?” jawab Jun.

 

Ryosuke tersenyum kecil. “Jadi…dia langsung memberitahumu ya? Apa kalian sebentar lagi akan berpacaran? Atau menikah? Selamat ya senpai. Jangan lupa mengundangku.”

 

Mendengar hal tersebut, Jun menjadi emosi dan memukul Ryosuke. Ia meraih kerahnya dan memperingatinya sekali lagi. “Kutanya sekali lagi, apa benar kau akan menyerah dan meninggalkan Tsugi-chan?”

 

Ryosuke menatap Jun serius dan menjawab, “Iya. Puas?”.

 

“Apa kau yakin? Ini adalah kesempatan terakhirmu untuk memutuskan itu” kata Jun memperingati lagi.

 

Ryosuke membenarkan kerahnya dan menjawab dengan serius, “Yakin. Lagi pula apa hubungan keputusanku dengan dirimu? Bukankah itu tidak berhubungan sama sekali?”.

 

“Tentu ada hubungannya. Jika kau membuat Tsugi menangis, tentu kau akan berhubungan denganku. Jika kau bilang bahwa kau akan melepasnya hari ini, mulai hari ini juga aku akan merebutnya darimu” jelas Jun.

 

Ryosuke tertawa. “Hahahaha begitu ya? Baguslah kalau begitu. Jya~ Sampai jumpa di sekolah senpai” katanya sambil membalikkan badan dan berjalan pergi.

 

“Yamada, kau salah telah melepaskannya” kata Jun sebelum Ryosuke berjalan lebih jauh. Jun menelpon ayahnya dan berkata, “Pa, ayo kita laksanakan perjodohan itu”.

 

***

20 Desember 2018

Aku, Yamada Tsugi dan tahun ini aku berumur 19 tahun.  Awal tahun nanti aku akan berangkat ke New York untuk melanjutkan kuliahku. Aku kebetulan dapat beasiswa disana dan ibuku dipindah tugaskan disana juga. Aku merasa di dalam hidupku banyak sekali kebetulan-kebetulan yang terjadi. Namun, aku tidak menganggap seluruhnya sebagai kebetulan. Aku menganggap hal-hal itu memang sudah ditakdirkan untuk terjadi.

 

Setelah selesai berberes packing, aku menelpon Sachi, sahabat yang kukenal sejak kelas 2 SMA.  Kami ada janji untuk datang bersama-sama ke acara perpisahan terakhir dengan teman-teman SMA kami semua.

 

“Sachi? Kau ada dimana sekarang? Aku sudah selesai nih.”

 

“Iya.. aku sedang di salon langgananku. Ayo kemari, aku akan sms alamatnya.”

 

“Baiklah. Sampai jumpa disana.”

 

Setelah mendapatkan alamatnya aku segera kesana. Aku mengenakan white bardot skater dress yang sudah lama ingin kubeli. Rambutku yang baru saja kupotong sepundak, kucepol ke atas. Sachi berpesan agar rambutku tidak diapa-apakan. Ia bilang biarkan orang salon yang mengurusnya. Sesampainya aku di salon, mukaku langsung didandani senatural mungkin. Rambutku juga dikeriting asal agar tidak memberikan kesan kaku. Setelah selesai semuanya, kami berdua segera berangkat ke hotel tempat perpisahan kami semua.

 

Semua orang terlihat cantik dan tampan. Sepertinya memang kami semua ingin memberikan kesan yang indah sebelum kami semua berpisah. 3 tahun bersama bukanlah waktu yang singkat. Di dalam 3 tahun itu, banyak sekali yang terjadi. Baik itu hal bahagia atau pun sebaliknya. Hari ini juga….merupakan hari terakhir aku dapat bertemu dengannya sebelum kami berpisah sementara.

 

TBC

Advertisements

3 thoughts on “[Multichapter] Part Time Lover #2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s