[Multichapter] Part Time Lover #1

ptl

Author : Mari-chan
Type : Multichapter
Genre : Romance, Friendship
Casts : Yamada Tsugi (OC), Yamada Ryosuke, Inoo Kei, Chinen Yuri, Tegoshi Yuya, Matsumoto Jun, other OCs

Disclaimer : I do not own the casts except the OCs. The poster is made by myself.

 

 Langit biru hari ini mengingatkanku akan hari itu.. Hari dimana aku terakhir bertemu dengannya.

 

 

Chapter 1

15 Januari 2015

  Aku, Yamada Tsugi dan hari ini adalah hari ulang tahun ayahku. Orangtuaku sudah bercerai dan aku tinggal bersama ibuku. Ayahku menikah lagi dengan wanita lain dan hari ini adalah hari pernikahan mereka. Ayah mengundangku ke pernikahannya namun aku masih belum tahu harus datang atau tidak. Aku juga belum pernah bertemu dengan calon ibu tiriku. Satu hal yang aku tahu, perempuan itu juga memiliki anak laki-laki seumurku. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore dan seharusnya sudah waktunya aku bersiap-siap. Ibuku sedang ada dinas di luar negeri sehingga dia tidak bisa hadir. Ia berpesan agar aku bisa datang setidaknya untuk menunjukkan bahwa aku merestui pernikahan mereka. Bukannya aku tidak merestui pernikahan mereka tetapi aku tidak ada mood untuk datang ke pesta itu.

Sejujurnya aku memaklumi perbuatan ayahku itu karena semua ini terjadi karena ulah ibuku. Ibuku terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan tidak mempedulikan keluarga. Ia lebih sering berpegian ke luar kota atau luar negeri daripada meluangkan waktu untuk liburan bersamaku dan ayah. Aku paham betul mengapa ayahku memilih untuk meninggalkan ibuku. Tapi hati kecilku merasa aku belum siap memiliki ibu tiri.. Karena masih kebingungan aku pun menelpon sahabatku, Ryosuke. Aku meminta pendapatnya dan dia menyuruhku untuk datang walaupun hanya sebentar. Dia bilang ayahku pasti sangat mengharapkan kedatanganku ke pesta itu. Ryosuke tau benar ayahku sangat menyayangiku dan begitu pula sebaliknya.

Akhirnya aku memutuskan untuk datang. Aku berdiri menuju lemariku dan mulai mencari gaun apa yang akan kukenakan. Aku ingin mengenakan gaun terbaik yang kumiliki untuk menunjukkan restuku kepada mereka. Setelah beberapa lama berdiri dan memilih-milih, aku pun mengambil dress putih yang berpadukan warna merah muda. Aku meraih kotak sepatu yang ada di pojok kamarku. Sepatu ini adalah hadiah ulang tahunku yang ke-15 dari ayahku. Tahun lalu kami sekeluarga merayakan ulang tahunku di Okinawa. Itulah pertama kalinya aku merayakan ulang tahunku dengan kedua orang tuaku di luar. Sepatu ini berwarna silver dengan bentuk pita di ujungnya dan berhak kira-kira 3 cm. Setelah memutuskan apa yang akan kukenakan, aku segera bersiap dan berganti pakaian.

Tepat pukul 5 aku berangkat ke pesta pernikahan ayahku. Sesampainya disana, aku disambut dengan pelayan yang sangat ramah. “Wah akhirnya nona datang juga. Kedatangan nona sangat ditunggu-tunggu oleh tuan. Mari saya antar” katanya sembari mengantarku menemui ayahku yang sedang berbincang dengan rekan kerjanya.

“Wah, anakmu cantik sekali. Dia mirip sekali denganmu” kata seorang bapak yang berdiri di sebelah ayahku. Aku tidak pernah bertemu dengannya tapi mengapa ia langsung tahu bahwa aku anak ayahku? Apakah semirip itu kami.. Aku hanya melontarkan senyumku dan menunduk sebagai tanda hormat.

“Hahahaha terimakasih sudah memujinya, Matsumoto-san. Tsugi-chan kemari nak, biar papa kenalkan kamu dengan rekan kerja papa yang satu ini” sahut ayahku.

Satu-satunya rekan kerja ayahku yang aku kenal adalah ayahnya Ryosuke. Ayahku dan ayahnya Ryosuke sudah dekat dari dulu, mereka berteman sangat baik. Sejak aku masih kecil keluargaku dan keluarganya sangat dekat, itu juga yang menyebabkan hubunganku dengan Ryosuke semakin akrab. Aku mendekat ke sisi ayahku dan memperkenalkan diriku. “Selamat malam om, aku Yamada Tsugi.”

“Aku sudah dengar banyak tentangmu dari ayahmu. Ngomong-ngomong aku memiliki anak seumuranmu lho, tapi satu tahun lebih tua” katanya lagi sambil tersenyum lebar.

Aku tidak menyangka ayahku banyak bercerita tentangku ke teman-temannya. Beberapa saat kemudian seorang laki-laki datang menghampiri kami sambil tersenyum. Tingginya hampir melebihi tinggi ayahku dan ia mengenakan tuxedo berwarna hitam dan sepatu pantofel hitam juga. Kulitnya yang putih membuat dirinya terlihat lebih menawan dengan tuxedo yang ia kenakan. Alisnya yang tebal menunjukkan sisi tegas yang ia miliki sedangkan senyumannya menambah kesan ramah.

“Selamat malam semuanya” sapanya.

“Nah ini dia yang tadi kita bicarakan. Ini anakku, Matsumoto Jun. Dia tahun ini 17 tahun, setahun lebih tua darimu bukan?” kata rekan ayah sambil menepuk nepuk pundak anaknya.

“Aku mengenalnya kok. Dia Yamada Tsugi anak kelas 1-2. Dia bersekolah di tempatku pa, di Sendai Gakuen.”

Eh? Mengapa ia bisa mengenalku.. Aku tidak familiar dengan mukanya. Masa iya kami satu sekolah tapi aku tidak pernah berpapasan dengannya? Ditambah lagi dia kan senpai… Seharusnya aku mengenalnya lewat masa orientasi waktu itu.

“Melihat raut wajahmu kebingungan begitu, sepertinya kamu tidak mengenaliku ya?” tanya Jun heran.

“Maaf..” aku hanya dapat meminta maaf karna merasa malu. Aku merasa tidak enak karena tidak mengenalinya walau pun kita berada di satu sekolah yang sama.

“Hahaha tidak apa, mungkin anakku yang tidak terlalu populer. Jun, sebaiknya kamu yang meminta maaf. Lihat tuh Tsugi-chan jadi merasa malu begitu” sahut Matsumoto-san.

“Papa tidak tahu apa-apa tentangku. Aku ini yang paling populer di sekolah tahu. Nama panggilanku MJ dan banyak orang yang mengidolakanku” bisik Jun kepada ayahnya.

“Oh jadi senpai adalah MJ yang dibicarakan itu? Temanku sangat menyukai senpai!”

“Ah? Kamu tau akhirnya hahaha duh jadi gaenak kesannya aku narsis banget. Temanmu menyukaiku? Katakan padanya aku sangat berterimakasih untuk itu.”

Wah ternyata memang dia ramah sekali. Senyumannya sangat tulus. Jika ia menjadi seorang artis pasti sudah banyak fans yang tergila-gila dengannya. “Iya, akan kusampaikan padanya.” Setelah perbincangan singkat itu, aku dan ayahku meninggalkan mereka. Ayahku membawaku ke salah satu ruangan di hotel itu. Ya, resepsi pernikahan ayahku ada di hotel ini. Hotel ini adalah hotel miliknya sehingga dapat dikatakan ia menghemat uangnya untuk biaya tempat resepsi. Aku masuk ke dalam ruangan itu dan menemukan calon istri baru ayahku.

“Tsugi-chan!! Terimakasih sudah datang ke pernikahan kami” kata calon ibu tiriku sambil menghampiriku. Ia buru-buru menghampiriku dan memelukku dengan erat. Pelukannya sangat hangat. Aku tidak pernah bertemu dengannya sebelum ini. Yang kutahu namanya adalah Chinen Satomi. Rambutnya yang panjang menutupi punggungnya. Gaun yang ia kenakan sangatlah indah dan megah. Berwarna putih dan penuh dengan gliter yang membuatnya tampak berkilau. Ia terlihat sangat cantik dan aku tidak bisa mengingkari itu.

“Tante terlihat sangat cantik dibalut gaun itu. Kalian berdua terlihat sangat cocok. Aku sangat senang melihatnya” kataku sambil tersenyum menunjukkan ketulusanku.

“Terimakasih Tsugi-chan, jangan panggil aku tante lagi. Panggil saja aku mama….jika kamu tidak keberatan.”

Aku terdiam sejenak. Mereka berdua bertatapan dan melihatku. Aku tersenyum dan menjawab, “Tentu aku tidak keberatan, mama”. Mendengar hal tersebut, keduanya tersenyum dan mereka berdua memelukku. Acara resepsi pernikahan mereka berlangsung sangat meriah. Tidak terasa sekarang sudah jam 9 malam. Aku pamit kepada ayah dan ibu tiriku dan pulang diantar supir pribadi ayahku. Aku tidak sendirian di mobil itu, aku ditemani oleh anak dari ibu tiriku. Ia bernama Chinen Yuri. Dalam perjalanan kami berdua tidak berbincang. Sesampainya di rumahku, aku baru saja ingin pamit namun ternyata ia sudah tertidur. Akhirnya aku titip salam melalui supir ayahku. Aku keluar dari mobil tersebut dan melihat Ryosuke berdiri di seberang rumahku.

“Ryosuke? Mengapa kamu ada disini?” tanyaku.

“Hmm.. Aku hanya ingin memastikan kau sampai ke rumah dengan selamat. Apalagi kau bilang kau semobil dengan saudara tirimu itu. Kalau kau kenapa kenapa bagaimana? Kita kan tidak tahu dia baik atau tidak?” Ryosuke terus menujukan pertanyaan bertubi-tubi kepadaku. Aku menutup mulutnya dengan jariku. Aku berdiri tepat di depan mukanya.

“Sshh.. Jangan bicara apa apa lagi.” Aku tersenyum dan menambahkan, “Anak itu tadi tertidur di mobil jadi kami tidak berbicara sama sekali”.

Raut wajah Ryosuke menjadi lebih tenang. “Syukurlah..”

Aku tertawa kecil dan bertanya kepadanya, “Memangnya kenapa? Kok kau tampak sangat panik tadi? Kau harus melihat ekspresimu saat membanjiriku dengan pertanyaanmu, kau terlihat seperti cowok posesif yang takut pacarnya selingkuh hahaha”.

“Jangan tertawa. Aku bukan terlihat seperti itu tetapi aku memang begitu bukan? Aku selalu khawatir kau akan direbut oleh lelaki lain. Ingat, kau itu milikku. Kau masih ingat perjanjian kita kan?!”

“Iya, iya.. Hahaha posesif sekali! Aku tidak menyukai cowok posesif tau” aku cemberut dan menyentil jidatnya.

“Aw! Sakit tau.. Siapa suruh kau malah memberiku janji itu. Kalau saja waktu itu kau setuju, pasti aku tidak akan seposesif ini. Ini semua salahmu tau” sahutnya sambil menyubit kedua pipiku.

“Stoppp. Sakit tau! Sudah,sudah lebih baik sekarang kau pulang, sudah malam. Besok kau harus bangun pagi untuk menjemputku berangkat sekolah kan.”

“Iya, aku ingat kok. Ya sudah aku pulang dulu ya.” Ia mendekatiku dan menyium jidatku, “Selamat malam, Tsuchan. Mimpikan aku ya”. Ia mengedipkan matanya padaku dan pergi. Aku dapat merasakan pipiku memerah seperti tomat. Aku tidak menyangka ia akan menyium jidatku seperti itu. Walaupun ia sudah biasa memelukku atau pun merangkulku ,tidak seharusnya ia melakukan itu. Aku merasa tidak enak dengannya. Bagaimana pun juga kami adalah sahabat. Walaupun aku sudah berjanji dengannya. Memang sih mungkin salahku untuk dengan gampangnya berjanji begitu. Tapi aku memang tidak dapat membohongi perasaanku. Tapi aku belum siap… Ah sudahlah lebih baik sekarang aku masuk ke dalam dan tidur.

Baru saja aku selesai mandi dan ingin berbaring di kasurku yang empuk, handphone-ku berdering. Ada satu pesan masuk ke handphone-ku. Nomornya tidak tersimpan di daftar kontakku, nomornya tidak kukenal. Karena penasaran akhirnya aku membuka pesan tersebut.

 

Hey.. Mungkin kau merasa terganggu dengan smsku. Aku tidak mengharapkan balasan darimu.. Aku sangat menyayangimu. Tolong biarkan aku terus melakukan rutinitasku ini, mengirim sms kepadamu.

 

Sms yang aneh, pikirku. Aku berniat membalas sms tersebut tetapi handphone-ku seketika mati. Aku menurunkan rasa penasaranku dan bersiap tidur. Malam ini terasa sangat dingin, aku memeluk boneka teddy bearku yang berwarna coklat. Boneka ini sangat besar dan selalu menemaniku tidur. Aku menarik selimutku yang juga berwarna coklat, menutupi seluruh tubuhku dan aku pun memejamkan mataku.

 

***

 

Sinar matahari dari celah jendela kamarku menyinari pagi hari ini. Aku terbangun dan segera menjulurkan tanganku ke meja lampu di sebelah kiri kasurku. Jam sudah menunjukkan pukul 6.30. Aku segera menuju kamar mandi dan bersiap untuk ke sekolah. Gerbang sekolahku akan ditutup pada pukul 7.50 dan perjalanan dari rumahku ke sekolah kira-kira 20 menit. Aku selalu berangkat ke sekolah menggunakan sepeda pemberian Ryosuke. Ia memberikan sepeda sebagai imbalan karena aku mau belajar bersepeda dengannya. Sejak saat itu, kami berdua selalu berangkat bersama menggunakan sepeda. Bahkan kadang Ryosuke akan memboncengku ke sekolah.

Setelah selesai mandi, aku membereskan kasurku dan meraih tasku kemudian segera turun ke bawah. Sembari aku memakai sepatu, aku melihat jam tanganku. “Wah sudah jam segini.. Ryosuke pasti akan mengomel lagi” gumamku. Aku segera keluar rumah dan yup, Ryosuke sudah melihatku dengan muka masam. Aku segera keluar dengan sepedaku dan siap untuk berangkat.

“Maafkan aku Ryosuke.. Aku tidak menyangka merapihkan kasur akan memakan banyak waktu.”

“Sudah kubilang, kalau kau mau membereskan kasurmu harus bangun lebih awal! Ayo cepat nanti kalau kita terlambat bagaimana.”

“Maaf…” Aku mengayuh sepedaku dengan sekuat tenaga. Ryosuke marah lagi denganku karena hal sepele ini.. Emosinya kadang memang suka meledak-ledak gak jelas. Tapi dia akan kembali netral sangat cepat. Lihat saja nanti, kalau aku belikan dia susu stroberi kesukaannya pasti dia akan kembali baik seperti bayi. Setelah ngebut ke sekolah menggunakan sepeda, akhirnya kami sampai tepat waktu. Kami memarkir sepeda di tempat biasanya. Aku menyuruh Ryosuke pergi ke kelas duluan karna aku ada urusan. Sebenarnya aku berbohong, aku ingin membelikannya susu stroberi kesukaannya.

Sesampainya di kelas, aku segera menghampirinya. Ada sesuatu yang aneh. Ryosuke tidak sendirian namun ia bersama seorang anak lain. Aku mendekatinya untuk melihat siapa dia. Semakin mendekat, aku semakin mengenalinya.

“EH?! Kamu?” teriak kami seirama.

Ryosuke kebingungan melihat aku berteriak bersama anak laki-laki itu. “Ada apa ini? Kalian saling mengenal? Kau mengenalnya, Chinen?”

“Chinen? Kau mengenalnya, Ryosuke?” tanyaku heran.

“Iya. Ini adalah Chinen Yuri, ia adalah teman SD-ku dulu, waktu aku masih di sekolah khusus laki-laki. Nah sekarang, bagaimana kau bisa mengenalnya?”

Ini pasti mimpi… Aku mencubit tanganku. Tidak, ini bukan mimpi. Jadi aku benar-benar berada di sekolah yang sama dengan saudara tiriku!? Aneh, ini benar-benar aneh. Mengapa ayahku tidak memberitahuku apa-apa… Aku terdiam sebentar dan menarik napas. Sebelum aku sempat menjelaskan, Chinen sudah terlebih dahulu menjelaskannya.

“Yamada, jangan kaget okay? Dia adalah saudara tiriku. Orangtua kami menikah kemarin.”

“Apa!? Tunggu.. Mengapa kalian tidak memberitahuku!?” tanya Yamada.

“Ya karena aku tidak tahu kalau kalian adalah teman dan aku juga baru tau kalau dia berada di sekolah ini juga. Aku baru saja ditransfer kesini tanpa mengetahui apa-apa.”

Yamada masih terlihat bingung dan ia bertanya kepadaku untuk memastikan apakah semuanya benar. “Iya, Chinen benar. Aku adalah saudara tirinya. Dia yang kemarin semobil denganku.”

“Maaf aku ketiduran jadi tidak bisa memperkenalkan diri ke nee-chan” kata Chinen.

“Nee-chan?” sahutku dan Yamada seirama.

“Iya, aku lahir bulan November sedangkan nee-chan lahir Januari kan?”

“Iya sih.. Tapi kau tidak perlu memanggilku dengan panggilan itu. Cukup panggil aku Tsugi-chan” jelasku. Aku tidak suka orang yang seumuran denganku malah memanggilku dengan sebutan itu. Ditambah lagi aku tidak pernah memiliki adik jadi akan terasa aneh kalau ada yang memanggilku begitu.

“Hmm baiklah. Sepertinya kau masih kaget Yamada hahaha” bisik Chinen dengan nada usil.

“Aku…tidak menyangka kalian berdua saudara. Ngomong-ngomong kalian tidak tinggal bareng kan!?”

“Tentu tidak, bodoh! Aku tinggal dengan ibuku, sedangkan ayahku tinggal dengan istri barunya yaitu ibunya Chinen.”

“Syukurlah.. Aku tidak akan bisa tidur tenang kalau membayangkan kalian tinggal bersama dan Chinen dapat melihat wajah pagimu setiap hari..” bisik Yamada.

“Apa? Aku tidak dapat mendengarmu” tanyaku.

“Tidak apa-apa. Ngomong-ngomong mana hpmu? Biasanya kau akan segera mematikan hpmu sesampainya di sekolah.”

“OH! Aku lupa membawanya… Tadi aku terburu-buru jadi tidak sempat memasukkannya ke sakuku. Ohiya ini susu stroberi kesukaanmu. Aku minta maaf ya..”

“Hahahaha lucu sekali” gumam Chinen.

“Dasar pelupa. Ya sudah terimakasih atas susunya ya. Ayo lebih baik kita kembali ke tempat duduk masing-masing sebelum guru datang.”

 

Someone’s POV

                Tanpa sengaja aku melewati ruang kelasnya dan menemukannya sedang tertawa bersama teman-temannya. Rambut coklat tuanya yang panjang terurai menambah daya tarik dirinya. Hidungnya yang mancung dan matanya yang bulat berwarna coklat membuatnya tidak terlihat seperti orang Jepang asli. Memang kenyataannya bahwa ia adalah campuran, ayahnya adalah orang Jepang dan ibunya adalah keturunan Jerman-Taiwan. Ya, aku memang tahu banyak tentangnya. Ayahnya dan ayahku adalah rekan kerja dan ayahku sering sekali berkata bahwa dia adalah gadis yang berperilaku baik dan menawan. Awalnya aku tidak mempercayai kata-kata ayahku karna kukira ayahku hanya melebih-lebihkan atau ia hanya ingin menjodohkanku dengannya. Tetapi ternyata memang dia begitu adanya.

                Pertemuan pertamaku dengannya adalah ketika masa orientasi murid baru waktu itu. Aku sedang berada di lantai 3 dan aku melihatnya sedang mengerjakan tugas dengan teman sekelompoknya. Pada saat itu aku belum tahu siapa dia, tetapi dia sudah menarik perhatianku. Makin kesini rasa penasaranku terhadapnya semakin besar. Aku pun akhirnya mengetahui siapa namanya. Setelah mencari info dari anak-anak, ia adalah orang yang sangat ramah tetapi entah kenapa tidak ada laki-laki yang mendekatinya. Sepertinya sekarang aku tahu kenapa.. Pasti ada hubungannya dengan anak itu tadi. Aku terus terdiam dalam lamunanku sambil membayangkan wajahnya yang berseri-seri.

 

***

 

Aku pulang bersama Chinen dan Ryosuke. Kami bertiga mampir ke salah satu cafe di dekat rumahku. Cafe ini adalah tempat langganan sepulang sekolah bersama Ryosuke. Seperti biasa aku memesan oreo crumble cheesecake kesukaanku. Sedangkan Yamada memesan strawberry shortcake kesukaannya dan Chinen memesan segelas caramel macchiato. Kami duduk di meja paling pojok cafe ini, persis di sebelah jendela. Suasana cafe ini sangat menenangkan, lagu-lagu yang diputar juga lagu-lagu kesukaanku. Pesanan kami pun tiba dan kami segera menyatapnya.

“Kalian sering ngedate begini?” tanya Chinen.

Mendengar pertanyaan Chinen, aku tersedak. Aku buru-buru meminum air dan mengatur nafasku. Jantungku berdegup kencang saat ia melontarkan pertanyaan itu. “A–apa sih.. Kami tidak ngedate kok” jawabku sedikit gugup.

“Hahahaha tidak perlu malu. Aku tahu Ryosuke bukan tipe cowok yang dapat dengan gampangnya mengajak teman perempuan untuk ke cafe berdua saja” balas Chinen.

Aku terdiam dan mengarahkan pandanganku ke arah Ryosuke. Dia terlihat malu-malu dan mukanya sedikit memerah. “Diam kau Chinen” sahut Yamada ketus sambil menyeruput teh panas yang disediakan oleh pelayan. Chinen pun tidak bisa berhenti untuk menertawakannya karna ekspresinya yang makin lama berubah menjadi merah padam.

Setelah beberapa jam kami pulang ke rumah masing-masing. Sesampainya di rumah, aku teringat akan nasib hpku yang kugeletakan begitu saja selama seharian. Aku men-charge batre hpku dan lekas mandi. Selesai mandi, aku mengeringkan rambutku menggunakan hair dryer dan beberapa saat kemudian hpku kembali berbunyi. Sms dari siapa ya kira-kira, pikirku. Aku meraih kembali hpku dan membuka isi pesan tersebut. Lagi-lagi pengirimnya dari nomor yang tidak kukenal. Ternyata sudah ada 5 pesan dari nomor tersebut.

 

✉ Good morning sunshine! Have a nice day ^^

 

✉ Selamat siang! Apakah kamu sudah makan siang? Semoga kamu tidak lupa makan ya.

 

✉ Hey? Aku hanya ingin bilang aku merindukanmu..

 

✉ Aku baru saja pergi ke tempatmu, rasanya sepi sekali ya… Pasti kamu merasa kesepian. Tapi tenang, aku akan lebih sering kesana.

 

✉ Selamat beristirahat! Sekian saja pesan dariku hari ini. Aku akan melanjutkan aktivitasku, kamu jangan kecapekan ya!

 

Setelah membaca semua pesan tersebut, aku semakin penasaran siapa sebenarnya orang ini. Kelihatannya dia menujukan pesan-pesan itu untuk kekasihnya. Apakah lebih baik aku memberitahunya bahwa ia salah nomor? Sebelum semua itu kulakukan, tiba-tiba ibuku menelpon. Ibuku yang seharusnya hari ini sudah pulang ternyata belum bisa pulang. Ia tiba-tiba disuruh bosnya  untuk ke Spanyol. Karena sudah biasa, aku tidak sedih atau pun kecewa. Ini bukan hal yang pertama jadi aku sih tidak heran. Nah, kembali ke si pengirim misterius. Aku akhirnya memberanikan diri untuk menelponnya. Entah kenapa aku memilih untuk menelponnya ketimbang membalas smsnya. Namun tak satu pun panggilanku diangkat olehnya. Justru malah aku menerima pesan lain darinya. Pesan yang membuat mataku membelalak.

 

TBC

——-

A/N : Hai semua! Arigatou buat yang udah baca. Ini fanfic pertama yang kupost disini dan berbahasa Indonesia, kalo ada salah salah kata/ejaan/makna boleh dikoreksi kok >< Maaf juga chapter pertamanya pendek.. Semoga kalian suka dan tertarik ya bacanya! Kalau ada kritik / saran / pendapat, silahkan komen jangan malu malu heheh aku suka kok denger pendapat orang mau itu baik atau buruk ^^ see u on the next chapter guys~

Advertisements

2 thoughts on “[Multichapter] Part Time Lover #1

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s