[Multichapter] Kareshi Gacha (Part 2)

Untitled-1

KARESHI GACHA

Author : YamAriena
Type : Multichapter
Genre : Romance, Comedy, fantasy
Rating : PG-17

Cast: Yamada Ryosuke, Inoo Kei (HSJ); Koizumi Arina, Sato Miharu (OC)

Desclimer: terinspirasi dari Oniichan Gacha wkwkwkwkwk

Sinar mentari pagi masuk melalui sela-sela tirai kamar mengusik lelapnya si gadis yang sedang pulas di tempat tidurnya. Berguling ke kanan dan kiri sambil tangannya menggapai ponsel dari meja lampu sisi meja sebelah kiri tempat tidurnya. Mencari ponselnya. Saat ketemu, gadis itu memeriksa ponselnya hanya ada beberapa pesan dari salah satu aplikasi sosmed yang tidak terlalu penting, serta satu pesan dari Miharu. Setelah melihat jam yang tertera disana, gadis itu tampak menggeliat sambil merenggangkan badan kearah sebaliknya. Namun…

“HYAAAAAAAAAAAA!!!! ….. ittai~” jerit gadis itu tiba-tiba dan disusul rintihan rasa sakit.

Refleks gadis itu menjauh dari posisinya tanpa menyadari bahwa dirinya menuju tepi tempat tidur yang satunya dan langsung jatuh ke lantai dari sana. Sambil berdiri dan mengaduh serta mengelus bokongnya yang sakit karena harus menimpa lantai, gadis itu melihat sekali lagi ke objek yang membuatnya harus mengalami rentetan peristiwa pagi harinya itu.

Satu sosok dengan posisi berbaring menyamping di tepi tempat tidurnya yang satunya dengan satu tangan menopang kepalanya dan sedang memandang kearah gadis itu sambil tersenyum. Tidak hanya itu, sosok itu hanya memakai kimono tidur tipis dan gadis itu bertaruh orang itu hanya mengenakan celana dalam dibalik kimono nya.

“Ohayou~ Arina,” sapanya masih dengan senyum diwajahnya.

“RYOSUKE!! NGAPAIN DISINI?” Arina masih belum bisa mengontrol emosinya dan bertanya dengan nada tinggi.

“Membangunkanmu,” jawab pria itu dengan santai.

“Membangun….? DENGAN CARA SEPERTI INI?!” tanya Arina masih histeris.

“Begitulah… tapi kulihat wajah tidurmu sangat pulas, saat sedang memandangnya. Ternyata kau bangun sendiri,” jawabnya lagi.

Arina hanya bisa terpaku ditempatnya tanpa bisa berkata-kata lagi. Sungguh ini benar-benar diluar akal sehatnya. Arina masih memandang Ryosuke ditempatnya yang kini sudah bangun dari posisinya dan duduk di sisi tempat tidur Arina di sisi sana, membelakanginya. Arina memegang kepalanya yang mendadak sakit begitu saja.

“Aku… mau cuci muka dulu” kata Arina langsung sambil melangkah pergi.

Tiba-tiba saja tangannya diraih dan ditahan oleh pria itu. Arina pun membalikkan badannya dan memasang wajah bertanya pada Ryosuke yang saat itu melihatnya.

“K…kenapa?” tanya Arina pelan, kenapa tiba-tiba suaranya hilang?

“Arina, aku lapaaaaarrrr~” kata Ryosuke kini dengan suara yang sedikit lebih manja.

Arina mengerjapkan matanya sejenak, bingung dengan perubahan tiba-tiba pria itu. “A.. apa?!”

“Aku lapaaarrr~ buatkan makanan untukku,” kata pria itu lagi masih dengan nada yang manja.

“Memangnya kau tidak bisa memasak sendiri?” tanya Arina.

“Kau kan pemilikku, sudah seharusnya kau yang memasak untukku. Ayolah masakkan sesuatu untukku,” kata pria itu lagi.

Arina menyipitkan matanya memandang pria itu. Kenapa pria ini jadi sok manja seperti ini?

Arina lalu melepaskan pegangan pria itu di tangannya dan kembali berbalik, berjalan menuju kamar mandi, “Pasang dulu bajumu sana!” kata Arina singkat.

“Tapi janji setelah itu kau masak makanan untukku ya, Arina?” kata Ryosuke lagi diluar.

Arina mendesah keras sambil mengoleskan pasta gigi ke sikat giginya sambil memutar matanya malas, “Ya ya.. apa sajalah…” jawab gadis itu singkat sambil melanjutkan rutinitas paginya.

Setelah itu dia tidak mendengar suara apapun lagi dari luar. Penasaran, diintipnya ke luar dan benar saja, pria itu sudah hilang dari kamarnya dan entah sekarang berada dimana. Arina menebak pria itu mungkin berada di ruang tengah, karena memang disanalah dia tidur malam tadi.

 

*********************

 

“Ricchaaaaaaaaannn~ gyuuuuuuu~” kebiasaan Miharu yang entah sejak kapan selalu saja memeluknya sembarangan.

Arina baru saja membuka pintu apartemennya yang sesaat lalu berbunyi dan disambut dengan pelukan tiba-tiba dari Miharu.

“Mi… ugh.. haru, sesak..” seru Arina.

Sesaat kemudian dia berhasil lepas dari pelukan Miharu yang telah ditarik seseorang yang ternyata adalah Inoo Kei, kekasihnya.

“Berhenti memeluk orang seperti itu, tidak lihat itu Koizumi-san kesakitan seperti itu?” omel pemuda itu.

Miharu terlihat cemberut namun bergelayut manja di lengan kekasihnya. Arina memandang Inoo dengan tatapan berterima kasih, “Arigatou, Inoo-kun. Dan berhenti memanggilku seperti itu, sudah ku bilang panggil Arina saja.” katanya sambil mempersilahkan kedua orang itu masuk ke apartemennya.

“Kalau begitu, berhenti juga memanggilku Inoo-kun. Aku juga sudah sering bilang untuk memanggilku Kei,” kata Inoo.

“Sepertinya kebiasaan memang sulit untuk dihilangkan,” kata Arina sambil tersenyum.

“Gaccha-kun, kau masih ada disini? Ricchan belum membuangmu?” tanya Miharu yang tiba-tiba saja berlari menuju meja makan, menghampiri satu penghuni disana yang sedang menikmati sarapannya.

“Ah.. kau gadis yang semalam, ohayou gozaimasu,” sapanya.

“Aku hampir membuangnya semalam,” seru Arina.

“Wah… kau jahat sekali. Semalam kan salju turun dengan lebatnya,” celetuk Miharu lagi.

“Gacha-kun?!” tanya Inoo bingung.

Miharu tersenyum kepada kekasihnya, “Yang kuceritakan semalam. Ricchan mendapatkan gaccha yang bisa berubah menjadi pemuda dan sekarang tinggal dengannya. Ini dia orangnya,” katanya.

“Hajimemashite, Yamada Ryosuke desu,” kenalnya pada Inoo.

“Ah.. hajimemashite, Inoo Kei desu,” kata Inoo.

“Wah.. kau sudah punya nama?” tanya Miharu lagi dengan heboh.

Ryosuke mengangguk, “Arina yang memberikannya,” jawabnya sambil tersenyum manis.

Arina datang sambil meletakkan dua cangkir teh hangat masing-masing didepan Inoo dan Miharu lalu duduk di salah satu tempat yang kosong di meja makan dan melanjutkan sarapannya, memberikan sikap tidak peduli terhadap percakapan yang sedang berlangsung saat itu.

“Ricchan yang memberikan? Waahhh.. bukannya semalam kau yang bersikeras mau mengembalikan dia ke pemiliknya?” tanya Miharu lagi.

“Jangan salah paham. Kemarin kami sudah mencari nenek itu namun tidak menemukan apapun, bahkan orang yang berjualan disana mengatakan mereka tidak pernah mengenal ada nenek yang pernah berjualan disekitar sana. Dan aku memberikannya nama karena dia terus saja protes padaku minta diberi nama,” jawab Arina dengan malas.

“Dan sudah ku tegaskan berkali-kali kalau kau pemilikku sekarang,” kata Ryosuke pada Arina.

“Aku bukan pemilikmu!”

“Kau pemilikku! Kau yang mengaktifkanku, jadi kau pemilikku.”

“Hanya sementara sampai aku mengembalikanmu ke pemilikmu sebenarnya.”

“Jadi, kau setuju bahwa saat ini kau pemilikku, bukan?”

“Aku tidak bilang kalau aku membenarkannya,”

“Barusan kau bilang begitu,”

“Tidak!”

“Bilang!”

“Tidak!”

“Bilang!”

“HENTIKAN!!”

Teriakan Miharu mampu menghentikan debat kusir yang terjadi di depannya saat itu. Arina terlihat kesal dan langsung memalingkan wajahnya dari Ryosuke yang hanya tersenyum penuh kemenangan sambil kembali menyuap satu potongan makanan kedalam mulutnya.

“Aku tidak bisa mengatakan kalian ini sebenarnya dekat atau tidak,” seru Inoo yang juga terlihat tersenyum geli ditempatnya.

Miharu memandang Inoo dan mengangguk, “Aku juga berpendapat seperti itu,” katanya.

“Oh ya, ada satu yang membuatku penasaran. Kalau benar Yamada-kun adalah gacha, apakah kau juga punya ranking seperti gacha biasanya,” tanya Inoo.

Miharu memandang kearah Ryosuke dengan penuh minat saat mendengar pertanyaan kekasihnya. Begitupun Arina yang terlihat sedikit penasaran.

Ryosuke mengangguk, “Ada,” jawabnya singkat.

“Apa rankingmu?” tanya Miharu semakin penasaran.

“Benarkah?” tanya Arina dengan nada tidak percaya.

Miharu berpaling kearah Arina dengan tatapan bingung, “Kau tidak tau?” tanyanya, dan Arina hanya menggeleng.

“Entahlah… sepertinya ada disekitar punggungku,” jawab Ryosuke lagi.

“Boleh aku melihatnya?” tanya Miharu yang hampir saja bangkit dari kursinya, namun langsung di hentikan Inoo.

“Kau disini saja, biar aku saja yang lihat,” kata pemuda itu yang tiba-tiba saja memberikan sikap protektifnya.

Inoo bangkit mendekati Ryosuke. Arina yang duduk disamping Ryosuke sedikit gelagapan saat Inoo akan membuka baju pemuda itu di bagian belakangnya. Buru-buru gadis itu memalingkan wajahnya kearah lain, menyembunyikan wajahnya sendiri yang mendadak berubah warna.

“Kenapa berpaling?” tanya Ryosuke ditempatnya.

“T… tidak apa-apa,” jawab Arina pelan.

Seperti mengerti sesuatu, cengiran diwajah pemuda itu semakin melebar. “Kau boleh melihatnya kalau mau, aku memberikanmu izin,” kata Ryosuke lagi.

Mata Arina melebar mendengar kata-kata Ryosuke barusan dan langsung memberikan tatapan mematikan kepada pemuda itu, “APA KAU BILANG?!” tanyanya dengan suara sedikit meninggi.

Ryosuke tampak sedikit menjauh, namun tidak merubah raut wajahnya sedikitpun, “Jangan berteriak seperti itu, suaramu terlalu menyakitkan telinga,” kata pria itu.

“Ulangi kata-katamu sekali lagi!” kata Arina tajam.

“Tentang aku mengizinkanmu melihat punggungku?” tanya Ryosuke dengan santai.

Mata Arina semakin menajam, “Memangnya siapa yang butuh izin untuk melihatnya? Aku juga tidak peduli melihatnya atau tidak!” katanya.

Ryosuke kembali mengangguk, “Ah benar juga, kau kan pemilikku. Jadi kau bisa melakukan apa saja semaumu dengan tubuhku. Melihatnya, menyentuhnya…” kata pria itu santai.

“RYOSUKE!!!!!!” Arina berteriak frustasi.

“Hyaaaaaaa~ hentikan. Aku jadi membayangkan yang tidak-tidak,” seru Miharu dengan antusias ditempatnya, tepat saat itu Inoo sudah kembali ketempatnya dan menjitak Miharu dengan gemas.

Miharu langsung memeluk Inoo dengan manja di tempatnya, “Tetap Kei yang terbaik, tenang saja” kata gadis itu. “Jadi, apa rankingnya?” tanya Miharu kemudian.

“Bintang lima” jawab Inoo singkat.

Arina tampak tersedak saat meneguk air ditempatnya, “A… apa?” tanyanya.

“Ada lima bintang di punggungnya. Kau bisa lihat sendiri,” kata Inoo yang langsung membuat gadis itu kembali gelagapan ditempatnya.

“Hyaaaaa~ Yamada-kun bisa jadi pacar sempurna untukmu Ricchan!” seru Miharu lagi dengan antusias.

“Pacar? Tapi Yamada kan gacha? dan bukankah Arina-san punya pacar?” tanya Inoo pada Miharu.

Miharu menggeleng, “Yamada-kun itu gacha spesial. Namanya Kareshi Gacha. Dan masalah pacar, Arina sudah putus dua hari lalu.” Jelas Miharu.

“Siapa yang mau punya pacar seperti ini?! Terima kasih! Aku lebih memilih untuk segera mengembalikannya.” kata Arina sinis.

“Kebetulan sekali, aku juga tidak mau menjadi pacar gadis liar yang suka teriak-teriak sepertimu! Lama-lama gendang telingaku bisa pecah,” kata Ryosuke lagi.

Arina lalu menendang kaki pria itu dari tempatnya dan terlihat Ryosuke sedikit mengaduh ditempatnya, “Dasar pria hentai!” kata Arina lagi.

“Dasar wanita berkaki pemain bola!!!” balas pria itu.

“Sudah-sudah hentikan,” lerai Miharu lagi, “Kalian tau, kalian sebenarnya cocok satu sama lain,” katanya lagi.

“Kami tidak cocok!!” kata keduanya bersamaan.

“Jangan ikut-ikutan!” seru Arina.

“Kau yang ikut-ikutan!” kata Ryosuke lagi.

“Sudah-sudah!” kata Miharu lagi sambil berdiri dari tempatnya. “Sebaiknya kami pergi, aku masih ada janji dengan bosku di tempat magang setelah ini,” katanya lalu memandang kearah Inoo yang memberikan satu kantong besar kepada Yamada.

“Itu beberapa pakaian, bisa kau gunakan. Arina-san yang memintanya semalam pada Miharu. Juga ada dalaman, itu aku yang belikan,” kata Inoo.

“Tentu saja, malu juga kalau aku harus masuk ke toko pakaian dalam pria dua hari berturut-turut,” gerutu Miharu. “Sesekali kau yang harus pergi berbelanja bersamanya, Ricchan.” katanya lagi.

“Aku meminjamnya pada kalian karena yakin bahwa dia tidak akan berlama-lama bersamaku. Lagipula aku akan mencari nenek itu dan mengembalikannya,” seru Arina lagi.

“Ya ya… terserahlah,” kata Miharu.

“Kami pamit dulu Arina-san, Yamada,” kata Inoo sambil menggandeng tangan Miharu.

Keduanya lalu pergi keluar dari sana. Sesaat sunyi menemani kedua orang yang masih berada di ruang makan. Sampai Arina berdehem singkat dan membawa piring kotor kedapur.

“Ganti pakaianmu, setelah ini kita pergi mencari nenek itu,” kata Arina singkat.

Ryosuke memandang Arina dalam diam. Gadis itu tampak tidak lagi mempedulikannya dan sibuk mencuci piring dan gelas kotor. Ryosuke bangkit dari tempatnya lalu berjalan mendekat ke Arina, dan tiba-tiba saja pria itu memeluknya dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di pundak gadis itu.

“A… APA…??” Arina terkesiap karena dipeluk tiba-tiba seperti itu.

Namun tenaga Ryosuke lebih besar, tentu saja. Pria itu menahan pergerakan Arina yang ingin melawan dan membuat gadis itu tetap di posisinya untuk beberapa saat. Sesaat senyuman terkembang diwajahnya dan Ryosuke pun melepas posisi mereka dan berbalik.

“Apa… yang barusan?” Arina berdesis ditempatnya, masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.

Ryosuke memandang kebelakang singkat sambil nyengir, “Hanya ucapan terima kasih biasa,” katanya sambil mengedipkan satu matanya.

Ryosuke lalu berjalan dengan santai ke dalam kamar mandi sambil membawa bungkusan tadi, meninggalkan Arina yang jatuh terduduk di dapur dan masih terkejut.

 

*********************

 

“Hhh… lelahnya…” Arina menjatuhkan dirinya di bangku halte yang baru saja ditemuinya.

Gadis itu meletakkan kedua tangannya di kedua pipinya sendiri untuk menghangatkan diri. Setelah salju yang turun semalam, jalanan terlihat sangat putih dan udara juga masih terlalu dingin. Ryosuke tampak duduk disampingnya dan memandang tingkah gadis itu dengan tatapan penasaran.

“Apa? Kenapa melihatku seperti itu?” tanya Arina yang risih dipandang oleh Ryosuke.

Pemuda itu menggeleng dan tersenyum, “Apakah itu sangat hangat?” tanyanya sambil menunjukk ke tangan Arina yang masih ada dipipi.

“Kenapa memangnya?” tanya Arina bingung.

Tiba-tiba saja Ryosuke mengulurkan kedua tangannya menyentuh kedua pipi Arina. Gadis itu gelagapan lalu memegang kedua tangan pemuda itu dan berusaha menyingkirkan dari wajahnya.

“Apa…apaan kau?” tanya Arina panik.

Namun sepertinya Ryosuke menolak untuk melepaskan tangannya. Tanpa sadar wajah gadis itu memerah, apalagi mereka dilihat banyak orang karena sedang berada di halte bus.

“Wah, benar… ternyata hangat sekali,” celetuk Ryosuke.

“Lepaskan!” desis Arina semakin panik.

Ryosuke tersenyum singkat lalu menarik kembali tangannya dan meletakkannya di kedua saku mantelnya. Arina langsung memegang kedua pipinya lagi dengan tangannya, kali ini sedikit menyembunyikan wajahnya.

“Padahal aku hanya ingin menghangatkan tanganku sebentar… disini dingin sekali,” katanya dengan santai.

“Kenapa kau tidak memakai sarung tangan?” tanya Arina namun dia langsung teringat bahwa pemuda itu memang sama sekali tidak punya sarung tangan. Satu-satunya yang dia miliki hanya mantel pinjaman itu.

Arina lalu melepaskan syal yang sedang dipakainya dan melilitkannya ke leher Ryosuke. Pemuda itu tampak bingung melihat yang sedang gadis itu lakukan kepadanya. Arina lalu berdiri dan merapatkan mantelnya dan memberi isyarat kepada Ryosuke untuk mengikutinya.

“Mau kemana?” tanya Ryosuke.

“Belanja,” jawab gadis itu singkat.

Keduanya lalu berjalan beberapa blok lagi hingga tiba di daerah Shibuya. Arina berjalan melewati beberapa gang hingga dia tiba di kawasan dimana dia selalu membeli pakaian dengan harga yang cukup terjangkau dan dengan pilihan yang beragam. Keduanya lalu masuk kedalam sebuah toko yang menjual pakaian pria. Arina langsung memilih beberapa pakaian dan menyuruh Ryosuke mencobanya di ruang ganti. Gadis itu juga memilihkan beberapa aksesoris seperti ikat pinggang dan topi, tidak lupa dia juga memilihkan satu sarung tangan.

‘Apa tidak apa-apa aku sedikit memboros bulan ini ya?’ pikir Arina saat akan membayar belanjaannya di kasir. Mengingat pakaian untuk pria memang lebih mahal dibanding pakaian wanita, dan Ryosuke juga tidak akan tinggal lama bersamanya, hanya sampai dia bisa bertemu lagi dengan nenek itu. Tapi kapan itu terjadi?

Mereka berdua keluar dari toko tadi dengan beberapa kantong belanjaan. Di depan toko, Arina memberikan satu kantong yang ukurannya lebih kecil dibanding yang lain kepada Ryosuke. Pemuda itu menerimanya dengan bingung.

“Pakai itu, nanti kau kedinginan lagi…” kata gadis itu.

Ryosuke mengeluarkan isi kantong itu yang ternyata adalah sebuah syal berwarna abu-abu dan sepasang sarung tangan dengan warna yang sama. Ryosuke langsung memakai sarung tangan itu lalu menyentuhkannya ke pipinya sendiri.

“Ini hangat,” katanya.

Arina tersenyum melihat tingkah pria didepannya itu yang terkadang entah kenapa terlihat kekanak-kanakan.

“Sekarang kembalikan syal ku,” kata Arina kemudian.

Pemuda itu memandang Arina sesaat dan syal merah yang melilit di lehernya saat itu. Ryosuke tidak langsung melepas syal miliknya, namun mengeluarkan syal yang ada didalam kantong itu dan melilitkannya ke leher Arina. Gadis itu sedikit kaget dan menjatuhkan kantong belanjanya.

“Arina pakai syal yang ini saja, sama saja bukan?” kata Ryosuke lagi.

Gadis itu tidak bicara apa-apa melainkan tertunduk sambil menyentuh syal abu-abu yang kini melingkar di lehernya. Ryosuke kemudian memungut kantong-kantong belanjaan yang dijatuhkan Arina lalu kembali berdiri menghadap gadis itu.

“Kita pulang sekarang? Atau kau masih mau mampir di suatu tempat?” tanyanya.

Arina mengerjapkan matanya beberapa kali lalu tiba-tiba saja menggelengkan kepalanya kuat-kuat dan menepuk pipinya. Membuat Ryosuke sedikit heran dengan tingkah gadis itu.

Arina berdehem singkat. “Sudah hampir sore, kita mampir ke supermarket di dekat stasiun sebentar sebelum pulang. Aku ingin belanja bahan-bahan untuk makan malam,” kata

“Baiklah kalau begitu.” kata Ryosuke sambil tersenyum.

Pria itu lalu melangkah lebih dulu sambil membawa barang-barang belanjaan mereka berdua. Arina berjalan menyamakan langkahnya dengan Ryosuke, meminta sedikit kantong yang dipegang pria itu untuk dia bawa. Namun Ryosuke terlihat menolaknya dan Arina sedikit memaksa pria itu. Keduanya terlihat kembali berdebat hingga tanpa terasa mereka tiba di supermarket.

 

*********************

 

Kesepian!

Itulah satu hal yang aku rasakan pertama kali dari seorang gadis bernama Koizumi Arina. Baru dua hari aku tinggal bersamanya, dan dia tidak pernah bisa berhenti marah-marah sepanjang hari. Dia juga sering berteriak, dan aku yakin suaranya bisa sampai kemana-mana. Saat dia tenang adalah saat dia sedang tertidur. Saat itu dia akan benar-benar pulas seperti seorang bayi.

Namun, ada satu saat aku melihat dia duduk sendirian didalam kamarnya, di kursi yang ada didekat mejanya yang dipenuhi buku-buku. Dia hanya duduk dengan kaki yang ditekuk, menyandarkan kepalanya di lututnya, dan satu tangannya memainkan pulpen diatas mejanya. Dia hanya menahan posisi seperti itu untuk sesaat, dan tanpa suara.

Aku yakin dia bukan tipe yang bisa terbuka dengan semua orang. Meski kutahu dia memiliki seorang teman yang dekat, namun seberapa banyak yang diketahui temannya tentang dirinya? Di depan orang lain dia selalu menjadi orang yang berbeda-beda. Aku tidak tau yang mana dirinya yang sebenarnya.

Namun satu yang pasti, dia kesepian…

 

*********************

 

From: Wadacchi

Subject: datang!

“Aku akan datang besok siang! pastikan kau ada dirumah saat aku tiba, Arina. Dan ku harap tidak ada masalah yang menungguku.”

 

*********************

~TBC~

Save

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s