[Oneshot] Anata Ga Tonari Ni Iru Dake De

Anata ga Tonari ni Iru Dake de
By : Raura
Genre : Romance, Angst, and Sliiiiiiiiiiiiiight Sci-fi (just slight, okay?)
Rating : PG-13
Casts : Takaki Yuya [Hey! Say! JUMP], Aiba Masaki [Arashi], Aiba (Youko) Sora [OC]
Dedicated for Dinchan.
It should be given on Valentines Day, but things happened.
That’s why I just give this for White Day.
I’m sorry if this fic wasn’t very good. But I hope you like it!
Please listen to Anata ga Tonari ni Iru Dake de by NEWS while you read this fic

Semua ini dimulai dari awal Februari. Cuaca masih dingin dan seluruh kota masih diselimuti oleh salju putih. Bahkan hembusan nafas pun terlihat bagaikan awan kecil.

“Sora, kau sudah mau berangkat?”

“Iya, 5 menit lagi aku pergi.”

3 tahun yang lalu Sora menikah dengan seorang pria bernama Aiba Masaki, yang menjadikannya seorang Aiba Sora.

“Mau kuantar sampai stasiun?”

“Tidak usah. Kau kan masih banyak kerjaan di kantor.”

Hari ini Sora akan kembali ke kampung halamannya setelah lama sekali tidak bertemu keluarganya. Tepat setelah menikah 3 tahun yang lalu, Sora dan Masaki pindah ke Tokyo, sehingga Sora terpisah dari keluarganya yang berada di Osaka.

“Baiklah, aku berangkat!” seru Sora sambil mencium Masaki sebelum pergi.

“Hati-hati di jalan, Sora.”

“Iya iya. Bye bye Masaki!”

Seharusnya Masaki ikut menemani Sora ke Osaka. Tapi tiba-tiba saja ada pekerjaan yang menahannya harus tetap di Tokyo. Dan ketika Sora mau membatalkan rencananya, Masaki bersikeras agar Sora tetap pergi karena ia tahu seberapa besar kerinduan Sora pada keluarga dan kampung halaman yang dicintainya.

Perjalanan dari Tokyo ke Osaka hanya memakan waktu beberapa jam saja dengan shinkansen. Sesampainya Sora di rumah yang ditinggalinya sejak lahir, ia disambut hangat oleh orang tua dan saudaranya. Sora lega melihat keluarga yang telah membesarkannya terlihat sehat. Setelah Sora menaruh barang bawaanny, mereka berkumpul di ruang keluarga membicarakan berbagai hal tentang kehidupan Sora saat ini maupun tentang kenangan-kenangan ketika Sora masih tinggal di rumah dimana ia berada pada detik ini.

***

“Uwaah~ Kangen sekali melihat pemandangan ini” Sora memandangi perumahan yang ditutupi oleh salju putih dari beranda kamarnya.

“Sora~”

“Hm?” Sora menoleh ke belakang dan mendapati kakaknya berdiri di depan pintu. “Ada apa?”

“Tidak apa-apa. Hanya kangen padamu~” kakaknya menghampiri Sora di beranda dan ikut menikmati pemandangan.

“Hahahaha jarang sekali kakak kangen padaku.”

“Ha? Tentu saja aku bisa kangen pada adikku sendiri ketika tidak bisa melihat dan bertemu dengannya selama 3 tahun.” Sora tersenyum. Perkataan kakaknya membuat hatinya senang karena ia masih dilimpahi kasih sayang oleh keluarganya.

“Bagaimana kehidupanmu di Tokyo?” kakaknya tiba-tiba bertanya.

“Baik, kok. Disana sangat nyaman. Yah, walaupun masih belum bisa menyamai kenyamananku di rumah ini.”

“Suamimu? Apa dia baik padamu?”

“Masaki? Un, dia sangat baik sekali. Selalu perhatian, selalu menyayangiku, selalu menghargaiku. Dan selalu mengerti diriku.” kakak Sora menatap wajah Sora yang penuh kegembiraan ketika menjelaskan tentang suaminya. Hening menyelimuti mereka untuk beberapa saat. Kakaknya memandangi hamparan langit yang begitu luas. Sora melirik ke kakaknya dan menyadari raut wajah kakaknya tiba-tiba berubah.

“Ngomong-ngomong…” kakaknya memecahkan keheningan.

“Mantan pacarmu…” seketika Sora merasakan sesuatu yang aneh pada hatinya tepat setelah mendengar perkataan kakaknya, terasa sakit seakan ada yang meremas hatinya dengan kuat. “Setelah kau menikah dan meninggalkan Osaka, aku tidak pernah melihatnya lagi hingga saat ini.”

“O-ohh..” Sora tidak tahu harus membalas apa.

“Ah, maaf. Padahal kau baru sampai, tapi aku malah membicarakan hal ini.” Kakaknya sedikit menyesal membawa topik itu ke dalam pembicaraan mereka.

“Tidak apa.” Sora memaksakan senyumannya.

Tidak berapa lama, Sora mendengar ibunya memanggil nama kakaknya. Kakaknya segera meninggalkan Sora sendirian di kamar. Setelah kakaknya keluar dan keheningan kembali datang, Sora diam memandangi langit. Berkat perkataan kakaknya, kepingan-kepingan masa lalu berhasil mendatangi pikiran Sora lagi.

****

“Hey, Sora-chan!” Sora menoleh ke arah pemilik suara yang sekarang menghampirinya. “Lagi-lagi kau menyendiri disini.”

“Aku lebih nyaman sendirian.” ucap Sora yang kembali menatap halaman terbuka dari novel yang dipegangnya.

“Hhh… Seperti biasa kau lebih memilih novel-novelmu daripada pergaulanmu… Apa bagusnya jadi penyendiri? Aku sudah mencoba segala hal dari awal mengenalmu tapi kau benar-benar keras kepala. Setia sekali jadi penyendiri.” Sora tetap diam sambil membaca novelnya. “Hey! Kau mendengarku atau tidak, sih?”

“Maru! Disini kau rupanya. Mau ikut ke kantin?” teman-teman sekelasnya tidak sengaja lewat di dekat mereka.

“Hm, okay!” Maru memberi sinyal ‘ok’ pada teman-temannya. “Aku pergi dulu, ya! Ingat dan pikirkan kata-kataku tadi! Aku sudah mengatakannya puluhan kali, kau tahu?” seru Maru pada Sora.

Sora akhirnya kembali memiliki dunia miliknya sendiri setelah Maru pergi. Sepanjang jam istirahat hanya dimanfaatkan untuk membaca novel kesukaannya itu. Itu adalah aktifitas yang rutin dilakukan Sora setiap hari.

 

Bel tanda pelajaran akan dimulai berbunyi. Sora menutup novelnya dan kembali ke kelas. Ketika ia berjalan di koridor, seseorang yang baru saja menaiki tangga menabraknya hingga mereka terjatuh ke lantai.

“Ittee yo, baka!” orang itu mengeluh pada Sora. Sora bukan tipe yang suka melawan, ditambah lagi wajah orang ini terlihat seperti preman, sehingga Sora hanya diam sampai orang itu pergi.

“Hhh… Padahal dia yang menabrak… Lagian siapa suruh berlarian di dalam gedung sekolah.” Sora hanya menggerutu dengan suara yang sangat pelan hingga ia sampai di kelas.

***

“Sora, kau mau kemana?” tanya ibunya ketika melihat Sora pergi ke arah pintu depan.

“Aku mau jalan-jalan sebentar, sudah lama kan aku tidak melihat suasana di kota.”

“Baiklah. Pulanglah sebelum jam makan malam,”

“Haai~~ Ittekimasu!”

“Itterashai~”

Sora berjalan sambil melihat ke sekelilingnya. Kota yang pernah ditinggalinya tidak banyak berubah. Hal itu membuat Sora senang mengingat kenangan-kenangannya.

“Uwah, dingin sekali.” Sora menggosokkan kedua telapak tangannya untuk menangkal udara dingin yang menyelimuti kota. Selama berkeliling untuk beberapa waktu, Sora bertemu banyak kenalannya dan berhenti sejenak untuk mengobrol dengan mereka.

“Ah, sudah jam segini. Aku harus pulang,” Langit telah berubah menjadi oranye, dan malam akan tiba dalam beberapa saat. Ketika Sora berniat untuk melangkahkan kakinya menuju rumahnya, ia mendengar suara familiar yang memanggil namanya.

“Sora?” dalam sekejap, Sora kembali merasakan sakit di dadanya.

“Kau benar-benar Sora, kan?” Sora akhirnya menolehkan wajahnya ke arah orang tersebut. Orang yang paling ia kenal.

***

“Eh? Kau yang kemarin itu, kan?” Sora yang sedang membaca novel mendongakkan kepalanya. “Ah, ternyata benar!”

“Kau siapa?” tanya Sora mencoba mengingat wajah orang ini.

“Aku orang yang kau tabrak kemarin! Di koridor dekat tangga!” Sora langsung mengingat orang ini.

“Yang menabrak itu kau. Bukan aku.” Sora mencoba membela diri.

“Ah, hahaha, benar juga. Maafkan aku kemarin sudah menabrakmu dan pergi begitu saja.” Tanpa disangka, orang yang menurut Sora terlihat seperti preman ini ternyata cukup baik. Sora sedikit kaget karena ia mengira orang ini justru akan memarahinya lagi. Tapi bukannya memarahi, orang ini malah meminta maaf padanya.

“Ngomong-ngomong, siapa namamu?” orang ini bertanya.

“Youko…Sora…”

“Hee, namamu bagus. Aku Takaki—“

****

“…Yuya?” di hadapan Sora berdiri seorang pria bermuka preman yang menggunakan jaket berwarna hitam dan memakai sebuah topi di kepalanya.

“Sudah lama sekali aku tidak melihatmu. Syukurlah kau baik-baik saja.” Pria yang dipanggil Yuya oleh Sora ini menghembuskan nafas lega ketika melihat Sora di hadapannya.

“Kau sendiri bagaimana? Kau baik-baik saja? Kau terlihat pucat…”

“Hahahaha mungkin karena aku lagi kedinginan.” Yuya melipat tangannya di depan dadanya dan menaikkan pundaknya menunjukkan ia benar-benar kedinginan. “Kau sudah lama pulang ke kota ini?”

“Aku baru saja sampai siang tadi.”

“Siang tadi? Hooo….” Hening menghampiri mereka. Sora melihat ke segala arah dengan sedikit melirik ke Yuya beberapa kali. Sedangkan Yuya melihat ke arah lain tanpa memandang Sora sama sekali.

“Suamimu…” Yuya mulai berbicara, tapi ia tetap tidak memandang Sora sedikitpun. “Kau akur dengannya?”

“Uhm, ya begitulah.” Sora merasa canggung untuk menjawabnya. Kenapa? Karena Takaki Yuya adalah mantan kekasih Sora yang pernah dibicarakan oleh kakak Sora.

“Dia menemanimu ke sini?”

“Ah, tidak. Dia sibuk dengan pekerjaannya. Makanya aku datang sendiri ke Osaka.”

“Ooh…” Yuya akhirnya menatap Sora dan pandangan mereka bertemu satu sama lain. Mereka hanya saling menatap ke bagian terdalam dari orang yang dihadapan mereka seperti saling memikirkan apa yang sedang dipikirkan oleh lawan bicara mereka.

“Mau mampir ke suatu tempat? Kafe yang sering kita kunjungi dulu mungkin?” Yuya menawarkan Sora.

“Eh, maaf, tapi aku harus pulang sekarang.”

“Ooh.. Baiklah. Bye bye…” Yuya mengusap pelan puncak kepala Sora sebelum ia berpisah.

Senyuman Sora menghilang dari wajahnya sejak ia bertemu lagi dengan Yuya. Selama dalam perjalanan pulang hingga ia di rumah, yang ada di pikirannya hanyalah Yuya.

***

“Yo, Sora!” Yuya menepuk kepala Sora pelan.

“Sudah kubilang kan jangan ganggu aku!” Sora mengerutkan dahinya begitu ia menyadari kehadiran Yuya.

“Kau ini membosankan sekali,” seru Yuya tanpa basa-basi. “Apa salahnya kalau aku menemanimu? Lagipula tidak baik kalau terus memasang muka masam seperti itu. Kau harus lebih sering tersenyum. Ter-se-nyum!”

“Bukan urusanmu, Takagi!” Sora sengaja salah menyebut nama Yuya.

“Oy! Namaku ‘Ki’, Takaki! Bukan Takagi!” Yuya mencubit pipi kanan Sora hingga ia meringis kesakitan.

“Aw aw aw ihaii yo hakahi!” seru Sora.

“Hm? Kau bilang sesuatu?” Sora menepis tangan Yuya yang mencubit pipinya.

“Ittai yo, bakaki!” Sora memukul kepala Yuya dengan novel yang sedang dipegangnya kemudian pergi meninggalkan Yuya.

 

***

 

“Tadaima…” ucap Sora lesu.

“Ah, okaeri, Sora!” seru kakaknya semangat.

“Hm? Kakak sedang lihat apa?” Sora menghampiri kakaknya yang sedang duduk di sofa.

“Aku menemukan album kelulusanmu ketika sedang membereskan rumah, jadi aku melihat-lihat isinya. Natsukashii na~”

Sora ikut melihat-lihat album kelulusannya. Banyak kenangan-kenangan indah yang tersimpan di dalamnya. Tapi bagi Sora, melihatnya hanya membuat hatinya semakin teriris. Diantara foto-foto itu banyak sekali foto dimana Sora dan Yuya masih bersama.

 

***

 

“Oh! Ternyata kita sekelas!” sapa Yuya.

“Nasibku buruk sekali harus sekelas dengan orang ini selama setahun…” keluh Sora pelan.

“Hm? Kau bilang sesuatu?” tanya Yuya penasaran.

“Tidak.”

“Masa? Kau sering sekali berbisik-bisik seperti itu. Kalau ada yang mau dikatakan, katakan saja.” Sora tidak membalas. Atau lebih tepatnya ia tidak menghiraukan Yuya.

“Haaah…” Yuya duduk di kursi yang berada satu baris di depan Sora. Ia memutar kursinya hingga mereka berhadapan. “Apa kau benar-benar menganggapku pengganggu?”

“Eh?”

“Aku tau sejak awal aku selalu sok akrab denganmu, tapi itu karena aku mau mengenalmu lebih baik. Tapi kau tidak pernah senang setiap aku di dekatmu. Kalau kau memang tidak suka denganku, aku tidak akan mendekatimu lagi, jadi katakan saja dengan jujur,” Yuya menatap lurus menuju mata Sora dengan raut serius.

Mendengar pernyataan Yuya, Sora terdiam. Ia balik membalas tatapan Yuya yang masih belum beralih dari matanya. Ia melihat dengan seksama bagaimana raut wajah Yuya yang begitu serius dan seakan menunggu jawaban dari Sora keluar dari mulutnya. Setelah beberapa saat membiarkan Yuya menunggu tanpa jawaban, Sora tertawa.

“Oy, kenapa malah ketawa?”

“Hahaha, habisnya kau serius sekali. Raut wajahmu sangat lucu.” Ucap Sora di sela-sela tawanya. Yuya mengerutkan dahinya dan pura-pura cemberut. “haha…maaf. Aku tidak keberatan kok kalau kau ada di sisiku. Hanya saja kau itu terlalu berisik.” Sora menjulurkan lidahnya dan kembali menertawakan Yuya.

Sora mengira Yuya akan marah karena ia tidak bisa menghentikan tawanya. Tapi ia salah. Yuya malah tersenyum lembut padanya. Melihat senyuman itu, perlahan tawa Sora mereda.

“Kau manis saat tertawa seperti itu,” ucap Yuya dengan suara lembut. Mendengar itu Sora merasa wajahnya terasa sedikit panas dan jika ia melihat cermin, mungkin ia akan melihat betapa wajahnya merah padam bagaikan tomat.

 

****

 

“Yo! Kita ketemu lagi!” seru Yuya sambil melambaikan tangannya.

Sora yang sedang berjalan di kota tiba-tiba bertemu lagi dengan mantan kekasihnya hari ini. Takdir seperti sedang mempermainkannya. Walau sebenarnya Sora tidak ingin bertemu dengan Yuya, tapi Yuya malah berada di hadapannya saat ini.

“Kau mau kemana?” tanya Yuya.

“Hanya jalan-jalan tidak tentu arah.”

“Hoo… Kalau begitu mau mampir ke kafe itu?” Yuya menunjuk kafe yang berada di seberang jalan. Kafe yang sering mereka kunjungi dulu.

Sora sempat ragu, tapi pada akhirnya ia menerima tawaran Yuya. Yuya menanyakan banyak hal tentang Sora dan kehidupan barunya di Tokyo. Awalnya Sora merasa canggung berada bersama Yuya, ia merasa ingin cepat pulang ke rumah. Tapi seiring berjalannya waktu, sikap Yuya yang masih seperti dulu membuat Sora mulai terbiasa lagi bersama dengannya. Yuya masih tidak berubah, masih seorang Yuya yang berisik tapi itulah yang membuat Sora tenang setiap bersamanya.

 

***

 

“Aku benar-benar tidak menyangka,” ucap Maru tiba-tiba.

“Hm? Apaan?” tanya Sora. Yang bertugas piket hari ini adalah Maru dan Sora, sehingga mereka berdua saja yang berada di kelas setelah pelajaran berakhir.

“Sifatmu!” Sora memasang wajah bingung. “Kau benar-benar banyak berubah sekarang. Lebih sering tertawa, lebih ramah, dan lebih membaur dengan murid yang lain.”

“Masa?” tanya Sora yang merasa tidak ada yang berbeda dengan dirinya.

“Berkat Takaki-kun, kau tidak lagi menyendiri tiap jam istirahat. Padahal aku juga sudah sejak lama selalu menasehatimu, tapi tidak mempan sama sekali. Padahal kau baru bertemu dengan Takaki-kun beberapa bulan yang lalu.”

Sora memikirkan sejenak tentang perubahan dirinya. Yah, dia memang merasa hidupnya lebih mengasyikkan sejak kedatangan Yuya. Jadi mungkin kata-kata Maru itu benar.

Setelah mereka menyelesaikan tugas piketnya, Sora mengemas barang-barangnya dan pulang. Ketika ia sampai di gerbang sekolah, ia tercengang melihat Yuya yang berdiri sambil menyenderkan punggungnya di gerbang.

“Yo!” Sapa Yuya pada Sora.

“Eh? Kau belum pulang?”

“Aku menunggumu.” Sora menunjuk dirinya dengan telunjuknya dengan wajah bingung. “Aku mau pulang bersamamu.”

Mereka berjalan bersampingan selama perjalanan pulang. Mereka hanya membicarakan tentang sekolah dan Sora juga tidak lupa membicarakan tentang apa yang dibicarakan Maru tadi.

“…dan Maru bilang aku berubah berkatmu.” Sora selesai menceritakan tentang kejadian yang terjadi tadi.

“Hmm,” Yuya hanya mendehem sambil melihat ke depan. Setelah itu keheningan menyelimuti mereka. “Nee, Sora,” Yuya menghentikan langkahnya dan menatap Sora dengan wajah serius.

“Kenapa?” tanya Sora bingung dan ikut menghentikan langkahnya.

“Kau mau jadi pacarku?” perkataan Yuya seakan membuat waktu di sekeliling Sora berhenti. Pikirannya benar-benar kosong dan ia hanya bisa memikirkan perkataan Yuya yang selama ini tidak pernah terpikir olehnya akan keluar dari mulut pria yang berada di hadapannya saat ini. Terlalu sulit dipercaya oleh dirinya. Ia meragukan apa yang didengarnya tadi nyata atau tidak.

“Eh? A-apa?” tanya Sora gugup.

Yuya mendekati Sora tanpa melepas pandangannya pada Sora, “aku bilang, aku menyukaimu, jadi kau mau menjadi pacarku, tidak?”

Wajah Sora memerah dan ia merasakan darah mengalir menuju kepalanya. Tatapan Yuya tidak pernah lepas darinya. Dan wajahnya. Wajah yang sangat serius tapi begitu menawan. Sora menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajah merah padamnya. Setelah beberapa saat bergulat dengan pikirannya, ia mengangguk sebagai tanda ia menerima pernyataan cinta Yuya. Yuya tersenyum setelah mendapat jawaban yang paling diinginkannya. Ia melingkarkan kedua tangannya di tubuh Sora dan memeluknya erat.

 

***

 

Yuya dan Sora berjalan pulang bersama-sama setelah menghabiskan waktu mereka di kafe favorit mereka. Sora terlihat jauh lebih tenang dibanding sebelumnya ketika bertemu lagi dengan Yuya untuk pertama kalinya setelah sekian lama.

“Besok kau senggang? Mau jalan bersama lagi?” tanya Yuya pada Sora.

“Ah, ide bagus! Aku kangen ramen yang di dekat stasiun, besok ayo mampir ke sana!” jawab Sora semangat. Yuya hanya mengangguk dan memberikan senyuman lembutnya.

 

***

Hubungan Yuya dan Sora berjalan dengan sangat baik hingga mereka lulus SMA. Setelah lulus dari SMA, Sora melanjutkan pendidikannya ke jenjang kuliah, sedangkan Yuya berhenti kuliah setelah beberapa bulan karena kondisi keluarganya. Yuya tidak memiliki pekerjaan tetap, tapi ia bekerja keras melakukan beberapa pekerjaan part time. Waktu Yuya dan Sora untuk menghabiskan waktu bersama semakin sedikit karena Sora disibukkan dengan tugas kuliah dan Yuya bekerja sepanjang hari. Tapi hal itu tidak membuat hubungan mereka berakhir. Justru mereka jadi sangat menghargai tiap detik yang mereka jalani bersama. Hubungan mereka justru jadi semakin erat. Hingga suatu hari ketika Sora tinggal menunggu waktu untuk kelulusannya, ayahnya datang dan memberikannya berita baik, atau lebih tepatnya sangat buruk bagi Sora.

“Sora, kau ingat Aiba-san, teman lamaku?” ayah Sora ingin membicarakan sesuatu pada Sora, maka dari itu Sora dan ayahnya berada di ruang keluarga, duduk di sofa, ayah Sora duduk di seberang Sora.

“Hmm, ingat. Ada apa dengan Aiba-san?” perasaan tidak enak muncul di benak Sora.

“Baru-baru ini aku bertemu dengannya. Dan aku juga datang ke rumahnya. Kebetulan sekali aku bertemu dengan anaknya, Masaki-kun, yang sedang pulang ke rumah orang tuanya. Masaki-kun saat ini tinggal di Tokyo tetapi di usianya yang hanya lebih tua beberapa tahun darimu dia sudah bisa mendapat jabatan tinggi di perusahaannya.” Sora semakin merasa tidak enak, ia mulai grogi dan berkeringat dingin. Entah kenapa ia tidak mau lagi mendengar kelanjutan pembicaraan ayahnya. “Aku dan Aiba-san kemudian berunding…dan kami sepakat untuk menjodohkanmu dengan Masaki.”

Waktu seakan berhenti. Pikiran Sora benar-benar kosong. Jantungnya terasa berhenti berdetak. Dan oksigen di sekelilingnya seperti lenyap begitu saja.

“Tapi… aku sudah punya orang yang kucintai…” Sora mencoba menanggapinya dengan tenang.

“Pria bermuka preman itu? Apa suatu saat nanti kau mau menikah dengannya? Apa kau tidak lihat bagaimana kehidupannya? Tidak selesai kuliah dan sampai sekarang masih tidak mempunyai pekerjaan tetap. Apa kau bisa membayangkan hidupmu dengan pria macam itu?” ayahnya terus mengucapkan kejelekan Yuya.

Sora yang tidak sanggup mendengarnya lagi langsung pergi mengurung dirinya di kamar. Ia mengeluarkan perasaan yang ditahannya selama berada di depan ayahnya dan menangis selama beberapa jam. Setelah air matanya terhenti, ia hanya menatap langit-langit kamarnya dengan hampa. Sesaat kemudian ia mengambil hp-nya yang berada di samping bantalnya. Ia mencari sebuah nama di kontak hp-nya dan menelponnya. Ia menunggu hingga pada dering ketiga orang di seberang panggilan menjawab telponnya.

“Yo!” sapa Yuya seperti biasanya.

“….Yuya…” Sora mau berbicara pada Yuya tapi sangat sulit untuknya mengeluarkan sepatah kata pun.

“Hey, kenapa?” Yuya yang menyadari kesedihan pada suara Sora menanyakannya dengan suara yang sangat lembut hingga membuat Sora sedikit tenang. “Apa terjadi sesuatu?”

“Yuya… Kau punya waktu besok? Aku ingin bertemu denganmu.” Ucap Sora menahan tangisnya.

“Besok? Sekitar jam 10-12 mungkin aku bisa”

“Kalau begitu jam 10 ketemu di kafe biasa ya. Oyasumi.” Yuya hanya membalas ucapan selamat tidurnya dan Sora langsung mematikan telponnya.

Keesokan harinya, Yuya datang ke kafe biasa yang sering mereka kunjungi dan segera menghampiri Sora yang sudah terlebih dahulu sampai. Sora terlihat murung.

“Ada apa? Kenapa mukamu murung sekali?” tanya Yuya sambil mengelus kepala Sora.

“Aku…” sulit sekali untuk Sora menceritakannya. “Ayahku menjodohkanku dengan anak dari teman lamanya.”

Sora tidak mendengar respon apapun dari Yuya. Ia melirik ke arah Yuya dan ia melihat ekspresi Yuya yang kaget bercampur sedih atau marah. Beberapa menit berlalu tapi tidak ada dari antara mereka yang mengucapkan apapun.

“Bukankah ayahmu sudah tau kalau kita berpacaran?” tanya Yuya memecahkan keheningan. Suaranya tidak menunjukkan emosi, tapi suaranya terdengar sangat dalam.

“Ayahku bilang kau masih tidak memiliki pekerjaan tetap sampai sekarang, makanya ayah menjodohkanku dengan orang yang memiliki pekerjaan tetap dan jabatan yang tinggi karena ayah tidak mau hidupku berantakan.” Yuya hanya bisa terdiam mendengarnya karena semua itu memang fakta.

Suasana di antara mereka benar-benar tidak mengenakkan. Dan akhirnya mereka lebih banyak menghabiskan waktunya dengan saling diam tanpa kata hingga Yuya mendapat telpon dan harus segera pergi.

 

***

 

Sora melihat foto lama dirinya dan Yuya ketika masih SMA. Ia memandangi senyuman Yuya di foto itu dan kemudian memeluk fotonya sambil berbaring di tempat tidur. Selama beberapa hari ini ia terus bertemu dengan Yuya setiap hari. Dan. Perasaan lama yang telah hilang kembali datang dan bersemi di hati Sora. Ia merasakan cintanya pada Yuya kembali lagi. Setelah puas memandangi dan memeluk foto Yuya, Sora memutuskan untuk tidur karena besok ia akan bertemu lagi dengan Yuya.

 

***

 

Sora mendengar hp-nya bordering. Ia melihat nama penelpon dan tiba-tiba ia menjadi gugup ketika melihat nama Yuya di layar hp-nya.

“Halo?” Ia menjawab telpon dari Yuya.

“Kau bisa keluar sekarang? Aku ada di taman dekat rumahmu.” Tanya orang yang berada di seberang panggilan.

“Sekarang?” Sora melihat jam di kamarnya. Jam 12 malam lewat beberapa menit. “Uhm, baiklah.”

Sora mematikan telponnya dan segera memakai jaketnya dan pergi ke tempat Yuya menunggu. Beberapa menit berjalan kaki, akhirnya Sora sampai di taman. Ia melihat Yuya duduk di kursi taman menunggu kedatangan Sora. Begitu Yuya menyadari kehadiran Sora, ia memberi sinyal pada Sora untuk duduk di sebelahnya. Sora perlahan melangkahkan kakinya ke arah Yuya dan duduk di sebelahnya. Untuk beberapa menit tidak ada satupun yang memulai pembicaraan, hingga Yuya langsung mengatakan tujuannya memanggil Sora tanpa basa-basi sedikit pun.

“Bagaimana kalau kita putus saja?” ucap Yuya menghentikan keheningan.

“H—hah?” Sora tercengang mendengarnya.

“Aku sudah memikirkannya baik-baik. Perkataan ayahmu memang benar sekali. Kalau aku menikahimu, aku tidak bisa menjamin kau akan bahagia, apalagi dengan kondisiku saat ini. Mungkin lebih baik kalau kau menikahi orang yang lebih baik.”

“Apa maksudmu?” Sora tidak percaya pada ucapan Yuya. “Kau tidak berusaha untuk mempertahankan hubungan kita dan membuktikannya pada ayah? ‘lebih baik kalau kau menikahi orang yang lebih baik’? Kenapa kau memutuskan seenaknya?? Menurutku kau adalah orang yang paling pantas untukku! Hanya kau, Yuya!”

“Percuma saja. Aku tidak memiliki apa-apa, Sora. Kau harusnya tidak menganggap enteng masa depanmu. Bagaimana kalau setelah aku bisa menikahimu ternyata aku masih tidak bisa mendapatkan pekerjaan? Aku tidak mau kau hidup menderita hanya karena orang sepertiku.”

“Kenapa kau pesimis sekali? Kalau kau tidak punya pekerjaan memangnya kenapa? Aku bisa ikut mencari pekerjaan dan membantumu menghidupi kehidupan kita.”

“Haha. Memalukan sekali diriku, dihidupi oleh wanita karena aku orang yang tidak berguna.”

“Berhenti menjelek-jelekkan dirimu! Hanya karena kau tidak mempunyai pekerjaan tetap dan jabatan tinggi seperti anak dari teman ayahku itu bukan berarti kau tidak berguna!  Apa kau tidak mau menjalani hidupmu dengan orang yang kau cintai? Apa hanya dengan aku berada di sisimu kau tidak bahagia?” Sora menunggu respon dari Yuya, tapi ia tidak mendapatkannya. “Kau tahu? Hanya dengan kau berada di sisiku aku sudah merasa bahagia seperti itu adalah hari terbaikku selama hidupku.”

Sora tetap menunggu dan menunggu respon dari Yuya, tapi hasilnya tetap nihil. Yuya hanya diam sambil memandang ke bawah. Melihat itu membuat air mata Sora mengalir dari matanya.

“Baka…” itu kata-kata terakhir Sora sebelum meninggalkan Yuya.

 

***

 

Seperti hari-hari sebelumnya, Sora menghabiskan waktunya dengan Yuya hari ini. Setelah puas berjalan-jalan seharian, mereka berdua berjalan di dekat sungai. Langit berwarna oranye karena matahari mau tenggelam, dan suara angin serta aliran sungai terngiang di telinga mereka.

“Aah~ Anginnya sejuk sekali~” seru Sora. Ia menutup matanya sambil merasakan angin yang menerpa dirinya. Suasana yang tenang dan menyejukkan ini benar-benar membuat dirinya nyaman.

“Sora…” Yuya tiba-tiba memanggil namun suaranya terdengar sendu.

“Hm?” Sora membuka matanya dan mengarahkan pandangannya pada Yuya. Yuya pun juga menatap dalam ke mata Sora.

“Aku, dari dulu hingga detik ini, tidak pernah berhenti memikirkanmu. Perasaanku tidak pernah berubah sedikitpun.”

“Yu—”

“Aku mencintaimu, Sora. Dulu, saat ini, dan seterusnya. Aku akan selalu mencintaimu. Apa kau pernah mempunyai perasaan yang sama denganku?”

Keheningan melanda untuk beberapa saat. Yuya masih menatap lurus ke mata Sora. Yuya menunggu balasan darinya. Tapi ketika Sora sudah bertekad untuk menyampaikan perasaannya yang sejujurnya, Yuya justru seakan tidak mengizinkannya berbicara.

“Aku–”

“Besok…” Yuya langsung memotong perkataan Sora. “Besok adalah hari terakhirku.”

“Ha…hah? Hari terakhir? Apa maksudmu?” Sora terlihat sangat bingung dan entah kenapa perasaannya sangat tidak enak.

“Besok adalah hari terakhirku untuk hidup di dunia ini…”

“A-apa? Apa maksudmu?? Kau akan mati??? Lelucon apa ini? Sama sekali tidak lucu!” Sora mulai panik dan gugup ketika mendengar kalimat yang diucapkan Yuya.

“Mungkin menurutmu ini konyol dan tidak masuk akal, tapi aku bertemu dengan shinigami.”

“Shini..gami?”

“Kau tahu? Satu hari sebelum pernikahanmu, aku didiagnosa menderita kanker.” Selama Yuya berbicara, Sora tidak berkata apa-apa. Ia menyimak dengan baik tiap kata yang keluar dari mulut Yuya. “Selama beberapa tahun ini aku dirawat di rumah sakit dan tidak pernah sekalipun keluar dari rumah sakit. Aku terus optimis suatu hari nanti aku pasti bisa sembuh. Hingga satu minggu yang lalu. Ketika aku sedang melihat langit malam sambil memikirkanmu, seseorang dengan pakaian serba hitam muncul di hadapanku. Aku tidak tahu ia muncul darimana, tiba-tiba saja dia ada di depanku.”

 

“Siapa kau?” tanya Yuya kaget.

“Aku adalah Law, Shinigami yang ditugaskan untuk mencabut nyawamu.” ucap orang berpakaian serba hitam tersebut.

“Shi-shinigami!?” wajah Yuya lebih panik dari sebelumnya. “Apa aku akan mati sekarang?”

“Tidak.” jawab shinigami itu. “14 Februari. Itulah hari terakhirmu di dunia ini.”

“Hari terakhi–” sebelum Yuya sempat meresponnya, shinigami itu menghilang begitu saja dari hadapannya.

 

“Setelah mendengar perkataan shinigami itu, aku merasa perjuanganku selama ini sangat sia-sia. Esoknya aku kabur dari rumah sakit. Dan saat itulah…” Yuya menaruh pandangannya pada Sora. “…aku bertemu denganmu.”

Sora memalingkan mukanya ketika Yuya mengucapkan kalimat itu dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Ingatan ketika ia bertemu Yuya untuk pertama kalinya setelah sekian lamanya muncul kembali.

“Pada saat itu, aku tidak tahu apa yang mau kulakukan setelah kabur dari rumah sakit. Aku hanya berjalan tanpa arah. Tapi ketika aku melihat sosokmu, aku merasa bagaikan mimpi bisa bertemu denganmu lagi. Aku kira aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi selamanya. Aku benar-benar tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi. Pertemuan kita seakan sudah ditakdirkan. Begitu aku melihat wajahmu lagi, aku sangat ingin memelukmu. Tapi aku berusaha keras untuk tidak melakukannya. Bahkan ketika kau menolak ajakanku, aku sangat ingin memaksamu untuk tidak pergi. Tapi aku bukan siapa-siapamu lagi sekarang. Kau sudah mempunyai suami yang baik, sudah memiliki kehidupan baru di Tokyo. Sedangkan aku, aku bukan apa-apa dibanding suamimu. Dan bahkan aku…tidak memiliki hidup yang panjang.”

Sora menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan air matanya yang tidak bisa berhenti menetes.

“Mungkin ini memang takdir kau menikah dengan orang yang lebih baik dariku. Untung sekali kau tidak menikah denganku, Sora. Kau tidak perlu memiliki suami yang menderita kanker. Kau tidak perlu bersedih karena kau tidak punya suami yang akan meninggalkanmu dengan sangat cepat hahaha.” Yuya memaksakan tawanya. “Sora, terima kasih kau pernah menjadi orang yang paling berharga dihidupku.”

Yuya mengelus pelan kepala Sora dan pergi begitu saja meninggalkannya.

“Baka…” bisik Sora ketika bayangan Yuya sudah hilang dari pandangannya. “Baka baka baka baka! Baka Bakaki!!!” kaki Sora kehilangan tenaganya. Ia terduduk di tanah dan tangisannya semakin keras. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil terus menangis tanpa henti. Yuya pergi begitu saja tanpa mencoba mendengar perkataan Sora. Perasaan Sora yang sejujurnya. Bagaimana sosok Yuya di pandangan Sora.

 

***

“Selamat atas pernikahanmu!” semua orang berseru pada Sora yang memakai gaun putih sambil memegang buket bunga.

Sejak Yuya memutuskan dirinya, ia tidak pernah lagi melihat sosok orang yang paling dicintainya itu. Sora melihat ke seisi ruangan, tetapi ia masih tidak menemukan tanda-tanda kehadiran Yuya. Tentu saja tidak ada. Mana mungkin Yuya mau datang ke resepsi pernikahan Sora dengan orang yang bukan dirinya.

Setelah resepsinya telah selesai dan ia bisa kembali ke kamarnya, ia berdiri di beranda kamar hotelnya sambil menikmati langit malam. Sora memandangi jari manisnya yang kini dilingkari oleh cincin berwarna silver. Ia sudah menikah. Ia sudah menjadi milik pria yang bernama Aiba Masaki. Sora menghela nafasnya. Tiba-tiba ia mendengar hp-nya bordering. Ia mengambil hp-nya dan mendapati ada satu pesan masuk. Dan dari Yuya. Ia membuka pesannya dan hanya menemukan satu kata.

“Omedetou”

 

***

 

“Kau sudah mau kembali ke Tokyo, Sora?” tanya ibunya ketika Sora sedang memakai sepatunya.

“Iya, bu.”

“Kau yakin kau tidak apa-apa? Semalam kau pulang dengan menangis. Kau bahkan tidak makan malam.” tanya ibunya khawatir.

“Aku sudah tidak apa-apa, bu.” Sora tersenyum agar ibunya tidak mengkhawatirkan kondisinya. “Jaa, kalau begitu aku pergi dulu. Bye bye!” Sora memeluk keluarganya satu per satu sebelum pergi.

“Hati-hati di jalan, ya, Sora” seru keluarganya.

“Sip!” Sora memberi sinyal ‘ok’ dengan tangannya.

 

Sora berdiri di peron sambil menunggu kereta. Ingatan sehari sebelumnya masih terbayang jelas di benaknya. Perkataan Yuya terus bergema di pikirannya.

“Kereta tujuan Osaka-Tokyo akan segera tiba…”

 

***

 

“Takaki-kun, kau tidak kabur lagi hari ini?” sindir dokter yang telah merawat Yuya selama beberapa tahun ini.

“Hahaha, jadi kau mau aku kabur, dok?” balas Yuya.

“Hari ini kan valentine, jadi kupikir kau akan kabur untuk kencan dengan seorang wanita di luar sana. Ah, tapi walaupun begitu kau tetap tidak boleh kabur! Hari ini aku akan memastikan kau tidak akan kabur lagi!”

“Hahaha, tenang saja, dok… Aku tidak akan kabur lagi.”

“Hmm… Kenapa? Kau habis dicampakkan?”

“Dicampakkan, yah… Mungkin juga… Aku sudah dicampakkan sejak 3 tahun yang lalu.”

“Ooh, baiklah. Kalau begitu aku pergi ke ruangan lain dulu. Masih banyak pasien yang harus kuperiksa. Ciao!”

Yuya berbaring di tempat tidur. Ia menatap langit-langit sambil membayangkan Sora. Mungkin dia egois, tapi untuk sisa terakhir hidupnya, ia ingin sekali Sora berada di sisinya. Tapi itu mustahil. Karena saat ini pasti Sora sudah berada di kereta menuju Tokyo. Sibuk dengan pemikirannya, Yuya terkejut ketika pintu ruangannya tiba-tiba terbuka hingga menimbulkan bunyi yang keras. Yuya melihat ke arah pintu dan bola matanya terasa seperti akan keluar dari matanya. Ia melihat Sora. Ia melihat orang yang paling dicintainya berdiri di pintu dengan nafas yang tidak beraturan. Ketika Yuya baru saja mau mengeluarkan sepatah kata, Sora menatap sangat tajam padanya.

“BAKAKIIII!!!!!” Sora tiba-tiba berteriak. Ia menghampiri tempat tidur Yuya dengan ekspresi marah. Sangat marah. “BAKA!!! Harusnya kemarin kau beritahu aku rumah sakit tempat kau dirawat! Baka!!”

Yuya hanya bisa tercengang. Kehadiran Sora di hadapannya masih terasa seperti mimpi baginya. Masih sulit untuk dipercaya bahwa ini nyata.

“Gara-gara kau aku harus keliling ke setiap rumah sakit di kota ini untuk mencarimu…” air mata menetes dari mata Sora.

“Maaf,” Yuya mengelus kepala Sora dan memberikan senyuman lembutnya. “Lagipula bukankah seharusnya kau sudah dalam perjalanan ke Tokyo? Kenapa kau malah mencariku?”

Sora menatap serius tepat di mata Yuya, “Untukku mungkin masih ada hari esok, tapi untukmu hanya ada hari ini. Mana bisa aku meninggalkanmu begitu saja di hari terakhirmu.”

“Hahaha” Yuya hanya tertawa pelan.

Dan setelah itu keheningan melanda. Sora mengambil sesuatu di tasnya dan menyodorkannya di hadapan Yuya.

“Ini!” Sora memberikan sesuatu yang dibungkus rapi dengan kertas kado dan pita.

“Apa ini?” tanya Yuya.

“Cokelat,” jawab Sora. “karena hari ini valentine…”

“Eh?” Yuya sedikit terkejut mendengarnya. “Terima kasih, Sora”

Yuya tersenyum dan langsung membuka bungkusnya. “Enak,” seru Yuya setelah mencobanya.

Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Yuya diam sambil memakan cokelat dari Sora. Sedangkan Sora hanya duduk memandangi Yuya.

“Rasanya lucu sekali aku akan mati di hari valentine,”

“Bagiku tidak lucu…” balas Sora tidak senang karena Yuya membawa topik seperti itu.

“Ah, jangan-jangan sebenarnya aku mati karena makan cokelat ini!? Bisa saja kan cokelat ini ternyata beracun,”

“Hahaha baka! Mana mungkin! Itu kubuat dengan tanganku sendiri, jadi aku jamin tidak akan ada racun di dalamnya!” Sora memukul pelan tangan Yuya sambil tertawa.

“Ooh, jadi ini cokelat buatanmu? Pantas saja enak” Yuya tersenyum pada Sora.

“Ucapanmu terdengar seperti gombalan,” Sora membalas senyumnya.

“Sepertinya aku sudah melupakan sesuatu yang sangat penting,”

“Hm? Apa itu?”

“Hanya kita tersenyum bersama, itu sudah merupakan sebuah keajaiban hidupku.” Sora merasakan wajahnya sedikit panas mendengar perkataan Yuya.

Sora terus menemani Yuya seharian. Mereka terkadang membicarakan kenangan mereka, terkadang hanya diam menikmati keheningan.

“Kau terlihat sehat sekali, yah walaupun kadang kau memang terlihat pucat. Aku sama sekali tidak menyangka kau menderita kanker.” Seru Sora sangat pelan. Yuya berbaring di kasurnya sambil memandangi langit-langit, sedangkan Sora mengistirahatkan kepalanya di kasur Yuya dan melihat ke arah Yuya.

“Hmm, karena aku kuat?” Yuya menjawab dengan asal.

Sora hanya tertawa pelan mendengar balasan Yuya. Ia memperhatikan wajah Yuya dengan seksama. Ia baru menyadari betapa berbedanya dia saat ini dengan yang dulu. Sekarang wajahnya terlihat lebih pucat dan pipinya juga kurus. Tidak seperti dulu. Pandangan Yuya masih tertuju pada langit-langit, tapi Sora melihat dengan jelas kelopak matanya semakin berat seakan ia sudah mengantuk.

“Sora,” ucap Yuya dengan suara pelan.

“Hm?”

“Mungkin dulu aku tidak bisa mengatakan ini, ‘aku bahagia’”

Sora mengangkat kepalanya dan membetulkan posisi duduknya. Ia memikirkan apa yang dimaksud oleh Yuya. Pandangan Yuya yang tidak pernah lepas dari langit-langit kini berpindah ke Sora.

“Hanya dengan keberadaanmu di sisiku, aku bahagia…” Yuya menatap tulus pada Sora. “Hanya dengan berada di sisiku, itu saja yang aku butuhkan.”

Mata Sora mulai berkaca-kaca menahan air matanya. Yuya menggapai tangan Sora dan menggenggamnya.

“Sora, semoga kau bisa hidup bahagia selamanya dengan suamimu.” Yuya tersenyum lembut padanya. “Terima kasih sudah berada di sisiku di akhir kehidupanku,”

Sora merasakan genggaman Yuya mulai melemah. Air mata yang ditahannya sedari tadi perlahan menetes jatuh di tangan Yuya yang menggenggam tangan Sora. Tangan Sora terlepas dari genggaman Yuya. Tangan Yuya perlahan bergerak menuju wajah Sora. Ia menyentuh pipinya dengan lembut dan menghapus air mata yang mengalir dari mata Sora. Sekali lagi Yuya memberikan senyuman yang sangat lembut pada Sora.

“Aku…mencintaimu…” dan setelah kalimat terakhir yang diucapkannya, Yuya perlahan menutup matanya dan menghembuskan nafas terakhirnya. Air mata Sora semakin tidak terhentikan. Ia menggenggam erat tangan Yuya yang berada di pipinya. Tidak ada suara apapun yang terdengar di ruangan itu kecuali tangisan Sora.

 

***

 

Sebulan Kemudian…

 

“…Iya, aku sudah di jalan pulang. Sebentar lagi sampai, kok.” Seru Sora pada orang yang sedang melakukan panggilan dengannya. “Ya, oke, bye bye,”

Sora mematikan panggilannya, dan ketika ia mau melanjutkan langkahnya, tiba-tiba suara seorang gadis menghentikannya.

“Aiba Sora,” Sora menoleh ke asal suara dan melihat seorang gadis dengan baju serba hitam berdiri di hadapannya. “Ini paket untukmu,”

Gadis itu memberikan sebuah kotak kecil pada Sora. Sora memperhatikan kotaknya. Ia mau bertanya apa isi paket itu dan dari siapa, tapi gadis itu tiba-tiba saja sudah menghilang dari pandangannya. Sora melihat kembali kotak kecil itu. Ia membukanya perlahan. Apa yang ia dapati dari isi kotak itu adalah sebuah kalung berbentuk bintang yang ia rasa pernah ia lihat sebelumnya.

 

“Wuah, kalungnya manis,” seru Sora sambil menatap kalung yang ada di hadapannya.

Ketika Sora menghabiskan waktunya berjalan-jalan di kota bersama Yuya selama beberapa hari ini, pandangannya langsung tertuju pada kalung yang dipajang di sebuah toko perhiasan yang mereka lewati. Kalungnya sangat sederhana, tetapi bentuk bintangnya yang kecil membuatnya sangat manis.

“Hee… Kau tertarik dengan perhiasan? Seingatku dulu kau itu sangat tomboy…” Sora memukul tangan Yuya sedikit kuat hingga ia meringis kesakitan.

“Baka Bakaki!”

 

Ketika ia melihat kalung itu, kenangannya bersama Yuya sebulan yang lalu kembali muncul. Kemudian Sora menyadari secarik kertas yang ada di dalam kotaknya. Terdapat sebuah tulisan di atasnya.

 

‘Happy White Day’

 

Sora tersenyum karena kini ia tau pasti siapa pengirimnya walaupun ia tidak tau bagaimana orang itu mengirimkannya. Sora melihat dibalik kertas itu dan ia sedikit terkejut karena melihat ada tulisan lain lagi dibaliknya. Namun ketika Sora membacanya, senyumannya semakin melebar dan sangat lembut.

‘Oshiawase’

-THE END-

Advertisements

4 thoughts on “[Oneshot] Anata Ga Tonari Ni Iru Dake De

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s