[Multichapter] Lelaki yang Mencicit (Part 6)

Title: Lelaki yang Mencicit
Author: Darya Ivanova
Genre: Fantasy, Comedy, Romance
Cast: Nakajima Yuto, Inoo Kei, Yabu Kota, Arioka Daiki, Kimura Takuya, (Kimura) Kudo Shizuka, Kimura Kokomi, Kimura Mitsuki
Theme song: Ever Ever After – Carrie Underwood (OST Enchanted)
Disclaimer: All casts are not mine

Selamat membaca semuanya ^^ mungkin ini adalah update terakhir sebelum saya UTS per tanggal 28 Maret mendatang, dan baru akan kembali awal April (kalau UTS selesai). Don’t forget that comments are love! Saya masih harus belajar untuk menulis dengan baik :”)

Were You Watching Me?

“Akhirnya selesai!” Yuto menatap dua buah boneka Teru yang dibuatnya sebelum Inoo pergi. “Mudah-mudahan sebelum bulan purnama terbit, langit tidak pernah hujan, maupun berawan,” tambahnya berharap sembari menggantung kedua Teru di depan jendela apartemennya. Sementara itu, Inoo kembali mengenakan pakaiannya seperti semula: pakaian pria a la era Dinasti Tudor.

“Kau yakin pakaianmu tidak berat?” tanya Yuto yang melihat betapa “hebohnya” pakaian Inoo. Inoo masih fokus menggunakan kaos kakinya yang menutup hingga bagian bawah lututnya. Yang membuat pakaian Inoo tampak “heboh” menurut Yuto adalah mantel yang digunakannya yang membuat bahu Inoo tampak semakin lebar.

“Nah, sebelum aku pergi, aku akan memberitahumu bahwa hari ini adalah hari terakhir kita bertemu dengan satu catatan: bahwa kau – akan – lolos dari hukuman ini,” pesan Inoo sebelum ia pamit. “Namun, jika ternyata aku kembali lagi, artinya… kau mengerti kan apa maksudku?” tanya Inoo memastikan.

“Hukumanku bertambah!” ucap Yuto lantang. Inoo mengacungkan ibu jarinya.

“Pintar! Sekarang aku pamit, ya! Semoga kita tidak bertemu lagi!” Inoo mengucapkan salam perpisahan dengan mengangkat sedikit topinya.  Di mata Yuto, ia tampak sedang berjalan di tempat dan perlahan-lahan asap yang warnanya menyerupai aurora muncul “memakan Inoo” hingga ia menghilang sama sekali tanpa bekas. Ya, semoga aku tidak bertemu si penuntut dorayaki itu,  batin Yuto. Kemudian ia bergerak ke dapurnya. Memastikan bahwa semua makanan yang harus didinginkan sudah masuk ke lemari es, tetapi,

WHAT THE F@₡K?!” Tampaknya Yuto mulai murka. Sebungkus pun dorayaki itu tidak ada di lemari esnya! “Rupanya benar dugaanku!”

**

Sementara itu, penampakan dua batang pohon oak perlahan-lahan menjadi semakin jelas. Pemandangan pelangi di malam hari perlahan-lahan juga menjadi semakin jelas. Itu berarti Inoo telah kembali ke Negeri Baika. Sosok Tuan Kimura kini tampak bersama Raja Yabu dan Penyihir Arioka.

“Akhirnya kau kembali, anak muda!” sambut Tuan Kimura. Namun, alih-alih bahagia, Inoo malah melongo. Raja Yabu dan Penyihir Arioka kini tampak bingung.

“Mengapa anda malah terdiam?! Anda tidak bahagia bisa kembali di sini?” tanya Raja Yabu kepada Inoo. Namun, Inoo masih melongo tanpa reaksi. Apalagi kelakuan itu ditunjukkannya di hadapan Tuan Kimura. Tuan Kimura mengangguk di hadapan Raja Yabu.

Kini Inoo telah dibawa ke sebuah rumah yang dinaungi oleh bukit hijau dan tak jauh dari tempat tinggal para kurcaci dan troll. Meskipun demikian, wajah Inoo masih belum berubah dari sebelumnya. Ia masih melongo meskipun jarak rumah mungil itu sangat jauh dari hutan oak yang disakralkan oleh penduduk Negeri Baika.

“Bapak pulang!” ucap Tuan Kimura begitu ia membuka pintu. “Kokomi, Mistuki, cepat buatkan secangkir teh dengan ekstrak bunga mawar hitam!” perintah Tuan Kimura kepada kedua anak gadisnya. Tak lama kemudian, Nyonya Kimura muncul menyambut kehadiran sang suami.

“Pak!” ucapnya sambil mendekap suami yang dicintainya. Namun, seketika ia langsung mengubah bahasa tubuhnya ketika Raja Yabu tampak memasuki kediaman mungil mereka, “Paduka Raja!” ucapnya dengan penuh takzim. Inoo tampak masih dikawal oleh dua orang prajurit karena tatapannya yang nanar dan mulutnya terus membuka.

“Silakan, Tuan!” Kokomi muncul dari dapur dengan secangkir teh mawar hitam. Inoo masih belum bereaksi. Karena itu, Tuan Kimura pun mulai menghirup aroma teh itu dengan napasnya,

“Mitsuki, tolong daun mint-nya!” Mitsuki mematuhi apa kata bapaknya dan dengan cepat ia telah kembali dengan tiga lembar daun mint di tangannya. Setelahnya Tuan Kimura menyobek lembaran daun tersebut dan menaburkannya di dalam teh sebelum mengaduknya. Setelah itu, barulah ia menyerahkan lagi cangkir teh itu kepada Inoo. Tak lama kemudian Inoo menyeruputnya.

“Baiklah, Tuan! Langsung saja, apakah selama saya di dunia nyata anda mengawasi saya?” tanya Inoo tanpa basa-basi. Raja Yabu, Penyihir Arioka, Nyonya dan anak-anak Kimura, serta para prajurit  terkejut seketika. Hanya Tuan Kimura yang masih tenang di saat seperti itu.

“Maaf, apa maksudmu?” tanya Tuan Kimura dengan tenang.

“Begini, ketika saya tiba di  Tokyo, saya seperti melihat wajah Tuan di berbagai titik! Saya berpikir bahwa Tuan tengah mengawasi saya,” ujar Inoo masih tak percaya bahwa kini ia kembali melihat wajah Tuan Kimura di hadapannya. Tuan Kimura langsung menelan ludah. Matanya tampak menjadi sedikit bulat.

“Saya benar-benar tidak mengerti maksudmu. Memangnya bagaimana rupa wajah yang mirip saya itu di dunia nyata?” tanya Tuan Kimura dengan nada yang tengah menyelidiki, tetapi tampaknya nada bicaranya kontras dengan ekspresi wajahnya yang diakhiri dengan senyum simpul. Inoo tampak bingung untuk menjelaskan seperti apa wujud sosok mirip Tuan Kimura di dunia nyata.

“Yang jelas… pakaiannya tidak seperti ini!” jawab Inoo dengan pikiran yang terus berkumpul di kepalanya. “Pakaiannya seperti orang jelata, tetapi tampak perlente!” Inoo pun mengangkat ibu jarinya. Raja Yabu masih tampak bingung, sementara Tuan Kimura hanya menatap dengan penuh rasa penasaran, tetapi senyum simpulnya tetap tersungging.

“Bb…bbb…baik…lah! Bbb…bagg…gai…mmm….mmann…na jj…jikk….ka kkit…ta sss…sak…ssik…kan lang…sss…sung? Kkkk…ka…li…an ppp…pen…na…ss…sa…ran, b…buk…kan?” tanya Penyihir Arioka yang sebetulnya sama penasarannya seperti Raja Yabu. Invenire!” Begitu mantra dirapal, bulatan cahaya yang hampir setinggi rumah Tuan Kimura muncul. Penglihatan Inoo direfleksikan langsung di cahaya itu, dan,

“ASTAGA! ITU BENAR-BENAR BAPAK?!” tanya Kokomi dan Mitsuki terkejut dengan kompak. Memang, kebetulan sosok mirip Tuan Kimura yang muncul tengah berpose mengangkat lehernya yang panjang – untuk standar manusia pastinya – sembari memegang sebuah botol berisi minyak wangi. Tatapan matanya dan ekspresi wajahnya memang sangat menggoda, ditambah dengan tubuhnya yang hanya berlapis kemeja putih yang tidak dikancing secara sempurna.

“Wah, rupanya Tuan Kimura juga bisa semenggoda itu, ya!” timpal Raja Yabu. Tuan Kimura lagi-lagi hanya tersenyum simpul melihat siapapun yang bereaksi akan sosok seksinya yang hanya dapat ditemukan di dunia nyata, bukan di Negeri Baika.

“M…mm…mas…sih ad…da ll…lag…gi, loh!” Kemudian sosok mirip Tuan Kimura yang lain muncul dengan pakaian yang jauh lebih rapi. Tangan kirinya memegang sesuatu yang berbentuk persegi panjang – kartu kredit.

“Saya tak menyangka jika saya menggunakan pakaian seperti itu!” komentar Tuan Kimura. “Maksud saya… ada sosok yang mirip saya dengan pakaian seperti itu. Sangat modern!” tambahnya lagi.

“Jadi itu artinya Tuan mengikuti saya, ya?” tanya Inoo dengan lugas. Ini berarti bahwa Inoo sangat memperhatikan apa yang diucapkan oleh Tuan Kimura.

“Kan saya hanya mengatakan bahwa ada sosok yang mirip dengan saya dengan pakaian seperti itu!” kilah Tuan Kimura dengan penekanan bahwa hanya ada sosok yang menyerupai dirinya. “Tidak berarti bahwa itu benar-benar saya, bukan?” Inoo mengangguk percaya.

“Lantas mengapa saat saya berangkat ke dunia nyata anda tidak bersama saya, Raja Yabu, dan Penyihir Arioka?” Ternyata Inoo sangat kritis akan sesuatu. Sebetulnya itu bukanlah pertanyaan penting, tetapi… entahlah. Tuan Kimura menghela napasnya. Setelah beberapa saat membungkam, akhirnya Tuan Kimura bersuara.

“Saya… Saya kan masih harus mengurus ternak! Memotong bulu domba, memanen sutera, dan lain-lain,” jawab Tuan Kimura. “Belum lagi untuk urusan daging, susu, dan telur. Itu sih produksi rutin yang memang membutuhkan waktu ekstra di pagi sampai sore hari,” tambahnya. Begitu jawaban itu terlontar sampai selesai, Tuan Kimura menjadi sedikit lebih tenang. Karena jawaban Tuan Kimura cukup meyakinkan, Inoo pun percaya.

“Kau apakan manusia di dunia nyata itu?” tanya Tuan Kimura penasaran.

“Kuubah ia menjadi tikus. Aku telah memberinya syarat bahwa ia harus menjalani hukuman sampai malam bulan purnama jika ingin kutukannya hilang,” jawab Inoo percaya diri. Akan tetapi, Raja Yabu dan Tuan Kimura tampak agak kurang puas dengan jawaban Inoo.

“Lalu apa yang harus ia lakukan selama bulan purnama belum terbit?” tanya Tuan Kimura menggali informasi.

“Tidak boleh keluar dari tempat tinggalnya dan berinteraksi dengan siapapun selama itu.” Raja Yabu dan Tuan Kimura saling menatap. Mereka tampak memiliki pemikiran yang sama akan bentuk jawaban yang diberikan oleh Inoo.

“Hukuman itu terlalu ringan dan sederhana!” ujar Raja Yabu tidak setuju. “Bagaimana menurut anda, Tuan Kimura?” tanya Raja Yabu.

“Benar sekali! Hukuman seperti itu tidak ada apa-apanya! Seharusnya kau memberi hukuman yang membuatnya percaya akan akhir yang bahagia! Misalnya, kutukan itu hanya dapat disembuhkan dengan ciuman cinta sejati, atau apapun yang sangat lazim terjadi di dunia dongeng, khususnya di Negeri Baika!” papar Tuan Kimura yang sependapat dengan Raja Yabu soal hukuman untuk Yuto. “Aku jadi ingin tahu siapa sebenarnya targetmu itu!” tambah Tuan Kimura penasaran. Ia segera berjalan mengambil bola kristal miliknya.

“Tragis sekali hidupnya. Dicampakkan oleh orang yang sangat dicintainya,” komentar Tuan Kimura di balik bola kristal. “Pantas saja ia menghina dunia dongeng sampai begitu!” Kemudian pandangannya kembali fokus di hadapan bola kristal. Namun kali ini tatapannya sedikit berubah. Ia menjadi lebih fokus di hadapan bola kristal.

“Wah…wah!” Tuan Kimura tampaknya menemukan sesuatu yang menarik perhatiannya. Tatapan matanya semakin tajam dan fokus menghadap bola kristal. Raja Yabu dan Penyihir Arioka yang penasaran pun langsung mendekati Tuan Kimura dan bola kristalnya.

“Ss…sep…pper…ti…nya aa…d…dda bbb…ban…nnyak jjj…ja…lan un…un…ttuk mm…men…nnuj…ju kk…ke Rom…ma!” sahut Penyihir Arioka yang juga ikut melihat penerawangan Tuan Kimura. Pandangan ketiga orang itu semakin fokus menatap bola kristal.

“Pasti ada cara lain yang dapat meningkatkan hukumannya!” ujar Raja Yabu yang juga memerhatikan isi penerawangan Tuan Kimura dengan serius. Inoo kini merasa tak diperhatikan.

“Ngomong-ngomong, Paduka Raja… Tuan Kimura… mengapa kutukanku hanya dapat disembuhkan dengan perjalanan ke dimensi dunia nyata? Bukan dengan ciuman cinta sejati, seperti yang disebut Tuan Kimura?” tanya Inoo dengan polos, tetapi lantang. Perhatian ketiganya pun langsung terdistraksi.

“Sial! Dasar mengganggu!” Raja Yabu pun kesal. “Padahal kami sudah menemukan ide yang baik untuk mengganti ide anehmu itu, anak muda!” tambahnya. Setelah selesai membaca penerawangannya, Tuan Kimura meletakkan kembali bola kristalnya. Kini tatapannya mengarah kepada Inoo.

“Anak muda, jangan salahkan saya jika kau harus ke dunia nyata untuk bisa sembuh dari kutukan itu. Semua sudah tertulis di perkamen tua yang telah ditulis sejak dua abad dan 15 tahun yang lalu itu. Kau masih ingat apa isinya?” tantang Tuan Kimura kepada Inoo yang masih tidak menerima cara penyembuhannya dari kutukan.

“Hanya seorang dengan sihir putih dengan 8 ekor binatang pemberi manfaat yang dapat menghapus mantra hitam itu,” ucap Inoo menyebut salah satu inti isi perkamen. “Kemudian… apa lagi, ya?” Inoo memang tidak terlalu hafal isi perkamen yang menjadi saksi bisu kutukannya.

“Sihir putih hanya dapat membuka pintu antara surga dan neraka, tetapi untuk dapat menghapus mantra hitam, yang bersangkutan harus berada di dalam neraka hingga batas waktu yang ditentukan,” ucap Tuan Kimura menyelesaikan isi perkamen soal cara untuk menyembuhkan Inoo. “Artinya saya hanya berperan sebagai perantara, tetapi hanya kaulah yang dapat menyembuhkan dirimu sendiri. Maka, jangan salahkan saya!” ujar Tuan Kimura. Inoo kini harus pasrah akan jawaban Tuan Kimura.

“Kau tahu kan betapa sulitnya menyembuhkan kutukanmu itu. Perkamen itu agak membingungkan untuk diterjemahkan. Dua abad dan 15 tahun itu bukan waktu yang singkat untuk menemukan cara yang tepat untuk menyembuhkanmu!” sahut Raja Yabu menanggapi protes Inoo. Inoo sendiri juga sadar bahwa sudah dua abad lamanya ia hidup tanpa kehidupan yang normal. Karena misi inilah satu-satunya cara penyembuhan untuknya, mau tak mau ia harus menjalankannya.

Rombongan kerajaan akhirnya meninggalkan kediaman Tuan Kimura dan pada saat itulah pasukan troll memasuki rumah yang berada di bawah bukit itu. Kehadiran mereka mengejutkan empat kepala yang menghuni bukit hijau itu.

“Mengapa kalian ada di sini?” tanya Tuan Kimura terkejut. Kehadiran mereka bukan beberapa saja, melainkan seluruhnya. Seluruhnya.

“Sebetulnya Tuan tadi mengawasi Inoo juga kan?” tanya kapten pasukan troll. Tuan Kimura hanya mengangguk dengan senyum simpul. Keributan pasukan troll rupanya menarik perhatian Nyonya Kimura, Kokomi, dan Mitsuki.

“Jadi bagaimana cara Bapak mengawasi Inoo di dunia nyata?” tanya Nyonya Kimura penasaran.

“Ha?! Ibu ke mana saja tadi?!” Kali ini Tuan Kimura terkejut karena ternyata istrinya tak menyadari bahwa sempat terjadi sedikit “keramaian” karena hal itu. “Padahal tadi sempat heboh, loh!”  Sekarang hanya Kokomi dan Mitsuki yang terus berpikir keras mendapatkan jawaban itu. Namun, dalam waktu singkat Kokomi menyadari sesuatu.

“Jangan bilang Bapak yang menyamar menjadi pria sok seksi itu?! Kalau itu betul-betul Bapak, aku akan…akan…” Kokomi masih ingin menampik fakta bahwa Bapaknya-lah pria seksi yang dapat dengan mudah ditemukan di billboard reklame di Kota Tokyo itu.

“Kau sendiri sudah tahu jawabannya, Nak!” ujar Tuan Kimura – yang diakhiri dengan senyum simpul.

 

~Bersambung~

 

A/N: Maafkan kalau di chapter ini kaum Negeri Baika yang menjadi sorotan utamanya :”) nanti Yuto akan segera kembali.

 

Save

Advertisements

One thought on “[Multichapter] Lelaki yang Mencicit (Part 6)

  1. Pingback: Darya Ivanova | Johnny's Entertainment Fanfiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s